1,721,021 research outputs found

    Strategi Pengembangan Kawasan Perbatasan Dan Lintas Batas Antarnegara Di Kabupaten Kapuas Hulu – Provinsi Kalimatan Barat

    No full text
    Secara geografis dan administrasi Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Sarawak-Malaysia. Kondisi ini menempatkan Kabupaten Kapuas Hulu menjadi strategis secara nasional terutama dibidang pertahanan dan keamanan. Berdasarkan tingkat perkembangan wilayahnya, Kabupaten Kapuas Hulu memiliki tingkat perkembangan yang rendah karena lemahnya pelayanan sarana dan prasarana dasar, akses transportasi, sumber daya manusia serta pemanfaaatn SDA dan Ekonomi. Perkembangan kebijakan pembangunan kawasan perbatasan saat ini mengisyaratkan telah terjadi perubahan paradigma pembangunan di kawasan perbatasan. Arah pengembangan kawasan perbatasan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking kini menjadi outward looking, Pendekatan keamanan menjadi pendekatan kesjahteraan. Selain kebijakan nasional, Indonesia juga terikat dalam kerangka pembangunan kawasan yang disebut dengan Komunitas ASEAN Community (Security-Economic-Socio-Cultural) Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui Tingkat Perkembangan Kawasan Perbatasan di Kabupaten Kapuas Hulu (2) mengetahui tipologi interaksi lintas batas dan persepsi pengembangan konektifitas di kawasan perbatasan Kabupaten Kapuas Hulu dengan Sarawak-Malaysia dan (3) merumuskan strategi pengembangan Kawasan Perbatasan dan Lintas Batas di Kabupaten Kapuas Hulu. Untuk menjawab tujuan tersebut diperlukan data pendukung yang terdiri data sekunder dan data primer. Kebutuhan data diperoleh melalui kegiatan survey lapangan dan survey instansi yang terdiri dari BAPPENAS, BNPP, BAPPEDA Dinas Pekerjaan Umum, Kantor Imigrasi, Kantor Kecamatan dan kantor desa. Metode analisis antara lain, Location Quotient (LQ), Analisis Tipologi EkonomiKklassen, Analisis Skalogram, Analisis Gravitasi dan AHP dan SWOT. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa berdasarkan tingkat pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan di Kabupaten di Kapuas Hulu hanya mempunyai 1 (satu ) kecamatan dengan katagori maju dan tumbuh tapi tertekan yaitu putussibau utara sementara 6 kecamatan lainya merupakan kecamatan yang relatif tertinggal ekonominya. Hasil analisis Indeks Perkembangan Kecamatan (IPK) menunjukan Kecamatan Putussibau Utara dan Putussibau Selatan sebagai Hierarki 1 (Pusat Kegiatan Utama) dan Embaloh Hulu (hierarki2), Badau (hierarki2), Puring Kencana (Hierarki 3), Empanang (hierarki 3), Batang Lupar (Hierarki 3). Analisis interaksi menunjukan hubungan interaksi yang cukup erat diberbagai aspek kehidupan antara lain social dan ekonomi serta penyediaan infrastruktur. Selanjutnya dirumuskan strategi pengembangan kawasan perbatasan lintas batas dengan strategi utama pembangunan kawasan perbatasan adalah (a) Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Produksi Komoditas Unggulan (b) Membangun jaringan pemasaran dan perdagangan untuk produk pertanian dan perkebunan (c) Pengembangan potensi pariwisata alam berwawasan lingkungan di Taman Nasional Danau Sentarum dan TNBK (d) Peningkatan kualitas pelayanan dasar dan jaringan transportasi. Strategi utama dalam pengembangan lintas batas adalah (a) Pembangunan Infrastruktur untuk meningkatkan interaksi dan konektifitas antar negara untuk mendukung pergerakan orang dan barang (b) Meningkatkan pengelolaan dan nilai tambah produksi komoditas unggulan yang berdaya saing dan berpeluang ekspor. (c) Menyusun regulasi-regulasi terkait pengelolaan lintas batas sebagai respon terhadap ASEAN dan AEC. (d) Melakukan kerjasama pengawasan dan keamanan yang lebih intensif di kawasan perbatasan (e) Meningkatkan kualitas SDM dan daya saing masyarakat lokal perbatasan (f) Meningkatkan kualitas pelayanan Pos Lintas Batas, antara lain;Custom,Immigration,Quarantine,Security. Saran dalam pengembangan kawasan perbatasan kabupaten Kapuas hulu adalah meningkatkan perekonomian dengan mengoptimalkan potensi lahan dan nilai tambah produksi komoditas unggulan pertanian dan perkebunan untuk pasar lokal, regional dan ekspor, meningkatkan pemenuhan pelayanan sarana dan prasarana dasar serta optimalisasi hubungan kedua negara dalam rangka memanfaatkan peluang pembangunan kawasan perbatasan dan lintas batas antar negara

