75 research outputs found
Beiträge zur kombinierten Lichtstreuung in trüben Medien und an rauen Oberflächen
Diese Arbeit beschäftigt sich mit der kombinierten Lichtstreuung in trüben Medien und an rauen Oberflächen. Die Arbeit enthält vier vom Autor veröffentlichte Artikel zum Thema der Herstellung rauer Oberflächen und der Wechselwirkung zwischen Lichtstreuung in trüben Medien und an rauen Oberflächen. Zusätzlich erläutert eine Einleitung die Eigenschaften und Charakterisierungsmöglichkeiten rauer Oberflächen und es wird eine Anwendung der gewonnen Erkenntnisse präsentiert.This thesis deals with the combined light scattering in turbid media and on rough surfaces. The work contains four articles published by the author on the subject of the production of rough surfaces and the interaction between light scattering in turbid media and on rough surfaces. In addition, an introduction explains the properties and characterization possibilities of rough surfaces and an application of the knowledge gained is presented
LAPORAN PENELITIAN FOKUS PELESTARIAN DAN MAKNA KULTURAL PELESTARIAN ARSITEKTUR BANGUNAN ARSITEKTUR INDIS DI KOTA BANDUNG DAN YOGYAKARTA (Kasus Aula Barat ITB. dan RS. Panti Rapih)
Politik Etis (Balas Budi) ikut menginspirasi gaya arsitektur baru (arsitektur Indis) yangmengapresiasi budaya dan alam lokal. Arsitektur Indis merupakan sintesa unsur arsitekturtradisional Nusantara dengan arsitektur Eropa, dan saat ini masih banyak di kota-kota besarIndonesia, termasuk Kota Bandung dan Yogyakarta. Objek studi Arsitektur Indis Kota Bandungialah Aula Barat ITB. dan Kota Yogyakarta ialah bangunan lama RS. Panti Rapih.Isu sentral studi ini ialah Pelestarian bangunan Arsitektur Indis yang berfokus padaaspek Arsitektur (fungsi, bentuk) dan aspek Pelestarian (Makna Kultural) untuk masa kini danmasa datang. Pertanyaan penelitian “Apa Fokus Pelestarian?” terkait “Apa yang dilestarikan”,dan “Apa Makna Kultural?” terkait “Mengapa dilestarikan” dari objek studi ini.Fokus Pelestarian ialah aspek Fungsi (kegiatan) dan aspek Bentuk (bangunan, ruangluar). Makna Kultural dari aspek Fungsi terkait Nilai Sejarah dan Sosial, dari aspek Bentukterkait Nilai Arsitektural dan Kelangkaan.Fokus Pelestarian Aula Barat: fungsi semula Fakultas Teknik - kini Ruang Serba-gunaKampus; aspek bentuk ialah Bangunan (atap, struktur, selasar) dan Ruang luar. Bangunanlama RS. Panti Rapih: fungsi tetap sebagai tempat pengobatan masyarakat; aspek bentuk ialahBangunan (atap, struktur, selasar) dan ruang luar (taman).Makna Kultural Aula Barat: Sekolah Tinggi Teknik pertama Hindia Belanda, tempatkuliah presiden pertama Indonesia, tempat masyarakat kampus/umum. Bangunan lama RS.Panti Rapih: diresmikan oleh Sultan Hamengku Buwono VIII tahun 1929, pasiennya termasukpejabat Belanda, kerabat Keraton, Jendral Sudirman, Sultan Hamengku Buwono VII; Tempatpengobatan/pemulihan kesehatan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnyaKata kunci: Fungsi, bentuk, fokus pelestarian, makna kultural
BALINESE CULTURE IN THE ARCHITECTURE OF THE LOBBY AND RESTAURANT at the Royal Pita Maha Resort in Ubud, Bali
Abstract: This paper aims to describe the physical elements of the lobby architecture - the Royal Pita Maha resort restaurant, and furthermore to reveal the meaning of Balinese culture. According to its method, the architectural object is expressed as 'physical existence', subsequently 'aspects of purpose', and finally 'essence' in the form of Balinese cultural meaning. The shape of the resort gate is the result of re-interpretation and improvisation of the past Puri Ubud gate. The lobby architecture is the result of re-interpretation and improvisation of