1,721,128 research outputs found

    Pengaruh Masa Kosong (Days Open) terhadap Indikator Kesuburan Ternak Perah di BBPT-HPT Baturraden

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui masa kosong terhadap indikator kesuburan yaiu sifat reproduksi (umur beranak pertama, selang beranak dan service per conception) dan sifat produksi (masa laktasi, produksi susu harian, dan masa kering) sapi FH di BBPTU-HPT Baturraden untuk mendapatkan cara pemeliharaan yang lebih efisien. Total sapi FH yang digunakan adalah 60 ekor selama empat periode laktasi. Data pengamatan masa kosong dan indikator kesuburan (sifat reproduksi dan sifat produksi) diolah kedalam analisis deskriptif menggunakan MINITAB 17®. Hasil rataan masa kosong diuji korelasinya dengan rataan pada indikator kesuburan. Hubungan korelasi tersebut menggambarkan nyata atau tidak antara masa kosong dan indikator kesuburan (sifat reproduksi dan sifat produksi). Masa kosong pada ternak sapi perah FH di BBPT-HPT Baturraden memiliki pengaruh yang nyata dengan S/C, selang beranak, dan masa laktasi pada nilai korelasinya. Masa kosong tidak memiliki pengaruh nyata dengan umur beranak pertama, produksi susu harian dan masa kering, namun pengaruh yang nyata dengan masa laktasi akan berdampak pada produksi susu harian yang menurun dan meningkatnya masa kering

    Blood Protein Polymorphism Analysis in Jonggol Sheep by Using PAGE (Polyacrilamide Gel Electrophoresis) Techniques

    No full text
    The purpose of this research is to know blood protein polymorphism of Jonggol sheep using Polyacrilamide Gel Electrophoresis (PAGE) procedure. Samples were conducted on July 2010 at Animal Genetic and Moleculler Laboratory, Department of Animal Production and Science Technology, Faculty of Animal Husbandry, Bogor Agricultural University. Individual variation can be identified genetically by studying plasma protein polymorphism. The plasma used in this research was collected from local sheep of Jonggol. There are five kinds of plasma protein which were studied in this research. There are Albumin (Alb), Post albumin (Pa), Transferrin (Tf), Post transferrin-1 (Ptf-1) and Post transferrin-2 (Ptf-2). The metode used in this research is polyacrilamide gel electrophoresis (PAGE). Transferrin protein reveals polymorphism. Two allels were identified. Albumin, Post albumin, Post transferrin-1 and Post transferrin-2 proteins were monomorph.Sejumlah perbedaan-perbedaan yang diatur secara genetik telah diketemukan dalam globulin, albumin dan enzim-enzim darah serta hemoglobin. Perbedaanperbedaan tersebut dapat diketahui dengan menggunakan prosedur biokemis, terutama elektroforesis. Polimorfisme darah diatur secara genetis oleh pasangan alel. Polimorfisme protein merupakan ekspresi dari gen dapat dideteksi dengan teknik elektroforesis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui polimorfisme protein darah domba lokal Jonggol menggunakan metode Polyacrilamide Gel Electrophoresis (PAGE). Penelitian ini dilakukan selama sebulan yang dilaksanakan di Laboratorium Genetika Molekuler Ternak, Bagian Pemuliaan dan Genetika Ternak, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Total sampel plasma yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 84 sampel yang berasal dari populasi domba Jonggol. Analisis data yang digunakan adalah frekuensi alel, nilai heterozigositas dan rataan heterozigisitas. Hasil penelitian diperoleh Albumin (Alb) dengan alel A, Post albumin (Pa) dengan alel S, Transferrin (Tf) dengan alel A, B dan C, Post transferrin-1 (Ptf-1) dengan alel A dan Post transferrin-2 (Ptf-2) dengan alel A. Metode yang digunakan adalah metode elektroforesis gel poliakrilamida (PAGE). Protein Transferrin bersifat polimorfik ditandai dengan adanya dua variasi jumlah pita. Protein Albumin, Post albumin, Post transferrin-1 dan Post transferrin-2 bersifat monomorfik. Berdasarkan frekuensi alel lokus Transferrin menunjukkan angka keragaman yang rendah, dengan angka ĥ = 0,0700, sedangkan pada Albumin, Post albumin, Post transferrin-1 dan Post transferrin-2 ditemukan angka homozigositas maksimum dengan heterozigositas ĥ = 0. Hasil analisis polimorfisme lima lokus yang ada pada domba jonggol didapatkan angka rata-rata heterozigositas sebesar Ĥ = 0,0140

    Produktivitas Ayam Persilangan Pelung Sentul Kampung Ras Pedaging (PSKM) G3 pada Umur 12 Minggu sampai Produksi Telur.

    No full text
    Produktivitas meliputi pengukuran morfometrik dan performa produksi serta reproduksi. Peubah yang diamati pada morfometrik yaitu panjang paruh, leher, punggung, metatarsus, lingkar metatarsus, panjang shank, lingkar shank, panjang femur, tibia, dada, lebar dada, dalam dada, lingkar dada, panjang sayap, dan rentang sayap. Peubah yang diamati untuk performa produksi terdiri atas bobot badan umur 12-22 minggu, bobot badan pertama bertelur, umur pertama bertelur, bobot telur pertama, bobot telur tetas, indeks telur pertama, lebar jarak tulang pubis, bobot DOC dan hen-day production, sedangkan peubah yang diamati untuk performa reproduksi terdiri atas fertilitas, daya tetas, dan mortalitas embrio telur. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa morfometrik ayam PSKM G3 lebih baik dari ayam kampung. Laju pertumbuhan morfometrik ayam PSKM G3 umur 12-22 minggu cenderung menurun seiring bertambahnya umur. Performa produksi ayam PSKM G3 yaitu bobot badan umur 12-22 minggu lebih baik dari PSKM G1. Berat telur tetas dan indeks telur pertama tidak berbeda signifikan dengan PSKM G1 dan G2. Bobot pertama bertelur, hen-day dan bobot telur pertama lebih baik dari PSKM G2, sedangkan umur pertama bertelur, bobot DOC dan reproduksi (fertilitas, daya tetas, dan mortalitas) lebih baik dari PSKM G1. Lebar tulang pubis PSKM G3 memiliki rataan 3.46 cm. Secara keseluruhan performa produksi dan reproduksi ayam PSKM G3 lebih baik dari ayam kampung

    Identifikasi Keragaman Gen ATP Binding Cassette (ABCG2|PstI) pada Sapi Friesian Holstein dengan Metode PCR-RFLP

    No full text
    ATP Binding Cassette (ABCG2) has effects on milk production and composition. Reseptor which is encoded by the ABCG2 gene on alveoli epitel of mammary gland will bind its specific substrates, such as riboflavin, that are actively secreted, so milk will be rich of riboflavin. This study was aimed to identify the ABCG2 gene polymorphism in Holstein Friesian (HF) by Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP) method. This study used HF cattle by 224 heads from seven locations (BBIB Singasari, BIB Lembang, BPPTU Baturaden, BET Cipelang, BPPT-SP Cikole, KPSBU Pasir Kemis, and Cilumber). Data were analyzed for genotype frequency, allele frequency, and PIC value. Genotyping analysis resulted two alleles, namely A allele (292 bp) and C allele (268 bp, 24 bp); that resulted three genotypes, namely AA, AC, and CC. Analysis of genotype frequency resulted that AA homozygous was very highest (0.964) vs AC heterozygous (0.031) and CC homozygous (0.004); with allele frequency (A = 0.98; C = 0.02). PIC value ranged 0.000-0.189. This study concluded that ABCG2|PstI were polimorphic in 2 tested populations, the exception of monomorphic was in BBIB Singasari and BET Cipelang

    Studi Karakteristik Sifat Kualitatif pada Domba Lokal di Beberapa Wilayah Indonesia.

    No full text
    Sheep in Indonesia are Javanese thin-tailed sheep, Priangan of West Java sheep and Javanese fat-tailed sheep. Qualitative trait variations are high among local sheep and spread in some Indonesian regions. The objected of this research was to get qualitative traits of local sheep in some Indonesian regions which can be as characteristic of local sheep. The research used secondary data of RUT experiment by was done from 2004 up to 2007 in Ciomas, Cinagara, Margawati (Garut), Indramayu, Madura Island (Pamekasan, Sumenep, Bangkalan and Sampang), Sumbawa Island (NTB), Rote Island (NTT), Donggala (Central Sulawesi), and Kisar Island (Maluku). The number of observation sheep were 768 heads. Qualitative traits which observed were facial lines, positions of pinna, shapes of pinna, horned traits, shapes of tail, shapes of wool, wool colors and color patterns of wool. The experimental design used in this research were ralative frequency (descriptive analysis). Sheep from Ciomas, Cinagara, and Margawati have characteristic as Priangan of West Java sheep and Javanese thin-tailed sheep. Sheep from Indramayu, Sumbawa and Donggala have characteristic as Javanese fat-tailed sheep and Priangan of West Java sheep. Sheep from Madura has characteristic as Javanese fattailed sheep. Sheep from Rote has characteristic as Javanese fat-tailed sheep and Javanese thin-tailed sheep. Sheep from Kisar has characteristic as Javanese thintailed sheep, Priangan of West Java sheep and Javanese fat-tailed sheepIndonesia memiliki tiga jenis domba lokal, yaitu domba Ekor Tipis (Javanese thin-tailed), domba Priangan (Priangan of West Java) dan domba Ekor Gemuk (Javanese fat-tailed). Variasi sifat kualitatif tinggi diantara domba lokal dan tersebar di beberapa wilayah Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik sifat kualitatif domba lokal di beberapa wilayah Indonesia yang dapat dijadikan sebagai ciri spesifik domba lokal

