1,720,997 research outputs found
Lintasan karier Prof. Soedarso SP, MA. Pidato pelepasan purna tugas
Dilahirkan di sebuah desa di pantai Selatan Trenggalek, Kecamatan Panggul, pada tanggal 19 Pebruari 1936, 70 tahun lalu. Ayahandanya adalah seorang guru yang penuh dedikasi dan mencita-citakan ia dapat menjadi dokter. Profesi dokter dianggap mempunyai kemungkinan manfaat yang besar bagi masyarakat. Akan tetapi peruntungan membawanya ke ASRI Yogyakarta (Iulus Bagian Pendidikan Guru Seni rupa tahun 1960) dan tahun 1964 menyelesaikan masternya di Northern Illinois University, Amerika Serikat. Walaupun keluarganya yang Iain mengharapkan menjadi tekenaar, karena melihat gambarnya lumayan baik, demikian juga ketika belajar di N.I.U. iapun memperdalam seni lukis, namun darah guru bapaknya yang tidak ingin diwariskan ternyata lebih kuat mengalir pada dirinya. Sejak tahun 1960 mengajar Sejarah dan Tinjauan Seni baik di ASRI Yogyakarta, IKIP Yogyakarta (sekarang UNY), Jurusan Arsitektur UGM, maupun kemudian di Institut Kesenian Jakarta, ketika ia diperbantukan di Taman Mini Indonesia Indah sebagai Manager Seni Budaya (1976-1980). Setelah selesai tugasnya di Taman Mini, tahun 1980-1984 ditunjuk menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Den Haag yang memberinya banyak kesempatan untuk menyelami seni budaya Belanda dan Eropa pada umumnya. Sepulang dari Negeri Belanda tahun 1984, sampai sekarang kembali ke dunia pendidikan, selanjutnya menjabat sebagai Pembantu Rektor II ISI Yogyakarta (1984-1993) kemudian Ketua Lembaga Penelitian (1994-1996). Ia selanjutnya tetap meneruskan profesi pokoknya sebagai pengajar sejarah dan teori seni, sehingga akhirnya pada tahun 1997 dikukuhkannya sebagai Guru Besar Tetap di ISI Yogyakarta dalam bidang tersebut. Tahun 2000-2003 ditunjuk sebagai direktur pertama Program Pascasarjana ISI Yogyakarta. Banyak menulis dan berceramah di dalam maupun di luar negeri. Pada tahun 1995 bicara tentang "Traditional Woodwork of Indonesia" di Nagoya, Jepang dan akhir tahun 1998 berceramah tentang seni topeng Indonesia di New Delhi, India. Tahun 1987 terbit bukunya "Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar untuk Apresiasi Seni", dan tahun 1990 menyusul "Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern" yang edisi ketiganya (2000) diterbitkan oleh Studio Delapanpuluh bekerjasama dengan Badan Penerbit ISI Yogyakarta. la juga menerjemahkan buku dan mengeditori beberapa penerbitan, antara lain "Perkembangan Kesenian Kita" (1991) dan "Seni Lukis Batik Indonesia" (1998). Setelah sekian lama mencurahkan perha-tiannya di bidang sejarah seni, khususnya seni rupa Indonesia purba, akhir-akhir ini ia asyik menekuni penelitian tentang wayang kulit, sejarahnya, bentuk dan wandanya, dan terakhir mengenai wayang kulit Bali. Tahun 1990-1992 ditunjuk menjadi kurator pameran seni rupa modern Indonesia di Amerika Serikat (dalam rangka KIAS) bersama Joseph Fischer dan Astri Wright, tahun 1993 di Belanda (PAKIB), dan tahun 1995 pameran internasional seni rupa GNB (Gerakan Non-Blok) di Jakarta. Sejak tahun 1991 menjadi pemimpin redaksi Jurnal SENI, dan dalam hal kekuratoran, dari tahun 1995 sampai 1999 ditunjuk sebagai pemimpin kurator Galeri Depdikbud di Jakarta yang sejak tahun 1998 menjelma menjadi Galeri Nasional
