1,722,038 research outputs found
TARI ARJUNA SASRABAHU X SOMANTRI
ABSTRAKTari Arjuna Sasrabahu X Somantri merupakan salah satu jenis tari Wayang yang memiliki karakter dua tokoh yang berbeda yaitu; satria lungguh untuk tokoh Arjuna Sasrabahu dan satria ladak untuk tokoh Somantri. Tujuan penulis memilih tari Arjuna Sasrabahu karena memiliki keunikan yang terkandung di dalamnya, sehingga dapat membuka peluang untuk bisa menggali kreativitas untuk menggubah tarian sesuai dengan konsep garap. Untuk melakukan proses menggubah tarian ini, penulis menggunakan teori gegubahan, sedangkan metode yang digunakan ialah gubahan tari, yaitu; pengembangan atau menambahkan gerak-gerak atau unsur baru, dengan tidak menghilangkan unsur-unsur pokok yang terkandung dalam tarian ini. Proses garap penyajian Tari Arjuna Sasrabahu X Somantri ini telah melalui beberapa tahapan, yaitu: tahapan eksplorasi, evaluasi dan komposisi. Dengan demikian, melalui gubahan ini yang meliputi daya kreativitas; penambahan variasi dalam segi koreografi, khususnya penambahan maupun pemadatan gerak, pengembangan dalam segi pola lantai, arah hadap, dan arah gerak dengan tetap memperhatikan unsur gerak pokok, hasil akhir nya adalah suatu bentuk dan gaya penyajian baru yang berbeda tetapi tentunya tidak menghilangkan esensi dari tarian sumber nya.Kata Kunci: Penyajian Tari, Tari Wayang, Arjuna Sasrabahu X Somantri, Gubahan Tari.ABSTRACTDance Arjuna Sasrabahu X Somantri, June 2021. Arjuna Sasrabahu X Somantri dance is a type of Wayang dance that has two different characters, namely; satria lungguh for the character of Arjuna Sasrabahu and satria ladak for the character of Somantri. The author\u27s goal is to choose the Arjuna Sasrabahu dance because it has the uniqueness contained in it, so that it can open up opportunities to explore creativity to compose dances according to the concept of working. To perform the process of composing this dance, the author uses the theory of composition, while the method used is dance composition, namely; development or adding new movements or elements, without eliminating the main elements contained in this dance. he process of working on the presentation of the Arjuna Sasrabahu X Somantri Dance has gone through several stages, namely: exploration, evaluation and composition. Thus, through this composition which includes the power of creativity; the addition of variations in terms of choreography, especially the addition and compaction of motion, development in terms of floor patterns, facing directions, and motion directions while still paying attention to the basic motion elements, the end result is a new form and presentation style that is different but certainly does not eliminate the essence of the dance. its source.Keywords: Dance Presentation, Wayang Dance, Arjuna Sasrabahu X Somantri Dance, Gubahan Tari
Penyajian Tari Arjuna Sasrabahu - Somantri
AbstrakTari Arjuna Sasrabahu-Somantri termasuk rumpun Tari Wayang berpasangan dengan karakter Satria Lungguh (Arjuna Sasrabahu) dan Satria Ladak (Somantri). Tari tersebut berlatar belakang cerita wayang yang mengisahkan perang tanding kedua satria tersebut. Pertandingan dimenangkan oleh Arjuna Sasrabahu, dan Somantri menjadi marah. Kemudian ia menunjukkan jati diri sebagai titisan Wisnu, serta ber-triwikrama, menjadikan dirinya seorang raksasa besar berkepala seribu. Untuk menjadikan tarian ini berbeda dari semula, dan juga tidak terperosok ke dalam garapan dramatari, maka diperlukan langkah yang tepat untuk mengembangkannya. Adapun interpretasi dalam pengembangan tarian ini hanya menyangkut ’bentuk penyajiannya’ yang meliputi gerak, iringan, rias busana, property, setting, dan lighting.Kata Kunci: Tari Perang Arjuna Sasrabahu, Somantri, Wayang AbstractArjuna Sasrabahu-Somantri Dance is included in the type of couple Puppet Dance with the character of Satria Lungguh (Arjuna Sasrabahu) and Satria Ladak (Somantri). The dance is based on puppet story telling about duel of the two knights. The battle was won by Arjuna Sasrabahu, and Somantri became angry. Then he showed himself as the incarnation of Vishnu, and became triwikrama, made himself a thousand-headed big giant. To make this dance is different from the original, and also not to fall into dance drama, it takes appropriate steps to develop it. The interpretation of the development of this dance involves only \u27form of presentation\u27 which includes movement, accompaniment, costume, properties, settings, and lighting.Keywords: Tari Perang Arjuna Sasrabahu, Somantri, Wayang
