328 research outputs found
Ayaanella M.T. Khan & Anis 2017, gen. nov.
Ayaanella M.T. Khan & Anis gen. nov. (Figs 1–10) Type species. Ayaanella globugaster M.T. Khan & Anis sp. nov. Description. Female. Head (Fig. 1); antennal torulus placed slightly above lower margin of eye; malar space dark, as long as or shorter than eye width; ocelli arranged in obtuse triangle; mandible (Fig. 2) 4-dentate, third tooth shorter, and a concavity between third and fourth teeth; maxillary palp (Fig. 3) unsegmented, swollen basally, with one seta at apex. Antennal formula 1, 1, (2), 2, 3; antenna (Figs 5–8) with 2 anelli (Figs 7, 8: A1 and A2); funicle 2 segmented, segments asymmetrical, with PLS, F2 broader than long; clava 3-segmented with very long setae and PLS. Mesosoma with pronotum medially divided into two plates; mid lobe of mesoscutum and scutellum each with 2 pairs (2+2) setae; side lobe of mesoscutum with 1 seta along anterolateral corner and axilla; propodeal margin almost straight posteriorly and about as long as metanotum medially; posterior two-thirds of mesoscutum, and scutellum with longitudinally cellulate sculpture, anterior one-third of mesoscutum with polygonal cells. Fore wing hyaline with venation extending to slightly less than half wing length; costal cell very narrow; marginal vein longer than premarginal or stigmal veins; premarginal vein broader than marginal vein; RS1 absent [except two or three setae below stigmal vein]; disc moderately densely setose with setae arranged in rows. Legs with tarsal formula 3-3-3. Metasoma longer than mesosoma; ovipositor short, extending from TV of gaster and hardly exserted. Male. Unknown. Etymology. The genus is named after the son of the second author (SBA), Ayaan + ‘-ella’ Latin suffix added to generic name.Published as part of Khan, Mohd Talib & Anis, Shoeba Binte, 2017, A new genus of Trichogrammatidae (Hymenoptera: Chalcidoidea) from India, pp. 165-168 in Zootaxa 4344 (1) on pages 165-166, DOI: 10.11646/zootaxa.4344.1.9, http://zenodo.org/record/104236
A One-Way Car-Sharing Based Approach for Combined Shared Mobility of Freight and Passengers
Climate change stresses the need for research and development of innovative sustainable mobility solutions that provide reliable and convenient door-to-door services for both passengers and freight. The increase in urban population and the popularity of e-commerce further highlights the need for action. In this regard, crowd-shipping is often perceived as an efficient, cost-effective, and sustainable alternative (or complement) to the management of urban freight mobility through efficient utilization of current transportation capacities. In this framework, inspired by the concept of MaaS (Mobility as a Service) in integrating various forms of transport and transport-related services into a single on-demand mobility service, this paper proposes a car-sharing-based service for the combined mobility of passengers and freight. In doing so, one-way car-sharing and crowd-shipping concepts are integrated in order to serve part of the existing freight demand in a sustainable and cost-efficient way for users, societies, and the environment. An optimization model is proposed to optimally plan the activation of one-way car-sharing and crowd-shipping services and to determine the optimal number of vehicles to assign to them. Such decisions are aimed at minimizing the total imbalance by serving passenger and freight demand during different time periods. In doing so, the willingness of users to carry freight in their vehicles is also taken into consideration. The capability of the proposed approach is evaluated through representative numerical examples aimed at showing the impact of the model parameters on the solution.Transport and Plannin
Pengembangan Kultur Kalus Kencur (Kaempferia Galanga Linn) dan Metode Elisitasi Ultraviolet-B untuk Produksi Senyawa Bioaktif Fenol
Kencur (Kaempferia galanga Linn.) merupakan sumber bahan kimia bioaktif
yang biasa digunakan dalam pengobatan tradisional (jamu), fitofarmaka, penyedap
makanan dan minuman, rempah-rempah, dan kosmetik. Kandungan utama K.
galanga berupa senyawa fenolik terutama golongan fenilpropanoid, seperti
flavonoid, etil-sinamat dan etil p-metoksisinamat. Dalam bidang kedokteran, K.
galanga telah dimanfaatkan sebagai antiradang dan analgesik, pengobatan sakit
kepala, sakit gigi, rematik, antitumor dan kanker, obat penenang, antimikroba, dan
obat cacing.
Produksi K. galanga selama ini memiliki beberapa keterbatasan terutama
pada lama waktu produksi (9-12 bulan) dan konsistensi kualitas produk.
