1,720,976 research outputs found
Penataan Karawitan Tari Nusantara 2
Abstrak
Penggunaan dan pemaknaan istilah karawitan memiliki cakupan bidang dan wilayah geografis atau wilayah budaya yang terus meluas. Dalam hal ini sudah biasa digunakan untuk menyebut berbagai jenis musik lainnya yang memiliki sifat, karakter, konsep, cara kerja, dan atau aturan yang mirip dengan musik karawitan (tradisi) Jawa, walau musik-musik tersebut bukan musik-musik dari Jawa (Supanggah, 2003:5).
Mengingat materi pementasan tari yang di persembahkan dalam acara Dharmasanti Nasional merupakan tari Nusantara, yaitu dari 5 (lima) jenis tarian yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, maka musik iringannya seperti penjelasan di atas. Musik dari masing-masing tarian tarian mereka memiliki sifat, karakter, konsep, cara kerja, dan atau aturan yang mirip dengan musik karawitan Jawa. Oleh karena itu, musik mereka dapat dikatakan karawitan.
Rahayu Supanggah (2003:6), menjelaskan, pada tahun 50-an ketika pemerintah RI membuka pertama kalinya membuka sekolah formal kesenian setingkat SLA di Surakarta dengan nama Konservatori Karawitan Indonesia (KOKAR), dan dalam pembelajarannya saat itu telah memasukan juga seni pedalangan dan tari. Begitu juga dengan dibukanya sekolah sejenis (KOKAR) di beberapa daerah lain, seperti di Padang (yang memberikan penekanan pada budaya Minang/Sumatra Barat), di Bandung (yang memberikan penekanan pada budaya Sunda), di Gowa (yang memberikan penekanan pada seni budaya Bugis, Gowa, Makasar), di Jogjakarta dengan seni budaya Jogjanya, di Surabaya (yang memberikan penekanan pada seni budaya Jawa Timuran), dan di Banyumas (yang memberikan penekanan pada seni budaya Banyumasan.
Dalam hubungannya dengan kebutuhan materi sajian tari, maka dalam hal ini peranan karawitan berkaitan dengan keperluan seni tari. Sedangkan penata karawitan diberikan tugas untuk iringan tari Golek Ayun-Ayun yang berasal dari seni budaya Daerah Isimewa Yogyakarta, dan tari Padang Ulan yang berasal dari seni budaya daerah Banyuwangi Jawatimuran
Karawitan Pakeliran Kolaborasi Wayang Jawa Bali
Abstrak
Pertunjukan Wayang Kulit yang merupakan salah satu seni budaya nasional Indonesia dikenal sebagai seni tradisional adiluhung multi medium. Khususnya wayang kulit di Jawa dan Bali, keberadaannya masih banyak digemari oleh masyarakat pendukungnya. Seni pewayangan kedua daerah ini erat kaitannya dengan kehidupan adat dan keagamaan.
Dalam perkembangannya wayang kulit Jawa sekarang fungsinya sudah sedikit mulai bergeser ke arah hiburan. Lain halnya dengan seni pertunjukan wayang Bali yang pada fungsinya masih dialokasikan pada kepentingan relegius dan upacara adat. Walaupun dalam perkembangan sekarang ada beberapa dalang yang mencoba mengkemas pertunjukan wayang Bali ke arah hiburan.
Dari ulasan sekilas latar belakang sejarah tersebut diatas, menunjukkan bahwa pertunjukan wayang Jawa dan Bali memiliki beberapa persamaan maupun perbedaan yang menarik untuk dikaji. Komponen-komponen yang banyak menunjukkan persamaan terutama muncul dalam penggunaan lakon, teknik pertunjukan, dan fungsi pertunjukan. Baik di Jawa maupun di Bali pertunjukan wayang kulit sama-sama didominasi oleh pengunaan lakon Mahabrata, yakni lakon yang sejak lama telah dikenal baik di kedua pulau ini. Dari segi teknik penyajian pertunjukan wayang kulit Jawa dan Bali merupakan sebuah drama atau pertunjukan teater bayang-bayang yang sama-sama memakai ciri khas yang esensial. Seorang dalang memainkan figur boneka wayang kulit didepan selembar layar putih yang lebar, dan pada waktu yang bersamaan melagukan dan mengucapkan dialog dan narasi diiringi dengan musik gamelan. Lakon-lakon yang mendominasi dunia pewayangan di kedua daerah ini sama-sama bersumber pada epos Mahabarata dan Ramayana. Dari segi fungsi pertunjukan, wayang kulit Jawa dan Bali sama-sama terkait dengan kepentingan adat, sosial, ritual, dan kepercayaan. Dari segi bahasa, wayang kulit Jawa dan Bali juga sama-sama menggunakan bahasa kawi arkais ataupun bahasa jawa kuno. Baik itu yang terdapat pada narasi, dialog dan pada lirik-lirik lagu/vokal.
Dengan adanya persamaan dan perbedaan dari dua gaya pertunjukan wayang yang berlainan ini, sangat memungkinkan untuk digabungkan dalam sebuah pertunjukan. Karena kedua gaya daerah ini memiliki ciri khas pertunjukan yang unik dan menarik. Pertunjukan wayang Jawa memiliki sajian yang atraktif dari teknik gerak-gerak wayangnya, sedangkan wayang Bali memiliki kekhasan dalam hal tutur dan fungsi panakawan sebagai penterjemah.
Perpaduan kedua pakeliran yang berbeda daerah ini penggarap sajikan dalam sebuah pertunjukan “Kolaborasi Wayang Jawa Bali dalam Lakon Ciptoning”
Komposisi Musik Topeng Koreografer Mbak Jane Cane Bersama Yayasan Sutasoma
Abstrak
Topeng merupakan benda yang dipakai di atas wajah. Topeng dikesenian daerah umumnya untuk menghormati sesembahan atau memperjelas watak dalam mengiringi kesenian. Topeng telah menjadi salah satu bentuk ekspresi paling tua yang pernah diciptakan peradaban manusia. Pada sebagaian besar masyarakat dunia topeng memgang peranan dalam berbagai sisi kehidupan yang menyimpan nilai-nilai magis dan suci
Karawitan Tari Kala Kali
Abstrak
Penggunaan dan pemaknaan istilah karawitan memiliki cakupan bidang dan wilayah geografis atau wilayah budaya yang terus meluas. Dalam hal ini sudah biasa digunakan untuk menyebut berbagai jenis musik lainnya yang memiliki sifat, karakter, konsep, cara kerja, dan atau aturan yang mirip dengan musik karawitan (tradisi) Jawa, walau musik-musik tersebut bukan musik-musik dari Jawa (Supanggah, 2003:5).
Mengingat materi pementasan Oratorium Tari yang di persembahkan dalam acara Pelantikan Rektor ISI Denpasar merupakan tari Nusantara, yaitu jenis tarian yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, maka musik iringannya seperti penjelasan di atas. Musik dari masing-masing tarian mereka memiliki sifat, karakter, konsep, cara kerja, dan atau aturan yang mirip dengan musik karawitan Jawa. Oleh karena itu, musik mereka dapat dikatakan karawitan.
Rahayu Supanggah (2003:6), menjelaskan, pada tahun 50-an ketika pemerintah RI membuka pertama kalinya membuka sekolah formal kesenian setingkat SLA di Surakarta dengan nama Konservatori Karawitan Indonesia (KOKAR), dan dalam pembelajarannya saat itu telah memasukan juga seni pedalangan dan tari. Begitu juga dengan dibukanya sekolah sejenis (KOKAR) di beberapa daerah lain, seperti di Padang (yang memberikan penekanan pada budaya Minang/Sumatra Barat), di Bandung (yang memberikan penekanan pada budaya Sunda), di Gowa (yang memberikan penekanan pada seni budaya Bugis, Gowa, Makasar), di Jogjakarta dengan seni budaya Jogjanya, di Surabaya (yang memberikan penekanan pada seni budaya Jawa Timuran), dan di Banyumas (yang memberikan penekanan pada seni budaya Banyumasan.
Dalam hubungannya dengan kebutuhan materi sajian tari, maka dalam hal ini peranan karawitan berkaitan dengan keperluan seni tari. Sedangkan penata karawitan diberikan tugas untuk menata iringan tari Blantek (Batawi), Golek Ayun-Ayun (Yogyakarta), dan Padang Ulan yang berasal dari seni budaya Bayuwange
Penataan Musik derap Nusantara Derap Nusantara
Abstrak
Garapan ini berangkat dari tawaran Kepala Dinas Penerangan (Badan Informasi dan Telematika) Propinsi Bali Bapak Drs I Gede Ngurah, selaku ketua pelaksana Pameran Pembangunan Ptopinsi Bali tahun 2001. Beliau menawarkan tema lewat Forum Komunikasi Paguyuban Etnis Nusantara di Bali Kita Tingkatkan Persatuan dan Kesatuan RI. Dengan menyanggupi dan mencermati tawaran tersebut, saya akhirnya sepakat. Garapan ini melibatkan semua paguyuban etnis nusantara dan untuk masing-masing paguyuban menampilkan busana dari daerah asal.
