173 research outputs found
Performa Benih Ikan Nila yang Diberi Pakan Mengandung Hormon Pertumbuhan Rekombinan dengan Metode Penyiapan Berbeda
This research was conducted to evaluate the influence of rElGH in the form of the bacterium Escherichia coli intact and contains whole culturing medium, E.coli containing rElGH without culture medium, and protein total of lysozymelysated E. coli and mixed with feedstuffs before it made into pellet (repeleting) on red Nile tilapia juvenile. The research consisted of 3 treatments by different preparation of rElGH at a dose of 3 mg/kg diet, and one control. Each treatment was repeated three times. The control diet and rElGH was firstly coated by chicken egg yolks,and then mixed with diet by repelleting. Fish were reared for 6 weeks and fed diet containing rElGH by 3 times at day 1, 4 and 7 of the first week, 10% of fish body weight. The result showed that feeding fish by diet containing lysozyme-lysated rElGH generated higher growth, biomass and specific growth rate (SGR) of length and body weight compared with the control. Increment of body weight, biomass and SGR of length and body weight were 8.30%, 7,39% 4.20% and 4,92% higher compared to the control, respectively. Thus, feeding fish with diet containing the lysated rElGH is an effective method to increase growth of red Nile tilapia juvenile
Respons Pertumbuhan Benih Ikan Gurami (Osphronemus goramy) yang Diberi Pakan dengan Kadar Protein Berbeda dan Diperkaya Hormon Pertumbuhan Rekombinan
Ikan gurami memiliki laju pertumbuhan yang relatif lambat. Aplikasi hormon pertumbuhan rekombinan (recombinant growth hormone, rGH) melalui pakan telah terbukti menghasilkan peningkatan pertumbuhan. Secara umum, pemberian GH eksogen dapat meningkatkan kapasitas metabolisme ikan gurami, khususnya metabolisme lemak serta optimasi sintesis dan pemanfaatan protein untuk pertumbuhan pada ikan gurami. Penambahan nutrien non-protein sebagai penghasil energi dapat menurunkan penggunaan protein sebagai sumber energi (protein sparring effect) sehingga dapat meningkatkan fungsi protein dalam menunjang pertumbuhan ikan. Penggunaan pakan dengan kadar protein yang rendah dapat mengurangi harga pakan namun dapat menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi lambat sehingga waktu produksi menjadi semakin lama. Kombinasi antara aplikasi rGH dan penggunaan pakan berkadar protein yang berbeda yang diberikan pada benih ikan gurami diharapkan mampu meningkatkan protein sparring effect. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji efek pemberian pakan dengan kadar protein berbeda yang diperkaya dengan rGH terhadap respons pertumbuhan benih ikan gurami. Protein rGH yang telah disalut (coating) dengan kuning telur dicampur dengan pakan berkadar protein berbeda (34%, 28%, dan 21%; isoenergi) dengan dosis basah 3 mg/kg pakan, masing-masing perlakuan memiliki kontrol perlakuan pakan tanpa penambahan rGH. Setiap perlakuan memiliki 3 ulangan. Ikan gurami (bobot tubuh 15,83±0,13 g) diberi pakan mengandung rGH 2 kali seminggu, secara satiasi. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 42 hari di akuarium bervolume 100 liter, dengan padat tebar 10 ekor. Parameter yang diuji meliputi pertambahan biomassa, laju pertumbuhan spesifik (LPS), dan rasio konversi pakan (RKP); indeks hepatosomatik (IHS), retensi protein (RP) dan lemak (RL), ekskresi total amonia nitrogen (TAN), kadar glukosa dan trigliserida darah; serta aktivitas enzim. Analisis data dengan tabel sidik ragam dilakukan menggunakan software statistik SPSS 17.0. Penambahan rGH berpengaruh nyata meningkatkan aktivitas enzim amilase, lipase, dan protease pada perlakuan kadar protein pakan 21% (P0,05). Perlakuan kadar protein pakan menurunkan aktivitas enzim amilase, lipase, dan protease (P0,05). Kadar trigliserida darah pada semua perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05), kecuali perlakuan pakan berprotein 21% tanpa penambahan rGH yang nilainya lebih rendah (P0,05). Nilai IHS berbanding terbalik dengan kadar protein pakan, sedangkan penambahan rGH secara signifikan (P0,05) dengan kontrolnya (pakan berprotein 28% tanpa rGH). Ekskresi TAN meningkat dengan meningkatnya kadar protein pakan dan penambahan rGH secara signifikan (P0,05). Sebagai kesimpulan bahwa pemberian rGH dengan dosis basah 3 mg/kg pada pakan berkadar protein berbeda mampu meningkatkan pertumbuhan dan mengefisiensikan pemanfaatan protein pada benih ikan gurami
