1,721,002 research outputs found

    Self-compassion dan well-being orangtua

    Full text link
    Pandemi COVID-19 membuat banyak perubahan pada kondisi keluarga. Keluarga mengalami dampak baik secara langsung maupun tidak langsung dari pandemi ini, seperti adanya kasus positif COVID-19 dalam keluarga, orangtua kehilangan pekerjaan, kondisi finansial dalam keluarga memburuk, dan pembatasan kegiatan keluar rumah yang dapat menyebabkan timbulnya stres dan berkurangnya well-being (Prime et al., 2020). Di Indonesia, kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengurangi penularan COVID-19 menyebabkan dialihkannya kegiatan pembelajaran di sekolah ke rumah (school from home). Hal yang sama juga berlaku bagi kegiatan kerja khususnya dalam bidang non esensial yang mengharuskan orangtua bekerja dari rumah (work from home; Gitiyarko, 2021). Akses internet menjadi hal yang penting karena banyak kegiatan belajar dan kegiatan kerja yang dijalankan secara daring. Situasi ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi orangtua karena selain harus beradaptasi dengan situasi kerja yang baru, orangtua juga harus mendampingi dan mengawasi anak pada saat mereka bersekolah secara daring dan beraktivitas di rumah

    Pengetahuan Mengenai Penanganan Penyakit Diabetes dengan Kepatuhan Melaksanakan Diet Diabetes pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2

    Full text link
    Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit yang terjadi akibat berkurangnya produksi hormon insulin yang berfungsi mengubah gula menjadi tenaga. Pola makan mempengaruhi stabilitas kesehatan penderita DM tipe 2 (DM2). Berdasarkan hal ini, diet diabetes merupakan salah satu upaya untuk mencegah dan mengatasi terjadinya DM. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terlaksana tidaknya diet diabetes adalah pengetahuan individu terhadap penanganan penyakit yang dialaminya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara pengetahuan mengenai penanganan penyakit diabetes dengan kepatuhan melaksanakan diet diabetes. Partisipan penelitian adalah 30 orang penderita DM2 dengan rentang usia dewasa hingga lanjut usia (lansia) yang masih aktif beraktivitas dan tinggal di Surabaya. Teknik pengambilan sampel adalah snowball sampling dan alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Hasil analisis dengan Kendall’s tau b mendapatkan koefisien korelasi sebesar 0,125 dengan p = 0,388 (p > 0,05), sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan mengenai penanganan penyakit diabetes dengan kepatuhan melaksanakan diet diabetes. Tingkat kepatuhan dalam menjalankan diet diabetes pada sebagian partisipan tergolong buruk (53,33%), sedangkan tingkat pengetahuan terhadap penyakit diabetes cenderung menyebar pada kategori rendah (36,67%), sedang (23,33%), dan tinggi (26,67%). Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengatasi kelemahan penelitian ini seperti jumlah sampel yang terbatas dan memperhitungkan faktor lain yang dapat mempengaruhi kepatuhan melaksanakan diet diabetes berdasarkan teori Health Belief Model

    Strength-Based Parenting and Well-Being in Adolescence [Strength-Based Parenting dan Kesejahteraan Remaja]

    Full text link
    Adolescents’ well-being deserves attention as it promotes adolescents’ general health. Parenting is a factor that may influence adolescents’ well-being. Unfortunately, some parents provide only limited support to their adolescents and show ineffective parenting. Strength-based parenting (SBP) is a parenting style where parents seek to deliberately identify and develop positive conditions, processes, and qualities in their children. Research conducted in Western culture showed that strength-based parenting (SBP) was associated with adolescents’ subjective well-being, particularly life satisfaction. This present study extends the past research by involving adolescent sample from Eastern culture (Indonesia) and including the measure that combines both subjective and psychological well-being. Particularly, this study examined if strength-based parenting (SBP; strength knowledge and strength use) predicted adolescent well-being. Participants were 191 high school students in Surabaya (15-18 years old). Participants completed the Pemberton Happiness Index (PHI) and Strength-Based Parenting Scale (SBPS). Results showed that both strength knowledge and strength use were positively related to adolescent well-being. This indicates that parents’ recognition and encouragement to use adolescents’ strengths has helped adolescents to understand their own potentials and therefore, generate positive feelings and meaningful experiences. Thus, strength-based parenting (SBP) does not only benefit adolescents from Western culture, but also adolescents from Eastern culture (Indonesia).   Kesejahteraan remaja perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan kesehatan remaja secara umum. Pengasuhan orangtua merupakan salah satu faktor yang mungkin mempengaruhi kesejahteraan remaja. Namun, sebagian orangtua memberikan dukungan yang terbatas kepada anak remajanya dan menerapkan pengasuhan yang kurang efektif. Strength-based parenting (SBP) merupakan gaya pengasuhan dimana orangtua secara sengaja mengidentifikasi dan mengembangkan kondisi, proses, dan kualitas positif anak. Riset yang dilakukan dalam budaya Barat menunjukkan bahwa strength-based parenting (SBP) berkorelasi dengan kesejahteraan subjektif remaja, khususnya kepuasan hidup. Penelitian ini memperluas penelitian sebelumnya dengan melibatkan sampel remaja dari budaya Timur (Indonesia) dan menggunakan alat ukur yang menggabungkan kesejahteraan subjektif dan psikologis. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah strength-based parenting (SBP; strength knowledge dan strength use) dapat memprediksi kesejahteraan remaja. Penelitian ini melibatkan 191 orang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Surabaya (15-18 tahun). Partisipan mengisi Pemberton Happiness Index (PHI) dan Strength-Based Parenting Scale (SBPS). Hasilnya menunjukkan bahwa strength knowledge dan strength use berhubungan positif dengan kesejahteraan remaja. Hal ini menandakan bahwa pengetahuan orangtua tentang kekuatan remaja dan dorongan orangtua agar remaja menggunakannya dapat membantu remaja memahami potensi-potensinya dan karena itu, menumbuhkan perasaan positif dan pengalaman yang bermakna. Dengan demikian, strength-based parenting (SBP) tidak hanya bermanfaat bagi remaja dalam budaya Barat, tetapi juga remaja dari budaya Timur (Indonesia)
    corecore