1,720,987 research outputs found
Analisis Perencanaan Tebal Perkerasan Kaku Lajur Pengganti pada Proyek Pembangunan Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Elevated
Pekerjaan pembuatan lajur pengganti merupakan tahapan konstruksi pada pembangunan Jalan Tol Jakarta-Cikampek II elevated . Peningkatan efektivitas dan kemampuan pelayanan jalan akan berdampak pada aktivitas lalu lintas. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis alternatif desain dan tebal perkerasan kaku dengan menggunakan metode Manual Desain Perkerasan Jalan (MDPJ) 2017 dan American Association of State High-way and Transportation Officials Guide for Design of Pavement Structures (AASTHO) 1993. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – Mei 2019. Berdasarkan data yang telah didapatkan, diperoleh alternatif desain perkerasan kaku dengan menggunakan metode MDPJ 2017 yaitu menggunakan pelat beton setebal 305 mm sedangkan dengan metode AASHTO 1993 digunakan tebal pelat beton setebal 320 mm. Pada keadaan kondisi existing digunakan pelat beton setebal 300 mm
Evaluasi Alinyemen Horizontal dan Alinyemen Vertikal di Ruas Jalan Dramaga, Kabupaten Bogor.
Salah satu penyebab kecelakaan adalah kondisi geometrik yang tidak sesuai
dengan kondisi lalu lintas aktual. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi
kesesuaian alinyemen horizontal dan alinyemen vertikal berdasarkan data
perhitungan dengan data aktual di lapangan. Perhitungan evaluasi ini
menggunakan Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota yang
dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum pada tahun 1997. Berdasarkan
hasil evaluasi dengan data volume kendaraan, didapat lebar jalur dan lebar bahu
ideal sebesar 7 m dan 2 m. Hasil evaluasi dengan data kecepatan rencana pada
alinyemen horizontal, parameter jari-jari tikungan (Rmin) serta superelevasi sudah
sesuai. Sementara itu, parameter daerah bebas samping (M) dan pelebaran pada
tikungan tidak sesuai dengan nilai M sebesar 4.9 m dan pelebaran di tikungan
sebesar 1.4 m. Pada alinyemen vertikal, parameter yang dievaluasi adalah
kelandaian dan panjang lengkung vertikal. Keduanya sudah sesuai dengan
ketentuan. Rekomendasi yang dapat diberikan yaitu pelebaran jalan perlu
dilakukan sesuai dengan hasil evaluasi
Analisis Lalu Lintas Harian Rata-rata dengan Kondisi Perkerasan Jalan Raya Jati Asih Kota Bekasi
Peningkatan jumlah kendaraan darat menimbulkan pembebanan berlebih
pada jalan yang dilalui kendaraan darat tersebut. Hal ini dapat menimbulkan
kerusakan jalan yang merugikan bagi pengguna jalan. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis hubungan antara intensitas arus lalu lintas harian rata-rata
dengan tingkat kerusakan jalan dan merancang tebal perkerasan yang baru bila
diperlukan. Penelitian ini dilakukan di Jalan Raya Pekayon arah Jati Asih dan
Juanda, Bekasi. Perhitungan tebal perkerasan lentur menggunakan metode manual
desain perkerasan (MDP) 2013 dengan pemeriksaan metode Pt T-01-2002-B dan
metode SNI 03-1732-1989-F. Intensitas arus lalu lintas harian rata-rata yang
tinggi yaitu DS = 0.81 merupakan salah satu penyebab kerusakan jalan di kedua
arah Jalan Raya Pekayon. Dibandingkan dengan Pt T-01-2002-B dan SNI 03-
1732-1989-F, maka tebal perkerasan yang efektif didapatkan dari metode MDP
2013 dengan tebal lapisan permukaan 150 mm CTB, 150 mm LPA kelas A, 220
mm AC BC serta 50 mm AC WC
Analisis Kemacetan dan Perkiraan Tingkat Pelayanan Jalan pada Masa Mendatang.
Pertumbuhan ruas jalan yang cenderung lebih kecil dibanding dengan
pertumbuhan volume lalu lintas menyebabkan penurunan tingkat pelayanan jalan.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kinerja kondisi eksisting dari geometri dan
lalu lintas Jalan Raya Sawangan serta merumuskan program untuk mengatasi
kemacetan. Kinerja kondisi eksisting Jalan Raya Sawangan pada segmen 1 dan 2
ialah F dan E sedangkan kinerja simpang tak bersinyal yang terdapat pada ruas jalan
tersebut ialah F. Perbaikan geometri dipilih untuk mengatasi kemacetan yang terjadi
sehingga diperoleh tingkat pelayanan rencana untuk 15 tahun ke depan ialah D.
