1,721,024 research outputs found
Implementasi Pendidikan Multikultural di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda
Multikultural education can simply be interpreted as a process of community
development so that they have knowledge and are able to be adaptive in the midst of a
diverse society. The main goal of multikultural education is to create multikultural
awareness in every child which in the end will be able to create social conditions based
on equal rights and respect for each group. In this paper, the author uses a qualitative
research method because this method uses data taken through observation,
documentation and interviews with school principals, teachers and students at the Sultan
Iskandar Muda College Foundation (YPSIM). To review this paper, the author uses the
theory of social interaction and multikultural education. According to Banks,
Multikultural Education is an idea, an educational reform movement and a process.
Thus, the results of the research in this paper, found that the Sultan Iskandar Muda
Education Foundation (YPSIM) has implemented multikultural education, as seen from
the integration of Multikultural Education in Religious Subjects, schools also make
facilities through the provision of houses of worship for each religion in schools, To
further strengthen the application of multikultural education in religious lessons, the
teachers create a Mutual Class program which is attended by all students, besides that
the college also celebrates Religious Holidays for all students which in its
implementation involves all students which aims to make the interaction of school
residents more intimate. and lead to mutual understanding.Pendidikan multikultural secara sederhana bisa diartikan sebagai proses
pengembangan masyarakat agar mempunyai pengetahuan dan mampu bersikap adaptif
di tengah-tengah masyarakat yang beragam. Tujuan utama pendidikan multikultural
adalah menciptakan kesadaran mulitkultur pada setiap anak yang pada akhirnya akan
mampu menciptakan kondisi sosial yang berasaskan persamaan hak dan penghargaan
bagi setiap kelompok. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan metode penelitian
kualitatif karena metode ini menggunakan data yang diambil melalui observasi,
dokumentasi dan wawancara terhadap kepala sekolah, gur-guru dan siswa di Yayasan
Perguruan Sultan Iskandar muda (YPSIM). Untuk mengkaji tulisan ini, penulis
menggunakan teori interaksi sosial dan pendidikan multikultural. Menurut Banks
Pendidikan Multikultural merupakan ide, sebuah gerakan reformasi pendidikan dan
proses. Dengan demikian, hasil penelitian dalam tulisan ini, menemukan bahwa
Yayasan Perguruan Sultan Iskandar muda (YPSIM)sudah melaksanakan pendidikan
yang multikultural, terlihat dari pengintegrasian Pendidikam Multikultural dalam Mata
Pelajaran Agama, sekolah juga membuat fasilitas melalui penyediaan Rumah Ibadah
Masing-Masing agama di Sekolah, untuk semakin memperkuat penerapan pendidikan
multikultural dalam pelajaran agama, para guru membuat program Kelas Kebersamaan
yang diikuti seluruh siswa-siswi, selain itu perguruan juga merayakan Hari-Hari Besar
Keagamaan seluruh siswa yang dalam pelaksanaanya melibatkan seluruh siswa yang
bertujuan untuk membuat interaksi penghuni sekolah semakin akrab dan bermuara pada
pemahaman satu sama lain.155 HalamanSkripsi Sarjan
Adaptation Strategies and Social Capital of Ulos Weaveers in Meat Tourism Village Tampahan District Toba District
Meat Village is one of the villages in Toba Regency, North Sumatra Province, where the majority of the people are of the Toba Batak tribe. On February 11 2017, through the central government assistance program for the revitalization of traditional villages, the Directorate General of Culture, Ministry of Education and Culture (Ditjenbud), Meat Village was inaugurated as a tourism village. Before it became a tourism village in 2017, ulos weaving in Meat Village was only a part-time job, because the main job of the people of Meat Village was farming.
This research aims to interpret how ulos weavers adapted before and after the legalization of Meat Village as a Meat Tourism Village in 2017, as well as how social capital played a role in the market chain between ulos weavers and ulos middlemen before and after the approval of Meat Village as Meat Tourism Village in 2017. Also in this research the author also includes livelihood sociology theory where ulos as an intangible culture is able to open employment opportunities for village communities. This research uses a qualitative research method with a descriptive approach.