Morfologi wayang kulit : Wyang kulit dipandang dari jurusan bentuk Pidato ilmiah pada dies natalis ISI Yogyakarta ke III
Dapatkah bentuk wayang kulit yang ada sekarang ini dikembangkan atau disempurnakan lagi? Untuk menjawab pertanyaan itu saya ingin kembali kepada pernyataan saya yang terdahulu, yaitu bahwa perkembangan bentuk wayang kulit itu tampaknya kini sudah mencapai titik puncaknya. Dengan kata lain, pertanyaan tadi harus dijawab bahwa kiranya sudah tidak mungkin lagi bentuk wayang kulit itu dikembangkan atau disempurnakan lebih lanjut. dan itu bukannya tidak ada sebabnya. Tadi sudah diuraikan bahwa dalam ujudnya yang sekarang ini bentuk wayang kulit beserta segenap bagian-bagiannya itu sudah dipenuhi oleh simbul-simbul mau pun aturan-aturan tertentu sehingga sudah tidak tersisa lagi ruangan bagi imajinasisi pembuat untuk bergerak. Semuanya sudah diatur dan semuanya sudah ditentukan. Sudah tidak dapat lagi kita menambahkan apa-apa disana. Yang masih dimungkinkan adalah mengubah atau menggantinya, dan itu pulalah yang dilakukan oleh Sdr. Sukasman. la berusaha untuk mengganti simbul-simbul yang sudah ada itu dengan simbul-simbul baru yang lebih sesuai dengan kebutuhannya sebagai manusia modern, yang lebih sesuai dengan interpretasinya atas tokoh-tokoh dalam pewayangan itu, dan barangkali juga yang lebih sesuai dengan pikiran realistiknya. Digantinya, misalnya, sembulian dengan draperi atau lipatan-lipatan kain yang realistik, seritan rambut dengan gambaran rambut ikal yang bagaikan mayang mengurai, dan digantinya tangan dan kaki Gareng dengan bentuk-bentuk yang lebih dramatik. Maka yang terjadi adalah penggantian simbul-simbul dengan seperangkat simbul baru yang setidak-tidaknya lebih sesuai dengan alam pikiran masa kini. Penggantian ini bisa berarti suatu perbaikan bagi pikiran realistik, tetapi mungkin pula dianggap se bagai penurunan atau penyimpangan oleh mereka yang masih berbicara dengan bahasa tempo dulu. Telah banyak pula dicoba untuk mengadakan perkeliran gaya baru, baik de ngan dua dalang dan dua lampu di sebelah- menyebelah layar, dengan wayang kulit yang transparan, maupun dengan layar lebar. Semuanya cukup bagus dan menarik, namun dengan itu kita kehilangan suasana di belakang layar yang mistis seperti yang telah saya sebutkan tadi. Ya, tetapi bisa juga orang bersahut, "Who cares?"Ya, who cares? Bukankah orang-orang modern ini memang berlainan dengan nenek moyang nya yang memuja arwah melalui wayang kulit? Bukankah fungsi wayang kulit memang sudah bergeser dan kini anak-anak tidak lagi mencari Kresna tetapi mendambakan Gareng atau Bagong? Nah, sampailah kita pada suatu persoalan yang sudah berada di luar bingkai pembicaraan ini. Kembali ke masalah pengembangan bentuk, dengan segenap ketelitian barangkali kita masih bisa menemukan lubang-lubang jarum ke mana kita masih dapat menyusupkan penyempurnaan-penyempurnaan . Tetapi mungkin juga akan terdengar bisikan, kenapa tidak kita biarkan saja seni adi-luhung yang sudah mapan itu, dan kenapa tidak kita buat saja seni baru dengan bentuk dan bahasa baru yang jelas akan lebih sesuai dengan aspirasi masyarakat modern ini. Ya, kenapa tidak
