1,721,019 research outputs found

    Eksplorasi dan Karakterisasi Bakteri Penghasil Eksopolisakarida dari Tanah di Kalimantan Barat untuk Peningkatan Agregasi Tanah Berpasir

    No full text
    Eksopolisakarida (EPS) adalah senyawa kompleks makro-molekul elektrolit yang terkandung dalam sel-sel luar bakteri yang diekskresikan sebagai lendir dan memiliki peran dalam agregasi tanah. Spodosol memiliki faktor pembatas agregasi yang sangat tidak stabil. Partikel tanah lepas dari satu sama lain sehingga kemampuan menahan air dan nutrisi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tanah bertekstur pasir sebagai media pertumbuhan tanaman karet melalui peningkatan agregasi, retensi air dan hara dengan memanfaatkan bakteri penghasil eksopolisakarida. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu isolasi dan seleksi, karakterisasi dan identifikasi, pengujian agregasi di laboratorium dan tanaman karet. Hasil penelitian ini ditemukan 112 isolat yang diisolasi dari rhizosfer tanaman karet, hutan sekunder dan semak belukar (masing-masing RB, HS, SB) dari sampel tanah PT. Hutan Ketapang Industri, Ketapang, Kalimantan Barat. Berdasarkan pengamatan morfologi koloni adalah isolat menghasilkan bakteri exopolisakarida yang mampu menghasilkan lendir yang tebal dan lebar. Hasil pengujian pada media cair ATCC 14 diperoleh tiga isolat potensial dalam menghasilkan exopolisakarida, yaitu isolat RB292 (7.53 mg mL-1), RB51 (7.55 mg mL-1) dan RB241 (7.59 mg mL-1) dengan 2% sumber karbon sukrosa dan meningkatkan kemantapan agregat tanah sangat nyata dengan nilai indek kemantapan agregat tanah 41.01%-47.87% meningkat dari 30.61% dengan penambahan bahan organic sebesar 2%. Hasil identifikasi molekuler menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut adalah Burkholderia anthina, Klebsiella sp dan Klebsiella pneumoniae. Penggunaan Klebsiella sp untuk agregasi pasir terbukti efektif dalam pembentukan agregasi pada tanah dengan kadar pasir 91,70%. dan meningkatkan pertumbuhan tanaman karet dengan perlakuan 100% NPK dan tanpa perlakuan NPK pada tanaman umur 2 bulan

    Isolasi Dan Karakterisasi Bakteri Endofit Pada Tanaman Acacia Decurrens (J.C.Wendl.) Willd.