The results of the research show that in terms of social adaptation after the Meat Village was designated as a tourist attraction, the community was not fully prepared, especially due to the large number of tourists visiting, therefore Pokdarwiis always provides tourism understanding regarding procedures for interacting with tourists who visit the Meat Village. In terms of social capital, after the Meat Village was declared a Meat Tourism Village, the ulos weavers formed an association based on their settlement, there were 3 groups of ulos weavers, namely the Mandiri Group, the Bintang Group and the Dos Ni Roha Group, the formation of this group was to strengthen the bonds of brotherhood among ulos weavers and to facilitate data collection so that village governments can build collaboration with the government and the private sector. From a sociological perspective, livelihood restoration, ulos weaving is a permanent livelihood for village ulos weavers, because they do not need to worry about ulos raw materials and ulos marketing because these facilities have been provided by middlemen.152 PagesSkripsi Sarjan
Kontribusi Tradisi Lokal Marpege-pege terhadap Solidaritas Masyarakat (Studi Kasus Desa Siharang Karang, Padangsidimpuan)
In the midst of fading community solidarity, especially in urban and rural areas, the local tradition of Marpege-pege is one of the last safety valves in maintaining social soslidarity at the village level. Social solidarity is state of relationship between individual and groups based on moral feelings and beliefs that are shared and reinforced by shared experiences. In this study, the author wants to see how the contribution of the Marpege-pege tradition to community solidarity. The method used in this research is descriptive with a qualitative approach. Data collection techniques by means of in-depth interviews, observation, and documentation. This method aims to reveal events or facts, phenomena, and circumstances that are happening in society. Determination of informants with certain criteria adapted to the research topic, by interviewing 6 informants. The presenatation of the data refers to the theory of social solidarity by Emile Durkheim to show the contribution of the Marpege-pege tradition to community solidarity. The result of this research is a meeting held by the community to collect money as a Sinamot or dowry of husband to his future wife. This tradition has excisted for a long time and is still being carried out today. The Marpege-pege tradition has shaped the social solidarity of the people in Siharang Karang Village. Formed through a fairly long process, namely the existence of a sense of sharing or the same fate, having a common goal or interest, reciprocal relationships, and the consistent of social interactions between community members.Di tengah pudarnya solidaritas masyarakat terutama di perkotaan dan tak terkecuali perdesaan, tradisi lokal marpege-pege merupakan salah satu katup pengaman (Savety valve) terakhir dalam memelihara solidaritas sosial di level desa. Solidaritas sosial adalah suatu keadaaan hubungan antara individu dan kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat oleh pengalaman bersama. Dalam penelitian ini, penulis ingin melihat bagaimana kontribusi tradisi marpege-pege terhadap solidaritas masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Metode ini bertujuan untuk mengungkapkan kejadian atau fakta, fenomena, dan keadaan yang sedang terjadi dalam masyarakat. Penentuan informan dengan kriteria tertentu yang disesuaikan pada topik penelitian, dengan mewawancarai 6 informan. Penyajian data mengacu pada teori solidaritas sosial oleh Emile Durkheim untuk menujukkan kontribusi tradisi marpege-pege terhadap solidaritas masyarakat. Hasil dari penelitian ini adalah tradisi marpege-pege merupakan pertemuan yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengumpulkan bantuan uang sebagai sinamot atau mahar seorang calon suami terhadap calon istrinya. Tradisi ini sudah ada sejak lama dan masih dilaksanakan sampai sekarang. Tradisi marpege-pege telah membentuk solidaritas sosial masyarakat Desa Siharang Karang. Dibentuk melalui proses yang cukup panjang yaitu adanya rasa sepenanggungan atau nasib yang sama, memiliki tujuan atau kepentingan bersama, hubungan saling timbal balik, serta interaksi sosial yang konsisten antara anggota masyarakat.117 halamanSkripsi Sarjan
Pola Interaksi Masyarakat Parmalim terhadap Masyarakat Non Parmalim di Kelurahaan Binji Kecamatan Medan Denai Kota Medan
Parmalim is a local indigenous religion among the Toba Batak people. Parmalim was first established in 497 AD or 1450 Batak years. Generally Parmalim adherents are Toba Batak people who live in Toba Regency, North Tapanuli, as well as in other areas such as Simalungun Regency, Dairi Regency and Central Tapanuli. The arrival of the Parmalim community in Medan City has been around since the 1960s. The Parmalim community initially came to Medan City as immigrants to work. At the beginning of the arrival of the Parmalim people in Medan City, they worked as laborers at PTPN II and some traded basic necessities in the market. Patterns of interaction are dynamic relationships and often occur between individuals, between groups of people, as well as between individuals and groups of people. This study aims to find out how the pattern of interaction that occurs between the Parmalim community and the non Parmalim community around the Parmalim Palace Binjai Village Medan Denai District Medan City. This type of research is a qualitative descriptive research. Data collection techniques in this study were obtained through observation, interviews and documentation. Through the results of the study, it can be seen that the pattern of interaction that has been established with the non Parmalim community is very good. The pattern of interaction that looks so real in the daily life of the Parmalim community towards non Parmalim is that people respect each other’s differences, help and carry out mutual cooperation around their homes. However, it must be admitted that the Parmalim community has had painful experiences when dealing with non Parmalim communities such as being forbidden by the spouse’s parents in a romantic relationship, discrimination at work, being scolded during school, being exiled and forced to lie to themselves. Tolerance, mutual respect, cooperation and maintaining friendship still need to be improved.129 HalamanSkripsi Sarjan
Pola Adaptasi Anggota Organisasi Keluarga Mahasiswa Jabodetabek (KMJ) USU dalam Menghadapi Culture Shock di Kota Medan
Based on the author's pre-study of 19 members of KMJ USU stated that they experienced problems when facing a new environment. There are some differences in the meaning of the word that make a misunderstanding with the person encountered. The accent of speech and intonation is considered to tend to be loud, strong and has a high tone of speech. Finally, it causes discomfort when communicating with friends and with the surrounding community. Other students expressed surprise at the local community's irregularity and indiscipline in traffic that was considered more severe than in their home areas. Based on the response of 19 students who experienced culture shock, it was shown that the 15 students who experienced this had an impact on aspects of their lives as immigrants in the city of Medan. They admit that their confidence is reduced when communicating with the surrounding community as well as their classmates. Other students also revealed that there are often miss communication or misunderstandings when talking to friends on campus. Some other students stated that they felt uncomfortable in communicating with the surrounding community outside the campus environment because of differences in accent.
This different feeling is what is meant by cultural shock or culture shock. Every individual experiencing culture shock should try to adjust to a new environment. This research aims to describe the adaptation patterns of KMJ USU organizations in dealing with culture shock in Medan City. This research is also expected to be useful in academic and practical fields. This research is quantitative descriptive research. The study respondents were determined by non probability sampling (quota sampling) techniques distributed to 75 respondents. Data collection using questionnaires, interviews, observation and documentation. Data processing techniques use SPSS and use frequency distribution analysis until conclusions and research recommendations are obtained.
The results of this study show that there are differences in the conditions experienced by each kmj organization student in the five phases of cultural adaptation. Differences in socio-cultural conditions resulted in students experiencing culture shock in the city of Medan. However, students choose to survive and face all existing conditions, so that overall all students are able to adapt to the new cultural environment. This can be seen from the results of the average score of the questionnaire score on the likert scale which is between the intervals of 2.6-3.25 showing a positive value. The obstacles in the adaptation pattern of students of the KMJ USU organization come from within themselves and the environment.Berdasarkan pra penelitian penulis terhadap 19 anggota KMJ USU menyatakan bahwa mereka mengalami masalah saat menghadapi lingkungan baru. Ada beberapa perbedaan makna kata yang membuat kesalahpahaman dengan orang yang ditemui. Logat bicara dan intonasi dianggap cenderung lantang, kuat dan memiliki nada berbicara yang tinggi. Akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan saat berkomunikasi dengan teman sekampus maupun dengan masyarakat sekitar. Mahasiswa lainnya menyatakan terkejut dengan ketidakteraturan dan ketidakdisiplinan masyarakat setempat dalam berlalu lintas yang dianggap lebih parah dari pada daerah asalnya. Berdasarkan respon 19 mahasiswa yang mengalami culture shock menunjukkan bahwa 15 mahasiswa yang mengalami hal tersebut berdampak terhadap aspek kehidupan mereka sebagai pendatang di kota Medan. Mereka mengaku bahwa kepercayaan diri mereka berkurang saat berkomunikasi dengan masyarakat sekitar serta teman sekampus mereka. Mahasiswa lain juga mengungkapkan bahwa seringnya terjadi miss communication atau kesalahpahaman saat berbicara dengan teman di lingkungan kampus. Sebagian mahasiswa lainnya menyatakan bahwa merasa tidak nyaman dalam berkomunikasi dengan masyarakat sekitar luar lingkungan kampus karena perbedaan logat.
Perasaan berbeda inilah yang dimaksud dengan keterkejutan budaya atau culture shock. Setiap individu yang mengalami culture shock harus berusaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola adaptasi anggota organisasi KMJ USU dalam menghadapi culture shock di Kota Medan. Penelitian ini juga diharapkan mampu bermanfaat di bidang akademis maupun praktis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Responden penelitian ditentukan dengan teknik quota sampling yang disebarkan kepada 75 responden. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner, wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik pengolahan data menggunakan SPSS dan menggunakan analisis distribusi frekuensi hingga diperoleh kesimpulan dan rekomendasi penelitian.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan kondisi yang dialami masing-masing mahasiswa organisasi KMJ dalam lima fase adaptasi budaya. Perbedaan kondisi sosial budaya mengakibatkan mahasiswa mengalami culture shock di kota Medan. Namun mahasiswa memilih bertahan dan menghadapi segala kondisi yang ada, sehingga secara keseluruhan semua mahasiswa mampu beradaptasi di lingkungan budaya baru. Hal ini dapat dilihat dari hasil nilai rata-rata skor kuesioner pada skala likert yang berada diantara interval 2,6-3,25 menunjukkan nilai positif. Adapun hambatan dalam pola adaptasi mahasiswa organisasi KMJ USU berasal dari dalam diri dan lingkungan.137 HalamanSkripsi Sarjan
Tingkat Saling Percaya (Mutual Trust) Etnis Tamil Terhadap Etnis Tionghoa, Jawa, Mandailing dan Minang di Kelurahan Petisah Tengah Kecamatan Medan Petisah
Kehadiran masyarakat Tamil di Sumatera Utara telah terekam dalam prasasti bertarikh 1010 Saka atau 1088 M tentang perkumpulan pedagang Tamil di Barus yang ditemukan di Lobu Tua (Barus) pada tahun 1873 yaitu sebuah kota purba di pinggir pantai Samudera Hindia. Bermata pencaharian sebagai pedagang dan kuli perkebunan telah mewarnai kedatangan bangsa India ke Nusantara. Namun belum ada organiasasi yang dapat menghimpun masyarakat Etnis Tamil, mereka akan lebih terikat dengan satu kesatuan dengan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sudah sejauh mana tingkat saling percaya (mutual trust) masyarakat Etnis Tamil pada masyarakat etnis lain di Kampung Madras dan sekitaran Kuil Shri Mariamman. Penelitian ini juga diharapkan mampu bermanfaat di bidang akademis maupun praktis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Responden penelitian ditentukan dengan accidental sampling kemudian dilanjutkan dengan cara bergulir (snow ball sampling) sebanyak 69 responden. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner, wawancara dan dokumentasi. Teknik pengolahan data menggunakan SPSS dan menggunakan analisis distribusi frekuensi hingga diperoleh kesimpulan dan rekomendasi penelitian. Berdasarkan teori kepercayaan (trust) dapat diketahui bahwa rasa saling percaya masyarakat akan etnis lain dapat diidentifikasi berdasarkan tingkatan tertentu. Melalui hasil penelitian dapat diketahui bahwa tingkat saling percaya masyarakat di Kampung Madras dan sekitaran Kuil Shri Mariamman dikategorikan pada tingkat rasa saling percaya dan solidaritas serta jarak sosial antar-etnis. Bentuk rasa saling percaya dan solidaritas diantaranya tidak khawatir saat berhubungan dengan etnis yang berbeda, membantu dan melindungi diri dari gangguan orang jahat. Jarak sosial antar-etnis menentukan keterlibatan masyarakat dalam memilih etnis yang berbeda berdasarkan kategori: sosial, ekonomi, politik dan pendidikan. Masyarakat etnis Tamil diberikan kesempatan yang luas untuk menentukan rasa saling percaya dan solidaritas serta jarak sosial dengan etnis yang berbeda. Namun harus diakui tingkat saling percaya masyarakat belum maksimal. Kerjasama yang lebih berkesimbambungan dan mendukung rasa saling percaya masih perlu ditingkatkan.The presence of the Tamil community in North Sumatra has been recorded in the inscription dated 1010 Saka or 1088 AD about the Tamil merchant association in Barus which was found in Lobu Tua (Barus) in 1873, an ancient city on the coast of the Indian Ocean. Eyed livelihood as traders and plantation coolies has colored the arrival of Indians to the archipelago. But there is no organization that can bring together the Tamil Ethnic community, they will be more attached to one unit with them. This study aims to describe the extent