170,626 research outputs found
129. Stratta P, Messuerotti A, Canavese C. The full circle: from the minamata disaster to the sick building syndrome (Letter). Environ Health Perspect
N
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS KEMBALI DONGENG YANG DIBACA DENGAN MODEL STRATTA MELALUI METODE TONGKAT BERBICARA PADA PESERTA DIDIK KELAS VII C SMP NEGERI 16 SEMARANG
Keterampilan menulis kembali dongeng merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik jenjang SMP. Keterampilan menulis kembali dongeng peserta didik kelas VII C SMP Negeri 16 Semarang belum dapat dikatakan baik secara keseluruhan. Keterampilan menulis kembali dongeng peserta didik masih rendah terutama pada aspek menentukan unsur-unsur dongeng/urutan alur dongeng. Nilai ketuntasan minimal yang ada belum mencapai 75. Hal ini dilatarbelakangi oleh model serta metode pembelajaran yang kurang menarik dan kurangnya motivasi peserta didik dalam menulis kembali dongeng. Oleh karena itu, untuk meningkatkan keterampilan menulis kembali dongeng peserta didik kelas VII C SMP Negeri 16 Semarang dapat menggunakan model Stratta melalui metode tongkat berbicara. Masalah yang diteliti adalah 1) bagaimana proses pembelajaran keterampilan menulis kembali dongeng dengan model Stratta melalui metode tongkat berbicara pada peserta didik kelas VII C SMP Negeri 16 Semarang; 2) bagaimana peningkatan keterampilan menulis kembali dongeng dengan model Stratta melalui metode tongkat berbicara pada peserta didik kelas VII C SMP Negeri 16 Semarang dan; 3) bagaimanana perubahan perilaku peserta didik kelas VII C SMP Negeri 16 Semarang dalam pembelajaran menulis kembali dongeng dengan model Stratta melalui metode tongkat berbicara. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan proses pembelajaran keterampilan menulis kembali dongeng dengan model Stratta melalui metode tongkat berbicara pada peserta didik kelas VII C SMP Negeri 16 Semarang (2) mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis kembali dongeng dengan model Stratta melalui metode tongkat berbicara pada peserta didik kelas VII C SMP Negeri 16 Semarang; (3) mendeskripsikan perubahan perilaku peserta didik kelas VII C SMP Negeri 16 Semarang dalam pembelajaran menulis kembali dongeng dengan model Stratta melalui metode tongkat berbicara. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua tahap yaitu siklus I dan siklus II. Subjek penelitian ini adalah keterampilan menulis kembali dongeng peserta didik kelas VII C SMP Negeri 16 Semarang yang berjumlah 32 peserta didik. Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu keterampilan menulis kembali dongeng dan penggunaan model Stratta melalui metode tongkat berbicara. Teknik dalam penelitian ini menggunakan teknik tes dan nontes. Teknik tes berupa hasil tes keterampilan
menulis kembali dongeng peserta didik. Hasil nontes berupa hasil observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi foto. Teknik penggambilan data pada siklus I dan siklus II menggunakan teknik kuantitatif untuk hasil tes menulis kembali dongeng dan hasil nontes menggunakan teknik kualitatif. Hasil penelitian ini diketahui bahwa proses pembelajaran menulis kembali dongeng berjalan baik dan lancar meskipun ada beberapa peserta didik yang kurang bisa mengikuti pembelajaran dengan baik tetapi dapat diatasi oleh peneliti. Selain itu,hasil tes keterampilan menulis kembali dongeng mengalami peningkatan sebesar 9,84 atau sebesar 43,75%. Nilai siklus I peserta didik dari keseluruhan aspek memperoleh nilai rata-rata sebesar 71,95 dalam kategori cukup, setelah dilakukan tindakan siklus II mencapai 81,79 dengan kategori baik. Adapun perilaku peserta didik mengalami perubahan ke arah yang positif. Hal tersebut diwujudkan dengan senangnya peserta didik mengikuti pembelajaran menulis kembali dongeng, banyaknya peserta didik yang mengemukakan pendapat, dan motivasi peserta didik untuk dapat menulis kembali dongeng. Saran untuk guru Bahasa Indonesia agar dalam pengajaran menulis kembali dongeng, dapat menggunakan model Stratta melalui metode tongkat berbicara sebagai variasi dalam penggunaan strategi kegiatan belajar mengajar peserta didik. Peneliti lain hendaknya termotivasi untuk melengkapi penelitian ini dengan teknik, metode, dan model pembelajaran yang berbeda
Peningkatan Keterampilan Mengapresiasi Puisi melalui Pendekatan Sosiopragmatik dengan Penerapan Model Pembelajaran Stratta Siswa Kelas VII C SMP Negeri 3 Batang
Haswiyanti, Fenty. 2010. Peningkatan Keterampilan Mengapresiasi Puisi melalui Pendekatan Sosiopragmatik dengan Penerapan Model Pembelajaran Stratta Siswa Kelas VII C SMP Negeri 3 Batang. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Prof. Dr. Agus Nuryatin, M. Hum., Pembimbing II: Drs. Mukh. Doyin, M. Si.