the Balinese traditional public building with modern construction, manifesting the harmony of past-present life. The roof is more special than the others, representing the 'three layers of nature' in Balinese culture, open space and utilizing local resources referring to the 'harmonies of nature'. The layout of the continuous lobby - restaurant towards the South - North is adapted to the condition of the original land and utilizes local natural resources, standing for 'harmonies of local nature'. The re-interpretation of Balinese Traditional communal public building architecture with modern construction patterns means 'harmony of life' between the past and present. Once again, the roof is more outstanding than the other parts, referring to the 'three layers of nature.Keyword: Balinese culture, meaning, harmony
PELESTARIAN BUDAYA BALI DALAM ARSITEKTUR TAPAK DAN RESTORAN ARUNA RESORT TEJAPRANA TEGALALANG UBUD – BALI
Abstract: Revealing the conservation of Balinese culture forms in the architecture of Site and Aruna Restaurant of Tejaprana resort uses architectural phenomenological approach. The Balinese Culture’s physical-social system is expressed through sensory presence, conceptual systems through goal awareness, and the philosophy through essence awareness. The setting extends from the North-South direction, the Aruna restaurant surrounded by garden in the middle of the site and a temple in the North, preserving the principles of the Balinese Traditional Village setting. The essence of the site order is harmony with the local natural philosophy. Social activities surrounded by gardens in the middle of the site and temple in North form a harmonious-balanced human-nature-God relationship philosophy. The openness of Aruna restaurant is similar to Wantilan's architecture, but with different shape. The pool at the center of the floor and the eight columns around it symbolizes the "natural balance" of the Nawa Sanga concept. The essence of Aruna restaurant is local natural harmony philosophy and spiritual relations, forming a harmonious-balanced human-nature-God relationship philosophy. The principles of traditional village arrangements, Balinese cultural social system, concept of natural balance, bale Wantilan principle, Nawa Sanga concept, Tri Hita Karana philosophy are preserved in the site and Aruna restaurant.).Abstrak: Pengungkapan wujud-wujud Budaya Bali dalam arsitektur Tatanan Tapak dan Restoran Aruna resort Tejaprana dan pelestariannya menggunakan pendekatan fenomenologis arsitektur. Sistem fisik-sosial Budaya Bali diungkap melalui kehadiran inderawi, sistem konsep melalui kesadaran tujuan, dan filosofi melalui kesadaran esensi. Tatanan tapak memanjang arah Utara-Selatan, restoran Aruna dikelilingi taman di tengah tapak dan Pura di Utaranya, melestarikan prinsip tatanan tapak Desa Tradisional Bali, berikut sistem sosial Budaya Bali. Tatanan tapak membentuk Keseimbangan Alam konsep Catur Lokapala. Esensi tatanan tapak adalah keharmonisan-keselarasan dengan alam setempat filosofi Manik Ring Cucupu. Aktivitas sosial dikelilingi taman di tengah tapak dan ibadah di Utaranya membentuk relasi harmonis-seimbang manusia-alam-Tuhan filosofi Tri Hita Karana. Restoran Aruna bersosok terbuka, atapnya bersusun mirip arsitektur Wantilan, namun bentuknya kerucut berlantai dua. Kolam di pusat lantai dan delapan kolom sekelilingnya searah mata angin simbol ‘keseimbangan alam’ konsep Nawa Sanga, memperlihatkan sistem sosial Budaya Bali. Esensi restoran Aruna adalah keharmonisan-keselarasan alam setempat (filosofi Manik Ring Cucupu) dan relasi spiritual, sehingga membentuk relasi harmonis-seimbang manusia-alam-Tuhan (filosofi Tri Hita Karana). Prinsip tatanan desa tradisional, sistem sosial Budaya Bali, konsep keseimbangan alam, prinsip bale Wantilan, konsep Nawa Sanga, filosofi Tri Hita Karana dilestarikan pada tapak dan restoran Aruna