    Karakteristik Tanah dan Lahan untuk Kesesuaian Lahan Ubikayu (Manihot Spp.) di Provinsi Lampung

    No full text
    Cassava is a crop with another name cassava. Cassava comes from Americas, exactly from Brasil. This plant can be utilized for food, feed and basic materials industries. In general, This species have the potential yield and high starch content, so it is considered the most suitable raw material for bioethanol. The quality of this plant used as raw material for bioethanol can be seen from the production of tubers and starch, so the growing requirements must be considered in order the productivity of cassava plants generated the optimum. This study aims to make the criteria of land suitability for cassava as raw material for bioethanol in Lampung province. The establishment of criteria for land suitability use the Boundary Line Method. Resulted Land suitability criteria Lampung province is compared with the criteria that have been made in Bogor and its surrounding area. This research is a continuation of previous studies. Activities undertaken consisted of field survey and laboratory analysis. Phase of the research include preliminary activities, surveys and field observations, soil and plant analysis in the laboratory, data analysis, determination of land suitability criteria, calibration age for the production of tubers and starch biomass, the model of land suitability criteria for withdrawal limits, and analysis of farming. Results of the studies indicated that the relation level of tubers and starch production and land qualities spread with such particular pattern which is convined with boundary line. The production on classed for S1, S2, and S3 with each class values by 80%, 60% and 28%, where 28% is break event point of productivity. The limit of every classes in the land evaluation criteria for each evaluated land quality could be made by creating a projection from the cutting between the boundary line and the production classes. This land evaluation criteria was an exploration study, based on the specific place and did not evaluate entirely all of the crop requirements. More data from a wider soil agroclimate zone therefore would be greatly appreciated.Ubikayu merupakan tanaman pangan berupa perdu dengan nama lain singkong atau cassava. Ubikayu berasal dari benua Amerika, tepatnya dari negara Brasil. Tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan pangan, pakan maupun bahan dasar berbagai industri. Secara umum, jenis ubikayu yang memiliki potensi hasil dan kadar pati tinggi, sehingga dianggap paling sesuai untuk bahan baku bioetanol. Kualitas tanaman ini yang dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol dapat dilihat dari produksi umbi dan pati, sehingga persyaratan tumbuh harus diperhatikan agar produktivitas tanaman ubikayu yang dihasilkan menjadi optimum. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk membuat kriteria kesesuaian lahan untuk ubikayu di Provinsi Lampung. Penetapan kriteria kesesuaian lahan menggunakan metode penarikan batas Boundary Line Method dan membandingkan kriteria kesesuaian lahan Provinsi Lampung dengan kriteria yang telah dibuat di daerah Bogor dan sekitarnya. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian terdahulu. Kegiatan yang dilakukan terdiri dari survei lapangan dan analisis laboratorium. Tahapan pelaksanaan penelitian meliputi kegiatan pendahuluan, survei dan pengamatan lapangan, analisis tanah dan tanaman di laboratorium, analisis data penetapan kriteria kesesuaian lahan, peneraan umur untuk produksi umbi dan biomas pati, model penarikan batas kriteria kesesuaian lahan, dan analisis usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan tingkat produksi umbi dan pati dengan unsur kualitas menyebar dengan pola tertentu yang dibatasi oleh garis luar. Dengan membuat sekat produksi untuk S1, S2, dan S3 masing-masing sebesar 80%, 60%, dan 28%, dimana nilai 28% merupakan batas BEP (titik impas produksi). Batas kriteria kelas kesesuaian lahan untuk setiap kualitas lahan yang dievaluasi dapat dibuat dengan membuat proyeksi dari perpotongan garis batas luar (boundary line) dengan sekat produksi. Kriteria kesesuaian lahan ini dibuat berdasarkan studi eksplorasi di tempat tertentu saja, dan belum semua lingkungan tumbuh tanaman dievaluasi, sehingga perlu dilakukan penambahan data dari lingkungan tumbuh yang lebih luas