of mutual trust of the ethnic Tamil community in other ethnic communities in Madras Village and around the Shri Mariamman Temple. This research is also expected to be useful in both the academic and practical fields. This research is quantitative descriptive. Research respondents determined by accidental sampling then proceed by rolling (snow ball sampling) as many as 69 respondents. Data collection using questionnaires, interviews and documentation. Data processing techniques using SPSS and using frequency distribution analysis to obtain conclusions and research recommendations. Based on the theory of trust (trust) can be known that mutual trust among other ethnists can be identified at a certain level. Through on the results of the study it can be seen that the level of mutual trust in Madras Village and the surrounding Shri Mariamman Temple is categorized at the level of mutual trust and solidarity and inter-ethnic social distance. Forms of mutual trust and solidarity include not worrying when dealing with different ethnicities, helping and protecting themselves from the interference of bad people. Inter-ethnic social distance determines community involvement in choosing different ethnicities based on categories: social, economic, political and educational. The ethnic Tamil community is given ample opportunity to determine mutual trust and solidarity and social distance with different ethnicities. However, it must be acknowledged that the level of mutual trust among the community is not yet maximal. More sustainable cooperation and supporting mutual trust still need to be improved.212 HalamanSkripsi Sarjan
Modal Sosial Organisasi Ikatan Mahasiswa Simalungun USU (IMAS USU)
Organisasi IMAS USU adalah sebuah organisasi kedaerahan yang bergerak di bidang pendidikan dan budaya serta beranggotakan murni mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara. Organisasi IMAS USU dalam perkembanganya tentu tidak terlepas dari pihak-pihak luar, tentu dalam menjalin hubungan dengan pihak luar ini IMAS USU sangat menjaga hubungannya agar dapat berjalan dengan baik. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana peran modal sosial dalam mempengaruhi organisasi IMAS USU dalam perkembangannya. Dalam pelaksanaan penelitan ini digunakan teknik kualitatif yang bertujuan menjelaskan kondisi dan keadaan dari pemamfaatan modal sosial di dalam organisasi IMAS USU. Dalam pengumpulan informasi dan data-data juga menggunakan cara wawancara dengan informan, observasi, dokumentasi, dan jurnal yang masih berkaitan dengan penelitian. Lokasi penelitian ini berada di sekretariat IMAS USU yang beralamat di Jalan Seruling Pasar 1 Padang bulan, Medan. Didalam perkembanganya organisasi IMAS USU sangat banyak memanfaatkan modal sosial, modal sosial yang dimanfaatkan tidak hanya keluar organisasi tetapi juga kepada sesama anggota organisasi. Pemanfaatan modal sosial ini antara lain seperti Jaringan, Trust, Proaktif, Nilai, Norma dan Resiprositas. Bentuk jaringan yang di hasilkan seperti kepada pemerintah, alumni, organisasi lain, dan sesama anggota. Proaktif antara lain kegiatan aksi dana secara bersama-sama, alumni yang memberikan bantuan ataupun saran-saran dalam berbagai kegiatan organisasi, dan memberikan sumbangan dan hadir dalam acara sesama anggota. Trust yaitu pemerintah meminta IMAS USU untuk hadir dalam acara pemerintahan, permintan organisasi lain kepada IMAS USU dalam mengisi acara, kepercayaan masyarakat menitipkan anaknya kepada organisasi IMAS USU, pemberian mandat kepada anggota biasa dalam melakukan audiensi ke pihak luar,pemilihan pengurus organisasi, dan alumni mengundang anggota aktif untuk ambil bagian di acara. Norma yaitu tanggung jawab,saling menghargai,kejujuran dalam menjalankan tanggung jawab kepengurusan,dan disipilin. Nilai yaitu sifat demokratis, perilaku sopan, ramah, dan toleransi yang tinggi. Resiprositas yaitu memberikan sumbangan dan hadir dalam acara sesama anggota.Skripsi Sarjan
Modal Sosial dalam Operasional Credit Union (Studi Deskriptif pada Credit Union Cinta Kasih, Pulo Brayan, Kota Medan)
Credit Union adalah bentuk lembaga permodalan yang dibentuk secara
swadaya masyarakat artinya tidak menggunakan bantuan pemerintah dalam
subsidi modal kepada usaha masyarakat, yakni adalah masyarakat tersebut
sendirilah yang bergotong royong dalam pemenuhan modal usaha secara bersamasama.
