1,720,966 research outputs found
Situs Candi Buddha Kalibukbuk dalam khasanah peradaban Bali
Buku ini memaparkan mengenai keberadaan situs Candi Buddha Kalibukbuk di Kabupaten Buleleng, merupakan aset budaya yang harus dikelola dengan baik dan benar, karena memiliki potensi yang sangat penting dalam bidang pembangunan idiologi, bidang akademik yaitu pendidikan dan pengenalan sejarah budaya bidang ekonomi sebagai Objek Daerah Tujuan Wisata (ODTW) dan membangkitkan ekonomi kreatif dan lainnya
Jejak peradaban Islam di Situs Dorobata, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat
Proses Islamisasi di Dompu dimulai sejak keruntuhan Kerajaan Majapahit. Data arkeologi
menunjukan para pedagang yang berasal dari Kerajaan Gowa, Makassar telah menyebarkan
Islam melalui jalur perdagangan. Bukti-bukti penyebaran Islam di Dompu dapat dilihat dari
makam-makam kuno yang tersebar di wilayah Nusa Tenggara Barat. Makam ini menjadi artefak
yang sangat penting untuk mengetahui proses dan pengaruh Islam pada masa awal penyebarannya.
Beberapa artefak yang merujuk ke arah itu ditemukan di Situs Dorobata. Pengumpulan data
menggunakan metode ekskavasi, survei, dan wawancara dengan analisis deskriptif-kualitatif,
serta ditunjang dengan analisis morfologi dan komparatif. Artefak yang ditemukan adalah nisan
dan jirat kubur yang merupakan bukti adanya penguburan di Dorobata. Ragam hias nisan ini
dipengaruhi budaya Bugis Makassar yang dipadukan dengan budaya sebelumnya
JEJAK PERADABAN ISLAM DI SITUS DOROBATA, KABUPATEN DOMPU, NUSA TENGGARA BARAT
The process of Islamisation in Dompu was started since the collapse of Majapahit Kingdom. Archaeological data showed that traders coming from the Kingdom of Gowa, Makassar had spread Islam through trade channels. Evidences of the spread of Islam in Dompu can be seen from the ancient tombs, scattered in the region of West Nusa Tenggara. Those tombs are very important artefacts in order to know the process and the influence of Islam in the early spread. Some of the artifacts refering to the influence of Islam are found in Dorobata Site. The data were collected through excavation method, survey, and interviews with descriptive-qualitative analysis, supported by morphological and comparative analysis. The finds of this research are gravestones and sepulcher which is the evidence of burial in Dorobata. The decoration of the gravestone influenced by Bugis-Makassar culture, combined with the previous culture. Proses Islamisasi di Dompu dimulai sejak keruntuhan Kerajaan Majapahit. Data arkeologi menunjukan para pedagang yang berasal dari Kerajaan Gowa, Makassar telah menyebarkan Islam melalui jalur perdagangan. Bukti-bukti penyebaran Islam di Dompu dapat dilihat dari makam-makam kuno yang tersebar di wilayah Nusa Tenggara Barat. Makam ini menjadi artefak yang sangat penting untuk mengetahui proses dan pengaruh Islam pada masa awal penyebarannya. Beberapa artefak yang merujuk ke arah itu ditemukan di Situs Dorobata. Pengumpulan data menggunakan metode ekskavasi, survei, dan wawancara dengan analisis deskriptif-kualitatif, serta ditunjang dengan analisis morfologi dan komparatif. Artefak yang ditemukan adalah nisan dan jirat kubur yang merupakan bukti adanya penguburan di Dorobata. Ragam hias nisan ini dipengaruhi budaya Bugis Makassar yang dipadukan dengan budaya sebelumnya
MAKNA RELIEF BIMA SWARGA DI PURA DALEM PENUNGGEKAN, KABUPATEN BANGLI, BERDASARKAN SUMBER TEKSTUAL
Indonesia has various cultural products. One of the cultural products is relief carved on the walls of some temple and pura (shrine). Unfortunately, up to present time, the archaeologists tend to study relief carved on giant cultural objects such as Borobudur, Prambanan, Mendut and other giant temples. This study discusses about the origin and the symbolic meaning of the relief as cultural products located at Pura Dalem Penunggekan, Bangli Regency. This study uses the simbolic approach. The data were collected by using the method of observation, translation, interview and study of literature. This study shows that the origin of the relief has a closed relation to text element as the source of the relief. The simbolic meaning of the relief is faithfulness and karma. Indonesia memiliki produk kebudayaan yang beragam. Salah satu produk kebudayaan itu adalah relief yang terdapat di berbagai bangunan candi dan tempat ibadah (pura). Selama ini ada ketimpangan dalam studi, ahli purbakala yang cenderung mempelajari dan meneliti relief yang terpahat di berbagai candi, seperti candi Borobudur, candi Prambanan, candi Mendut, dan candi-candi besar lainnya. Tulisan ini akan membicarakan asal-asul dan makna simbolik relief sebagai produk kebudayaan yang ada di Pura Dalem Penunggekan, Kabupaten Bangli, menggunakan pendekatan simbolik dengan metode observasi, transliterasi, wawancara, dan studi pustaka. Penelitian ini memperlihatkan bahwa asal-usul relief berkaitan erat dengan unsur teks yang menjadi sumber dari relief, sedangkan makna simbolik yang terdapat dalam relief adalah kesetiaan dan hukum karma
PETIRTHAAN KUNO DI BANJAR BUNYUH, DESA PEREAN