Wanda Suatu Studi Tentang Resep Pembuatan Wanda-Wanda Wayang Kulit Purwa dan Hubungannya dengan Presentasi Realistik
Pada dasrnya pengertian "wanda" yag berlaku pada wayang kulit adalah gambaran air muka ayau "pasemon" sesuatu tokoh yang merupakan perwujudan yang kasatmata dari suasana hati tokoh dalam wayang. Pengertian wanda jangan disalahtafsirkan dengan gambaran tipologi perwatakan tokoh-tokoh wayang yang dalam morfologi wayang kulit sudah ada salurannya sendiri. . Sampai akhir kajian ternyata tidak ada resep yang diketemukan kecuali sekedar keterangan yang sangat terbatas bahwa beda wanda-wanda itu hanya terletak pada tunduk atau tengadahnya kepala dan tegak atau bongkoknya badan. Percobaan lain yang dilakukan untuk mendekati resep dari teori tentang menggambar manusia secara realistik diperoleh masukan bahwa wajah wayang kulit purwa yang tidak dihasilkan secara realistik dapat dikenai hukum-hukum menggambar realistik, misalnya marah terlihat dari matanya yang membesar, alisnya yang mencuat, dll. Dapatkah hal tersebut dimasukkan ke dalam resep pembuatan wanda? Kalau dilihat dari sisi historis tidak dibenarkan, tetapi apabila untuk mencari cara menggambarkan wanda agar ada pedoman bagi para pembuat wayang kulit sekrang ini kiranya penemuan tersebut dapat saja dipakai
Aku dan seni : sebuah autobiografi terselubung
Buku ini ditulis beberapa saat sebelum penulis pensiun dari tugasnya di ISI Yogyakarta. Isi tulisan berupa otobiografi yang memaparkan beberapa hal dalam seni menurut visi penulis atau untuk menerangkan beberapa visi penulis tentang seni di sepanjang hidup penulis. Orientasi penulis terhadap seni bermula dengan seni tradisi terutama seni pedalangan, seni tari dan seni karawitan walaupun hanya sedikit dipelajari sedangkan teori seni Herbert Read mempengaruhi pandangannya terhadap seni modern. Otobiografi ini ditulis dengan gaya "life-patchwork" yang duramu dengan wacana kesenian yang menarik untuk dicermati. Buku ini juga menggambarkan sebuah kehidupan yang bernuansa perjuangan, obsesi dan pandangan penulis terhadap tentang dunia kesenian yang digelutinya sebagai profesi sampai dengan purna tugasnya sebagai Guru Besar di ISI Yogyakarta
Proses Pembentukan pertemuan antara kebudayaan Indonesia asli dengan kebudayaan India
44 p.; 28 cm
Trilogi seni : penciptaan, eksistensi, dan kegunaan seni
Yang dimaksud dengan 'Trilogi Seni' di sini adalah tiga serangkai penciptaan, eksistensi, dan kegunaan seni. Dalam logi pertama dibeberkan raison d'?tre seni, mengapa seni diciptakan, didahului dengan pengertian tentang seni dan bagaimana hubungannya dengan manusia pembuatnya. Logi yang kedua membahas bentuk kehadiran seni, sifat-sifat, keragaman dan pengaruh-mempengaruhinya dan logi yang ketiga dan terakhir adalah pembahasan fungsi seni di masyarakat, termasuk bagaimana mengamati seni, mengapresiasi seni dan bagaimana mengritik seni. Pembahasan ditutup dengan ulasan mengenai problematik kesenian Indonesia untuk menjadikan tulisan ini lebih membumi. Perlu ditambahkan di sini bahwa Trilogi tersebut tidak tersaji terkotak-kotak melainkan kadang-kadang saling tumpang tindih sebagaimana kenyataannya kehidupan seni di dalam masyarakat
- …
