1,720,963 research outputs found

    ANALISIS KONDISI FLUKS ELEKTRON DI SABUK RADIASI ELEKTRON LUAR BERDASARKAN MEDAN MAGNET ANTARPLANET (BZ) DAN KECEPATAN ANGIN MATAHARI (ANALYSIS OF ELECTRON FLUX CONDITION IN OUTER ELECTRON RADIATION BELT BASED ON INTERPLANETARY MAGNETIC FIELD (BZ) AND SOL

    Full text link
    Interplanetary space is a hazard precursor for solar eruption toward earth. The solar eruptions enhance electron flux that can lead to anomalies, shifts, and permanent damage to spacecraft, e.g. satellites. The data used in this paper are interplanetary space data represented by interplanetary magnetic field (Bz) and solar wind speed, as well as Dst and AE indexes as comparison indicating disturbance has reached Earth’s poles and equator during 2011-2012. The method used is to determine the value of maximum and minimum Bz in the year 2011-2012 which is taken five days before and after. Analysis and calculation of correlation is done to data of Bz-electron flux and solar wind velocity-electron flux. Clarification of disturbence in interplanetary space and outer electron radiation belt is using index data Dst and AE indexes are used to clarify interplanetary space and outer electron radiation belt disturbances. The aim of this study is to determine the characteristics of interplanetary space that can increase the electron flux so that the space weather early warning can be done. It was found that the period of electron flux enhancement after decrease and increase of Bz was 2 to 3 days. The electron flux would enhance when interplanetary space was in its normal condition at solar wind speed 500 km/sec and Bz is -5 nT to +5 nT. Electron flux correlation with solar wind velocity was better than with Bz. ABSTRAKKondisi ruang antarplanet merupakan prekursor bahaya erupsi matahari terhadap bumi. Erupsi matahari dapat menyebabkan peningkatan fluks elektron. Tingginya fluks elektron dapat menyebabkan anomali, pergeseran, dan kerusakan permanen pada wahana antariksa, misal satelit. Data yang digunakan pada makalah ini adalah data ruang antarplanet yang diwakili oleh kondisi medan magnet antarplanet (Bz) dan kecepatan angin matahari yang merupakan prekursor peningkatan fluks elektron serta data indeks Dst dan indeks AE sebagai pembanding bahwa gangguan telah mencapai kutub dan ekuator bumi selama rentang waktu 2011-2012. Metode yang digunakan adalah menentukan nilai Bz maksimum dan minimum dalam tahun 2011-2012 yang selanjutnya dari penanggalan data tersebut diambil data lima hari sebelum dan sesudah. Analisis dan perhitungan korelasi dilakukan terhadap data Bz-fluks elektron dan kecepatan angin matahari-fluks elektron. Klarifikasi gangguan yang terjadi di ruang antarplanet dan sabuk radiasi elektron luar menggunakan data indeks Dst dan indeks AE. Tujuan ditulisnya makalah ini adalah untuk mengetahui karakteristik kondisi ruang antarplanet yang dapat meningkatkan fluks elektron agar peringatan dini cuaca antariksa dapat dilakukan. Hasil yang didapatkan adalah waktu yang dibutuhkan fluks elektron setelah terjadi penurunan dan peningkatan Bz adalah 2 hingga 3 hari, fluks elektron akan meningkat saat kondisi ruang antarplanet normal yaitu pada kecepatan 500 km/detik dan Bz -5 nT hingga +5 nT, korelasi fluks elektron dengan kecepatan angin matahari lebih baik dibanding fluks elektron dengan Bz

    Analisis Kondisi Fluks Elektron Di Sabuk Radiasi Elektron Luar Berdasarkan Medan Magnet Antarplanet (Bz) Dan Kecepatan Angin Matahari

    No full text
    Kondisi ruang antarplanet merupakan prekursor bahaya erupsi matahari terhadap bumi. Erupsi matahari dapat menyebabkan peningkatan fluks elektron. Tingginya fluks elektron dapat menyebabkan anomali, pergeseran, dan kerusakan permanen pada wahana antariksa, misal satelit. Data yang digunakan pada makalah ini adalah data ruang antarplanet yang diwakili oleh kondisi medan magnet antarplanet (Bz) dan kecepatan angin matahari yang merupakan prekursor peningkatan fluks elektron serta data indeks Dst dan indeks AE sebagai pembanding bahwa gangguan telah mencapai kutub dan ekuator bumi selama rentang waktu 2011-2012. Metode yang digunakan adalah menentukan nilai Bz maksimum dan minimum dalam tahun 2011-2012 yang selanjutnya dari penanggalan data tersebut diambil data lima hari sebelum dan sesudah. Analisis dan perhitungan korelasi dilakukan terhadap data Bz-fluks elektron dan kecepatan angin matahari-fluks elektron. Klarifikasi gangguan yang terjadi di ruang antarplanet dan sabuk radiasi elektron luar menggunakan data indeks Dst dan indeks AE. Tujuan ditulisnya makalah ini adalah untuk mengetahui karakteristik kondisi ruang antarplanet yang dapat meningkatkan fluks elektron agar peringatan dini cuaca antariksa dapat dilakukan. Hasil yang didapatkan adalah waktu yang dibutuhkan fluks elektron setelah terjadi penurunan dan peningkatan Bz adalah 2 hingga 3 hari, fluks elektron akan meningkat saat kondisi ruang antarplanet normal yaitu pada kecepatan 500 km/detik dan Bz -5 nT hingga +5 nT, korelasi fluks elektron dengan kecepatan angin matahari lebih baik dibanding fluks elektron dengan Bz.Hlm.39-5

    KORELASI ANTARA BILANGAN SUNSPOT DENGAN BANYAKNYA KEJADIAN BADAI GEOMAGNET (THE CORRELATION OF SUNSPOT NUMBER AND GEOMAGNETIC STORM EVENTS)

    No full text
    Penelitian untuk mengetahui keterkaitan antara bilangan sunspot dengan indeks Disturbance Storm Time (Dst) yang merupakan indeks gangguan geomagnet pada lintang rendah telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keterkaitan antara bilangan sunspot tahunan dengan kejadian badai geomagnet yang ditentukan berdasarkan indeks Dst yang telah dikelompokkan menjadi empat kelas yaitu (1) -50 ? Indeks Dst ? -30 (2) -100 ? Indeks Dst ? -50 (3) -200 ? Indeks Dst ? -100 (4) Indeks Dst ? -200 nT. Data bilangan sunspot dan indeks Dst diperoleh dari data NOAA tahun 1957-2008 (sesuai dengan siklus matahari 11 tahunan). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah membandingkan pola siklus bilangan sunspot dengan pola banyaknya kejadian badai geomagnet berdasarkan indeks Dst yang selanjutnya dilakukan uji regresi dan korelasi. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah pola siklus bilangan sunspot sama persis dengan banyaknya kejadian badai geomagnet. Regeresi linear menghasilkan koefisien determinasi mencapai 0,571 dan koefisien korelasi 0,756. Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa bilangan sunspot memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai banyaknya kejadian badai geomagnet.hal. 31-41 : ilus. ; 23 c

    Pengaruh CIR Dan CME Terhadap Fluks Elektron Sepanjang Tahun 2011 (The Effect Of CIR And CME On The Electron Flux In 2011)

    No full text
    Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS) merupakan sistem pemantauan dan prediksi kondisi cuaca antariksa dengan menggunakan data lokal maupun global yang mencakup kondisi Matahari, Geomagnet, dan Ionosfer. Untuk mendukung program SWIFtS dilakukan penelitian terkait dengan analisis kejadian substorm terhadap fluks elektron dan indeks Dst. Dalam penelitian tersebut digunakan data fluks elektron, indeks AE, dan indeks Dst tahun 2011. Ketiga data tersebut merupakan data global. Data fluks elektron dari NOAA GOES15 dengan energi > 2 MeV. Data indeks AE dan indeks Dst diperoleh dari arsip World Data Center. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah membandingkan pola fluks elektron, indeks AE, dan indeks Dst saat terjadi substrom terkait badai geomagnet. Substorm dalam penelitian ini diidentifikasi berdasarkan besarnya indeks AE. Terdapat lima kejadian dengan indeks AE terbesar yang digunakan sebagai studi kasus. Hasil dari penelitian ini adalah pola yang dibentuk oleh fluks elektron, indeks Dst, dan indeks AE terhadap peristiwa Coronal Mass Ejection (CME) dan Corotating Interaction Region (CIR) menunjukkan perbedaan. Fluks elektron akibat CIR memiliki amplitudo lebih tinggi dibanding dengan CME. Indeks Dst saat CIR menunjukkan aktivitas badai lemah sedangkan pada saat CME hingga badai kuatHlm.163-17

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado
    corecore