    Pengaruh terak baja terhadap sifat kimia tanah serta pertumbuhan dan produksi tanaman Padi (Oryza Sativa) pada tanah gambut dalam dari Kumpeh, Jambi

    Full text link
    Serious efforts to achieve self sufficiency in rice to fullfil consumption of population growth in Indonesia become very important. One of the most important problems was the decrease of fertile land in Java along with significant numbers of land conversion to nonagricultural usage. One of the important effort to overcome this problem was utilizing peatlands outside Java. Utilizing of peatland for rice cultivation faces many problems such as soil acidity and toxicity of organic acid which effect to crop growth. Steel slag is a by-product furnace in the process of steel manufacturing. These materials can be used as liming material for improving chemical properties of peat soil. This research purposed to evaluate effect of steel slag on chemical properties of soils and also rice growth and yield. Research was carried out of pot experiment in greenhouse by using peat soils from Kumpeh, Jambi. Slags were applied in dosage 0, 1, 2, 3, 4, and 5% or 0, 30, 60, 90, 120, and 150 g / pot, combined with NPK fertilizer in dosage 50 and 75% from standard, compared with control and standard. The result shows that steel slag significantly improved chemical properties of soils such as raised soil pH, exchangeable Ca and Mg, and available Mn in soils. Toxic heavy metal in rice and soils were given by NPK fertilizer treatment. Steel slag also significantly increased rice yield and growth, reduced unfilled spikelets, and also increased nutrient rate of Ca and Mg in crop. In addition, steel slag reduced usage of conventional fertilizer. This was shown by higher value of fertilizer efficiency on steel slag treatment

    Pengaruh Pupuk Silika Padat terhadap Pertumbuhan, Bobot Gabah, Kadar Silika Jerami, Sekam, dan Silika Tersedia Tanah

    No full text
    Banyak upaya telah dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan produksi beras, untuk memenuhi peningkatan permintaan beras sebagai akibat pertumbuhan penduduk. Salah satu upaya yang paling sering dilakukan adalah pemupukan. Umumnya pemupukan terbatas pada unsur hara essensial, kurang memperhatikan unsur hara beneficial seperti Silika (Si). Padi adalah akumulator Si untuk pertumbuhannya. Kandungan Si yang sangat tinggi di dalam tanah tidak menjamin terpenuhinya kebutuhan Si padi, sehingga perlu pemupukan Si. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk Si terhadap pertumbuhan, bobot gabah, kadar Si jerami, sekam dan kadar Si tersedia dalam tanah. Percobaan pot meliputi 3 perlakuan, yaitu jenis tanah, jenis pupuk Si dan dosis pupuk Si dengan rencangan percobaan split split plot dengan 5 kg tanah kering mutlak sebagai media tanam. Jenis tanah yang digunakan adalah Oxisol Gunung Sindur, Inceptisol Ciampea, dan Vertisol Cihea yang memiliki ketersediaan Si berbeda. Dua jenis pupuk Si yaitu pupuk Si dikalsinasi dan pupuk Si non kalsinasi. Tujuh dosis pupuk Si adalah D0 (tanpa pupuk Si), D1 (2,5 ton / ha, 6,25 g / pot), D2 (5 ton / ha, 12,5 g / pot), D3 (7,5 ton / ha, 18,75 g / pot), D4 (10 ton / ha, 25 g / pot), D5 (15 ton / ha, 37,5 g / pot) dan D6 (20 ton / ha, 50 g / pot) , diulang 3 kali, sehingga diperoleh 126 unit percobaan. Variabel yang diamati dari percobaan ini adalah tinggi, jumlah anakan, jumlah malai, bobot gabah, kadar Si jerami, sekam, dan kadar Si tersedia dalam tanah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa Trass dapat digunakan sebagai pupuk Si. Kalsinasi meningkatkan kelarutan Si dibandingkan dengan tanpa kalsinasi. Tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah malai dan bobot gabah padi di Vertisol nyata lebih tinggi daripada Oksisol yang nyata lebih tinggi daripada Inceptisol. Perlakuan dengan pupuk Si kalsinasi menghasilkan gabah lebih tinggi daripada pupuk Si tanpa kalsinasi. Jenis tanah, jenis dan dosis pupuk Si dan kombinasi dua atau tiga perlakuan berpengaruh nyata pada kadar Si jerami, sekam, dan Si-tersedia dalam tanah setelah percobaan. Perlakuan pupuk Si kalsinasi dan tanpa kalsinasi di Vertisol dan Oxisol tidak meningkatkan kadar Si jerami namun hasil yang berbeda ditemukan di Inceptisol. Perlakuan jenis pupuk Si tidak meningkatkan kadar Si sekam yang lebih ditentukan oleh kadar Si tersedia dalam tanah.Semua jenis pupuk Si bisa meningkatkan Si tersedia tanah, tidak tergantung pada kadar Si tersedia asli tanah. Pada dosis pupuk Si yang lebih tinggi efek kalsinasi relatif tidak berbeda dengan tanpa kalsinasi

    Pengembangan Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) Di Areal Pt. Perkebunan Nusantara-Iii, Sumatera Utara.

