3 research outputs found
Penerapan Proses Produksi Ramah Lingkungan Pada Industri Pertahanan dalam Mendukung Kemandirian Alpalhankam
Industri pertahanan memiliki peran penting dalam meningkatkan produksi Alpalhankam, namun kurangnya perhatian terhadap proses produksi yang ramah lingkungan, mengakibatkan pencemaran lingkungan dan polusi udara. Salah satu cara untuk menghadapi tantangan tersebut yakni dengan penerapan proses produksi ramah lingkungan khususnya pada industri pertahanan. Industri yang memiliki peran penting tersebut yaitu PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang telah menerapkan proses produksi ramah lingkungan pada produksi aluminium sebagai bahan baku alpalhankam. Tujuan dari penelitian ini yaitu merumuskan penerapan proses produksi yang ramah lingkungan dari PT Inalum kepada pemangku kebijakan untuk dilaksanakan oleh seluruh industri pertahanan di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan metode penelitian Studi Literatur dan Analytical Hierarchy Process (AHP) sehingga diketahui teknis operasional produksi yang ramah lingkungan. Hasil dari penelitian ini didapat bahwa penerapan proses produksi yang ramah lingkungan di industri pertahanan memiliki manfaat seperti efisiensi waktu produksi, meningkatkan citra perusahaan dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Hasil dari Analytical Hierarchy Process (AHP) diperoleh dalam skala prioritas pelaksanaan aktifitas produksi industri pertahanan yang ramah lingkungan sebagai berikut: Kriteria pengendalian proses menjadi prioritas utama dengan bobot 0,584. Kriteria proses End of Pipe menjadi prioritas kedua dengan bobot 0,295. Kriteria program CSR menjadi prioritas terakhir dengan bobot 0,121. Hasil dari penelitian ini akan menjadi rekomendasi serta acuan bagi pemangku kebijakan ataupun para pelaku industri alpalhankam
Sebuah Potensi Dan Tantangan Kapal Cepat Rudal (KCR) Dalam Operasi Perang Di Era Moderenisasi Militer
This research presents a in-depth analysis of the history and contribution of Indonesia's Fast Attack Craft (Kapal Cepat Rudal or KCR), focusing on the evolution from the first generation to the sixth generation. As an archipelagic nation with complex maritime defense challenges, Indonesia views KCR as a critical asset in maintaining sovereignty and maritime security. In the context of military modernization, this research aims to understand the impact of KCR on national defense. The applied research method is Systematic Literature Review (SLR), providing a comprehensive analytical framework for relevant literature on the research topic. A total of 80 articles were collected and analyzed, forming a strong foundation to illustrate the transformation of KCR in terms of history, technology, operations, and tactics. The research results indicate that the first-generation KCR, such as the Komar class, played a key role during the confrontation with Malaysia and various military operations. In the second generation, the Ahmad Yani class showed technological advancements and weapon system success in maintaining national security. The third generation, represented by the Fatahillah class, brought significant innovation with the use of MM38 Exocet missiles, enhancing self-defense capabilities. Subsequent generations demonstrated significant development, both in terms of technology and involvement in humanitarian and regional conflict operations. The sixth-generation KCR, recently completed by PT PAL, marks the peak of Indonesia's military modernization with automatic weapons and state-of-the-art technology. However, challenges for the seventh generation and beyond lie in rapid technological developments, increased firepower and precision, operational flexibility, cyber security, environmental sustainability, and human resource management. By understanding and addressing these challenges, it is expected that future generations of KCR can continue to be a strategic element in Indonesia's maritime defense, responding to evolving threats in the era of military modernization.Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki peran strategis Kapal Cepat Rudal (KCR) dalam pertahanan laut Indonesia di era modernisasi militer. Sebagai negara maritim dengan posisi geografis yang unik, Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam menjaga kedaulatan dan pertahanan maritimnya. TNI AL, khususnya dengan Kapal Cepat Rudal (KCR), memegang peran penting dalam menjalankan tugas pertahanan laut, termasuk penggunaannya dalam kondisi perang. Metode penelitian yang diterapkan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan pencarian literatur dari tahun 2013 hingga 2023 melalui basis data seperti Google Scholar dan Sciencedirect. Hasil penelitian mencakup 80 artikel, di mana 7 artikel dipilih setelah melalui proses penyaringan. Hasil dan Diskusi penelitian menunjukkan bahwa KCR memiliki peran strategis dalam operasi perang modern. Kecepatan tinggi, kemampuan serangan presisi, dan peran dalam mendukung operasi laut dan udara membuatnya menjadi elemen vital dalam menjaga keamanan laut dan kedaulatan negara. KCR tidak hanya berperan dalam serangan, tetapi juga dalam pemantauan maritim, respons cepat, dan anti-akses, menjadikannya kekuatan pemantau dan keberlanjutan. Tantangan operasional KCR melibatkan keterbatasan jangkauan rudal, pertahanan terhadap serangan udara, pemeliharaan, kolaborasi operasional, perkembangan teknologi, dan pelatihan kru. Adaptasi operasional dan transformasi terkini dalam moderenisasi militer menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi KCR. Peningkatan melibatkan pembaruan perangkat keras, peningkatan kemampuan operasional, dan investasi dalam pelatihan kru. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemahaman mendalam terhadap peran dan tantangan KCR, dengan harapan dapat menjadi landasan untuk pengambilan keputusan militer dan perencanaan pertahanan nasional di masa depan. Melalui transformasi terkini, Indonesia memasuki era baru dalam membangun kekuatan maritim yang adaptif dan responsif, menjadikan KCR sebagai garda terdepan pertahanan laut Indonesia
Model Airship As A Transportation Mode In Jabodetabek To Overcome Congestion Using CFD
This research is motivated by the traffic congestion problem in Indonesia, specifically in Jakarta. According to data from the Central Statistics Agency (BPS), the population of Jakarta as of September 2021 is estimated to be 10.61 million people per year. This is an increase of 0.45% compared to the previous year, which had a population of 10.56 million. Road users in Jakarta are divided into four types of motor vehicles: passenger cars, buses, trucks, and motorcycles. According to data collected by the BPS, there are 21.7 million vehicles in Jakarta. Referring to previous research titled "The Potential of Using Airships to Support Development in an Efficient and Environmentally Friendly Manner" (Subagyo, 2011), the authors aim to explore the potential of using airships as a solution to mass transportation congestion. Currently, researchers are looking for solutions to the congestion in Jakarta. In this paper, the authors aim to contribute to finding the best solution to the current problem by providing input on the use of air accommodation using balloons. Specifically, the authors are using the Airlander 10 type balloon being developed in Hamburg. In order to achieve this goal, this research aims to conduct an analysis of the aerodynamics of the platform design using computational fluid dynamics. In order to achieve this goal, this research uses a quantitative method as a calculation of the aerodynamics of the airship combined with the Parent Design Approach method. This approach produces the characteristics of the airship currently in operation. Therefore, the authors would like to present this research to the city of Jakarta as an alternative solution to the traffic congestion problem itself
