10 research outputs found

    VAKSIN MALARIA: STRATEGI BARU DALAM PENGENDALIAN DAN ELIMINASI

    No full text
    Vaksin Malaria: Strategi Baru dalam Pengendalian dan Eliminasi Pendahuluan: Malaria masih menjadi salah satu penyakit infeksi paling serius di dunia, dengan estimasi 263 juta kasus dan 597.000 kematian pada tahun 2022, terutama menyerang anak-anak di bawah lima tahun di Afrika sub-Sahara. Di Indonesia, penularan malaria tetap terjadi di beberapa daerah endemis meskipun berbagai program pengendalian telah dilakukan. Intervensi konvensional seperti kelambu berinsektisida, penyemprotan residu dalam ruangan, kemoprofilaksis, serta terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT) terbukti efektif, namun efektivitasnya terancam oleh munculnya resistensi obat dan insektisida. Metode: Tulisan ini merupakan tinjauan literatur (2018–2023) mengenai perkembangan vaksin malaria dan Seasonal Malaria Chemoprevention (SMC) sebagai strategi pencegahan komplementer. Data diperoleh dari laporan WHO, hasil uji klinis fase 3, serta artikel peer-reviewed yang terindeks PubMed, Scopus, dan Web of Science. Hasil: Vaksin RTS,S/AS01 (Mosquirix®) dan R21/Matrix-M menunjukkan imunogenisitas tinggi dan efikasi moderat terhadap Plasmodium falciparum. RTS,S/AS01 memiliki efikasi sekitar 39–51% terhadap malaria klinis pada anak-anak, sementara R21/Matrix-M mencapai hingga 75% pada daerah dengan transmisi musiman. Namun, efektivitas vaksin menurun seiring waktu sehingga diperlukan dosis penguat. Seasonal Malaria Chemoprevention (SMC) dengan kombinasi sulfadoksin–pirimetamin dan amodiaquine terbukti menurunkan lebih dari 75% kasus malaria klinis pada anak di bawah 5 tahun di daerah dengan transmisi tinggi. Kombinasi vaksin (RTS,S/AS01 + SMC) memberikan perlindungan tambahan, mencegah hingga 72% kasus malaria dibandingkan intervensi tunggal. Kesimpulan: Vaksin malaria saat ini memberikan perlindungan yang lebih bermakna bila dikombinasikan dengan SMC di daerah dengan transmisi musiman yang intens. Meskipun masih terdapat tantangan, termasuk penurunan efikasi dan keterbatasan cakupan, integrasi strategi vaksin dengan kemoprevensi menawarkan peluang besar untuk mempercepat pengendalian dan eliminasi malaria. Penelitian selanjutnya perlu difokuskan pada optimasi rejimen dosis, perluasan akses vaksin di wilayah endemis, serta pemantauan keamanan dan efektivitas jangka panjang

    VAKSIN MALARIA: STRATEGI BARU DALAM PENGENDALIAN DAN ELIMINASI

    No full text
    Vaksin Malaria: Strategi Baru dalam Pengendalian dan Eliminasi Pendahuluan: Malaria masih menjadi salah satu penyakit infeksi paling serius di dunia, dengan estimasi 263 juta kasus dan 597.000 kematian pada tahun 2022, terutama menyerang anak-anak di bawah lima tahun di Afrika sub-Sahara. Di Indonesia, penularan malaria tetap terjadi di beberapa daerah endemis meskipun berbagai program pengendalian telah dilakukan. Intervensi konvensional seperti kelambu berinsektisida, penyemprotan residu dalam ruangan, kemoprofilaksis, serta terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT) terbukti efektif, namun efektivitasnya terancam oleh munculnya resistensi obat dan insektisida. Metode: Tulisan ini merupakan tinjauan literatur (2018–2023) mengenai perkembangan vaksin malaria dan Seasonal Malaria Chemoprevention (SMC) sebagai strategi pencegahan komplementer. Data diperoleh dari laporan WHO, hasil uji klinis fase 3, serta artikel peer-reviewed yang terindeks PubMed, Scopus, dan Web of Science. Hasil: Vaksin RTS,S/AS01 (Mosquirix®) dan R21/Matrix-M menunjukkan imunogenisitas tinggi dan efikasi moderat terhadap Plasmodium falciparum. RTS,S/AS01 memiliki efikasi sekitar 39–51% terhadap malaria klinis pada anak-anak, sementara R21/Matrix-M mencapai hingga 75% pada daerah dengan transmisi musiman. Namun, efektivitas vaksin menurun seiring waktu sehingga diperlukan dosis penguat. Seasonal Malaria Chemoprevention (SMC) dengan kombinasi sulfadoksin–pirimetamin dan amodiaquine terbukti menurunkan lebih dari 75% kasus malaria klinis pada anak di bawah 5 tahun di daerah dengan transmisi tinggi. Kombinasi vaksin (RTS,S/AS01 + SMC) memberikan perlindungan tambahan, mencegah hingga 72% kasus malaria dibandingkan intervensi tunggal. Kesimpulan: Vaksin malaria saat ini memberikan perlindungan yang lebih bermakna bila dikombinasikan dengan SMC di daerah dengan transmisi musiman yang intens. Meskipun masih terdapat tantangan, termasuk penurunan efikasi dan keterbatasan cakupan, integrasi strategi vaksin dengan kemoprevensi menawarkan peluang besar untuk mempercepat pengendalian dan eliminasi malaria. Penelitian selanjutnya perlu difokuskan pada optimasi rejimen dosis, perluasan akses vaksin di wilayah endemis, serta pemantauan keamanan dan efektivitas jangka panjang

