4 research outputs found

    PEMBELAJARAN IPA TERPADU BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN PENGUASAAN KONSEP SISWA SMP

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan penguasaan konsep siswa SMP sebagai hasil penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Berbasis Masalah, serta mendapatkan gambaran mengenai tanggapan guru dan siswa mengenai Pembelajaran IPA Terpadu Berbasis Masalah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian quasi experiment dengan desain penelitian time-series design. Subjek penelitian kelas VIII di salah satu sekolah di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pembelajaran IPA Terpadu Berbasis Masalah secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan penguasaan konsep siswa. Peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa pada seri pembelajaran I dan II sebesar 0,28, sedangkan pada seri pembelajaran III sebesar 0,29 dan termasuk ke dalam kategori rendah. Sedangkan peningkatan penguasaan konsep siswa pada seri pembelajaran I sebesar 0,21 dan termasuk ke dalam kategori rendah, pada seri pembelajaran II sebesar 0,48 dan pada seri pembelajaran III sebesar 0,43 yang termasuk ke dalam kategori sedang. Guru dan siswa memberikan tanggapan positif terhadap Pembelajaran IPA Terpadu Berbasis Masalah. Dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran IPA Terpadu Berbasis Masalah dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan penguasaan konsep siswa SMP

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SIKLUS BELAJAR EMPIRIS INDUKTIF UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA

    No full text
    Pembelajaran fisika yang dikehendaki Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ialah pembelajaran yang menekankan pada pemberian pengalaman langsung, supaya dapat membina seluruh potensi siswa, salah satunya yaitu keterampilan berpikir kritis. Berdasarkan hasil observasi di salah satu SMA Negeri di kota Bandung, ditemukan bahwa proses pembelajaran fisika masih berpusat pada guru, siswa lebih banyak mendengar dan menulis apa yang diinformasikan guru, sehingga berdampak pada rendahnya keterampilan berpikir kritis siswa. Model pembelajaran siklus belajar empiris induktif menekankan pencarian pengetahuan secara aktif dan dapat dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa setelah diterapkan model pembelajaran siklus belajar empiris induktif. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experiment, dengan desain penelitiannya ialah one group pretest-postest time series design dan sampel penelitian satu kelas X yang berjumlah 39 orang. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan instrumen tes keterampilan berpikir kritis dan lembar observasi aktivitas siswa dan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa sebesar 23,40 % pada seri ke-1, 25,30 % pada seri ke-2, dan 27,70 % pada seri ke-3. Dan hasil uji hipotesis menggunakan uji Wilcoxon pada taraf kepercayaan 95% untuk setiap seri pembelajaran diperoleh Whitung=0 dan W0,05(39)=249,55, karena Whitung< W0,05(39) maka H0 ditolak yang berarti penerapan model pembelajaran siklus belajar empiris induktif secara signifikan dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa

    Tingkat Pengembalian Investasi Pendidikan di Kalimantan Barat Tahun 2018

    No full text
    Theoretically, human capital plays an important role in economic growth. In West Kalimantan, the government increase the education investment to improve human capital. This study aims to estimate the rate of return of education investment in West Kalimantan Province, Pontianak and Singkawang District. SAKERNAS 2018 individual data was analyzed using the Mincer Model and the Heckman’s Two-step procedure. The result show that the rate of return of education investment in West Kalimantan province is 3,83 percent. It means that each additional year of schooling will increase income by 3,83 percent. The rate of return of education investment in Pontianak and Singkawang District are 6,21 percent and 4,87 percent, respectively

    Response of Porang (Amorphophallus muelleri) to the Application of Arbuscular Mycorrhizal Fungi

    No full text
    Arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) are fungi that create symbiotic relationships with plant roots, enhance nutrient absorption, and aid in root growth initiation. The purpose of this study is to evaluate how porang plants (Amorphophallus muelleri) respond to AMF delivery at various doses. The study utilized a Completely Randomized Design with five treatments: MKK0 (control), MKK1 (15 g AMF/10 kg soil), MKK2 (25 g AMF/10 kg soil), MKK3 (35 g AMF/10 kg soil), and MKK4 (45 g AMF/10 kg soil). The characteristics measured were plant height, plant dry weight, and tuber weight. The results revealed that the MKK1 treatment produced the optimum response to the plant height of 40.75 cm, dry weight of 6.3 g, and tuber weight of 26.5 g. AMF at a dose of 15 g significantly boosted the growth and expansion of porang tubers. Due to the soil\u27s low nutrient availability, excessive AMF doses did not produce desirable outcomes. Thus, administering the appropriate dose of AMF can promote proper porang development. Keywords: Amorphophallus muelleri, arbuscular mycorrhizal fungi, optimal dosag
    corecore