104 research outputs found
An Analysis of the Concept of 'Sustainability' in Mining Agreements in Papua New Guinea: The case of Hidden Valley/Hamata Mine
This thesis examined the way in which notions of economic, social and environmental sustainability were addressed in mining agreements in Papua New Guinea (PNG), through a case study of the Hidden Valley/Hamata mine. The thesis offered a discussion of indigenous and western perspectives on economic, social and environmental perspectives and practices. It then developed a model of sustainable development drawn from the scholarly literature and applied it to the case study.
The thesis explored the extent to which principles of sustainable development were incorporated into the mining agreement, as well as in negotiations amongst key actors. The study analysed key documents relating to sustainable development in PNG, including relevant national legislation and the memorandum of agreement negotiated amongst the principal actors in the Hidden Valley/Hamata mine. In addition, interviews and focus groups with the main participants in the Hidden Valley/Hamata case were also analysed. The analysis revealed significant deficiencies in the understandings of issues around sustainable development among all actors, which affected the negotiations of the mining agreement. The dominant concern for all actors, reflected in the analysis of documents and interviews, was economic. Furthermore, indigenous perspectives on sustainability were not given a hearing in the negotiations.
The study demonstrated that the major power differences between government and the mining company, on the one hand, and the landowners, on the other hand, prevented meaningful participation of the affected villagers in the negotiation process. The contradictory role of the state as both the regulator of the mining company and its partner in the mining development, along with a lack of awareness about issues of sustainable development, adds to the difficulty of implementing the provisions of the Environment Act. The thesis concludes by developing an analytical framework for negotiating sustainable development in mining agreements through incorporating indigenous and western perspectives and practices of economic, social and environmental sustainability in development projects.
The significance of this research is that it addresses a gap in the literature on sustainable development with specific reference to mining in PNG. It offers insights into the negotiation process of mining agreements and offers a framework for negotiating sustainable development in practice in the future
The Implementation of Character Education at Senior High School
This paper is aimed at analyzing the implementation of character education at Senior High School in Sumedang Regency, West Java, Indonesia. A content analysis method was employed to collect the data with interviews with six teachers from six different senior high schools, which represent the rural, transitional, and urban areas. The findings revealed that: (1) not all teachers understand the concept of character education; (2) the character education has not been done systematically or has not had the specific design/model for the teaching and learning process. Most teachers embedded the character values during the teaching and learning process as a form of character education. For example, through Qur’an recitation, learning tasks, group discussion, lecture, socio-drama, observation and admonition, and even through teachers’ model. Meanwhile, outside the class, character education was implemented through competition and extracurricular activities; (3) the evaluation of character education was relatively varied, such as an observation followed by admonition, group guidance, and also focusing on behavior and affective assessment in the classroom learning process. This research implied that it is needed to make a policy on a program development through the Bureau of Education to improve Senior High School teachers’ knowledge and skills in implementing the character education
Pelaksanaan Aqad Muzaraah di Desa Haurpugur Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung
Salah satu karakteristik perekonomian Islam adalah dengan menggunakan sistem bagi hasil dan sistem ini diimplementasikan dimasyarakat dengan berbagai macam kerjasama yang salah satunya adalah muzara'ah yang dalam kebiasaan masyarakat Indonesia disebut dengan paroan sawah yakni kerjasama antara pemilik lahan dan penggarap lahan dibidang pertanian yaitu dalam pengolahan sawah. Dalam pelaksanaannya aqad muzara'ah yang teijadi didesa Haurpugur masih jauh dari kesempumaan dan ketentuan syariat hal ini dibuktikan dengan adanya salah satu rukun dan syarat yangtidak terpenuhi yang salah satunya adalah dalam pembagian hasil yang tidak berbentuk prosentase melainkan ditentukan pada awal terjadinya aqad dengan jumlah tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dasar yang digunakan untuk sistem bagi hasil di Desa Haurpugur, kemudian ditujukan pula untuk mengetahui mashlahat dan madharat yang terdapat dalam sistem bagi hasil panen di desa Haurpugur sekaligus penelitian ini juga ditujukan untuk mengetahui relevansi antara aqad muzara'ah dalam fiqih mu'amalah dengan sistem bagi hasil yang terjadi didesa Haurpugur. Penelitian ini bertolak dari sumber hukum islam yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits. Diman manusia dalam memperoleh harta dapat ditempuh dengan berbagai cara dengan tetap berpijak pada rel-rel syariah yaitu dengan prinsip sukarela, menarik manfaat dan menghilangkan madharat bagi manusia, memelihara nilai-nilai keadilan dan tolong menolong serta dalam batas-batas yang diizinkan oleh syara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriftif. Sedang dalam pengumpulan data, penulis melakukan dengan tekhnik observasi, wawancara dengan beberapa pelaku aqad muzara'ah di Desa Haurpugur. Sedangkan dalam mengumpulkan data teoritis dilakukan melalui kajian pustaka yang ada relevansinya dengan masalah yang diteliti. Hasil penelitian ini dapat dikemukakan bahwa 1). Dasar yang digunakan untuk bagi hasil panen didesa Haurpugur adalah bahwa pemilik tanah berasumsi sistem nengah dengan anggapan modal yang dikeluarkan untuk pertumbak sawahnya adalah lkg sementara rata-rata hasil panen pertumbaknya adalah 8 kg, jadi hasil kotor dikurangi modal adalah 7 kg dan hasil ini di bagi dua. Kemudian hal ini didasarkan untuk menanamkan rasa tanggung jawab penggarap kepada pemilik lahan serta untuk memotivasi penggarap agar mampu memperoleh hasil panen sesuai dengan target. 2) dilihat dari segi maslahat dan mafsadatnya kerjasama di desa haurpugur lebih banyak mafsadatnya kepada para pelaku .3) Relevansi antara aqad muzara'ah dalam fiqih mu'amalah dengan sistem bagi hasil yang terjadi di desa Haurpugur adalah adanya salah satu syarat yang tidak terpenuhi dalam hal pembagian hasil, yaitu ditentukan dalam jumlah tertentu bukan dalam jumlah persentase. Akhimya dapat diambil kesimpulan, bahwa pelaksanaan aqad muzara'ah didesa Haurpugur tidak dibenarkan dan tidak sah secara hukum sebab tidak terpenuhinya salah satu syarat dari aqad muzaraah tersebut yakni dalam hal pembagian hasil panen yang tidak ditentukan dengan prosentase sementara sahnya suatu hukum adalah terpenuhi semua syarat dan rukunnya
Pelaksanaan Aqad Muzara'ah di Desa Haurpugur Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung
Salah satu karakteristik perekonomian Islam adalah dengan menggunakan sistem bagi hasil dan sistem ini diimplementasikan dimasyarakat dengan berbagai macam kerjasama yang salah satunya adalah muzara'ah yang dalam kebiasaan masyarakat Indonesia disebut dengan paroan sawah yakni kerjasama antara pemilik lahan dan penggarap lahan dibidang pertanian yaitu dalam pengolahan sawah. Dalam pelaksanaannya aqad muzara'ah yang terjadi didesa Haurpugur masih jauh dari kesempumaan dan ketentuan syariat hal ini dibuktikan dengan adanya salah satu rukun dan syarat yang tidak terpenuhi yang salah satunya adalah dalam pembagian hasil yang tidak berbentuk prosentase melainkan ditentukan pada awal teijadinya aqad dengan jumlah tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dasar yang digunakan untuk sistem bagi hasil di Desa Haurpugur, kemudian ditujukan pula untuk mengetahui mashlahat dan madharat yang terdapat dalam sistem bagi hasil panen di desa Haurpugur sekaligus penelitian ini juga ditujukan untuk mengetahui relevansi antara aqad muzara'ah dalam fiqih mu'amalah dengan sistem bagi hasil yang terjadi didesa Haurpugur. Penelitian ini bertolak dari sumber hukum islam yaitu Al-Qur'an dan Al- Hadits. Diman manusia dalam memperoleh harta dapat ditempuh dengan berbagai cara dengan tetap berpijak pada rel-rel syariah yaitu dengan prinsip sukarela, menarik manfaat dan menghilangkan madharat bagi manusia, memelihara nilai-nilai keadilan dan tolong menolong serta dalam batas-batas yang diizinkan oleh syara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriftif. Sedang dalam pengumpulan data, penulis melakukan dengan tekhnik observasi, wawancara dengan beberapa pelaku aqad muzara'ah di Desa Haurpugur. Sedangkan dalam mengumpulkan data teoritis dilakukan melalui kajian pustaka yang ada relevansinya dengan masalah yang diteliti. Hasil penelitian ini dapat dikemukakan bahwa 1). Dasar yang digunakan untuk bagi hasil panen didesa Haurpugur adalah bahwa pemilik tanah berasumsi sistem nengah dengan anggapan modal yang dikeluarkan untuk pertumbak sawahnya adalah lkg sementara rata-rata hasil panen pertumbaknya adalah 8 kg, jadi hasil kotor dikurangi modal adalah 7 kg dan hasil ini di bagi dua. Kemudian hal ini didasarkan untuk menanamkan rasa tanggung jawab penggarap kepada pemilik lahan serta untuk memotivasi penggarap agar mampu memperoleh hasil panen sesua dengan target. 