Sebagaimana diketahui secara luas bahwa kualitas produk dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan. Selain itu, perubahan iklim yang terjadi saat ini juga mempengaruhi
produktivitas tanaman dalam berbagai hal, seperti perubahan suhu, suhu, curah
hujan, kadar karbon dioksida, dan kejadian cuaca ekstrem. Perubahan-perubahan ini
dapat mengubah waktu pertumbuhan dan reproduksi tanaman, mengurangi
ketersediaan unsur hara, meningkatkan tekanan hama dan penyakit, serta
menyebabkan stres air. Perubahan tersebut juga berdampak pada produktivitas dan
kualitas tanaman K. galanga.
Kultur in vitro, khususnya kultur kalus, merupakan salah satu pendekatan
alternatif yang dapat digunakan untuk produksi metabolit sekunder. Kultur kalus
telah berhasil diterapkan pada produksi metabolit sekunder (Vitis vinifera L,
Eurycoma longifolia Jack, Jatropha curcas L dan masih banyak lagi). Namun,
produksi metabolit sekunder telah dipengaruhi oleh diferensiasi jaringan
pertumbuhan, dan perkembangan tanaman. Selain itu, produksi metabolit sekunder
juga dipengaruhi oleh medium, yaitu kandungan sukrosa, jenis dan konsentrasi zat
pengatur tumbuh, serta kondisi lingkungan yaitu pH, intensitas cahaya, serta
fotoperiode. Memang, elisitor telah terbukti sebagai faktor utama untuk
meningkatkan produksi metabolit sekunder.
Salah satu elisitor yang dapat digunakan dalam kultur in vitro adalah radiasi
UV-B. Penelitian perlakuan radiasi UV-B pada kultur kalus C. Sinensis menginduksi
peningkatan kadar fenolik, peningkatan produksi trans-resveratrol pada kalus V.
vinifera sebesar 2,5 kali lipat, dan peningkatan konsentrasi camptothecin pada
camptotheca sebesar 11 kali lipat. budaya sel. Perlakuan radiasi UV menghasilkan
alkaloid kantin-6-one 3,5 kali lebih banyak dan pirolidin 1,5 kali lebih banyak
dibandingkan tanpa perlakuan radiasi UV pada kultur kalus E. longifolia. Perlakuan
yang sama diterapkan pada kultur suspensi sel C. roseus, planlet Deschampsia
Antarctica, dan pada kalus J. curcas. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk
mengatur produksi metabolit sekunder pada kultur kalus adalah dengan
memodifikasi sumber karbon pada media, salah satunya dengan konsentrasi sukrosa.
Sukrosa telah dikenal sebagai senyawa yang dapat dimanfaatkan tanaman sebagai
sumber karbon yang dapat mempengaruhi metabolisme, perkembangan,
pertumbuhan, transduksi sinyal, dan ekspresi gen. Sukrosa terbukti mempengaruhi
pertumbuhan dan produksi metabolit sekunder A. absinthium, W. somnifera,
G.procumbens Merr, H. perforatum, P. vulgaris L, dan lainnya yang ditanam secara
in vitro. Pada kencur pendekatan kultur kalus untuk produksi metabolit sekunder
xvii
belum pernah dilaporkan, begitu pula penelitian mengenai penggunaan elisitasi pada
kultur kalus kencur belum pernah dilaporkan.
Penelitian ini merupakan rangkaian penelitian seri melalui empat tahap
penelitian. Dilaksanakan dari bulan November 2018 sampai dengan Agustus 2022,
bertempat di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Laboratorium Kimia Analisis
Terpadu, Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan Laboratorium Penelitian
Fakultas Kedokteran, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Metode
penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan
Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Versi 6.400 dari program perangkat lunak Costat
digunakan untuk memproses data. Dengan menggunakan uji Anova, data yang
berdistribusi normal dan homogen diperiksa. Analisis Kruskal-Wallis digunakan
untuk analisis data jika data tidak sesuai dengan kondisi. Uji Jarak Berganda Duncan
(DMRT) dan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) digunakan pada pengujian selanjutnya,
dengan tingkat kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalus berhasil diinduksi dari eksplan
mata tunas K. galanga dengan perlakuan kombinasi 2,4-D dan BAP, dimana
perlakuan 1 mg.L-1
2,4-D memberikan hasil terbaik untuk parameter waktu induksi
kalus, persentase kalus tumbuh dan bobot segar kalus masing-masing sebesar
29,78±2,03 hari, 74,08±22,21 % dan 0,20±0,07 g dengan tekstur kalus yang
terbentuk remah dan berwarna putih kecoklatan. Konsentrasi zat pengatur tumbuh
auksin dan fotoperiode berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi senyawa
fenol pada kalus K. galanga. Perlakuan fotoperiode 16/8 jam (terang/gelap) yang
dikombinasikan dengan perlakuan auksin 2,4-D 1 mg.L-1 menghasilkan bobot segar
maksimum 5,52±0,29 g, tidak berbeda nyata dengan kombinasi penyinaran 16/8 jam
(terang/gelap) dan perlakuan NAA 1,5 mg.L-1
. Bobot kering kalus terbaik yaitu
0,26±0,05 g diperoleh setelah perlakuan penyinaran 16/8 jam (terang/gelap).