PELESTARIAN MAKNA BUDAYA-SEJARAH-ALAM LOKAL DALAM ARSITEKTUR PUSAT WISATA GERABAH DESA SITIWINANGUN - CIREBON
Abstract: This paper aims to identify the architectural plan of Sitiwinangun Village Pottery Tourism Centre from Form-Function elements, then reveal its local cultural-historical-natural meaning, and identify its preservation actions. The method is descriptive-qualitative with the approach of Architecture, Tourism, Culture and Architectural Preservation. The mass-space layout has historical meaning (pottery centre, Islamic propagation), cultural meaning and local nature meaning. Preservation of cultural and historical meaning through the adaptation of the Pottery Centre into a contemporary Pottery Tourism Centre. Preserving the meaning of local nature by maintaining its integration with local nature. The figure of the building open to the local nature means local nature, and its continuity from the Pottery Centre means history. Preservation of the figure of the old building by preservation and regular maintenance, preservation of the new building by maintaining the architectural style of the old building, then preserved. Open building layout-orientation to the old kiln is historically significant. It is preserved by maintaining the principle of open space layout and orientation. The activities of the Pottery Tourism Centre are meaningful to local history, culture and nature. For preservation, the heritage activities are maintained as before, and the present activities are adapted to the demands of the times.Keyword: Form, layout, figure, function, preservation Abstrak: Tulisan ini bertujuan mengidentifikasi rencana arsitektur Pusat Wisata Gerabah Desa Sitiwinangun dari unsur Bentuk - Fungsi, lalu mengungkap makna budaya-sejarah-alam lokalnya, dan mengidentifikasi tindakan pelestariannya. Metodenya deskriptif-kualitatif dengan pendekatan Arsitektur, Pariwisata, Kebudayaan dan Pelestarian Arsitektur. Tata massa-ruangnya bermakna sejarah (Sentra Gerabah, syiar agama Islam), bermakna budaya serta bermakna alam lokal. Pelestarian makna budaya dan sejarah melalui adaptasi Sentra Gerabah menjadi Pusat Wisata Gerabah kekinian, dan pembukaan akses langsung ke masjid Keramat Kebagusan. Pelestarian makna alam lokal dengan mempertahankan integrasinya dengan alam lokal. Sosok bangunan terbuka ke alam setempat bermakna alam lokal, dan keberlanjutannya dari Sentra Gerabah bermakna sejarah. Pelestarian sosok bangunan lama dengan preservasi dan perawatan rutin, pelestarian bangunan baru dengan mempertahankan bergaya arsitektur bangunan lama, lalu dipreservasi. Tata ruang bangunan terbuka-orientasi ke tempat pembakaran lama bermakna sejarah. Pelestariannya dengan mempertahankan prinsip tata ruang terbuka dan orientasinya. Aktivitas Pusat Wisata Gerabah ini bermakna sejarah, budaya dan alam lokal. Pelestariannya, aktivitas warisan dipertahankan seperti semula, dan aktivitas masa kini diadaptasi terhadap tuntutan zaman.Kata Kunci: Bentuk, tata-ruang, sosok, fungsi, preservas
RELASI ARSITEKTUR DAN PELESTARIAN GEDUNG REKTORAT UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA DI BANDUNG
