1,720,957 research outputs found

    “PAGEBLUK”

    Full text link
    ABSTRAKPenelitian Karya seni berjudul Pagebluk bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang persoalan fenomena kehidupan di masyarakat yang lagi trending dua tahun terakhir yaitu Covid 19. Pandevi Covid 19 merupakan persoalan yang sangat krusial bagi bangsa Indonesia bahkan Dunia. Penyakit ini meluluhlantakan sendi-sendi kehidupan dalam segala bidang, di antaranya ekonomi, social dan proses belajar mengajar. Dalam karya tari ini, Penulis memfokuskan tentang persoalan atau kendala proses belajar mengajar yang dihadapi oleh Mahasiswa ISBI Bandung dikala Pandemi Covid menyerang Indonesia. Kendala- kendala seperti perubahan kuliah dari luring menjadi daring, tidak adanya kuota dan sinyal inilah yang akan diungkit dalam sebuah karya. Karya Pagebluk digarap dalam bentuk tari kelompok dengan tipe dramatik, dengan pendekatan tradisi inovasi, yang memadukan komposisi koreografi yang sudah dirancang sedemikian rupa dengan teknik-tehnik digital. Selain hal tersebut, karya ini tidak dipentaskan di panggung proscenium tetapi dipentaskan di alam terbuka dengan landscape ruang terbuka. Berpijak dari hal tersebut, peneliti berusaha mencoba menggarap karya ini dengan mengeksplorasi gerak. Gerak-gerak tersebut berasal dari gerak-gerak sehari-hari, diberi curahan ruang, tenaga, dan waktu, sehingga gerak yang dilahirkan dapat memunculkan ilusi imajinasi yang luar biasa.  Jadi tidak hanya keterampilan fisik saja yang harus dikuasai tetapi non fisikpun harus dikuasai juga. Adapun hasil yang dicapai adalah sebuah karya dance film dengan memfokuskan pada kekuatan garap kinetik (gerak), kekuatan atraktif (spektekel) dan juga garap karawitan yang dapat mendukung suasana yang diinginkan. Kata Kunci:  Pagebluk, Eksplorasi, Dance Film. ABSTRACTPagebluk, December 2021. Research The work of art entitled Pagebluk aims to dig deeper into the issue of the phenomenon of life in society which is trending in the last two years, namely Covid 19. Pandevi Covid 19 is a very crucial issue for the Indonesian nation and even the world. This disease destroys the joints of life in all fields, including economic, social and teaching and learning processes. In this dance work, the author focuses on problems or obstacles in the teaching and learning process faced by ISBI Bandung students when the Covid Pandemic attacked Indonesia. Obstacles such as changing lectures from offline to online, the absence of quotas and signals will be brought up in a work. Pagebluk\u27s work is done in the form of group dances with a dramatic type, with a tradition of innovation approach, which combines well-designed choreographic compositions with digital techniques. Apart from that, this work is not performed on the proscenium stage but is performed in the open with an open space landscape. Based on this, the researchers tried to work on this work by exploring motion. These movements come from everyday movements, given the outpouring of space, energy, and time, so that the movements that are born can give rise to extraordinary illusions of imagination. So not only physical skills that must be mastered but also non-physical skills must be mastered.  The results achieved are a dance film work by focusing on the strength of working on kinetic (movement), attractive power (spectacle) and also working on musical instruments that can support the desired atmosphere.  Keyword: Pagebluk, Eksplorasi, Dance Film

    BEKAL MENJADI KOREOGRAFER (Sebuah Tawaran)