Peningkatan kinerja simpang dilakukan dengan mengubah kondisi simpang tak
bersinyal menjadi bersinyal dan mengubah kondisi simpang bersinyal menjadi tak
sebidang. Kondisi simpang bersinyal hanya mampu menerima beban lalu lintas
selama 10 tahun sehingga diperlukan peningkatan kembali agar sesuai dengan
sasaran umur rencana, yaitu mengubahnya menjadi simpang tak sebidang. Tingkat
pelayanan simpang tak sebidang tergolong pada tingkat A karena memenuhi
persyaratan yang berlaku
Evaluasi Geometri dan Perlengkapan Jalan Lingkar Leuwiliang Bogor
Pada Jalan Lingkar Leuwiliang terdapat tikungan, tanjakan dan perlengkapan
jalan berupa rambu, marka dan lampu penerangan jalan yang tidak nyaman bagi
pengendara. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi geometrik jalan
berdasarkan RSNI T-14-2004 dan pedoman No. 038/TBM/1997 serta perlengkapan
jalan berdasarkan pedoman No. 01/P/BNKT/1991 dan SNI 7391:2008 di Jalan
Lingkar Leuwiliang Bogor. Hasil dari penelitian menunjukan disain geometri dan
perlengkapan jalan ini belum sesuai Standar. Kecepatan yang digunakan sebagai
batas kecepatan adalah 50 km/jam. Daerah bebas samping pada tikungan ke-4
sebesar 3 m kurang dari Standar (3.04 m). Kelandaian melebihi 9% terdapat pada
segmen 2 (14.21%), 4 (10.94%), 13 (9.01%), 14 (9.19%), 26 (9.20%), 27 (9.20%),
28 (9.49%), 29 (12.15%) dan 30 (19.36%). Tidak terdapat marka pada jalan ini
maka dibuat disain marka garis utuh pada tepi jalan. Marka garis putus – putus
didisain pada Sta 0+000 sampai Sta 0+200 dan marka garis utuh pada Sta 0+200
sampai Sta 0+974.5 pada pembatas jalan. Tidak terdapat lampu penerangan jalan
pada tiang ke-7 sampai tiang ke-22. Untuk itu dibuat disain lampu penerangan pada
tiang tersebut dengan jenis lampu SON 100 W pada tiang dengan ketinggian 6 m
dari permukaan tanah
Penilaian Kondisi Jalan dengan Menggunakan Metode Pavement Condition Index (PCI) serta Rekomendasi Desain Perkerasan Jalan
Perbaikan untuk meningkatkan kualitas jalan perlu dilakukan seiring dengan pentingnya fungsi jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi jalan dengan menggunakan metode visual berdasarkan banyaknya kerusakan. Berdasarkan ASTM D6433-07 2007, kondisi perkerasan dapat dinilai menggunakan pavement condition index (PCI) dan kemudian diklasifikasikan berdasarkan nilai PCI. Penelitian ini berlokasi di Jalan Salabenda Raya Bogor sepanjang 550 m mulai dari Sta 0+000 koordinat 106o 45’ 22” LS dan 6o 32’ 34” BTsampai Sta 0+550 pada koordinat 106o 45’ 49” LS and 6o 32’ 26” BT. Jalan ini memiliki 2 arah dengan lebar 2.5 m dan tipe perkerasan adalah perkerasan lentur. Nilai PCI berdasarkan keseluruhan unit perhitungan adalah 28.8 dengan kategori sangat buruk. Usaha penanganan yang digunakan ialah dengan rekonstruksi ulang jalan berdasarkan nilai PCI. Rekomendasi perkerasan baru yang disarankan berdasarkan metode MDP 2017 adalah lapis AC WC 40 mm, AC BC 60 mm, AC base 75 mm, CTB 150 mm, dan pondasi agregat kelas A 150 mm
Pengaruh Limbah Keramik dan Abu Terbang Terhadap Kuat Tekan dan Daya Serap Air Bata Beton.
Pertumbuhan sektor pembangunan di Indonesia mengakibatkan tingginya
permintaan akan semen dan pasir. Penelitian dilakukan dari bulan Februari hingga
Juli 2018 dengan tujuan menganalisa dan mengetahui pengaruh campuran limbah
keramik dan abu terbang terhadap kuat tekan dan daya serap bata beton. Penelitian
dimulai dari persiapan alat dan bahan, pembuatan benda uji, serta pengujian kuat
tekan dan daya serap bata beton. Baku mutu yang digunakan mengacu pada SNI
03-0691-1996. Berdasarkan hasil analisis, kuat tekan terbesar yaitu 26.56 Mpa
diperoleh dari bata beton dengan 9% abu terbang dan 6% limbah keramik sehingga
termasuk dalam bata beton kelas mutu B. Penyerapan air terbesar yaitu 18.29%
diperoleh bata beton dengan campuran limbah keramik 15% dan penyerapan air
terkecil yaitu 9.65% diperoleh pada bata beton normal. Bata beton dengan
campuran 6% limbah keramik dan 9% abu terbang memiliki beberapa keuntungan
yaitu biayanya lebih murah, memiliki kuat tekan dan daya serap air lebih tinggi
dibandingkan bata beton normal, lebih ramah lingkungan, serta memiliki bobot
yang lebih ringan dan mempermudah pemasangan
Evaluasi Kondisi Geometri Jalan (Studi Kasus : Jalan Kamper dan Jalan Agatis Kampus Dramaga IPB).
Analisis geometri jalan pada lokasi penelitian di Jalan Kamper dan Jalan Agatis dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran dan analisis. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi kondisi aktual geometri jalan dan menyusun rencana perbaikan desain geometri Jalan Kamper dan Jalan Agatis. Data hasil pengukuran dan analisis dibandingkan dengan ketentuan pada SNI T-14-2004. Jalan Kamper di lokasi penelitian memiliki tikungan tunggal sedangkan Jalan Agatis memiliki 3 tikungan yang merupakan tikungan majemuk dengan R1<R2. Berdasarkan hasil evaluasi pada Jalan Kamper dan Jalan Agatis jari-jari tikungan A3, B1, B2, dan B3 diubah menjadi 93.9 m, 88.8 m, 82.7 m, dan 84.5 m. Panjang tikungan pada A3, B1, B2, dan B3 diubah menjadi 76.5 m, 60.1 m, 51.8 m dan 74 m. Pada tikungan A3 besar pelebaran jalan sebesar 1.4 m dan untuk tikungan B1, B2 dan B3 sebesar 1.6 m. Lebar jalan desain ulang untuk tikungan A3 sebesar 6.6 m dan untuk tikungan B1, B2 dan B3 sebesar 7.1 m. Perubahan kelandaian dilakukan pada B1-B2 dengan urugan menjadi 10% dan panjang lengkung vertikal cekung diubah dari 128 m menjadi 159.6 m. Rencana anggaran biaya yang diperlukan untuk perbaikan sebesar Rp594,955,758.00
Evaluasi Alinyemen Vertikal dan Horizontal, Studi Kasus di Depan Gedung Perpustakaan Kampus Dramaga Institut Pertanian Bogor.
Perpustakaan Kampus Institut Pertanian Bogor Dramaga memiliki tikungan yang cukup tajam dengan radius lengkung terbatas, sehingga menyebabkan kendaraan harus berhati-hati saat melintas, terutama kendaraan ukuran sedang. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi alinyemen vertikal dan horizontal di depan gedung perpustakaan berdasarkan RSNI T-14-2004. Hasil penelitian menunjukkan desain geometri jalan ini tidak sesuai dengan SNI, terutama alinyemen horizontal, sedangkan alinyemen vertikal tidak perlu dievaluasi. Dengan kecepatan rencana 30 km/jam dan perlambatan kendaraan 3.4 m/dt2 maka jarak pandang henti sebesar 35 m. Radius tikungan minimum untuk semua tikungan sebesar 36.8 m, sedangkan jari-jari eksisting pada titik A1, A2, B1, B2, B3 dan B4 berturut-turut sebesar 17 m, 22 m, 10 m, 16 m, 6.4 m dan 9 m. Berdasarkan pendekatan jari-jari radius putar agar kendaraan tetap dapat melintas pada jalurnya dengan aman maka jari-jari minimum pada B3 dan B4 di persimpangan sebesar 7.3 m
- …
