1,721,010 research outputs found

    Eksplorasi dan Identifikasi Cendawan Antagonis terhadap Rigidoporus lignosus Penyebab Jamur Akar Putih pada Karet

    No full text
    Industri karet berperan dalam peningkatan pendapatan petani, masyarakat, dan negara, juga dalam pembuatan produk, serta peranan terhadap pelestarian lingkungan. Salah satu hambatan dalam pengembangan budidaya karet adalah adanya penyakit jamur akar putih yang disebabkan oleh Rigidoporus lignosus. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dan mengidentifikasi cendawan antagonis terhadap R. lignosus. Penelitian dilakukan dengan mengambil contoh tanah dari tanaman karet dan kelapa sawit untuk dibuat suspensi. Suspensi dibuat seri pengenceran hingga tingkat pengenceran 10-5, masing-masing seri pengenceran tersebut diambil sebanyak 1 ml suspensi dan dibiakkan pada media potato dextrose agar (PDA). Uji antagonisme in vitro antara agens antagonis dengan R. lignosus dilakukan dengan menggunakan metode dual culture. Pengamatan dilakukan dengan mengukur jari-jari koloni patogen yang menjauhi isolat cendawan kandidat dan jari-jari koloni patogen yang mendekati isolat cendawan kandidat, serta menghitung penghambatan kandidat agens antagonis. Identifikasi menggunakan compound microscope. Dari hasil isolasi cendawan rhizosfer diperoleh 26 isolat kandidat antagonis, 10 isolat diantaranya memiliki kemampuan antagonisme terhadap patogen R. lignosus. Hasil identifikasi menunjukkan sebanyak tiga isolat adalah Trichoderma harzianum, enam isolat adalah Gliocladium virens, dan satu isolat adalah Penicillium resticulosum. Mekanisme antagonis yang dilakukan oleh T. harzianum dan G. virens adalah hiperparasit, antibiosis, lisis, dan kompetisi ruang. Sedangkan untuk P. resticulosum adalah kompetisi ruang

    Eksplorasi Agens Biokontrol Asal Rhizosfer Bambu untuk Pengendalian Mati Meranggas (Botryodiplodia theobromae Pat.) Pala.

    No full text
    Bambu merupakan tumbuhan yang tahan terhadap berbagai cekaman. Hal ini disebabkan oleh sifat disease suppressive soil pada rhizosfer bambu yang terjadi karena kemampuan populasi mikroba saprofit dari golongan bakteri dan cendawan dalam menekan perkembangan populasi patogen. Pengendalian hayati merupakan alternatif pengendalian penyakit tanaman yang dapat dilakukan tanpa memberikan efek negatif terhadap lingkungan dan bersifat berkelanjutan sehingga dapat mempertahankan keseimbangan ekosistem. Agens biokontrol berperan penting dalam menjaga kepadatan populasi patogen sehingga keseimbangan ekosistem dapat terwujud. Saat ini, penyakit mati meranggas yang disebabkan oleh Botryodiplodia theobromae Pat. telah dilaporkan di Kabupaten Aceh Selatan sebagai penyakit penting pada pertanaman pala. Studi ini bertujuan untuk memperoleh agens biokontrol asal rhizosfer bambu yang berpotensi dalam menekan pertumbuhan B. theobromae. Berdasarkan hasil studi, diperoleh tujuh isolat bakteri dan satu isolat Trichoderma sp. yang berpotensi in vitro dalam menghambat pertumbuhan B. theobromae. Kedelapan isolat tersebut tidak bersifat patogenik terhadap tanaman dan aman bagi mamalia. Isolat bakteri yang diperoleh mampu menekan pertumbuhan B. theobromae melalui mekanisme kompetisi, antibiosis dan enzimatis. Trichoderma sp. menghambat pertumbuhan B. theobromae melalui mekanisme kompetisi ruang dan nutrisi dan hiperparasitisme. Ketujuh isolat bakteri dan satu isolat Trichoderma sp. asal rhizosfer bambu berpotensi sebagai agens biokontrol untuk mengendalikan penyakit mati meranggas pada pala

    Identifikasi Cendawan Penyebab Mati Meranggas pada Cengkih (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M.Perry) di Kabupaten Pekalongan.

