1,721,158 research outputs found
DELINIASI BATAS GUMUK MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS KONFIGURASI WENNER - SCHLUMBERGER (Studi Kasus Gumuk Trianggulasi Desa Tembokrejo)
Jember memiliki bentang alam yang khas yaitu keberadaan gumuk yang
cukup banyak dan tersebar di beberapa kecamatan. Ada dua asumsi mekanisme
pembentukan gumuk yaitu gerakan tanah dan lontaran gunung berapi (Gunung
Raung).Menurut Sulistyaningsih et al (1997), gumuk terbentuk dari lontaran
Gunung Raung sehingga gumuk yang jauh dari Gunung Raung mempunyai
ukuran berkisar antara 1,0 – 2,0 m dengan luas bidang dasar sekitar 0,1 km2 yang
dapat dijumpai di wilayah Kencong dan Wuluhan. Salah satu gumuk yang cukup
jauh dari Gunung Raung yaitu Gumuk Trianggulasi, berada di Desa Tembokrejo
Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember dengan jarak sekitar 82 km dari
Gunung Raung. Gumuk tersebut terdiri dari 3 gumuk yang lokasinya berdekatan
dan memiliki potensi alam yang cukup besar. Melalui penelitian ini dapat
diperoleh struktur bawah permukaan gumuk Triangulasi sehingga dapat diketahui
karakteristik gumuk dan studi awal deliniasi batas gumuk.
Deliniasi batas gumuk melalui struktur bawah permukaannya dapat
dilakukan dengan asumsi perbedaan kondisi topografi berdasarkan pengukuran
GPS, resistivitas struktur bawah permukaan dan ketebalan lapisan tanah
berdasarkan citra resistivitas 2D. Metode geolistrik resistivitas konfigurasi
Wenner-Schlumberger digunakan untuk memperoleh citra resistivitas 2D dengan
kelebihan dapat memetakan bawah permukaan secara mapping dan saunding.
Pada metode geolistrik resistivitas, arus listrik diinjeksikan ke dalam bumi melalui
elektroda arus dan beda potensial dapat diukur melalui dua elektroda potensial
Profil Resistivitas Lahan Perkebunan Tebu Menggunakan Konfigurasi Wenner - Schlumberger Metode Geolistrik Di Desa Mlokorejo Puger
Tebu merupakan bahan dasar dalam pembuatan gula. Secara morfologi,
tanaman tebu dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu batang, daun, akar, dan
bunga. Tanaman tebu mempunyai sosok yang tinggi kurus, tidak bercabang, dan
tumbuh tegak. Tebu dapat tumbuh pada suhu rata – rata tahunan di atas 20ºC dan
tidak kurang dari 17ºC. Pada suhu kurang dari 21ºC pertumbuhan tebu terhambat,
bahkan apabila suhu tanah kurang dari 16ºC pertumbuhan tebu terhenti.
Pertumbuhan yang optimum dicapai pada suhu 24 – 30 ºC.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mencari faktor yang
mendukung pertumbuhan tanaman dengan mengetahui nilai sebaran resistivitas
pada lahan perkebunan tebu. Nilai resistivitas akan memberikan gambaran
bagaimana kondisi dan faktor pendukung pertumbuhan untuk tanaman tebu. Dari
nilai resistivitas dan jenis tanah yang ada di bawah permukaan akan diketahui
bagaimana kedalaman yang bisa mendukung pertumbuhan tanaman tebu.
Pengukuran bawah permukaan dengan metode resistivitas yang dilakukan
di Desa Mlokorejo Kecamatan Puger menggunakan 4 elektroda dengan formasi
C1, P1, C2, P2. Data yang di dapat nantinya berupa tegangan (V) dan arus (I).
Dari nilai I dan V maka nanti mencari hambatan R dan kemudian mencari nilai
resistivitas (rho). Untuk konfigurasi yang digunakan adalah Wenner –
Schlumberger. Pengukuran dilakukan dengan bentangan 80 meter dengan jarak
spasi 4 meter. Penelitian ini bertujuan mencari informasi bawah permukaan
dengan indikator nilai resistivitas dan konduktivitas yang berguna mengetahui
material dan mineral yang ada di bawah permukaan.
Hasil yang didapat dari nilai resistivitas yang di lakukan di Desa
Mlokorejo Kecamatan Puger, dengan mengambil 3 lintasan. Dari lintasan 1 sampai lintasan 3 terdapat indikasi bawah permukaan yang sama. Untuk lintasan 1
pada kedalaman 1 – 4 meter mempunyai nilai resistivitas 9,48 – 20,7 Ωm dengan
kandungan lempungan, lanau, dan batu lempung. Untuk lintasan 2 nilai
resistivitas pada kedalaman 1 – 3 meter sekitar 13,3 – 25,05 Ωm dengan
kandungan lempung, lanau, batu lempung, dan untuk lintasan 3 pada kedalaman 1
– 5 meter mempunyai nilai resistivitas 1,04 – 43,25 Ωm dengan kandungan
lempung, lanau, pasiran, lempung halus. Pada lintasan 3 memiliki sedikit
perbedaan dengan lintasan yang lain, karena pada lintasan 3 ini diduga terdapat
akuifer pada kedalaman 1 – 5 pada bentangan 4 – 14 meter dengan nilai
resistivitas 1,04 – 8,53 Ωm. Ini menunjukkan bahwa tanah pada kedalaman
tersebut sangat baik bagi pertumbuhan tanaman tebu, karena tekstur mereka halus
dan berair, dan juga akan membuat nutrisi terionisasi sehingga mudah diserap
tanaman tebu
EFEK MAGNESIUM TERHADAP BEDA POTENSIAL LISTRIK PERMUKAAN DAUN SAAT FOTOSINTESIS
Dari hasil penelitian diketahui bahwa perbedaan perlakuan sangat berpengaruh pada hasil potensial permukaan daun dan luas permukaan daun untuk tanaman yang kurang nutrisi ataupun yang cukup nutrisi dalam hal ini adalah Mg. Tanaman yang mengalami kekurangan nutrisi atau yang sering disebut dengan defisiensi, memiliki nilai beda potensial maupun luas permukaan daun yang rendah jika dibandingkan dengan kontrol yaitu tanaman dengan kandungan Mg cukup. Pengukuran beda potensial permukaan daun lebih efektif jika dibandingkan dengan pengukuran luas permukaan daun. Karena pada pengukuran potensial listrik dari minggu kedua sudah dapat dilihat adanya perbedaan diantara keempat perilakuan. Sedangkan untuk pengukuran luas permukaan daun, pada minggu kedua belum tampak adanya perbedaan tersebut sehingga belum dapat dideteksi
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
- …