Perlakuan 2,4-D menghasilkan kalus yang remah berwarna putih hingga putih
kecoklatan, sedangkan auksin NAA menghasilkan kalus dengan warna kehijauan dan
kompak (terdiferensiasi). Kajian fitokimia ekstrak kalus K. galanga menunjukkan
akumulasi fenol dan flavonoid tertinggi pada fotoperiode 16/8 jam (terang/gelap),
masing-masing 0,483±0,065 mg GAE.g-1 BK kalus dan 0,108±0,07 mg QE.g-1 BK
kalus. Senyawa etil para-metoksisinamat (EPMS) terbentuk di hampir pada semua
perlakuan. Kadar EPMS tertinggi terbentuk pada perlakuan NAA 2 mg.L-1
dengan
fotoperiode 12/12 jam (terang/gelap) sebesar 0,37 mg.g-1 BK kalus. Profil metabolit
sekunder pada ekstrak etanol kalus didominasi senyawa aldehida, hidrokarbon jenuh,
asam lemak, dan turunannya.
Perlakuan jenis auksin dan radiasi UV-B berpengaruh terhadap karakteristik
pertumbuhan, morfologi, fitokimia dan fisiologi kalus. Perlakuan auksin dan radiasi
UV-B berpengaruh terhadap pertumbuhan kalus diantaranya bobot segar, bobot
kering kalus, dan morfologi kalus yang terbentuk. NAA tanpa radiasi UV-B
memberikan bobot kalus segar dan bobot kalus kering terbaik yaitu masing-masing
sebesar 5,58±0,36 g dan 0,38±0,01 g. Terhadap karakteristik fitokimia, perlakuan
auksin berpengaruh nyata terhadap parameter total fenol, total flavonoid, aktivitas
antioksidan dan aktivitas enzim PAL. Perlakuan auksin NAA memberikan nilai
parameter produksi metabolit sekunder lebih baik dibandingkan perlakuan 2,4-D
dengan rerata nilai total fenol sebesar 0,96±0,18 mgGAE.g
-1 BK kalus, aktivitas
antioksidan sebesar 61,28±3,79% dan aktivitas enzim PAL sebesar 1,57±1,02
unit.mg-1 protein. Radiasi UV-B tidak berpengaruh nyata terhadap produksi
senyawa metabolit sekunder kalus kencur, kecuali pada kadar total flavonoid.
xviii
Senyawa EPMS terbentuk pada semua perlakuan auksin NAA yang dikombinasi
dengan radiasi UV-B dimana kadar EPMS tertinggi terdapat pada perlakuan NAA
dengan radiasi UV-B 140 µW.cm-
² selama 4 jam yaitu sebesar 1,1±0,59 mg.g
-1 BK
kalus.
Perlakuan jenis auksin, radiasi UV-B dan konsentrasi sukrosa berpengaruh
terhadap karakteristik pertumbuhan, morfologi, fitokimia dan fisiologi kalus kalus
kencur. Perlakuan sukrosa 30 g.L-1 memberikan bobot kalus tertinggi, tidak berbeda
nyata dengan perlakuan sukrosa 15 g.L-1 yaitu masing-masing seberat 7,39±1,67
dan 7,36±0,5 g, sampai pada tingkat optimum konsentrasi sukrosa (30 g.L-1
)
peningkatan konsentrasi sukrosa menyebabkan penurunan bobot kalus segar.
