1,721,006 research outputs found
Guru profesional : pedoman kinerja, kualifikasi dan kompetensi guru/ Suprihatiningrum
385 hal.: ill., lamp., tab.; 21 c
Guru profesional : pedoman kinerja, kualifikasi dan kompetensi guru/ Suprihatiningrum
385 hal.: ill., lamp., tab.; 21 c
Penerapan Subject Specific Pedagogy (SSP) Sains SD Kelas 5 dengan Pendekatan Kontekstual untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Karakter Siswa
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan karakter siswa kelas 5 SD Negeri Patuk I Gunungkidul Yogyakarta melalui penerapan Subject Specific Pedagogy (SSP) Sains dengan pendekatan kontekstual.
Penelitian ini merupakan Classroom Action Research yang dilakukan dalam 4 siklus dengan Materi Pembelajaran Fotosintesis, Penyesuaian Diri pada Hewan, Penyesuaian Diri pada Tumbuhan, dan Perubahan Sifat Benda. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar, lembar observasi implementasi nilai, lembar angket siswa, guru, dan orang tua siswa, serta pedoman wawancara kepada siswa, guru, dan kepala sekolah. Tes hasil belajar dianalisis dengan menghitung rata-rata skor ulangan harian tiap siklus. Lembar observasi dan angket dianalisis dengan deskriptif kuantitatif. Setiap siklus terdiri atas 4 tahap, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Jenis tindakan dalam penelitian ini adalah penerapan SSP melalui pendekatan kontekstual dan hasilnya berupa hasil belajar siswa (nilai ulangan harian) serta peningkatan karakter siswa yang dibatasi pada implementasi nilai ketaatan beribadah, tanggung jawab, kemandirian, dan kreativitas. Kriteria keberhasilan dalam penelitian ini dibedakan menjadi 2, yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif, tindakan dikatakan berhasil jika pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas siswa dan terimplementasinya 4 nilai (ketaatan beribadah, tanggung jawab, kemandirian, dan kreativitas). Kriteria kuantitatif yaitu jika rata-rata ulangan harian siswa telah mencapai 76 – 99% atau siswa yang mencapai KKM > 75% dan rata-rata skor aktual hasil observasi implementasi keempat nilai tersebut mencapai 76 – 99% atau 69,92 – 91,08.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas 5 SD Negeri Patuk I Gunungkidul Yogyakarta dapat ditingkatkan melalui penerapan SSP sains dengan pendekatan kontekstual. Rata-rata hasil belajar yang diinginkan tercapai pada siklus III sebesar 81,74 melalui tindakan pelaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melalui metode ceramah dan simulasi. Implementasi nilai ketaatan beribadah, tanggung jawab, kemandirian, dan kreativitas siswa kelas 5 SD Negeri Patuk I Gunungkidul Yogyakarta dapat ditingkatkan melalui penerapan SSP sains dengan pendekatan kontekstual. Peningkatan implementasi nilai-nilai yang ingin dicapai terjadi pada siklus IV, dimana guru telah melaksanakan komponen pembelajaran kontekstual sebesar 95%. Skor implementasi nilai ketaatan beribadah, tanggung jawab, kemandirian, dan kreativitas berturut-turut sebesar 71,0; 71,00; 72,00; dan 74,00
Guru profesional : pedoman kinerja, kualifikasi dan kompetensi guru/ Suprihatiningrum
385 hal.: ill., lamp., tab.; 21 c
Pengalaman Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif dalam Menyediakan Pembelajaran Sains
This article focuses on the investigations towards challenges and obstacles faced by Schools Providing Inclusive Education (SPIE) in creating inclusive science learning for students with disabilities. Under the qualitative research lense, three SPIE (Sekolah Mutiara, Permata and Berlian) in the Special Province of Yogyakarta were involved and thirteen respondents (principals, science teachers, support teachers) were selected through purposive sampling technique. Data were collected by in-depth interviews and followed by a Focus Group Discussion (FGD) with six science teachers. Collected data were then analyzed through coding, categorization, and four themes were generated. The findings show that types of disabilities possessed by students are very diverse, so that teachers need more effort and time to manage class. Support for the teachers and science learning media were limited. Another finding shows that contradictions between policies on inclusive education resulted in the confusion of implementing inclusive education in school level.
Artikel ini membahas tantangan dan hambatan yang ditemui oleh Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif (SPPI) dalam menyediakan pembelajaran sains untuk siswa difabel. Tiga SPPI di Daerah Istimewa Yogyakarta dicakup dalam penelitian ini, dengan tiga belas responden yang terdiri atas kepala sekolah, guru sains, guru pendamping kelas (GPK). Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD) bersama enam guru sains. Hasil analisis data menunjukkan di ketiga SPPI, variasi tipe dan jenis disabilitas yang dimiliki oleh siswa sangat beragam, sehingga guru membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak untuk mengelola pembelajaran. Daya dukung sekolah masih kurang dan perlu ditingkatkan terutama di area jumlah GPK dan media pembelajaran yang sesuai untuk siswa dengan jenis disabilitas tertentu. Sekolah Berlian menunjukkan iklim pembelajaran yang lebih inklusif dibanding yang lain. Ditemukan adanya kontradiksi antar-kebijakan pemerintah mengenai pendidikan inklusif, yang mengakibatkan pelaksana pendidikan inklusif di sekolah mengalami kebingungan
Guru profesional : pedoman kinerja, kualifikasi dan kompetensi guru/ Suprihatiningrum
385 hal.: ill., lamp., tab.; 21 c
- …
