1,720,969 research outputs found

    Konseling perkawinan Dan Keluarga

    No full text

    Konseling perkawinan dan Keluarga

    No full text

    SURVAI FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT PENULISAN SKRIPSI MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

    Full text link
    Pendahuluan: Tujuan pemberdayaan mahasiswa bermacam-macam, salah satu di antaranya adalah menjadikan mereka terampil dan bertanggung jawab dalam menulis karya tulis ilmiah. Terampil berarti dapat mengimplemtasikan ilmu tentang penelitian dan penulisan karya tulis ilmiah secara berinisiatif dan kreatif, dinamis dan ulet, mengendalikan diri dari dalam (internal locus of control), dan percaya diri dalam mengatasi masalahnya terkait dengan masalah yang dihadapi dalam penulisan karya tulis ilmiah. Bertanggung jawab artinya mereka selalu meninjau masalah dari segi kelemahan diri sendiri. Untuk itu mereka mesti mengenali kelemahan-kelemahan diri sendiri, kelemahan yang diduga menjadi penyebab terjadinya masalah yang sedang dialami. Mereka semestinya bersedia dan berupaya mengoreksi kelemahan sendiri, menerima konsekuensi, dan memperoleh kepuasan atas keputusun-keputusan yang dibuat dalam usaha mengoreksi kelemahan diri tersebut. Penulisan karya tulis ilmiah pada umumnya, khususnya penulisan skripsi merupakan salah satu ciri pokok kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi. Karya tulis ilmiah adalah karya dalam bentuk tertulis atau bentuk lainnya yang telah diakui dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi atau seni yang ditulis atau dikerjakan sesuai dengan tata cara ilmiah, dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan secara formal. Melalui pembuatan karya tulis ilmiah, anggota masyarakat akademik pada suatu perguruan tinggi dapat mengomunikasikan informasi baru, gagasan, kajian, dan/atau hasil penelitiannya. Salah satu bentuk karya tulis ilmiah di perguruan tinggi adalah skripsi yang ditulis oleh mahasiswa program Sarjana (S1) pada akhir studinya. Skripsi merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan program studi mahasiswa S1, yang dapat ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan, hasil kajian pustaka, atau hasil penelitian & pengembangan (projek). Skripsi hasil penelitian lapangan adalah jenis penelitian yang berorientasi kepada pengumpulan data empiris di lapangan, baik penelitian berbentuk kuantitatif, kualitatif, maupun kuantilatif (Ali, M. & Asrori, M. 2014). Penelitian kuantitatif adalah suatu penelitian yang pada dasamya menggunakan pendekatan deduktif-induktrf. Pendekatan ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, ataupun pemahaman peneliti berdasarkan pengalamannya, kemudian dikembangkan menjadi permasalahan-permasalahan beserta pemecahan-pemecahannya yang diajukan untuk memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di lapangan (Creswell, 2010). Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistik-kontekstual melalui pengumpulan data dari Iatar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan indukti (Moleong, 2001). Proses dan makna (perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Sedangkan penelitian kuantilatif adalah gabungan antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif (Tashakkori, 2010). Idealnya setiap mahasiswa mestinya terampil dalam menulis karya tulis ilmiah, khususnya skripsi. Kenyataannya cukup banyak mahasiswa yang gagal mengatasi masalahnya. Kegagalan tersebut terjadi oleh karena mereka tidak mampu mengenali kelemahan-kelemahan diri sendiri dan cenderung mengeksternalisasikan masalah yang dihadapinya (Mahmud, 2005). Dalam penelitian ini, yang menjadi fokus permasalahan adalah masalah akademik, yaitu penyelesaian studi mahasiswa, khususnya penulisan karya tulis ilmiah. Pemilihan fokus ini didasarkan pada hasil pengamatan selaku pengajar, di lapangan ditemukan gejala-gejala yang menunjukkan