5 research outputs found
Efektifitas Pelatihan Pembina UKS dalam Mencegah Anemia Remaja Putri di Purwokerto
Tujuan:Anemia defisiensi besi merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia yang menonjol pada remaja. Remaja pada umumnya merupakan anak usia sekolah. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kesehatan anak usia sekolah pada setiap jalur, jenis dan jenjang pendidikan yaitu dari Sekolah Dasar sederajat, Sekolah Menengah Pertama sederajat dan Sekolah Menengah Atas sederajat. Kegiatan UKS dikenal sebagai trias UKS yaitu pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan lingkungan sekolah sehat. Pendidikan kesehatan merupakan salah satu upaya pencegahan anemia gizi besi pada remaja. Guru khususnya pembina UKS merupakan sasaran sekunder dalam upaya pencegahan anemia gizi besi pada remaja. Pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan guru. Oleh karena itu perlu dilakukan pelatihan dalam upaya pencegahan anemia gizi besi remaja terhadap pembina UKS. Metode:Penelitian ini merupakan jenis quasi experimental design dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 34 responden. Hasil:Hasil analisis univariat menunjukan bahwa terdapat peningkatan rata-rata skor pada pengetahuan yaitu 8,95%, pada sikap 14,54% dan pada keterampilan 1,62%. Hasil analisis bivariat menujukan ada perbedaan pengetahuan setelah pelatihan (p=0,001), ada perbedaan sikap setelah pelatihan (p=0,000) dan tidak ada perbedaan keterampilan setelah pelatihan (p=0,603). Kesimpulan:Ada perbedaan pengetahuan responden dalam upaya pencegahan anemia gizi besi remaja putri. Ada perbedaan sikap responden dalam upaya pencegahan anemia gizi besi remaja putri. Tidak ada perbedaan ketermpilan responden dalam upaya pencegahan anemia gizi besi remaja putri.
Analisis pelaksanaan SIJARI emas (sistem informasi jejaring rujukan maternal and neonatal survival) dalam pelayanan maternal: kabupaten Banyumas
Latar Belakang:Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang menyumbangkan AKI (Angka Kematian Ibu) tertinggi di Indonesia. Salah satu proram untuk mengatasinya adalah dengan efisiensi rujukan yang dikemas dalam program SIJARI EMAS. Program SIJARI EMAS telah dilaksanakan di 5 provinsi dengan AKI tertinggi di Indonesia, salah satunya Jawa Tengah. Pada region Jawa Tengah program SIJARI EMAS dilaksanakan di 7 Kabupaten, salah satunya Kabupaten Banyumas. Kabupaten Banyumas telah melaksanakan program ini sejak tahun 2012. Alasan Kabupaten Banyumas dipilih untuk menjalankan program ini karena, tingginya AKI di Kabupaten Banyumas pada tahun 2012 yaitu mencapai 144 per 100.000 KH, sekaligus menempati peringkat ke-6 di Jawa Tengah. Setelah program berjalan 5 tahun, Kabupaten Banyumas masih memilki AKI yang tinggi, hingga menempati peringkat ke-7 di Jawa Tengah dibandingkan dengan Kabupaten atau Kota lain yang tidak menjalankan program. Hal tersebut menggambarkan bahwa program SIJARI EMAS tidak berdampak signifikan terhadap kematian ibu di Banyumas. Metode: Kajian ini menggunakan literatur review tentang penggunaan sistem elektronik rujukan kesehatan. Hasil: SIJARI EMAS memudahkan dalam pelayanan rujukan maternal, namun masih perlu investasi intitusional untuk pelaksanaan yang baik. Penerimaan operator tentang kemanfaatan dan kemudahan program merupakan isu yang perlu diperhatikan. Sosialisasi dan pelatihan telah dilakukan, namun perlu memperluas jaringan pelayanan PONEK. Kesimpulan: Perlu dilakukan evaluasi atau penelitian lebih lanjut terhadap program SIJARI EMAS dari segi operator program di Puskesmas yaitu Bidan, Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit. Latar Belakang:Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang menyumbangkan AKI (Angka Kematian Ibu) tertinggi di Indonesia , dan Kabupaten Banyumas merupakan daerah dengan AKI tertinggi sebesar 101 per 100.000 KH pada tahun 2015. Banyak faktor yang menyebabkan AKI di Jawa Tengah tetap tinggi, salah satunya masalah keterlambatan rujukan. Dalam mengatasai masalah ini Pemerintah telah menginisiasi program yang meningkatkan efisiensi rujukan maternal yang dikemas sebagai program SIJARI EMAS, program SIJARI EMAS telah dilaksanakan di 7 kabupaten salah satunya Kabupaten Banyumas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pelaksanaan program SIJARI EMAS di Kabupaten Banyumas.Metode: Kajian ini menggunakan literatur review tentang pelaksanaan sistem rujukan maternal di Banyumas.Hasil: Berdasarkan hasil literatur review menunjukan sitem rujukan berbasis elektonik memudahkan dalam pelayanan rujukan, namun masih perlu ada regulasi pendukung dalam pelaksanaan program system rujukan berbasis elektronik, seperti evaluasi SDM terkait pelaksanaan program.Kesimpulan: Perlu dilakukan sosialisasi program dan penelitian lebih lanjut atau evaluasi pelaksanaan program SIJARI EMAS dari segi kesiapan SDM yang terlibat dalam program yang meliputi Puskesmas yaitu Bidan, Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit. Keyword: SIJARI EMAS, Rujukan, materna
Penanganan Kasus Kekerasan Seksual terhadap Anak di Pusat Pelayanan Terpadu Kekerasan Berbasis Gender dan Anak Kabupaten Banyumas
Tujuan: Menggambarkan penanganan kasus KTA pencabulan oleh PPT-PKBGA Kabupaten Banyumas dan memberikan alternatif solusi berdasarkan tinjauan literature. Metode: Menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus yang bersifat descriptive observational. Cara pengambilan data dilakukan dengan observasi, analisis data sekunder dan dokumentasi. Hasil: Berdasarkan data penanganan kasus di PPT-PKBGA Kabupaten Banyumas diketahui bahwa KTA merupakan kasus yang tinggi baik di tahun 2018 sebesar 44,7%. Kasus KTA yang paling sering terjadi adalah pencabulan sebanyak 57,1% dari jumlah kasus KTA yang terjadi di tahun 2018. Banyumas telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2015 tentang penyelenggaraan perlindungan korban kekerasan berbasis gender dan anak yang dilaksanakan oleh PPT-PKBGA dibawah Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Perlindungan Perempuan dan Anak (DPPKBP3A). Dalam melakukan pelayanan kasus KTA pencabulan dilakukan pendampingan psikis dan pendampingan hukum. Namun biaya perjalanan konseling tidak dilayani oleh pemerintah, tanpa memperhatikan kondisi ekonomi dan domisili korban. Tingginya kasus KTA pencabulan di Kabupaten Banyumas, namun belum terlihat aksi pencegahan yang serius. Simpulan: Pola kasus kekerasan berbasis gender dan anak di PPT-PKBGA Kabupaten Banyumas terus meningkat, dan yang paling banyak terjadi adalah KTA pencabulan. Solusi alternatif untuk menangani kasus KTA pencabulan adalah pencegahan yang berfokus terhadap peran orang tua, pendidikan dan sosialisasi kesehatan seksual berbasis sekolah, sounding out tentang efek dan hukuman dari KTA pencabulan
Analisis Pelaksanaan SIJARI Emas (Sistem Informasi Jejaring Rujukan Maternal And Neonatal Survival) dalam Pelayanan Maternal: Kabupaten Banyumas
Latar Belakang:Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang menyumbangkan AKI (Angka Kematian Ibu) tertinggi di Indonesia. Salah satu proram untuk mengatasinya adalah dengan efisiensi rujukan yang dikemas dalam program SIJARI EMAS. Program SIJARI EMAS telah dilaksanakan di 5 provinsi dengan AKI tertinggi di Indonesia, salah satunya Jawa Tengah. Pada region Jawa Tengah program SIJARI EMAS dilaksanakan di 7 Kabupaten, salah satunya Kabupaten Banyumas. Kabupaten Banyumas telah melaksanakan program ini sejak tahun 2012. Alasan Kabupaten Banyumas dipilih untuk menjalankan program ini karena, tingginya AKI di Kabupaten Banyumas pada tahun 2012 yaitu mencapai 144 per 100.000 KH, sekaligus menempati peringkat ke-6 di Jawa Tengah. Setelah program berjalan 5 tahun, Kabupaten Banyumas masih memilki AKI yang tinggi, hingga menempati peringkat ke-7 di Jawa Tengah dibandingkan dengan Kabupaten atau Kota lain yang tidak menjalankan program. Hal tersebut menggambarkan bahwa program SIJARI EMAS tidak berdampak signifikan terhadap kematian ibu di Banyumas. Metode: Kajian ini menggunakan literatur review tentang penggunaan sistem elektronik rujukan kesehatan. Hasil: SIJARI EMAS memudahkan dalam pelayanan rujukan maternal, namun masih perlu investasi intitusional untuk pelaksanaan yang baik. Penerimaan operator tentang kemanfaatan dan kemudahan program merupakan isu yang perlu diperhatikan. Sosialisasi dan pelatihan telah dilakukan, namun perlu memperluas jaringan pelayanan PONEK. Kesimpulan: Perlu dilakukan evaluasi atau penelitian lebih lanjut terhadap program SIJARI EMAS dari segi operator program di Puskesmas yaitu Bidan, Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit
Improving Knowledge, Attitude, and Perception towards Childhood Diarrhea Using Interactive Discussion in Kulon Progo Community
Introduction: Diarrhea is still a leading cause of death in the world in children, especially in children under 5 years. Diarrhea is a contagious disease with relatively high morbidity and mortality rates. Rotavirus is a cause of diarrhea in children and is a very important public health problem in both developed and developing countries. Parents' knowledge is one of the causes of diarrhea due to parents' ignorance of the causes of diarrhea, how diarrhea is transmitted and how to prevent diarrhea.
Methods: This explanatory mixed qantitative-qualitative method with a quasi experimental design study to determine the effect of interactive discussion on changes in knowledge, attitudes, and perceptions towards the prevention and management of childhood diarrhea among mothers and children living in the area of The Ash-Shiddiqiyah Orphanage located in Central Sremo, Hargowilis, Kokap, Kulon Progo Regency, Yogyakarta.
Results: The activities were conducted on November 29th, 2020 with 67 participants consisting of 54 children and 13 mothers from the area. The questionnaire results showed that the posttest scores in all sections (knowledge, attitudes, and perceptions) were significantly higher compared to the the pretest scores. There were increment of 1.33 points in knowledge (p<0.001), 0.5 points in attitudes (p<0.001), 0.4 points in perception (p<0.05), and 0.76 points in overall scores (p<0.001). Interviewees agreed that the intervention has been properly conducted with clear delivery, easy to understand for both adults and children, and ability to two-way communication. Technology utilization might help the understanding of the audience. Besides, a small group discussion in the session may benefit the participants to ask more confidently compared to asking in the middle of large group due to shame.
Conclusion: Interactive discussion could be used to improve knowledge, atittude and perception towards childhood diarrhea. The delivery of interactive discussion using simple language for targetted population, adoption of small group discussion and technology utilization might help the effectiveness of the intervention. Further study is needed to identify effective ways to promote the childhood diarrhea management and prevention in community