2) dilihat dari segi maslahat dan mafsadatnya kerjasama di desa haurpugur lebih banyak mafsadatnya kepada para pelaku .3) Relevansi antara aqad muzara'ah dalam fiqih mu'amalah dengan sistem bagi hasil yang terjadi di desa Haurpugur adalah adanya salah satu syarat yang tidak terpenuhi dalam hal pembagian hasil, yaitu ditentukan dalam jumlah tertentu bukan dalam jumlah persentase. Akhimya dapat diambil kesimpulan, bahwa pelaksanaan aqad muzara'ah didesa Haurpugur tidak dibenarkan dan tidak sah secara hukum sebab tidak terpenuhinya salah satu syarat dari aqad muzaraah tersebut yakni dalam hal pembagian hasil panen yang tidak ditentukan dengan prosentase sementara sahnya suatu hukum adalah terpenuhi semua syarat dan rukunnya
MODEL PEMBELAJARAN INTERNALISASI IMAN DAN TAQWA DALAM PEMBELAJARAN PAI UNTUK USIA SEKOLAH DASAR
Learning by a teacher needs touches all dimensions of humanity that includes spirit, mind, heart, passion and physical balanced. Based on these dimensions, namely: the soul (transcendent must be turned on), reasonable (rational must be taught), heart (surrender must be strengthened), lust (self-fulfillment to be controlled), and physically (ready to act should be actualized), needs to be grown through the learning model TADZKIROH (Tunjukan teladan, Arahkan, Dorongan, Zakiyah (Kesucian), Kontinuitas, Repetisi, Organisasikan, Hati). So that the behavior reflects the faith and piety in the stage of primary school age can reflect as accustomed to have a prayer, always acts like respect for parents, teachers and friends used to run the religious orders, used to read and study the scriptures and also undertake activities that benefit the world hereafter.
Keywords: teaching model, internalization, iman, taqwa, tadzkiroh
MODEL INTERNALISASI NILAI-NILAI MAQASHID SYARI’AH SEBAGAI STANDAR MORAL DALAM MATA KULIAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK PENGUATAN KARAKTER TOLERANSI BERAGAMA
Dalam konteks pendidikan tinggi, Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam membentuk karakter mahasiswa, termasuk sikap toleransi beragama. Namun, peran PAI tersebut dihadapkan pada sejumlah tantangan terkait konstruksi teoritik maqashid syari’ah yang dirumuskan oleh para ulama sebagai tujuan ajaran Islam yang mencakup pada lima hal pokok sebagai parameter kemashlahatan bagi manusia yakni melindungi agama (hifzh din), jiwa (hifzh nafs), akal (hifzh aql), keturunan (hifzh nasl) dan harta (hifzh mal). Dalam tataran implementasinya konsep maqashid syari’ah seringkali hanya diinterpretasikan pada aspek legal formal semata sehingga muatan materi PAI cenderung berorientasi fiqh dan lebih menekankan pada kesalehan ritual yang berdampak pada adanya kesenjangan antara konsep maqashid syari’ah sebagai tujuan ajaran Islam dengan perwujudan sikap toleransi beragama mahasiswa. Oleh karena itu diperlukan penguatan nilai-nilai maqashid syari’ah yang bukan saja pada dimensi legal-formal tetapi juga dimensi etis-moral agar maqashid syari’ah dapat menjadi standar moral bagi individu yang menavigasi pada penguatan sikap toleransi beragama. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan formulasi dalam menginternalisasikan nilai-nilai maqashid syari’ah sebagai standar moral dalam pembelajaran PAI untuk penguatan karakter toleransi beragama. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut Design Base Research (DBR) dipilih sebagai rancangan penelitian dalam disertasi ini yang ditempuh dalam tiga fase yakni Designing, Analyzing dan Redisigning. Penelitian ini melibatkan 410 orang dari 1067 orang mahasiswa perguruan tinggi umum (PTU) di Jawa Barat yang menyatakan kesediaannya untuk terlibat dalam penelitian ini. Selain itu sejumlah 19 orang dari unsur akademis di berbagai perguruan tinggi dan 3 orang unsur ulama di Jawa Barat berkontribusi sebagai narasumber dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui survey dengan skala likert dan open ended serta wawancara mendalam, sehingga analisis data penelitian dilakukan dalam dua pendekatan yakni analisis kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan kerangka