    Performa Pertumbuhan Hasil Persilangan Ayam Lokal dengan Ayam Ras Pedaging (G2) Umur 0 sampai 12 Minggu

    No full text
    Peningkatan mutu genetik ayam lokal dapat ditingkatkan dengan melakukan persilangan antara jenis ayam ras pedaging dengan ayam lokal untuk meningkatkan laju pertumbuhan ayam lokal. Persilangan yang dilakukan yaitu ayam tipe pedaging dengan ayam lokal antara lain pelung, kampung, sentul yang menghasilkan ayam PSKB (pelung-sentul-kampung-ras pedaging) dan PSBK (pelung-sentul-ras pedaging-kampung). Tujuan penelitian ini adalah mengkaji performa pertumbuhan ayam hasil silangan (G2) tersebut. Variabel yang diukur adalah bobot badan dan pertambahannya, konsumsi pakan, konversi pakan dan mortalitas. Rancangan acak kelompok (RAK) digunakan untuk membandingkan bobot badan dan hasil pengukuran pertumbuhan ayam tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot, konsumsi pakan dan konversi pakan PSKB dan PSBK tidak berbeda. Ayam PSKB dan PSBK sudah dapat mencapai bobot potong 1.2- 1.7 kg pada usia 12 minggu. Persilangan ayam kampung dengan ayam ras pedaging dapat meningkatkan kualitas genetik ayam kampung

    Identifikasi Keragaman Gen Pituitary-Spesific Positive Transcription Factor 1 (Pit1|StuI) Exon 3 pada Sapi FH dengan Metode PCR-RFLP

    No full text
    Pituitary-Specific Positive Transcription Factor 1 (Pit1, POUIF1 or GHF1) gene is a member of the tissue-specific POU-containing transcription factor family. The expression of Pit1 in mammalian pituitary gland is to control the transcription of the genes encoding growth hormone, prolactin (PRL) and the subunits of thyroid-stimulating hormone. This study was aimed to identify polymorphism of the pituitary specific positive transcription factor 1 (Pit1) exon 3 gene in Holstein Friesian (HF) cattle. Total number of samples were 286 heads from BIB Lembang (14), BBIB Singosari (25), BPPT-SP Cikole (81), KPSBU Pasir Kemis (93), and KPSBU Cilumber (73) using PCR-RFLP method by StuI restriction enzyme. Genotyping the Pit1 exon 3 gene resulted in two alleles, namely A and C , with three genotypes, namely AA, AC, and CC. The average frequency of the C allele followed by HF cattle in five places was higher (0,916) than the A allele (0,084). CC genotype had the highest average frequency (0,874) than the AC genotype (0,084) and the AA genotype (0,042). Chi-Square analysis showed that HF from BBIB Singosari were in Hardy-Weinberg (HW) equilibrium (2 2(0,05)) and HF in BIB Lembang and KPSBU Cilumber could not be calculated equilibrium HW. The average values of heterozigosity observation (Ho) for HF studied were under the values of heterozigosity expectation (He), therefore the genetic variation of the Pit1|StuI exon 3 gene was low in these cattles

    Fertility Of Arab Chicken Egg Which Resulted From Artificial Insemination With Diffrent Frequency Of Semen Collection

    No full text
    Successful mating can produce fertile hatching eggs that may rapidly increase the population of Arab chicken. Information about the fertility and hatchability of Arab chicken eggs has not been widely known. Fertility of Arab chicken eggs can be enhanced through artificial mating (artificial insemination). This study aimed to determine the effect of semen collection frequency through the method of artificial insemination (AI) on fertility and hatchability of Arab chicken eggs. The Completely Randomized Design (CRD) was applied with three semen collection frequencies as treatments which were once, twice, and three times a week. Each treatment consisted of 10 Arab hens with two repetitions. Analysis of variance showed that the duration of fertility is significantly (P0.05) on the fertility, hatchability and embryo mortality of eggs, as well as viability of DOC.Ayam Arab yang ada di Indonesia sekarang adalah ayam Arab hasil kawin silang dengan ayam lokal yang menghasilkan produksi telur lebih tinggi dibandingkan dengan ayam lokal lainnya. Ayam Arab yang berkembang di Indonesia ada dua jenis, yaitu ayam Arab Silver dan ayam Arab Merah (Golden Red), tetapi yang lebih dikenal di masyarakat adalah ayam Arab Silver. Peningkatan perkembangbiakan ayam Arab memerlukan suatu cara yang efektif untuk meningkatkan populasinya. Percepatan perkembangan usaha ayam Arab dapat dipacu melalui terobosan teknologi inseminasi buatan (IB). Informasi mengenai fertilitas dan daya tetas telur ayam Arab belum banyak diketahui. Fertilitas telur dipengaruhi oleh kualitas sperma dan intensitas pemerahan atau penampungan semen. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian mengenai tingkat frekuensi penampungan semen yang paling optimal. Penelitian ini menggunakan 30 ekor ayam Arab betina berumur 33 minggu yang sedang bertelur dan 9 ekor ayam Arab jantan dewasa yang dipelihara dalam kandang individu. Ayam jantan sebanyak 9 ekor dipelihara selama 9 minggu untuk diambil semennya. Perlakuan pada ayam jantan yaitu frekuensi penampungan semen satu kali (A), dua kali (B), dan tiga kali (C) dalam seminggu. Ayam jantan dikelompokan ke dalam tiga kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari tiga ekor untuk satu perlakuan. Ayam betina sebanyak 30 ekor dibagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 10 ekor betina untuk satu perlakuan. Ayam betina dipelihara selama 7 minggu. Semen dari setiap kelompok perlakuan pejantan diinseminasikan kepada 10 ekor betina. Pengumpulan telur dilakukan setiap hari dan telur diberi tanda berupa tanggal dan kode induk. Telur tetas dibersihkan dan difumigasi sebelum siinkubasi ke dalam mesin penetas (inkubator). Peubah yang diamati adalah durasi fertilitas, daya fertil, mortalitas embrio, daya tetas, dan viabilitas DOC. Hasil penelitian menunjukan bahwa frekuensi penampungan semen sangat berpengaruh (P0,05) terhadap daya fertil, mortalitas embrio, daya tetas, dan viabilita

    Identifikasi keragaman gen β-Kasein (CSN2) pada kambing peranakan etawah, saanen dan persilangannya dengan metode PCR-SSCP

    Full text link
    Casein genetic polymorphisms are important and well known due to their effects on quantitative traits and properties of milk. β-kasein gene is directly related to the quality and properties of milk. A protocol for the rapid and simultaneous genotyping of β-kasein alleles was conducted by single strand conformational polymorphism polymerase chain reaction (SSCP-PCR) method in goat. Screening β-kasein gene variability in 3 dairy goat breeds was conducted for Etawah Grade (77 samples), Saanen (67 samples) and PESA (Crossbreed Etawah Grade with Saanen) (29 samples) in Bogor and Sukabumi. The objective of this research was to identify polymorphism of the β-kasein (CSN2) gene in dairy goat. This research found three alleles of the β-casein gene, ie CSN2*A, CSN2*C, dan CSN2*O. In most breeds, CSN2*O occurred in the lowest frequency. The identification of the CSN2 gene variability in the goat breeds indicated the highly of the A allele. The CSN2*A allele had a high frequency in Saanen in Cijeruk (0,66); Etawah Grade in Cariu (0,62); and PESA in Cariu (0,54). While the CSN2*C allele had a high frequency in PESA in Balitnak (0,83); Etawah Grade in Ciapus (0,48); and Saanen in Taurus (0.38). Based on the results of chi-square analysis, found that Saanen in Cariu and Taurus were not in Hardy-Weinberg equilibrium

    Perbandingan Ukuran-Ukuran Bagian Tubuh Lebah Pekerja Apis dorsata (Lebah Hutan) pada Empat Lokasi

    No full text
    Apis dorsata bee is Indonesia local bee, and generaly can be found in the forest. Until now A. dorsata bee has not been cultured like A. mellifera dan A. cerana. A. dorsata, a honey producing bee, has larger body size than A. florea and A. cerana. Limited information about the producing honey bee, especially A. dorsata, in this study it is to be compare the body sizes of A. dorsata worker bees. The data used in this study the results of measuring were the size of body parts of A. dorsata worker bees, those from; North Luwu, Tesso Nilo National Park, Sumbawa, and The Lake Sentarum National Park. The number of worker bees A. dorsata used in this study were 400 samples (100 samples from each location). The eight body variables based on Ruttner et al. (1988), which the length of proboscis (X1), the length of the front wing (X2), the width of the front wing (X3), the width of abdomen (X4), the length of hind leg femur (X5), the length of hind leg tibia (X6), the length of hind leg metatarsus (X7), and the width of hind leg metatarsus (X8), and those eight variables by descriptive statistical analysis and independent 2-sample t-test. Some differences in size of the body parts of worker bees A. dorsata among those from North Luwu, Tesso Nilo, Sumbawa and The Lake Sentarum are seen in the length of proboscis (X1), the length of the front wing (X2), the width of the front wing (X3) and the length of hind leg femur (X5)
    corecore