2 research outputs found
Optimasi Efisiensi Transformasi Transien dan Regenerasi Transforman Stabil Tembakau Sindoro(Nicotiana tabacum)
Agrobacterium tumefaciens telah digunakan secara luas pada penelitian molekuler tanaman dan
pemuliaan tanaman sejak tahun 1983 untuk kepentingan rekayasa genetika. Umumnya A.tumefaciens diinfeksi
pada diskus daun sedangkan menginjeksi A.tumefaciens ke jaringan daun dapat dijadikan alternatif, metode ini
disebut Agroinfiltrasi. Agroinfiltrasi lebih cepat dan mudah dibandingkan teknis diskus daun karena dapat
mengukur ekspresi transgene sejak 2-4 hari setelah infiltrasi. Sedangkan metode diskus daun memerlukan
waktu 2-4 bulan untuk analisa ekspresi transgene. Pada penelitian ini, Agroinfiltrasi daun dilakukan pada
Sindoro salah satu jenis tembakau Temanggung. Variabel agroinfiltrasi adalah densitas inokulum A.tumefaciens
C58C1(pMp90, pEGAD) dan waktu ko-kultivasi setelah infiltrasi. Kuantifikasi Green Fluorescent Protein
(GFP) ekstrak daun Sindoro dibandingkan kontrol negatif dapat mencapai 123% pada OD600=0.06 saat 24 jam
setelah infiltrasi. Sebagian agroinfiltrasi daun Sindoro juga diregenerasi pada media Murashige dan Skoog (MS)
mengandung BASTA 5 ppm sebagai agen seleksi. Tunas transforman muncul pada hari ke-47 setelah inokulasi
di media MS seleksi transforman
Daya Hambat Sediaan Deodoran Spray Minyak Atsiri Kulit Jeruk Bali Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus
Deodoran spray adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk menyerap keringat dan menutupi bau badan. Bau badan merupakan masalah yang cukup penting, bau badan ini dapat ditimbulkan karena kurang menjaga kebersihan badan dan adanya aktivitas bakteri Staphylococcus aureus. Jeruk bali memiliki senyawa metabolit sekunder terpenoid. Senyawa metabolit sekunder tersebut dapat dimanfaatkan sebagai agen antibakteri pada sediaan deodoran spray. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan sediaan deodoran spray minyak atsiri kulit jeruk bali pada konsentrasi 3%, 6% dan 9% dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini berbentuk Quasi Experimental Design, populasi pada penelitian ini adalah sediaan deodoran spray minyak atsiri kulit jeruk bali dengan menggunakan teknik sampling purposive. Sampel yang digunakan adalah sediaan deodoran spray minyak atsiri kulit jeruk bali konsentrasi 3%, 6% dan 9% yang dibuat 9 kali pengulangan pada masing- masing perlakuan, sehingga total sampel yang digunakan untuk 3 kelompok perlakuan tersebut adalah 27 sediaan deodoran spray yang diuji kekuatan antibakterinya dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauer. Hasil uji daya hambat sediaan deodoran spray minyak atsiri kulit jeruk bali terhadap bakteri Staphylococcus aureus didapatkan rata-rata zona hambat pada konsentrasi 3% sebesar 7,1 mm, konsentrasi 6% sebesar 7,9 mm dan konsentrasi 9% sebesar 8,7 mm. Dari hasil analisis data uji Friedman diperoleh p-value 0,000 < α 0,05. Sehingga terdapat perbedaan antara setiap konsentrasi sediaan deodoran spray minyak atsiri kulit jeruk bali terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus
