11 research outputs found

    Kyphoplasty Technique for Thoraco-Lumbar Compression Fracture

    No full text
    Osteoporotic vertebral compression fracture (VCF) is a significant cause of morbidity and mortality among elderly patients. Fractures can happen because of osteoporosis, tumours, or other conditions.In the past two decades, kyphoplasty has emerged as surgical options that play a central role in the treatment of vertebral compression fractures. Before the common use of kyphoplasty, the principal surgical option for treatment of compression fractures was decompression and fusion. However, surgical fixation frequently failed in elderly patients because of osteopenia. Kyphoplasty has expanded to include treatment of osteoporotic compression fractures, traumatic compression fractures, and metastatic compression fractures. Osteoporotic compression fractures are now the most common indication for this procedure.Kyphoplasty utilizes an inflatable balloon to create a cavity for the cement with the additional potential goals of restoring height and reducing kyphosis. Kyphoplasty is an effective treatment options for the reduction of pain associated with vertebral body compression fractures. Biomechanical studies demonstrate that kyphoplasty is initially superior for increasing vertebral body height and reducing kyphosis, but these gains are lost with repetitive loading. Complications secondary to extravasation of cement include compression of neural elements and venous embolism. These complications are rare but more common with vertebroplasty. Kyphoplasty is a safe and effective procedure for the treatment of vertebral body compression fractures.

    Management Information System Design Diponegoro UKSW Campus Tree

    No full text
    Pohon memiliki peran krusial dalam menciptakan lingkungan yang nyaman dan asri di Kampus UKSW Diponegoro, berpengaruh pada kesejahteraan mahasiswa dan kelangsungan ekosistem. Meskipun pohon menjadi elemen penting, pengelolaan dan perawatan pohon seringkali minim perhatian, dapat menyebabkan cedera atau kerusakan properti. Tumbangnya pohon 12 tahun lalu di parkiran kampus menjadi peristiwa yang mengingatkan akan pentingnya perawatan pohon. Kurangnya pemangkasan dan kontrol tajuk pohon, serta beberapa pohon yang mengganggu bangunan, menunjukkan perlunya tindakan lebih serius terhadap manajemen pohon. Kondisi semakin rumit dengan jumlah pohon yang besar, memerlukan data yang komprehensif. Oleh karena itu, penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) menjadi solusi efektif untuk mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data, memudahkan pengambilan keputusan terkait keanekaragaman pohon, kerusakan pohon dan analisis nilai ekonomi pohon. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah membuat data identifikasi klasifikasi pohon di kawasan kampus Diponegoro UKSW dan membuat Sistem Informasi Manajemen Pohon yang berisikan data-data terkait pohon di kawasan kampus Diponegoro UKSW. Metode yang digunakan untuk merancang system ini adalah System Development Life Cycle (SDLC). Hasil dari gabungan metode dan alat-alat penelitian yang digunakan selama peneltian ini berlangsung adalah platform website yang bernama SiiNPO (Sistem Informasi Pohon) yang telah memuat data pohon yang ada di kampus Diponegoro UKSW.Trees play a crucial role in creating a comfortable and lush environment at the Diponegoro UKSW Campus, impacting student well-being and ecosystem sustainability. Despite their importance, tree management and maintenance often receive minimal attention, potentially leading to injuries or property damage. The collapse of a tree in the campus parking lot 12 years ago serves as a reminder of the importance of tree care. The lack of pruning and canopy control, along with some trees interfering with buildings, highlights the need for more serious tree management actions. The situation is further complicated by the large number of trees, necessitating comprehensive data. Therefore, the implementation of a Management Information System (MIS) becomes an effective solution for collecting, processing, and analyzing data, facilitating decision-making related to tree diversity, tree damage, and economic value analysis. The aim of this research is to create a tree classification identification database at the Diponegoro UKSW campus and to develop a Tree Management Information System containing data related to trees on the Diponegoro UKSW campus. The method used to design this system is the System Development Life Cycle (SDLC). The outcome of combining methods and research tools during this study is a website platform named SiiNPO (Tree Information System), which includes data on trees at the Diponegoro UKSW campus

    ADVANCEMENTS IN REGENERATIVE THERAPIES FOR LUMBAR DISCOGENIC PAIN : THEORETICAL REVIEW OF STEM CELL THERAPY AND GENE THERAPY

    No full text
    Nyeri diskogenik lumbal yang diakibatkan oleh degenerasi diskus intervertebralis merupakan kondisi yang umum dan melemahkan yang berdampak signifikan pada kualitas hidup pasien dan membebani sistem perawatan kesehatan. Perawatan tradisional sering kali gagal mengatasi patologi yang mendasarinya, sehingga mendorong peningkatan minat pada terapi regeneratif seperti terapi sel punca, biologik, dan terapi gen, yang bertujuan untuk memulihkan fungsi diskus dan memberikan kelegaan yang bertahan lama. Tinjauan pustaka dilakukan menggunakan PubMed, MEDLINE, dan Embase, dengan fokus pada studi dari 10 tahun terakhir. Kata kunci meliputi "regenerasi diskus intervertebralis," "terapi sel punca," dan "terapi gen." Studi dipilih berdasarkan relevansi dan kualitas metodologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi sel punca menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam meningkatkan regenerasi diskus melalui diferensiasi seluler dan sekresi faktor pertumbuhan. Terapi gen menawarkan perbaikan diskus yang terarah tetapi menghadapi kendala terkait sistem pemberian dan keamanan. Terapi regeneratif berpotensi mengubah manajemen nyeri diskogenik lumbal dengan mengatasi akar penyebabnya daripada gejalanya. Namun, tantangan etika, regulasi, dan teknis harus diatasi. Penelitian lebih lanjut, termasuk uji coba jangka panjang dan multipusat, sangat penting untuk memvalidasi manfaat klinisnya

    ADENOCARCINOMA TUMOR IN THE CEREBELLUM AS METASTASIS FROM LUNG CANCER WITH KLEBSIELLA OXYTOCA WITHIN THE TUMOR: A CASE REPORT

    No full text
    Laporan kasus ini merinci kejadian langka metastasis serebelar akibat kanker paru-paru, yang dipersulit oleh infeksi intratumoral Klebsiella oxytoca pada pria berusia 57 tahun dengan riwayat perokok berat. Pasien awalnya mengalami vertigo persisten, tidak responsif terhadap pengobatan standar. Pemindaian MRI menunjukkan massa serebelar dengan peningkatan kontras, disertai massa paru multipel. Tes darah menunjukkan leukositosis, anemia, dan peningkatan jumlah neutrofil, menunjukkan adanya infeksi aktif. Evaluasi patologis selanjutnya pada tumor serebelar memastikan adanya adenokarsinoma metastatik, dengan temuan tambahan infeksi Klebsiella oxytoca di dalam jaringan tumor. Mengingat diagnosis ganda adenokarsinoma metastatik dan infeksi bakteri sekunder, pasien menjalani operasi trepanasi darurat untuk mengurangi tekanan dan mengangkat tumor. Terapi antibiotik yang ditargetkan dimulai untuk mengatasi infeksi, diikuti dengan pemantauan pasca operasi yang berkelanjutan. Strategi pengobatan komprehensif ini menghasilkan perbaikan signifikan pada gejala pasien, khususnya resolusi vertigo, dan peningkatan kualitas hidup secara keseluruhan. Kasus ini menyoroti pentingnya pemeriksaan diagnostik menyeluruh dan pendekatan multidisiplin ketika menangani kasus kompleks yang melibatkan tumor otak metastatik dengan komplikasi infeksi sekunder. Identifikasi dini agen infeksi, bersama dengan intervensi bedah yang cepat dan terapi yang ditargetkan, sangat penting untuk mengoptimalkan hasil pasien dan meningkatkan prognosis jangka panjang dalam skenario klinis yang jarang dan menantang

    Kyphoplasty for Managing Compression, Pain, and Diagnostic Confirmation of Thoracolumbosacral Metastases from Axillary Apocrine Adenocarcinoma: A Case Report