Karena itu Credit Union sendiri lahir dari bentuk perlawanan terhadap
pemburu rente atau tengkulak, yang merugikan masyarakat. Penelitian ini
bertujuan untuk mendeskripsikan konsep modal sosial yang terimplementasi pada
program-program yang dijalankan oleh Credit Union, yakni pada sisi pemanfaatan
dan pengelolaan.Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana penerapan
modal sosial dalam keorganisasian credit union.
Adapun jenis penelitian pada skripsi ini adalah penelitian studi deskriptif
dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah, observasi, wawancara mendalam serta
menggunakan data sekunder.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa credit union memanfaatkan
modal sosial serta implementasi teori pertukaran sosial, hal tersebut terlihat jelas
pada kegiatan-kegiatan Credit Union, pada sistem kredit dan sistem pendidikan
dan pengembangan yang diterapkan oleh Credit Union Cinta Kasih P.Brayan –
Medan. Penguatan pendidikan menjadi dasar perbedaan dengan bank
konvensional, pengelolaan organisasi yang dilakukan secara internal oleh anggota
dengan sistem regulasi yang ada juga menunjukkan kekuatan modal sosial bahwa
partisipasi, jaringan dan norma-norma yang disepakati bersama untuk dijalankan
bersama-sama adalah sesuai dengan filosofi Credit Union.90 HalamanSkripsi Sarjan
Sisa-Sisa Budaya Feodalisme pada Masyarakat Perkebunan (Studi Deskriptif pada Masyarakat Perkebunan di PTPN II Tandem Hilir I Kec Hamparan Perak Kab Deli Serdang)
Globalisasi merupakan suatu proses di mana antarindividu, antarkelompok, dan
antarnegara saling berinteraksi, bergantung, berhubungan, dan mempengaruhi satu
sama lain yang melintasi batas negara.
Akibat dari globalisasi adalah munculnya modernisasi baik dalam bidang
teknologi, sosial maupun budaya. Modernisasi membuat masyarakat kepada era yang
lebih maju. Ini dikarenakan modernisasi membentuk pola pikir masyarakat agar lebih
modern. Modernisasi membawa dampak bagi para penganutnya baik itu dampak
positif maupun dampak yang negatif. Modernisasi dapat membuat masyarakat
menjadi semakin konsumtif tanpa mengetahui manfaat yang akan diperoleh dari
adanya penggunaan sesuatu yang diarahkan oleh konsep modernisasi. Sama halnya
dengan masyarakat perkebunan yang sedang berkembang. Mereka akan dengan
terbuka menerima kemajuan-kemajuan, baik di bidang teknologi, sosial dan budaya
yang masuk. Kemajuan-kemajuan tersebut dapat dilihat secara langsung dengan
mulai banyaknya masyarakat perkebunan yang telah menggunakan alat-alat
berteknologi canggih, seperti handphone dengan fitur lengkap. Kehidupan para buruh
perkebunan ini pun memiliki keterikatan dan ketergantungan kepada pihak penguasa
perkebunan sehingga hal ini menghambat gerak sosial para buruh perkebunan untuk
melakukan perbaikan-perbaikan pada generasi mereka selanjutnya. Dari sinilah
masyarakat perkebunan mulai menerima pengaruh globalisasi guna menuju kepada
masyarakat yang modern.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif
dengan pendekatan studi deskriptif. Di dalam pengumpulan data peneliti
menggunakan teknik wawancara mendalam dimana peneliti tidak hanya sekedar
dapat mengamati secara langsung kondisi informan di PT. Perkebunan Nusantara I
(Persero) Desa Tandem Hilir I Kec. Hamparan Perak Kab. Deli Serdang, tetapi juga
dapat melakukan wawancara mendalam dengan mereka. Data yang diperoleh melalui
teknik wawancara mendalam dengan menggunakan panduan wawancara (interview
guide). Hal ini dimaksudkan untuk dapat memperoleh data yang sesuai dengan
masalah yang diteliti dan tujuan dari penelitian ini, kemudian data tersebut dapat
diinterpretasikan.
Dari penelitian yang telah dilakukan sampai pada tahap interpretasi data,
ditemukan bahwa feodalisme di dalam penelitian yang dimaksud adalah suatu paham
yang menjunjung tinggi adanya atasan dan bawahan. Sehingga ada pihak yang
ditindas dan pihak yang menindas. Sisa-sisa budaya feodalisme secara sadar atau
tidak ternyata telah dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat
perkebunan. Ini dapat dilihat dari hasil penelitian di lapangan ternyata ada pula yang
sejak kecil telah bertempat tinggal dikarenakan orangtua mereka sendiri memang
merupakan masyarakat asli di perkebunan. Adapun bentuk lain dari sisa-sisa budaya
feodalisme yang masih dilestarikan adalah atasan yang biasanya memegang
wewenang dan peranan yang sangat penting diperkebunan masih melakukan hal-hal
seperti dalam pengambilan keputusan hanya segelintir orang yang dilibatkan dan
orang-orang tersebut adalah dari kalangan petinggi di perkebunan juga.88 HalamanSkripsi Sarjan
Perubahan Sosial Masyarakat Kota Tambang Minyak “Pertama” Pangkalan Brandan (Periode 1980 - 2014)
Perubahan sosial adalah suatu keniscayaan tidak terkecuali pada
masyarakat kota Pangkalan Brandan. Pangkalan Brandan yang dulunya
merupakan tonggak lahirnya industri migas pertama di Indonesia karena di
kawasan inilah awal minyak ditemukan hingga menjadi tempat dari cikal bakal
Pertamina. Hingga pengusahaan minyak tersebut berkembang dalam dua jurus
pertama domestik yaitu keuntungan nasional terkhusus regional dan kedua ekspor
yang dilandasi ekspektasi keuntungan yang lebih menjanjikan. Kehadiran
pertambangan tersebut memberi kontribusi baik secara langsung bagi para pekerja
maupun tidak langsung yaitu bagi pihak dari bagian multiple effect. Akan tetapi,
seiring dengan perjalanan waktu, masyarakat kota Pangkalan Brandan harus
menghadapi tantangan dengan menyurutnya peran migas. Penutupan kilang
minyak akibat sifat minyak bumi sebagai SDA yang tidak dapat diperbaharui
membuat masyarakat harus menerima segala perubahan yang terjadi bagi para
pekerja maupun yang di-PHK serta yang menerima imbas dari side effect.
Keadaan tersebut merupakan kondisi paradoksal karena di satu sisi Pangkalan
Brandan merupakan tempat kelahiran migas Indonesia tetapi di sisi lain kenyataan
akan menurunnya peran migas juga tidak terhindarkan. Oleh sebab itu, yang
menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah proses
perubahan sosial masyarakat kota tambang minyak “pertama”Pangkalan Brandan.
Jenis penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif dengan paradigma
kualitatif. Lokasi penelitian dilakukan di kota Pangkalan Brandan, Kecamatan
Babalan, Kabupaten Langkat. Unit analisis dalam penelitian ini adalah
keseluruhan pihak yang diperhitungkan untuk menjadi subjek penelitian yaitu
informan kunci yang terdiri dari dinas perindustrian dan peradgangan, pensiunan
Pertamina, pegawai Pertamina dan tokoh masyarakat dan yang menjadi informan
biasa adalah perwakilan dari etnis tionghoa. Teknik pengumpulan data yang
dilakukan adalah dengan observasi partisispasi, wawancara mendalam,
dokumentasi dan sumber data sekunder. Terakhir, interpretasi data disajikan
dalam bentuk laporan dari hasil penelitian tersebut.
Hasil studi penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa perubahan
sosial yang terjadi adalah sebagai berikut: Pertama; perubahan mata pencaharian,
dulu dominasi yang digeluti kecendrungan di industri pertambangn sekarang
berubah ke sektor formal, informal serta investasi lahan pertanian/perkebunan.
Kedua; kesempatan kerja, dulu besar peluang untuk bekerja di UP I sekarang
hampir tidak ada kecuali non-pertambangan. Ketiga; perubahan gaya hidup, dulu
hedonis merupakan ciri dari kehidupan pegawai Pertamina dan dominan
bersosialisasi di dalam komplek sekarang hidup sederhana dan lebih banyak
bersosialisasi di luar komplek. Keempat; perubahan peran ekonomi, dulu sektor
domestik dipegang oleh istri dan publik oleh suami sekarang baik suami dan istri
keduanya bekerja di sektor publik. Kelima; tingkat kriminalitas, dulu tercipta
keadaan aman dan kondusif sekarang banyak kriminalitas, preman kampung dan
rasa aman yang berkurang112 HalamanSkripsi Sarjan
- …