Kata kunci: keterampilan apresiasi puisi, pendekatan sosiopragmatik dengan penerapan model pembelajaran Startta.
Pembelajaran sastra di sekolah pada dasarnya bertujuan untuk memupuk kepekaan perasaan dan penalaran siswa terhadap sebuah karya sastra. Oleh karena itu, pembelajaran sastra sebaiknya tidak hanya ditekankan pada peningkatan pemahaman siswa terhadap teori-teori semata tetapi yang lebih penting adalah kemampuan siswa dalam memahami karya sastra itu. Akan lebih baik lagi jika siswa ditekankan agar mampu mengambil manfaat untuk perkembangan kepribadiannya, menerapkan nilai-nilai positif yang ada di dalam karya sastra ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tujuan pembelajaran sastra untuk membentuk peserta didik yang menggemari karya sastra akan tercapai. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri 3 Batang, pembelajaran sastra yang dilakukan masih konvensional dan belum menuju kepada arah menjadikan siswa memahami secara emosional, imajinatif, dan estetis suatu karya sastra terutama dalam mengapresiasi puisi. Pada dasarnya pembelajaran sastra hanya diorientasikan untuk mengejar target nilai semata tanpa mempedulikan manfaat yang diperoleh siswa setelah mempelajari sastra dalam bentuk puisi. Hal ini disebabkan guru lebih mementingkan prestasi siswa dalam pencapaian nilai mengingat kedudukan SMP Negeri 3 Batang yang merupakan satu-satunya sekolah di Kabupaten Batang yang telah memperoleh predikat sebagai sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional). Untuk mengatasi kendala dalam pembelajaran mengapresiasi puisi tersebut, peneliti memberikan solusi dengan menggunakan pendekatan sosiopragmatik dengan penerapan model pembelajaran Stratta.
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah seberapa besar peningkatan keterampilan siswa kelas VII C SMP Negeri 3 Batang dalam mengapresiasi puisi setelah diberi pembelajaran dengan pendekatan sosiopragmatik melalui penerapan model pembelajaran Stratta? dan bagaimana perubahan perilaku siswa setelah pendekatan sosiopragmatik melalui penerapan model pembelajaran Stratta ini digunakan dalam pembelajaran mengapresiasi puisi? Adapun tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsi peningkatan keterampilan siswa kelas VII C SMP Negeri 3 Batang dalam mengapresiasi puisi setelah diberi pembelajaran dengan pendekatan sosiopragmatik melalui penerapan model pembelajaran Stratta; (2) mendeskripsi perubahan perilaku siswa kelas VII C SMP Negeri 3 Batang dalam mengapresiasi puisi setelah diberi pembelajaran
dengan pendekatan sosiopragmatik melalui penerapan model pembelajaran Stratta.
