103 research outputs found

    Aplikasi Fraksi Kleinano dari Bahan Tuf Volkan sebagai Adsorben Nitrat Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

    No full text
    Limbah cair pabrik kelapa sawit (PKS) dapat dimanfaatkan sebagai amelioran tanah dengan teknik aplikasi lahan (land application). Kadar nitrat yang tinggi pada limbah cair PKS dilaporkan menimbulkan dampak negatif dari praktik aplikasi lahan berupa kontaminasi nitrat pada perairan di sekitar lahan perkebunan. Pada penelitian sebelumnya, dengan teknik ultrasonik-sentrifusi dan waktu ekuilibrasi 72 jamdapat diekstrak dari bahan tuf volkan G. Salak fraksi kleinano (ukuran diameter 135 cm(tv4) dapat diekstraksi 7.72 mg kn4/g tv4. Pada akhir waktu ekuilibrasi 12, 24, dan 48 jam, erapan maksimum kn3 terhadap nitrat (25.06, 32.25, dan 48.30 mg/g) lebih tinggi daripada kn4 (21.41, 25.97, dan 40.00 mg/g), sehingga energi ikatan nitrat oleh kn3 (0.40, 0.37, dan 0.31 L/g) lebih rendah daripada kn4 (0.50, 0.39, dan 0.36 L/g). Erapan maksimum nitrat pada fraksi kleinano terekstrak dengan waktu ekuilibrasi 12 jam tidak berbeda nyata dengan 24 jam, namun dengan waktu ekuilibrasi 48 jam nyata lebih tinggi daripada 12, 24, dan 72 jam. Waktu ekuilibrasi terefektif adalah 48 jam. Penurunan kadar nitrat limbah cair PKS dari 62 mg/L ke 20 mg/L membutuhkan 29.81 mg kn3/L atau 39.34 mg kn4/L limbah cair

    Development Strategy of Rice Farming Areas Based on Farmer’s Preferences and Land Resource in South Bangka Regency

    No full text
    As the highest rice producer in the Province of Bangka Belitung Archipelago, South Bangka Regency has not until now capable of being selfsufficiency. Increasing activities in tin mining and plantation trigger farmers to switch their profession and/or to convert the usage of their farmlands, so that it can be an obstacle in establishing food security in the Province of Bangka Belitung Archipelago. Food security is a determining factor of national stability of a country. Various social and political instability can be happened if the food security is disturbed. Therefore, a comprehensive rice farmland development strategy is needed. This research aimed at to: (1) analyze priorities of rice farming development strategy based on hierarchy analysis of the farmer’s preferences, (2) identify land resource for rice farming development based on Landsat image interpretation, land suitability and rice farming spatial pattern of the regency regional spatial arrangement plan, and (3) compose strategy direction of rice farmland development in South Bangka Regency to achieve rice self-sufficiency. Analytical Hierarchy Process (AHP) was used to arrange strategy priority of the rice farming area development that based on the farmer’s preference. The strategies and actions analyzed in AHP was referred to the Law No.41/2009 and Government Ordinance No.12/2010 that were chosen based on land suitability and conditions as well as culture of the rice farmers in South Bangka Regency. To identify the available land resources for rice farming area development the GIS analysis was performed by overlaying the actual land cover, rice farming spatial pattern of the regency regional spatial arrangement plan, and land suitability for rice farming. Results of the farmer’s preference analysis and the available land recources were finally sinthesyzed to get development strategy of the rice farming area. The first two of the farmer prioritized strategies were the development of agricultural infrastructures and the increase in rice production facilities. Farmers of the moderately developed area also considered product marketing improvement as an important strategy, while those of the undeveloped area preferred an increase in the government incentives. Land resource suitable for wetland rice farming were identified with suitability class of S1, S2, and S3 covering area of respectively 8,680, 30, and 3,070 ha, while for upland rice farming with suitability class of S3 covering area of respectively 10,390 ha. The development strategy for the moderately developed area was directed primarily to increase the farm business productivity, while for the undeveloped area was to protect the existence of rice farming activities. By implementing land extensification and intensification scenario, rice self-sufficiency at South Bangka Regency and Province of Bangka Belitung Archipelago level can be achieved in respectively year 2017 and 2032

    Kontaminasi Timbal pada Empat Tipe Penggunaan Lahan Pertanian di Kawasan Urban-Industri Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

    No full text
    Lahan pertanian yang berada di kawasan urban-industri rentan terhadap kontaminasi logam berat. Salah satu logam berat tersebut adalah timbal (Pb). Meskipun bukan hara esensial, bila berada dalam bentuk kimia yang dapat diserap tanaman, maka Pb tanah dapat menyebabkan fitotoksisitas dan masuk ke rantai makanan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi tingkat kontaminasi Pb tanah di empat tipe penggunaan lahan pertanian di kawasan urban-industri Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan mengevaluasi pengaruh faktor pH, kadar klei dan kadar bahan organik tanah serta waktu terhadap kadar total-Pb tanah. Lokasi penelitian merupakan lahan pertanian di kawasan urban-industri yang meliputi wilayah Kecamatan Citeureup, Gunung Putri, Kalapa Nunggal dan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Contoh tanah diambil secara komposit pada kedalaman 0-10, 10-20 dan 20-30 cm di musim hujan November 2013 di 15 titik yang mewakili empat tipe penggunaan lahan, yaitu pekarangan, lahan kering, sawah tadah hujan dan kebun campuran. Analisis tanah dilakukan di Lab Kimia dan Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB terhadap kadar total-Pb (Aqua Regia; HClp:HNO3p=3:1; PbAR), pH H2O 1:1, C-organik (Walkley & Black) dan tekstur (Pipet). Tingkat kontaminasi/ pencemaran Pb tanah dievaluasi berdasarkan nilai indeks c/p menurut prosedur Lacatusu (1998). Nilai indeks c/p = kadar PbAR / (50 + kadar klei + kadar bahan organik). Kontaminasi (c/p1) merujuk pada kisaran kadar Pb tanah yang telah mengakibatkan dampak negatif terhadap komponen lingkungan. Rataan kadar PbAR (mg/kg) yang terukur pada lahan pekarangan (35.36) > kebun campuran (29.22) > lahan kering (20.87) > sawah tadah hujan (20.64), dengan nilai indeks c/p Pb pada lahan pekarangan (0.78, terkontaminasi sangat berat) > sawah tadah hujan (0.54, terkontaminasi berat) > kebun campuran (0.49, terkontaminasi sedang) > lahan kering (0.37, terkontaminasi sedang). Kadar PbAR berkorelasi positif nyata dengan kadar bahan organik, kecuali di kebun campuran. Pada sawah tadah hujan, kadar klei juga berpengaruh nyata terhadap PbAR. Kadar PbAR pada musim hujan 2006 lebih tinggi daripada musim hujan 2013. Salah satu penyebabnya karena sejak 2006 penggunaan bahan bakar minyak bertimbal sudah dihentikan di Indonesia

    Aplikasi Kleinano dari Tuf Volkan Gunung Salak sebagai Adsorben Alami Kontaminan Anionik: Fosfat Perairan dan Air Limbah