    No full text
    Cengkih (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M.Perry) merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari kepulauan Maluku. Selama ini, penyebab mati meranggas pada cengkih di Indonesia diidentifikasi dari golongan bakteri yaitu Ralstonia syzygii. Ternyata, dilaporkan pula asosiasi dari organisme pengganggu tanaman lainnya yaitu penggerek batang dan cendawan kanker batang yang dapat menyebabkan mati meranggas pada cengkih. Sampai saat ini, belum ada laporan identifikasi yang spesifik mengenai cendawan tersebut. Oleh karena itu, dilakukan suatu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang akurat mengenai cendawan penyebab mati meranggas pada tanaman cengkih. Manfaat dari penelitian ini dapat menjadi dasar utama dalam menyusun strategi pengendalian mati meranggas pada tanaman cengkih. Penelitian dilakukan dari Februari hingga Juli 2017. Metode yang dilakukan yaitu pengambilan contoh tanah rizosfer dan ranting cengkih sakit dari perkebunan cengkih di Desa Domiyang, Paninggaran, Sawangan, dan Tanggeran, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan. Selanjutnya dilakukan isolasi cendawan, kemudian diidentifikasi berdasarkan karakter morfologi. Sebanyak 50 isolat cendawan berhasil diperoleh dari 8 jenis cendawan yang berbeda yakni Botryodiplodia theobromae sebanyak 30 isolat, Fusarium sp. 1 sebanyak 1 isolat, Fusarium sp. 2 sebanyak 1 isolat, Gliocladium spp. sebanyak 2 isolat, Trichoderma spp. 1 sebanyak 5 isolat, Trichoderma sp. 2 sebanyak 1 isolat, Trichoderma spp. 3 sebanyak 2 isolat, dan cendawan kode RaCkDPT sebanyak 8 isolat. Berdasarkan hasil postulat Koch cendawan yang dominan menyebabkan mati meranggas pada tanaman cengkih teridentifikasi sebagai Botryodiplodia theobromae

    Potensi Asap Cair untuk Penghambatan Penyebab Mati Meranggas (Botryodiplodia theobromae Pat.) pada Tanaman Jeruk

    No full text
    Penyakit mati meranggas Botryodiplodia theobromae merupakan salah satu masalah dalam produksi jeruk di Indonesia. Asap cair dilaporkan memiliki sifat antifungi, memacu pertumbuhan tanaman, dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Kemampuan asap cair tempurung kelapa dalam menghambat B. theobromae belum pernah dilaporkan sehingga masih perlu dievaluasi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh dosis asap cair tempurung kelapa yang efektif dalam menghambat pertumbuhan B. theobromae penyebab mati meranggas tanaman jeruk. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikologi Tumbuhan dan Rumah Kaca Cikabayan IPB pada bulan Februari sampai Juli 2019. Asap cair yang digunakan merupakan koleksi dari Laboratorium Mikologi Tumbuhan Institut Pertanian Bogor, isolat uji B. theobromae berasal dari Situ Gede dan bibit jeruk berasal dari Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Malang. Pengujian in vitro yang dilakukan dengan mengevaluasi daya hambat asap cair terhadap pertumbuhan B. theobromae pada media PDA. Pengamatan dilakukan terhadap penghambatan pertumbuhan B. theobromae sejak hari pertama setelah isolasi sampai pertumbuhaan B. theobromae pada kontrol memenuhi cawan petri. Pengujian fitotoksisitas asap cair dilakukan dengan penyemprotan asap cair sebanyak 10 ml ke batang tanaman jeruk yang telah dilukai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asap cair dengan konsentrasi ≥4% tidak direkomendasikan untuk diaplikasikan karena bersifat fitotoksik. Asap cair dengan kosentrasi 1.75% efektif menghambat pertumbuhan cendawan B.theobromae secara in vitro dengan penghambatan sebesar 40.56%

    Eksplorasi Khamir Epifit sebagai Agens Antagonis Patogen Gugur Daun Karet (Coynespora cassiicola (Berk. & Curt.) Wei).