    No full text
    Spinal metastases are a common complication in advanced malignancies, often leading to significant pain and structural instability. Axillary apocrine adenocarcinoma rarely metastasizes to the spine, making its clinical course poorly understood. Kyphoplasty, a minimally invasive vertebral augmentation technique, offers rapid pain relief, structural stabilization, and diagnostic confirmation of metastatic lesions. A 72-year-old male with a history of left axillary apocrine adenocarcinoma presented with progressive back and lumbar pain. Imaging revealed thoracolumbosacral metastases with canal stenosis, and histopathology confirmed metastatic adenocarcinoma. Kyphoplasty was performed on vertebrae L2-L4 to manage pain and compression. Post-procedure, the patient reported significant pain relief, improved mobility, and no complications. The procedure also facilitated tissue sampling for diagnostic confirmation. Kyphoplasty effectively managed pain, spinal compression, and diagnostic challenges in this rare case of thoracolumbosacral metastases from axillary apocrine adenocarcinoma. This report emphasizes the importance of kyphoplasty as a therapeutic and diagnostic tool for metastatic spinal disease and highlights the need for further studies on its long-term efficacy

    CHALLENGING MANAGEMENT OF FAIL BACK SURGERY SYNDROME IN A 66-YEAR-OLD FEMALE : A CASE REPORT OF PERSISTENT PAIN AFTER MULTIPLE LUMBAR SURGERIES

    No full text
    Laporan kasus ini menggambarkan seorang pasien wanita berusia 66 tahun yang didiagnosis menderita Fail Back Surgery Syndrome (FBSS) setelah dua kali operasi tulang belakang lumbal. Pasien awalnya mengalami nyeri punggung bawah kronis yang menjalar ke kedua kaki, yang menetap meskipun telah dilakukan intervensi bedah. Pencitraan resonansi magnetik (MRI) pra-bedah menunjukkan stenosis kanal pada L3-4 dan L5-S1, dengan spondylolisthesis pada L4-5. Operasi pertama melibatkan dekompresi saluran akar dan penempatan sangkar lumbal pada L4-5 dan L5-S1, diikuti dengan operasi kedua yang terdiri dari laminektomi dan fiksasi internal lumbal posterior dengan batang dan sekrup. Meskipun telah dilakukan prosedur ini, pasien terus mengalami rasa sakit yang parah dan berkurangnya mobilitas. Gejala pasca operasi yang sedang berlangsung menghadirkan tantangan dalam menangani kasus ini, terutama mengingat usia pasien dan penyebab utama FBSS. Penilaian neurologis menunjukkan berkurangnya refleks dan defisit sensorik, yang mengindikasikan kompresi akar saraf. Evaluasi diagnostik mengesampingkan kegagalan perangkat keras dan kompresi sisa, sehingga mengkonfirmasikan diagnosis FBSS. Pengelolaan FBSS masih merupakan tantangan dan memerlukan pendekatan yang disesuaikan. Kasus ini menekankan pentingnya perencanaan pra-bedah individual, pemantauan ketat pasca operasi, dan menggabungkan berbagai pilihan pengobatan. Intervensi di masa depan, seperti stimulasi sumsum tulang belakang, dapat memberikan bantuan, menyoroti perlunya penelitian berkelanjutan untuk meningkatkan hasil pada pasien FBSS

    KYPHOPLASTY FOR MANAGING COMPRESSION, PAIN, AND DIAGNOSTIC CONFIRMATION OF THORACOLUMBOSACRAL METASTASES FROM AXILLARY APOCRINE ADENOCARCINOMA: A CASE REPORT