Penelaahan terhadap tari anjasmara karya R. tjetje Somantri
R. Tjetje Somantri lebih dikenal dan lebihkreatif dalam menciptakan tari-tarian putri. Terwujudnya tari anjasmara yaitu setelah r> Tjetje Somantri mempelajari tari topeng Cirebon khususnya setelah beliau mempelajari tarian topeng Cirebon dari Elang Oto Dendakusuma putera Pangeran Kanoman Cirebon.dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa Tari anjasmara karya R. Tjetje Somantri di studio tari Indra dengan tari anjasmara karya R. Tjetje Somantri di lingkung seni BAle Bandung ternyata terdapat perbedaan atau tidak sam
R.Tjetje Somantri (1892-1963) Tokoh Pembaharu Tari sunda
Buku yang diangkat dari tesis S-2 pada program Pasca Sarjana UGM Yogyakarta ini akan mengenali lebih dekat kiprah seni Tjetje Somantri dalam konstelasi dunia tari Sunda. Di buku ini akan dibahas beberapa hal berkisar pada latar belakang kultural-historis masa sebelum munculnya karya tari Tjetje Somantri dan mentalitas budaya yang melatarbelakangi sehingga dapat menghasilkan karya - karya tari yang sedemikian maju, perjalanan karier kepenarian Tjetje Somantri yang menjadikannya sebagai seorang yang terbuka dan kreatif pada zamannya, juga latar belakang munculnya tari-tarian putri tjetje Somantri yang konon karyanya itu muncul terinspirasi oleh tari Jawa
KREATIVITAS IRAWATI DURBAN DALAM TARI SUNDA GAYA TJETJE SOMANTRI
AbstrakKreativitas Irawati Durban sebagai penari dan kreator tari gaya R. Tjetje Somantri terlihat sangat handal dewasa ini, melalui kreasinya, tari R. Tjetje Somantri tetap diminati di berbagai lapisan masyarakat kota Bandung. Fokus pembahasan tulisan ini adalah mengkaji kreativitas Irawati Durban dalam tari Sunda. Ia dipandang sebagai sosok penari dan kreator yang mengembangkan diri melalui tarian gaya R. Tjetje Somantri secara konsisten dalam sanggar tari Pusbitari sebagai wadah berkreasinya yang telah memberi kontribusi terhadap perkembangan tari pertunjukan di kota Bandung. Kiprahnya telah diakui oleh berbagai pihak, baik di kalangan masyarakat, akademik maupun di kalangan pemerintah.Pembahasan ini selain memfokuskan kreativitas Irawati Durban yang telah memberi warna dalam perkembangan tari Sunda di kota Bandung, juga mengungkap gaya Irawati Durban dalam mengekspresikan tari gaya R.Tjetje Somantri dalam kreasinya, baik dari segi koreografi dan ekspresi, maupun juga tata busananya.Kata Kunci: Irawati Durban, Kreativitas, Gaya tari Tjetje SomantriAbstractThe creativity of Irawaty Durban as a dancer and as a reliable creator of R. Tjetje Somantri dancing style in this decade, through her creation in R. Tjetje Somantri dancing style, is well accepted still by the people around Bandung city.The focus of this research is to observe the creativity of Irawati Durban in Sundanese dances. Since she is considered as the self well-developed dancer and the creator who consistently expand the dancing style of R. Tjetje Somantri through Pusbitari dancing studio, as a medium for her creativeness, has been giving massive contribution for the dancing show development in Bandung city. Her dedication is now being acknowledged by society, academics, and government. This research, then, focuses on the progress of Irawati Durban who has made the development of Sundanese dances more colorful. This study identifies how Irawati Durban expresses the R. Tjetje Somantri dancing style through her creativeness from its choreography and its expression as well as its costume.Keywords: Irawati Durban, creativity, R. Tjetje Somantri dancing styl
R. Tjetje Somantri (1892-1963) tokoh pembaharu Tari Sunda