Forum Komunikasi Paguyuban Etnis Nusantara Propinsi Bali didirikan tahun 2001. Forum komunikasi paguyuban etnis ini diketuai oleh Prof. Dr. Ir. I Gede Suyatna. Jumlah yang tercatat ada 27 paguyuban daerah (etnis), yaitu: (1) Ikatan keluarga Batak (Sumatra Utara), (2) Ikatan Keluarga Minang Saiyo Minang Kabau (Sumatra Barat), (3) Paguyuban Mangle (Jawa Barat), (4) Paguyuban Banyumasan (Jawa Tengah), (5) Ikatan Keluarga Surakarta Hadiningrat (Jawa Tengah), (6) Paguyuban Kesuma/Eks Karesidena Surakarta (Jawa Tengah), (7) Paguyuban Ngeksigondo (Jogjakarta), (8) Ikatan Keluarga Besar Flambomora (NTT), (9) Ikatan Mahasiswa dan Masyarakat Papua (IMMAPA), (10) Ikatan Keluarga Maluku Bali “IKEMAL* (11) RKSS Kodya Denpasar Makasar Bugis, (12) Ikatan Keluarga Toraja (IKAT), (13) Ikatan Keluarga Sangihe Talaud (IKSAT), (14) Ikatan Keluarga Maesa (Minahasa), (15) Paguyuban Sosial Masyarakat Tionghoa (PSMTI), (16) Ikatan Keluarga Ombay Alor (NTT), (17) Paguyuban Klong-Bring Alor (NTT), (18) Persaudaraan Warga Tegal (Jawa Tengah), (19) Ketua Forum KKB, (20) Kerukunan Keluarga Madura, (21) Paguyuban Keluarga Sidoarjo (Jawa Tmur), dan tahun 2004 ditambah, (22) Lembaga Adat Kebudayaan Aceh (Laka), (23) Ikatan Keluarga Taliwang (Jabar), (24) Paguyuban Keluarga Sindoro Sumbing Temanggung (Jateng), (25) Ikatan Keluarga Pagerboyo Surabaya (Jatim), (26) Ikatan Keluarga Malang (Jatim), (27) Ikatan Keluarga Andalas Selatan.
Dengan demikian, mengingat masing masing asal paguyuban etnis memiliki Lagu-lagu daerahnya, maka dengan semangat kedaerahan guna terwujudnya masyarakat Bhineka Tunggal Ika yang mampu mengemban motto: Dimana Bumi Dipijak, Disana Langit Dijunjung”
Karawitan Penataan Tari Nusantara 3
Abstrak
Rahayu Supanggah (2003:6), menjelaskan, pada tahun 50-an ketika pemerintah RI membuka pertama kalinya membuka sekolah formal kesenian setingkat SLA di Surakarta dengan nama Konservatori Karawitan Indonesia (KOKAR), dan dalam pembelajarannya saat itu telah memasukan juga seni pedalangan dan tari. Begitu juga dengan dibukanya sekolah sejenis (KOKAR) di beberapa daerah lain, seperti di Padang (yang memberikan penekanan pada budaya Minang/Sumatra Barat), di Bandung (yang memberikan penekanan pada budaya Sunda), di Gowa (yang memberikan penekanan pada seni budaya Bugis, Gowa, Makasar), di Jogjakarta dengan seni budaya Jogjanya, di Surabaya (yang memberikan penekanan pada seni budaya Jawa Timuran), dan di Banyumas (yang memberikan penekanan pada seni budaya Banyumasan.
Penggunaan dan pemaknaan istilah karawitan memiliki cakupan bidang dan wilayah geografis atau wilayah budaya yang terus meluas. Dalam hal ini sudah biasa digunakan untuk menyebut berbagai jenis musik lainnya yang memiliki sifat, karakter, konsep, cara kerja, dan atau aturan yang mirip dengan musik karawitan (tradisi) Jawa, walau musik-musik tersebut bukan musik-musik dari Jawa.
Mengingat materi pementasan tari yang di persembahkan ISI Denpasar, tari garapan baru pada program PHK B-Seni merupakan tari Nusantara, yaitu dari 5 (lima) jenis tarian yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, maka musik iringannya seperti penjelasan di atas. Musik dari masing-masing tarian tarian mereka memiliki sifat, karakter, konsep, cara kerja, dan atau aturan yang mirip dengan musik karawitan Jawa. Oleh karena itu, musik mereka dapat dikatakan karawitan.