    Prevalensi dan distribusi faktor-faktor risiko geohelminthiasis pada anak usia 5-14 tahun di rw 10 kelurahan grogol jakarta barat

    No full text
    Pendahuluan: Geohelminthiasis atau infeksi akibat Soil Transmitted Helminth dapat menyerang semua usia, terutama anak-anak, dan menyebabkan obstruksi usus, prolaps rektum, anemia, malnutrisi, gangguan pertumbuhan fisik dan kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi geohelminthiasis dan faktor-faktor risikonya pada anak umur 5-14 tahun di RW 10 Kelurahan Grogol Jakarta Barat. Metode: Penelitian potong lintang ini menggunakan teknik consecutive non-random sampling untuk pemilihan sampel. Data primer didapatkan melalui wawancara sesuai kuesioner dan pengumpulan tinja dari 83 responden. Tinja diperiksa di laboratorium FK Universitas Tarumanagara dengan metode Kato-katz. Hasil: Prevalensi geohelminthiasis didapatkan sebesar 9,6% (8/83), dimana 62,5% (5/8) responden geohelminthiasis memiliki kebersihan kuku yang tidak baik, dan 75% (6/8) responden positif tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang tidak memadai. Kesimpulan: Prevalensi geohelminthiasis sebesar 9,6% dengan faktor risiko kebiasaan kontak dengan tanah, kurangnya penggunaan alas kaki, kebiasaan mencuci tangan sebelum makan, setelah kontak dengan tanah, maupun setelah BAB, juga kurangnya kebersihan kuku

    Gambaran Perilaku Cara Menjaga Kesehatan dan Kebersihan Kulit, Rambut, Kuku di Komunitas Sahabat Anak Grogol, Jakarta Barat periode Februari 2020

    No full text
    Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sangat diperlukan dalam meningkatkan kualitas kesehatan seseorang. Salah satu tindakan PHBS adalah menjaga kebersihan dan kesehatan kulit, rambut, dan kuku. Beberapa penyakit yang dapat terjadi akibat kurangnya kebersihan kulit, kuku, dan rambut seperti infeksi bakteri, parasit, virus, maupun jamur, dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya. Masih banyak anak jalanan dan kaum marjinal binaan Sahabat Anak yang menderita penyakit kulit, rambut berkutu, dan diare hilang timbul, sampai memerlukan perawatan di RS. Diduga kondisi tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan mengenai cara pencegahan maupun penularan penyakit tersebut. Solusi yang tepat adalah memberikan edukasi lewat penyuluhan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan kulit, rambut, dan kuku, serta cara melakukan tindakan tersebut, sehingga dapat terbentuk perilaku hidup sehat dan bersih. Responden penelitian sebanyak 47 orang, dengan rentang usia 10 – 19 tahun, didominasi perempuan. Sebanyak 11 (23,40%) orang bekerja > 8 jam sehari di jalan, 33 (70,21%) orang berpengetahuan baik, 44 (93,61%) orang memiliki sikap yang baik, namun hanya 10 (21,28%) orang yang memiliki tindakan yang baik dalam menjaga kesehatan dan kebersihan rambut, kulit, dan kuku. Pengetahuan dan sikap yang baik namun tidak diikuti tindakan yang baik dalam melakukan PHBS tetap akan meningkatkan risiko terkena berbagai penyakit. Dibutuhkan perubahan perilaku sehingga diharapkan dapat mengurangi risiko penyakit pada anak binaan komunitas Sahabat Anak Grogol

    KONTAMINASI GEOHELMINTIASIS PADA LALAPAN KUBIS WARUNG MAKAN DI SEKITAR GRAND INDONESIA

    No full text
    Geohelmintiasis atau infeksi oleh soil-transmitted helminths (STH) merupakan salah satu infeksi yang cukup sering terjadi di dunia. Berdasarkan data penyebaran yang ada dalam PERMENKES RI, di Indonesia terdapat 2,5-62% kasus infeksi kecacingan dengan prevalensi yang berbeda-beda pada setiap daerah.  Penularan dari infeksi ini terjadi melalui tanah yang terkontaminasi. Dampak yang dapat muncul dari infeksi ini seperti anemia, gangguan kognitif, hingga gangguan tumbuh kembang secara khusus pada anak-anak. Beberapa faktor risiko yang berperan yaitu higiene, sanitasi lingkungan, dan perilaku mencuci sayur lalapan seperti kubis. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kontaminasi STH pada lalapan kubis di warung makan sekitar Grand Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif cross-sectional, dengan teknik pengambilan sampel secara consecutive non-random sampling. Sampel penelitian berupa lalapan kubis yang akan diperiksa di bawah mikroskop dengan teknik flotasi, pengisian kuesioner oleh penjual, dan observasi langsung pada 80 warung makan. Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan kontaminasi STH pada lalapan kubis, sebanyak 35% (28/80) penjual memiliki perilaku mencuci sayuran yang baik, 85% (68/80) penjual memiliki higiene baik, dan 88,75% (71/80) warung dengan sanitasi baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ditemukan kontaminasi STH pada lalapan kubis pada warung makan di area sekitar Grand Indonesia, namun masih ada faktor risiko dalam terjadinya transmisi penyakit oleh STH

    Gambaran kepadatan tungau debu pada ruangan-ruangan Sekolah X Jakarta periode April - Juni 2018

    No full text
    Tungau debu merupakan salah satu aero allergen yang dapat menyebabkan alergi pada manusia, baik pada dewasa maupun anak-anak. Tungau ini dapat ditemukan di berbagai tempat, baik di dalam maupun di luar ruangan. Studi deskriptif ini dilakukan untuk mengetahui kepadatan tungau debu yang ada pada seluruh ruangan sekolah X di Jakarta. Metode studi adalah cross-sectional, sampel diambil secara non-random sampling (accidental sampling). Besar sampel minimal adalah 138 sampel, dengan menggunakan rumus satu sampel tunggal untuk estimasi proporsi suatu populasi, namun total sampel yang diperoleh hanya 90 yang terdiri dari 25 ruangan SD, 25 Ruangan SMP, dan 40 Ruangan SMA. Sampel debu tiap ruangan diambil dengan menggunakan kuas lalu tungau diisolasi menggunakan corong berlese, selanjutnya diperiksa di bawah mikroskop cahaya. Berat total debu dari ruangan-ruangan di SD adalah 63.1 gram (rata-rata 2.49 gram) terbanyak di ruang kelas 23; di ruangan SMP adalah 104.81 gram (rata-rata 4.19 gram) terbanyak di ruang musik; dan di ruangan SMA adalah 160.1 gram (rata-rata 4.00 gram) terbanyak di perpustakaan. Tungau debu ditemukan pada 44 ruangan yang terdiri dari 6 ruangan di SD dengan total 10 tungau debu; 14 ruangan di SMP dengan total 98 tungau debu; 24 ruangan di SMA dengan total 182 tungau debu. Tungau debu terbanyak ditemukan di perpustakaan SMA (25 tungau). Rata-rata tungau debu per ruangan adalah 3.21 tungau

    ANGKA KEJADIAN PEDICULOSIS CAPITIS PADA ANAK-ANAK DI BANJAR BUAJI ANYAR, BALI

    No full text
    Pediculus humanus capitis adalah ektoparasit obligat yang menyerang rambut dan kulit kepala manusia dan dapat menyebabkan pediculosis capitis. Penyakit ini dapat menyerang semua usia maupun jenis kelamin, namun lebih sering didapatkan pada anak-anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jumlah anak-anak yang terkena pediculosis capitis, serta faktor risiko yang memengaruhi terjadinya pediculosis capitis di Banjar Buaji Anyar, Denpasar Timur. Penelitian deskriptif cross-sectional dilakukan terhadap 94 responden dengan metode pengambilan sampel adalah consecutive non-random sampling. Data primer diperoleh melalui kuesioner dan pemeriksaan rambut-kulit kepala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian pediculosis capitis sebesar 34,04% (32/94). Responden dengan frekuensi keramas yang lebih dari sekali dalam seminggu didapatkan 97,87% (92/94), dengan panjang rambut melebihi bahu didapatkan 36,36 % (20/55). Dalam halam penggunaan barang-barang kepala bersamaan, yaitu sebanyak 52,63% (10/19) responden menggunakan aksesoris rambut bersamaan, sebanyak 42,85% (6/14), menggunakan topi bersamaan, sebanyak 42,10% (32/76) menggunakan sisir bersamaan, dan sebanyak 62,50% (5/8) menggunakan helm bersamaan. Sebanyak 59,09% (13/22) responden menggunakan handuk bersamaan, sebanyak 39,34% (28/72) memiliki kebiasaan tidur bersama, serta sebanyak 49,01% (25/51) responden dengan pendapatan orang tua per bulan kurang dari UMR. Kesimpulan dari penelitian ini adalah jumlah penderita pediculosis capitis masih cukup tinggi dengan faktor risiko yang didapat adalah panjang rambut lebih dari bahu, penggunaan aksesoris bersamaan, kebiasaan tidur bersama, pendapatan per bulan kurang dari UMR
    corecore