DBR sebagai rancangan penelitian ini dihasilkan empat temuan penting penelitian. Pertama; wawasan mahasiswa tentang nilai-nilai maqashid syari’ah sangat lemah, dengan skor rata-rata 1,75 (skala Likert). Sikap toleransi beragama mahasiswa berada pada tingkat sedang, dengan skor rata-rata 2,29 untuk toleransi antar agama dan 2,11 untuk toleransi antar mazhab. Hasil analisis korelasi menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara wawasan maqashid syari’ah dan sikap toleransi beragama, dengan derajat hubungan 47,7% untuk toleransi antar agama dan 41,3% untuk toleransi antar mazhab. Temuan kuantitatif ini diperkuat oleh temuan kualitatif yang diolah menggunakan NVivo 14. Kedua; Kajian model realitas menemukan adanya sejumlah masalah dalam muatan materi PAI dan Implementasi sintax pembelajaran yang mengarahkan pada perlunya upaya perbaikan. Ketiga; berdasarkan temuan kedua, penelitian ini merumuskan Model TADBIR Mashlahah sebagai model pembelajaran internalisasi nilai-nilai maqashid syari’ah. TADBIR merupakan akronim dari Tadabbur, Arahkan, Dorongan, Bimbingan, Inisiasi, dan Refleksi. Materi yang dikembangkan dalam model ini mencakup enam nilai maqashid syari’ah, lima di antaranya diadopsi dari ulama klasik (agama, jiwa, akal, keluarga, dan harta), serta satu nilai baru, yaitu hifzh wathon (menjaga negara/nasionalisme). Pemaknaan hifzh dalam model ini mengalami pergeseran dari perlindungan dan pemeliharaan ke arah nilai-nilai universal yang lebih mengedepankan hak asasi manusia dan kebebasan. Keempat, hasil uji coba model menunjukkan peningkatan signifikan dalam wawasan mahasiswa terkait maqashid syari’ah, dengan skor pretest 1,55 dan posttest 4,28. Peningkatan ini diikuti dengan peningkatan sikap toleransi beragama. Efektivitas model TADBIR Mashlahah dinyatakan tinggi, dengan nilai N-Gain sebesar 78,89%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Model TADBIR Maslhahah merupakan model pembelajaran yang efektif dalam menginternalisasikan nilai-nilai maqashid syari’ah sebagai standar moral dalam PAI untuk penguatan karakter toleransi beragama.
In higher education, Islamic Religious Education (Pendidikan Agama Islam/PAI) has a strategic role in shaping students' character, including attitudes of religious tolerance. However, its role faces challenges in the theoretical construction of maqashid sharia formulated by scholars as the goal of Islamic teachings which includes five main parameters of human welfare, namely protecting religion (hifzh din), soul (hifzh nafs), reason (hifzh aql), descendants (hifzh nasl) and property (hifzh mal). In its implementation, the concept of maqashid sharia is often only interpreted in terms of formal legal aspects so that PAI materials tend to be oriented towards fiqh and emphasizes more on ritual piety which has an impact on the gap between the concept of maqashid sharia as the goal of Islamic teachings and the realization of students' attitudes of religious tolerance. Therefore, it is necessary to strengthen the values of maqashid sharia not only in the legal-formal dimension but also the ethical-moral dimension so that maqashid sharia can become a moral standard for individuals who navigate strengthening attitudes of religious tolerance. This study aims to formulate the internalization of maqashid sharia values as a moral standard in PAI learning to strengthen the character of religious tolerance. To achieve the objectives of the study, the Design-Based Research (DBR) was chosen in this dissertation which was carried out in three phases, namely Designing, Analyzing, and Redesigning. This study involved 410 people out of 1067 students of public universities in West Java who expressed their willingness to be involved in this study. In addition, 19 people from academic elements in various universities and 3 ulama in West Java contributed as sources in this study. Data collection was carried out through a survey with a Likert scale and open ended as well as in-depth interviews. In the data analysis, quantitative and qualitative approaches were used. Based on the DBR framework, four important findings were produced. First, the students had poor insight into the values of Maqashid Sharia, with an average score of 1.75 (Likert scale). The attitude of religious tolerance of students was at a moderate level, with an average score of 2.29 for inter-religious tolerance and 2.11 for inter-school tolerance. The results of the correlation analysis showed a significant positive relationship between the insight into Maqashid Sharia and the attitude of religious tolerance, with a degree of relationship of 47.7% for inter-religious