    No full text
    Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), merupakan salah satu penghasil devisa negara dari sektor perkebunan yang mengalami peningkatan luas areal dari tahun ke tahun. Pada tahun 1990 luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia hanya 1,12 juta hektar, kemudian pada tahun 2000 meningkat tajam menjadi 4,15 juta hektar, dan pada tahun 2012 sudah mencapai 9,07 juta hektar. Kelapa sawit memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak nabati lainya. Beberapa keunggulan itu antara lain adalah produksi per satuan luas yang tinggi, umur ekonomis yang panjang dan produknya dapat digunakan dalam berbagai industri baik pangan maupun non pangan. Produksi kelapa sawit sangat beragam, yang disebabkan oleh beragamnya karakteristik tanah dan lahan di areal kelapa sawit. Tingginya keragaman produksi tersebut, menghendaki adanya informasi yang obyektif tentang sifat-sifat setiap jenis tanah, agar tindakan manajemen tanah dan upaya yang dilakukan bersifat spesifik dengan hasil yang maksimal. Produksi kelapa sawit yang maksimal diperoleh dari bibit tanaman yang unggul, pemilihan lahan yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman, manajemen yang tepat serta pengelolaan kebun dilakukan secara berkelanjutan dan lestari. Untuk memperoleh informasi maksimal mengenai kondisi lahan yang ditanami kelapa sawit, perlu dilakukan evaluasi lahan melalui kajian kesesuaian lahan dengan mengetahui hubungan karakteristik lahan dan produksi kelapa sawit. Penelitian dilaksanankan dengan metode survei eksplorasi, yang bertujuan untuk mengembangkan kriteria kesesuaian lahan kelapa sawit khususnya di areal PT. Perkebunan Nusantara-III Sumatera Utara, berdasarkan pada produksi dengan karakteristik tanah dan lahannya. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data produksi tanaman (ton.ha-1), data hasil analisis kesuburan tanah, data curah hujan tahunan dan data kriteria lahan seperti elevasi, topografi dan kedalaman efektif. Sampai saat ini, banyak penelitian dilakukan untuk melihat korelasi antara pertumbuhan /produksi dengan berbagai faktor, misalnya Model Diagnostik. Model diagnostik merupakan hubungan yang khas antara satu faktor tumbuh dengan respon tanaman dapat didefmisikan maka pertumbuhan produksi maksimum dapat diperoleh dengan mengoptimasikan faktor tumbuh tersebut. Kelemahan model diagnostik ini adalah, hubungan ditetapkan dibawah kondisi tertentu (under control), dimana hanya salah satu faktor peubah yang divariasikan dan faktor lainnya dikondisikan tetap. Altematifnya adalah membangun model empirik dimana data dikumpulkan dari lokasi dengan zone tanah iklim yang lebar. Apabila kumpulan data tersebut diplot dalam suatu hubungan antara salah satu faktor tumbuh dengan produksi atau kualitas hasil, hasilnya adalah produksi rendah akan berada pada selang faktor tumbuh yang lebar karena semakin banyak faktor pembatas lain yang berpengaruh. Semakin tinggi produksi makin mengerucut bentuk sebaran data, yang menunjukkan semakin sedikit faktor pembatas yang bekerja. Pola sebaran data dibungkus oleh garis batas (boundary line), yang memisahkan data yang real dari yang tidak real. Artinya kecil kemungkinan diperolehnya data diluar garis batas tersebut. Pengembangan kriteria kesesuaian lahan dihasilkan dengan menggunakan proyeksi persimpangan antara garis batas dan selang produksi. Pengolahan data menggunakan metode garis batas (Boundary Line Method) dan interpolasi Inverse Distance Weighted (IDW) untuk mengetahui sebaran spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, karakteristik lahan yang optimal untuk mendukung produksi tanaman kelapa sawit dijumpai pada tanah dengan tekstur lempung berpasir, lempung liat berpasir dan lempung, elevasi 3,8 cmol(+).kg-1, pH antara 4,9 sampai 6,5, C-organik >1,1%, KB >16,3%, kejenuhan Al 0,06%, P-tersedia >16,8 ppm, K-dd >0,1 cmol(+).kg-1 dan lereng <11,6%. Secara agregat, tingkat kedetailan hasil analisis spasial kesesuaian lahan menggunakan pengembangan kriteria meningkat 26% dibandingkan dengan kriteria BBSDLP. Analisis spasial yang dilakukan diareal yang sama, menunjukkan hasil bahwa pengembangan kriteria menunjukkan hasil yang lebih detail yaitu S1, S2, S3 dan N, sedangkan kriteria BBSDLP menunjukkan 2 kelas kesesuaian lahan yaitu S2 dan S3

    Respon Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis (Zea mays saccharata) terhadap Pupuk NPK Granul dengan Filler Blotong

    No full text
    Salah satu pemanfaatan limbah blotong agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan adalah dengan memanfaatkan limbah tersebut menjadi pupuk ataupun bahan pupuk majemuk. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pupuk NPK dengan filler blotong pada parameter pertumbuhan, serapan hara, dan produksi tanaman serta mengkaji Efektivitas Agronomik Relatifnya (RAE) dibandingkan dengan pupuk NPK yang dijual di pasaran. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan faktor persentase filler blotong dengan persentase filler blotong 0%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 99%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada 4 MST, tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan standar dengan tinggi tanaman rata – rata 65.24 cm sedangkan rata – rata pertumbuhan terendah yaitu perlakuan kontrol dengan 43.22 cm. Pada 8 MST, rata – rata pertumbuhan tanaman tertinggi adalah perlakuan standar dengan rata – rata tinggi yaitu 140 cm diikuti oleh perlakuan K1B2 dan K1B5 dengan rata – rata tinggi yang sama yaitu 137 cm. Dari kandungan persen kadar hara, tanaman pada percobaan terindikasi mengalamai defisiensi K. Pada hasil produksi, perlakuan dengan hasil produksi total tongkol dengan kelobot tertinggi terdapat pada perlakuan standar. Hasil perhitungan nilai RAE terhadap pupuk uji yang diberikan tidak ada yang melebihi atau sama dengan 100%, maka dapat dikatakan bahwa seluruh pupuk yang diuji tidak lebih baik dari pupuk standar