sebagian mahasiswa Jurusan PPB-FIP-UNM yang “terseok-seok” dalam penulisan skripsi. Selain permasalahan-permasalahan tersebut, permasalahan lain yang dapat menghambat penyelesaian studi mahasiswa adalah ketidakmampuan menulis karya ilmiah, terutama dalam menulis skripsi. Survai Litbang Koran Sindo terhadap 100 mahasiswa dan SMA di lima kota besar yang berbeda menunjukkan bahwa 50% dari mereka setuju skripsi tidak diwajibkan sebagai prasyarat kelulusan (Koran Sindo, Minggu 14 Juni 2015). Lebih Jauh diberitakan bahwa ada tujuh alasan utama yang diajukan para responden mengapa mereka setuju skripsi menjadi hal yang tidak wajib, yaitu: agar tidak ribet atau menghambat kelulusan, skripsi tidak menjadi tolok ukur atau jaminan kredibilitas, skripsi bisa diganti dengan pengabdian masyarakat seperti KKN, tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan meneliti, tidak sebanding dengan proses pembelajaran (Koran Sindo, Minggu 14Juni 2015). Sebaliknya dari pihak yang tidak setuju jika tidak menulis skripsi berpendapat bahwa: tidak ada ilmiah atau tidak punya bentuk apresiasi terhadap mahasiswa, membantu penulisan akademis, tidak ada standar kelulusan atau kualifikasi kelulusan, menjadi wadah penilaian atau sudah menjadi peraturan akademik, dan agar ada beda antara mahasiswa dan siswa SMA, sebagai pembuktian ilmu (Koran Sindo, Minggu 14 Juni 2015). Berdasarkan survei awal di Fakultas Ilmu Pendidikan pada tanggal 3 Juni 2016, dan wawancara langsung dengan dosen pembimbing, hasil pengamatan dan wawancara diperoleh keterangan bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami kesulitan dalam menyusun/menulis karya tulis ilmiah dalam hal ini skripsi. Di samping itu, ditemukan juga kebanyakan dari mahasiswa gagal menguasai keterampilan yang diperlukan untuk mengidentifikasi permasalahan, sehingga mereka langsung mencurahkan pikiran dan perhatian pada jawaban pemecahan akhir, tanpa melihat terlebih dahulu situasi permasalahan yang akan dipecahkannya (Mahmud, 1995). Mahasiswa yang gagal mengidentifikasi masalah akan mengalami kesulitan dalam memulai penelitian dan pada akhirnya bisa berkembang menjadi manusia yang gagal dalam studinya, dan pada akhirnya bisa berkembang menjadi mahasiswa yang berperilaku menyimpang (Soerjabrata, 1982). Dari hasil survai awal dengan menggunakan teknik Focus Group Discussion bersama dengan enam orang mahasiswa prodi BK yang sedang dalam proses penyelesaian skripsinya ditemukan bahwa masalah-masalah umum yang dialami mahasiswa, khususnya mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling dalam penulisan skripsi adalah “kurang percaya diri, tidak punya target, dosen lambat memberi balikan, kurang terampil berkomunikasi, ide dan prosedur monoton, pemantauan Dosen Pembimbing dari Jurusan tidak ada, Pemantauan mahasiswa dari Dosen Pembimbing kurang serius hanya sekedar menyalahkan dan menyuruh memperbaiki tanpa memberi arahan yang operasional di lapangan” (Focus Group Discussion, Kamis 10 Juni 2016) Jika fenomena ketidakterampilan mahasiswa menulis skripsi tidak ditangani dengan baik, dikhawatirkan akan menghambat penyelesaian studi mahasiswa, bahkan bisa menyebabkan mereka drop-out dari perkuliahan. Untuk itu, diperlukan upaya penelusuran faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penyelesaian skripsi mahasiswa. Penelusuran ini dibutuhkan untuk mendapatkan data awal, sebagai landasan untuk melakukan upaya bimbingan dan konseling terhadap mahasiswa, sekaitan dengan visi dan misi keberadaan UPT Layanan Konseling dan Psikologi Mahasiswa (LKPM) UNM. Paparan fenomena di atas masih sangat prematur untuk dijadikan landasan kerja bagi UPT LKPM untuk memberikan layanan yang berdaya guna dan berhasil guna kepada mahasiswa UNM. Oleh karena itu, penulis mencoba mengkajinya melalui penelitian yang berjudul “Survai Faktor-Faktor Penghambat Penulisan Skripsi pada Mahasiswa Universitas Negeri Makassar

    KRISIS BUDAYA DAN JATI DIRI DALAM PEMDIDIKAN YANG MENG-INDONESIA

    Full text link
    Abstrak: Krisis budaya dan jati diri (Krisdayanty) bangsa dalam pendidikan Indonesia terjadi karena pendidikan tidak berakar dari budaya bangsa Indonesia. Selain itu, konsep pendidikan yang ada tidak memiliki pijakan yang kuat dan telah direduksi maknanya hanya untuk sekadar menyiapkan peserta didik untuk mendaoatkan pekerja. Untuk menggapai pendidikan yang mengindonesia pembangunan jati diri bangsa merupakan prioritas utama dan harus memberi ruang pada kearifan lokal sebagai landasan utama untuk eksis di dunia global

    IMPLEMENTASI MODEL POLA ASUH ORANGTUA UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK

    Full text link
    Abstract: This study aimed at examining the implementation of Parenting Model to enhance children’s self-reliance/autonomy (PAO-MKA Model), for junior high school students. PAO-MKA Model is developed by Sunarty (2014) and has been tested both for its palidity. The purpose of the study was to find out the effectiveness of PAO-MKA Model to improve children’s self-reliance. This study used quantitative approachwhit pre-experimental study. The model used one group of pretest design. The experiment was conducted at SMPN 8Makassar. The research subject was divided into two groups, a group of parent were used to exmine how they implement the PAO-MKA Model. The group of children were required to measure the level of children’s self-reliance. The data were analyzed using t-test or mean difference test. The results of the study showed that there was a positive and significant difference on children’s self-reliance before and after the implementation of PAO-MKA Model and could be conluded that the PAO-MKA Model is effective to improve children’s self-reliance

    MENGENAL TEKNIK-TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING

    Full text link
    Syukur Alhamdulillah, kamus kecil ini akhirnya berhasil diselesaikan penyusunannya. Kamus ini lahir dari sebuah motivasi utama untuk lebih meningkatkan pemahaman kami terhadap teknik-teknik bimbingan dan konseling, Motivasi lainnya adalah untuk lebih menyosialisasikan teknik-teknik bimbingan dan konseling kepada mahasiswa kependidikan, khususnya mahasiswa bimbingan dan konseling, guru pembimbing di sekolah, dan warga masyarakat pemerhati bimbingan dan konseling pada umumnya. Dari motivasi tersebut, kami berusaha mencatat setiap istilah-istilah teknis yang ditanyakan mahasiswa, baik dalam perkuliahan maupun dalam pembimbingan skripsi dan tesis. Atas dorongan berbagai pihak, terutama rekan-rekan seprofesi, mahasiswa program studi bimbingan dan konseling (S1) FIP-UNM, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bimbingan dan Konseling (S2) Program Pascasarjana UNM, catatan-catatan tersebut kami olah, dan melahirkan kamus ini. Dalam penyusunan kamus ini banyak pihak yang turut memberi bantuan. Mereka banyak memberi dorongan, masukan, pertimbangan, dan koreksi, mulai dari pengumpulan entry hingga terwujudkan kamus ini. Tanpa dorongan dan bantuan mereka, kamus ini mungkin tidak akan pernah terwujud. Untuk itu, kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih. Penghargaan dan ucapan terima kasih juga kami tujukan pada Badan Penerbit UNM yang telah bersedia mengedit dan menerbitkan kamus ini. Sebagai suatu karya awal, sulit dihindari terdapatnya keterbatasan dan kelemahan dalam kamus ini. Oleh karena itu, , segala kritik dan saran untuk penyempurnaan kamus ini, Kami terima dengan senang hati

    KONSELING PERKAWINAN DAN KELUARGA

    Full text link
    Pendahuluan: Setiap aktivitas manusia yang dilakukan secara sistematis pastilah didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang bersifat rasional. Begitu juga dengan aktivitas Guru Bimbingan dan Konseling (Guru BK) atau Konselor Sekolah dalam memberikan layanan konseling terhadap siswa dan orangtuanya, yang terkait dengan persoalan-persoalan perkawinan dan keluarga. Sekaitan dengan itu, terdapat beberapa pertanyaan yang sering dikemukakan oleh para mahasiswa dalam proses perkuliahan dan para praktisi konseling di lapangan, khususnya praktisi konseling dalam setting pendidikan. Pertanyaan-pertanyaan itu meliputi: Apakah arti konseling perkawinan dan keluarga? Mengapakah Guru BK/Konselor di sekolah perlu mempelajari konseling perkawinan dan keluarga? Bukankah Guru BK/Konselor di sekolah tugasnya hanya dalam setting sekolah saja? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, berikut ini dipaparkan uraian tentang rasional konseling perkawinan dan keluarga; konseling perkawinan dan keluarga dalam latar sekolah, reorientasi peran Guru BK/Konselor, penanda perlu-tidaknya konseling perkawinan dan keluarga
    corecore