2 research outputs found
A Happy Life in a Different Religious Marriage Experience in Malang City
This research focuses on interfaith marriages in Malang City, lived by several families with loyalty. In general, interfaith marriages are often considered a way to indoctrinate people into joining a particular religion. Interfaith marriage amid multiculturalism is an effort to respect each other's differences, not differences. The city of Malang, one of the fertile land areas for the growth of major and world religions since the colonial era, is an example of cultivating tolerance and religious differences. This study aims to show that interfaith marriages foster an attitude of tolerance within the small community (family) to avoid various kinds of social friction in society. The view of interfaith marriage is the basis for appreciating religious values in differences and not differences. Interfaith marriage promotes individual rights and freedoms within the state and upholds the values and spirit of family harmony. This study uses qualitative field research. Data was collected through observation, interviews, and documentation, as well as being analyzed and conclusions drawn. This study found that families who live in interfaith marriages make families respect religious differences seen as guidelines that lead to good, righteous, and holy lives. Interfaith marriages appreciate differences, not differences, so that the seeds of freedom of rights for children emerge in guiding their life journey, especially relations with God in religious values. Happiness can be experienced with fidelity even though the marriage is of different religions
EKSISTENSI PELAKU KASUS KEKERASAN SESKUAL DI SATUAN PENDIDIKAN BERBASIS BOARDING SCHOOL PERSPEKTIF SOREN AABYE KIERKEGAARD
Studi Penelitian ini berfokus pada perhatian pada fenomena kasus kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia. Indonesia sebagai negara berkembang mengalami krisis etika dan moral terhadap martabat manusia. Kekerasan seksual di Indonesia marak terjadi di kalangan satuan pendidikan. Terjadi kasus pelecehan seksual kerap juga terjadi basis boarding School yang dilakukan oknum yang memiliki pengaruh di tempat kasus tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perspektif wajah perempuan dan liyan dengan melihat realitas pelecehan seksual yang marak terjadi di satuan pendidikan berbasis boarding school. Perempuan telah direduksi pada tubuhnya, dan itu pun dimengerti dengan sempit sebagai sekadar yang menimbulkan nafsu. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif yang difundasikan pada fenomenologi dari Edmund Husserl yakni studi feminisme dan mengumpulkan kasus-kasus pelecehan seksual berbasis boarding school. Studi penelitian ini menemukan bahwa pertama: martabat perempuan direndahkan dan nilai-nilai luhur perempuan dirampas. Kedua: Para pelaku kekerasan seksual di Indonesia masih dalam tahap estetis yang orientasi eksistensinya sebatas pemuasaan diri dengan kenikmatan tanpa memirkan dampak dan nilai-nilai martabat luhur manusia. Ketiga:Â Para pelaku kekerasan seksual kebanyakan pada umumnya dilakukan oleh pembina