    Studi Korelasi P Tanah pada Bawang Merah di Tanah Ultisol Cipanas, Lebak, Banten

    No full text
    Saat ini penggunaan uji tanah untuk pemberian rekomendasi pemupukan sangat diperlukan. Korelasi uji tanah merupakan bagian dari rangkaian uji tanah yang digunakan untuk memilih metode ekstraksi yang sesuai untuk tanaman pada suatu jenis tanah di suatu daerah. Penelitian ini bertujuan untuk memilih metode ekstraksi fospor (P) terbaik bagi tanaman bawang merah. Penelitian ini dilakukan pada Ultisol Cipanas, Lebak, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima ulangan. Perlakuan pembuatan status hara P menggunakan lima tingkatan, yaitu (0X), (¼X), (½X), (¾X), (X), dengan X= 2267 l H3PO4/ha, dimana X adalah setengah erapan P maksimum. Perlakuaan diberikan dalam bentuk H3PO4. Dosis yang diberikan adalah 0, 567, 1133, 1700, 2267 l H3PO4/ha. Lahan yang sudah diberikan perlakuan diinkubasi selama 3 bulan, kemudian dianalisis kandungan P menggunakan lima metode pengekstrak yaitu metode Bray 1, Bray 2, Morgan Wolf, Truog, dan Mehlich 1. P-terekstrak dalam penelitian ini dikorelasikan dengan serapan P tanaman. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam untuk mengevaluasi pengaruh perlakuan status hara P terhadap respon tanaman. Pada uji korelasi juga dilakukan analisis regresi guna melihat korelasi antar metode ekstraksi P dengan serapan P. Hasil menunjukkan bahwa pemberian pupuk P berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah tunas, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun serta bobot kering tanaman. Berdasarkan lima metode ekstraksi yang dipakai untuk menguji status hara P, metode Bray 1, Bray 2, Mehlich 1, Morgan Wolf, dan Truog berkorelasi nyata dengan serapan P-tanaman. Walaupun demikian metode Bray 1 dan Morgan Wolf memiliki nilai korelasi yang paling baik. Oleh karena itu, kedua metode tersebut merupakan metode yang direkomendasikan untuk menduga tingkat ketersediaaan di Ultisol Cipanas, Lebak

    Respon Tanaman Jagung terhadap Kombinasi Pupuk Organik, Konvensional, Slow Release dan Waktu Pemberian pada Tanah Latosol Dramaga

    No full text
    One of the ways to improve the maize production is by effective and efficient fertilization. Improvement of the fertilizer efficiency is implemented by combination of organic, conventional and slow release fertilizer. The objective of this study was to examine the effect of a combination of organic fertilizer, conventional fertilizer, slow release fertilizer and time of application on the growth, nutrient content and production. The rates of organic fertilizer were without organik fertilizer (O0) and 2,5 ton/ha organic fertilizer (O1). The rates of conventional fertilizer were 50% of recommended rate (S1) and 100% of recommended rate (S2). The rates of slow release fertilizer were 1tablet/plant (P1), 2tablet/plant (P2) and 3 tablets/plant (P3) and the rate of application time were at 10 days after planting (T1) and application at 10 days after planting and 30 days after planting (T2). The results showed that the effect of single treatment, combination of the two and three treatments of organic fertilizer, conventional and slow release were significantly higher on the growth, nutrient content and crop production. The effect of four combinations namely organic fertilizer, conventional, slow release and application time was not significantly different on growth, nutrient content, and production. The highest production of dry grain obtained by combination of organic fertilizer, conventional fertilizer with 100% recommendation rate and slow release fertilizer with 3 tablets/plant with one application time (O1S2P3T1) namely 7.28 ton/ha. The production of dry grain on combination of organic fertilizer, conventional fertilizer with 50% of recommendation rate and slow release fertilizer with 3 tablet/plant with one application time (O1S1P3T1) as similiar to O1S2P3T1 namely 7.20 ton/ha. Based on the production of dry grain, application of slow release fertilizer with 3 tablet/plant reduced 50% of the conventional fertilizer use