    No full text
    Acacia decurrens merupakan tanaman dengan kemampuan tumbuh cepat dan termasuk kedalam famili Leguminosae. Jenis tanaman ini dapat dijumpai di kawasan taman nasional gunung Merapi (Selo dan Cangkringan) dan kawasan taman nasional gunung Merbabu, Indonesia. Tanaman ini terkenal di Indonesia selain karena kemampuan tumbuh cepatnya, juga karena kemampuan daya adaptasi tinggi yang terkadang mampu menginvasi suatu kawasan. Kemampuan tersebut diduga dipengaruhi kuat oleh keberadaan mikroorganisme khusunya bakteri endofit pada jaringan tanaman tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) untuk mendapatkan bakteri endofit dengan cara mengisolasi, mengkarakterisasi, menyeleksi dan mengidentifikasi bakteri endofit dari tanaman A. decurrens, (2) mempelajari peran bakteri endofit dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman padi. Lokasi pengambilan sampel terletak pada kawasan taman nasional gunung Merapi dan Merbabu. Proses isolasi, seleksi, karakterisasi dan identifikasi bakteri endofit dari sampel yang berupa bagian akar, batang dan daun tanaman A. decurrens dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Lingkungan Indonesian Center for Biodiversity and Biotechnology (ICBB) Bogor. Sebanyak 48 isolat bakteri endofit telah diisolasi dari jaringan pada akar, batang dan daun A. decurrens. Keseluruhan isolat kemudian diseleksi melalui uji patogenitas (reaksi hemolisis pada media agar darah dan hypersensitif respon menggunakan tanaman tembakau) dan dalam meningkatkan daya kecambah dan daya tumbuh benih padi. Berdasarkan hasil seleksi, diperoleh sepuluh isolat yang akan diuji lebih lanjut. Selanjutnya, kesepuluh isolat terpilih diuji dalam menambat N2, memproduksi IAA, melarutkan fosfat, melarutkan kalium, menghambat pertumbuhan bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) dan cendawan (Rhizoctonia solani) penyebab penyakit pada tanaman. Dari hasil uji lanjut yang telah dilakukan, keseluruhan isolat terbukti mampu menambat N2 dan memproduksi IAA, enam diataranya sebagai pelarut fosfat, satu isolat dengan kemamampuan menghambat pertumbuhan X. oryzae dan satu isolat terhadap R. solani. Isolat-isolat tersebut kemudian diuji dalam meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman padi. Percobaan ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 12 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan tersebut yaitu (perlakuan 1-10) bakteri endofit ditambah ½ dosis rekomendasi N, P, K dan (perlakuan 11 dan 12) sebagai kontrol yaitu ½ dan 1 dosis rekomendasi pupuk N, P dan K. Diantara 10 isolat yang diujikan, isolat Bb4, Ca9 dan Bd3 merupkan isolat-isolat dengan hasil terbaik yang mampu menutupi separuh dari penggunaan pupuk N, P dan K dengan dosis rekomendasi. Ketiga isolat tersebut dilanjutkan pada tahap identifikasi. Berdasarkan gene 16S rRNA, isolat Bb4 memiliki kemiripan 96.4% dengan spesies padanan Enterobacter sp., Ca9 memeliki kemiripan 96.2% dengan Pseudomonas sp. dan Bd3 memiliki kemiripan 96.1% dengan Enterobacter cloacae. Keseluruh isolat tersebut telah terdaftar dan memiliki nomor aksesi dari European Molecular Biology Laboratory (EMBL) Nucleotide Sequence Database. Berdasarkan pada hasil sequensing gene 16S rRNA dan karakter morfologi dan biokimia, ketiga isolat tersebut kemungkinan besar merupakan genus baru dari kelas -proteobacteria

    Isolasi, Identifikasi dan Analisis Kelimpahan Bakteri Penghasil Invertase Asal Rizosfer Tebu dengan Berbagai Tingkat Produktivitas

    No full text
    Mikroba dan enzim tanah berperan penting dalam mempertahankan stabilitas ekosistem tanah dan memberikan dampak bagi produktivitas tanaman. Invertase merupakan salah satu enzim tanah yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan berfungsi dalam proses hidrolisis sukrosa di lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kelimpahan bakteri penghasil invertase dan aktivitas invertase pada rizosfer tebu dengan tingkat produktivitas berbeda serta hubungannya dengan sifat fisik dan kimia tanah dan mengisolasi isolat bakteri penghasil invertase asal rizosfer tebu. Pengambilan contoh tanah dari rizosfer tebu dengan simple randomized sampling, selanjutnya dilakukan analisis sifat fisik-kimia tanah serta enumerasi kelimpahan bakteri penghasil invertase dan analisis aktivitas invertase tanah. Isolat bakteri penghasil invertase yang telah diisolasi, dianalisis kemampuannya dengan uji kualitatif dan kuantitatif. Tiga isolat terbaik diidentifikasi secara molekuler dengan analisis gen 16S rRNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan bakteri penghasil invertase dan aktivitas invertase tanah lebih tinggi pada rizosfer tebu dengan produktivitas tinggi. Kelimpahan bakteri penghasil invertase berkorelasi dengan aktivitas invertase, C organik, N total dan kandungan pasir tanah. Aktivitas invertase tanah berkorelasi dengan kelimpahan bakteri penghasil invertase, pH dan C organik tanah. Sebanyak 20 isolat bakteri penghasil invertase berhasil diisolasi dari rizosfer tebu. Tiga isolat menghasilkan zona hidrolisis dan aktivitas invertase tertinggi, yakni isolat ScT112, ScT124, dan ScR301, dengan zona hidrolisis berturut-turut 3.12 cm, 2.76 cm dan 2.55 cm, serta aktivitas invertase berturut-turut 27.82 U mL-1, 24.56 U mL-1 dan 24.08 U mL-1. Hasil identifikasi molekuler dengan analisis gen 16S rRNA menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut adalah Cupriavidus sp, Klebsiella variicola dan Pantoea sp

    Isolasi, Identifikasi dan Analisis Kelimpahan Bakteri Penghasil Invertase Asal Rizosfer Tebu dengan Berbagai Tingkat Produktivitas.

    No full text
    Mikroba dan enzim tanah berperan penting dalam mempertahankan stabilitas ekosistem tanah dan memberikan dampak bagi produktivitas tanaman. Invertase merupakan salah satu enzim tanah yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan berfungsi dalam proses hidrolisis sukrosa di lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kelimpahan bakteri penghasil invertase dan aktivitas invertase pada rizosfer tebu dengan tingkat produktivitas berbeda serta hubungannya dengan sifat fisik dan kimia tanah dan mengisolasi isolat bakteri penghasil invertase asal rizosfer tebu. Pengambilan contoh tanah dari rizosfer tebu dengan simple randomized sampling, selanjutnya dilakukan analisis sifat fisik-kimia tanah serta enumerasi kelimpahan bakteri penghasil invertase dan analisis aktivitas invertase tanah. Isolat bakteri penghasil invertase yang telah diisolasi, dianalisis kemampuannya dengan uji kualitatif dan kuantitatif. Tiga isolat terbaik diidentifikasi secara molekuler dengan analisis gen 16S rRNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan bakteri penghasil invertase dan aktivitas invertase tanah lebih tinggi pada rizosfer tebu dengan produktivitas tinggi. Kelimpahan bakteri penghasil invertase berkorelasi dengan aktivitas invertase, C organik, N total dan kandungan pasir tanah. Aktivitas invertase tanah berkorelasi dengan kelimpahan bakteri penghasil invertase, pH dan C organik tanah. Sebanyak 20 isolat bakteri penghasil invertase berhasil diisolasi dari rizosfer tebu. Tiga isolat menghasilkan zona hidrolisis dan aktivitas invertase tertinggi, yakni isolat ScT112, ScT124, dan ScR301, dengan zona hidrolisis berturut-turut 3.12 cm, 2.76 cm dan 2.55 cm, serta aktivitas invertase berturut-turut 27.82 U mL-1, 24.56 U mL-1 dan 24.08 U mL-1. Hasil identifikasi molekuler dengan analisis gen 16S rRNA menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut adalah Cupriavidus sp, Klebsiella variicola dan Pantoea sp

    Respon Padi Sawah Varietas If8 Terhadap Aplikasi Pupuk Hayati Yang Dikombinasikan Dengan Pupuk Sintetik Dan Organo Mineral Pada Inceptisol Situgede, Bogor

    No full text
    Beras merupakan kebutuhan pangan pokok lebih dari 90% penduduk Indonesia. Kebutuhan padi (beras) akan terus meningkat seiring dengan proyeksi laju pertambahan penduduk. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan produktivitas padi, salah satunya dengan pemberian pupuk hayati. Indonesia memiliki beragam jenis mikrob endofit bermanfaat yang dapat dijadikan sebagai pupuk hayati. Tanaman inang yang ditumbuhi mikrob endofit mempunyai banyak keuntungan, seperti meningkatkan pertumbuhan, meningkatkan daya tahan terhadap kekeringan dan serangan hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh aplikasi pupuk hayati yang dikombinasikan dengan pupuk sintetik dan pupuk organo mineral pada budidaya padi sistem konvensional terhadap pertumbuhan dan produksi padi varietas IF8 di tanah Inceptisol Situgede, Bogor. Percobaan pot dilakukan di rumah tanaman Indonesian Centre for Biodiversity and Biotechnology (ICBB) Situgede, Bogor. Analisis tanah pendahuluan dilakukan di laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Institut Pertanian Bogor. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri atas 15 perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: KH0, KH1, KH2, KH3, KH4, AH0, AH1, AH2, AH3, AH4, OH0, OH1, OH2, OH3, dan OH4 (K: tanpa sumber nutrisi, A: sumber nutrisi pupuk sintetik, O: sumber nutrisi pupuk organo mineral, H0: tanpa aplikasi pupuk hayati, H1: mikrob Ca1, H2: mikrob Ad1, H3: konsorsium bakteri filosfer Fm 48, dan H4: pupuk hayati Provibio). Aplikasi pupuk hayati memberikan respon yang beragam pada tanaman padi, ada yang mampu memacu pertumbuhan ada pula yang tidak. Mikrob Ca1 dan konsorsium bakteri filosfer Fm 48 unggul dalam memacu pertumbuhan vegetatif tanaman, jumlah anakan produktif, panjang malai, dan jumlah gabah isi. Sementara itu mikrob Ad1 dan pupuk hayati Provibio sifatnya lebih unggul dalam mengurangi tingkat kehampaan padi dan meningkatkan bobot 1000 butir. Perlakuan AH3 menghasilkan jumlah anakan tertinggi dengan rata-rata jumlah anakan sebanyak 18,67 anakan/rumpun. Pupuk hayati yang dikombinasikan dengan sumber nutrisi pupuk sintetik lebih terlihat pengaruhnya dibandingkan jika dikombinasikan dengan organo mineral. Produksi yang tinggi dihasilkan dari perlakuan AH3 (10.46 g / pot), OH1 (9.09 g / pot), dan AH1 (9.00 g / pot)