    No full text
    Karet (Hevea brasiliensis) merupakan tanaman ekspor yang sangat penting sebagai sumber devisa negara dan merupakan sumber penghidupan sebagian penduduk Indonesia. Produksi karet di Indonesia tidak terlepas dari serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dapat menurunkan kuantitas dan kualitas panen. Salah satu penyebab penurunan produksi karet yaitu penyakit gugur daun Corynespora (PGDC) oleh cendawan Corynespora cassiicola. Metode pengendalian yang efektif, murah, dan aman diperlukan untuk menggantikan fungisida dalam pengendalian penyakit tanaman karet. Penelitian ini bertujuan mendapatkan isolat khamir epifit yang berpotensi efektif dalam mengendalikan PDGC. Penelitian dimulai pada bulan Maret hingga Agustus 2016. Telah diperoleh tujuh isolat yang berpotensi sebagai agens antagonis terhadap patogen gugur daun karet C. cassicola (PSD, PSMD, PS1D, MTD, HTD, PSTD dan PS1TD). Potensi antagonis isolat khamir epifit ditunjukkan dengan mekanisme berupa pembentukan senyawa volatil, aktivitas enzim kitinolitik dan hiperparasitisme. Berdasarkan karakeristik morfologi khamir isolat PSD, PSMD, PS1D, PSTD dan PS1TD teridentifikasi sementara genus Candida, isolat HTD genus Aureobasidium dan isolat MTD genus Rhodotorula. Isolat dan PSTD dan PS1TD merupakan khamir epifit yang memiliki potensi penghambatan yang relatif tinggi dengan mekanisme pembentukan senyawa toksik berupa volatil serta hiperparasitisme dan atau aktivitas enzim kitinolitik

    Potensi Fungi Mikoriza Arbuskular dan Cendawan Endofit dalam Pengendalian Layu Fusarium pada Bawang Merah.