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kehadiran karya-karya Tjetje Somantri, bagaimana bentuk karya-karyanya serta sejauh mana perkembangannya. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tarian Tjetje Somantri tumbuh dan berkembang melalui wadah organisasi B.K.I., dimaksudkan sebagai tari pertunjukan yang bertema ringan , yang lebih menekankan nilai-nilai untuk mendukung penyelenggaraan karya tersebut. Karya-karya Tjetje merupakan hasil akulturasi dari perbendaharaan gerak yang dimilikinya yaitu tari Tayub, tari wayang, tari Topeng Cirebon dan tari Jawa, yang diolah kembali menurut daya interpretasinya ke dalam bentuk koreografi baru dengan gaya tersendiri, gaya Tjetje Somantri yang bernafaskan ekspresi individual
Kreativitas Rd. Tjetje Somantri dalam Tari Puja
ABSTRACTThe Puja dance is the product of Raden Tjetje Somantri’s creativity, in which there is a touch of SundanesePriyayi culture and Javanese dance. The dance is included in the classic Sundanese dance. This paperintends to examine how creativity Rd. Tjetje Somantri in the Puja dance. The method used is qualitativewith a descriptive analysis approach, namely through observation, in-depth interviews, and parentalobservation. From the analysis it is known that there is a touch of Javanese culture that has been going onfor a long time, and the influence of Javanese culture which is identified with the behavior of ‘alus’ moreinfluences Sundanese style dance Rd. Tjetje Somantri. This alus culture originates from the concept ofprijaji which is symbolized by a gentle behavior called ‘alus’. Some Sundanese dances influenced by ‘alus’culture include the Puja style Rd.Tjetje Somantri style. The result of creativity there is also a pattern ofrelationships that occur from the touch, namely 1) Cooperation that is marked by contact between ethnicJavanese and Sundanese, and competition in terms of creating dance works of art. The results obtainedshow the Puja Gaya Rd.Tjetje dance from the intact choreography aspects of Javanese dance, Sundanesedance techniques and styles.Keywords: Creativity, Puja dance, Rd.Tjetje SomantriABSTRAKTari Puja merupakan hasil kreativitas Rd. Tjetje Somantri, yang di dalamnya terdapat sentuhanbudaya Priyayi Sunda dan Tari Jawa. Tarian tersebut termasuk dalam Tari Sunda Klasik.Tulisan ini bermaksud untuk mengkaji bagaimana kreativitas Rd. Tjetje Somantri dalam tariPuja. Metode yang digunakan kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis yaitu melaluipengamatan, wawancara mendalam, dan observasi parsitipan. Dari hasil analisa diketahuiadanya sentuhan budaya Jawa sudah berlangsung lama, dan pengaruh budaya Jawa yangdiidentikkan dengan perilaku alus lebih banyak mempengaruhi tarian sunda gaya Rd. TjetjeSomantri. Budaya alus ini berasal dari konsep priyayi yang disimbolkan dengan perilaku yanglemah lembut yang disebut alus. Beberapa tarian Sunda yang dipengaruhi budaya alus diantaranya Tari Puja gaya Rd.Tjetje Somantri. Hasil dari kreativitas terdapat juga pola hubunganyang terjadi dari sentuhan tersebut, yakni 1) Kerjasama yang ditandai adanya kontak antaraetnis Jawa dan etnis Sunda, dan kompetisi yaitu dalam hal menciptakan karya-karya seni tari.Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan Tari Puja Gaya Rd.Tjetje dari aspek koreografiutuh Tari Jawa, teknik dan gaya Tari Sunda.Kata Kunci: Kreativitas, Tari Puja, Rd.Tjetje Somantr
Rekonstruksi Epistemologis Pendidikan IPS sebagai Disiplin Ilmu Terintegrasi (Refleksi Filosofis Biografi Intelektual Nu’man Somantri )
Tujuan penelitian jangka panjang adalah menghasilkan sebuah rekonstruksi epistemologis pendidikan IPS sebagai disiplin ilmu terintegrasi yang dapat dijadikan sebagai ”paradigma bersama” atau ”shared commitment” di tingkat komunitas PIPS di Indonesia. Target khusus penelitian adalah mendeskripsikan: (1) pemikiran atau gagasan utama Somantri tentang PIPS sebagai syhnthetic discipline; (2) jaringan pemikiran Somantri dengan pemikiran para pakar PIPS yang menjadi referensi utama berkenaan dengan PIPS sebagai
syhnthetic discipline; (3) kelebihan dan kekurangan pemikiran Somantri tentang PIPS sebagai syhnthetic discipline; dan (4) tingkat keberterimaan pemikiran Somantri tentang PIPS sebagai syhnthetic discipline di kalangan komunitas PIPS.
Penelitian menggunakan metode kualitatif-interpretif. Sumber data terdiri dari: (1) sumber primer: naskah-naskah atau karya-karya tulis ilmiah Nu’man Somantri yang telah dihimpun dan diterbitkan dalam buku biografi intelektual
subjek, ”Menggagas Pembaharuan Pendidikan” (2001); dan (2) sumber sekunder: naskah-naskah atau karya-karya ilmiah tertulis dari pakar PIPS lainnya yang bermuatan ”filosofis” (epistemologis) dan memiliki kaitan substantif dengan
pemikiran Somantri. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi, dan dianalisis menggunakan analisis isi Holsti, dan fenomenologi-hermeneutik
Ricoeur. PIPS sebagai ”synthetic discipline” dalam pemikiran Somantri adalah sebuah disiplin/program yang bersifat merger atau sinergis dari dua atau lebih
disiplin ilmu yang setara untuk tujuan PIPS. PIPS sebagai “synthetic discipline” adalah identitas, jati-diri, ciri khas, dan “faculty culture” FPIPS dan pascasarjana
PIPS, yang memiliki empat status akademik: advance knowledge, middle studies, primary structure, dan pendidikan disiplin ilmu. PIPS sebagai ”synthetic discipline” dikembangkan berdasarkan landasan teoretis-filosofis (epistemologis, ontologis, dan aksiologis); dan memiliki jaringan infrastruktur akademik di lingkungan
perguruan tinggi/universitas; organisasi profesi; lembaga penelitian dan pengembangan; dewan redaksi/editor/reviewer; dan/atau Kelompok Kerja Guru PIPS di jenjang persekolahan. Jaringan infrastruktur akademik tersebut—walaupun belum matang—telah memungkinkan mereka memiliki pola pikir,
bicara, menulis karya ilmiah, metode/pendekatan bersama dalam memperoleh, menyusun, mengembangkan, dan menggunakan body of knowledge PIPS. Pemikiran Somantri tentang PIPS sebagai ”synthetic discipline” memiliki jaringan pemikiran dengan para pakar seperti Edgar Bruce Wesley, Welton-Mallan, dan Earl Shepard Johnson, yang sekaligus menjadi referensi utamanya.
Secara teoretik, pemikiran Somantri memiliki kelebihan/kekuatan dilihat dari: (1) perspektif ”perbandingan” teori-filsafat pendidikan dan PIPS; (2) paradigma PIPS sebagai ”synthetic discipline”; (3) sintesis antara extraceptive knowledge dan intraceptive knowledge. Kekurangan/kelemahannya dapat dikaji dari persoalan filosofis penggunaan konsep ”simplifikasi” PIPS sebagai “synthetic discipline”; dan keterkaitan antara konten dan tujuan PIPS. Tingkat keberterimaan pemikiran Somantri tentang PIPS sebagai “synthetic discipline” termasuk
dalam tipologi “konsensus datar/lunak” (benign/flat consensus). Sebuah tipologi konsensus yang kontestasinya tidak memperlihatkan kontroversi, fragmentasi dan spesialisasi skala luas antar-pakar, yang memungkinkan
terjadinya “revolusi keilmuan”
Kajian etnokoreologi Tari arjuna sasrabahu vs somantri di stsi bandung
Tari Arjuna Sasrabahu Vs Somantri merupakan tari yang termasuk ke dalam genre tari wayang, dengan jenis tari perang putra yang berkarakter satria lungguh dan satria ladak terungkap dalam cerita galur Mahabharata termasuk Bharatayudha. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan karakteristik gerak, rias, dan busana serta nilai-nilai yang terkandung pada tarian tersebut. Metode penelitian yang digunakan deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif yang dikaji melalui kajian etnokoreologi yang terfokus pada bagian teks dan konteks. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dokumentasi, studi pustaka, serta analisis data dengan menggunakan triangulasi. Hasil penelitian bahwa salah satu tari wayang yaitu Tari Arjuna Sasrabahu Vs Somantri merupakan salah satu produk wayang wong Kayat dari Bandung memiliki tiga tingkatan ragam gerak yaitu gerak ngalaga, perang patokan, dan perang campuh. Berdasarkan kajian etnokoreologi karakteristik gerak ngalaga diwakili oleh gerak nenggeul gondewa (trisi, kepret soder, tanjrag) dangan kategori Locomotion, perang patokan diwakili oleh gerak adeg-adeg (lontang kewong soder) kategori Pure movement, dan perang campuh diwakili oleh gerak nojos nengkep mundur-maju kategori Gesture. Karakteristik rias terletak pada garis-garis riasan wajah yang digunakan sehingga mampu membedakan karakter kedua tokoh, sedangkan karakteristik busana terletak pada penggunaan warna busana, penggunaan motif atau lereng sinjang, pemakaian soder payun, dan makuta.
Kata kunci: Etnokoreologi, Tari Arjuna Sasrabahu Vs Somantri.
Dance Arjuna Sasrabahu Vs Somantri is a dance that belongs to the genre of dance puppet, with this kind of war dance princess character and noble knight lungguh and knight ladak revealed in the story lines including bharatayudha. The purpose of this study was to describe the characteristics of movement, make up, and fashion as well as the values contained in the dance. The method used descriftive analysis with a qualitative approach in the review through etnokoreologi study focused on the text and context. The data collection techniques used were observation, interviews, documentation, library research, and data analysis by using triangulation. The results of research that one puppet dance that dance Arjuna Sasrabahu Vs Somantri is one product wayang Kayat of Bandung has three levels of range of motion, namely motion ngalaga, benchmark war, and war campuh. Based on the study of motion characteristics ngalaga etnokoreologi represented by motion nenggeul gondewa (trisi, kepret soder, tanjrag) by category locomotion, war is represented by the motion benchmark adeg-adeg (lontang kewong soder) category pure movement, and war campuh represented by motion nojos nengkep mundur-maju category gesture. Characteristics of the dressing is on the lines of makeup that is used so as to distinguish the character of the two figures, while the characteristics of fashion lies in the use of fashion colors, patterns or gradients sinjang lereng, usage soder payun, and makuta.
Said his key: Etnokoreologi, dance Arjuna Sasrabahu Vs Somantr
TARI KENDIT BIRAYUNG KARYA R. TJETJE SOMANTRI
Penelitian ini berjudul Tari Kendit Birayung Karya R. Tjetje Somantri. Tari Kendit Birayung diciptakan pada tahun 1947, yang dikategorikan sebagai tari klasik. Saat ini, eksistensi tari Kendit Birayung mengalami penurunan drastis dan sudah jarang dipertunjukan sehingga tidak banyak orang mengenal tarian ini. Fokus utama masalah penelitian ini adalah1) latar belakang terciptanya tari Kendit Birayung, 2) rias, busana dan iringan musik tari Kendit Birayung karya R. Tjetje Somantri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan yang berkaitan dengan tari Kendit Birayung. Hal ini peneliti berharap dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang ingin melestarikan dan mencintai karya seni tari sebagai warisan budaya khususnya di Jawa Barat. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif melalui pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, studi dokumentasi dan studi pustaka. Hasil penelitian tari Kendit Birayung menunjukan bahwa tarian tersebut terinspirasi dari cerita rakyat yaitu Ande-ande lumut yang menggambarkan raja kepiting bernama Kendit Birayung. Dari segi koreografi di dalamnya sudah tertata susunan gerak yang jelas dan teratur sesuai dengan konsep koreografi, untuk rias busananyadisesuaikan dengan karakter Kendit Birayung yang memadukan warna merah, biru dan emas, serta iringan musik tari Kendit Birayung menggunakan laras salendro dengan lagu genggong. Kesimpulan pada penelitian ini adalah tari Kendit Birayung karya R. Tjetje Somantri memiliki latar belakang cerita yang jelas, koreografi tersusun rinci, untuk rias dan busana mendominasi warna merah sehingga dapat mendukung karakter sesuai dengan latar belakang cerita serta iringan musik memiliki ketentuan tersendiri menggunakan lagu ageung (klasik) bernama genggong.;--The tittle of this research is Kendit Birayung Dance By R. Tjetje Somantri. Kendit Birayung Dance was created in 1947, which is categorized as a classical dance. Currently, the existence of Kendit Birayung dance has decreased drastically and is rarely performed, so there are not many people know about this dance. The main focuses of this research problem are 1) the background of Kendit Birayung dance, 2) makeup, costume and dance music accompaniment of Kendit Birayung by R. TjetjeSomantri. This study aims to describesomething that relatesto Kendit Birayung dance. There searcher hopes to provide some benefits for peoples who wants to preserve and love the dance art as a cultural heritage, especially in West Java. The researchmethod used descriptive method through qualitative approach. The data collecting technique done by observation, interview, documentation study and literature study. The results of Kendit Birayung dance research shows that the dance is inspired from the folklore story of Ande-ande Lumut which is obtained a king of crab named Kendit Birayung. In terms of choreography in it is organized the movement arrangementclearly andreguralyaccording to the concept of choreography, for the costume and makeup adjusted with Kendit Birayung characters that combines red, blue and goldcolours, and the dance music accompaniment of Kendit Birayung used laras salendro with a song named genggong. The conclusion of this research is Kendit Birayung dance by R. TjetjeSomantri has a clear story background, detailed choreography, themakeup and costume dominated with red colour, so that it can support the characters according to the storybackground and the music accompaniment has its own provisions using the song ageung( classic) named genggong
- …
