1,720,973 research outputs found
Rekrutmen Karang pada Substrat Batu di Gosong Pramuka, Kepulauan Seribu DKI Jakarta
Gosong Pramuka is an area of coral reefs in the center of the Kepulauan Seribu region economy. The existence of the stony substrate around Gosong Pramuka as a potential habitat for coral larval settlement. Research aims to determine the recruitment of coral stony substrate in the Gosong Pramuka, Kepulauan Seribu. Research was conducted from April to June 2013 at Gosong Pramuka, comprising four stations: Exposed I, Exposed II, Sheltered I, and Sheltered II. Observations were conducted by observing all surface of stony substrate for coral recruits. Each coral recruits were vertically photographed using underwater camera with macro setting, thus identified until genus level. Images of coral recruit were processed by Image J to measure coral diameter and width. There were 95 colonies of coral recruits with the largest number of colony observed at Station Exposed I (35 colonies) belonging to Acropora and Porites. Lifeform of coral recruit for Acropora comprised of branching, digitate, tabulate and encrusting, while for Porites was massive and submassive. Average width of coral recruit was 25-50 cm2, while average diameter was 9-12 cm. Average index of coral health was 2-3, referring to CoralWatch method, indicating stressed colonies. Density of coral recruit for Station Exposed I was 0.22 colony/m2, Sheltered I 0.11 colony/m2, Exposed II 0.13 colony /m2 and 0.11 colony /m2 at Sheltered II. Correspondence analysis revealed that the presence of Porites coral recruit was influenced by depth, salinity, pH, temperature, while Acropora by distance from reef/stone bottom. Average diameter and width of coral recruits were closely associated with orthophosphate. Diameter of coral recruit was closely affecting the coral width
Pengaruh Etil Metan Sulfonat (Ems) Terhadap Mikroalga Spesies Dunaliella Sp.
Buah merah Pandanus Conoideus merupakan salah satu tanaman endemik Papua yang mengandung makro dan mikro nutrien, salah satu diantaranya adalah Vitamin E (tokoferol ) sebesar 11.000 mg/l dalam 100 g. Vitamin E merupakan mikro nutrien yang dibutuhkan dalam masa reproduksi ikan yaitu berperan dalam pembelahan sel. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan minyak buah merah melalui pakan terhadap rematurasi ikan mas koki. Penelitian ini dilakukan selama 28 hari dengan perlakuan pemberian dosis minyak buah merah (MBM) dan Kontrol (A) yaitu pakan tanpa MBM. Perlakuan MBM terdiri dari dosis MBM 175 mg/kg pakan (B), MBM 375 mg/kg pakan (C), MBM 500 mg/kg pakan (D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian MBM melalui pakan menghasilkan nilai kebuntingan pada hari ke- 15, dengan hasil terbaik yaitu perlakuan MBM 500 mg/kg dengan presentase 66,67%, pergerakan inti telur (GVBD) 80% mulai hari ke-21, tingkat ovulasi 37%
Dampak El Nino 2015 terhadap Pemutihan Karang Bercabang (Acropora dan Seriatopora) di Area Perlindungan Laut Kepulauan Seribu
Karang bercabang (Acropora dan Seriatopora) merupakan genus yang umum
ekosistem terumbu karang Kepulauan Seribu dan rentan terhadap pemutihan
akibat pengaruh El Nino yang sempat berlangsung pada tahun 2015. Penelitian ini
bertujuan untuk melihat kondisi kondisi kesehatan karang bercabang di Kepulauan
Seribu akibat dampak El Nino 2015. Survey cepat dilakukan pada Nov-Des 2015
untuk memantau kondisi terumbu karang di 4 stasiun menggunakan Metode yang
digunakan adalah visual sensus mengacu Coral Health Chart sebagai indikator
pemutihan. Informasi sekunder mengenai suhu permukaan laut diperoleh dari
marine.Copernicus.eu dan NOAA Coral Reef Watch untuk menentukan potensi
dampak El Nino yang berskala global terhadap kondisi lokal di Kepulauan Seribu.
Dalam kurun waktu 6 tahun terakhir, rata-rata suhu permukaan laut Kepulauan
Seribu adalah 29.7 °C, sedangkan selama El Nino 2015 meningkat hingga 2 °C.
Secara umum, kondisi terumbu karang di 4 stasiun tergolong sedang dan tidak ada
pemutihan karang secara massal terjadi. Karang bercabang Acropora lebih rentan
terhadap pemutihan dan kondisi yang terparah ditemukan di Stasiun APL
Harapan. Koloni karang yang lebih sehat ditemukan di Stasiun APL Pari dan
Stasiun APL Tidun
Pemanfaatan Gas Karbondioksida (CO2) pada Kultivasi Mikroalga Nannochloropsis sp. untuk Meningkatkan Kelimpahan Sel.