Penelitian yang dilaksanakan merupakan penelitian tindakan kelas yang menggunakan dua siklus. Tiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah keterampilan mengapresiasi puisi kelas VII. Adapun sumber data diperoleh dari siswa kelas VII C SMP Negeri 3 Batang dengan jumlah 40 siswa, terdiri atas 18 laki-laki dan 22 perempuan. Variabel yang diungkap dalam penelitian ini adalah keterampilan mengapresiasi puisi dan pendekatan sosiopragmatik dengan model pembelajaran Stratta. Pengambilan data dilakukan dengan tes dan nontes. Teknik analisis data yang digunakan secara kuntitatif untuk data tes dan secara kualitatif untuk data nontes. Alat pengambilan data berupa pedoman observasi, pedoman catatan harian guru, pedoman catatan harian siswa, pedoman wawancara, dan pedoman dokumentasi foto.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan mengapresiasi puisi melalui pendekatan sosiopragmatik dengan penerapan model pembelajaran Stratta. Berdasarkan hasil tes, nilai rata-rata siswa pada siklus I sebesar 69,38 dan termasuk dalam kategori cukup. Pada siklus II nilai rata-rata siswa mencapai 78,48 dan termasuk dalam kategori baik. Jadi, terjadi peningkatan nilai rata-rata siswa sebesar 9,10 atau sebesar 13,12% dari siklus I ke siklus II. Selain itu, berdasarkan hasil nontes menunjukkan adanya perubahan perilaku siswa ke arah positif. Siswa menjadi lebih bersemangat, lebih aktif, dan senang dalam pembelajaran mengapresiasi puisi.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penulis menyarankan guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya dapat menerapkan pendekatan sosiopragmatik dan model pembelajaran Stratta sebagai salah satu alternatif pendekatan dan model dalam pembelajaran apresiasi puisi khususnya. Selain itu, para peneliti yang menekuni bidang sastra hendaknya dapat melakukan penelitian-penelitian yang lebih lanjut dengan menggunakan pendekatan dan model pembelajaran yang berbeda sehingga didapatkan berbagai variasi pendekatan dan model yang tepat dan sesuai dalam pembelajaran
Peningkatan Keterampilan Mengapresiasi Puisi melalui Pendekatan Sosiopragmatik dengan Penerapan Model Pembelajaran Stratta Siswa Kelas VII C SMP Negeri 3 Batang
Haswiyanti, Fenty. 2010. Peningkatan Keterampilan Mengapresiasi Puisi melalui Pendekatan Sosiopragmatik dengan Penerapan Model Pembelajaran Stratta Siswa Kelas VII C SMP Negeri 3 Batang. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Prof. Dr. Agus Nuryatin, M. Hum., Pembimbing II: Drs. Mukh. Doyin, M. Si.
Kata kunci: keterampilan apresiasi puisi, pendekatan sosiopragmatik dengan penerapan model pembelajaran Startta.
Pembelajaran sastra di sekolah pada dasarnya bertujuan untuk memupuk kepekaan perasaan dan penalaran siswa terhadap sebuah karya sastra. Oleh karena itu, pembelajaran sastra sebaiknya tidak hanya ditekankan pada peningkatan pemahaman siswa terhadap teori-teori semata tetapi yang lebih penting adalah kemampuan siswa dalam memahami karya sastra itu. Akan lebih baik lagi jika siswa ditekankan agar mampu mengambil manfaat untuk perkembangan kepribadiannya, menerapkan nilai-nilai positif yang ada di dalam karya sastra ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tujuan pembelajaran sastra untuk membentuk peserta didik yang menggemari karya sastra akan tercapai. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri 3 Batang, pembelajaran sastra yang dilakukan masih konvensional dan belum menuju kepada arah menjadikan siswa memahami secara emosional, imajinatif, dan estetis suatu karya sastra terutama dalam mengapresiasi puisi. Pada dasarnya pembelajaran sastra hanya diorientasikan untuk mengejar target nilai semata tanpa mempedulikan manfaat yang diperoleh siswa setelah mempelajari sastra dalam bentuk puisi. Hal ini disebabkan guru lebih mementingkan prestasi siswa dalam pencapaian nilai mengingat kedudukan SMP Negeri 3 Batang yang merupakan satu-satunya sekolah di Kabupaten Batang yang telah memperoleh predikat sebagai sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional). Untuk mengatasi kendala dalam pembelajaran mengapresiasi puisi tersebut, peneliti memberikan solusi dengan menggunakan pendekatan sosiopragmatik dengan penerapan model pembelajaran Stratta.