    No full text
    Layu Fusarium merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cepae ((Hanz.) Snyd. & Hans). Penyakit layu ini telah dilaporkan banyak negara¸ saat ini menjadi dominan pada sentra produksi bawang merah di Indonesia. Patogen Foce juga dapat menyebabkan busuk basal dapat menurunkan hasil umbi lapis hingga 50% dan menurunkan hasil produksi hingga 100%. Patogen F. oxysporum f.sp. cepae (Foce) yang bersifat tular tanah dan juga cendawan soil in habitant. Oleh karena itu¸ perlu dilakukan pengembangan strategi pengendalian penyakit secara terpadu yang mengarah utamakan pengendalian hayati. Fungi mikoriza arbuskular (FMA) dan cendawan endofit merupakan agens biokontrol yang telah banyak dilaporkan efektif dalam mengendalikan patogen tular tanah. Kedua agens biokontrol FMA dan cendawan endofit hidup mengoloni jaringan akar tanaman secara interseluler dan intraseluler. Penggunaan agens biokontrol FMA dan cendawan endofit dalam pengendalian hayati baik aplikasi secara tunggal dan kombinasi keduanya diharapkan mampu bersimbiosis dan dapat menekan perkembangan penyakit layu Fusarium pada bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keefektifan FMA dan cendawan endofit baik tunggal maupun kombinasi terhadap pengendalian penyakit layu Fusarium . Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pengendalian penyakit layu Fusarium bawang merah yang efektif, efisien, dan berkelanjutan. FMA yang digunakan yaitu formulasi dari BPPT¸ Puspitek Serpong dengan campuran 4 spesies Gigaspora sp.¸ Glomus coklat¸ Glomus putih¸ dan Acaulospora sp. Cendawan endofit yang diujikan isolate dengan kode PAP4 dan PUP1 serta isolat F. oxysporum f.sp. cepae adalah isolat koleksi Laboratorium Mikologi Tumbuhan¸ Departemen Proteksi Tanaman IPB. Gejala layu pada tanaman bawang merah uji kontrol (diinokulasi patogen tanpa aplikasi agens biokontrol muncul pada hari ke-5 setelah inokulasi yaitu menguningnya ujung daun sampai pangkal, daun meliuk layu dan nekrosis. Gejala daun meliuk disebut dengan penyakit moler. Gejala layu dan menguning yang terjadi diduga merupakan gejala sekunder yang diakibatkan karena terganggunya sistem transportasi air dari akar ke seluruh tanaman. Perubahan warna menguning dapat disebabkan oleh adanya kemunduran kloroplas karena kandungan klorofil menurun akibat gangguan yang disebabkan oleh Fusarium menghasilkan metabolit asam fusarat (fusarid acid). Percobaan in planta yang diujikan untuk mengevaluasi efektifitas kolonisasi FMA dan cendawan endofit dalam mengendalikan layu Fusarium pada bawang merah. Ketiga agens biokontrol berhasil bersimbiosis dengan akar tanaman bawang merah. Kolonisasi agens biokontrol pada akar bawang merah tanpa patogen dan inokulasi patogen menunjukkan FMA mempunyai persen kolonisasi tertinggi pada iii aplikasi tunggal maupun kombinasi. Aplikasi agens biokontrol secara tunggal cenderung meningkatkan persen kolonisasi¸ yang diduga karena adanya patogen yang menginfeksi inang¸ metabolit yang dihasilkan dari patogen atau inang dapat menstimulasi agens biokontrol untuk memperbanyak kolonisasi dalam jaringan tanaman. Aplikasi agens biokontrol dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman pada aplikasi tunggal FMA menunjukkan hasil yang nyata dibandingkan agens biokontrol yang lain. Pengaruh agens biokontrol terhadap perkembangan penyakit layu Fusarium diamati dari presentase kolonisasi¸ periode laten¸ insidensi penyakit¸ laju infeksi¸ dan area di bawah kurva perkembangan penyakit. Rata-rata periode laten Foce pada tanaman kontrol adalah 7 hari. Periode laten terpanjang 21 hari pada perlakuan tunggal FMA dan dikuti perlakuan kombinasi PUP1+FMA selama 18 hari .Perlakuan agens biokontrol FMA secara tunggal mampu menurunkan insidensi penyakit sampai 40% dan pada perlakuan kombinasi PUP1 dan FMA menurunkan insidensi penyakit sebesar 33.3%. Perlakuan Foce tanpa FMA dan cendawan endofit semua tanaman terinfeksi 100%. Mekanisme antagonisme dari cendawan endofit yang diuji adalah antibiosis. Antibiosis cendawan endofit dicirikan dengan adanya zona bening di antara pertemuan endofit dengan patogen pada uji kultur ganda. Zona bening terlebar ditunjukkan cendawan endofit PAP4. Zona bening yang terbentuk karena cendawan endofit menghasilkan metabolit untuk menghambat pertumbuhan patogen. Aplikasi tunggal FMA paling baik dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan menekan perkembangan penyakit layu Fusarium. FMA mempunyai peranan dalam membantu meningkatkan penyerapan unsur hara tanaman. Perubahan status hara dari jaringan tanaman inang akan merubah struktur dan aspek biokimia dari sel-sel akar yang pada akhirnya akan membuat tanaman bawang merah lebih sehat, dapat bertahan pada cekaman lingkungan dan memiliki toleransi ataupun tahan terhadap serangan penyakit tanaman. FMA dapat menginduksi ketahanan sistemik tanaman inang sehingga tanaman mampu melawan serangan patogen. Beberapa hasil penelitian melaporkan kolonisasi FMA dapat menginduksi peningkatkan ketahanan tanaman seperti kandungan senyawa fenol¸ enzim PPO¸ POD¸ dan PAL serta PR-protein. Berdasarkan hasil penelitian dan peranannya sebagai agens biokontrol¸ aplikasi tunggal FMA direkomendasikan untuk mengendalikan layu Fusarium pada pertanaman bawang merah

    Pencegahan Rebah dan Busuk Kecambah (Colletotrichum gloeosporioides (Penz.) Sacc.) Pada Pepaya Calina Oleh Beberapa Agens Biokontrol

    No full text
    Calina (IPB-9) is one of the superior varieties of papaya that have been released by IPB. This variety is susceptible to the causal agent of anthracnose. Anthracnose caused by Colletotrichum gloeosporioides is an impotant disease of papaya that reduce the quality of papaya in the storage. However, this patogen also caused damping-off and seedling rot at nursery. Therefore, this study purposed to evaluate the effectiveness of five biocontrol agents (Trichoderma harzianum (TH17), Gliocladium fimbriatum (G84), Bacillus subtilis (B12) and Actinomycetes (APS5 and APS12)) to reduce damping-off or seedling rot caused by Colletotrichum gloeosporioides on Calina (IPB-9). This study using in vitro test by dual culture and baiting poisonous methods and in vivo test by pouring their suspension into polybag. The result of in vitro experiments showed that TH17 and G84 were most effective to suppressing the growth of C. gloeosporioides with resistance level reached 100% on α = 5%. In the in vivo experiments, using the suspension of B12 and G84 were most effective suppressing incidental disease of damping off with relative resistance level 66.67% on α = 5%

    Eksplorasi Cendawan Antagonis Terhadap Septobasidium Pseudopedicellatum Burt. Penyebab Penyakit Hawar Beludru Pada Lada

    No full text
    Lada (Piper Nigrum L.) Merupakan Tanaman Rempah Yang Sudah Lama Dibudidayakan Dan Memiliki Nilai Ekonomi Tinggi. Indonesia Merupakan Salah Satu Negara Produsen Lada Terbesar Di Dunia. Sekitar Tahun 2009 Di Kalimantan Barat Dan Kalimantan Timur Dilaporkan Adanya Penyakit Hawar Beludru Yang Dapat Menurunkan Produksi Lada. Penyakit Ini Disebabkan Oleh Cendawan Septobasidium Pseudopedicellatum. Penelitian Bertujuan Untuk Mengeksplorasi Cendawan Antagonis Yang Dapat Mengendalikan Penyakit Hawar Beludru. Eksplorasi Dilakukan Dengan Mengambil Sampel Rizosfer Tanaman Lada Dari Sukabumi Dan Bengkayang Dan Rizosfer Sirih Dari Bogor. Eksplorasi Cendawan Antagonis Dilakukan Dengan Metode Pengenceran Berseri. Uji Antagonisme In Vitro Antara Cendawan Antagonis Dan S. Pseudopedicellatum Dilakukan Dengan Metode Uji Kultur Ganda. Identifikasi Dilakukan Menggunakan Kunci Identifikasi Barnett Dan Hunter (1998), Watanabe (2002), Dan Website Usda (United States Department Of Agriculture) (Http://Nt.Ars-Grin.Gov). Mekanisme Penghambatan Diamati Dengan Teknik Agar Blok. Hasil Eksplorasi Cendawan Antagonis Dari Rizosfer Lada Dan Sirih Diperoleh 40 Isolat Kandidat Cendawan Antagonis, Sepuluh Isolat Diantaranya Dapat Menghambat Pertumbuhan S. Pseudopedicellatum Di Atas 55%. Hasil Identifikasi Menunjukkan Lima Isolat Merupakan Cendawan Gliocladium Virens, Empat Isolat Merupakan Cendawan Trichoderma Harzianum, Dan Satu Isolat Merupakan Cendawan Trichoderma Koningii. Cendawan G. Virens Dan T. Harzianum Menunjukkan Mekanisme Kompetisi, Antibiosis, Mikoparasit Dan Lisis

    Keragaman dan Kelimpahan Cendawan pada Rizosfer Kelapa Sawit Sehat dan Terserang Ganoderma boninense

    No full text
    Indonesia merupakan produsen kelapa sawit nomor satu di dunia dan memberikan devisa yang besar. Kendala utama saat ini dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit adalah penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) yang disebabkan oleh Ganoderma boninense. Studi dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis keragaman dan kelimpahan serta mengidentifikasi cendawan pada rizosfer kelapa sawit sehat dan terserang G. boninense. Hipotesis: bahwa keragaman dan kelimpahan cendawan rizosfer kelapa sawit sehat lebih tinggi dibandingkan dengan rizosfer kelapa sawit terinfeksi G. boninense. Studi dilakukan dengan mengambil sampel tanah dari rizosfer tanaman kelapa sawit untuk dianalisis keragaman dan kelimpahan cendawan. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode pengenceran dan pencawanan (dilution and plating methods). Pengenceran berseri dari sampel rizosfer dibuat hingga tingkat pengenceran 10-5 dan pencawanan dilakukan mulai tingkat pengenceran 10-3 hingga 10-5. Pencawanan dilakukan pada media Agar Kentang Dekstrosa (AKD) yang telah diberi antibiotik (Chloramphenicol). Pengamatan dilakukan dengan menghitung keragaman dan kelimpahan setelah 3 Hari Setelah Pencawanan (HSP). Keragaman menggunakan rumus Indeks Keragaman Shanon-Wiener dan kelimpahan menggunakan rumus Standard Plate Count (SPC). Identifikasi cendawan dilakukan dengan pengamatan morfologi dan kunci identifikasi (Watanabe dan “Doctor Fungus”). Dari hasil isolasi cendawan rizosfer kelapa sawit sehat maupun yang terinfeksi telah diperoleh 29 isolat koloni cendawan dan hasil identifikasi diketahui sebanyak 20 jenis cendawan yang berbeda. Nilai Indeks Keragaman Cendawan (IKC) pada rizosfer tanah tanaman sehat dan muda lebih tinggi dibandingkan dengan IKC pada rizosfer tanah tanaman terinfeksi dan berumur tua. Keragaman dan kelimpahan cendawan terutama cendawan yang bersifat antagonis bagi G. boninense pada tanah rizosfer kelapa sawit berindikasi kuat untuk memprediksi apakah tanaman kelapa sawit sudah terinfeksi dan ketepatan penerapan budidaya tanaman. Namun hal ini perlu diklarifikasi lanjut dengan memperbanyak ulangan

    Peran Mikoriza Arbuskular, Kitosan, Dan Trichoderma Harzianum Dalam Pengendalian Penyakit Busuk Pangkal Batang (Botryodiplodia Theobromae Pat.) Pada Tanaman Jeruk

    No full text
    Saat ini, penyakit busuk batang yang disebabkan oleh Botryodiplodia theobromae Pat. telah dilaporkan sebagai penyakit penting pada tanaman jeruk. Beberapa penelitian telah melaporkan keberhasilan agens hayati dalam mengendalikan beberapa penyakit terutama penyakit tular tanah. Oleh karena itu, dilakukan kajian yang bertujuan untuk mengevaluasi keefektifan mikoriza arbuskular, kitosan, Trichoderma harzianum, dan kombinasinya untuk mengendalikan penyakit busuk batang pada bibit jeruk. Hasil uji in vitro dalam cawan petri menunjukkan bahwa T.harzianum dapat menghambat pertumbuhan B. theobromae hingga 96.35% dalam 5 hari. Hasil uji in planta menunjukkan perlakuan tunggal mikoriza arbuskular, kitosan, T. harzianum dan kombinasinya dapat menekan keparahan penyakit (16% - 27%) serta meningkatkan kekuatan pada bibit jeruk. Tingkat keparahan penyakit yang tinggi (38.89%) terjadi pada perlakuan kontrol tanpa menggunakan agens hayati maupun kitosan pada 63 hari setelah inokulasi (hsi), dengan periode laten 19.8 hsi. Perlakuan mikoriza arbuskular pada 63 hsi memperlihatkan tingkat asosiasi mikoriza pada akar mencapai 37.12%. Perlakuan tunggal mikoriza arbuskular dan T.harzianum, kombinasi mikoriza arbuskular dengan kitosan, serta kombinasi T.harzianum dengan kitosan merupakan perlakuan yang efektif dan efisien dalam mengendalikan penyakit busuk pangkal batang pada bibit jeruk
    corecore