Dalam hubungannya dengan kebutuhan materi sajian tari, maka dalam hal ini peranan karawitan berkaitan dengan keperluan seni tari. Sedangkan penata karawitan diberikan tugas untuk iringan tari Golek Ayun-Ayun yang berasal dari seni budaya Daerah Isimewa Yogyakarta, dan tari Jaipong yang berasal dari seni budaya Sunda
Karawitan Tari Nusantara Pada Oratorium Tari Sumpah Palapa Gadjah Mada
Abstrak
Penggunaan dan pemaknaan istilah karawitan memiliki cakupan bidang dan wilayah geografis atau wilayah budaya yang terus meluas. Dalam hal ini sudah biasa digunakan untuk menyebut berbagai jenis musik lainnya yang memiliki sifat, karakter, konsep, cara kerja, dan atau aturan yang mirip dengan musik karawitan (tradisi) Jawa, walau musik-musik tersebut bukan musik-musik dari Jawa .
Rahayu Supanggah (2003:6), menjelaskan, pada tahun 50-an ketika pemerintah RI membuka pertama kalinya membuka sekolah formal kesenian setingkat SLA di Surakarta dengan nama Konservatori Karawitan Indonesia (KOKAR), dan dalam pembelajarannya saat itu telah memasukan juga seni pedalangan dan tari. Begitu juga dengan dibukanya sekolah sejenis (KOKAR) di beberapa daerah lain, seperti di Padang (yang memberikan penekanan pada budaya Minang/Sumatra Barat), di Bandung (yang memberikan penekanan pada budaya Sunda), di Gowa (yang memberikan penekanan pada seni budaya Bugis, Gowa, Makasar), di Jogjakarta dengan seni budaya Jogjanya, di Surabaya (yang memberikan penekanan pada seni budaya Jawa Timuran), dan di Banyumas (yang memberikan penekanan pada seni budaya Banyumasan.
Mengingat materi pementasan tari yang di persembahkan dalam acara Pagelaran Porseni Bank Pembangunan Daerah se-Indonesia merupakan tari Nusantara, yaitu dari 5 (lima) jenis tarian yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, maka musik iringannya seperti penjelasan di atas. Musik dari masing-masing tarian tarian mereka memiliki sifat, karakter, konsep, cara kerja, dan atau aturan yang mirip dengan musik karawitan Jawa. Oleh karena itu, musik mereka dapat dikatakan karawitan.
Dalam hubungannya dengan kebutuhan materi sajian tari, maka dalam hal ini peranan karawitan berkaitan dengan keperluan seni tari. Sedangkan penata karawitan diberikan tugas untuk iringan tari Golek Ayun-Ayun yang berasal dari seni budaya Daerah Isimewa Yogyakarta, dan tari Padang Ulan yang berasal dari seni budaya daerah Banyuwangi Jawatimuran
Cover Komposisi Musik Black And White Koreografer I Gusti Ngurah Sudibya
Abstrak
Rua Bineda adalah dua buah kata dalam kehidupan orang Bali yang berarti dua yang berbeda. Dua hal yang berbeda ini adalah suatu keadaan di mana keduanya tidak dapat dipisahkan tetapi berjalan seiring dengan perjalanan waktu. Keadaan ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yakni, adanya perbedaan waktu siang dan malam, pebedaan tingkah laku baik dan buruk, perbedaan lefel tinggi dan rendah, perbedaan kedudukan atasan dan bawahan, ada kiri dan kanan serta masih banyak hal lain yang dapat kita liha dalam kehidupan lita sehari-hari.
Hal serupa juga dusampaikan dalam buku Ensiklopedi Tari Bali bahwa dalam filsafat Rua Bineda yang diteraplan di dalam lakon-lakon bebarongan di Bali. Barong di Bali dianggap sebagai pihak yang baik dan Rangda dianggap sebagai pihak yang buruk atau jahat. Konsep dualism tetap hidup dalam pertunjukan barong, bahkan terdapat juga pada semua jenis lakon di Bali (Bandem, 1983:30)
Demikian juga rua bineda yang ditulis oleh Ida Bagus Darmika, bahwa konsep rua bineda ini merupakan keyakinan masyarakat bahwa, walaupun merupakan dua unsure yang selalu berbeda namun jika dihayati maka perbedaan tersebut sebenarnya proses penciptaan yang tujuannyauntuk mencapai kebahagiaan di mana keselarasan dan keseimbangan akan dapat terwujud dalam kehidupan di dunia ini. Ajaran ini berpean bahwa laki-perempuan, baik-buruk, mati-hidup neraka-surga, senang-susah, siang-malam, matahari-bulan bersama munculnya pergi dan dating. Jika tidak muncul keburukan maka waktu itu pula kebaikan akan menyertai, jika muncul kebaikan, maka bersama itu pula keburukan akan muncul sebab baik dan buruk itu tak terpisahkan (Moksartham Jagaddhita, 1995: 98).
Hal trsebutlah yang melatar belakangi garapan tari Blak & White karya I Gsusti Ngurah Sudibya, maka saya ketika diminta menggarap musik sebagai iringannya, tersirat dengan istilah lanang-wadon. Oleh karena itu, saya menginspirsaikan musik yang digarap cukup membutuhkan dua orang dan dua alat yang berbeda kultur budayanya. Di dalam kesempatan ini menggunakan kendang dan biola
Penambahan Tatap Muka Terstruktur Dalam Pengajaran Gamelan Jawa Pada Jurusan Karawitan
Abstrak
Proses belajar mengajar merupakan suatu rangkaian peristiwa yang cukup kompleks. Keberhasilan proses belajar mengajar ditentukan oleh berbagai unsure yang saling terkait satu sama lain. Salah satu unsure yang cukup berpengaruh secara signifikan adalah strategi atau metode pembelajaran. Pemilihan strategi/metode pembelajaran yang tepat akan sangat membantu tercapainya sasaran perkuliahan.
Inovasi penambahan tatp muka secara terstruktur , ternyata dapat menjadikan tembusnya materi seperti yang ada dalam SAP. Metode ceramah-demontrasi yang dipergunakan, dan teori-teori pembelajaran seperti behaviorisme, kognitifisme, kontrak siswa banyak membantu dalam pelaksanaan tercapainya tujuan yang diinginkan yaitu : 1) tercapainya tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus. 2) Tercapainya materi yang diberikan dan terdapat dalam SAP kepada mahasiswa. 3) Meningkatkannya hubungan dan jumlah tatap muka dalam kelas.
Untuk mengetahui efektifitas dan tingkat keberhasiln dari penerapan metode ini, data-data dikumpulkan dengan metode observasi dan data pengalaman pribadi, kemudian dideskripsikan. Data lain adalah, komparasi nilai antar semester yang dicapai oleh 19 orang mahasiswa semester V pada mata kuliah Repertoar D tahun ajaran 2001/2002 yang memperoleh nilai yang dibandingkan dengan 25 orang mahasiswa semester V tahun ajaran 2002/2003 dengan perolehan nilai A = 9 Orang / 47%, nilai B = 7 Orang/37%, nilai C = 3 Orang/16%, dengan nilai rata-rata 3,31. Setelah diterapkannya metode pengajaran inovatif pada mata kuliah Repertoar D menjadi nilai A = 16 Orang/64%, nilai B = 7 Orang/28%, dan nilai C = 2 Orang/8% dengan nilai rata-rata 3,96. Dengan demikian terdapat komparasi nilai sebesar 0,65.
Hasil implementasi dari penerapan metode pengajaran ini menunjukan bahwa cara ini cukup efektif digunakan, indikasinya terlihat dari peningkatan hasil belajar yang diperoleh mahasiswa sebesar 0,65 yang menunjukan angka yang cukup signifikan dalam usaha meningkatkan kualitas hasil belajar
CALUNG BANYUMASAN: Melodi Tradisi yang Hidup
Calung Banyumasan bukan sekadar alat musik bambu biasa. Ia
merupakan cermin dari kehidupan sosial, nilai-nilai budaya, dan identitas masyarakat Banyumas yang lugas, egaliter, dan penuh semangat. Melalui buku ini, kami berupaya menguraikan secara komprehensif berbagai aspek penting yang membangun keunikan calung, mulai dari sejarah dan asal-usul, struktur dan teknik permainan, hingga fungsi sosial, bentuk pertunjukan, serta tantangan dan upaya pelestariannya.
Kami berharap buku ini dapat menjadi sumber referensi yang
bermanfaat bagi para akademisi, pelajar, seniman, pemerhati budaya, dan masyarakat luas yang ingin mengenal lebih dalam tentang calung Banyumasan. Selain itu, buku ini juga diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan warisan budaya yang menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia
- …
