77 research outputs found
Pemanfaatan Limbah Organik untuk Produksi Kompos Skala Industri dalam Mendukung Reklamasi Lahan Bekas Tambang
Upaya memulihkan dan memperbaiki kualitas tanah lahan bekas tambang
wajib dilakukan perusahaan tambang pasca operasi produksi tambang. Salah satu
upaya memperbaiki kesuburan tanah yang telah berjalan hingga saat ini melalui
penggunaan kompos. Penggunaan pupuk organik dalam reklamasi lahan bekas
tambang telah dijalankan perusahan negara pertambangan batubara, PT Bukit Asam
(PT BA) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Kebutuhan pupuk organik saat ini
berasal dari pupuk bokashi hasil olahan kelompok masyarakat binaan PT BA.
Kebutuhan kompos secara rutin dalam jumlah besar menyebabkan permasalahan
berupa penurunan kualitas produk dan kuantitas ketersediaan yang terbatas. Oleh
karena itu, dibutuhkan alternatif bahan organik yang mampu mencukupi kebutuhan
pupuk organik di PT BA. Potensi bahan organik yang memungkinkan untuk
produksi skala industri di PT BA yaitu tandan kosong sawit dan rumput.
Penelitian terdiri atas tiga percobaan yaitu: a) pengomposan tandan kosong
sawit dan rumput, b) kompos tandan kosong sawit untuk meningkatkan
pertumbuhan samama (Neolamarckia macrophylla Roxb.) di lahan bekas tambang
batubara, dan c) pengaruh aplikasi kompos terhadap kelimpahan makrofauna tanah.
Pengomposan tandan kosong sawit dan rumput menggunakan metode passively
aerated static pile. Tandan kosong sawit berasal dari PT Bumi Sawindo Permai (PT
BSP) dan rumput berasal dari areal PT BA. Hasil menunjukan karakteristik kompos
tandan kosong sawit yang memenuhi standar mutu nasional pada penelitian ini
adalah warna kuning kecoklatan, pH sebesar 9.3, rasio C/N sebesar 14, dan
memenuhi standar unsur hara makro dan mikro. Kompos rumput memiliki
karakteristik warna hitam, pH sebesar 7.3, rasio C/N sebesar 7, dan unsur hara
makro dan mikro yang juga memenuhi standar mutu nasional.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kompos tandan kosong sawit
mampu meningkatkan respon pertumbuhan N. macrophylla berdasarkan parameter
persen hidup tanaman, diamter dan tinggi tanaman, serta jumlah daun. Dosis
kompos tandan kosong sawit hasil olahan PT BSP terbaik pada umur 14 minggu
dan dosis 5 kg. Teknik pemberian kompos baik secara dihamparkan, ditempatkan
di lubang tanam maupun dicampur dengan tanah tetap menghasilkan respon
pertumbuhan samama yang sama baiknya. Pengaruh aplikasi kompos terhadap
kelimpahan populasi makrofauna sebesar 16 genus dan 680 individu. Makrofauna
yang mendominasi populasi adalah semut. Indeks keanekaragaman dan kekayaan
tertinggi pada makrofauna tanah ditunjukkan pada aplikasi kompos dosis 5 kg dan
umur 14 minggu
Penyusunan Skala Hedonik Kebauan Beberapa Sumber Bau dengan Variasi Panelis.
Bau merupakan salah satu sumber gangguan lingkungan penting di
Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun skala hedonik kebauan,
menentukan skala hedonik kebauan pada beberapa contoh tempat, mengukur
kadar amonia (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S), dan menganalisis survei persepsi
bau. Pengukuran dilakukan pada bulan Oktober 2017-Mei 2018 langsung di
lapangan dengan 2 (dua) metode, yaitu menggunakan panelis dan uji analisis
kimia pada 10 (sepuluh) tempat yang diduga menimbulkan kesan bau negatif.
Skala hedonik kebauan yang digunakan -4≤x≤4 dengan ketelitian 1 (satu) angka
desimal. Skala hedonik -4≤x˂0 menunjukkan kesan bau tidak menyenangkan
(negatif) sedangkan skala hedonik 0˂x≤4 menunjukkan kesan bau menyenangkan
(positif). Skala kesan bau diurutkan dari skala terkecil hingga terbesar, tidak
hanya oleh 4 (empat) kelompok suku, tetapi juga jenis kelamin. Panelis kelompok
suku terdiri dari suku Sunda, Batak, Minang, dan Jawa dengan rata-rata sebesar -
2.0; -1.9; -1.8; -1.5 dan standar deviasi berturut-turut 1.3; 1.4; 1.3; 1.3. Hal ini
menunjukkan toleransi terhadap bau negatif oleh suku Sunda lebih kecil
dibanding 3 (tiga) suku lainnya. Hasil skala hedonik kebauan oleh panelis wanita
menunjukkan kecenderungan lebih negatif dibanding pria. Berdasarkan survei
persepsi bau, semua responden menyatakan mencium adanya bau sampah dalam
radius 5 (lima) meter dari TPS. Sebagian besar (92%) responden menyatakan
merasa terganggu dengan bau yang bersumber dari TPS
Karakteristik Dekomposisi Sampah Organik Pasar Tradisional Menggunakan Cacing Lumbricus rubellus dan Eudrilus eugeniae
Salah satu solusi dalam dekomposisi sampah organik yaitu dengan
memanfaatkan cacing tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh
karakteristik dekomposisi sampah organik pasar tradisional. Percobaan dilakukan
dalam skala laboratorium dan skala rumah tangga. Pengujian yang dilakukan
meliputi pengujian sistem instalasi proses dekomposisi, pengujian kadar protein
cacing, dan analisis mutu hasil dekomposisi oleh cacing. Dalam penelitian ini
digunakan cacing jenis Eudrilus eugeniae dan Lumbricus rubellus. Berdasarkan
hasil pengujian, kadar air sampel menurun dari 86% menjadi 24% dalam sampel
sampah dengan Eudrillus eugeniae dan menjadi 19% pada sampel sampah dengan
Lumbricus rubellus. Nilai pH sampah berubah dari 4.5 menjadi 8.7 untuk sampah
dengan Eudrilus eugeniae dan 9 untuk sampah dengan Lumbricus rubellus. Reduksi
sampah organik dengan Eudrilus eugeniae adalah 49.32% dan dengan Lumbricus
rubellus adalah 40.48%. Eudrilus eugeniae mengalami peningkatan berat badan
sebesar 0.24 gram/individu/15 hari sedangkan Lumbricus rubelus sebesar 0.10
gram/individu/15 hari. Proses dekomposisi selama 30 hari oleh kedua jenis cacing
menghasilkan pupuk kompos yang sesuai dengan standar..
Kata kunci: dekomposisi, Eudrilus eugeniae, Lumbricus rubellus, sampah organi
Analisis Korelasi antara Bangkitan Debu Jatuh, Kecepatan Angin, dan Kadar Air Tanah
Naturally dustfall can be generated from dry soil that carried away by the wind. The aim of the research is to analyze the correlations between dustfall, wind speed, and soil moisture content on three main types of soil found in Java Island according to Standard Rev. SNI 13-4703-1998. The results of analysis showed that the generation of dustfall correlated positively with wind speed and correlated negatively with soil moisture content. Effect of wind speed on the generation of dustfall on Inceptisol soil is 19.6%, Ultisol is 36.6%, and Andisol is 22.5%. Effect of soil moisture content on the generation of dustfall on Inceptisol soil is 27.4% on the measurements in the field and 72.6% on the measurements in the laboratory, Ultisol soil is 37.5% on the measurements in the field and 79.5% on the measurements in the laboratory, Andisol soil is 29.3% on the measurements in the field and 78.7% on the measurements in the laboratory. Many outside factors influence on the measurements in the field resulted in the resulting correlation lower than measurements in the laborator
Konversi Limbah Plastik dari Kampus IPB Darmaga Menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) Menggunakan Metode Pirolisis