Studi ini bertujuan mengungkap relasi antara arsitektur dan pelestarian gedung Rektorat UPI., dengan tahapan: Mengungkap esensi pelestarian arsitektur; Mengungkap elemen-elemen arsitektur signifikan untuk dilestarikan; dan mendeskripsikan tindakan pelestarian, agar makna kulturalnya bertahan.Gedung Rektorat UPI karya CPW. Schoemacker dikenal sebagai Bangunan Cagar Budaya yang masih utuh dan asli, tapi sejarahnya berkata lain yaitu: sebagai tempat tinggal, markas pejuang kemerdekaan (rusak tertembak), kampus (bangunan diperbaiki-ditambah-dirubah). Perubahan bangunan tidak terbaca, sehingga bukti sejarah tersamar.Esensi pelestarian arsitektur adalah pelestarian makna kultural melalui aspek bentuk dan fungsi. Makna kultural aspek bentuk berupa makna modern-kelokalan pada selubung bangunan, tema lengkung dan apresiasi lingkungan pada ruang dalam, tema lengkung dan orientasi lingkungan pada ruang luar. Makna kultural aspek fungsi berupa makna sejarah (tempat tinggal, markas pejuang, tempat kuliah) dan makna kegunaan kantor Rektorat UPI.Elemen-elemen arsitektur signifikan. Selubung bangunan: bidang-bidang polos-lengkung, atap datar, jendela besar-teritis lebar. Ruang dalam: tatanan ruang lengkung 3 zona, zona tengah memanjang arah Utara-Selatan diapit oleh ruang zona kiri dan zona kanan, berlantai marmer. Ruang luar berupa taman, terowongan, kolam ikan, pohon-pohon besar, pintu gerbang, tugu, dan pandangan ke arah Kota Bandung dan gunung Tangkuban Perahu.Selubung bangunan telah sedikit berubah dari asalnya, maka tindakan pelestariannya ada 2 pilihan: Restorasi (bagian selubung dikembalikan ke bentuk asal) atau Rehabilitasi (pembedaan tampilan bangunan antara bagian yang asli dan yang lebih baru, dengan warna atau tekstur namun tetap harmonis). Tindakan terpilih dilengkapi dengan tindakan preservasi selubung bangunan (perbaikan bagian-bagian yang retak/lapuk, perapihan jaringan kabel-pipa), Ruang tengah (direstorasi ke pola lengkung seperti semula), Atap entrance sebaiknya dijadikan transparan kembali agar entrance hall dan lobby dapat terang alami. Kata kunci: Makna kultural, fungsi, bentuk, preservasi, restorasi
PELESTARIAN ARSITEKTUR BANGUNAN KERTHA GOSA DI KLUNGKUNG - BALI
Bale Kertha Gosa (pengadilan terbuka) dan Bale Kambang (tempat pencerahan,dikelilingi kolam), berdiri tahun 1700. Keunikan warisan arsitektur Bali ini karena bangunandikelilingi kolam dan plafonnya berupa lukisan-lukisan wayang khas daerah Klungkung. Saatini keduanya masih padat dikunjungi wisatawan domestik dan manca negara. Disayangkankondisinya kurang terawat dan ada kerusakan, mengganggu keindahan dan daya tahannya.Perbaikan telah dilakukan, namun agak mengganggu keutuhan/ keasliannya. Karena itu studipelestarian ini menjadi urgen untuk dilakukan.Studi pelestarian ini menggunakan paduan pendekatan arsitektural (mengungkapelemen-elemen arsitektur fungsi-bentuk-makna) dan pendekatan nilai (mengungkap NilainilaiBudaya). Tindakan pelestarian mengatasi masalah fisik elemen arsitektur di atas dantuntutan masa kini, sambil nilai-nilai budayanya dipertahankan.Aspek fungsi terkait kegunaan bangunan asal untuk pengadilan-pencerahan terbukadan kegunaan saat ini sebagai objek wisata. Perbaikan lantai, tiang-balok berukir, plafonlukisan, alas kolom perlu diupayakan mendekati aslinya, demi keutuhan-keaslian buktisejarah. Aspek bentuk mengacu pada bangunan (selubung, ruang dalam, struktur, ornamen)yang relatif masih utuh, dan ruang luarnya (kolam, patung-patung, pedestrian, ornamen) yangperlu dirawat lebih baik. Makna bangunan asal berupa pengadilan dan pencerahan terbukamelalui bentuk bangunan terbuka-posisi tinggi dan bangunan terbuka-dikelilingi kolam.Sebagai objek wisata, ke dua bangunan ini dapat dimaknai sebagai keterbukaan (strukturtiang), suasana tenang (di atas kolam) dan karya seni unik (lukisan plafon).Berdasar uraian elemen arsitektur dan nilai-nilai budaya, serta pemahaman penyebabpenurunan mutu bangunan maka cara pelestarian untuk Kertha Gosa ialah paduan Preservasi(didukung pengendalian lingkungan dan penguatan sistem bangunan), Adaptasi danRehabilitasi. Tindakan pelestarian di atas harus disertai dengan perawatan rutin, agar efektif.Kata Kunci: bentuk, fungsi, makna, preservasi, rehabilitas