    No full text
    Metastasis tulang belakang merupakan komplikasi umum pada keganasan lanjut, yang sering kali menyebabkan nyeri hebat dan ketidakstabilan struktural. Adenokarsinoma apokrin aksila jarang bermetastasis ke tulang belakang, sehingga perjalanan klinisnya kurang dipahami. Kyphoplasty, teknik pembesaran tulang belakang minimal invasif, menawarkan penghilangan nyeri yang cepat, stabilisasi struktural, dan konfirmasi diagnostik lesi metastasis. Seorang pria berusia 72 tahun dengan riwayat adenokarsinoma apokrin aksila kiri datang dengan nyeri punggung dan pinggang yang progresif. Pencitraan menunjukkan metastasis torakolumbosakral dengan stenosis kanal, dan histopatologi mengonfirmasi adenokarsinoma metastasis. Kyphoplasty dilakukan pada vertebra L2-L4 untuk mengatasi nyeri dan kompresi. Pascaprosedur, pasien melaporkan penghilangan nyeri yang signifikan, peningkatan mobilitas, dan tidak ada komplikasi. Prosedur ini juga memfasilitasi pengambilan sampel jaringan untuk konfirmasi diagnostik. Kyphoplasty secara efektif mengatasi nyeri, kompresi tulang belakang, dan tantangan diagnostik dalam kasus metastasis torakolumbosakral yang langka ini dari adenokarsinoma apokrin aksila. Laporan ini menekankan pentingnya kyphoplasty sebagai alat terapi dan diagnostik untuk penyakit tulang belakang metastasis dan menyoroti perlunya penelitian lebih lanjut tentang kemanjurannya dalam jangka panjang

    THE RELATIONSHIP BETWEEN SITTING TIME AND SITTING POSITION AND LOW BACK PAIN COMPLAINTS AMONG STUDENTS OF SMAN 1 PARAKANSALAK

    No full text
    Low back pain (LBP)sering dialami remaja, diduga dipengaruhi oleh durasi duduk yang lama dan posisi duduk tidak ergonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara lama duduk, posisi duduk tidak ergonomis, dan keluhan LBP pada siswa kelas XII SMAN 1 Parakansalak, Sukabumi, Indonesia. Penelitian observasional potong lintang dilakukan terhadap 194 siswa. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang menilai lama duduk, posisi duduk (menggunakan Body Awareness of Postural Habits in Young People [BAPHY]), dan keluhan LBP (menggunakan Roland-Morris Disability Questionnaire [RMDQ]). Uji Chi-square dan rasio prevalensi digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel. Prevalensi LBP mencapai 52,1% (101/194 siswa). Duduk >7 jam/hari berhubungan signifikan dengan LBP dalam seminggu terakhir (96,0% vs. 4,0%, χ²=126,702, p<0,001) dan setahun terakhir (96,0% vs. 4,0%, χ²=126,702, p<0,001). Posisi duduk tidak ergonomis juga berhubungan signifikan dengan LBP dalam seminggu terakhir (91,1% vs. 8,9%, χ²=90,857, p<0,001) dan setahun terakhir (91,1% vs. 8,9%, χ²=90,857, p<0,001). Lama duduk dan posisi duduk tidak ergonomis berhubungan kuat dengan LBP pada siswa SMA. Intervensi berupa penyediaan furnitur ergonomis, jeda berkala, dan edukasi postur dianjurkan.                                                                                                                                                                         Kata kunci                     :  Low back pain, lama duduk, posisi duduk, ergonomi, remaj

    Cervical Myelopathy Due to Multilevel Ossification of the Posterior Longitudinal Ligament: A Case Report of Surgical Management With Laminoplasty

    No full text
    Ossification of the posterior longitudinal ligament (OPLL) is a degenerative spinal condition characterized by ectopic bone formation along the posterior aspect of the vertebral bodies, most commonly affecting the cervical region. This process leads to gradual spinal canal narrowing and may result in cervical myelopathy due to chronic spinal cord compression. A 52-year-old male presented with severe bilateral arm pain, progressive upper extremity weakness, and paresthesia following minor trauma. Neurological examination revealed upper limb motor deficits and positive pathological reflexes. Cervical MRI showed multilevel OPLL from C3 to C6 with significant spinal cord compression and intramedullary hyperintensity. The patient underwent cervical laminoplasty to decompress the spinal cord while preserving vertebral stability. Postoperative follow-up demonstrated substantial neurological recovery, improvement in motor function, resolution of paresthesia, and stable implant positioning. Laminoplasty is a reliable surgical option for managing cervical myelopathy in multilevel OPLL, offering effective decompression and preservation of spinal alignment and motion