Kecernaan dan Pertumbuhan Udang Vaname Litopenaeus vannamei yang Diberi Pakan Mengandung Tepung Bioflok dan Tepung Bungkil Kedelai
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kecernaan pakan dan
pertumbuhan udang vaname yang diberi pakan dengan campuran tepung bioflok
30% dan tepung bungkil kedelai 30% selama 14 hari pemeliharaan. Sebanyak 20
ekor udang vaname dengan bobot rerata 5.61±0.09 g ditebar ke akuarium
berukuran (60x40x50) cm3 yang telah diisi 84 L air payau salinitas 22 ppt. Pakan
kontrol merupakan pakan acuan yang memiliki kadar protein 43.03% dan 0.6%
Cr2O3. Pakan uji tepung bioflok adalah campuran 69.4% pakan acuan, 30%
tepung bioflok dan 0.6% Cr2O3. Pakan uji tepung bungkil kedelai adalah
campuran 69.4% pakan acuan, 30% tepung bungkil kedelai, dan 0.6% Cr2O3.
Pakan uji dengan FR 5% pakan diberikan 4 kali/hari. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa nilai kecernaan total pakan tidak berbeda nyata. Nilai
kecernaan protein, kecernaan lemak dan kecernaan energi pakan yang
mengandung bioflok lebih tinggi daripada kontrol. Penambahan tepung bioflok
30% dan tepung bungkil kedelai 30% pada pakan udang vaname memberikan laju
pertumbuhan harian yang tidak berbeda nyata dengan kontrol
Kinerja Pertumbuhan Ikan Mas Cyprinus carpio dengan Pemberian Pakan Komersil yang Berbeda di Waduk Cirata, Jawa Barat.
Kegiatan budidaya dengan padat tebar tinggi membutuhkan pemberian pakan berkualitas, kandungan nutrien lengkap, serta seimbang untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan menjaga kesehatan ikan. Pakan dalam kegiatan akuakultur menghabiskan 75–90% dari biaya produksi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan kinerja pertumbuhan ikan mas (Cyprinus carpio) yang dipelihara pada karamba jaring apung dengan pemberian empat pakan komersil berbeda. Penelitian ini menggunakan empat perlakuan yaitu pakan komersil A, pakan komersil B, pakan komersil C, dan pakan komersil D. Ikan yang digunakan memiliki bobot rata rata 30 g. Ikan dipelihara pada KJA berukuran 7 × 7 × 4 m. Ikan diberi pakan tiga kali sehari (07.00, 12.00, dan 17.00 WIB) dengan metode at satiation selama 70 hari pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan pakan D memiliki hasil terbaik pada rasio konversi pakan, retensi lemak, dan tingkat kelangsungan hidup. Sedangkan penggunaan pakan C hanya memiliki hasil terbaik pada retensi protein
Evaluasi Penambahan Nukleotida pada Pakan terhadap Kinerja Pertumbuhan Larva Ikan Nila Oreochromis niloticus
Nukleotida adalah prekursor replikasi DNA yang berperan dalam setiap sistem biokimia dalam tubuh seperti metabolisme dan imunitas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penambahan nukleotida pada pakan terhadap kinerja pertumbuhan larva ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian menggunakan 5 perlakuan, yaitu pakan komersil yang ditambah nukleotida sebanyak 0%, 0.25%, 0.5%, 0.75%, dan 1%. Larva ikan nila berat 14 mg dan panjang 9,0 ± 0,8 mm ditebar dalam akuarium 50 x 40 x 35 cm dengan ketinggian air 20 cm. Setiap akuarium diisi 75 ekor larva ikan nila. Ikan dipelihara selama 30 hari. Selama masa pemeliharaan, ikan diberi pakan sesuai perlakuannya secara at satiation. Hasil penelitian menunjukkan penambahan nukleotida dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan larva ikan nila, yakni meningkatkan bobot ikan, kelangsungan hidup, protein efisiensi rasio (PER), serta menurunkan nilai konversi pakan (FCR). Tingkat kelangsungan hidup dan bobot ikan pada perlakuan 0,5 % tidak berbeda nyata dengan perlakuan 1,0 %. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa dosis nukleotida optimal untuk ditambahkan pada pakan adalah 0,5 %
Kombinasi Cacing Sutradan Pakan Buatan yang Ditambah Probiotik pada Pemeliharaan Larva Ikan Lele Clarias sp.