PELESTARIAN ARSITEKTUR MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA
Adaptasi Museum Sonobudoyo terhadap tuntutan modernisasi dan lingkungannya yang berubahperlu dicermati pengaruhnya pada kebertahanan makna kultural Budaya Jawa. Studi Ini bertujuanmendeskripsikan fokus Pelestarian Arsitektur, Elemen-elemen Arsitektur Museum yang signifikan danImplementasi pelestariannya. Ketidak-pahaman akan pelestarian beresiko pada hilangnya MaknaKultural yang bernilai.Metode yang digunakan dalam studi ini ialah deskriptif-analitis dan interpretatif berdasarkan buktiempiris dengan menerapkan teori strukturalisme, relasi fungsi-bentuk-makna arsitektur dan teoripelestarian arsitektur, untuk mengungkap fokus pelestarian arsitektur, elemen-elemen signifikanobjek studi dan Implementasi pelestarian arsitektur.Fokus Pelestarian Arsitektur: Fungsi saat ini ialah kegiatan Pameran pada Bangunan utama,Pendopo dan halaman (semula Pendopo untuk menerima tamu/pertunjukan. Bentuk Bangunan(selubung, tata ruang, struktur bangunan), Ruang luar (tapak, lingkungan, arca), dekorasi, ornamen.Makna Kulturalnya ialah bangunan Jawa melalui aspek Bentuk yang serupa rumah tradisionalbangsawan Jawa.Elemen Arsitektur signifikan: Pendopo (terbuka, atap limasan, struktur rangka kayu), Banguan Utama(semi tertutup, tata ruang rumah Jawa), Gerbang Utama, pagar muka/ cepuri, gerbang samping,ornamen/dekorasi (kebenan, saton, wajikan, lung-lungan, padma, peksi garuda, kaligrafi dan wuwungatap).Implementasi pelestarian: Perawatan rutin pada semua bagian bangunan, Adaptasi pada Pendopo(area gamelan ditengah ruangan di bawah atap puncak, kaca pelindung dinetralkan), adaptasiBangunan Utama (optimalisasi penerangan alami), konsolidasi gerbang samping (penguatan).Kata kunci: Fungsi, bentuk, makna, signifikan, implementasi
Pelestarian Aspek Kesemestaan Dan Kesetempatan Dalam Arsitektur Bangsal Sitihinggil Di Kraton Yogyakarta
The Sitihinggil Kraton Yogyakarta building, completed in 1926, has a EuropeanJavanese architecture style. It is originally a coronation place of the Mataram Sultans and the first Indonesia President. In the present time, it is used for royal official ceremonies and tourist attractions. The purpose of this study is to reveal the universallocal aspects of Sitihinggil architecture and describe its conservation concept. The method used is descriptive-explanatory, with the approach of Javanese CultureArchitecture-Conservation. The universal aspect is based on the Javanese culture philosophy ”unitary natural-social-spiritual interaction”, whereas the local aspects are “philosophy of tolerance” and architecture style. Natural relation associates with symmetrical space layout towards the philosophical axis and the adaptive building (to the environment). The social relation associates with the dialogue between the Sultan (inside the building) with the people (sitting in the North Square). The spiritual relation associates with the Sultan’s meditation ritual in this building while looking at the White Post’s direction. “Tolerance” philosophy could be seen through the architectural styles. Conservation concept: Preservation of space layout (opennessposition of the building); Restoration of the North Square (thickened the surrounding grass and trees); Preservation-routine maintenance of building (Roofs, ceilings, beams, gutters, windows, pillars, ornaments)
Keywords: universal, local, culture, preservation
- …
