1,721,101 research outputs found

    Sekolah Lapang pengendalian Hama Terpadu tidak menciptakan ketergantungan, tetapi harus mampu mendorong semakin tercipta kreativitas dan kemandirian

    No full text
    Sekolah Lapang pengendalian Hama Terpadu tidak menciptakan ketergantungan, tetapi harus mampu mendorong semakin tercipta kreativitas dan kemandirian masyarakat agar semakin memiliki kemampuan untuk berswakarsa, swadaya, swadana dan swakelola bagi terselenggaranya kegiatan-kegiatan guna tercapai tujuan, harapan, dan keinginan-keinginan masyarakat sasarannya. SLPHT mendidik 25 orang petani selama 12 kali pertemuan dengan padi sebagai komoditas utama mereka. Program SLPHT memberikan kontribusi yang cukup yang besar dalam upaya meningkatkan pembangunan pertanian yang tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan hasil produksi tetapi juga terhadap perubahan tingkat penerapan teknologi pertanian petani dalam berusaha tani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat penerapan teknologi pertanian setelah petani mengikuti Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) padi dalam mengelola usahatani padi di Kabupaten Jember,(2) hubungan antara tingkat penerapan teknologi pertanian dengan Produktivitas padi. (3) perbedaan pendapatan petani sebelum mengikuti SLPHT dan sesudah petani mengikuti Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) padi di Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan beberapa metode, yaitu Deskriptif, komparatif serta korelasional dengan penentuan daerah menggunakan purposive method. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode Total Sampling. Alat analisis yang, analisis korelasi pearson, dan analisis uji beda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Tingkat penerapan teknologi petani dalam kegiatan usahatani padi termasuk dalam kategori tinggi, (2) Terdapat hubungan antara tingkat penerapan teknologi petani SLPHT padi dengan produktivitas padi, (3) Terdapat perbedaan pendapatan usahatani padi petani sebelum mengikuti program SLPHT padi dengan petani sesudah mengikuti program SLPHT padi

    TINGKAT MOTIVASI DAN ANALISIS KEBERLANJUTAN PETAMBAK UDANG

    Full text link
    Perikanan merupakan salah satu sektor pertanian yang mengusahakan komoditas perikanan sebagai salah satu hasil produksinya. Perikanan dikenal dengan dua macam yaitu perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Perikanan budidaya merupakan contoh sektor perikanan yang dijadikan sumber penghidupan bagi masyarakat. Kabupaten Sidoarjo memiliki banyak usaha perikanan budidaya. Komoditas perikanan yang dibudidayakan antara lain ikan nila, mujair, bandeng, udang windu, dan udang vanname dikarenakan wilayah Sidoarjo yang berbatasan langsung dengan laut Jawa. Kabupaten Sidoarjo mengalami permasalahan yang diakibatkan adanya bencana lumpur panas. Bencana lumpur panas ini mengakibatkan perubahan kondisi lingkungan di daerah sekitar semburan lumpur panas tersebut. Desa Penatarsewu Kecamatan Tanggulangin merupakan daerah yang mengalami dampak dari semburan lumpur panas tersebut. Dampak yang diterima yaitu masuknya aliran lumpur panas kedalam afvour kali aloh yang merupakan sumber dari pengairan tambak di daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat motivasi petambak udang setelah adanya fenomena lumpur panas; (2) mengetahui kondisi tambak udang vanname setelah terkena dampak lumpur panas; (3) mengetahui keberlanjutan usaha tambak udang dilihat dari segi ekonomi dan sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik. Metode pengumpulan data yang digunakan menggunakan wawancara dan studi pustaka. Analisis yang digunakan merupakan analisis skorring dan Rapfish. Hasil penelitian menunjukkan (1) Tingkat motivasi petambak dalam mengusahakan tambak udang di Desa Penatarsewu setelah adanya fenomena semburan lumpur panas berada pada tingkat tinggi dengan persentase 51%; (2) Kondisi lahan tambak setelah terkena dampak lumpur panas dibedakan beradsarkan kondisi fisik tambak, aroma/bau air, komoditas yang diusahakan, budidaya, waktu (lama) usaha, dan sumber air; (3) Kondisi keberlanjutan dari usaha tambak udang di Desa Penatarsewu pasca semburan lumpur panas dari dimensi ekonomi adalah cukup berkelanjutan dengan nilai indeks keberlanjutan sebesar 59,07 dan pada dimensi sosial adalah cukup berkelanjutan dengan nilai indeks keberlanjutan sebesar 65,5

    FAKTOR-FAKTOR YANG MENDASARI PENGAMBILAN KEPUTUSAN PETANI

    No full text
    Tanaman kubis merupakan salah satu tanaman hortikultura yang sangat prospektif untuk dikembangkan di Indonesia. Salah satu daerah yang menjadi sentra tanaman kubis di Jawa Timur adalah Kabupaten Bondowoso. Kegiatan usahatani kubis di Kabupaten Bondowoso tersebar di beberapa daerah salah satunya adalah Desa Sumber Gading. Banyak petani yang melakukan kegiatan usahatani di Desa Sumber Gading. Petani tertarik melakukan kegiatan usahatani kubis karena beranggapan dapat meningkatkan pendapatan petani. Namun petani dalam melakukan usahatani kubis terdapat beberapa permasalahan. Permasalahan yang dihadapi oleh sebagian besar petani kubis di Desa Sumber Gading adanya hama dan penyakit, kurangnya informasi mengenai harga jual, adanya ketidakpastian dengan harga dan dari segi permodalan berkaitan dengan adanya kekurangan modal petani untuk melakukan usahatani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, analitik. Alat analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, R/C ratio, pendapatan dan FFA (Force Field Analysis). Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) faktor-faktor yang paling dominan mendasari pengambilan keputusan petani berusahatani kubis adalah pendapatan tinggi dan kesesuaian geografis. (2) nilai R/C ratio sebesar 1,99; hal tersebut menunjukkan bahwa usahatani kubis telah efisien. (3) pendapatan petani kubis sebesar Rp.9.308.748,162; hal tersebut menunjukkan bahwa usahatani kubis menguntungkan. (4) Strategi pengembangan usahatani kubis di Desa Sumber Gading yang dapat diimplementasikan yaitu dengan cara membentuk lembaga keuangan pada kelompok tani yang dapat membantu petani dengan memberikan pinjaman yang tidak memberatkan petani saat melakukan pinjaman dengan suku bunga yang rendah. Selain itu memberikan pembinaan, pelatihan, pendampingan kepada petani oleh dinas pertanian, lembaga penelitian secara intensif berkaitan teknik budidaya dan memberikan informasi adanya teknologi pertanian serta membantu dalam penerapan adanya teknologi baru, serta menghidupkan kembali kelembagaan gabungan kelompok tani sudah ada di Desa Sumber Gading

    Perbedaan Pendapatan dan Efisiensi Pemasaran antara Petani Tembakau Besuki Na-Oogst Tanam