    No full text
    Peningkatan kadar kontaminan anionik seperti fosfat di lingkungan perairan dari berbagai sumber, khususnya dari aktivitas pertanian, industri, dan domestik menyebabkan degradasi mutu perairan hingga terjadinya eutrofikasi. Dalam proses pengendalian kontaminasi fosfat di ekosistem perairan dan pengelolaan air limbah diperlukan teknologi yang efektif, efisien dan ramah lingkungan. Kontaminasi fosfat dapat dikendalikan dengan teknik sedimentasi menggunakan adsorben bermuatan positif melalui reaksi penjerapan. Semakin kecil ukuran adsorben, semakin tinggi efektivitas penjerapannya. Dalam Ilmu Tanah, partikel dengan dimensi fisik 135 cm) dari profil Andisol di lereng Gunung Salak pada elevasi 670 mdpl yang berlokasi di Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dari bahan tv3 dan tv4 diseparasi dan diekstraksi fraksi kleinano kn3 dan kn4 menggunakan teknik dispersi-ultrasonikasi-sentrifugasi, dan suspensi kleinano terekstraksi selanjutnya dipurifikasi menggunakan teknik membran dialisis. Uji jerapan fosfat dilakukan menurut metode isotermal Langmuir. Untuk aplikasi pengelolaan perairan, uji jerapan fosfat dilakukan dengan mempersiapkan 3x3 set percobaan yang merepresentasikan 3 waktu ekuilibrasi dan 3 ulangan. Setiap set percobaan terdiri atas 10 tabung polietilen-50 ml berisi 5 ml suspensi fraksi kleinano dan 5 ml 0.01 N CaCl2 sebagai background electrolyte. Selanjutnya ditambahkan deret perlakuan larutan fosfat inorganik bersumber dari KH2PO4 dengan kadar 0, 2.5, 5, 10, 20, 40, 80, 160, 320 dan 640 mg P/L serta aquadest hingga bervolume total 50 ml. Untuk aplikasi pengelolaan air limbah, uji jerapan fosfat juga dilakukan dengan 3x3 set percobaan yang masing-masing terdiri atas 6 tabung polietilen-50 ml berisi 20 ml air limbah industri tahu dengan kadar 42.83 mg P/L dan 5 ml 0.01 N CaCl2. Selanjutnya ditambahkan 0, 2.5, 5, 10, 15 dan 20 ml suspensi fraksi kleinano serta aquadest hingga bervolume total 50 ml. Ekuilibrasi dalam penelitian ini dilakukan selama 12, 24, dan 48 jam. Dari penelitian sebelumnya, diperoleh data untuk waktu ekuilibrasi 72 jam. Pada jam ke 0, 6, 12, 18, 24, 30, 36, 42, 48, dan 72 jam dilakukan agitasi menggunakan mesin pengocok selama 30 menit. Untuk memperoleh efek agitasi maksimal, tabung percobaan diposisikan horizontal. Setelah 12, 24, 48, dan 72 jam, kadar fosfat kesetimbangan diukur secara kolorimetri menurut prosedur Murphy dan Riley menggunakan spektrofotometer pada λ 660 nm. Signifikansi perbedaan jerapan maksimum fosfat pada fraksi kleinano setelah ekuilibrasi 12, 24, 48, dan 72 jam dievaluasi dengan Uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari bahan tuf volkan tv3 dapat diekstraksi 2.82 mg fraksi kleinano kn3/g tv3 dan dari tuf volkan tv4 terekstraksi 4.29 mg fraksi kleinano kn4/g tv4. Jerapan maksimum fosfat dengan waktu ekuilibrasi 48 jam nyata lebih tinggi daripada 12, 24, dan 72 jam, sehingga waktu ekuilibrasi terefektif adalah 48 jam. Jerapan maksimum kn3 terhadap fosfat perairan maupun air limbah lebih tinggi daripada kn4. Lebih lanjut, jerapan maksimum fraksi kleinano terhadap fosfat dalam sistem perairan (117.54 mg P/g kn3 dan 71.99 mg P/g kn4) lebih tinggi daripada dalam sistem air limbah (24.15 mg P/g kn3 dan 19.31 mg P/g kn4). Rentang nisbah adsorbat terhadap adsorben atau kadar fosfat dalam deret perlakuan fosfat terhadap bobot fraksi kleinano pada sistem perairan (0–0.335 mg P/mg kn3 dan 0–0.221 mg P/mg kn4) lebih tinggi dibandingkan pada sistem air limbah (0–0.022 mg P/mg kn3 dan 0–0.015 mg P/mg kn4). Semakin tinggi nisbah adsorbat:adsorben, semakin tinggi pula efektivitas tercapainya kondisi penjerapan maksimum adsorbat fosfat pada adsorben fraksi kleinano dalam waktu ekuilibrasi yang sama. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa fraksi kleinano yang terekstraksi dari bahan tuf volkan G. Salak Indonesia berpotensi dan prospektif untuk diman-faatkan sebagai adsorben alami kontaminan anionik seperti fosfat dalam sistem perairan dan air limbah. Penurunan kadar fosfat perairan eutrofik yang diasumsikan berkadar 4.895 mg P/L ke 0.2 mg P/L agar memenuhi baku mutu perairan kelas I atau II menurut PPRI No.82/2001 membutuhkan 3.11 mg kn3/L atau 3.78 mgkn4/L, sedangkan penurunan kadar fosfat air limbah dari 42.83 mg P/L ke 5 mg P/L agar memenuhi baku mutu perairan kelas IV menurut regulasi yang sama membutuhkan 193.2 mg kn3/L atau 229.84 mg kn4/L

    Aplikasi Bahan Humik dan EDTA untuk Peningkatan Ketersediaan Hara Mikro Zn pada Media Pembibitan Jati

    No full text
    Ultisol merupakan salah satu jenis tanah suboptimal yang tersebar luas di Indonesia dan umumnya dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan. Faktor pembatas utama pemanfaatan Ultisol bagi pertumbuhan tanaman dari segi sifat kimia tanah adalah kondisi pH dan ketersediaan hara yang rendah akibat kejenuhan basa yang rendah dengan dominasi kation asam Al dan H pada kompleks jerapan koloid, sehingga kesuburan alaminya rendah. Pembenahan tanah perlu dilakukan dalam pemanfaatannya sebagai bahan tanah dalam media pembibitan jati, diantaranya dengan mengaplikasikan bahan humik dan EDTA. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh perlakuan aplikasi kombinasi bahan humik dan EDTA terhadap sifat-sifat kimia Ultisol Jasinga yang digunakan sebagai bahan tanah dalam media pembibitan dan terhadap kadar Zn-tersedia dan keragaan tumbuh bibit jati. Evaluasi juga didasarkan atas hasil analisis regresi linier berganda hubungan antara respon keragaan tumbuh tanaman dan respon sifat-sifat kimia tanah terhadap perlakuan. Percobaan dilakukan dalam Rancangan Acak Lengkap Faktorial dua faktor, yaitu aplikasi bahan humik dengan taraf 0, 100, 200 ppm (H0, H1, H2) dan aplikasi EDTA dengan taraf 0, 750, 1500 ppm (E0, E1, E2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi perlakuan bahan humik dan EDTA berpengaruh sangat nyata terhadap penurunan pH H2O dan peningkatan Zn-tersedia tanah pada akhir masa inkubasi selama 4 minggu. Peningkatan taraf aplikasi EDTA secara tunggal maupun interaktif dengan aplikasi bahan humik diikuti oleh peningkatan Zn-tersedia, PBray#1, Kdd, Nadd, dan Cadd serta penurunan KTK dan Aldd, sehingga KB tanah meningkat. Kadar Zn-daun menurun dengan peningkatan Ntotal, Cadd, dan Mgdd tanah. Tinggi tanaman menurun dengan peningkatan Aldd, Mgdd, dan Nadd, namun meningkat dengan peningkatan KB tanah. Respon berat kering tajuk berbanding terbalik dengan peningkatan Aldd, Corganik, dan Nadd, namun berbanding lurus dengan penurunan KTK tanah. Kadar Zn-daun, tinggi tanaman, berat kering tajuk tertinggi berturut-turut dicapai pada perlakuan E0H2 atau E1H1, E0H0, dan E0H0. Dosis ameliorasi bahan humik dan EDTA pada media pembibitan jati dengan bahan tanah Ultisol Jasinga yang direkomendasikan adalah 100 ppm bahan humik dan 750 ppm EDTA

    Hubungan Sifat Kimia Tanah dengan Penggunaan dan Posisi Lahan Pertanian pada Toposekuen Gunung Pangrango Bogor

    No full text
    Lahan pertanian di Indonesia dapat dijumpai di berbagai elevasi lahan, dari dataran rendah hingga dataran tinggi, baik untuk budidaya tanaman pangan, hortikultura maupun tanaman tahunan. Selain tipe penggunaan dan pengelolaan lahan, posisi lahan dalam suatu toposekuen juga mempengaruhi sifat-sifat kimia tanah. Oleh karena itu, sifat-sifat kimia tanah terkait tipe penggunaan dan pengelolaan lahan dengan posisi elevasi berbeda pada suatu toposekuen perlu dipelajari. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh faktor tipe penggunaan dan pengelolaan serta posisi lahan terhadap sifat-sifat kimia tanah lahan pertanian pada toposekuen Tenggara Gunung Pangrango, Bogor pada musim hujan 2016/2017. Penelitian didasarkan atas hasil analisis contoh tanah dari lahan pertanaman jagung dan caisin pada posisi lereng bawah (LBW), lereng tengah bawah (LTB), lereng tengah atas (LTA), dan lereng atas (LAT) toposekuen Tenggara Gunung Pangrango, Bogor. Contoh tanah komposit pada kedalaman 0-30 cm diambil pada Oktober-November 2016, masing-masing dengan 3 ulangan di setiap kombinasi tipe penggunaan lahan dan posisi lereng, sehingga jumlah total yang dianalisis adalah 24 contoh tanah.Analisis tanah dilakukan terhadap pH H2O, C-organik, NKjeldahl, PBray#1, Kdd, Cadd, Mgdd, dan KTK. Evaluasi didasarkan atas hasil analisis keragaman (ANOVA) dan uji lanjut DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi lahan pada toposekuen berpengaruh nyata terhadap sifat-sifat kimia tanah, yaitu terhadap pH H2O, kadar NKjeldahl, PBray#1, Kdd, Cadd, Mgdd, dan KTK pada lahan pertanaman caisin, serta terhadap kadar NKjeldahl, PBray#1, dan Kdd pada lahan pertanaman jagung, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kadar C-organik pada lahan pertanaman jagung maupun caisin. Interaksi faktor tipe penggunaan dan pengelolaan lahan serta posisi lahan pada toposekuen berpengaruh nyata terhadap kadar C-organik, NKjeldahl, PBray#1, Kdd,Cadd, Mgdd, dan KTK. Kadar C-organik dan NKjeldahl tertinggi di lokasi penelitian terukur pada lahan pertanaman jagung pada posisi LTA. Kadar PBray#1 dan Kdd tertinggi terukur pada lahan pertanaman caisin pada posisi LTB, Cadd tertinggi pada lahan pertanaman jagung pada posisi LBW, Mgdd tertinggi pada lahan pertanaman jagung pada posisi LAT, dan KTK tertinggi pada lahan pertanaman caisin pada posisi LBW

    Pengaruh Ameliorasi Dolomit, Kompos, dan Arang Sekam terhadap Ketersediaan Cu dan Zn pada Latosol dan Podsolik dengan Kejenuhan Aluminium Berbeda.

    No full text
    Budidaya tanaman pada tanah masam di Indonesia dihadapkan pada berbagai faktor pembatas kesuburan tanah yang meliputi reaksi masam, kejenuhan aluminium tinggi, serta kadar bahan organik dan hara esensial rendah. Hal ini berdampak pada rendahnya efisiensi pemupukan. Pertumbuhan dan produktivitas tanaman yang optimum hanya dapat dicapai jika semua hara esensial dalam tanah, termasuk hara mikro Cu dan Zn, berada dalam kadar cukup dan dalam bentuk kimia tersedia. Ameliorasi dolomit, kompos, atau arang sekam diharapkan dapat mengatasi faktor pembatas tersebut pada tanah masam di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ameliorasi dolomit, kompos, atau arang sekam terhadap ketersediaan hara mikro Cu dan Zn pada tiga tanah dengan kejenuhan Al berbeda. Percobaan faktor tunggal ameliorasi dolomit, kompos atau arang sekam dengan 11 taraf dan 3 ulangan dilakukan di rumah kaca pada Latosol, Podsolik 1, dan Podsolik 2, berturut-turut dengan tingkat kejenuhan Al 42%, 52%, dan 81%, sehingga secara keseluruhan terdiri dari 297 satuan percobaan. Inkubasi perlakuan dilakukan selama 30 hari pada kondisi kadar air kapasitas lapang. Analisis ketersediaan Cu dan Zn tanah dilakukan menggunakan pengekstrak DTPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ameliorasi dolomit, kompos, atau arang sekam secara umum menurunkan ketersediaan Cu pada Latosol, namun sebaliknya pada Podsolik 1 dan Podsolik 2, kecuali ameliorasi kompos yang meningkatkan ketersediaan Cu hingga dosis tertentu dan sebaliknya pada dosis yang lebih tinggi. Demikian pula halnya dengan ameliorasi dolomit, kompos, atau arang sekam hingga dosis tertentu meningkatkan ketersediaan Zn pada Podsolik 1 dan Podsolik 2, namun menurunkan ketersediaan Zn pada Latosol. Dinamika ketersediaan Cu dan Zn pada penelitian ini berhubungan dengan dinamika pH tanah

    Direction and Strategy for Wetland Ricefield Extensification in Coastal Development Region of West Kalimantan Province

    No full text
    The Coastal Development Region (DR) is the rice production center and supplier even for the other three DRs of West Kalimantan Province. However, by assuming cropping index of 130%, risk of harvest failure of 5% per year, and conversion of wetland ricefield of 9.8% per year, then the milled rice production of the Coastal DR in 2016 was predicted to achieve 460,178 ton that resulted in a deficit up to 9,922 ton out of the consumption requirement of its population that amounted to 470,100 ton. If it is not complemented with wetland ricefield extensification, then its role as the rice supplier for the three other DRs will also be finished in 2016 and it the food security condition in West Kalimantan Province will be affected. Therefore, a comprehensive planning, direction, and strategy for wetland ricefields extensification is needed in the Coastal DR of West Kalimantan Province. The location of this research consisted of seven regency/city included in the Coastal DR of West Kalimantan Province, namely Regency of Sambas, Bengkayang, Pontianak, Ketapang, Kayong Utara, Kubu Raya, and city of Singkawang. The objectives of this research were to: (1) identify potential lands for wetland ricefield extensification, (2) identify regional wetland rice production center based on comparative and competitive advantages, (3) identify cluster and typology of regional development level for wetland ricefield extensification, and (4) formulate regional cluster-based direction and strategy for wetland ricefields extensification in Coastal DR of West Kalimantan Province. Analysis was started with preparation of landuse map 2013 based on interpretation of Landsat 8 imagery using on screen digitation method. Potential area for wetland ricefield extensification was identified by overlaying landuse map 2013, land suitability map for wetland from RePPProt, and provincial RTRW map. The basis and/or leading region of wetland rice production was determined based on the results of Location Quotient (LQ) and Shift Share Analysis (SSA). Cluster and typology of the region was derived from the results of Cluster Analysis and Discriminant Analysis based on rice farming activity characteristics. Direction of priority region for wetland ricefield extensification was based on synthesis of results of the preceding analyses by referring to the Minister of Agriculture Regulation Number 50/2012 concerning Guidelines for development of agricultural region, and SWOT analysis was used to determine strategy priority. Landuse types in the Coastal DR consisted of mixed plantations covering area of 1,143,710 ha (20% of the total provincial area of 5,664,580 ha), swampy shrubs of 582,700 ha (10%), bushes and shrubs of 308,590 ha (5%), drylands of 243,660 ha (4%), wetland ricefields of 189,420 ha (3%), and waterlogged swamps of 184,940 ha (3%). The largest swampy shrubs, and bushes and shrubs were found in Ketapang Regency. Waterlogged swamps were only found in Ketapang Regency. Drylands and wetland ricefields were dominantly found in Sambas and Kubu Raya Regency. Based on the results of recapitulation of the existing and potential areas, it was identified available lands that could be used for wetland ricefield extensification amounted to 411,960 ha; mostly (>50%) were in Sambas and Ketapang Regency. The conditionally potential lands were identified to be 230,560 ha and those classified as not potential lands were 4,862,950 ha. The results of LQ and SSA analysis showed that five regencies/city were classified as basis regions and three of them were as leading regions for wetland rice production. Results of cluster analysis of the regional development level formed three clusters of region, namely developed region (Sambas and Kubu Raya regencies), moderately developed region (Bengkayang and Pontianak regencies), and less developed region (Ketapang, Kayong Utara regencies and Singkawang city). The first and second priority for wetland ricefield extentification were directed respectively to Sambas and Kubu Raya regencies, followed by the others. The priority strategy for cluster I was to increase the availability of and access to technology, capital and outreach program; for cluster II was to increase the quantity and quality of the products with the application of cultivation and postharvest technology; and for cluster III was the improvement of competitive-ness of the rice downstream industry, marketing, and industrial orientation

    Pengaruh Tiga Jenis Amelioran terhadap Perubahan Aldd, pH, dan Ptersedia pada Latosol Dramaga dan Podsolik Jasinga.

    No full text
    Latosol dan Podsolik terbentuk dari proses pelapukan dan pencucian intensif, sehingga memiliki kendala untuk digunakan sebagai lahan pertanian. Kendala pemanfaatan Latosol diantaranya adalah pH, kadar bahan organik, dan kejenuhan basa rendah. Kendala pada Podsolik diantaranya adalah kejenuhan Al dan erapan fosfor tinggi, serta pH, ketersediaan P, dan kejenuhan basa rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mengatasi kendala tersebut, diantaranya dengan pemberian amelioran. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh ameliorasi dolomit, kompos, dan arang sekam terhadap perubahan Aldd, pH, dan Ptersedia pada Latosol Dramaga dan Podsolik Jasinga. Penelitan ini menggunakan tiga contoh tanah, yaitu Latosol Dramaga dengan kadar Aldd 4.79 me/100g, Podsolik Jasinga 1 dengan kadar Aldd 13.75 me/100g, dan Podsolik Jasinga 2 dengan kadar Aldd 20.7 me/100g. Perlakuan ameliorasi yang dicobakan adalah pemberian dolomit, kompos, dan arang sekam. Penelitian dilakukan di rumah kaca menggunakan rancangan acak lengkap dengan 11 taraf ameliorasi dan 3 ulangan, sehingga terdapat 3x3x11x3 = 297 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan berupa polybag berisi 500 g (BKM) tanah. Inkubasi perlakuan dilakukan selama 1 bulan. Selama masa inkubasi, kadar air tanah dipertahankan pada kondisi kapasitas lapang. Setelah itu dilakukan analisis tanah terhadap pH (H2O) 1:5, Aldd, dan Ptersedia (Bray 1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dolomit hingga taraf 2 x Aldd meningkatkan pH dan menurunkan Aldd ketiga tanah (Latosol Dramaga, Podsolik Jasinga 1, dan Podsolik Jasinga 2). Pemberian dolomit hingga taraf 0.8 x Aldd pada Latosol Dramaga menurunkan Ptersedia; namun pada Podsolik Jasinga 1 dan Podsolik Jasinga 2 meningkatkan Ptersedia, sedangkan pada taraf lebih tinggi menurunkan Ptersedia. Pemberian kompos dan arang sekam berpengaruh sama terhadap ketiga tanah, yaitu meningkatkan pH, menurunkan Aldd, dan meningkatkan Ptersedia

    Potensi Penggunaan Tepung Batu Apung Teraktivasi-Basa sebagai Adsorben Timbal dalam Sistem Larutan

    No full text
    Timbal (Pb) merupakan salah satu logam berat yang termasuk dalam 6 besar kontaminan lingkungan. Kontaminasi Pb di beberapa lingkungan perairan Indonesia telah melebihi baku mutu berdasarkan peraturan-perundangan yang berlaku. Adsorpsi merupakan salah satu strategi efisien untuk menurunkan kadar berbagai kontaminan dalam sistem larutan karena desain teknisnya yang sederhana, mudah, murah, dan adaptasinya yang luas. Pengembangan adsorben baru dengan performa yang lebih baik untuk pengendalian kontaminasi logam berat dalam lingkungan perairan merupakan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini. Sebagai bahan volkan, batu apung memiliki potensi atraktif untuk dikembangkan sebagai adsorben alami kontaminan kationik seperti logam berat Pb dalam sistem larutan. Indonesia memiliki cadangan tambang batu apung yang berlimpah, namun penelitian mengenai aktivasi dan performanya sebagai adsorben masih sangat perlu ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi tepung batu apung Lombok dan Kediri teraktivasi-basa sebagai adsorben Pb dalam sistem larutan berdasarkan performa kapasitas maksimum dan efektivitas adsorpsinya. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, IPB pada November 2018 sampai Juni 2019. Bahan dasar batu apung Lombok dan Kediri masing-masing diperoleh dari Kelurahan Geres, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tengggara Barat dan Desa Wonorejo Trisulo, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Aktivasi-basa dilakukan dengan cara mencampurkan 5 g tepung batu apung berukuran partikel 74 μm (lolos ayakan 200 mesh dan telah dibersihkan dari pengotor) dengan 50 mL larutan 0, 0.5, 1, dan 2 M NaOH kemudian dikocok 175 rpm secara horisontal selama 24 jam dan dicuci dengan aquades untuk menghilangkan kelebihan NaOH. Padatan yang diperoleh dikering-ovenkan pada 105 oC selama 24 jam sebelum digunakan sebagai adsorben dalam uji adsorpsi. Teknik aktivasi-basa dihipotesis-kan akan meningkatkan jumlah muatan negatif pada permukaan reaktif silanol dan aluminol mineral penyusun batu apung yang memiliki sifat muatan bergantung pH melalui mekanisme deprotonasi sehingga lebih efektif untuk dimanfaatkan sebagai adsorben kontaminan kationik. Uji kapasitas dan efektivitas adsorpsi Pb dilakukan dalam percobaan batch menurut metode isotermal Langmuir menggunakan 8 adsorben, yakni kombinasi 2 bahan dasar tepung batu apung (Lombok dan Kediri) dan 4 kadar aktivasi (0, 0.5, 1, 2 M NaOH). Uji adsorpsi dilakukan pada suhu ruang (±30 oC) dengan menambahkan 0.12 g adsorben ke botol polietilen berisi larutan Pb (dibuat dari Pb(NO3)2) dan 0.01 M CaCl2 sebagai background electrolyte untuk memperoleh volume final 100 mL larutan dengan kadar awal Pb dari 0 sampai 260 mg/L (0, 5, 10, 15, 20, 30, 40, 50, 60, 100, 140, 180, 220, and 260 mg Pb/L). Larutan kemudian dikocok pada 150 rpm selama 100 menit dan dilanjutkan dengan penyaringan. Kadar Pb dan pH kesetimbangan dalam filtrat masing-masing diukur menggunakan AAS dan pH-meter. Dalam penelitian ini dilakukan pembandingan aplikasi 2 model linier adsorpsi isotermal Langmuir multitapak untuk menghitung nilai kapasitas adsorpsi maksimum Pb pada adsorben, yakni conventional dan rearranged model. Model terpilih adalah yang menghasilkan persamaan linier dengan nilai koefisien determinasi (R2) lebih tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivasi optimum diperoleh dengan penggunaan 0.5 M NaOH. Aplikasi conventional Langmuir model menghasilkan persamaan linier dengan nilai R2 lebih tinggi dibandingkan rearranged Langmuir model, sehingga model pertama yang terpilih. Kapasitas adsorpsi maksimum Pb pada adsorben berbahan dasar tepung batu apung Lombok dan Kediri dengan aktivasi optimal 0.5 M NaOH berdasarkan model terpilih masing-masing adalah 236.4 dan 218.4 mg/g. Efektivitas adsorpsi Pb dari adsorben berbahan dasar tepung kedua batu apung lebih dari 80% dan 50-80% pada kadar Pb awal kurang dari 100 mg/L dan 100-260 mg/L. Dengan demikian, kedua batu apung berpotensi untuk digunakan sebagai bahan dasar adsorben alami Pb dalam sistem larutan dengan performa baik
    corecore