    Profil Neuropati Perifer dan Korelasinya dengan Kadar Gula Darah Sewaktu di Panti Lansia Santa Anna

    No full text
    ABSTRACT Diabetes, as a global disease, continues to increase worldwide without being limited by location. The burden of diabetes in the elderly population is a significant health issue. Peripheral neuropathy caused by diabetes is strongly associated with physical limitations in older individuals. This cross-sectional study aims to determine the characteristics of peripheral neuropathy in participants who meet the criteria, using a total sampling at Santa Anna on July 15, 2023, and explore its correlation with blood sugar levels. Evaluation of sensory and motor clinical symptoms using Neuropathy Symptom Score (NSS) questionnaire. Abnormal reflexes and sensory function were assessed using Neuropathy Deficit Score (NDS) questionnaire. Blood sugar levels were measured using POCT method following standard procedures. Statistical analysis using the Kruskall Wallis test. Out of the 68 participants, the average age was 74.06 years, with 67.6% of the participants being female. The overall average blood sugar level was found to be 115.82 mg/dL. Based on the NSS and NDS classifications, 8.8% and 23.5% of the total participants were categorized as having severe symptoms, respectively. The statistical analysis revealed a significant difference in mean blood sugar levels between the NSS groups (p-value: 0.003). However, no significant difference was observed in mean blood glucose levels between the NDS groups (p-value: 0.264). Clinically, the severe symptom group had a higher median blood glucose level compared to the normal group. It is noteworthy that elevated transient blood sugar levels tend to impact the subjective symptoms (NSS) of peripheral neuropathy earlier than the objective symptoms (NDS). Keywords: Blood Glucose, Clinical Symptom, Peripheral Neuropathy  ABSTRAK Sebagai penyakit yang tersebar di seluruh dunia, diabetes terus berkembang tanpa memandang tempat dengan jumlah pasien yang semakin meningkat. Beban diabetes pada populasi lanjut usia merupakan masalah kesehatan yang krusial. Neuropati perifer yang diakibatkan oleh diabetes dikaitkan dengan disabilitas fisik yang signifikan pada populasi lanjut usia. Penelitian potong lintang ini bertujuan untuk mengetahui profil neuropati perifer pada responden yang memenuhi kriteria dengan menggunakan total sampling di Panti Santa Anna pada 15 Juli 2023 serta korelasinya dengan kadar gula darah sewaktu. Evaluasi gejala klinis sensorik dan motorik menggunakan kuesioner Neuropathy Symptom Score (NSS). Refleks tidak normal dan penilaian sensorik dieevaluasi menggunakan kuesioner Neuropathy Deficit Score (NDS). Gula darah sewaktu diukur menggunakan POCT sesuai prosedur standar. Analisis statistik menggunakan uji Kruskall Wallis. Dari 68 responden, rata-rata usia adalah 74,06 tahun dengan 67,6% responden adalah perempuan. Dari seluruh responden, didapatkan rata-rata gula darah sewaktu sebesar 115,82 mg/dL. Berdasarkan NSS dan NDS, persentase responden yang termasuk dalam klasifikasi berat adalah sebesar 8,8% dan 23,5% dari keseluruhan responden. Hasil uji statistik Kruskall Wallis menyatakan adanya perbedaan rerata kadar gula darah sewaktu antar kelompok NSS (p-value : 0,003). Namun, didapatkan tidak adanya perbedaan rerata kadar gula darah sewaktu antar kelompok NDS (p-value : 0,264). Secara klinis, kelompok dalam kategori berat memiliki nilai median kadar gula darah sewaktu lebih tinggi dibanding kelompok normal. Kadar gula darah sewaktu yang tinggi cenderung mempengaruhi gejala subjektif (NSS) dari neuropati perifer terlebih dahulu dibandingkan dengan gejala objektif (NDS) dari neuropati perifer. Kata Kunci: Gejala Klinis, Gula Darah, Neuropati Perife
    corecore