    No full text
    Tembakau Besuki Na-Oogst merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan. Berdasarkan sistem penanamannya tembakau cerutu besuki terdiri dari tembakau tradisional, tembakau besuki tanam awal, dan tembakau bawah naungan. Tembakau Besuki Na-Oogst Tanam Awal (BESNOTA) sebenarnya merupakan komoditi yang menjanjikan dalam hal pendapatan petani. Hasil produksi yang menurun, ditambah cuaca yang tidak menentu, dan juga petani yang tidak mampu meningkatkan hasil tembakau Besuki Naoogst Tanam Awal (BESNOTA) dengan kualitas yang yang diinginkkan oleh perusahaan, serta informasi terbaru yang susah didapatkan petani tembakau membuat perusahaan eksportir membuat program kemitraan dengan petani tembakau. Tujuan dari kemitraan ini tentunya untuk meningkatkan produksi tembakau Besuki Na-Oogst Tanam Awal (BESNOTA). Salah satu tempat sentra produksi tembakau Besuki Na-Oogst Tanam Awal (BESNOTA) adalah di Kecamatan Wuluhan dengan Desa Kesilir dan Desa Tanjungrejo sebagai penghasil tertingginya. Akan tetapi di Kecamatan Wuluhan masih ada banyak petani yang tidak mengikuti program kemitraan yang dilakukan oleh perusahaan eksportir yang salah satunya adalah perusahaan PT.GMIT. Tujuan dari program kemitraan yang dilakukan perusahaan PT.GMIT ini adalah bersama-sama untuk meningkatkan jumlah produksi tembakau dengan kualitas dan kuantitas sesuai dengan permintaan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas mutu, produksi tiap kualitas, pendapatan, dan efisiensi pemasaran dari petani mitra PT.GMIT dengan petani non mitra yang ada di Kecamatan Wuluhan, utamanya di Desa Kesilir dan Desa Tanjungrejo. Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (Purposive Method) di Kabupaten Jember. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, analitis dan komparatif. Metode pengambilan contoh dalam penelitian ini adalah dengan disproportionate random sampling dan menghasilkan 30 orang responden petani mitra PT.GMIT dan 30 responden petani non mitra. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif, analisis pendapatan, analisis uji beda, dan marjin pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perbedaan kualitas yang dihasilkan ada pada rata-rata produksi tiap kualitasnya dan juga pada spesifikasi pada tiap kualitasnya, pada kualitas Dekblad perbedaan terdapat pada spesifikasi warna, ukuran panjang, keutuhan daun, posisi daun, kecacatan/kebersihan daun. Pada daun tembakau kualitas Omblad perbedaan terdapat pada spesifikasi kehalusan daun, keutuhan daun, dan kecacatan/kebersihan daun. Pada daun tembakau kualitas Filler perbedaan kualitas daun tembakau terdapat pada spesifikasi warna dan tingkat kemasakan daun saat pemanenan. (2) terdapat perbedaan produksi yang signifikan pada daun tembakau kualitas Dekblad dan Omblad pada petani yang bermitra dengan PT. GMIT dan yang tidak bermitra, sedangkan pada kualitas Filler tidak berbeda signifikan antara petani yang bermitra dengan PT. GMIT dan yang tidak bermitra. Pendapatan dari petani mitra dan non mitra terdapat perbedaan yang signifikan. (3) efisiensi pemasaran yang paling efisien adalah pada saluran pemasaran nol tingkat pada semua kualitas daun tembakau Besuki Na-Oogst Tanam Awal (BESNOTA)

    PENGARUH FAKTOR-FAKTOR EKSTERNAL DAN INTERNAL TERHADAP PARTISIPASI

    Full text link
    PT. Syngenta Indonesia fokus utamanya pada benih dan pestisida. Syngenta terlibat dalam bioteknologi dan penelitian genom. Dalam memasarkan dan mempromosikan produknya PT. Syngenta Indonesia memiliki strategi pasar yaitu dengan melakukan penyuluhan kepada petani antara lain dengan melakukan penyuluhan pada petani jagung dengan menggunakan metode penyuluhan “Awali Dengan Benar” yang khusus di gunakan untuk tanaman jagung. Penelitian ini dilakukan pada petani jagung di Desa Tutul Kecamatan Balung Kabupaten jember. Penelitian ini bertujuan : (1) menganalisis tingkat penerapan metode penyuluhan “Awali Dengan Benar” PT Syngenta Indonesia pada petani jagung. (2) Untuk menganalisis tingkat partisipasi petani didalam mengikuti penyuluhan “Awali Dengan Benar” PT Syngenta Indonesia di Desa Tutul Kecamatan Balung Kabupaten Jember. (3) menganalisis pengaruh faktor-faktor internal dan eksternal pada metode penyuluhan “Awali Dengan Benar” PT Syngenta terhadap partisipasi dan hasil produksi petani jagung. Penentuan daerah penelitian menggunakan purposive method. Metode yang digunakan didalam penelitian adalah metode diskriptif dan analitik. Pengambilan contoh yang yang digunakan untuk penentuan sampel adalah menggunakan metode Simple Random Sampling . Metode pengambilan data menggunakan metode wawancara terstruktur, metode observasi, metode studi pustaka. Alat analisis yang digunakan adalah skala Likert dan analisis path atau analisis jalur. Hasil penelitian menunjukan : (1) tingkat penerapan petani didalam penyuluhan memiliki tingkat nilai keseluruhan sedang pada responden petani sedangkan pada responden formulator memiliki tingkat rendah (2) pada tingkat partisipasi memiliki tingkat nilai keseluruhan sedang pada responden petani sedangkan responden formulator memiliki tingkat partisipasi rendah. (3) hasil analisis pada faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi petani jagung menunjukan bahwa faktor kemudahan media dan metode (X1), dukungan formulator (X3), dukungan kelompok tani (X4), fasilitas penyuluhan (X5), pengalaman (X7), dan pendapatan (X8) berpengaruh signifikan terhadap partisipasi (Z), dan pada analisis faktor-faktor yang mempengaruhi hasil produksi petani jagung menunjukan bahwa faktor kinerja formulator (X2), dukungan formulator (X3), pendidikan (X6), dan pendapatan (X8) berpengaruh signifikan terhadap hasil produksi (Y). dan Partisipasi petani jagung pada penyuluhan “Awali Dengan Benar” PT. Syngenta Indonesia berpengaruh signifikan terhadap hasil produksi petani jagung. Nilai rata-rata kenaikan hasil panen petani jagung sebesar 2 ton per hektar dengan persentase kenaikan hasil panen sebesar (24 %) dari hasil panen sebelumny

    ALOKASI PENDAPATAN PETANI TEMBAKAU VOOR-OOGST KASTURI TERHADAP

    No full text
    Tanaman tembakau sudah banyak ditanam di indonesia sejak zaman kolonial. Sejak zaman pendudukan belanda tembakau telah dikenal sebagai tanaman rakyat berorientasi ekspor. Tanaman tembakau juga dibudidayakan di wilayah jember dan jenis yang diusahakan adalah tembakau Voor-Oogst Kasturi dan besuki Na Oogst. Tembakau Voor-Oogst Kasturi merupakan tembakau yang banyak dibudidayakan oleh petani khususnya di Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bagaimana alokasi pendapatan konsumsi pangan dan non pangan petani tembakau sebelum dan sesudah panen tembakau di Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember, untuk mengetahui pendapatan petani tembakau sebelum dan sesudah panen tembakau, dan untuk mengetahui hubungan pendapatan dengan alokasi pendapatan konsumsi pangan dan non pangan petani tembakau sebelum dan sesudah panen tembakau. Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja di Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, komparatif dan kolerasional. Pengambilan sampel dilakukan dengan Metode Proposional Random Sampling kemudian ukuran sampel akan ditarik secara random dari masing-masing populasi menggunakan formulasi Slovin dan memperoleh responden sebanyak 44 sampel rumah tangga petani tembakau Voor-Oogst kasturi. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis person product moment.Hasil penelitian menunjukkan: (1) alokasi konsumsi pangan dan non pangan petani tembakau sebelum dan sesudah panen tembakau di Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember mengalami perubahan pada nilai atau jumlah uang (Rp) yang dikeluarkan untuk konsumsi (2) Terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan sebelum dan sesudah panen tembakau Voor-Oogst kasturi di Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember. (3) Tidak terdapat hubungan pendapatan sebelum panen tembakau Voor-Oogst kasturi dengan alokasi konsumsi pangan dan non pangan, serta tidak terdapat hubungan antara pendapatan sesudah panen dengan alokasi konsumsi pangan sesudah panen, dan terdapat hubungan antara pendapatan sesudah panen dengan alokasi konsumsi non pangan sesudah panen