Perlakuan tanpa sukrosa pada kalus kompak menunjukkan hasil tertinggi untuk
parameter TPC, TFC, kadar EPMS dan aktivitas antioksidan masing-masing sebesar
1,52±0,16 mg GAE.g-1
bobot kering kalus; 2,12±0,77 mg QE.g
-1
bobot kering kalus;
0,57±0,23 mg.g
-1
bobot kering kalus dan 76,62±4,05%. Hasil tersebut lebih tinggi
dibandingkan pada semua parameter pertumbuhan dan fitokimia yang terbentuk
pada kalus remah. Radiasi UV-B menyebabkan peningkatan kandungan fenol total
dan kandungan flavonoid total, namun tidak berpengaruh nyata pada kapasitas
antioksidan dan pembentukan EPMS pada kalus K. galanga. Perlakuan radiasi UVB mampu meningkatkan nilai TPC dan TFC kalus masing-masing sebesar 1,13 dan
1,7 kali lipat dibandingkan tanpa radiasi UV-B. Perlakuan radiasi UV-B dan
konsentrasi sukrosa tidak berpengaruh nyata terhadap aktivitas enzim PAL.
Diambil kesimpulan bahwa kalus dapat diinduksi dari eksplan mata tunas
kencur dengan perlakuan 2,4-D dan BAP, dimana kalus yang dihasilkan memiliki
tekstur remah dengan warna putih kecoklatan. Pengkondisian faktor lingkungan
khususnya lingkungan cahaya (fotopriode) dan kesesuaian zat pengatur tumbuh
auksin yang digunakan menunjukkan bahwa fotoperiode berpengaruh terhadap
pertumbuhan kalus dan morfologi kalus yang terbentuk. Fotoperiod 16/8 jam terang
dan gelap secara umum menghasilkan pertumbuhan kalus yang cukup baik dan
kalus yang dihasilkan mampu memproduksi senyawa fenol. Karakteristik morfologi
kalus dengan penggunaan auksin 2,4-D menghasilkan kalus yang bertekstur remah
dan berwarna putih kecoklatan, sedangkan perlakuan auksin NAA menghasilkan
kalus bertekstur kompak dan berwarna hijau. Perlakuan elisitasi radiasi UV-B
mampu meningkatkan kapasitas produksi senyawa fenol dalam kalus, dan
pemiskinan sukrosa (tanpa sukrosa) dalam media menginduksi produksi senyawa
fenol lebih tinggi dibandingkan jika kalus ditumbuhakn dalam kondisi konsentrasi
sukrosa diatas konsentrasi optimumnya (30 g.L-1
). Kalus bertekstur kompak
memiliki kapasitas produksi fenol lebih tinggi dibandingkan kalus remah pada
semua perlakuan elisitasi radiasi UV-B maupun sukrosa
Peningkatan selektivitas ekstraksi ion logam transisi pada resin chitosan yang dipreparasi melalui teknik imprinting permukaan molekular
The Effect of Light and Medium on Secondary Metabolite Production in Callus Culture of Kaemferia galanga Linn
Interview with Anis Mansour
لقاء مع الكاتب المصري أنيس منصور حول أبعاد تأثر المنطقة العربية برحلة الرئيس المصري أنور السادات إلى القدس منذ 15 عامًا مضت. أجرت هذاا اللقاء إيمان رافع.An interview with Egyptian journalist and author Anis Mansour about the impact of President Anwar Sadat's 1977 visit to Jerusalem on the Arab region. Interview conducted by Iman Rafi
DETERMINATION OF pH EFFECT AND CAPACITY OF HEAVY METALS ADSORPTION BY WATER HYACINTH (<sub>Eichhornia crassipes</sub>) BIOMASS
Effect of pH and determination of adsorption capacity of Cu(II), Ni(II) and Pb(II) heavy metal ions on adsorbent prepared from Eichhornia crassipes (eceng gondok) biomass has been investigated. The influence of media acidity on the adsorption characteristics was carried out by determining ions adsorbed at various pH in the range of 2-10, while an adsorption isotherm model of Langmuir was used to estimate the capacity of adsorption. Results showed that Cu(II) was optimally adsorbed at the range pH of 5-6, Ni(II) at 2-4, while Pb(II) reached an optimum adsorption at pH 2-3. The adsorption data of Cu(II), Ni(II) and Pb(II) for the adsorbent folowed quite well Langmuir isotherm model, confirmed that such chemisorptions involved on that process. The ions adsorption capacities (am) were 27.47, 16.69, and 15.04 mg/g for Pb(II), Cu(II), and Ni(II), respectively.
Keywords: adsorption, heavy metal, Eichhornia crassipes, pH, capacit
PENGARUH KOMPOSISI BERAT KITOSAN-ZEOLIT TERHADAP STABILITAS FISIKO-KIMIA KOMPOSIT YANG DIHASILKAN
Kitosan merupakan adsorben yang mempunyai kemampuan tinggi namun stabilitasnya rendah terutama dalam media asam. Zeolit merupakan adsorben yang berpori dan memiliki kekuatan mekanik yang baik. Pada penelitian ini dibuat komposit kitosan-zeolit untuk meningkatkan stabilitas adsorben terhadap asam dan terhadap temperatur. Komposit dibuat dalam bentuk beads dan pelet dengan variasi massa kitosan : zeolit 0,5:0,3; 0,5:0,5; 0,5:0,7 dan 0,5:1,0 kemudian diikat silang menggunakan glutraldehid. Uji stabilitas komposit dalam media asam dilakukan dengan melarutkan komposit ke dalam larutan asam asetat dengan variasi konsentrasi 1%, 2,5% dan 5%. Uji stabilitas termal dilakukan dengan menggunakan analisis DTA/TGA pada suhu 30-500 oC. Spektra FT-IR menunjukkan bahwa komposit dengan variasi massa 0,5:1,0 (bentuk beads) dan variasi massa 0,5:0,3 (bentuk pelet) mempunyai stabilitas paling tinggi dalam media asam. Spektrum FT-IR menunjukkan terbentuknya ikatan antara kitosan dan zeolit muncul pada bilangan gelombang 1024,16 cm-1 (Si-O dan Al-O). Uji stabilitas termal komposit bentuk pelet dan pelet terikat silang menunjukkan kehilangan massa komposit sebesar 0,65 mg dan 0,78 mg sedangkan dalam bentuk beads dan beads terikat silang kehilangan massa sebesar 3,66 mg dan 5,54 mg. Hasil ini menunjukkan bahwa komposit dalam bentuk pelet dan pelet terikat silang memiliki stabilitas termal yang lebih baik dibandingkan bentuk beads dan beads terikat silang. Kata Kunci : beads, komposit kitosan-zeolit, pelet, stabilita
PENURUNAN KADAR BIKARBONAT DALAM AIR MENGGUNAKAN KOMPOSIT KITOSAN-ZEOLIT BEADS
Ion bikarbonat (HCO3-) merupakan salah satu anion penyebab kesadahan dalam air. Upaya untuk menurunkan kadar bikarbonat dapat dilakukan dengan adsorpsi. Adsorben yang digunakan dalam penelitian ini ialah komposit kitosan-zeolit beads. Penelitian ini bertujuan menjelaskan karakteristik gugus fungsi dan karakteristik kimia (stabilitas dalam asam) dari komposit kitosan-zeolit bentuk beads serta menjelaskan kemampuan komposit kitosan-zeolit beads dalam menurunkan kadar bikarbonat dalam air. Tahapan yang dilakukan pada penelitian ini dimulai dengan pembuatan komposit kitosan-zeolit beads. Komposit dibuat dengan menambahkan glutaraldehid sebagai crosslinking agent. Komposit yang dihasilkan kemudian dikarakterisasi gugus fungsinya dengan FT-IR. Pengujian stabilitas komposit terhadap variasi pH juga dilakukan. Komposit dengan variasi massa 0,01gram-0,16 gram diaplikasikan untuk menurunkan kadar bikarbonat dalam air. Analisis FT-IR menunjukkan puncak serapan 1640,85 cm-1 menunjukkan karakteristik vibrasi regang gugus C=N dari imina hasil pembentukan ikatan antara kitosan-glutaraldehid. Uji stabilitas menunjukkan tingkat kestabilan komposit kitosan-zeolit beads lebih stabil daripada komposit-zeolit beads tanpa glutaraldehid. Adsorpsi ion bikarbonat yang tertinggi diperoleh dengan adsorpsi menggunakan komposit kitosan zeolit beads terikat silang glutaraldehid dengan kapasitas adsorpsi sebesar 0,093g/g, lebih tinggi dibandingkan kapasitas pada kitosan beads sebesar 0,039mg/g, sehingga penurunan kadar ion bikarbonat oleh komposit kitosan zeolit beads terikat silang glutaraldehid lebih baik daripada kitosan beads terikat silang glutaraldehid. Kata kunci: adsorben, bikarbonat, komposit, kitosan, zeoli
Interview with Anis Mansour
لقاء مع الكاتب المصري أنيس منصور حول اعجابه بإذاعة "صوت أمريكا" واعجابه بالمذيعين بها. أجرت هذاا اللقاء إيمان رافع.An interview with Egyptian journalist and author Anis Mansour about his admiration for the Voice of America radio station and its broadcasters. Interview conducted by Iman Rafi
- …