tolerance and 41.3% for inter-school tolerance. This quantitative finding was reinforced by qualitative findings processed using NVivo 14. Second, the reality model found a number of problems in PAI materials and the implementation of learning syntax that led to the need for improvement efforts. Third, based on the second finding, this study formulated the TADBIR Mashlahah Model as a learning model for internalizing Maqashid Sharia values. TADBIR is an acronym for Tadabbur, Arahkan, Dorongan, Bimbingan, Inisiasi, and Refleksi (Contemplation, Direction, Encouragement, Guidance, Initiation, and Reflection). The material developed in this model had six Maqashid Sharia values, five of which were adopted from classical ulama (religion, soul, reason, family, and property), as well as one new value, namely hifzh wathon (protecting the country/nationalism). The meaning of hifzh in this model shifted from protection and maintenance to universal values that prioritize human rights and freedom. Fourth, the results of the model trial showed a significant increase in students' insight regarding Maqashid Sharia, with a pretest score of 1.55 and a posttest score of 4.28. This increase was followed by an increase in attitudes of religious tolerance. The effectiveness of the TADBIR Mashlahah model was declared high, with an N-Gain value of 78.89%. This study concluded that the TADBIR Maslhahah Model was an effective learning model in internalizing the values of maqashid sharia as moral standards in PAI to strengthen the character of religious tolerance
Rain forests of the Ok Tedi headwaters, New Guinea: an ecological analysis
The basin of the upper Ok Tedi rises from 500 to 2900 m and has been an isolated rain forested region of great antiquity. It is the wettest region within the southern mid-altitude fringe of New Guinea (>7000 mm of rainfall p.a.). There are 4 natural vegetation zones of which only Lower Montane Rain Forest is regularly inhabited and cultivated, though all zones are exploited for natural resources. The flora and fauna are rich and diverse. Heavy rainfall and persistent cloudiness compresses ecological zonation producing extremely diversified biota in a comparatively small area with high levels of locally endemic species. Although flora and fauna show moderate levels of similarity to other localities in eastern New Guinea, biogeographic relationship in many respects are more to the west. -from Author
The inheritance of values in Sundanese song of Cianjuran in West Java
This article examines the issue of inheritance that occurs in the Sundanese Song of Cianjuran. During this time, the inheritance is dominated by the transfer of skills only, while the transfer of value tends to be ignored. Consequently, the public cannot grasp the value of what is important to Sundanese Song of Cianjuran, so that over time the Sundanese Song of Cianjuran being abandoned. Through research conducted by observation into the studio and the training venues of Sundanese Song of Cianjuran, and interviews with the artists of Sundanese Song of Cianjuran, the study results showed two things. First, the Sundanese Song of Cianjuran contains the value both in lyrics and music accompaniment, in the lyrics have meaning is quite diverse, whereas the musical accompaniment contains any value in the form of symbolic treatment. Second, the process of inheritance value, on the one hand, occurs at certain times through a casual chat after training Sundanese Song of Cianjuran finished, and on the other hand, the value of inheritance is one drawback in the regeneration of Sunda Cianjuran song, because teachers tend to pass on the skills aspect alone.</p
Religious Songs on Youtube: The Impact on Students
Beginning in 2018 Indonesian people are treated to religious songs from Sabyan Gambus group whose vocalist Nissa Sabyan. The songs sung by Nissa Sabyan echoed almost in every layer of the society. One of the media that made it easy for people to enjoy various songs from several Nissa Sabyan albums is YouTube. This paper was aimed to analyze the YouTube's role of students' religious dimension. The method used in this research is a survey with a qualitative approach. The survey was conducted on 147 students. The results of the study prove that YouTube as an Internet-based audio-visual media is an effective medium for spreading religious nuances. The majority of students feel to be religious by listening to Nissa Sabyan's songs, even though they don't understand the contents of the lyrics. Thus, it can be concluded that YouTube has a significant role in fostering a religious sense of students
- …
