198 research outputs found
Educational Attainment and Equality of Opportunity in Portugal and in Europe: The Role of School Versus Parental Influence
IMPLEMENTASI TERAPI RELAKSASI GENGGAM JARI UNTUK MENURUNKAN NYERI PADA KLIEN POST KOLESISTEKTOMI DI RSUD DR M YUNUS BENGKULU
Ketika terdapat batu empedu tetapi tidak mengalami gejala dan pasien memiliki
risiko rendah mengalami komplikasi, terapi Non Bedah diindikasikan. Namun, ketika pasien sering mengalami gejala, mengalami kolesistitis akut, atau memiliki
batu yang berukuran sangat besar, biasanya dilakukan pembedahan yang terbagi
menjadi kolesistektomiterbuka dan kolesistektomilaparoskopi. Pada pembedahan
kolesistektomiatau pengangkatan batu empedu yang dilakukan menyebabkan luka
pada tubuh klien, yang mana menimbulkan nyeri post operasi. Tujuan penelitian
ini untuk mengurangi masalah nyeri pada klien post operasi kolesistektomidengan
cara implementasi terapi relaksasi genggam jari. Metode yang digunakan studi
kasus dengan menggunakan pendekatan proses asuhan keperawatan dengan
membandingkan 2 klien yang dilakukan di Ruang Seruni RSUD Dr M Yunus
Bengkulu, pada tanggal 5-8 April 2024. Hasil yang didapatkan setelah dilakukan
terapi relaksasi genggam jari selama 15 menit dalam 3 hari berturut-turut
mengalami penurunan nyeri secara bertahap yaitu klien 1 mengatakan nyeri
berkurang setelah dilakukan terapi relaksasi genggam jari hari pertama dari skala
6 menjadi 5, hari kedua 5 menjadi 3, hari ketiga 3 menjadi 1 dan hari keempat
klien mengatakan sudah tidak merasakan nyeri. Dan pada klien 2 nyeri menjadi
berkurang setelah dilakukan terapi relaksasi genggam jari dan menjadi lebih rileks
hari pertama skala nyeri 5 berkurang menjadi 3 pada hari kedua skala nyeri 3
berkurang menjadi 2 dan pada hari ketiga klien mengatakan sudah tidak
merasakan nyeri. Di harapkan dari hasil penelitian ini dapat menambah
pengetahuan tentang penanganan nyeri pada klien post operasi kolesistektomi
dengan terapi relaksasi genggam jari. Kata kunci: Terapi Relaksasi Genggam Jari, Post Operasi Kolesistektom
GAMBARAN TINGKAT KEPUASAN LANSIA DALAM KEGIATAN POiSBINDU DI PUSKESMAS JEMBATAN KECIL KOiTA BENGKULU
Lanjut usia merupakan keloimpoik oirang yang sedang mengalami suatu proises
perubahan yang bertahap dalam jangka waktu tertentu. Lansia adalah salah satu
perioide dalam rentang kehidupan manusia yang dianggap sebagai fase
kemunduran. Jumlah lansia di dunia mengalami peningkatan seiring dengan
meningkatnya usia harapan hidup yang diperkirakan melebihi 625 juta jiwa pada
tahun 2025 lansia akan mencapai 1,2 milyar. Salah satu bentuk pelayanan
kesehatan yang dibentuk Pemerintah melalui layanan Puskesmas adalah kegiatan
Poisbindu Lansia. Poisbindu adalah Pois Binaan Terpadu dalam suatu bentuk
pelayanan kesehatan masyarakat dan untuk mensejahterakan lansia. Kegiatan ini
merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan
kesehatan bagi lansia untuk penyelenggaraan melalui proigram puskesmas.
Manfaat dari Poisbindu adalah untuk mengetahui pengetahuan lansia,
membudayakan gaya hidup yang sehat dan menjadi dasar pembentukan sikap
yang dapat mendoiroing minat atau moitivasi mereka untuk selalu mengikuti
kegiatan poisbindu lansia sehingga lebih percaya diri dan dapat mengisi luang
waktu lansia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat kepuasan
lansia dalam kegiatan poisbindu di puskesmas Jembatan Kecil Koita Bengkulu
tahun 2023 dengan metoide penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif.
