1,721,075 research outputs found

    Pengaruh Suhu Permukaan Laut terhadap Hasil Tangkapan Ikan Tenggiri di Perairan Indramayu, Jawa Barat

    No full text
    Indramayu merupakan daerah yang memiliki potensi sumberdaya (MSY) terbesar di Jawa Barat. Ikan komoditas unggulan lokal di Indramayu diantaranya adalah tenggiri. Nelayan Indramayu dalam menentukan daerah penangkapan ikan umumnya masih berdasarkan pengalaman. Hal ini mangakibatkan efektivitas dan efisiensi operasi penangkapan berkurang dengan banyaknya waktu, biaya dan tenaga yang terbuang. Sebaran suhu permukaan laut dapat digunakan sebagai indikator penentuan daerah penangkapan ikan. Penggunaan teknologi penginderaan jauh dapat digunakan untuk pegukuran suhu permukaan laut. Penelitian ditujukan untuk mengetahui kisaran suhu permukaan laut di Perairan Indramayu, mengetahui hasil tangkapan tenggiri pada kurun waktu yang berbeda serta hubungan suhu permukaan laut terhadap hasil tangkapan tenggiri di Perairan Indramayu. Metode yang digunakan dalam Penelitian ini adalah metode survei. Kisaran suhu permukaan laut di Perairan Indramayu pada bulan Juni 2005 yaitu berkisar antara 20ºC-31ºC dengan suhu dominan 27,55 ºC. Pada bulan Juli 2005 kisaran suhu permukaan laut berada antara 25-33 ºC dengan suhu dominan sebesar 30,28 ºC sedangkan pada bulan Agustus 2005 suhu permukaan laut berkisar 24-32 ºC dengan suhu dominan 29,37 ºC. Hasil tangkapan ikan tenggiri pada bulan Juni 2005 sebesar 14 kg/trip, bulan Juli 2005 sebesar 6 kg/trip dan pada bulan Agustus 2005 sebesar 30 kg/trip. Suhu permukaan laut berpengaruh secara nyata terhadap hasil tangkapan ikan tenggiri

    Efektivitas Rumpon Portabel dalam Menciptakan Daerah Penangkapan Ikan bagi Perikanan Pancing Ulur

    No full text
    Pancing ulur merupakan alat tangkap yang biasa digunakan oleh nelayan di perairan Teluk Banten. Akan tetapi, hasil tangkapan yang didapatkan nelayan hanya sedikit. Hal ini disebabkan karena nelayan pancing tidak memiliki informasi yang pasti tentang lokasi daerah penangkapan ikan yang potensial. Salah satu cara untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasi penangkapan ikan adalah tersedianya informasi daerah penangkapan ikan. Penggunaan teknologi rumpon portabel diharapkan dapat menciptakan daerah penangkapan ikan sehingga operasi penangkapan ikan menjadi lebih efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan komposisi dan produktivitas hasil tangkapan pancing ulur dengan menggunakan rumpon portabel dan tanpa rumpon, serta menentukan efektivitas rumpon portabel. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental fishing dengan banyak ulangan, yaitu 20 trip. Penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan dominan pancing ulur yang menggunakan rumpon portabel adalah kuniran (35,1%), kurisi (16,7%), kerapu hitam (13,9%), selar (11,7%). Ikan kuniran, kurisi, dan kerapu hitam didominasi oleh ukuran besar atau layak tangkap. Jumlah total hasil tangkapan pancing ulur sebanyak 931 ekor dengan berat 45,66 kg. Komposisi hasil tangkapan yang menggunakan rumpon portabel yaitu 504 ekor (54%) dan tanpa menggunakan rumpon portabel yaitu 427 ekor (46%). Produktivitas pancing ulur di sekitar rumpon portabel sebesar 1,29 kg/trip, dengan nilai rata-rata 0,06 kg/trip, sedangkan produktivitas pancing ulur tanpa rumpon 0,99 kg/trip, dengan nilai rata-rata 0,04 kg/trip. Penggunaan alat bantu rumpon portabel saat operasi penangkapan lebih efektif dibandingkan dengan operasi penangkapan tidak menggunakan alat bantu rumpon. Nilai efektivitas pada rumpon portabel sebesar 54% (kategori cukup baik) dan nilai efektivitas tanpa rumpon sebesar 46% (kategori rendah)

    Implementasi Hukum Adat Laot Dalam Pengelolaan Perikanan di Perairan Utara Aceh

    No full text
    Hukum adat laot di Aceh merupakan ketentuan adat yang relevan dengan pengelolaan perikanan yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan rakyat. Hukum adat laot di bawah Lembaga Panglima Laot seisinya tidak bertentangan dengan kebijakan pemerintah daerah. Peran serta masyarakat lokal dalam pengelolaan perikanan seharusnya disesuaikan dengan budaya setempat. Setiap daerah dapat memiliki sistem pengelolaan yang berbeda-beda sesuai dengan budaya masing-masing daerah. Posisi hukum adat laot dalam perundang-undangan memiliki dua bentuk pengaturan, yakni dalam konsep pengelolaan sumberdaya perikanan (Qanun No. 16/2002), dan dalam konsep lembaga adat dan hukum adat laot (Qanun No. 9/2008 dan Qanun No. 10/2008). Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis peran hukum adat laot dalam pengelolaan perikanan di perairan utara Aceh serta menentukan strategi pengelolaan sumberdaya perikanan yang tepat di perairan utara Aceh. Penelitian ini dilaksanakan di perairan utara Provinsi Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan metode analisis SWOT. Hasil analisis menunjukkan bahwa Panglima Laot sebagai pemangku hukum adat laot mendapatkan pengakuan hukum positif dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Dalam sistem aturan, hukom adat laot mengenal adanya hari-hari pantang laot, adat sosial, adat pemeliharaan lingkungan, adat kenduri laut, dan adat barang hanyut. Bagi nelayan yang melanggar ketentuan, berdasarkan putusan lembaga persidangan hukom adat laot, hanya akan menghasilkan dua sanksi, yakni penyitaan hasil tangkapan dan pelarangan melaut 3-7 hari. Hukum adat laot di Aceh dan khususnya di perairan utara Aceh sangat berperan untuk mewujudkan pembangunan perikanan tangkap yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Strategi kebijakan perikanan tangkap di perairan utara Aceh yang harus dilaksanakan adalah peningkatan koordinasi antara institusi terkait dengan melibatkan masyarakat nelayan setempat, meningkatkan teknologi yang lebih modern dalam pemanfaatan sumberdaya ikan yang disesuaikan dengan aturan hukum adat laot, peningkatan kelembagaan Panglima Laot sebagai pemangku adat laot untuk kegiatan pengawasan di perairan Aceh serta pengembangan kapal perikanan dan alat penangkap ikan yang efisien, efektif dan ramah lingkungan

    Ukuran Ikan Layang (Decapterus russelli) yang Didaratkan Mini Purse Seiner di Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung Rembang.

    No full text
    Ikan layang (Decapterus russelli) merupakan hasil tangkapan dominan yang didaratkan oleh kapal mini purse seine di Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung Rembang. Jumlah produksi ikan layang yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Tasikagung Rembang dalam 5 tahun terakhir mengalami penurunan secara drastis. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur panjang ikan layang yang didaratkan oleh kapal mini purse seine, membandingkan ukuran ikan layang yang didaratkan di PPP Tasikagung dengan ukuran ikan layang layak tangkap menurut referensi serta menyusun rekomendasi pengelolaan yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik pengambilan sampel armada penangkapan dengan Accidental sampling dan pengambilan sampel keranjang dilakukan secara acak (simple random sampling). Jumlah total sampel ikan yang diukur selama penelitian sebanyak 650 ekor. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2018 di PPP Tasikagung. Pengolahan data ukuran ikan layang yang layak tangkap dianalisis secara deskriptif. Penentuan ikan layak tangkap ditentukan berdasarkan ukuran panjang ikan layang yang pertama kali matang gonad. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran ikan layang berkisar 8.5-23.4 cm. Tangkapan didominasi oleh kategori tidak layak tangkap, yaitu 73% berdasarkan referensi (Pralampita dan Chodriyah 2010) dan 76% berdasarkan referensi Fishbase (2007). Ukuran mata jaring purse seine yang menangkap ikan layang di PPP Tasikagung telah sesuai dengan ketentuan PERMEN-KP (2016) akan tetapi hasil tangkapan tetap didominasi oleh kategori tidak layak tangkap. Oleh karena itu rekomendasi pengelolaan untuk Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah yaitu melakukan evaluasi penerapan PERMEN KP Pasal 23 Ayat (1) huruf b tentang ketentuan ukuran mata jaring yaitu ≥ 1 inchi

    Aplikasi Konsep Traceability Tuna Ditinjau dari Aspek Supply Chain Perikanan Handline di PPP Sadeng, Yogyakarta.

    No full text
    Sistem ketelusuran (traceability) mutlak diperlukan untuk mengetahui transparasi data produk tuna, dan kualitas ikan tetap terjaga dengan baik, sehingga margin harga ikan di pasar internasional akan menurun, dan kesejahteraan nelayan pun meningkat. Sistem supply chain yang ideal tentunya akan memperbesar kemungkinan kualitas ataupun mutu tuna akan tetap terjaga dengan baik sehingga diharapkan akan menghasilkan tuna dengan kualitas yang sangat baik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis supply chain ikan tuna, dan penentuan titik kritis, mengkaji persepsi nelayan terhadap penerapan traceability, dan merumuskan permasalahan penerapan supply chain dan traceability dari aspek harga dan mutu ikan. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan menggunakan analisis deskriptif dan content analysis. Hasil analisis ini menunjukan PPP Sadeng memiliki pola struktur supply chain yang mempengaruhi distribusi ikan tuna, sedangkan titik kritis terjadi pada aktor-aktor yang terlibat dalam supply chain, salah satunya alur informasi yang kurang valid. Respon dan persepsi nelayan mengenai penerapan sistem traceability di PPP Sadeng sangat baik dan mendukung adanya sistem tersebut dengan catatan tidak merugikan nelayan, penerapan ini pun didukung oleh peraturan legal mengenai sistem traceability dari beberapa negara. Permasalahan dalam penerapan supply chain dan traceability, yaitu kurangnya minat dalam pengisian logbook, fasilitas yang sangat minim, dan sistem pendataan yang masih bersifat pasif

    Persepsi Nelayan terhadap Penggunaan Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap.

    No full text
    Pembuatan Peta Prakiraan Daerah penangkapan Ikan (PPDPI) oleh Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) bertujuan untuk meningkatkan efesiensi dan efektifitas operasi penangkapan ikan. Namun, pemanfaatan PPDPI belum efektif dan aplikatif yang diduga disebabkan oleh persepsi nelayan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi, menganalisis tingkat pemanfaatan, dan menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terhadap penggunaan PPDPI oleh nelayan di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap. Metode yang digunakan berupa metode penelitian survei yang termasuk kedalam metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukan persepsi nelayan terhadap PPDPI menunjukan persepsi yang rendah dengan indeks rata-rata mencapai 44.75%, sehingga tingkat pemanfaatan PPDPI juga memiliki nilai yang rendah dengan indeks 30.5%. Hasil uji statistik menunjukan bahwa faktor yang mempengaruhi persepsi nelayan pada penggunaan PPDPI di PPS Cilacap ialah tingkat pendapatan, sedangkan faktor pengalaman kerja, tingkat pendidikan, dan peran pemerintah tidak berpengaruh

    Dinamika Daerah Penangkapan Ikan, Kaitannya Dengan Aktivitas Pertambangan Nikel Kabupaten Halmahera Timur

    No full text
    Kabupaten Halmahera Timur merupakan salah satu pusat kawasan pertambangan Nikel (Ni) di Maluku Utara. Pertambangan ini memiliki dampak besar terhadap perubahan kualitas perairan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kualitas perairan kawasan pertambangan, radius berapa jauh daerah penangkapan ikan (DPI) bebas dari pengaruh nikel, dan dinamika DPI pada kawasan pertambangan. Penelitian menunjukkan muatan padatan tersuspensi (MPT) di perairan Halmahera Timur telah memberikan pengaruh bagi kepentingan perikanan. Rata-rata kandungan MPT berada diatas 25 mg/l terkecuali Wasile. Kandungan Ni di perairan diketahui berada dibawah 0.05 mg/l, tetapi telah mendekati nilai ambang batas, dimana Ni telah berdampak terhadap perairan. Perubahan kualitas perairan telah memberi dampak pada terdegradasinya ikan di perairan, dimana ikan yang tertangkap dengan menggunakan alat tangkap bagan memiliki ukuran illegal size (IS) lebih dominan, dimana ikan teri memiliki ukuran IS mencapai 62%, dan cumi-cumi mencapaii IS 67%. Besarnya IS pada ikan teri dan cumi-cumi disebabkan oleh pengoperasian bagan yang berada dekat dengan kawasan pesisir dimana, daerah ini telah mengalami tekanan oleh aktivitas pertambangan. Purse seine dan gillnet berada sebaliknya dimana ukuran legal size (LS) lebih dominan. Ikan layang memiliki ukuran LS 96% dan ikan kembung memiliki ukuran LS 90%. Tingginya ukuran LS disebabkan alat tangkap tersebut melakukan penangkapan jauh dari daerah pantai. Nilai variabelitas klorofil-a di perairan Halmahera Timur berada diatas 15%. Keadaan ini menunjukkan sebaran klorofil-a dipengaruhi oleh kekeruhan perairan. Selain menyebabkan penurunan ukuran tangkapan dan kepadatan klorofil-a di perairan pertambangan menyebabkan kerusakan daerah penangkapan ikan dimana DPI yang berjarak kurang dari 1 mil tidak potensial bagi perikanan tangkap

    Strategi Pengelolaan Daerah Penangkapan Ikan di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Lingga di Kabupaten Lingga

    No full text
    Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Lingga telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Kabupaten Lingga dengan No.280/KPTS/X/2014 seluas kurang lebih 385. 467,5 Ha diperuntukan perikanan berkelajutan, kegiatan wisata bahari, penelitian dan kegiatan lainnya secara lestari. KKPD Lingga ini diberi nama KKPD Datok Bandar. Mengetahui karakteristik daerah penangkapan ikan di KKPD Lingga sangatlah di perlukan, juga menentukan jenis teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan pada zona perikanan berkelanjutan di KKPD Lingga. Serta menyusun strategi pengelolaan daerah penangkapan ikan yang berkelanjutan di KKPD Lingga. Secara umum profil kondisi oseanografi dari KKPD Lingga yakni: salinitas, PH, kecepatan arus dan gelombang bervariasi dan menyebar tidak merata., Salinitas 30‰-34‰., PH8,0-8,3, dan kecepatan arus 1,2-2,8 cm/s, tinggi gelombang 0,3 – 0,45 m. Perbedaan kisaran nilai parameter oseanografi ini disebabkan karena perairan daerah penangkapan ikan di KKPD Lingga dominan pada rentang kedalaman 10 - 30 meter. Baiknya kondisi terumbu karang, ikan karang, mangrove dan lamun sebagai daya dukung ketersediakan sumberdaya ikan yang lestari pada KKPD Lingga. Jenis alat tangkap ikan yang beroperasi di KKPD Lingga adalah alat tangkap bubu, pancing, mini purse seine, jaring, bagan dan mini trawl. Skor tertinggi dari keseluruhan kriteria terdapat pada alat tangkap bubu dengan nilai 34 dan skor terendah adalah alat tangkap mini trawl dengan nilai 16. rekomendasi strategi pengelolaan daerah penagkapan ikan di KKPD Lingga; 1) Peningkatan kesadaran nelayan terhadap kelestarian sumberdaya ikan. 2) Optimalisasi produktivitas perikanan tangkap skala kecil melalui peningkatan kwalitas SDM nelayan. 3) Penegakkan hukum secara tegas dan peningkatan sistem pengawasan pemanfaatan sumberdaya ikan berbasis masyarakat, termasuk penambahan personil pengawas PSDKP. 4) Penggantian alat tangkap ke yang ramah lingkungan guna mendukung memaksimalkan pemanfaatan sumberdaya ikan di KKPD lingga. 5) Peningkatan teknologi peralatan penangkapan yang membantu memaksimalkan penangkapan sumberdaya ikan yang ada

    Model of capture fisheries co-management in Palabuhanratu

    No full text
    Co-management is an approach to management of fishery resources which provide a large role for public participation in the facilitation by the Government and other stakeholders in managing its available resources. Palabuhanratu including many coastal areas has involved public participation, government, universities, NGOs, and private sector in the development of their fisheries activities, and is currently a core minapolitan area. This study aims to analyze the present condition of the implementation of the concept of fisheries co-management in Palabuhanratu and the dominant variables that affect it, determine the type and allocation of fishing effort, determine the appropriate co-management model, and formulating the implementation patterns of co-management cooperation in support of capture fisheries management in Palabuhanratu. This study used a SWOT analysis, QSPM, AHP, scoring analysis, feasibility analysis, analysis of LGP, and SEM analysis. Implementation of fisheries co-management is currently in Palabuhanratu still in a steady growth (quadrant of the matrix V IE, total IFAs = 2.66, total EFAs = 2.46). Dominant variables affecting the implementation of fisheries co-management is a human resource (TNPV = 5.82), capital (TNPV = 5.63), and technology (TNPV = 5.44). Co-management model that most appropriate for the management of capture fisheries in Palabuhanratu is a cooperative co-management model (RK = 0.259 on inconsistency reliable 0.07). Potential fishing effort that supports co-management fishery was payang, gillnet, troll lines, and longline, with the optimal allocation of 141 units, 31 units, 30 units and 20 units, respective by implementation of cooperative co-management can be focused on developing human resources capital (p 0.05). Human resource development should be done in the form of technical assistance and guidance, while training / education in the classroom can be reduced. Capital resources should be prioritized in the capital independent fishermen (K = 0.273, p = 0.00), and the capital of financial institutions (KP = 0.277, p = 0.00). Periodically, the performance of the implementation of co-management in fisheries should be evaluated. This performance evaluation should focus on improving the welfare of fishermen (KP = 3.385, p <0.05) and resource conservation and environmental protection (KP = 2.083, p <0.05)
    corecore