    Pengaruh Pemupukan N dan P Terhadap Keragaan dan Hasil Tebu Transgenik IPB 1 di PG Djatiroto, Jawa Timur

    No full text
    One approach to improve sugar production and saving of fertilizer is develoving genetically modified sugarcane plants. The transgenic sugarcane IPB 1 contains bacterial phytase gene that can alter phytic acid which is a form of organic-P to become inorganic-P, so it can be used by plants. Phytase will also increase the availability of other mineral nutrients in plant tissues such as Mg2+, Ca2+, and Fe2+. The nutrients are utilized by plant for synthesis of chlorophyll and inturn will increase photosynthesis and the yield of sugarcane. The research was aimed study to (1) the effectivity of N and P fertilization on transgenic sugarcane IPB 1 by observing growth and production of sugarcane, and (2) to select seven best clones by scoring the growth and production of sugarcane. The research was conducted at PG Djatiroto Experiment Station, Lumajang, East Java. Total of 23 clones of transgenic sugarcane IPB 1 and 1 clone of isogenic sugarcane PS 851 were treated with four fertilization, i.e.: (a) 50% N and 50% P, (b) 100% N and 50% P, (c) 50% N and 100% P, and (d) 100% N and 100% P, where 100% N and 100% P, respectively, equals to 800 kg ZA/ha and 200 kg SP-36/ha. 800 kg ZA/ha and 200 kg SP-36/ha together with 100 kg KCl/ha are the recommended fertilization rate for the area. Growth parameters abserved were number of stalk, stalk height, and stalk diameter. Measurement of the growth parameters were conducted twice, i.e. at the ages of 6 and 9 months (Januari and April 2011). Production parameters, namely yield, sugar content, and sugar production were determined after sugarcane harvesting at the age of 12 months. Some data were analyzed using Statistical Analysis Software (SAS) at α value of 0,05. The results showed that the transgenic sugarcane IPB 1 can effectively utilized fertilizers as indicated by insignificant effect of fertilization treatment. The best growth and production were resulted by 50% N and 50% P fertilization. Seven best clones at this rate of fertilizaation are transgenic sugarcane IPB 1-1, IPB 1-3, IPB 1-6, IPB 1-7, IPB 1-46, IPB 1-52, and IPB 1-56 the seven best sugarcane clones

    Eksplorasi dan Karakterisasi Bakteri Penghasil Eksopolisakarida dari Tanah di Kalimantan Barat untuk Peningkatan Agregasi Tanah Berpasir.

    No full text
    Eksopolisakarida (EPS) adalah senyawa kompleks makro-molekul elektrolit yang terkandung dalam sel-sel luar bakteri yang diekskresikan sebagai lendir dan memiliki peran dalam agregasi tanah. Spodosol memiliki faktor pembatas agregasi yang sangat tidak stabil. Partikel tanah lepas dari satu sama lain sehingga kemampuan menahan air dan nutrisi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tanah bertekstur pasir sebagai media pertumbuhan tanaman karet melalui peningkatan agregasi, retensi air dan hara dengan memanfaatkan bakteri penghasil eksopolisakarida. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu isolasi dan seleksi, karakterisasi dan identifikasi, pengujian agregasi di laboratorium dan tanaman karet. Hasil penelitian ini ditemukan 112 isolat yang diisolasi dari rhizosfer tanaman karet, hutan sekunder dan semak belukar (masing-masing RB, HS, SB) dari sampel tanah PT. Hutan Ketapang Industri, Ketapang, Kalimantan Barat. Berdasarkan pengamatan morfologi koloni adalah isolat menghasilkan bakteri exopolisakarida yang mampu menghasilkan lendir yang tebal dan lebar. Hasil pengujian pada media cair ATCC 14 diperoleh tiga isolat potensial dalam menghasilkan exopolisakarida, yaitu isolat RB292 (7.53 mg mL-1), RB51 (7.55 mg mL-1) dan RB241 (7.59 mg mL-1) dengan 2% sumber karbon sukrosa dan meningkatkan kemantapan agregat tanah sangat nyata dengan nilai indek kemantapan agregat tanah 41.01%-47.87% meningkat dari 30.61% dengan penambahan bahan organic sebesar 2%. Hasil identifikasi molekuler menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut adalah Burkholderia anthina, Klebsiella sp dan Klebsiella pneumoniae. Penggunaan Klebsiella sp untuk agregasi pasir terbukti efektif dalam pembentukan agregasi pada tanah dengan kadar pasir 91,70%. dan meningkatkan pertumbuhan tanaman karet dengan perlakuan 100% NPK dan tanpa perlakuan NPK pada tanaman umur 2 bulan

    Kelimpahan dan Keanekaragaman Fauna Tanah pada Perkebunan Kelapa Sawit dan Hutan Sekunder di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi

    No full text
    Fauna tanah merupakan organisme yang seluruh atau sebagian besar daur hidupnya terjadi di dalam tubuh tanah dan permukaan tanah, serta sebagian berperan dalam membantu proses dekomposisi bahan organik. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari kelimpahan dan keanekaragaman fauna tanah serta aktivitas predatorisme semut yang terdapat pada perkebunan kelapa sawit dan hutan sekunder. Sampel tanah diambil dari area Hutan Harapan dengan penggunaan lahan yang berbeda, yaitu perkebunan kelapa sawit (HO) dan hutan sekunder (HF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 18 ordo pada perkebunan kelapa sawit dan 21 ordo pada hutan sekunder. Terdapat perbedaan kelimpahan dan keanekaragaman pada kedua ekosistem tersebut. Hutan sekunder mempunyai kelimpahan fauna tanah lebih tinggi dibandingkan dengan perkebunan kelapa sawit baik pada lapisan serasah dan lapisan tanah. Berdasarkan Shannon’s diversity index, hutan sekunder mempunyai nilai keanekaragaman yang lebih tinggi (1,303) dibandingkan dengan perkebunan kelapa sawit (1,222). Perbedaan jenis dan keragaman vegetasi dapat meningkatkan biodiversitas fauna tanah, sedangkan pengolahan tanah, pemupukan, serta pemberian pestisida dapat menurunkan biodiversitas fauna tanah. Hasil penelitian pada pembatasan aktivitas semut dengan menggunakan glue trap menunjukkan bahwa kelimpahan dan keanekaragaman fauna tanah pada kontrol lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan glue trap. Berdasarkan Shannon’s diversity index, keanekaragaman fauna tanah pada perkebunan kelapa sawit (1,169) dan hutan sekunder (1,112) dengan perlakuan glue trap mempunyai nilai yang tergolong rendah. Perlakuan kontrol pada ekosistem hutan sekunder mempunyai nilai keanekaragaman tertinggi (1,303) dibandingkan dengan yang lainnya. Aktivitas predatorisme semut sebagai agen pengontrol hayati dalam ekosistem mampu mempertahankan jaring-jaring makanan organisme tanah yang lain, sehingga kelimpahan dan keanekaragaman fauna tanah dapat dipertahankan pada siklusnya

    Respon tanaman padi sawah varietas IF8 dan Lentera terhadap aplikasi pupuk organo mineral dan pupuk hayati pada Inceptisol Situgede, Bogor

    No full text
    Paddy is a staple food for most of the Indonesian people. Paddy farmers usually use chemical fertilizers as the main production input to achieve high productivity. It causes a diminishing quality of soil chemical, biological, and physical properties. The research objective was to find out the effects of organomaterial fertilizer and biofertilizer on the growth and productivity of IF8 and Lentera paddy varieties using SRI planting pattern on an Inceptisol. The research consisted of land preparation, seedling, planting and fertilizers application, harvesting, observation, and data analysis and interpretation. The research used Split Plot CRD (Completely Randomized Design) experimental design with rice paddy varieties (IF8 and Lentera) and biofertilizer (without and 24 L/ha) as the main plot, and organo-mineral fertilizer (without and 600 kg/ha) as the sub slot, and 3 replications resulted in 24 experimental units. The main plot treatments significantly increased panicle length, numbers of unhulled rice per panicle, and crop productivity, but not significantly affected plant height, numbers of tillers, and weight of 1000 grains. The sub plot treatments significantly increased plant height, numbers of tillers, and crop productivity, but not significantly affected panicle length, numbers of unhulled rice per panicle, and weight of 1000 grain

    Isolasi dan Karakterisasi Acidithiobacillus ferrooxidans dari Ekosistem Tanah Sulfat Masam Katingan Kalimantan serta Uji Degradasi Pirit

    No full text
    Teknologi Bioleaching didasarkan pada kemampuan mikroorganisme untuk mengubah logam berat dan senyawa dari fase padat ke fase larut. Keuntungan dari teknik ini adalah biaya rendah, efisiensi tinggi, dan ramah lingkungan. Acidithiobacillus ferrooxidans merupakan mikrob utama yang terkait dengan proses bioleaching. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi Acidithiobacillus ferrooxidans dari ekosistem tanah sulfat masam asal Katingan, Kalimantan Tengah, mengkorelasi mikrob dan karakteristik tanah, dan menguji isolat terpilih dalam mendegradasi logam pirit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah isolasi, uji korelasi antara populasi Acidithiobacillus ferrooxidans dengan karakteristik kimia dan biologi ekosistem tanah, karakterisasi Acidithiobacillus ferrooxidans berdasarkan Bergey's Manual of Systematic Bacteriology, dan uji degradasi pirit dengan pengukuran kadar sulfat, pH, dan potensial redoks (Eh). Data kadar ion sulfat selanjutnya dianalisis menggunakan uji ragam repeated measurement. Berdasarkan hasil penelitian, 28 dari 32 sampel tanah (87.5%) positif mengandung Acidithiobacillus sp. Korelasi Pearson menunjukkan korelasi negatif signifikan antara kadar pirit tanah dengan total mikrob tanah (fungi, r = -0.379* ; bakteri, r = -0.454**) dan korelasi positif signifikan antara total fungi tanah dengan bakteri tanah (r = 0.575**). Hasil karakterisasi menunjukkan spesies yang diperoleh terbukti sebagai Acidithiobacillus ferrooxidans. Melalui nilai optical density tertinggi, diseleksi lima isolat unggul yaitu A2, A4, A7, A8, dan A10. Hasil uji sidik ragam repeated measurement menunjukkan interaksi yang signifikan antara perlakuan inokulasi isolat dan waktu inkubasi. Peningkatan kadar ion sulfat mengindikasikan bahwa kelima isolat unggul tersebut memiliki kemampuan dalam mendegradasi mineral pirit. Hasil uji lanjut pengelompokan secara Duncan, menunjukkan bahwa dari lima isolat unggul terdapat dua grup yang berbeda nyata dalam menghasilkan ion sulfat, yaitu isolat A4 (222 ppm) dan isolat A2, A7, A8, dan A10 (251-255 ppm). Uji degradasi pirit memiliki efek terhadap penurunan nilai pH dan peningkatan potensial redoks
    corecore