    Studi Korelasi K Pada Bawang Merah Di Tanah Ultisol Cipanas, Lebak

    No full text
    Ultisol merupakan jenis tanah dengan penyebaran cukup luas di indonesia yang berpotensi untuk pengembangan pertanian tanaman pangan seperti bawang merah. Rendahnya kandungan kalium (K) pada tanah ini menyebabkan perlunya pemupukan yang efisien sesuai kebutuhan tanaman. Ketersediaan hara K bagi tanaman dapat dikaji melalui uji tanah untuk mengetahui status hara K dalam suatu jenis tanah. Metode ekstraksi yang dipilih untuk mengukur kebutuhan kalium tanaman bawang merah ditentukan melalui uji korelasi antara K tanah terekstrak dengan serapan hara tanaman. Tujuan penelitian ini untuk memilih metode ekstraksi kalium terbaik bagi tanaman bawang merah. Pertama dibuat status hara K dengan lima tingkatan, yaitu (0X), (¼X), (½X), (¾X), (X), dimana X= 849.3 kg KCl/ha, dimana X adalah jumlah K yang dibutuhkan untuk mencapai kadar K tertinggi dalam tanah yaitu 0.6 me K/100 g. Tanah yang sudah diberi perlakuan diinkubasi selama 3 bulan, kemudian dianalisis kandungan K menggunakan lima metode pengekstrak, yaitu Bray 1, Bray 2, Mechlich 1, Olsen, dan HCl 25%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Metode Bray 1, Bray 2, Olsen, dan Mechlich 1 merupakan metode dengan koefisien regresi (r) yang nyata. Dari keempat metode tersebut metode Olsen dan Mechlich 1 merupakan metode terbaik untuk menduga ketersediaan K tanah bagi bawang merah pada Ultisol Cipanas, Lebak karena memiliki nilai koefisien regresi (r) tertinggi yaitu 0.68 dan 0.67

    Studi Korelasi K pada Bawang Merah di Tanah Ultisol Cipanas, Lebak

    No full text
    Ultisol merupakan jenis tanah dengan penyebaran cukup luas di indonesia yang berpotensi untuk pengembangan pertanian tanaman pangan seperti bawang merah. Rendahnya kandungan kalium (K) pada tanah ini menyebabkan perlunya pemupukan yang efisien sesuai kebutuhan tanaman. Ketersediaan hara K bagi tanaman dapat dikaji melalui uji tanah untuk mengetahui status hara K dalam suatu jenis tanah. Metode ekstraksi yang dipilih untuk mengukur kebutuhan kalium tanaman bawang merah ditentukan melalui uji korelasi antara K tanah terekstrak dengan serapan hara tanaman. Tujuan penelitian ini untuk memilih metode ekstraksi kalium terbaik bagi tanaman bawang merah. Pertama dibuat status hara K dengan lima tingkatan, yaitu (0X), (¼X), (½X), (¾X), (X), dimana X= 849.3 kg KCl/ha, dimana X adalah jumlah K yang dibutuhkan untuk mencapai kadar K tertinggi dalam tanah yaitu 0.6 me K/100 g. Tanah yang sudah diberi perlakuan diinkubasi selama 3 bulan, kemudian dianalisis kandungan K menggunakan lima metode pengekstrak, yaitu Bray 1, Bray 2, Mechlich 1, Olsen, dan HCl 25%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Metode Bray 1, Bray 2, Olsen, dan Mechlich 1 merupakan metode dengan koefisien regresi (r) yang nyata. Dari keempat metode tersebut metode Olsen dan Mechlich 1 merupakan metode terbaik untuk menduga ketersediaan K tanah bagi bawang merah pada Ultisol Cipanas, Lebak karena memiliki nilai koefisien regresi (r) tertinggi yaitu 0.68 dan 0.67
    corecore