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah seberapa besar peningkatan keterampilan siswa kelas VII C SMP Negeri 3 Batang dalam mengapresiasi puisi setelah diberi pembelajaran dengan pendekatan sosiopragmatik melalui penerapan model pembelajaran Stratta? dan bagaimana perubahan perilaku siswa setelah pendekatan sosiopragmatik melalui penerapan model pembelajaran Stratta ini digunakan dalam pembelajaran mengapresiasi puisi? Adapun tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsi peningkatan keterampilan siswa kelas VII C SMP Negeri 3 Batang dalam mengapresiasi puisi setelah diberi pembelajaran dengan pendekatan sosiopragmatik melalui penerapan model pembelajaran Stratta; (2) mendeskripsi perubahan perilaku siswa kelas VII C SMP Negeri 3 Batang dalam mengapresiasi puisi setelah diberi pembelajaran
dengan pendekatan sosiopragmatik melalui penerapan model pembelajaran Stratta.
Penelitian yang dilaksanakan merupakan penelitian tindakan kelas yang menggunakan dua siklus. Tiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah keterampilan mengapresiasi puisi kelas VII. Adapun sumber data diperoleh dari siswa kelas VII C SMP Negeri 3 Batang dengan jumlah 40 siswa, terdiri atas 18 laki-laki dan 22 perempuan. Variabel yang diungkap dalam penelitian ini adalah keterampilan mengapresiasi puisi dan pendekatan sosiopragmatik dengan model pembelajaran Stratta. Pengambilan data dilakukan dengan tes dan nontes. Teknik analisis data yang digunakan secara kuntitatif untuk data tes dan secara kualitatif untuk data nontes. Alat pengambilan data berupa pedoman observasi, pedoman catatan harian guru, pedoman catatan harian siswa, pedoman wawancara, dan pedoman dokumentasi foto.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan mengapresiasi puisi melalui pendekatan sosiopragmatik dengan penerapan model pembelajaran Stratta. Berdasarkan hasil tes, nilai rata-rata siswa pada siklus I sebesar 69,38 dan termasuk dalam kategori cukup. Pada siklus II nilai rata-rata siswa mencapai 78,48 dan termasuk dalam kategori baik. Jadi, terjadi peningkatan nilai rata-rata siswa sebesar 9,10 atau sebesar 13,12% dari siklus I ke siklus II. Selain itu, berdasarkan hasil nontes menunjukkan adanya perubahan perilaku siswa ke arah positif. Siswa menjadi lebih bersemangat, lebih aktif, dan senang dalam pembelajaran mengapresiasi puisi.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penulis menyarankan guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya dapat menerapkan pendekatan sosiopragmatik dan model pembelajaran Stratta sebagai salah satu alternatif pendekatan dan model dalam pembelajaran apresiasi puisi khususnya. Selain itu, para peneliti yang menekuni bidang sastra hendaknya dapat melakukan penelitian-penelitian yang lebih lanjut dengan menggunakan pendekatan dan model pembelajaran yang berbeda sehingga didapatkan berbagai variasi pendekatan dan model yang tepat dan sesuai dalam pembelajaran
Drug-induced erythropoiesis and outcome: should we give up the haemoglobin target approach and return to the ratio between erythropoiesis-stimulating agents and haemoglobin?
N
Could radial instead of femoral access for coronary angiography change renal outcome? Nephrologists call for help
N
Gadolinium-enhanced magnetic resonance imaging, renal failure and nephrogenic systemic fibrosis/nephrogenic fibrosing dermopathy.
Abstract: First described in 2000, nephrogenic systemic fibrosis (NSF)/nephrogenic fibrosing dermopathy (NFD) is a recently defined and sometimes fatal condition that, so far, has occurred only in people with some degree of renal failure, either during the conservative phase of chronic renal disease, the dialysis phase, or the kidney transplantation phase.
The association between NSF/NFD and gadolinium-based magnetic resonance (MR) examination is so strong that public health agencies have sent out warnings concerning the use of gadolinium-enhanced MR in patients with renal failure. The prolonged residence of some gadolinium-chelates in the uremic milieu may allow free toxic gadolinium released from its chelate to extravasate into the extravascular space where it may accelerate fibrillogenesis.
The medical community must be apprised of the concern surrounding the use of gadolinium contrast agent in patients with even moderate renal failure, considering that the number of at risk persons is 20 times greater than that of patients needing dialysis/
transplantation, remember that the risk is particularly high in patients with liver transplantation in the presence of functional renal impairment, and not to forget that MR examination remains one of the three pillars of molecular medicin
- …
