59 research outputs found
Hubungan Sarapan dengan Asupan Jajanan Siswa Peserta dan Bukan Peserta PROGAS di Kabupaten Cianjur
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengetahuan gizi dan asupan sarapan serta jajanan siswa sekolah dasar peserta (SDN Pamoyanan) dan bukan peserta (SDN Ciwalen Peuntas) PROGAS di Kabupaten Cianjur. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional study dengan melibatkan 67 subjek. Penelitian dilaksanakan bulan November 2018 hingga Juli 2019. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk karakteristik subjek, keluarga dan pengetahuan, food recall 2x24 jam untuk konsumsi pangan, dan Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk frekuensi konsumsi jajanan. Pengetahuan gizi subjek dari dua sekolah termasuk dalam kategori kurang (0.05). Terdapat hubungan signifikan antara pekerjaan ayah dan pengetahuan gizi dengan asupan jajanan, serta asupan karbohidrat sarapan dengan asupan lemak jajanan (p<0.05)
Biaya Makan, Ketersediaan Energi Dan Zat Gizi, Serta Tingkat Kecukupan Gizi Mahasiswa Di Penyelenggaraan Makanan Asrama
Biaya makan yang ditetapkan untuk menyelenggarakan makanan perlu
direncanakan dengan baik sehingga dapat menyediakan makanan sesuai dengan
kebutuhan gizi konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan
biaya makan terhadap ketersediaan energi dan zat gizi di penyelenggaraan
makanan asrama. Desain penelitian adalah cross sectional yang dilakukan bulan
April-Juni 2016. Pengambilan data konsumsi dilakukan dengan metode food
weighing dan food record selama 4 hari. Contoh penelitian berjumlah 57
mahasiswa (39 laki-laki dan 18 perempuan) dengan usia 20-23 tahun. Dana yang
digunakan untuk penyelenggaraan makanan sebesar Rp87 500 per orang per hari.
Sebagian besar biaya dialokasikan untuk biaya bahan pangan (45.90%). Rata-rata
ketersediaan energi dan zat gizi di asrama mahasiswa belum memenuhi kebutuhan
gizi mereka. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif antara biaya
makan dengan ketersediaan energi (p<0.05, r =-0.170), ketersediaan protein
(p<0.05, r = -0.418), dan ketersediaan lemak (p<0.05, r =-0.652). Terdapat
hubungan positif antara biaya makan dengan ketersediaan karbohidrat (p<0.05,r =
0.255)
Biaya Makan, Ketersediaan Energi dan Zat Gizi, serta Tingkat Kecukupan Gizi Mahasiswa di Penyelenggaraan Makanan Asrama
Biaya makan yang ditetapkan untuk menyelenggarakan makanan perlu
direncanakan dengan baik sehingga dapat menyediakan makanan sesuai dengan
kebutuhan gizi konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan
biaya makan terhadap ketersediaan energi dan zat gizi di penyelenggaraan
makanan asrama. Desain penelitian adalah cross sectional yang dilakukan bulan
April-Juni 2016. Pengambilan data konsumsi dilakukan dengan metode food
weighing dan food record selama 4 hari. Contoh penelitian berjumlah 57
mahasiswa (39 laki-laki dan 18 perempuan) dengan usia 20-23 tahun. Dana yang
digunakan untuk penyelenggaraan makanan sebesar Rp87 500 per orang per hari.
Sebagian besar biaya dialokasikan untuk biaya bahan pangan (45.90%). Rata-rata
ketersediaan energi dan zat gizi di asrama mahasiswa belum memenuhi kebutuhan
gizi mereka. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif antara biaya
makan dengan ketersediaan energi (p<0.05, r =-0.170), ketersediaan protein
(p<0.05, r = -0.418), dan ketersediaan lemak (p<0.05, r =-0.652). Terdapat
hubungan positif antara biaya makan dengan ketersediaan karbohidrat (p<0.05,r =
0.255)
Pengembangan Produk Bee Pollen Snack Bar untuk Anak Usia Sekolah
Pollen atau serbuk sari merupakan alat penyebaran dan perbanyakan dari
generatif tanaman berbunga. Bee pollen yang merupakan kumpulan serbuk sari
tanaman yang bercampur dengan nektar, air liur dan senyawa fermentasi pada
pintu masuk sarang lebah. Umumnya produk hasil lebah yang seringkali terdengar
manfaatnya bagi kesehatan adalah madu dan propolis (Nakajima, 2009), padahal
bee pollen juga termasuk produk lebah yang kaya manfaat (Campos, 2008). Bee
pollen merupakan sumber makanan bagi para lebah pekerja, oleh karena itu
komposisi bee pollen sangat kaya zat gizi (Dong et al. 2014). Bee pollen telah
terbukti tidak mengandung zat yang berbahaya sebagai bahan makanan (Estevinho
et al. 2011).