    Full text link
    ABSTRAK Ketika mendengar kata koreografer, yang terbersit di dalam benak kita adalah seseorang yang mempunyai daya khayal yang luar biasa, cerdas dan kreatif dalam menangkap fenomena di masyarakat, kemudian dieksplorasi menjadi karya tari yang unik dan menarik. Selain hal tersebut di atas yang tidak kalah pentingnya, seorang koreografer harus mempunyai motivasi yang tinggi tanpa kenal lelah dalam bereksplorasi, melakukan penjelajahan gerak untuk menemukan “sesuatu” sehingga menjadi sebuah karya tari yang bermakna.Untuk menjadi seorang koreografer tidaklah mudah, selain harus cerdas tubuh, juga harus cerdas pikir. Untuk itu diperlukan ilmu-ilmu yang lainya, seperti anatomi, antropologi, sosiologi, psikologi, sejarah, agama, sehingga akan terasa lebih lengkap dan tajam. Seorang koreografer, harus cepat merespons berbagai isu-isu aktual, seperti keadilan, alam lingkungan, hak azasi manusia, feminisme, ekonomi, sosial politik, lintas budaya, dan melakukan kolaborasi. Semua itu adalah bentuk tantangan yang perlu dijawab, dikritisi, dan kemudian diimplementasikan dalam sebuah garapan tari. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah, sifat terbuka terhadap kritik, demi kemajuan karya. Kata Kunci:  Koreografer, Kreatif, Tubuh, Eksplorasi.    ABSTRACT When hearing the word Choreographer, something comes to our mind is someone who has extraordinary imagination, intelligent and creative in capturing phenomena in the society, then they are explored into unique and interesting dance works. In addition, a choreographer must have high motivation tirelessly in exploring motion to find "something" so that it becomes a meaningful dance work.It is not easy to be a choreographer, besides having to be intelligent in body, he must also be smart to think. Thus, he requires other sciences, such as Anatomy, Anthropology, Sociology, Psychology, History, Religion, so that it will be more complete and sharp to produce a work. A choreographer must respond quickly to various actual issues such as justice, the environment, human rights, feminism, economics, social politics, cross-culture, then conduct collaboration, all of which respond to challenges that need to be answered, criticized, and then implemented in a dance work. Another thing that is not less important is being open to criticism for the sake of the progress of the work.Keywords:  Choreographer, Creative, Body, Exploration. 

    SUGRIWA SUBALI

    Full text link
    ABSTRAKEpisode Sugriwa Subali adalah salah satu bagian dari buku Kis-kindhakanda yang sangat menarik bagi peneliti untuk diungkit dalam sebuah karya Tari. Karya ini akan memfokuskan dua saudara kandung yaitu Sugriwa dan Subali yang berselisih faham, karena berbeda pandangan hidup. Subali dikenal dengan temperamen tinggi dan gampang diasut oleh Rahwana, sementara Sugriwa mempunyai jiwa yang luhur. Budaya Hasut menghasut akhir-akhir ini kian menjadi makanan sehari-sehari dikehidupan kita. Persoalan dan kesalahpahaman Subali terhadap Sugriwa, mengakibatkan kematian Subali akibat hasutan Rahwana. Nilai inilah yang akan peneneliti coba ungkit, dengan mengeskpolorasi gerak. Gerak gerak tersebut berasal dari gerak hewan monyet, kemudian dieksplorasi dengan gerak sehari-hari, diberi curahan Ruang, Tenaga dan waktu, sehingga gerak yang dilahirkan dapat memunculkan ilusi imajinasi yang luar biasa. Jadi tidak hanya keterampilan fisik saja yang harus ia kuasai, tetapi non-fisikpun harus ia kuasai juga. Karya ini akan disajikan diruang outdoor dengan lokasi di sekitar Gunung Batu Baleendah Bandung, dengan memfokuskan kekuatan garap kinetik (tari), kekuatan atraktif (spektekel) dan juga garap karawitan yang dapat mendukung suasana yang diinginkan. Selain hal tersebut diatas karya ini akan dikemas menjadi sebuah karya Dance Film.Kata Kunci: Sugriwa Subali, Eksplorasi, Dance Film.ABSTRACTSugriwa Subali, June 2021. The Sugriwa Subali episode is a part of Kiskindakanda\u27s book which is very interesting for researchers to study in a dance piece. This episode is focusing on two siblings, Sugriwa and Subali, who have disagreements because of their different views on life. Subali was known for his high temperament and was easily abetted by Rahwana, while Sugriwa had a noble soul. Nowadays, the culture of urging someone to behave unlawfully is very common and it is well depicted by the two main characters, Sugriwa and Subali. This research is aimed at describing the movement exploration taken from the problems and misunderstanding caused by Rahwana\u27s provocation, which resulted in Subali\u27s death.This research is based on a creative movement exploration. The basic choreography is taken from monkeys’ movement combined with daily actions. Outpouring energy and time are given so that it could give an illusion of extraordinary imagination. To master this choreography, both physical and non-physical skills are essentials. This dance piece will be presented outdoor on a mountain around BatuBaleendah, Bandung. The aim of this dance piece will be reached by focusing on the kinetic energy and striking performance accompanied by a set of traditional musical instruments. This dance piece will also be adapted into a Dance Film.Keywords: Sugriwa Subali, Exploration, Dance Film

