1,721,115 research outputs found
Alternatif Solusi Konflik Separatisme dalam Cerita “Calon Arang”
Penelitian ini bertujuan memaparkan (a) cerita Calon Arang sebagai mitos otonomi, (b) konteks historis cerita Calon Arang, (c) tradisi otonomi “Duplang Kamal-Pandak” zaman kerajaan, dan (d) implikasi cerita Calon Arang bagi solusi konflik separatisme pada abad modern. Penelitian dilaksanakan dengan menerapkan pendekatan sastra lisan. Sasaran penelitian ini adalah konsep otonomi dalam cerita “Calon Arang” dan relevansinya dengan situs sejarah Rajegwesi-Blambangan kuno di Lawang Seketheng dan situs “Duplang Kamal-Pandak” di Arjasa Jember. Data penelitian ini dikumpulkan dengan metode (a) dokumentasi, (b) observasi, dan (c) wawancara bebas-mendalam. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode heuristik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat “Calon Arang” merupakan mitos ilmu pengetahuan tentang cara mengatasi konflik separatisme di Jawa pada zaman dahulu. Situs Duplang di Arjasa Jember merupakan bukti solusi konflik yang terjadi pada zaman pemerintahan raja Airlangga dengan otonomi daerah. Pengetahuan tentang otonomi dalam cerita Calon Arang relevan untuk dipertimbangkan sebagai solusi alternatif dalam menyelesaikan konflik separatisme.
Kata-Kata Kunci: separatisme, otonomi, cerita “Calon Arang”
Abstract: This study aims to explain (a) Calon Arang as a myth of autonomy, (b) the historical con-text of Calon Arang, (c) the tradition of “Duplang Kamal-Pandak autonomy, and (d) the implica-tions of Calon Arang as a solution to overcome separatist conflict in the modern age. This research was conducted by applying the oral literature approach. The target of this research is the concept of autonomy in the story of "Calon Arang" and its relevance to the historical sites of Rajegwesi in Lawang Seketheng and "Duplang Kamal-Pandak" in Arjasa Jember. The data were collected by (a) documentation, (b) observation, and (c) in-depth interviews. Data analysis was performed using heuristic methods. The results showed that “Calon Arang folklore” is a scientific myth on how to solve the separatist conflict in Java. “Duplang Kamal-Pandak”in Arjasa Jember is a proof how to solve conflict that occurred during King Airlangga era using regional autonomy approach. Auto-nomy approach in “Calon Arang” is relevant to be considered as a solution in solving the separatist conflict.
Key Words: separatism, autonomy, story of "Calon Arang
Mitos di Lereng Gunung Penanggungan di Jawa Ttimur : Kajian Etnografi
Mitos adalah cerita yang bersifat simbolik dan suci yang mengisahkan serangkaian cerita nyata atau imajiner. Gunung Penanggungan adalah gunung yang memiliki ketinggian 1653 meter dari permukaan laut yang terletak di kabupaten Mojokerto dan berada pada satu kluster dengan gunung Arjuno dan Welirang. Gunung Penanggungan memiliki mitos mitos yang berkembang dimasyarakat baik itu di lereng barat, selatan, timur dan utara, dari berkembangnya mitos di lereng Gunung Penanggungan terdapat nilai budaya yang meliputi nilai religius, nilai kepribadian dan nilai sosial yang berada di masyarakat. Semua nilai-nilai memberikan pemahaman tentang hidup masyarakat lereng Gunung Penanggungan. Fungsi mitos meliputi proyeksi pencerminan, pengontrol norma-norma dan alat pendidikan. Adapun rumusan masalah didalamnya adalah bagaimanakah mitos di lereng Gunung Penanggungan dan ritual upacara apa sajakah yang berhubungan mitos di lereng Gunung Penanggungan?; nilai budya bagaimanakah yang terdapat dalam mitos masyarakat lereng Gunung Penanggungan?; bagaimanakah fungsi mitos bagi masyarakat setempat?. Penelitian ini dilakukan