1,721,794 research outputs found

    Transisi demografi penduduk Jawa Timur/ Sudarti

    No full text
    xiii, 61 hal.; tab.; 28 c

    PENGARUH MODEL KOOPERATIF TIPE NHT DENGAN METODE EKSPERIMEN TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS X

    No full text
    Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen bertujuan untuk mengkaji pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dengan metode eksperimen terhadap keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dalam pembelajaran fisika pada materi suhu dan kalor di MAN 1 Jember kelas X. Penelitian ini menggunakan 2 kelompok yaitu kelompok eksperimen yang menggunakan model kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dengan metode eksperimen dan kelompok kontrol yang menggunakan model direct instruction. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata berpikir tingkat tinggi siswa kelas ekperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol, yaitu 59.70 pada kelas kontrol dan 48.42 pada kelas eksperimen. Kemudian dianalisis menggunakan uji-t dengan Independent Sample T-Test diperoleh nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0.000 atau nilai Sig. < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis nihil () ditolak dan hipotesis alternatif () diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model kooperatif tipe Numbered Heads Together dengan metode eksperimen berpengaruh terhadap keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa pada pembelajaran fisika di MAN 1 Jember kelas X

    Heterogenitas Kemampuan Belajar Siswa sebagai Dasar Pengembangan Model Pembelajaran Leader-TRACE

    No full text
    Kemampuan siswa yang tidak homogen dalam kelas adalah salah satu permasalahan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menggambarkan tingkat heterogenitas kemampuan siswa di kelas sehingga membutuhkan pengembangan model pembelajaran baru yang dapat lebih fokus untuk meminimalkannya. Data heterogenitas kemampuan siswa dikumpulkan menggunakan kuesioner dan wawancara pada Mei 2015, yang terdiri dari 10 guru dan 20 siswa dari beberapa sekolah menengah di Jember. Sebagai hasil, para guru menjelaskan bahwa sebagian besar sekolah memiliki kemampuan belajar perbedaan siswa secara signifikan, sehingga pemahaman siswa tidak merata. Sebagian besar siswa mengatakan bahwa model pembelajaran oleh guru dirasa membosankan dan kurang memotivasi untuk belajar. Mereka juga lebih memilih untuk belajar di kelompok daripada individu karena mereka dapat berbagi pendapat jika mengalami kesulitan dalam belajar. Oleh karena itu, perlu pengembangan model pembelajaran baru yang dikemas dalam Leader-TRACE (Training, Action, Evaluation), yakni model pembelajaran dengan sintaks yang lebih fokus untuk meningkatkan pemahaman siswa dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengembangan model pembelajaran Leader-TRACE (Training, Action, Evaluation) yang didasari oleh heterogenitas kemampuan siswa di kelas sangat diperlukan

    Analisis Intensitas Medan Magnet Elf (Extremely Low Frequency) Dan Medan Listrik Game Center Di Jember

    No full text
    Anak-anak tak lagi memilih untuk bermain di lapangan. Banyak anak yang lebih memilih bermain diruko yang menyediakan PS (play station), warnet (warung internet) atau bermain di game center yang ada di mall. Tempat tersebut jarang sekali sepi pengunjung. Bahkan ada yang rela untuk sampai menunggu berjam jam hanya untuk memaikan permainan yang ada di game center yang ada di mall. Mulai dari anak kecil, remaja bahkan orang dewasa sering menggunjungi game center yang biasaya ada di mall baik untuk bermain atau menemani anakanak mereka untuk bermain. Dari hasil wawancara yang telah di lakukan ada sekitar 20 pengunjung tiap harinya bahkan pada saat hari libur tempat tesebut bisa mencapai 30-50 pengunjung. Karena terlalu asik dalam memainkan permainana tersebut hingga berjam –jam mereka tidak sadar mereka telah terpapar oleh radiasi medan magnet dan medan listrik. Mesin tersebut membutuhkan tegangan yang cukup tinggi untuk penggunaan di setiap mesinnya sehingga dapat dipastikan di sana akan terpancar medan magnet dan medan listrik. Badan kesehatan world health Organization (WHO) merekomendasikan bahwa nilai ambang batas paparan medan listrik dan medan magnet 50/60 Hz adalah 5kV/M dan 100 μT untuk kelompok umum, 10kV/M dan 500 μT untuk kelompok pekerja (WHO,1990). Menurut Tribuana (2000) ambang batas paparannya adalah sebesar 0,5 mT, sehingga jika melebihi ambang batas tersebut dapat diperkirakan memberikan pengaruh tefek biologis terhadap organisme yang ada di sekitar radiasi. Menurut hasil dari penelitian oleh Budijianto dan Sudarti (1999/2000

