1,720,962 research outputs found
Palatabilitas Beberapa Hi~ferⴲ Pucuk Tebu pada Sapi Perah Dara
Produksi tebu pada musim kering sangat tinggi, salah satu hasil limbahnya
berupa pucuk tebu. Pucuk tebu dapat digunakan sebagai salah satu sumber pakan
bagi ternak. Kandungan nutrien yang terdapat dalam pucuk tebu rendah, hal
tersebut mendorong adanya pengolahan yang mampu meningkatkan kualitas dan
ketersediaannya dalam waktu yang lama. Penelitian ini ditujukan untuk
membandingkan palatabilitas beberapa Hi~ferⴲ pucuk tebu dan melihat
pengaruhnya ketika dicampurkan ke dalam ransum. Penelitian ini dilaksanakan di
Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Cibungbulang Bogor dan Laboratorium
Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Penelitian
ini menggunakan Bujur Sangkar Latin dengan 4 perlakuan, 4 ternak, dan 4 periode:
P1 (pucuk tebu tanpa perlakuan), P2( pucuk tebu + 5% aditif fermentasi), P3 (pucuk
tebu + 0.4% probiotik multigenera, P4 (pucuk tebu + 5% aditif fermentasi + 0.4%
probiotik multigenera). Perlakuan keempat Hi-ferⴲ pucuk tebu tidak memberikan
nilai yang signifikan terhadap nilai palatabilitas berbagai Hi-ferⴲ pucuk tebu.
Konsumsi ransum komplit yang menggunakan Hi-ferⴲ dengan penambahan
probiotik multigenera (P3) dan kombinasinya dengan aditif fermentasi (P4)
memberikan tingkat konsumsi yang lebih tinggi dari yang lainnya. Sehingga terjadi
efek asosiatif positif penggunaan probiotik multigenera dengan konsumsi ransum
Pola Penyediaan Hijauan Pakan pada Peternakan Domba Berdasarkan Jenjang Pendidikan Peternak di Kabupaten Bogo
Kabupaten Bogor memiliki potensi besar dalam pengembangbiakan domba. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisisa pola penyediaan hijaua karakteristik peternak, manajemen pakan berbasis hijauan, dan identifikasi jenis hijauan pada peternakan domba berdasarkan jenjang pendidikan di Kabupaten Bogor. Data diperoleh dalam bentuk data primer melalui wawancara dan observasi lapangan. Rancangan Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan perbedaan tingkat pendidikan dan dengan ulangan yang berbeda. Penelitian ini dianalisis dengan analisis deskriptif dan analisis ANOVA. Hasil yang didapatkan adalah meningkatnya jenjang pendidikan peternak meningkatkan jumlah ternak, jumlah pengarit, kapasitas mengarit, dan BCS (Body Condition Score). Meskipun demikian jenjang pendidikan tidak berkorelasi terhadap manajemen penyediaan pakan berbasis hijauan (kuantitas dan kualitas), pemilihan areal mengarit dan jenis hijauan yang diarit. Pemberian hijauan pakan pada peternakan pendidikan tinggi cenderung lebih rendah, namun disubstitusikan dengan pakan lain berupa konsentrat, ampas tahu, singkong, ataupun pakan fermentasi. Hijauan yang ditemukan terdiri dari 24 rumput, 8 leguminosa, dan 79 rumbah
Analisis SWOT Pengembangan Peternakan Domba di Kabupaten Bogor Berdasarkan Potensi Penyediaan Hijauan Pakan
Usaha peternakan domba menjadi usaha yang diminati oleh masyarakat di Kabupaten Bogor. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi penyediaan hijauan pakan, menganalisis faktor-faktor strategis pengembangan ternak domba di Kabupaten Bogor, dan menghasilkan rekomendasi program. Data diperoleh dalam bentuk data primer melalui wawancara dan observasi lapangan, sedangkan data sekunder diperoleh melalui kajian literatur. Penelitian ini dianalisis dengan analisis deskriptif, analisis SWOT dan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekomendasi program yang dapat dijalankan yaitu peningkatan mutu bahan pakan (hijauan dan pakan penguat) spesifik lokal dengan pola terintegrasi dan menyeluruh, perbaikan frekuensi dan intensitas pelatihan mengenai efisiensi pengembangan usaha ternak domba yang bernilai ekonomis tinggi, stabilisasi harga khususnya ternak domba dan perbaikan efisiensi pemasaran ternak domestik serta perbaikan manajemen pengolahan limbah dan optimalisasi pemanfaatan ruang atau dalam hal ini penyediaan lahan peternakan yang sesuai dengan kondisi dan keunggulan wilayah. Hijauan yang ditemukan terdiri atas 6 jenis rumput, 7 jenis leguminosa, 28 jenis rumbah dan 2 jenis belum teridentifikasi