Nannochloropsis sp. adalah mikroalga yang memiliki daya resistensi yang tinggi terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan dan memiliki kandungan lemak yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan laju pertumbuhan Nannochloropsis sp. dengan injeksi CO2 dan tanpa injeksi CO2 terhadap kelimpahan sel yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa mikroalga Nannochloropsis sp. dengan perlakuan injeksi CO2 memiliki kelimpahan sel yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa injeksi CO2. Kelimpahan maksimal sel untuk masing-masing perlakuan terjadi pada hari ke -7 dengan 55.86 X 106 sel (injeksi CO2) dan 45.86 X 106 sel (tanpa injeksi CO2). Selain pertumbuhan jumlah sel yang lebih tinggi, mikroalga dengan perlakuan injeksi CO2 juga memiliki kandungan lemak lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa injeksi CO2. Kandungan lemak diperlakuan injeksi CO2 menghasilkan 20.62% berat kering dan perlakuan tanpa injeksi CO2 18.41% berat kering
Pemetaan Distribusi Dan Kerapatan Mangrove Menggunakan Citra Worldview-2 Di Pulau Tunda
Teknologi satelit penginderaan jauh telah banyak dimanfaatkan karena
mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi dan memantau vegetasi
mangrove secara efisien. Tujuan penelitian ini adalah memetakan distribusi dan
kerapatan mangrove di Pulau Tunda menggunakan citra satelit Worldview-2.
Survey lapang dilakukan pada 13-15 Mei 2015 dengan mengambil titik sampel
sebanyak 96 titik. Metode klasifikasi maximum likelihood digunakan untuk
mengklasifikasikan mangrove dan non-mangrove. Transformasi Normalized
Difference Vegetation Index (NDVI) digunakan untuk mengetahui kerapatan
mangrove. Jenis mangrove yang ditemukan di Pulau Tunda adalah Rhizophora
mucronata, Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Avicennia rumphiana,
Sonneratia alba, Brugueira gymnorrizha, Brugueira sexangula, Brugueira
cylindrica, Lumnitzera racemosa, Lumnitzera littorea, Xylocarpus granatum, dan
Xylocarpus moluccensis. Kerapatan mangrove berdasarkan nilai NDVI dibagi
menjadi 3 kelas, luas lahan mangrove jarang sebesar 0,149 Ha, mangrove sedang
0,098 Ha dan mangrove rapat 10,511 Ha. Hasil uji akurasi menggunakan
confussion matrix dari klasifikasi citra dengan survey lapang sebesar 74,46%
Tipologi dan Sebaran Life Form Karang di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Life form atau bentuk pertumbuhan karang merupakan bentukan koloni
karang yang membentuk habitat dasar ekosistem terumbu karang, disamping juga
dapat dijadikan sebagai dasar identifikasi bagi jenis karang. Life form yang
dominan di suatu habitat bergantung pada kondisi lingkungan atau habitat tempat
karang tersebut tumbuh. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tipologi dan
sebaran life form karang di Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Pengamatan life form
karang dan pengambilan data parameter lingkungan perairan dilakukan pada bulan
Mei 2016 di perairan Pulau Pari. Pengamatan life form karang dilakukan dengan
menggunakan transek garis menyinggung (Line Intercept Transect, LIT) pada tiga
kedalaman yakni kedalaman 3 meter, 7 meter dan 12 meter. Hasil pengamatan life
form karang kemudian dianalisis menggunakan analisis koresponden. Berdasarkan
tutupan karang keras hidup, ekosistem terumbu karang di perairan Pulau Pari
termasuk dalam kategori sedang hingga buruk. Life form Coral Massive, Coral
Branching, Acropora Tabulate, dan Coral Foliose menyebar merata pada masingmasing
stasiun pengamatan, sedangkan Coral Massive mendominasi pada
kedalaman 3 meter dan Coral Foliose pada kedalaman 12 meter
Preferensi Habitat Spons di Pesisir Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Marine sponges live at several habitats, such as sand, dead coral, rock and any media which has hard structure. The purposes of this study were to study sponges community structure and determine the habitat preferences of sponges’ at Pramuka Island coast, Kepulauan Seribu. This study was conducted in August to November 2014 at three sites representing each habitats; in The east of Pramuka Island for seagrass (SL1) and mangrove (SM1), Southeast (SL2 and SM2), and South (SL3 and SM3). Sponge observation and sample collection were done by 30 m belt transect method placed along the coastline with the radius of 1 m, while to calculate the density and type of seagrass and mangrove closure using quadratic transect size of 0.5 x 0.5 m2 and 5 x 5 m2. The result of this study showed that sponges had a variety of 16 species of 9 orders, 14 families, and 16 genera. Seven species of sponge was observed at seagrass habitat, while four species at mangrove and five at both habitats. Plakinastrella onkodes was the most common species observed in seagrass, Callyspongia pallida was the most common species observed in mangrove
Kompleksitas Dasar Perairan Terumbu Karang Dengan Benthic Terrain Modeler Dan In Situ Rugosity Di Pulau Kelapa Dan Harapan, Kepulauan Seribu, Jakarta
Kompleksitas dasar perairan terumbu karang yang tinggi dapat menyediakan relung
ekologi yang lebih bagi beragam makhluk hidup yang berasosiasi dengan ekosistem
tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kompleksitas dasar perairan
terumbu karang menggunakan Benthic Terrain Modeler (BTM) pada ArcGIS 10.2 dan
pengukuran in situ (rugosity dan keragaan life form) berdasarkan pembagian strata
kedalaman di Perairan Pulau Kelapa dan Harapan. Survey lapang dilakukan pada 17-21
Maret 2015 untuk mengumpulkan data dan ground check batimetri, pengamatan
terumbu karang, dan pengukuran in situ rugosity di 6, 8 dan 10 meter. Dari lima stasiun
pengamatan, kompleksitas dasar perairan tertinggi ditemukan di Timur dan Barat
berdasarkan surface to planar area BTM, sedangkan berdasarkan in situ rugosity di
Utara dan Selatan. Nilai in situ rugosity berpengaruh terhadap surface to planar area
(BTM) untuk kedalaman 8 meter. Life form terumbu yang memengaruhi kompleksitas
dasar perairan in situ adalah Dead Coral with Algae (6 meter), Hard Coral (8 meter),
dan abiotik (10 meter). Kondisi terumbu karang di Pulau Kelapa-Harapan tergolong
sedang dengan life form dominan Coral Massive, sehingga kurang mampu membentuk
dasar perairan yang kompleks walalupun hasil BTM mendefinisikan kompleksitas
secara detail pada grid 2 meter
Pemetaan Geomorfologi Terumbu Menggunakan Citra WorldView-2 di Gugusan Pulau Pari, Kepulauan Seribu.
Coral reef geomorphological mapping is one type of product resulted from the application of satellite remote sensing. Synoptic visualization from satellite enabled differentiation of geomorphological zones in an obvious and solid manner. The aim of this research was to map geomorphological reef zones in Pari Islands, using WorldView-2 imagery. Image utilized in this research was acquired in 2011, while field observation was conducted in October 2012 at 958 ground control points. WorldView-2 image was examined using supervised classification. Results showed that deep water was the largest geomorphic zone comprising of 13,690,700 m2 (53.12%). The smallest was reef crest which extended only 629,220 m2 (2,44%). Other geomorphic zones observed in Pari Islands were reef slope, deep lagoon, shallow lagoon, reef flat, and land. Overall accuracy of test obtained of 87.55% with a 0.80 coefficient kappa. The accuracy of the results is good for geomorphological mapping of Reef zones
Biomassa Dan Serapan Karbon (Carbon Sequestration) Pada Tegakan, Nekromassa Kayu Dan Substrat Mangrove Di Bulaksetra, Pangandaran
Mangrove mampu menyerap CO2 atmosfer melalui mekanisme fotosintesis, sehingga dapat berperan dalam mitigasi perubahan iklim yang hasilnya disimpan pada akar, batang, daun, serta tegakan mati (nekromasa) dan substratnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penyerapan karbon oleh mangrove Rhizophora mucronata. Pengukuran dan sampling dilakukan pada November 2014 dan Maret 2015 di Bulaksetra pada 2 plot pengamatan: dekat sungai dan dekat pantai. Metode pengukuran biomassa dan karbon tersimpan mengacu pada Hairiah dan Rahayu (2007), sedangkan analisis C-organik dengan metode Walkey and Black. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter fisik di lokasi penelitian mempengaruhi biomassa dan serap karbon mangrove. Total biomassa karbon pada tegakan, akar, nekromasa kayu dan serasah adalah 3.335 g C/m2, 334 g C/m2, 1.344 g C/m2 dan 260 g C/m2. Kandungan karbon di substrat mangrove pada kedalaman 1-30 cm, 31-70 cm dan 71-100 cm adalah 13,34 g C/m2, 3,94 g C/m2,dan 1,58 g C/m2; dengan jenis struktur sedimen lempung berpasir, pasir berlempung dan pasir. Hasil pengukuran serapan karbon di substrat mangrove sangat rendah dibandingkan dengan hasil kajian sebelumnya di lokasi lain..Hal ini diakibatkan oleh spesies mangrove yang diukur bukanlah asli tumbuh di Bulaksetra, melainkan hasil rehabilitasi yang baru berusia 7 tahun sejak penanaman
- …