This study was conducted to evaluate sludge worm, artificial diet and probioticas a diet of larval Clarias sp. One day old larvae with total length of 0.5 ± 0.03 cm were stocked into a 15 plastic container diameter of 40 cm and filled with water up to 15 cm. D2 Clariaslarvae were fed on Artemiasalina. From d3 till d8,the larvae were fed on either sludge worm, artificial diet plus sludge worm, artificial dietplus probiotics plus sludge worm, artificial diet, or artificial diet plus probiotics. During the period of d9 till d14, they were fed on artificial diet. Results showed that larvae fed on sludge worm had significantly the highest survival rate (95 %); size distribution of lavae in this groups was also dominated by the large fish (72.5 %). On the other hand, larvae fed on artificial diet had the lowest survival rate (73.4 %), and was dominated by the small fish (99.5%). Protein efficiency ratio between sludge worm and artificial diet treatments were not significantly different. However, the addition of probioticinto the artificial diet enhanced the protein efficiency ratio and the growth of larvae
Kecernaan Tepung Daun Tarum (Indigofera zollingeriana) dengan Penambahan Berbagai Dosis Enzim pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kecernaan ikan nila (Oreochromis niloticus) terhadap bahan baku tepung daun tarum (Indigofera zollingeriana) yang ditambahkan Enzim NSP+® dengan berbagai dosis. Penelitian menggunakan 4 perlakuan dengan masing-masing 3 ulangan yaitu penambahan Enzim NSP+® pada tepung daun tarum sebanyak 0, 0.2, 0.4, dan 0.6 g.kg-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan Enzim NSP+® sebanyak 0.6 g.kg-1 menghasilkan kandungan NDF dan ADF yang paling rendah yaitu sebesar 23.89 % dan 18.18%. Selain itu, penambahan dosis Enzim NSP+® 0.6 g.kg-1 menghasilkan kecernaan pakan, kecernaan bahan baku pakan, kecernaan protein, kecernaan lemak, dan kecernaan energi tertinggi yaitu masing-masing sebesar 46.51±0.73%, 37.13±2.43%, 76.88±0.23%, 59.62±3.70%, dan 60.77±0.94% (P<0.05). Penambahan Enzim NSP+® sebesar 0.6 g.kg-1 pada tepung daun tarum (Indigofera zollingeriana) efektif dalam meningkatkan nilai kecernaan ikan nila (Oreochromis niloticus)
Pemanfaatan Tepung Bioflok pada Pakan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei).
Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penambahan tepung bioflok pada pakan terhadap kinerja pertumbuhan udang vaname. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan pakan dengan tingkat penambahan bioflok yang berbeda yaitu 0, 5, 10, dan 20% dengan 3 kali ulangan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan udang berukuran rata-rata 3.42 0.14 g yang dipelihara selama 40 hari. Udang diberi pakan dengan tingkat pemberian pakan awal sebanyak 3%/hari yang selanjutnya disesuaikan dengan bobot biomassa udang pada saat sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan tepung bioflok memberikan peningkatan yang signifikan pada kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang uji. Penggunaan tepung bioflok sebanyak 20% pada pakan udang memberikan tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan dan konversi pakan terbaik dan berbeda nyata dengan perlakuan kontrol. Selain itu penambahan tepung bioflok juga dapat meningkatkan aktivitas phenoloxydase dan respiratory burst
Waktu Pemberian Pakan Buatan Yang Tepat Untuk Larva Ikan Patin (Pangasionodon Sp.).