Respon Morfologis Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) pada Fase Perkecambahan Berdasarkan Level Iradiasi Sinar Gamma sebagai Kandidat Hijauan Pakan
Hijauan kacang panjang memiliki kandungan energi dan protein kasar yang dapat dijadikan sebagai sumber pakan ternak. Upaya untuk mendapatkan pakan yang berkualitas tinggi dapat dilakukan dengan iradiasi sinar gama. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat respon morfologi tanaman kacang panjang dengan berbagai level iradiasi sinar gama. Level iradiasi yang digunakan adalah 0 Gy, 100 Gy, 200 Gy, 300 Gy, 400 Gy, dan 500 Gy dengan masing-masing pengulangan 50 ulangan. Desain penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dan data dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA). Jika data signifikan di uji Duncan. Analisis varians menunjukan bahwa tinggi tanaman dan pertambahan tinggi tanaman berbeda sangat nyata (p<0.01) pada setiap level. Iradiasi sinar gamma berpengaruh terhadap daya kecambah, abnormalitas, dan tingkat kematian tanaman. Peningkatan level iradiasi sinar gamma akan menurunkan tinggi tanaman, pertambahan tinggi, daya kecambah, dan jumlah daun, tetapi tingkat kematian tanaman cenderung fluktuatif, dan meningkatkan abnormalitas tanaman kacang panjang
Perbanyakan Vegetatif Alfalfa (Medicago sativa L) Hasil Iradiasi Sinar Gamma dengan Posisi Pemotongan Stek dan Konsentrasi IBA yang Berbeda.
Alfalfa merupakan tanaman jenis leguminosa yang sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai pakan ternak di Indonesia. Saat ini telah dihasilkan mutasi genetik alfalfa hasil iradiasi sinar gamma dan berhasil didapatkan mutan tropis. Di Indonesia alfalfa mutan tropis telah dikembangkan secara generatif namun belum optimal. Perbanyakan vegetatif dapat dilakukan sebagai alternatif perbanyakan dalam pengembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk optimasi perbanyakan vegetatif Alfalfa (Medicago sativa L) hasil iradiasi sinar gamma dengan posisi pemotongan stek dan konsentrasi IBA yang berbeda. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor, yaitu faktor posisi pemotongan stek yang terdiri dari 3 taraf (pucuk, tengah, dan bawah) dan faktor konsentrasi IBA yang terdiri dari 5 taraf ( 0 ppm, 0.5 ppm, 1 ppm, 1.5 ppm, 2 ppm). Masing-masing perlakuan terdiri dari 12 bahan stek sehingga jumlah stek yang digunakan seluruhnya sebanyak 180 bahan stek. Parameter yang diamati yaitu tingkat mortalitas, tinggi vertikal, jumlah daun trifoliat, jumlah tunas, tingkat kerontokan daun, warna daun, dan tingkat tanaman berakar. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) dan jika ada perbedaan yang signifikan maka akan diuji lebih lanjut dengan menggunakan Uji Duncan. Berdasarkan hasil penelitian, pengembangan alfalfa melalui teknik vegetatif optimum pada jaringan pucuk tanaman pada dosis IBA 2 ppm dengan tingkat daya tumbuh stek pucuk alfalfa sebesar 58.33% dan dihasilkan organ akar sebesar 100% dari tanaman yang tumbuh
Potensi Produksi dan Keragaman Jenis Hijauan Pakan pada Perkebunan Karet untuk Mendukung Peternakan Sapi di Kecamatan Jaro Kabupaten Tabalong.