    PARTISIPASI DAN PERSEPSI PENGURUS TERHADAP PERAN PENDAMPING DALAM

    No full text
    Pertanian merupakan sektor kunci bagi banyak penelitian mengenai kemiskinan di negara-negara terbelakang atau berkembang termassuk indonesia. Sebagian besar penduduk miskin indonesia tinggal diperdesaan dan sebagian besar dari mereka bekerja di pertanian. Salah satu program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan dalam pembangunan pertanian dan permasalahan modal yang dihadapai petani ialah dengan adanya program Program Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP). Desa penerima PUAP adalah desa miskin dan di desa tersebut terdapat Gapoktan. Kabupaten Banyuwangi sekalipun menjadi lumbung pangan nasional, namun juga mengalami permasalahan modal terutama pada petani dengan lahan minim. Desa Wonosobo Kecamatan Srono Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2008 mendapat bantuan dana PUAP. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada prestasi yang diraih oleh Gapoktan Sriwangi dan keberhasilan yang telah dicapai. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui tingkat partisipasi petani terhadap keberhasilan program PUAP; (2) Mengetahui persepsi petani terhadap peran PP dalam keberhasilan peogram PUAP; (3) Mengetahui persepsi petani terhadap peran PMT dalam keberhasilan program PUAP; (4) Mengetahui sejauhmana keberhasilan PUAP di Desa Wonosobo. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik. Metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan menggunakan data primer dan data sekunder. Analisis yang digunakan merupakan analisis skoring. Hasil penelitian menunjukkan (1) Tingkat partisipasi pengurus PUAP dalam kegiatan PUAP adalah tinggi yakni sebanyak 24 responden atau 80%; (2) Peran PP dalam kegiatan PUAP adalah tinggi yakni sebanyak 19 responden atau 63%; (3) Peran PMT dalam kegiatan PUAP adalah tinggi yakni sebanyak 16 responden atau 53%; (4) Keberhasilan PUAP di Desa Wonosobo adalah tinggi yakni sebanyak 25 responden atau 83%

    ALOKASI PENDAPATAN PETANI TEMBAKAU VOOR-OOGST KASTURI TERHADAP

    No full text
    Tanaman tembakau sudah banyak ditanam di indonesia sejak zaman kolonial. Sejak zaman pendudukan belanda tembakau telah dikenal sebagai tanaman rakyat berorientasi ekspor. Tanaman tembakau juga dibudidayakan di wilayah jember dan jenis yang diusahakan adalah tembakau Voor-Oogst Kasturi dan besuki Na Oogst. Tembakau Voor-Oogst Kasturi merupakan tembakau yang banyak dibudidayakan oleh petani khususnya di Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bagaimana alokasi pendapatan konsumsi pangan dan non pangan petani tembakau sebelum dan sesudah panen tembakau di Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember, untuk mengetahui pendapatan petani tembakau sebelum dan sesudah panen tembakau, dan untuk mengetahui hubungan pendapatan dengan alokasi pendapatan konsumsi pangan dan non pangan petani tembakau sebelum dan sesudah panen tembakau. Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja di Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, komparatif dan kolerasional. Pengambilan sampel dilakukan dengan Metode Proposional Random Sampling kemudian ukuran sampel akan ditarik secara random dari masing-masing populasi menggunakan formulasi Slovin dan memperoleh responden sebanyak 44 sampel rumah tangga petani tembakau Voor-Oogst kasturi. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis person product moment.Hasil penelitian menunjukkan: (1) alokasi konsumsi pangan dan non pangan petani tembakau sebelum dan sesudah panen tembakau di Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember mengalami perubahan pada nilai atau jumlah uang (Rp) yang dikeluarkan untuk konsumsi (2) Terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan sebelum dan sesudah panen tembakau Voor-Oogst kasturi di Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember. (3) Tidak terdapat hubungan pendapatan sebelum panen tembakau Voor-Oogst kasturi dengan alokasi konsumsi pangan dan non pangan, serta tidak terdapat hubungan antara pendapatan sesudah panen dengan alokasi konsumsi pangan sesudah panen, dan terdapat hubungan antara pendapatan sesudah panen dengan alokasi konsumsi non pangan sesudah panen

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore