1,720,986 research outputs found
KARAKTERISASI PRODUKTIVITAS BEBERAPA VARIETAS PADI (Oryza sativa L.) PADA TIGA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat terhadap karakter pertumbuhan tanaman padi, perbedaan karakter pertumbuhan
keempat varietas tanaman padi dan interaksi antara varietas dan ketinggian tempat terhadap karakter pertumbuhan tanaman padi yang diteliti. Pada
penelitian ini, digunakan 4 varietas padi yaitu Inpari 13, Inpari 18, Sintanur dan Cibogo. Penanaman dilakukan di tiga ketinggian tempat yang berbeda
yaitu Nogosari dengan ketinggian 49 mdpl (K1), Tegal Boto dengan ketinggian 103 mdpl (K2) dan Rembangan dengan ketinggian 463 mdpl (K3).
Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 02 Desember 2013 sampai dengan 10 Maret 2014. Metode yang digunakan yaitu RAK faktorial dengan dua
faktor yaitu ketinggian dan varietas. Analisis statistik dilakukan terhadap semua data hasil pengamatan dengan menggunakan sidik ragam (uji F) pada
taraf uji 5%. Kemudian apabila terdapat pengaruh yang nyata dilanjutkan dengan uji DMRT 5%. Parameter pengamatan yang dilakukan terdiri dari (1)
Panjang malai, (2) Jumlah anakan produktif per rumpun tanaman, (3) Presentase Gabah Hampa / Malai, (4) Presentase Buah Bernas / Malai , (5) Berat
1000 butir padi , (6) Kadar air padi, (7) Berat gabah kering giling, (8) Kepadatan malai. Ketinggian tempat dan varietas padi berpengaruh nyata terhadap
karakter produktivitas, terutama pada panjang malai, jumlah anakan produktif per rumpun tanaman, berat 1000 butir padi, kepadatan malai, dan kadar
air padi. Varietas tidak berpengaruh nyata terhadap produksi. Ketinggian tempat berpengaruh nyata terhadap produksi tanaman padi, dan produksi
tertinggi yaitu pada ketinggian >200 mdpl (Rembangan)
STUDI KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN EMPAT VARIETAS PADI (Oryza sativa L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat terhadap karakter pertumbuhan tanaman padi, perbedaan karakter
pertumbuhan keempat varietas tanaman padi dan interaksi antara varietas dan ketinggian tempat terhadap karakter pertumbuhan tanaman padi
yang diteliti. Penelitian ini menggunakan empat varietas padi yaitu Inpari 13, Inpari 18, Sintanur dan Cibogo. Penanaman dilakukan di tiga
ketinggian tempat yang berbeda yaitu Nogosari dengan ketinggian 49 mdpl (K1), Tegal Boto dengan ketinggian 103 mdpl (K2) dan
Rembangan dengan ketinggian 463 mdpl (K3). Penelitian ini dilaksanakan mulai 02 Desember 2013 sampai dengan 10 Maret 2014. Metode
yang digunakan adalah RAK faktorial dengan dua faktor : ketinggian dan varietas. Interaksi antara ketinggian dan varietas hanya terjadi pada
penghitungan rasio berat kering brangkasan/diameter. Pada perlakuan ketinggian, parameter tinggi tanaman menunjukkan data yang
signifikan dan sangat signifikan ditunjukkan beberapa parameter meliputi : total anakan, sudut daun dan volume akar. Semua jenis varietas
yang digunakan memiliki karakter pertumbuhan yang hampir sama dan pertumbuhan paling baik ditanam pada ketinggian > 200 mdpl (K3)
dibandingkan dua ketinggian lainnya
PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK ABU SEKAM DAN MACAM MEDIA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak abu sekam dan media tanam bayam. Penelitian ini dilaksanakan di Green house Fakultas
Pertanian Universitas Jember Kabupaten Jember. Penelitian ini dilaksanakan mulai 11 Februari 2014 sampai 11 Maret 2014 dengan menggunakan
Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu ekstrak abu sekam dengan 4 taraf, yaitu S0 =
0 % ekstrak abu sekam, S1 = 4 % ekstrak abu sekam, S2 = 8 % ekstrak abu sekam, dan S3 = 12 % ekstrak abu sekam. Faktor kedua yaitu jenis media
tanam, yaitu; MO = tanah, M1 = pasir, dan M2 = campuran tanah dan abu sekam 50:50. Pemberian ekstrak abu sekam tidak berpengaruh nyata pada tinggi
tanaman, jumlah duan, diameter batang, berat basah, berat kering, luas daun dan jumlah trikoma kecuali diameter batang. Namun, penggunaan media tanah
berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang dan berat basah tanaman
PENGARUH KONSENTRASI DAN FREKUENSI PEMBERIAN HORMON GIBERELIN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan frekuensi pemberian hormon giberelin terhadap pertumbuhan dan hasil
buah tomat. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Agroteknopark, Universitas Jember pada 06 Maret - 10 Juni 2014. Rancangan percobaan
yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor yaitu konsentrasi giberelin yang terdiri 4 taraf (0 ppm, 50 ppm,
75 ppm, 100 ppm) dan faktor kedua adalah frekuensi giberelin yang terdiri 3 taraf (penyemprotan 7 hari sekali, 14 hari sekali, dan 21 hari
sekali). Perlakuan tersebut disusun secara faktorial dan masing-masing kombinasi diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan,
perlakuan konsentrasi dan frekuensi pemberian hormon giberelin berpengaruh signifikan terhadap jumlah daun, jumlah buah dan berat buah.
Interaksi anatara konsentrasi dan frekuensi penyemprotan hormon giberelin tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter. Respon
pertumbuhan dan hasil tanaman tomat yang paling baik terdapat pada konsentrasi giberelin 100 ppm dan frekuensi penyemprotan 21 hari
sekali
RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI TERHADAP DOSIS PUPUK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi kedelai terhadap konsentrasi ekstrak abu sekam berpelarut asap cair dan pupuk
kalium. Penelitian ini dilaksanakan di kelurahan Sumbersari, Jember, pada tanggal 25 Agustus - 25 November 2014. Rancangan percobaan menggunakan
Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor yaitu konsentrasi ekstrak abu sekam yang terdiri 5 taraf (0%; 2,5%; 5%; 7,5%; 10%) dan faktor kedua
dosis kalium yang terdiri 3 taraf (0; 0,5; dan 1,0 g/tanaman). Perlakuan tersebut disusun secara faktorial dan masing-masing kombinasi diulang tiga kali. Hasil
penelitian menunjukkan: (1) Interaksi antara konsentrasi ekstrak abu sekam dan kalium berpengaruh nyata terhadap berat brangkasan kering, jumlah polong isi
3 per tanaman, dan berat biji total per tanaman; (2) Konsentrasi ekstrak abu sekam 7,5% dan kalium 0,5 g/ tanaman merupakan kombinasi perlakuan terbaik
dalam memacu pertumbuhan dan produksi kedelai
PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK ABU SEKAM DAN PUPUK KALIUM TERHADAP
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak abu sekam dan pupuk kalium terhadap viabilitas dan daya simpan
benih kedelai. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sumbersari dan Laboratorium Teknologi Benih, Universitas Jember pada 25 Agustus
- 27 Desember 2014. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor, yaitu konsentrasi
ekstrak abu sekam yang terdiri 5 taraf (0%, 2,5%, 5%, 7,5% dan 10%) dan faktor kedua adalah dosis pupuk kalium yang terdiri 3 taraf (0,0
g/ tanaman, 0,5 g/ tanaman dan 1,0 g/ tanaman). Perlakuan tersebut disusun secara faktorial dan masing-masing kombinasi diulang tiga kali.
Hasil penelitian menunjukkan, perlakuan konsentrasi ekstrak abu sekam berpengaruh signifikan terhadap viabilitas dan daya simpan benih
kedelai, demikian pula dengan pupuk kalium berpengaruh signifikan terhadap daya kecambah dan indeks vigor kecambah. Namun, tidak
terjadi interaksi antara ekstrak abu sekam dan pupuk kalium terhadap semua parameter. Lebih lanjut, perlakuan terbaik adalah A3K1,
dengan konsentrasi ekstrak abu sekam 7,5% dan dosis pupuk kalium 0,5 g/ tanama
IbM PENGUSAHA INDUSTRI BATU BATA DI KABUPATEN JEMBER YANG MENGALAMI PERMASALAHAN LINGKUNGAN AKIBAT PEMBENTUKAN LAHAN KRITIS
Jember merupakan kota terbesar ketiga di Jawa Timur dengan tingkat pertumbuhan pembangunan yang sangat pesat. Sebagai implikasinya, untuk memenuhi kebutuhan pembangunan perumahan, pertokoan, perkantoran, prasarana umum, dan sebagainya banyak industri pendukung bertumbuhan. Salah satunya adalah industri pembuatan batu bata yang jumlahnya di Kabupaten Jember diperkirakan mencapai ribuan. Kampus Universitas Jember Tegalboto-pun pada awalnya merupakan basis industri ini karena “tegal boto” berarti lahan batu bata (Sundahri dan Hariyono, 2005). Di Kelurahan Patrang, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember misalnya, terdapat 15 industri batu bata dengan kapasitas produksi rata-rata 15.000 batu bata/bulan dengan harga Rp 250,00/batu bata. Tiga industri diantaranya yang letaknya saling berdekatan merupakan basis/pusat dalam program ini.
Industri batu bata tersebut secara umum menggunakan bahan bakar sekam padi. Satu truk sekam seharga Rp 700.000,00–Rp 1.200.000,00/truk (bergantung musim) cukup untuk membakar 15.000 batu bata yang diproduksi selama sebulan. Bahan bakar tersebut diperoleh dari limbah pabrik beras atau penggilingan padi, dan abunya dipakai untuk bahan pencampur batu bata. Fenomena ini sangat merugikan petani secara tidak langsung karena dapat menciptakan ketimpangan agroekologi tanpa adanya pengembalian limbah tersebut ke sawah. Lambat laun namun pasti, degrasi lahan dipercepat yang berakibat produktivitas lahan menjadi menurun. Menurut konsep pertanian berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, seluruh sisa panen harus dikembalikan lagi ke lahan semula dalam bentuk pupuk organik agar keseimbangan antara input dan output tetap terjaga sehingga kerusakan lingkungan (lahan kritis) dapat dikurangi.
Namun, penggunaan bahan bakar yang kaya silikon tersebut bagi pengusaha industri batu bata sangat menguntungkan karena panasnya merata, suhunya tinggi, dan mudah diperoleh. Kemudahan dalam mendapatkan bahan sekam ini disebabkan Kabupaten Jember merupakan salah satu sentra produksi padi di Indonesia dan terdapat beberapa pabrik beras besar seperti Du’Anak, Kobra dan Zebra yang menghasilkan limbah sekam ribuan ton/tahun.
Industri batu bata menghasilkan limbah abu sekam berkisar 20% dari bahan sekam. Sebagian kecil limbah tersebut dipakai untuk mencuci piring, dan sebagian besar sebagai pencampur bahan batu bata agar tidak mudah pecah dalam proses pembakaran. Jika permintaan meningkat, kapasitas produksi ditingkatkan, limbah abu sekam yang dihasilkan menjadi berlimpah. Apabila terbawa aliran air hujan maka limbah tersebut dapat mendorong tumbuh suburnya enceng gondok (eutrofikasi) di perairan sebagai akibat tingginya nutrisi yang dikandungnya
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