Kecamatan Jaro merupakan lokasi yang memiliki populasi ternak sapi paling banyak di Kabupaten Tabalong. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis keragaman hijauan pakan lokal serta mengetahui penyebaran vegetasi dan produksi hijauan pakan yang diberikan kepada ternak sapi pada perkebunan karet di Kecamatan Jaro Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Penelitian ini menggunakan analisis non parametrik dan uji T. Hasil penelitian menunjukan peternak umumnya menggunakan rumput Pennisetum purpureum, Setaria splendida, dan Ottochloa nodosa sebagai pakan utama ternak. Identifikasi ragam jenis tumbuhan berdasarkan tutupan kanopi terdapat beberapa spesies yang mendominasi yaitu Ottochloa nodosa, Axonopus compressus, dan Eleusine indica (L). Produksi bahan kering berkisar 1.46 - 2.21 ton ha-1 tahun-1 dengan tutupan kanopi 0% - 50% sedangkan pada tutupan kanopi 51% - 100% berkisar 1.60 - 2.10 ton ha-1 tahun-1. Kapasitas tampung perkebunan karet Kecamatan Jaro berkisar 0.76 ST - 1.15 S
Geographical information system application to see forage requirement and land use at ranch business area’s dairy cattle of Bogor's Regency
Geographic Information Systems (GIS) can serve as a platform to link data sets and models based on locations and spatial relationships. The benefits of this research will enhance the capability of GIS as a platform of information integration for management forage supply and land use system at ranch business area (Kunak) of Bogor’s Regency, West Java. The research was done at Kunak Bogor's Regency dairy cattle as extensive as 94.41 ha that consist of Kunak I and Kunak II. The method that is observation and interview sheet as GIS layer to record data management system (forage requirement, livestock’s population, milk production, and feed supplement that is given at Kunak). Identification of forage availability was used to calculate and identify agricultural waste. The result of this research was on the form of maps as a basic of information for various purposes (such as forage and feed resources development). Moreover, it was also found there were a shortage of forage supply, a change of dairy cattle population composition, and an increasing of milk production. Based an calculation, forage requirement for 7,800 animal unit can be supplied either by utilization of agricultural waste from surrounding area (Cibungbulang’s district and Pamijahan’s district) or by land extencivication of forage planting from an area of 101.5 ha.Penelitian ini bertujuan sebagai informasi dasar pendukung usaha peternakan sapi perah yang menjadi dasar pengembangan hijauan pakan ternak dan sumber informasi pakan di Kunak, Kabupaten Bogor. Lokasi yang menjadi objek penelitian adalah Kunak sapi perah Kabupaten Bogor seluas 94,41 ha yang berada dalam dua wilayah yaitu Kunak I terletak di lokasi Gunung Sarengseng, Kecamatan Cibungbulang, seluas 52,43 ha terdiri dari 98 kavling dan Kunak II di Gunung Geulis, Kecamatan Pamijahan, seluas 41,98 ha terdiri dari 83 kavling. Lokasi Kunak berada antara 06°37’046”LS - 06°38’180”LS dan 106°38’545”BT - 106°39’544”BT dengan ketinggian 350,7 – 451,3 mdpl dan suhu antara 20-28°C serta curah hujan rata-rata 2400 mm/tahun. Metode yang digunakan yaitu peta dasar Kunak sebagai informasi dasar, observasi lapang sebagai verifikasi peta dasar, wawancara sebagai sumber data primer yang diinginkan dalam bentuk kuisioner, dan terakhir pembuatan GIS layer untuk mengolah data yang sudah didapat agar dapat ditampilkan ke dalam bentuk peta. Hasil yang ditampilkan dalam bentuk peta yaitu kebutuhan hijauan makanan ternak (HMT), populasi ternak, produksi susu, dan pakan tambahan yang diberikan di Kunak. Identifikasi tingkat ketersediaan HMT digunakan untuk perhitungan daya dukung limbah pertanian di sekitar lokasi Kunak. Kondisi peternakan Kunak mengalami defisit HMT sebesar 69,51 ton tiap harinya, kekurangan ini disiasati dengan penambahan jerami/daun jagung/limbah pasar dan secara berkala mencari rumput lapang (antara lain Panicum maximum, Eleusine indica, dan Axonopus compressus) di desa-desa sekitar. Populasi per November 2011 sebanyak 2.745 ekor dengan total sapi betina laktasi sebanyak 10.086 ekor (43,96%) dan total jantan dewasa sebanyak 92 ekor (3,76%), sedangkan ternak ruminansia lain sebanyak 261 ekor (9,54%) dari total populasi ternak ruminansia pada 114 peternak di Kunak. Produksi susu harian per November 2011 sebesar 10.427 liter susu dengan rata-rata sebesar 9,6 liter/ekor/hari. Sebanyak 73,68% kebutuhan konsentrat dipenuhi oleh KPS Bogor, sisanya sebesar 18,42% dari luar KPS (Cibinong, Jakarta, dan Bandung) dan 7,90% pakan diolah secara mandiri. Penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat memberikan informasi berdasarkan hasil analisa informasi yang didapat. Kebutuhan HMT di Kunak dapat tercukupi dengan cara ekstensifikasi lahan seluas 101,5 ha disekitar lokasi dan atau pemanfaatan limbah pertanian masyarakat di Kecamatan Cibungbulang dan Kecamatan Pamijahan dengan daya dukung limbah pertanian mencapai 7.800 ST
Pengaruh Pemberian Dolomit terhadap Produktivitas dan Kualitas Rumput Raja dan Rumput Taiwan pada Tanah Latosol Ciampea-Bogor
Providing of feed plays an important role on a farm and holds 60%-70% on production costs. Farmers take effort to provide feed for their farm, as example on Ciampea. Ciampea has acidic soil. That is called latosol soil. Latosol is acidic soil, poor nutrient contents, and can be toxic if it contents high Al and Fe. The method for recondition the soil is by application of limestone (dolomite). Dolomite [CaMg(CO3)2] is limestone containing calcium and magnesium. This research aimed to determine and to compare the effect of applying three level dolomite to productivity and quality of king grass and Taiwan grass on latosol soil. The design of the experiment was Complete Randomized Design (CRD) with factorial pattern (2 x 3) and three replications. Factor 1 is grass types: king grass and taiwan grass and factor 2 is level of dolomite: 0 ton/ha (D0), 12.5 tons/ha (D1), and 25 tons/ha (D3). The data were analyzed by using SPSS 16. The results showed that interaction between types of grass and dolomite were significantly affected the productivity and the quality (P<0.01) of grass. King grasss has the highest productivity and magnesium. Taiwan grass has the highest vertical height and calcium. Moreover, applying dolomite significantly affected the productivity and the quality of king grass and Taiwan grass.Penyediaan pakan berperan penting dalam usaha peternakan dan memegang 60%-70% untuk biaya produksi. Beberapa peternakan berusaha untuk menyediakan pakan sendiri bagi peternakannya, seperti di daerah Ciampea. Ciampea dengan kondisi tanah pada umumnya bersifat masam. Tanah jenis ini digolongkan tanah latosol. Tanah latosol merupakan tanah yang bersifat masam, miskin unsur hara, dan dapat bersifat racun bagi tanaman jika mengandung aluminium dan besi yang tinggi. Salah satu cara untuk memperbaiki sifat tanah latosol adalah dengan pengapuran. Pengapuran merupakan penambahan senyawa yang mengandung kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) ke dalam tanah sehingga mampu mengurangi kemasaman tanah. Kapur yang umum digunakan berupa dolomit. Dolomit (CaMg(CO3)2) merupakan kapur yang mengandung Ca dan Mg yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan pengaruh pemberian dolomit pada tanah latosol terhadap produktivitas dan kualitas rumput raja dengan rumput taiwan. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) berpola faktorial 2 x 3 dengan 3 ulangan
Domestic Grasses as Cattle Main Feed on Coastal Area at Desa Ujung Genteng,ı Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumiı
In general, forage for cattle in Indonesia comes from the domestic availability of grass, only efforts to improve the culture is still very limited. And also research related to domestic grass. Therefore, basic research is needed to feed the domestic grasses to determine its potential as a plant cultivation. The purposeofthisstudy is'toidentifypotentialtypes ofgrassasasource offoragesforcattle.Research conducted by survey method, direct observation, sampling plants, shooting, ex-situ preservation, creation and identification of herbarium. In general, there are cattle in the desa Ujung Genteng is Peranakan Ongole (PO). Cattle released for 24 hours in open areas along the coast. In addition to cattle, there are also sheep and goats. Performance of livestock in general either do not seem ihinness indicated. Depends entirely forage available, particularly domestic grasses. There are 16 types of grass found along the coast, divided into 3 belt: Belt-I (directly adjacent to the sea) consists' of: Dactyloctenium aegyptium (L) wild, Cynodon dactylon (L) Pers., Digitaria sanguinalis (L.) Srop, Ischaemum muticum (L.) danlmperata cylindrica (L.) P. Beauv.Gaertn., Belt-2 (sand-dominated soil) consists of: Chrysopogon aciculatus (Retz.) Trin., Brachiaria subquadripara (Trin.) A. Hitchc., Brachiaria distachya (L.) Stapf., Chloris barbata Swartz., Themeda triandra Forssk., Paspalum cartilagineum Presl, Digitaria nuda Schumacher, Paspalidium flavidum A. Camus, Eragrostis amabilis (L.) Wight & Arnott ex Nees and Eleusine indica (L.) and Belt-3 (predominantly clay.soil ) consists of: Eulalia leschendultiana (Decne.) Ohwi. Based ofobservation on field and ex-situ there are 5 types of grass that is cultivated potential for Digitaria sanguinalis (L.) Srop, Ischaemum muticum (L.), Brachiaria subquadripora (Trin.) A. Hitchc., Brachiaria distachya (L.) Stapf.dan Paspalum cartilagineum Presl
- …
