1,721,590 research outputs found

    ANALISIS GREEN MANUFACTURING PADA PT. SOEGIARTO GEMILANG TANGGUH TEGAL

    Full text link
    Perusahaan yang baik merupakan perusahaan yang memerhatikan lingkungan sekitar. Dengan menerapkan Green Manufacturing dapat menangani masalah pencemaran lingkungan pada industri, juga dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pada perusahaan. Pengertian green manufacturing adalah proses perindustrian yang memiliki dampak lingkungan relatif rendah. Rumusan masalah penelitian ini yaitu, bagaimana tingkat Green Manufacturing pada PT. Soegiarto Gemilang Tangguh Tegal berdasarkan teori OECD ? dan bagaimana perancangan Green Manufacturing pada PT. Soegiarto Gemilang Tangguh Tegal? Sehingga mempunyai dua tujuan, yaitu untuk mengetahui tingkat green dan membuat perancangan penerapan Green Manufacturing pada PT. Soegiarto Gemilang Tangguh Tegal. Untuk mengetahui tingkatan green berpedoman pada teori yang dikemukakan oleh OECD (2011), dimana terdapat 3 kategori tingkatan yaitu beginner, intermediate, dan advanced. Penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sekunder. Alat analisis yang digunakan yaitu OECD (2011), dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. Soegiarto Gemilang Tangguh Tegal berada dalam tingkatan Green Manufacturing kategori intermediate, karena mempunyai 11 indikator yang dinilai green dan 7 indikator tidak green dari 18 indikator Green manufacturing OECD (2011). Proses yang paling terlihat yang belum green adalah penggunaan air pada proses produkti PT. Soegiarto Gemilang Tangguh. Beberapa kekurangan yang ditemukan pada PT. Soegiarto Gemilang Tangguh dapat disempurnakan melalui perancangan Green Manufacturing. Berdasarkan hasil penelitian saran yang dapat diberikan yaitu sebaiknya PT. Soegiarto Gemilang Tangguh Tegal dapat melakukan perencanaan Green manufacturing. Meskipun perusahaan harus menyediakan dana, namun manfaat yang didapatkan tentu saja meningkatkan level green perusahaan,Sebaiknya perusahaan mengganti plastik kemasan menjadi plastik yang ramah lingkungan seperti plastik ecovalue. Plastik ecovalue yaitu plastik ramah lingkungan yang terbuat dari bahan polietilena (PE). Dan sebaiknya PT. Soegiarto Gemilang Tangguh Tegal melakukan pengawasan kepada karyawan yang ketat, agar dapat mendukung pelaksanaan Green manufacturing pada perusahaa

    Praktek peninjauan kembali (studi kasus Joko Soegiarto Tjandra)

    No full text
    (A) Nama : Daniyanti ( NIM : 205060144 ) (B) Judul : Praktek Peninjauan Kembali ( Studi Kasus Joko Soegiarto Tjandra ) (C) Halaman : viii + 130+164+2010 (D) Kata Kunci : Peninjauan Kembali, Hukum Acara Pidana (E) Isi : Peninjauan Kembali merupakan upaya hukum luar biasa. Pasal 263 ayat (1) K.U.H.A.P. mengatur bahwa terpidana atau ahli warisnya memiliki hak mengajukan peninjauan kembali. Pada kasus Joko Soegiarto Tjandra, peninjauan kembali diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum dan Mahkamah Agung mengabulkan permohonan tersebut dengan Putusan Nomor 12 PK/Pid.Sus/2009. Joko Soegiarto Tjandra lalu mengajukan peninjauan kembali terhadap putusan tersebut. Padahal di dalam peraturan perundang-undangan ( Pasal 23 ayat (2) Undang-undang tentang Kekuasaan Kehakiman, Pasal 66 ayat (1) Undang-undang tentang Mahkamah Agung, dan Pasal 268 ayat (3) K.U.H.A.P.) dan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 10 Tahun 2009 telah mengatur tidak boleh dilakukannya peninjauan kembali lebih dari satu kali dalam perkara yang sama. Penulis mengangkat permasalahan berupa: bagaimanakah kompetensi Jaksa dalam hal pengajuan peninjauan kembali di dalam perkara pidana dan bagaimanakah konsekuensi hukum dari adanya upaya peninjauan kembali yang diajukan oleh Joko Soegiarto Tjandra terhadap putusan peninjauan kembali dengan nomor putusan 12 PK/Pid.Sus/2009. Metode penelitian yang dipergunakan oleh penulis adalah metode penelitian normatif. Data penelitian yang diperoleh Penulis menunjukkan bahwa secara teoretis Jaksa tidak memiliki kompetensi untuk mengajukan peninjauan kembali karena hak tersebut merupakan hak terpidana atau ahli warisnya. Selain itu juga, peninjauan kembali secara prinsipnya hanya boleh dilakukan sekali saja untuk perkara yang sama. (F) Acuan : 36 (1986-2009) (G) Pembimbing : Bapak Soetan Budi SS, S.H., M.H. (H) Penulis : Daniyant

    Utilization and farming of seaweeds in Indonesia

    Full text link
    A great variety of seaweeds grow abundantly along the 81,000-km coastline of the 13,000 islands comprising the Indonesian archipelago. However, it is only recently that the economic importance of seaweeds has really been appreciated. At present, seaweeds collected in Indonesia are mainly used for food supplement, domestic agar manufacture, and for export. Because of the increasing demands for the carrageenan-containing seaweed, mass cultures have been undertaken in both experimental and production sites established in many parts of the country. These efforts are expected to increase the annual volume of exports from 2000 to 6000 mt. The paper reviews the state and problems of seaweed utilization, development, and farming efforts in Indonesia

    Perancangan Green Manufacturing pada Konveksi Arita Industry Semarang, Oox Guitarmaker Ambarawa, Idea Mebel Semarang, PT. Soegiarto Gemilang Tangguh Tegal.

    No full text
    Penelitian mengenai green manufacturing dilakukan berawal dengan maraknya pertumbuhan industri, yang berdampak pada pencemaran lingkungan. Industri yang baik adalah industri yang mampu mengurangi polusi, mampu mengatasi permasalahan limbah, dan memperhatikan kelestarian lingkungan yang sering disebut dengan istilah green manufacturing.Green manufacturing adalah pembaharuan proses dan kebijakan produksi yang mengutamakan operasi manufaktur ramah lingkungan. Pada dasarnya, green manufacturing menggunakan lebih sedikit sumberdaya alam, mengurangi polusi dan limbah, mendaur ulang dan menggunakan bahan emisi dalam proses manufaktur. Penelitian mengenai perancangan green manufacturing pada Konveksi Arita Industry Semarang, Oox Guitarmaker Ambarawa, Idea Mebel Semarang, PT. Soegiarto Gemilang Tangguh Tegal, bertujuan untuk untuk mengetahui perancangan green manufacturing pada Konveksi Arita Industry Semarang, Oox Guitarmaker Ambarawa, Idea Mebel Semarang, PT. Soegiarto Gemilang Tangguh Tegal. Harapan yang bisa diperoleh dari hasil penelitian ini agar dapat membantu memberikan solusi kepada pengelola perusahaan, khususnya mengenai Green manufacturing pada perusahaan yang mereka kelola. Jenis data dalam penelitian ini menggunakan data primer dengan metode pengumpulan data wawancara dan observasi. Metode analisis menggunakan metode OECD mengenai green manufacturing yang digunakan untuk mengukur tingkat green manufacturing pada Konveksi Arita Industry Semarang, Oox Guitarmaker Ambarawa, Idea Mebel Semarang, PT. Soegiarto Gemilang Tangguh Tegal. Hasil penelitian didapatkan pada Konveksi Arita Industry Semarang, Oox Guitarmaker Ambarawa, Idea Mebel Semarang, PT. Soegiarto Gemilang Tangguh Tegal, semua masuk dalam tingkatan green manufacturing intermediate. Untuk mencapai tingkatan green manufacturing yang lebih tinggi advanced, tentunya masing-masing perusahaan perlu membuat perancangan green manufacturing dengan tepat. Perancangan green manufacturing pada tiap perusahaan dilakukan secara berbeda-beda sesuai dengan kondisi perusahaan masing-masing Hal ini dikarenakan masing-masing perusahaan yang menjadi obyek dalam penelitian ini mempunyai karakteristik yang berbeda-beda sehingga tidak bisa digeneralisir. Rekomendasi yang bisa disampaikan bahwa : perusahaan perlu mengefisiensikan proses produksi agar dapat meminimalisir limbah yang dihasilkan, mulai melakukan 3R (reuse, reduce, recycle) dalam kegiatan produksi, menggunakan energi alami dan ramah lingkungan, seperti energi sinar matahari, penggunaan lampu LED, perusahaan perlu menggunakan kemasan yang ramah lingkungan, dengan penggunaan plastik yang ecovalue, dalam upaya mendukung pelaksanaan green manufacturing, maka perusahaan perlu melakukan sosialisasi dan pengawasan kepada karyawan

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado
    corecore