Poipulasi pada penelitian ini berjumlah 60 lansia di Poisbindu dengan
menggunakan teknik toital sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini
menggunakan lembar kuesioiner. Hasil penelitian tingkat kepuasan dalam kegiatan
poisbindu yakni dengan kategoiri Puas (64,4%) dan kategoiri Tidak Puas (35,6%).
Sebagian respoinden berada pada kategoiri puas.
Kata Kunci : Lansia, Poisbindu, Tingkat Kepuasa
GAMBARAN PENGETAHUAN ANAK USIA SEKOLAH DASAR TERHADAP UPAYA PENCEGAHAN CACINGAN DI SD NEGERI 75 KOTA BENGKULU
Cacingan merupakan salah satu masalah kesehatan yang umum dialami
anak-anak usia sekolah dasar, terutama di wilayah dengan kondisi
lingkungan yang kurang higienis dan rendahnya penerapan perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS). Penyakit ini ditularkan melalui tanah dan sering
kali tidak disadari karena gejalanya bersifat ringan, namun dapat
mengganggu pertumbuhan, perkembangan, dan konsentrasi belajar anak.
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan anak
sekolah dasar terhadap upaya pencegahan cacingan di SD Negeri 75 Kota
Bengkulu. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif
kuantitatif dengan Sampel sebanyak 66 siswa kelas IV dan V dipilih melalui
teknik stratified random sampling. Instrumen yang digunakan berupa
kuesioner tertutup berisi 20 pertanyaan yang mengukur pengetahuan siswa
terkait definisi, penyebab, gejala, serta cara pencegahan cacingan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki pengetahuan
dalam kategori cukup sebanyak 31 siswa (48,8%), kategori baik sebanyak
19 siswa (27,9%) dan kategori kurang sebanyak 14 siswa (21,9%). Temuan
ini menunjukkan bahwa masih terdapat siswa yang belum memahami
pentingnya mencuci tangan, menjaga kebersihan kuku, menggunakan alas
kaki, serta mengonsumsi obat cacing secara berkala. Diharapkan dari
penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan siswa belum merata dan
perlu ditingkatkan melalui edukasi kesehatan secara sistematis dan
berkelanjutan, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Diharapkan
pihak sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan sangat penting untuk
menciptakan perilaku hidup sehat sejak dini.
Kata Kunci : Pengetahuan, Cacingan, Anak Sekolah Dasar, Pencegahan
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DIABETES MELITUS TENTANG PENCEGAHAN DIABETIC FOOT ULCER DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANGGUT ATAS KOTA BENGKULU
Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit kronis tidak menular yang
tidak dapat disembuhkan namun dapat dikendalikan. Diabetes melitus 1 adalah jenis
diabetes yang disebabkan oleh kurang nya produksi hormon insulin, sedangkan DM
Tipe 2 yaitu kondisi kronis dimana tubuh tidak memproduksi atau tidak
menggunakan insulin dengan efektif, Sangat penting bagi seseorang memiliki
pengetahuan tentang diabetes melitus tipe 2, karna hal ini dapat menyebabkan
komplikasi infeksi pada semua organ tubuh bahkan hingga menyebabkan kematian .
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat pencegahan diabetic
foot ulcer diwilayah kerja puskesmas anggut atas kota Bengkulu. Jenis penelitian ini
adalah analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dari penelitian ini
adalah seluruh pasien diabetes melitus tipe 2 di puskesmas anggut atas kota Bengkulu
yang berjumlah 68 orang. Metode pengumpulan data menggunakan lembar
kuesioner.uji stastic yang digunakan adalah chi-squer dengan r=0,967%. Hasil
penelitian menunjukkan hampir sebagian 50,0% responden berusia >60 tahun.
Hampir sebagian 74,0% responden berjenis perempuan.hampir sebagian 44,0%
responden SD,SMP. Hampir sebagian 40,0% responden memiliki pekerjaan
buruh.Hampir sebagian 52,0% responden memiliki pengetahuan baik.dan sebagian
kecil 22,0% responden memiliki pengetahuan kurang. Kesimpulan dari penelitian ini
adalah hampir sebagian baik(52,0%).