Water is an important element in life, both for daily activities as well as for religious interests. Therefore an ancient building called Petirthaan has a very important role for the life of community. Petirthaan is real evidence that people had protected nature and the environment by establishing Petirthaan to perform worship of water and preserving the environment. The purpose of this study was to determine the function and the efforts to conserve Petirtaan Bunyuh, by using descriptive qualitative method. The results of the analysis prove that Petirthaan Bunyuh serves as a place to cleanse objects considered sacred by the communities who support them, as a source of water for agriculture, and for daily purposes. Petirtaan Bunyuh preservation efforts carried out by the people themselves who consider Petirthaan as sacred building which has magical significance, so that they take a part in preserving it.Air merupakan unsur penting dalam kehidupan, baik untuk kegiatan sehari-hari maupun untuk kepentingan religius. Oleh karena itu sebuah bangunan kuno yang disebut dengan Petirthaan mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Bangunan Petirthaan merupakan bukti nyata bahwa masyarakat dahulu telah melakukan proteksi terhadap alam dan lingkungannya dengan cara mendirikan Petirthaan untuk melakukan pemujaan terhadap air dan menjaga kelestarian lingkungannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi dan upaya pelestraian petirtaan Bunyuh, dengan menggunakan metode deskriftif kualitatif. Hasil analisis membuktikan bahwa Petirthaan Bunyuh berfungsi sebagai tempat permandian suci untuk menyucikan benda-benda yang dianggap keramat oleh masyarakat penyungsungnya, sebagai sumber air untuk kegiatan pertanian, dan untuk keperluan sehari-hari. Upaya pelestarian petirtaan Bunyuh dilakukan oleh masyarakat sendiri yang menganggap Petirthaan sebagai bangunan suci yang mempunyai makna magis, sehingga mereka ikut melestarikannya
Arca bercorak siwaistik di kota Denpasar, Bali
Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi sejarah kebudayaan, dan menggambarkan proses perubahan budaya manusia masa lampau, serta memberikan sumbangan data mengenai sejarah perkembangan seni arca, khususnya yang bercorak Siwaistis, di Kota Denpasar. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi kepustakaan, serta dianalisis menggunakan analisis kualitatif dan ikonografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arca bercorak Siwaistis di Kota Denpasar tersebar pada sepuluh tempat suci. Jenis arca bercorak Siwaistis yang ditemukan adalah arca Dewi Durga, arca Ganesha, lingga-yoni, lingga, yoni, arca pendeta, dan arca Nandi. Sampai saat ini, arca-arca tersebut masih difungsikan dan dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan, sekaligus sebagai media untuk menghubungkan diri kepada Tuhan Yang Maha Es
Makna Sapatha pada Prasasti Sukawana
Kontrol sosial yang sangat lemah pada masa lalu menyebabkan raja mengeluarkan sapatha yang dicantumkan dalam sebuah prasasti. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam sapatha dan unsur-unsur yang mempengaruhinya. Dengan demikian pemahaman terhadap sapatha akan diketahui secara menyeluruh dan dapat memberikan pengertian terhadap masyarakat, khususnya masyarakat yang mewarisinya. Tahap pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan dan pembacaan langsung, serta studi kepustakaan terhadap berbagai literatur yang berkaitan dengan penelitian prasasti di wilayah Kintamani. Tahap analisis data dilakukan berdasarkan teknik analisis prasasti dengan tahapan seperti identifikasi sumber melalui alih aksara dan alih bahasa. Tahap penafsiran data dilakukan dengan memaparkan isi secara umum kelompok Prasasti yang memuat tentang sapatha, dan disajikan secara deskriptifkualitatif. Kelompok Prasasti Sukawana yang memuat tentang sapatha adalah prasasti Sukawana AII yang dikeluarkan oleh raja Anak Wungsu berangka tahun 976 Saka atau 1054 dan prasasti Sukawana D yang dikeluarkan oleh Raja Patih Kebo Parud. Sapatha merupakan sebuah kontrol sosial yang mengandung beberapa makna seperti makna kekuasaan, religi, dan hukum. Semua makna tersebut menunjukkan besarnya dominasi kekuasaan dalam bebagai kepentingan
Seri buku pengayaan rumah peradabaan: mengenal tinggalan budaya Badung tempo dulu
Rumah Peradaban dilakukan di Badung untuk memperkenalkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Balai Arkeologi Bali di wilayah Kabupaten Badung. Penelitian arkeologi yang dilakukan di wilayah ini cukup banyak dan bahkan ada yang dilakukan secara simultan seperti Situs Pura Gelang Agung. Melalui program buku pengayaan ini diharapkan hasil-hasil penelitian tersebut tidak hanya dapat dimaknai di lingkungan akademisi, namun juga oleh masyarakat luas. Semboyan Rumah Peradaban yang berbunyi “Mengungkap, Memaknai, Mencintai ” perlu diterapkan pada tinggalan-tinggalan budaya yang ada di Kabupaten Badung. Proses tersebut tentunya sulit dicapai tanpa perkenalan terlebih dahulu. Oleh karena itu, marilah kita mengenal tinggalan budaya yang ada di Kabupaten Badung untuk lebih mencintai dan melestarikannya
- …