Pirolisis merupakan alternatif pengolahan sampah plastik yang produknya berupa bahan bakar minyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur timbulan sampah plastik, menentukan komposisi sampah plastik, serta menentukan kelayakan ekonomi pengolahan sampah plastik menjadi BBM. Penelitian berlangsung pada bulan Februari hingga Juli 2020 menggunakan data primer hasil pengukuran di lapangan. Sampah plastik yang digunakan dalam proses pirolisis merupakan lima jenis plastik dari TPA Cikabayan Kampus IPB Darmaga yaitu low-density polyethylene (LDPE), high-density polyethylene (HDPE), polypropylene (PP), polyethylene terephthalate (PET), dan polystyrene (PS). Sampah dipisahkan dan ditimbang berdasarkan komposisinya kemudian diolah menjadi bahan bakar minyak dengan metode pirolisis. Rata-rata bangkitan sampah plastik yang dihasilkan sebesar 39,4 kg/hari. Berdasarkan hasil pirolisis, jenis plastik yang menghasilkan volume BBM tertinggi hingga terendah secara berturut-turut yaitu PP, LDPE, PS dan PET. Analisis kelayakan ekonomi menunjukkan bahwa jenis plastik LDPE, PP, PET dan PS tidak layak secara ekonomi
Implementasi LCA (Life Cycle Assessment) pada Bata Merah dan Batako
Red brick and brick are important materials on building project as like house. Purpose this research is determine the material between red brick and brick who have less impact to environment. LCA is one of method to evaluate impact assessment for a project or product. LCA ISO 14040 stage include goal definition and scoping, inventory analysis, impact assessment, and interpretation. Result this research is raw materials of red brick to make walls which function unit 1m2 wall soil 64 liter, and water 1 liter. Raw materials of brick to make 1 m2 walls is soil 45 liter, limestone 11 liter, and water 1 liter. Noise level of redbrick fabric is 83 dB(A). Noise level of brick fabric is 57 dB(A). Value the noise level of redbrick industry was exceeds the quality standards specified in the Decree of the Minister of Environment No.:KEP-48/MENLH/11/1996 pertaining on Noise Threshold. Energy consumption to make redbrick for 1 m2 walls was 2047 kcal whereas energy consumption for to make 1 m2 brick was 186 kcal. Based on the method of LCA (Life Cycle Assessment), the best material for make walls between redbrick and brick was a brick
Penentuan Indeks Standar Pencemar Udara Berdasarkan Konsentrasi Nitrogen Dioksida (NO2) dalam Udara Ambien
Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang berlaku menetapkan parameter
nitrogen dioksida (NO2) hanya mempunyai nilai ISPU dari 200 hingga 500
dengan konsentrasi minimum nilai ISPU 200 sebesar 1130 μg/Nm3. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengevaluasi konsentrasi NO2 yang bernilai kurang
dari 1130 μg/Nm3 dalam udara ambien dan menentukan nilai ISPU berdasarkan
konsentrasi NO2. Data diperoleh dari kompilasi data sekunder dan pengukuran
langsung di lapangan serta studi toksisitas NO2. Penelitian ini dilakukan dari
bulan Maret hingga Mei 2019. Prosedur untuk pengujian konsentrasi NO2
mengacu pada SNI 19-7119.2-2005. Kisaran konsentrasi NO2 yang diperoleh dari
data pemantauan pada Provinsi Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur adalah 6-57
μg/Nm3, sedangkan berdasarkan hasil sampling sebesar 3-72 μg/Nm3. Konsentrasi
NO2 dari data pemantauan dan sampling sangat rendah dibandingkan batas
konsentrasi minimum NO2 pada ISPU. Nilai ISPU untuk konsentrasi NO2
maksimum di Pulau Jawa adalah 13 dan nilai tersebut cukup rendah dibandingkan
standar minimum nilai ISPU NO2 yaitu 200. Batas konsentrasi NO2 yang relevan
sebagai indikator awal untuk nilai ISPU 50 adalah 10-34 μg/Nm3 dan untuk nilai
ISPU 100 sebesar 38-68 μg/Nm3 berdasarkan studi toksisitas NO2
Indeks Standar Pencemar Udara Akibat Pembakaran Biomassa Dari Vegetasi Brachiaria Humidicola, Imperata Cylindrica, Dan Semak
Kebakaran biomassa akibat pembukaan lahan terjadi di Indonesia setiap musim kemarau. Pembakaran biomassa menghasilkan emisi yang cukup besar berupa gas dan dapat dinilai dengan indeks standar pencemar udara (ISPU). Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah suhu udara ambien tertinggi di Indonesia dapat menyebabkan kebakaran vegetasi Brachiaria humidicola (BH), Imperata cylindrica (IC), dan semak, menganalisis kualitas udara ambien yang terkontaminasi asap akibat simulasi pembakaran biomassa dan menghitung nilai ISPU yang dihasilkan dari konsentrasi polutan asap pada udara ambien. Secara umum dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu udara ambien tertinggi di Indonesia tidak menyebabkan terbakarnya bahan uji sehingga suhu tersebut bukan merupakan faktor utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Brachiaria humidicola memiliki kadar air terkecil (7.5%) sehingga lebih cepat memanas dibandingkan vegetasi lain. Semak yang memiliki kadar air tertinggi (14%) pada awal pembakaran mengakibatkan suhu ambien menjadi 64C dan suhu meningkat menjadi 114.1C. Polutan yang mendominasi dalam penelitian ini adalah NO2 dan CO. Secara umum hasil penelitian menunjukkan nilai konsentrasi berada di bawah baku mutu sesuai PP 41/1999 kecuali konsentrasi CO pada semak (47898 μg/m3). Berdasarkan batas ISPU pada KEP-107/KABAPEDAL/11/1997, dihasilkan nilai ISPU tertinggi untuk parameter CO terdapat pada semak yakni 500
Analisis Konsentrasi NO₂ di Jakarta, Bandung, dan Gresik untuk Menentukan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) merupakan standar kualitas udara yang berlaku di Indonesia. Salah satu parameter ISPU adalah nitrogen dioksida (NO₂) yang memiliki nilai konsentrasi minimum sebesar 1130 μg/Nm³ pada ISPU 200. Penelitian bertujuan mengevaluasi nilai minimum konsentrasi NO₂ pada ISPU dan menentukan nilai minimum konsentrasi NO₂. Penelitian berlangsung pada bulan Februari hingga April 2020 menggunakan data sekunder dan data primer yang diperoleh dari pengukuran langsung di lapangan. Pengujian konsentrasi NO₂ mengacu pada SNI 19-7119.2-2005. Konsentrasi NO₂ yang didapatkan dari hasil pemantauan di Jakarta, Bandung dan Gresik pada tahun 2016-2019 berkisar 6-57 μg/Nm³, sedangkan dari hasil pengukuran langsung di Gresik dan Surabaya didapatkan konsentrasi NO₂ sebesar 23-59 μg/Nm³. Nilai ISPU maksimum yang didapatkan dari tiga (3) lokasi hanya bernilai 10. Nilai ini jauh lebih rendah dibandingkan nilai minimum ISPU yang tertera dalam peraturan yang berlaku saat ini, yaitu sebesar 200. Bila temuan tersebut digabungkan dengan hasil studi toksisitas, maka konsentrasi NO₂ yang tepat untuk ISPU 50 adalah 11-39 μg/Nm³, sedangkan untuk ISPU 100 adalah 40-85 μg/Nm³
Penyusunan Indeks Kesehatan Ekosistem Perkotaan di Pulau Jawa Sebagai Standardisasi Penilaian Nasional.
Indonesia masih belum memiliki standar dalam menilai kesehatan ekosistem. Laporan Indeks Kesehatan Lingkungan Hidup (IKLH) di Indonesia hanya mencakup kualitas udara, kualitas air dan tutupan hutan, sehingga dianggap kurang mewakili kesehatan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan pendekatan kuantitatif untuk sistem penilaian ekosistem perkotaan dan untuk menentukan kesehatan ekosistem di beberapa kota di Jawa. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data dari dokumen pemerintah daerah dan mengolah data sehingga nilai masing-masing komponen berkisar dari 0 hingga 100. Dari hasil analisis diketahui bahwa nilai IKLH di Malang adalah 75.14, di Yogyakarta adalah 74.96, di DKI Jakarta adalah 71.64 dan di Bogor adalah 75.06. Empat kota memiliki kualitas udara dan kualitas air yang baik berkisar dari 75-100. Namun nilai tutupan hutan memiliki nilai yang sangat rendah berkisar 16-17, nilai keanekaragaman hayati flora dan fauna mulai dari 52-62, sementara nilai kesehatan masyarakat berkisar antara 82-87 dan nilai kesehatan lingkungan antara 96-98
- …