    PENGEMASAN TARI KUDA KEPANG DI SANGGAR GENTA SENTRAMAS

    Full text link
    ABSTRAK Sanggar Genta Sentramas merupakan salah satu sanggar tari Jawa yang berkembang di Kota Bandung Jawa Barat, dan satu satunya Sanggar yang sudah memiliki Akte Notaris. Akan tetapi sanggar ini belum mempunyai tenaga atau SDM yang mumpuni sehingga sangat sulit ketika mengadakan pertunjukan. Pada saat mengadakan pertunjukan, sanggar ini masih menggunakan metode lama dengan durasi yang cukup panjang hingga berjam jam dan tampak sangat membosankan. Pada kesempatan PKM kali ini program yang peneliti tawarkan adalah pelatihan rias dan pengemasan tari Kuda Kepang. Hal ini berawal ketika peneliti diundang untuk melihat pertunjukan. Ada dua point yang harus dibenahi pada sanggar ini, yaitu bagaimana membuat sebuah pertunjukan padat yang memikat dan disertai dengan rias yang dapat mengubah wajah yang jelek menjadi cantik, dan yang cantik semakin tambah cantik, sehingga ketika pertunjukan dapat hasil yang maksimal. Dalam PKM ini, peneliti melibatkan salah satu mahasiswa ISBI Bandung untuk diajak berolah rasa, pikir dan olah kreatifitas. Pengabdian Kepada Masyarakat di Sanggar Genta Sentramas ini dijadwalkan latihan seminggu 2 kali. Hal ini dilakukan karena peserta sanggar banyak yang mempunyai pekerjaan, diantaranya: Ojek online, penjual gorengan, dan pengusaha Rumah Makan, sehingga mereka perlu membagi waktu. Adapun sasaran dari Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah untuk menampilkan hasil PKM pada acara acara antar komunitas dan event event penting di Bandung dengan bentuk panggung proscenium maupun dipentaskan di alam terbuka atau out door. Kata Kunci: Rias, Pengemasan tari, Sanggar Genta Sentramas. ABSTRACT PACKAGING OF KUDA KEPANG DANCE IN GENTA SENTRAMAS STUDIO, DECEMBER 2023. Genta Sentramas Studio is one of the Javanese dance studios developing in Bandung West Java, and the only studio which has a Notarial Certificate. However, this studio does not have qualified personnel or human resources, so it is very difficult to hold performances. When holding a performance, this studio still uses the old method with a long duration of up to hours and looks boring. On this Community Service program, the researcher offered training program in the make-up and packaging of Kuda Kepang dance. This started when the researcher was invited to watch a performance. There are two points that must be addressed in this studio, namely how to create a solid performance that is attractive and accompanied with make-up that can change an ugly face into a beautiful one, and a beautiful one becomes even more beautiful, so that during the performance they can get maximum results. In this activity, the researcher involved one of the ISBI Bandung students to participate in practicing, thinking and creativity feelings. The Community Service activity at Genta Sentramas Studio is scheduled for doing practice twice a week. This is conducted since there are many studio participants having their own jobs, including: online motor bikers, fried food sellers, and restaurant entrepreneurs, so they need to arrange their time. The target of this Community Service program is to perform the results at inter-community agendas and important events in Bandung in the form of a proscenium stage or in the open or out door stages. Keywords: Make-up, dance packaging, Genta Sentramas Studio