Kata Kunci: Diabetes Melitus, Pengetahu
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG PELECEHAN SEKSUAL DI SMAN 01 KOTA BENGKULU
Pelecehan seksual merupakan perbuatan yang mengarah keajakan atau
desakan seksual yang tidak dikehendaki yang membuat seseorang merasa
dipermalukan dan dirugikan. Terjadinya tindakan pelecehan seksual ini tidak lepas
dari minimnya pengetahuan yang dimiliki seseorang, serta beranggapan bahwa
tindakan, ucapan, gerakan yang bermakna seksual bukan merupakan bagian dari
pelecehan seksual dan tindakan yang tercela. Pengetahuan seseorang akan
mempengaruhi sikapnya, pengetahuan yang memadai akan membentuk sikap
positif. Tujuan penelitian ini adalah untuk diketahui gambaran tingkat
pengetahuan dan sikap remaja tentang pelecehan seksual pada remaja di SMAN
01 Kota Bengkulu. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportional stratified random
sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 267 orang. Alat ukur yang
digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Pada penelitian ini Analisis data
yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebagian besar (67,0%) remaja memiliki pengetahuan baik, dan hampir seluruh
(97,8%) memiliki kategori sikap positif tentang pelecehan seksual. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar atau bahan pertimbangan untuk
melanjutkan penelitian yang serupa dan peningkatan pelayanan kesehatan untuk
melakukan penyuluhan mengenai pelecehan seksual pada remaja. Kata kunci : Pelecehan, Pengetahuan, Remaja, Seksual dan Sika
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI) PADA REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI 3 KOTA BENGKULU
Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) merupakan salah satu cara untuk
mengetahui ada tidaknya kelainan pada payudara, hal ini penting dilakukan pada
remaja putri yang sudah memasuki masa pubertas untuk mendeteksi dini adanya
benjolan atau perubahan pada payudara karena hampir 85% benjolan payudara
dapat ditemukan oleh penderita itu sendiri. Tujuan penelitian untuk mengetahui
gambaran pengetahuan tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada
remaja putri di SMA Negeri 3 Kota Bengkulu. Jenis penelitian ini menggunakan
metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif menggunakan teknik accidental
sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 86 responden. Pengumpulan data
menggunakan kuesioner dengan 20 pertanyaan, dan di analisis menggunakan
analisis univariat. Hasil penelitian ini didapatkan 22 responden (26%)
berpengetahuan baik, 44 responden (51%) berpengetahuan cukup, dan 20
responden (23%) berpengetahuan kurang. Disarankan bagi remaja putri untuk
melakukan SADARI setiap bulan pada waktu 7 hari setelah menstruasi.
Kata Kunci : Pengetahuan, Remaja Putri, SADAR
IMPLEMENTASI TERAPI AUTOGENIC UNTUK MENGURANGI NYERI PADA PASIEN POST OPERASI TRANSURETHRAL RESECTION OF PROSTATE (TURP) PADA BENIGN PROSTAT HYPERPLASIA (BPH)
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan kondisi pembesaran jinak kelenjar
prostat yang sering dialami pria lanjut usia dan umumnya ditangani melalui
Transurethral Resection of Prostate (TURP). Namun, prosedur ini sering
menimbulkan nyeri pasca operasi yang dapat mengganggu aktivitas pasien. Terapi
non-farmakologis, seperti relaksasi autogenic, menjadi alternatif untuk mengurangi
nyeri tanpa menimbulkan efek samping obat. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui implementasi terapi relaksasi autogenic dalam menurunkan tingkat nyeri
pada pasien post operasi TURP di ruang rawat inap Seruni RSUD Dr. M Yunus
Bengkulu. Metode penelitian menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi
kasus. Partisipan berjumlah dua pasien post operasi TURP dengan skala nyeri sedang
(4–6). Intervensi dilakukan berupa terapi autogenic selama 10 menit, dua kali sehari,
dalam rentang waktu tiga hari. Pengumpulan data melalui wawancara, observasi, serta
dokumentasi, dengan penilaian intensitas nyeri menggunakan Numeric Rating Scale
(NRS). Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skala nyeri pada kedua pasien
setelah diberikan terapi autogenic secara konsisten. Pasien tampak lebih rileks,
ekspresi nyeri berkurang, tekanan darah dan frekuensi nadi membaik. Diskusi
menegaskan bahwa terapi autogenic efektif sebagai intervensi non-farmakologis
sederhana, murah, dan mudah diterapkan dalam praktik keperawatan untuk
manajemen nyeri pasca operasi TURP.
Kata Kunci: Benign Prostatic Hyperplasia, TURP, Nyeri, Terapi Autogeni
GAMBARAN KEMAMPUAN MENGENAL WARNA PADA ANAK USIA DINI 3-4 TAHUN MELALUI METODE BERNYANYI DENGAN DIIRINGI MUSIK
Pengenalan warna merupakan aspek fundamental dalam perkembangan kognitif
anak usia dini, khususnya pada fase praoperasional (3-4 tahun) dimana anak mulai
mengenali simbol termasuk warna dasar. Kemampuan anak untuk mengenal warna
dapat berkembang secara optimal jika diberikan stimulasi sejak usia dini, salah
satunya melalui kegiatan bermain karena pada dasarnya dunia anak-anak adalah
dunia permainan. Metode bernyanyi merupakan salah satu cara pembelajaran yang
paling disukai oleh anak-anak. Menggunakan metode bernyanyi, anak akan lebih
menikmati proses belajar mengenai konsep warna. Penelitian ini bertujuan untuk
melihat kemampuan mengenal warna pada anak usia dini 3-4 tahun melalui metode
bernyanyi dengan diiringi musik. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan
deskriptif kuantitatif dengan desain observasi pra pembelajaran dan pasca
pembelajaran setelah tiga minggu. Teknik pengambilan sampel menggunakan total
sampling dengan jumlah 31 anak. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi
menggunakan lembar checklist yang terdiri dari 16 aspek penilaian kemampuan
mengenal warna, dengan kategori penilaian baik (38–48), cukup (27–37), dan
kurang (16–26). Hasil observasi awal menunjukkan bahwa sebagian besar anak
berada dalam kategori kurang (61,2%), sebagian dalam kategori cukup (38,8%),
dan tidak ada yang termasuk dalam kategori baik (0%). Setelah dilakukan
pembelajaran dengan metode bernyanyi selama tiga minggu, hasil observasi
menunjukkan peningkatan signifikan, yaitu 93,5% anak berada pada kategori baik
dan 6,5% pada kategori cukup, serta tidak ada lagi anak dalam kategori kurang.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa metode bernyanyi dengan iringan musik
efektif dalam meningkatkan kemampuan mengenal warna anak usia dini. Metode
ini menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif, serta mampu
merangsang perkembangan kognitif melalui pendekatan multisensorik.
Kata kunci: Anak usia dini, Metode bernyanyi, Pengenalan warn
GAMBARAN POLA MAKAN PADA PENDERITA GASTRITIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NUSA INDAH KOTA BENGKULU
Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung bersifat akut dan kronik
disebabkan oleh beberapa faktor seperti adanya iritasi, infeksi dan tidak teraturnya
pola makan, seperti melewatkan waktu makan, makan tidak sesuai kebutuhan tubuh
serta mengkonsumsi makanan yang mengiritasi lambung seperti makanan pedas,
asam dan minuman iritatif. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi
Bengkulu pada tahun 2022 tercatat sebanyak 51.069 kasus gastritis, menempati
urutan ke 3 dari 10 penyakit terbanyak di fasilitas pelayanan kesehatan di provinsi
Bengkulu. Menjaga pola makan menjadi langkah awal dalam mencegah gastritis,
pola makan dapat dipengaruhi dari penggunaan bahan makanan dalam konsumsi
pangan meliputi jenis makanan, frekuensi makan, dan jumlah makanan. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui gambaran pola makan pada penderita gastritis di
wilayah kerja Puskesmas Nusa Indah Kota bengkulu. Metode penelitian deskriptif
kuantitatif. Populasi penelitian berjumlah 537 orang dan jumlah sampel sebanyak
41 responden menggunakan teknik insidental sampling. Pengumpulan data dalam
penelitian ini menggunakan kuisioner. Hasil penelitian hampir setengahnya berusia
26-45 tahun sebanyak 17 (41.5%), jenis kelamin sebagian besar perempuan yakni
sebanyak 27 (65.9%), pendidikan hampir setengahnya berpendidikan Sekolah
Menengah Atas 18 (43.9%), pekerjaan sebagian besar tidak bekerja yakni sebanyak
21 (51.2%), sosial ekonomi sebagian besar rendah sebanyak 26 (63.4%), dan
budaya hampir setengahnya suku Rejang sebanyak 13 (31.7%). Kesimpulan
penelitian sebagian besar responden mengalami pola makan kurang baik sebanyak
27 responden (65.9%) karena ketidakteraturan frekuensi makan, jenis makan dan
jumlah makan.
Kata kunci : Gastritis, lambung, pola maka
- …