deskriptif dengan rancangan kualitatif. Hasil penelitian ini adanya wujud mitos Gunung Penanggungan meskipun masyarakat mempunyai perbedaan pendapat tetapi mereka sama-sama menganggap bahwa Gunung Penanggungan itu gunung suci atau gunng ang diberkahi oleh masyarakat yang tinggal di lerengnya. Dari adanya tempat-tempat yang disakralkan sehingga menimbulkan ritual-ritual atau upacara yang dilakukan oleh masyarakat. Mitos yang berada di lereng Gunung Penanggungan memiliki fungsi yaitu sebagai alat pengontrol norma-norma tradisi yang ditunjukkan oleh masyarakatnya dengan membaca mantar sebelum kehutan dan sebagai alat pendidikan yang dijelaskan bahwa kita sebagai manusia harus memnghormati yang lebih tua
Nilai Pendidikan Karakter dalam Mitos Gunung Tumpang Pitu dan Pemanfaatannya sebagai Alternatif Materi Ajar Sastra di SMA
Pendidikan dan kebudayaan dapat berjalan beriringan. Pendidkan bersifat reflektif terhadap kebudayaan yakni mencerminkan nilai-nilai kebudayaan yang berlaku sekarang atau pada saat tertentu. Salah satu cara pewarisan nilai-nilai budaya secara lisan dalam masyarakat disebut dengan tradisi lisan atau folklor. Folklor dapat berkembang diantaranya dalam bentuk mitos dan cerita rakyat. Mitos yang berkembang di Kecamatan Pesanggaran diduga terdapat nilai pendidikan yang kemudian dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran apresiasi sastra di SMA berbasis pendidikan karakter. Tujuan dalam penelitian ini ialah mendeskripsikan bentuk kesastraan mitos, nilai pendidikan karakter, fungsi mitos, pemanfaatan cerita mitos Gunung Tumpang Pitu Desa Sumberagung Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi sebagai bahan ajar apresiasi sastra di SMA. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ditemukan bentuk kesastraan mitos Gunung Tumpang Pitu berupa sastra lisan. Nilai pendidikan karakter yang ditemukan dalam mitos Gunung Tumpang Pitu adalah percaya terhadap keberadaan Tuhan dengan cara memiliki agama yang Esa, jujur dengan cara tidak mengambil benda yang bukan hak milik, patuh terhadap nasihat leluhur dengan tidak mendahului takdir, percaya diri dengan cara mengingat bahwa tuhan selalu berada pada hati setiap manusia, pantang menyerah unutk mewujudkan keinginan dalam usaha menyejahterakan rakyat, dan rasa ingin tahu dengan cara bertapa untuk memeroleh petunjuk Tuhan, tanggung jawab dalam menjaga Gunung Tumpang Pitu dengan menanam tumbuh-tumbuhan, melestarikan lingkungan dengan menanam tumbuhan yang bermanfaat, dan upaya menjaga kekayaan bangsa dan negara dari tangan penjajah. Cerita mitos Gunung Tumpang Pitu oleh masyarakat dimaknai sebagai sarana meningkatkan pemahaman manusia terhadap keberadaan Tuhan yang tercermin dalam tujuh sifat dasar manusia, mitos memberi rasa aman kepada manusia karena Gunung Tumpang Pitu sebagai benteng dari laut selatan tidak dapat dijamah sembarangan, dan sebagai sarana pendidikan untuk generasi muda terhadap hakikat kehidupan manusia serta kesadaran melestarikan alam
Tembang Gandrung Terop Banyuwangi (Kajian Etnografi)
Abstrak
Tembang Gandrung Terop Banyuwangi merupakan nyanyian rakyat yang dibawakan pada pertunjukan kesenian Gandrung Terop Banyuwangi. Sebagai nyanyian rakyat, tembang Gandrung Terop Banyuwangi merupakan khazanah tradisi lisan yang sarat akan nilai budaya dan pesan moral. Untuk memahami isi dan makna tembang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah wujud tembang, nilai budaya, dan fungsi tembang terhadap kehidupan masyarakat Using. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan kualitatif etnografi. Data pada penelitian ini adalah 20 syair tembang yang dinyanyikan dalam pertunjukan kesenian Gandrung Terop. Sumber data berasal dari informan, dokumentasi tertulis penelitian sebelumnya dan dokumentasi non tulis. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dokumentasi, wawancara, pengamatan, serta teknik transkripsi dan terjemahan. Untuk analisis data, yaitu: pereduksian data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wujud tembang Gandrung Terop Banyuwangi dapat diketahui dari 3 pengelompokan menurut babak pertunjukan, jejer, paju, dan seblang-seblang. Pada babak paju, tembang dikelompokkan lagi menurut bentuk tembang, lingkungan asal tembang, dan masa penciptaan. Nilai budaya yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu (1) nilai budaya dalam hubungan manusia dengan Tuhan (terwujud dalam keyakinan / iman kepada Tuhan), (2) nilai budaya dalam hubungan manusia dengan manusia lain (terwujud dalam sikap cinta tanah air, kebijaksanaan, dan bertanggung jawab), (3) nilai budaya dalam hubungan manusia dengan diri sendiri (terwujud dalam sikap berani). Fungsi tembang Gandrung Terop Banyuwangi yang ditemukan (1) sebagai media komunikasi masyarakat Using, (2) sebagai pembangkit semangat, (3) sebagai alat pendidikan, (4) sebagai pengontrol norma, dan (5) sebagai sarana rekreatif
Nilai-nilai Moral dalam Kumpulan Cerpen “Anjing Bagus” Karya Harris Effendi Thahar
Kumpulan cerpen “Anjing Bagus” adalah sebuah buku yang di dalamnya memuat beberapa judul cerpen. Tiap-tiap cerpen menyoroti fenomena yang terjadi di masyarakat. Fenomena tersebut sarat dengan nilai moral. Nilai moral yang terkandung dalam tiap-tiap judul cerpen digambarkan melalui tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Untuk memahami nilai-nilai moral yang terkandung di tiap-tiap cerpen, diperlukan sebuah teori. Teori yang digunakan adalah teori nilai moral Koentjaraningrat yang terdiri atas 4 nilai moral, yaitu nilai moral berkenaan dengan hubungan manusia dengan diri sendiri, nilai moral berkenaan dengan hubungan manusia dengan manusia lain, nilai moral berkenaan dengan hubungan manusia dengan alam, dan nilai moral berkenaan dengan hubungan manusia dengan Tuhan. Berdasakan dugaan sementara yang ditemukan, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah nilai moral berkenaan dengan hubungan manusia dengan diri sendiri, nilai moral berkenaan dengan hubungan manusia dengan manusia lain, nilai moral berkenaan dengan hubungan manusia dengan alam, dan nilai moral berkenaan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, pemanfaaatan sebagai bahan materi pelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan kualitatif kritik pragmatik dengan pendekatan moral. Data pada penelitian ini berupa tulisan, baik yang berbentuk kata-kata, kalimat-kalimat, maupun paragraf yang berkenaan dengan nilai-nilai moral sesuai dengan rumusan masalah. Teknik pengumpulan data dengan cara dokumentasi. Analisis dilakukan dalam 4 tahap, yakni pembacaan, pendeskripsian, penafsiran, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat nilai moral sesuai dengan rumusan masalah, yaitu, (1) Tanggung jawab terhadap diri sendiri, (2) Cinta terhadap diri sendiri, (3) kejujuran , (4) tanggung terhadap antarsesama dalam lingkup keluarga dan tanggung jawab antarsesama, (5) cinta terhadap sesama, (6) keadilan, (7) memanfaatkan alam, (8) menjaga alam, (9) kepercayaan terhadap Tuhan, (10) tanggung jawab terhadap perintah Tuhan. Pemanfaatan sebagai materi pelajaran Bahasa Indonesia di SMA terdapat pada Standar Kompetensi 6 yaitu membahas cerita pendek melalui kegiatan diskusi, Kompetensi Dasar 6.2 yaitu menemukan nilai-nilai cerita pendek melalui kegiatan diskusi
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