Potensi bee pollen sebagai makanan yang dapat menunjang kesehatan dan
gizi, terutama gizi anak-anak karena mengandung asam amino yang tinggi. Anakanak
membutuhkan banyak energi untuk aktivitasnya, peran camilan sangat
penting dalam memberikan kontribusi energi pada kebutuhan harian anak (Candra
et al. 2013). Salah satu jenis camilan dengan kandungan padat energi adalah snack
bar (Rachmawati et al. 2017). Snack bar yang memiliki sebutan lain yaitu energy
bar atau protein bar merupakan sejenis camilan yang padat energi atau protein
yang merupakan campuran dari berbagai bahan makanan yang dipadatkan dalam
bentuk batang, umumnya adalah bahan makanan yang digunakan adalah kacangkacangan,
buah-buahan dan sereal.
Anak-anak seringkali mengonsumsi camilan atau jajanan yang tidak sehat
(Husby et al. 2009). Keberadaan camilan yang sehat sangat diperlukan untuk
membantu anak-anak dalam membuat pilihan jajanan yang lebih baik. Hal ini
didukung oleh pernyataan World Health Organization yang menyarankan industri
makanan untuk lebih banyak mengembangkan makanan yang sehat dan
terjangkau bagi konsumen (WHO 2004). Pengembangan produk bee pollen snack
bar merupakan suatu langkah yang tepat sebagai alternatif camilan anak sekolah
sehat yang dapat meningkatkan asupan gizi, imunitas dan berpotensi dalam
meningkatkan performa belajar anak.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah melakukan pengembangan bee
pollen snack bar untuk anak usia sekolah. Tujuan khusus penelitian ini adalah 1)
membuat formulasi bee pollen snack bar, 2) melakukan uji organoleptik yang
meliputi uji hedonik dan mutu hedonik dari bee pollen snack bar, 3) menganalisis
kandungan gizi, ketersediaan mineral Fe dan Zn dan komposisi asam amino bee
pollen snack bar, 4) mengetahui daya terima anak usia sekolah terhadap bee
pollen snack bar, 5) menghitung kontribusi zat gizi per takaran saji dan estimasi
harga produk.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian Experimental dengan
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor perlakuan adalah
penambahan bee pollen pada lima formula yaitu F0, F1, F2, F3 dan F4. Penentuan
taraf penambahan bee pollen dilakukan berdasarkan pertimbangan trial and error
yang dilakukan sebelum penetapan formula. Lima formula diuji daya terimanya
pada uji organoleptik. Terdapat lima formula yang merupakan F0 (kontrol) yaitu
formula snack bar tanpa penambahan bee pollen, F1 yaitu formula dengan
penambahan bee pollen sebesar 3%, F2 merupakan formula dengan penambahan
5% bee pollen, F3 merupakan formula dengan penambahan 10% bee pollen dan
F4 adalah formula dengan penambahan 15% bee pollen. Uji organoneptik
dilakukan pada 30 panelis semi terlatih untuk menentukan formula terpilih dan
kesan panelis terhadap produk. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan
Microsoft Excel 2010 dan SPSS 16.0 for Windows. Analisis ini diperuntukan
untuk mengetahui pengaruh perlakukan dan tingkat kesukaan panelis terhadap
formula produk. Data hasil organoleptik dianalisis dengan menggunakan uji
Kruskal Wallis yang dilanjutkan dengan melakukan uji beda menggunakan
prosedur Dunn.
Uji organoleptik yang dilakukan adalah uji hedonik dan uji mutu hedonik.