    GUMREGAH KONSEP GARAP KARYA TARI KONTEMPORER

    Full text link
    Gumregah sebagai sebuah judul karya tari, bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang persoalan fenomena kehidupan di masyarakat yaitu pasca pandemic Covid 19. Kata Gumregah diambil dari kamus Bau Sastra Jawa Karangan Poerwadarminta 1939 yang mempunyai arti Bangkit (diambil dari kata dasar gregah). Pasca pandemi atau dapat dikatakan masa endemi merupakan situasi yang perlu diadabtasi oleh semua elemen masyarakat, termasuk mahasiswa ISBI Bandung. Persoalan ini sangat menarik untuk diagali lebih dalam melaui karya seni, yang memfokuskan pada kebangkitan proses belajar mengajar yang dihadapi oleh mahasiswa ISBI Bandung. Semangat untuk berolah rasa, olah piker, dan olah kreatifitas inilah dieksplorasi dan diungkit dalam sebuah karya, sehingga diharapkan menjadi suatu karya yang unik dan menarik. Covid 19 tidak mungkin hilang seratus persen, sehingga bagaimana kita dapat mensikapi dan berjalan seiring berdampingan tanpa kena efeknya. Dengan demikian, maka karya Gumregah akan digarap dalam bentuk tari kelompok dengan tipe dramatik, dengan pendekatan tradisi inovatif, memadukan komposisi koreografi yang sudah dirancang sedemikian rupa dengan tenik-tehnik digital. Selain hal tersebut, karya ini tidak hanya dipentaskan di panggung proscenium tetapi dikombinasikan dengan alam terbuka dengan landscape Pendopo. Kata Kunci: Gumregah, Eksplorasi, Dance Film. ABSTRACT: Gumregah The Concept Of Contemporary Dance Works. December 2022. Gumregah as the title of a dance work, aims to dig deeper into the problems of the phenomenon of life in society, namely after the Covid 19 pandemic. The word Gumregah is taken from the 1939 Dictionary of Javanese Literature by Poerwadar Minta which means to rise (taken from the root word gregah). After the pandemic or it can be said that the endemic period is a situation that needs to be adapted by all elements of society, including ISBI Bandung students. This issue is very interesting to explore more deeply through works of art, which focus on the revival of the teaching and learning process faced by ISBI Bandung students. This passion to exercise taste, exercise thought, and exercise creativity is explored and leveraged in a work, so that it is expected to be a unique and interesting work. Covid 19 cannot be lost one hundred percent, so how can we respond and walk side by side without being affected. Thus, Gumregah\u27s work will be worked on in the form of group dances with a dramatic type, with an innovative traditional approach, combining choreographic compositions that have been designed in such a way with digital techniques. Apart from that, this work is not only performed on the proscenium stage but is combined with the outdoors with the landscape of the Pendopo. Keywords: Gumregah, Exploration, Film Dance

    PELATIHAN RIAS DAN TARI DI SANGGAR GENTA SENTRAMAS

    Full text link
    Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat adalah bagian dari salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi yang harus dilaksakan oleh Dosen. Adapun pelaksanaannya dapat berupa PKM mandiri maupun lewat seleksi yang diadakan LPPM ISBI Bandung, melalui presentasi proposal. Pada kesempatan kali ini Peneliti mengajukan PKM di Kodya Bandung, adapun sasaran PKM adalah di Sanggar Gentasentramas yang beralamat di jalan BKR no 127 Kotamadya Bandung. Sanggar Gentasentramas merupakan salah satu sanggar tari Jawa yang berkembang di Jawa Barat dan satu satunya Sanggar yang sudah ber-Akte Notaris. Hanya sayang sanggar ini belum punya tenaga atau SDM yang mumpuni sehingga sangat repot ketika mengadakan pertunjukan. Pada saat mengadakan pertunjukan sanggar ini masih menggunakan metode lama yaitu sangat berjam jam ketika pertunjukan dan sangat membosankan. Pada kesempatan PKM kali ini program yang ditawarkan adalah pelatihan rias dan tari pada sanggar Genta Sentramas. Hal ini merujuk pada Peneliti ketika diundang untuk melihat pertunjukan. Ada dua point untuk yang harus dibenahi dalam sanggar ini yaitu bagaimana membuat sebuah pertunjukan padat yang memikat dan disertai rias yang dapat merubah wajah yang jelek menjadi cantik, dan yang cantik semakin tambah cantik. Sehingga Ketika melaksanakan pertunjukan dapat hasil yang maksimal. Dalam PKM ini, penulis akan melibatkan juga salah satu Mahasiswa ISBI Bandung untuk diajak berolah rasa, pikir dan olah kreatifitas di Sanggar Genta Sentramas.Pengabdian Kepada Masyarakat di Sanggar Genta Sentramas ini akan dijadwalkan seminggu 2 kali, Latihan. Hal ini dilakukan karena peserta sanggar banyak yang mempunyai pekerjaan, di antaranya, Ojol, penjual gorengan dan pengusaha Rumah Makan, sehingga perlu untuk bagi bagi waktu. Adapun sasaran dari Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah ingin menampilkan hasil PKM pada acara acara antar komunitas dan event event penting di Bandung dengan bentuk panggung proscenium maupun dipentaskan dialam terbuka atau out door. Kata Kunci: Rias, Pelatihan tari, Sanggar Gentasentramas

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore