2 research outputs found
Maize Maize Development with Planting Methode the Zig-Zag System for Increasing Productivity in the Tidal Swampland: Pengembangan Jagung dengan Metoda Tanam Sistem Zig-Zag untuk Meningkatkan Produktivitas di Lahan Rawa Pasang Surut
Maize is the second main food commodity in the Indonesian economic system. The self-sufficiency was achieved in 2017, however the nation\u27s corn production to decrease and import value in 2018 and 2019 increased by 60.98% and 25.49% or about 1.15 million tons and 293,210 tons. The projection of cornproduction until 2024 will increase by about 24.04 - 24.98 million tonsof dry peel with a growth rate of about 2.05%. The development of maize in the tidal swampland by the extensification of the planting area is very possible, particularly on the C, C/D, and D overflow type land that is about 3.36 million hectares wide. According to the growth rate, the planting area increasedby about 75,000 ha would contribute about 396.750 tons/year to the nation\u27s production. One of the planting methods that could be applied for maize plants to increase productivity and corn production is the Zig-Zag System. The zig-zag system could increase plant population by around 60-80% and yield 30-40% per hectare. The development of hybrid variety with the Zig-Zag system by the 75 x 25 x 12.5 cm spacing 100-hectare wides in the acid sulfate land conducted in South Kalimantan, could be increasing the corn productivity achieved 14 ton/ha dry peel with 15% water content. The development of maize with planting methods the zig-zag systems in the tidal swampland very prospectively to supporting an increase of nation corn production.Jagung salah satu komoditas pangan strategis kedua pada sistem perekonomian nasional di Indonesia. Swasembada jagung sudah dicapai pada tahun 2017, tetapi faktor produksi jagung nasional menurun dan volume impor jagung pada tahun 2018 dan 2019 meningkat menjadi 60,98% dan 25,49% atau sebesar 1,15 juta ton dan 293.210 ton. Proyeksi produksi jagung nasional pada tahun 2024 akan meningkat 24,04 - 24,98 juta ton pipilan kering dengan laju pertumbuhan sekitar 2,05%. Pengembangan jagung di lahan rawa pasang surut melalui perluasan areal sangat prospektif, khususnya pada lahan tipe luapan C dan C/D yang luasnya sekitar 3,66 juta ha. Sesuai laju pertumbuhan maka pertambahan luas areal tanam jagung sekitar 75.000 ha dan akan memberi kontribusi terhadap produksi nasional sebesar 396.750 ton per tahun. Salah satu metoda tanam yang dapat diterapkan meningkatkan produktivitas dan produksi jagung adalah sistem zig-Zag. Sistem tanam zig-zag meningkatkan populasi tanam sekitar 60-80% dan meningkatkan hasil jagung 30-40%. Pengembangan jagung hibrida sistem zig-zag dengan jarak tanam 75 x 25 x 12,5 cm di lahan sulfat masam seluas 100 ha sudah dilaksanakan di Kalimantan Selatan, dapat meningkatkan produktivitas jagung 14 ton/ha pipilan kering dengan kadar air 15%. Pengembangan tanaman jagung dengan metoda tanam sistem zig-zag di lahan pasang surut sangat prospektif untuk mendukung peningkatan produksi jagung nasional
Perspektif Pengembangan Tanaman Hortikultura di Lahan Rawa Lebak Dangkal (Kasus di Kalimantan Selatan)
Abstrak. Lahan rawa lebak menjadi sangat penting dalam pembangunan pertanian, luasnya mencapai 13,28 juta ha. Lahan rawa lebak cukup potensial untuk komoditas tanaman hortikultura. Komoditas ini, dapat dikembangkan sebagai sumber protein dan gizi serta sebagai salah satu sumber pendapatan bagi petani yang berada di kawasan tersebut. Agrohidrologi lahan rawa lebak hampir sepanjang tahun mengalami genangan yang relatif dalam, sehingga sistem budidaya hanya dilakukan pada musim kemarau setelah lahan kering. Melalui penerapan inovasi teknologi, yakni penataan lahan dengan sistem surjan lahan rawa lebak dapat dioptimalkan pemanfaatannya khususnya untuk pengembangan tanaman hortikultura, dan sistem budidaya ini dapat dilakukan sepanjang tahun. Sesuai dengan umur tanamannya, tanaman hortikultura dibedakan atas: (1) tamanan hortikultura semusim, yakni jenis tamaman berumur satu musim seperti: cabai, tomat, terung, metimun, labu kuning, gambas, pare, kubis danlainnya, dan (2) tanaman hortikultura tahunan yakni tanaman berumur > 1 tahun (panjang) seperti tanaman jeruk manis (Siam) dan tanaman rambutan. Pengembangan lahan rawa lebak untuk tanaman hortikultura sudah dilakukan oleh petani secara turun temurun sebagai kearifan lokal (local wisdom) bagi petani suku Banjar di Kalimantan Selatan. Hasil analisis ekonomi, komoditas hortikultura jenis tanaman sayur-sayuran memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pendapatan petani, yakni berkisar28,8%-43,5% dan R/C rasionya > 1,0 sehingga budidaya tanaman sayur-sayuran layak dikembangkan. Penataan lahan dengan sistem surjan, tanaman hortikultura tahunan dapat ditanam pada bagian surjan. Tanaman jeruk siam sangat potensial dan memberikan kontribusi yang cukup besar yakni 18,71%-49,3% terhadap pendapatan petani.