Formula terpilih dari hasil uji organoleptik adalah formula F2 yang merupakan
formula snack bar dengan penambahan 5 % bee pollen, akan tetapi penambahan
5 % bee pollen pada snack bar tidak cukup untuk memenuhi rekomendasi bee
pollen per hari, sehingga formula terpilih untuk tahapan penelitian selanjutnya
adalah formula F3 yang merupakan formula snack bar dengan penambahan 10 %
bee pollen. Uji daya terima snack bar juga dilakukan pada anak usia sekolah pada
30 orang siswa dengan menggunakan facial hedonic scale. Snack bar dengan
penambahan 10 % bee pollen mendapat respon yang positif dari anak usia sekolah.
Sebanyak 96 % dari siswa, yang merupakan anak usia 9-10 tahun menyukai
produk snack bar.
Tahapan penelitian selanjutnya adalah analisis kandungan zat gizi,
ketersediaan mineral Fe dan Zn, kapasitas antioksidan dan komposisi asam amino
dari snack bar dengan penambahan 10 % bee pollen. Kandungan gizi dari snack
bar memenuhi syarat mutu kue kering (cookies) SNI 01-2973-2011. Kandungan
kadar air snack bar adalah 5.91 %, abu 1.72 %, protein 11.30 %, lemak 16.52 %
dan karbohidrat 64.52 %. Aktivitas antioksidan dari snack bar dianalisis
menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyil-2pycrylhydrazyl-radical-scavenging),
hasilnya adalah 10.77 mg ascorbic acid g-1, hal ini dapat diartikan bahwa 1 gram
produk dapat menghambat aktivitas radikal bebas setara dengan 10.77 miligram
asam askorbat (vitamin C). Ketersediaan mineral Fe dan Zn dianalisis dengan
menggunakan metode in vitro, hasil yang diperoleh adalah 17.02 mg kg-1 dan
6.84 mg kg-1. Analisis total asam amino menyatakan bahwa produk snack bar
memiliki kandungan asam amino yang lengkap, asam glutamat merupakan asam
amino dengan skor tertinggi, disusul oleh leusin dan arginin. Setelah melakukan
serangkaian tahapan penelitian yang meliputi uji daya terima, analisis kandungan
gizi, dan penerimaan anak usia sekolah, turut dihitung pula kontibusi zat gizi
berdasarkan Acuan Label Gizi (ALG). Berdasarkan perhitungan kontribusi
kecukupan zat gizi terhadap ALG, rekomendasi konsumsi snack bar yang dapat
mencukupi kebutuhan akan selingan per hari adalah sebanyak 4 batang. Estimasi
harga yang dilakukan pada snack bar lebih tinggi dibandingan dengan harga snack
bar komersil yaitu Rp 8130
Pengaruh Kemasan Pelepah Pisang terhadap Mutu dan Daya Cerna Protein in Vitro Tempe Kedelai (Glycine max)
Tempe yang berkualitas harus mempertimbangkan beberapa aspek, salah satunya kemasan. Tujuan penelitian ini menganalisis pengaruh kemasan terhadap mutu dan daya cerna protein in vitro tempe kedelai. Hasil uji organoleptik yaitu tingkat kesukaan panelis lebih tinggi pada tempe kedelai yang dibungkus pelepah pisang selama 20 jam (P2) dibandingkan dibungkus dengan daun pisang (P1) dan pelepah pisang selama 40 jam (P3). Hasil uji proksimat tempe kedelai dengan perlakuan pengemasan yaitu kadar air 57.29-60.03%, kadar abu 1.04 - 1.13%, kadar protein 19.21-20.52%, kadar lemak 9.39-11.21% dan karbohidrat (by different) 10.34-10.96 %. Terdapat perbedaan yang nyata (p<0.05) kadar protein sampel P2, serta kadar lemak sampel P2 dan P3 dibandingkan sampel P1. Daya cerna protein pada masing-masing perlakuan yaitu berkisar 86.44-86.78% dan nilai tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang nyata
Biaya Makan dan Ketersediaan Zat Gizi Makanan dalam Pelayanan Makanan Siswi di Boarding School
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan biaya makan terhadap ketersediaan zat gizi makanan dan tingkat kecukupan gizi. Desain penelitian ini menggunakan cross-sectional study dan dilakukan pada bulan Mei - September 2017 di SMA Islamic Boarding School, Kabupaten Bogor. Subjek terdiri dari 74 orang siswi, usia 16-18 tahun, dipilih secara purposive sampling. Data penelitian terdiri dari data primer dan sekunder dengan melakukan wawancara, observasi, dan pengisian kuesioner. Pengambilan data konsumsi dilakukan dengan metode food recall 1x24 jam dan food record selama 6 hari. Tingkat ketersediaan energi, protein, dan lemak makanan belum memenuhi kebutuhan gizi subjek. Tingkat kecukupan energi dan protein total termasuk defisit berat, defisit untuk lemak total, dan karbohidrat total berlebih. Hasil uji korelasi menunjukan terdapat hubungan yang positif antara biaya makan dengan ketersediaan energi (r=0.790; p<0.001), protein (r=0.645; p=0.003), dan karbohidrat (r=0.694; p=0.001). Hasil uji korelasi menunjukan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara biaya makan dengan tingkat kecukupan energi (r=0.657; p=-0.052), protein (r=0.496; p=0.080), lemak (r=0.113; p=-0.186), dan karbohidrat (r=0.625; p=0.058)
Mutu dan Potensi Inhibitor Enzim Alfa Glukosidase pada Produk Makanan berbasis Pati Sagu (Metroxylon sp.).
Diabetes mellitus tipe 2 (DM) merupakan kelainan metabolik yang rumit
dengan komplikasi jangka pendek dan panjang yang tidak diinginkan. Pengaturan
diet dan penggunaan pangan fungsional merupakan pendekatan lain dalam
pengelolaan DM selain perawatan medis. Pangan fungsional adalah pangan yang
dianggap memiliki manfaat fisiologis dan/atau berpotensi mengurangi risiko
penyakit kronis disamping fungsi gizi dasar pangan tersebut dengan syarat
mengandung/menambahkan komponen dengan efek kesehatan positif seperti serat
dan pati resisten. Pati sagu (Metroxylon sp.) memiliki keunggulan kandungan
serat dan pati resisten yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pati sagu dapat
dikembangkan menjadi pangan fungsional bagi penderita diabetes mellitus.
Penambahan sumber pangan fungsional lain dalam pembuatan produk
makanan/minuman diabetes akan membantu dalam pengendalian glukosa darah.
Oleh karena itu, penambahan pangan lain yang sudah terbukti dapat memperbaiki
glukosa darah sangat diperlukan dalam pembuatan pangan fungsional seperti
tempe. Ekstrak tempe, melalui penghambatan ezim alfa glukosidase, akan
menyebabkan jumlah monosakarida yang diserap usus menjadi berkurang
sehingga menghambat kenaikan glukosa darah. Ketersediaan pangan fungsional di
pasaran khusus untuk penderita diabetes mellitus masih sangat terbatas. Makanan
yang diolah dengan cara dipanggang, dikukus, disetup, direbus, dan dibakar
merupakan salah satu syarat makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi oleh
penderita diabetes mellitus dengan tujuan mengurangi asupan kalori. Oleh karena
itu, puding, muffin kukus, dan cookies menjadi pilihan dalam pengembangan
pangan fungsional.
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menentukan formula terbaik dalam
pembuatan makanan fungsional (puding, muffin, dan cookies) berbasis pati sagu
untuk penderita diabetes mellitus; (2) menganalisis karakteristik fisikokimia
(kekerasan produk, kadar serat pangan, kadar pati resisten, dan daya cerna pati)
makanan fungsional (puding, muffin, dan cookies) berbasis pati sagu secara in
vitro; (3) menganalisis potensi penghambatan enzim alfa glukosidase secara in
vitro pada ekstrak puding, muffin, dan cookies. Penelitian ini menggunakan
desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perbandingan komposisi pati
sagu dan tempe yaitu F1 (2: 1) dan F2 (1: 1) dengan dua kali ulangan.
Panelis semi-terlatih direkrut dari mahasiswa Departemen Gizi Masyarakat,
FEMA, IPB untuk mengevaluasi atribut sensorik dari masing-masing produk.
Analisis kekerasan produk menggunakan metode 74-09, kadar air menggunakan
metode gravimetri, kadar abu menggunakan metode dry ashing, kadar protein
menggunakan metode mikro-kjeldahl, kadar lemak menggunakan metode
soxhlet, dan kadar karbohidrat dihitung by difference. Analisis serat makanan,
pati resisten, kecernaan pati, dan potensi penghambatan enzim alfa glukosidase
menggunakan metode enzimatik.
Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa F2 merupakan formula terpilih untuk
puding dan muffin serta F1 merupakan formula terpilih untuk cookies. Puding
terpilih dengan kekerasan 83.47 gf mengandung 92.28% air, 0.28% abu, 1.04%
protein, 0.64% lemak, 5.76% karbohidrat, 3.95% serat pangan, dan 0.81% pati
resisten. Muffin terpilih dengan kekerasan 3861.87 gf mengandung 56.18% air,
0.79% abu, 6.49% protein, 10.26% lemak, 26.28% karbohidrat, 7.13% serat
pangan, dan 3.59% pati resisten. Cookies terpilih dengan kekerasan 1655.02 gf
mengandung 5.05% air, 0.90% abu, 4.90% protein, 19.66% lemak, 69.49%
karbohidrat, 9.57% serat pangan, dan 6.00% pati resisten. Puding dikategorikan
sebagai pangan sumber serat dengan kadar pati resisten yang dapat diabaikan,
muffin dikategorikan sebagai pangan tinggi serat dengan kadar pati resisten
menengah, dan cookies sebagai pangan tinggi serat dengan kadar pati resisten
tinggi. Ekstrak puding, muffin, dan cookies memiliki potensi inhibitor enzim α-
glukosidase dengan nilai aktivitas yang rendah. Oleh karena itu, produk ini
berpotensi menjadi makanan fungsional terutama untuk penderita diabetes
mellitus karena mengandung serat dan pati resisten
Praktik Hidup Sehat Dan Persepsi Tubuh Ideal Remaja Putri Sma Negeri 1 Kota Bogor
The research aims were to study healthy living practices and perceptions of ideal body among female students. Design of the research was cross sectional study conducted in October 2010 in senior high school 1 Bogor city. Sample consisted of 40 students thin and 40 students normal. The results showed no significant relationship between personal hygiene practices, smoking practice, sports practice and healthy food practice with the nutritional status (p> 0.05). Vitamin C were the most frequet supplements consumed by the thin group (47.5%) and (45.0%) by the normal group. The thin nutritional status (75.0%) and normal (60.0%) have a negative body perception. It is recommended that the female students perception fit with their actual body size
Estimasi Asupan Flavonoid Dan Karotenoid Pada Usia Dewasa Di Indonesia.
Kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) di dunia dan Indonesia
semakin meningkat. Salah satu pencegahan PTM adalah peningkatan konsumsi
sayur dan buah yang mengandung flavonoid dan karotenoid. Estimasi asupan
flavonoid dan karotenoid masih berbeda antar negara dan belum pernah dilakukan
di seluruh wilayah Indonesia.
Tujuan umum dari penelitian ini untuk melakukan estimasi asupan flavonoid
dan karotenoid pada usia dewasa di tingkat provinsi dan seluruh wilayah Indonesia
dengan tujuan khusus antara lain: (1) Mengetahui kandungan flavonoid dan
karotenoid bahan pangan di Indonesia; (2) Menganalisis perbedaan konsumsi
kelompok pangan sumber flavonoid dan karotenoid berdasarkan karakteristik
subjek pada usia dewasa; (3) Menganalisis perbedaan asupan flavonoid dan
karotenoid berdasarkan karakteristik subjek dan konsumsi kelompok pangan pada
usia dewasa; (4) Menganalisis hubungan antara karakteristik subjek dan konsumsi
kelompok pangan terhadap asupan flavonoid dan karotenoid; (5) Mengetahui
gambaran konsumsi kelompok pangan dan asupan flavonoid dan karotenoid
berdasarkan riwayat PTM pada usia dewasa.
Penelitian ini menggunakan data sekunder SKMI 2014 dan RISKESDAS
2013. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Agustus 2016. Desain penelitian
yang digunakan adalah cross-sectional dengan jumlah subjek sebesar 86 036
subjek. Kriteria inklusi yang ditetapkan adalah subjek dengan kondisi biologis
“sehat” dan berusia ≥19 tahun. Kandungan flavonoid dan karotenoid didapatkan
dari USDA Database for the Flavonoid Contents of Selected Food Release 3.2
tahun 2015, USDA Database for the Isoflavone Contents of Selected Food Release
2 tahun 2008, USDA National Nutrient Database for Standard Reference, Release
28 tahun 2015, TKPI dan jurnal ilmiah lainnya. Analisis bivariat yang digunakan
uji Mann-Whitney dan Kruskall-walls Analisis multivariat yang digunakan adalah
uji regresi logistik.
Pengembangan database flavonoid dan/atau karotenoid menghasilkan 857
bahan pangan (71%) mengandung flavonoid dan/atau karotenoid. Kelompok
pangan dengan rata-rata kandungan flavonoid tertinggi adalah kacang-kacangan
dan biji (45.36 mg/100 g). Kelompok pangan dengan rata-rata kandungan
karotenoid tertinggi adalah sayuran dan hasil olahannya (3 658.34 μg/100 g).
Jumlah seluruh subjek sebesar 86 036 subjek, yang terdiri dari 53.0% perempuan,
49.2% berusia 30-49 tahun, 55.1% berdomisili di perdesaan, 69.0% berpendidikan
rendah, 67.2% bekerja, dan 62.3% berstatus ekonomi tinggi. Konsumsi kelompok
pangan yang paling besar berkontribusi pada asupan flavonoid dan karotenoid
adalah umbi-umbian dan hasil olahannya (rata-rata konsumsi 31.4 g/hari), kacangkacangan
dan biji (rata-rata 47.9 g/hari), sayuran dan hasil olahannya (rata-rata 71.8
g/hari), buah dan hasil olahannya (rata-rata 36.8 g/hari), bumbu dan hasil olahannya
(rata-rata 15.4 g/hari) dan minuman (rata-rata 16.4 g/hari). Konsumsi kelompok
pangan sumber flavonoid dan karotenoid lebih besar pada subjek perempuan,
berusia 50-64 tahun, di perkotaan, berpendidikan rendah, bekerja, berstatus
ekonomi tinggi dan memiliki riwayat PTM. Median asupan total flavonoid subjek
adalah 25.02 mg/hari. Asupan total flavonoid lebih besar pada perempuan, berusia
50-64 tahun, di perkotaan, berpendidikan tinggi, bekerja, status ekonomi tinggi dan
memiliki riwayat PTM. Median asupan total karotenoid subjek adalah 551.62
μg/hari. Asupan total karotenoid lebih besar pada perempuan, berusia 30-49 tahun,
di perkotaan, berpendidikan tinggi, tidak bekerja, status ekonomi tinggi dan
memiliki riwayat PTM. Usia, jenis kelamin, klasifikasi daerah, status ekonomi, dan
konsumsi kelompok pangan berhubungan signifikan dengan asupan total flavonoid.
Semua karakteristik subjek dan konsumsi kelompok pangan berhubungan
signifikan dengan kuartil rendah asupan total karotenoid.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa asupan total flavonoid dan
karotenoid di Indonesia masih rendah. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh
konsumsi kelompok pangan sumber flavonoid dan karotenoid terutama sayur dan
buah di Indonesia masih rendah. Berdasarkan hasil penelitian ini perlu dilakukan
peningkatan upaya sosialisasi peningkatan konsumsi sayur dan buah sebagai
sumber flavonoid dan karotenoid melalui kerjasama berbagai pihak
Tingkat Kepatuhan Konsumsi Biskuit Lele (Clarias gariepinus) Tinggi Protein dan Status Gizi Lansia Peserta Poslansia, Kelurahan Limo, Depok
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tingkat kepatuhan konsumsi biskuit lele (Clarias gariepinus) tinggi protein dan status gizi pada lansia peserta Poslansia Dahlia Senja, Kelurahan Limo, Kota Depok. Penelitian ini merupakan penelitian pra-eksperimental dengan desain one group pretest-posttest dan total sampel 41 orang lansia. Sampel adalah pria/wanita usia 45-74 tahun, peserta Poslansia Dahlia Senja dengan beberapa kriteria inklusi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2014 - Januari 2015. Uji beda Paired Sample t-Test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan (p<0.01) pada rata-rata asupan zat gizi, tingkat kecukupan energi, dan tingkat kecukupan protein pada sampel antara awal dan akhir intervensi. Tingkat kepatuhan konsumsi biskuit seluruh sampel tergolong tinggi, terdapat 46.3% sampel dengan tingkat kepatuhan 100% dan rata-rata tingkat kepatuhan 96.5%. Alasan kepatuhan sampel sebagian besar didasari keinginan untuk menjadi lebih sehat (57.9%)
- …