Ketersediaan cacing sutra pada musim penghujan sebagai pakan alami larva ikan patin sangat terbatas. Ini menjadi kendala dalam pemeliharaan larva. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi umur larva patin Pangasionodon sp. yang tepat untuk diberi pakan buatan. Pertumbuhan, kelangsungan hidup dan aktivitas enzim dijadikan sebagai parameter evaluasi. Ikan dipelihara dengan kepadatan 11 ekor per liter selama 14 hari. Empat perlakuan dan tiga ulangan digunakan dalam penelitian ini yaitu pemberian pakan alami tanpa pakan buatan, pemberian pakan buatan mulai hari ke tiga, enam dan sembilan (d3, d6 dan d9) Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pakan buatan mulai d3 memiliki pertumbuhan panjang yang terkecil dibandingkan perlakuan lain dan perberian pakan buatan menstimulasi sekeresi enzim pencernaan yang lebih tinggi. Sedangkan tingkat kelangsungan hidup larva tidak berbeda nyata (p>0,05) antar perlakuan. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pakan buatan dapat digunakan pada saat larva umur sembilan hari setelah pertama kali makan
Pengaruh Pemberian Jenis Makanan Yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Populasi Daphnia Sp.
Budidaya Daphnia sp. dibedakan menjadi dua cara pemberian makanannya,
yaitu secara langsung (detrital) dan tidak langsung (auto trophic system).
Pemberian makan secara langsung, contohnya kotoran ayam dapat digunakan
langsung sebagai makanan oleh Daphnia sp. atau sebagai pupuk yang dapat
diuraikan terlebih dahulu oleh bakteri menjadi bahan organik yang merangsang
pertumbuhan fitoplankton dan zooplankton (Boyd 1982). Pada penelitian Jusadi
(2005) dan Firdaus (2004), pemberian makanan Daphnia sp. dengan metode secara
tidak langsung, memiliki panjang umur antara 10 – 22 hari dibandingkan secara
langsung yang hanya selama 7 - 12 hari yang diduga akibat dari kadar amonia yang
cukup tinggi pada awal pemeliharaan yaitu berkisar 0,1 – 1,975 ppm. Pada metode
pemberian makanan secara tidak langsung kualitas air wadah awal budidaya dapat
diatur sesuai kualitas yang dibutuhkan dan jumlah makanan yang diberikan
disesuaikan dengan jumlah populasi, sehingga kualitas wadah budidaya dapat tetap
terjaga, jadi diduga budidaya dengan metode tidak langsung akan mendapatkan
hasil yang lebih baik daripada dengan metode secara langsung. Tujuan dari
penelitian adalah melihat perbandingan antara limbah organik cair (limbah cair
tahu) dengan pakan komersial (ragi dan dedak) sebagai makanan Daphnia sp.,
dengan metode pemberian makanan secara tidak langsung, dan melihat pengaruh
yang diberikan terhadap pertumbuhan populasi Daphnia sp. Penelitian terdiri atas
empat perlakuan dan tiga ulangan yaitu perlakuan pemberian makanan ragi, dedak,
limbah cair tahu,dan limbah cair tahu +EM4 dengan volume pemberian makanan
masing-masing perlakuan 0,08ml per 8 ekor Daphnia sp. Jumlah populasi yang
dihasilkan berbeda nyata (P<0,05) pada setiap perlakuan. Puncak populasi yang
dihasilkan berbeda nyata (P<0,05) dengan nilai tertinggi didapat pada perlakuan
ragi yaitu 140 ± 4,16, dedak 44 ± 7,53 ekor, limbah cair tahu 15 ± 3,61 ekor, dan
limbah cair tahu + EM4 27 ± 7,55 ekor. Puncak populasi pada perlakuan ragi terjadi
pada hari ke-30, dedak pada hari ke-16, limbah cair tahu pada hari ke-18, dan
limbah cair tahu +EM4 pada hari ke-10
- …