    ANALISIS MEDAN MAGNET ELF DI SEKITAR SALURAN UDARA TEGANGAN EKSTRA TINGGI (SUTET) 500 KV DI KABUPATEN PASURUAN

    No full text
    Dewasa ini dengan meningkatnya kebutuhan industri dan masyarakat akan tenaga listrik, Maka PLN mengembangkan pembangunan sarana kelistrikan di indonesia antara lain dengan dibangunnya Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) (Didik dan Sudarti, 2000:212). Secara alamiah manusia telah terpapar medan listrik dan medan magnet, mengingat bumi itu sendiri merupakan sumber medan listrik dan medan magnet. Paparan tersebut semakin meningkat seiring dengan peningkatan pemakaian peralatan bertenaga listrik dalam kehidupan. Salah satu sumber paparan medan listrik dan medan magnet di lingkungan adalah jaringan transmisi energi listrik baik saluran udara tegangan tinggi (SUTT) maupun saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) (Sudarti, 2013:47). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis medan magnet SUTET-500 kV di Kabupaten Pasuruan dibandingkan dengan medan magnet alamiah, menganalisis medan magnet SUTET-500 kV pada jarak lateral, Serta menganalisis medan magnet SUTET-500 kV sekitar tower. Penelitian dilaksanakan dalam tiga hari dengan adanya variasi jam pada ketiga hari tersebut. Pengukuran pertama dilakukan pada hari Sabtu tanggal 27 Januari 2018 pukul 05.00 WIB, 09.00 WIB, 12.00 WIB, 15.00 WIB dan 19.00 WIB. Sedangkan pengukuran kedua dilakukan pada hari Senin tanggal 26 Maret 2018 pukul 05.00 WIB, 09.00 WIB, 12.00 WIB, 15.00 WIB dan 19.00 WIB. Serta hari ketiga pada hari Selasa tanggal 27 Maret 2018. Dari hasil pengukuran yang telah di lakukan di daerah kontrol yang jauh dengan sumber medan magnet buatan menunjukkan adanya peningkatan besarnya medan magnet Extremely Low Frequency (ELF) dibandingan dengan pengukuran di sekitar Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV dengan mengukur tiap waktu yang berbeda secara berulang-ulang. Menurut World Health Organization (WHO) dan International Radiation Protection Association (IRPA) bahwa batas ambang aman paparan medan magnet yang di perbolehkan keberadaannya tidak mempengaruhi organisme maupun efek biologis untuk umum yaitu 0,5 mT (mili tesla). Penyebab dari menurunnya besarnya medan magnet di peroleh dari semakin jauhnya titik pengukuran dengan titik sumber medan magnet yaitu Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV dan perbedaan waktu pengukuran yang menjadikan besarnya medan magnet berbeda-beda. Apabila dibandingkan medan magnet jarak lateral Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV dengan medan magnet alamiah maka terdapat perbedaan yang signifikan. Dapat dilihat dari grafik bahwa besarnya medan magnet yang diukur menunjukkan nilai yang tinggi pada titik pengukuran tepat di bawah SUTET-500 kV dengan waktu 19.00 WIB, Pada pengukuran sekitar tower terlihat bahwa pada posisi utara dan posisi selatan dari tower rata-rata besarnya medan magnet, Bahwa semakin jauh jarak dengan tower maka akan semakin kecil nilai rata-rata besarnya medan magnet, Akan tetapi pada posisi barat tower dan timur tower nilai rata-rata besarnya medan magnet apabila semakin jauh jaraknya maka nilai besarnya medan magnet mengalami peningkatan, karena pada posisi barat dan timur tower letak peneliti tepat di bawah kawat penghantar, pada posisi ini kawat penghantar mengalami pemuaian yang menyebabkan andongan semakin kendor ke bawah sehingga jarak alat ukur dengan kawat penghantar semakin dekat maka akan mengasilkan nilai medan magnet yang bertambah besar sampai titik maksimal di tengah-tengah di antara 2 tower SUTET-500 kV namun hal tersebut masih di bawah ambang batas rekomendasi dari WHO dan IRPA yaitu dengan radiasi sebesar 0,5 mili Tesla (mT

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore