57 research outputs found

    The flight performance criteria for adaptive control design during hydro planing and ground effect altitude of wing in surface effect craft

    No full text
    Many of the Wing In Surface Effect-craft had unstable condition during hydro planing while the positive pitching moment nose up increases. The hump drags on the centre of buoyancy, the aerodynamic lift of the wing on the centre of pressure, the thrust propulsion and weight on the centre of gravity are not in equilibrium condition. The inverse delta wing with shoulder and Clark Y airfoil having wing area 31.75 m2 and V-tail configurations are producing the aerodynamic lift. However, the aerodynamic lift will be countered by pitching moment in order to achieve steady level flight within airborne conditions. The adaptive control system will be implemented on the Remote Control model Amphibian configuration to anticipate the porpoising effect during hydro planing on the longitudinal and lateral mode. This control system also maintaining the ground effect on the 0.25 m altitude height to reduce the Pilot workloads. The use of Extended Kalman Filter algorithm is to identify the non-dimensional aerodynamic and hydrodynamic derivative parameters that used together in the observable matrix (4 × 4) dimensions in the real time (t)

    Minimum-Energy Control of Two-Link Manipulator WithPure State Constraints

    Get PDF
    This paper presents an analysis and numerical solutions of the minimum-energy control of two-link robot manipulator. The minimum-energy control point-to-point trajectory is investigated subject to control constraints and state constraints on the angular velocities. The numerical solutions are solved by transforming the original problem into a nonlinear programming problem. The mathematical analysis of the optimal control problems is done based on the numerical results using an indirect method. The necessary conditions can be stated as a multi-point boundary value problems

    Penerapan Project Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pemrograman Web Peserta Didik Kelas X Tkj B SMKN 1 Magelang Semester 2 Tahun Pelajaran 2020/2021

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah penggunaan metode PBL dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan ketuntasan belajar peserta didik kelas X TKJ SMKN 1 Magelang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang memiliki 2 siklus. Sebelum siklus dilakukan hasil belajar siswa rendah dan tingkat ketuntasan belajar siswa hanya 8,57%, hal ini belum memenuhi target ketuntasan belajar yaitu 80%. Siklus pembelajaran dilakuakn pada semester 2. Siklus pertama menerapkan PBL murni dengan menggunakan kelompok dan siklus ke 2 menggunakan PBL Asana. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan tingkat ketuntasan belajar siswa menjadi 91, 43%

    A Direct Multiple Shooting Method for Missile Trajectory Optimization with The Terminal Bunt Manoeuvre

    Get PDF
    Numerical solution of constrained nonlinear optimal control problem is an important field in a wide range of applications in science and engineering. The real time solution for an optimal control problem is a challenge issue especially the state constrained handling. Missile trajectory shaping with terminal bunt manoeuvre with state constaints is addressed. The problem can be stated as an optimal control problem in which an objective function is minimised satisfying a series of constraints on the trajectory which includes state and control constraints. Numerical solution based on a direct multiple shooting is proposed. As an example the method has been implemented to a design of optimal trajectory for a missile where the missile must struck the target by vertical dive. The qualitative analysis and physical interpretation of the numerical solutions are given

    STATUS RESISTENSI HAMA ULAT GRAYAK (Spodoptera litura F.) ASAL KARANGPLOSO MALANG TERHADAP INSEKTISIDA SINTETIK PROFENOFOS

    No full text
    Ulat grayak (S. litura F.) termasuk dalam ordo Lepidoptera yang menyebabkan kerusakan serius pada tanaman budidaya di daerah tropis dan subtropis. Resistensi merupakan suatu keadaan dimana setiap populasi dalam satu spesies yang biasanya peka terhadap suatu insektisida tertentu menjadi tidak dapat lagi dikendalikan oleh insektisida tersebut. Profenofos termasuk dalam golongan insektisida organofosfat yang bersifat racun perut dan racun kontak. Profenofos memiliki mekanisme kerja menghambat kerja enzim asetilkolinesterase sehingga neurotransmitter asetilkolin yang berikatan dengan reseptornya di daerah pascasinapsis saraf pusat tidak terurai dan menimbulkan impuls saraf secara terus menerus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi insektisida profenofos terhadap berat, lama fase perkembangan, kemampuan reproduksi serta status resistensi S. litura F. lapang asal Karangploso Malang terhadap insektisida profenofos berdasarkan nilai nisbah resistensi (NR). Penelitian ini menggunakan larva S. litura F. instar 3 lapang asal Karangploso, Malang, dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan, 4 pengulangan dan tiap ulangan terdiri dari 10 ekor larva S. litura F. instar 3. Perlakuan menggunakan insektisida profenofos dengan konsentrasi 0,5 ml/L, 1 ml/L, 1,5 ml/L, 2 ml/L, dan 2,5 ml/L. Penelitian yang dilakukan sampai fase imago S. litura F.dan dilanjutkan pengamatan sampai imago tersebut bertelur. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan insektisida profenofos berpengaruh terhadap berat serta fase perkembangan larva dan pupa S. litura F. Data pengaruh perlakuan insektisida sintetik profenofos terhadap berat pada kontrol, P1. P2, P3, P4, dan P5 berturut-turut yaitu 0,5489 gram, 0,5366 gram, 0,5273 gram, 0,5208 gram, 0,5085 gram, dan 0,5014 gram. Data tersebut menunjukkan bahwa terjadi penurunan berat larva S. litura F. pada setiap kenaikan konsentrasi insektisida. Perlakuan insektisida sintetik profenofos berpengaruh sangat signifikan terhadap berat S. litura F. (p=0,00). Selanjutnya data pengaruh perlakuan terhadap lama fase perkembangan S. litura F. yang paling cepat dan yang paling lambat pada setiap fase perkembangan S. litura F. yaitu pada fase instar 3 fase perkembangan tercepat terjadi pada kontrol selama 3,25 hari dan fase perkembangan paling lambat terjadi pada P4 (2 ml/L) dan P5 (2,5 ml/L) selama 3,5 hari. Pada instar 4 fase perkembangan tercepat terjadi pada kontrol selama 2 hari dan fase perkembangan paling lambat terjadi pada P5 (2,5 ml/L) selama 2,5 hari. Pada fase instar 5 perkembangan tercepat terjadi pada kontrol selama 3 hari dan fase perkembangan paling lambat terjadi pada P4 (2 ml/L) dan P5 (2,5 ml/L) selama 3,5 hari. Pada fase pupa, perkembangan tercepat terjadi pada kontrol selama 7,5 hari dan fase perkembangan paling lambat terjadi pada P4 (2 ml/L) dan P5 (2,5 ml/L) selama 8,5 hari. Rerata lama fase perkembangan semakin lambat sesuai dengan peningkatan konsentrasi insektisida profenofos. Perlakuan insektisida sintetik profenofos berpengaruh signifikan terhadap lama perkembangan fase S. litura F. instar 3 (p=0,01), dan berpengaruh sangat signifikan terhadap lama fase perkembangan S. litura F. instar 4, 5, dan pupa (p=0,00). Pupa yang berhasil menjadi imago pada kontrol sebanyak 25 ekor, P1 (0,5 ml/L) sebanyak 21 ekor, P2 (1 ml/L) sebanyak 18 ekor, P3 (1,5 ml/L) sebanyak 17 ekor, P4 (2 ml/L) sebanyak 14 ekor, dan P5 (2,5 ml/L) sebanyak 10 ekor. Imago S. litura F. pada tiap perlakuan mampu menghasilkan telur. Nilai nisbah resistensi S. litura F. terhadap insektisida profenofos sebesar 4,02 yang diperoleh dari nilai LC50 S. litura F. lapang asal Karangploso Malang dan LC50 S. litura F. yang diperlihara di laboratorium. Kesimpulan dari data yang diperoleh yaitu semakin tinggi konsentrasi insektisida profenofos maka berat S. litura F. semakin ringan. Semakin tinggi konsentrasi insektisida profenofos maka lama fase perkembangan S. litura F. semakin lambat dan imago S. litura F. yang dihasilkan mampu bertelur. Nilai nisbah resistensi (NR) S. litura F. lapang asal Karangploso Malang sebesar 4,02 yang menunjukkan status S. litura F. tersebut telah resisten terhadap insektisida profenofos

    PENGARUH SUHU TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ULAT GRAYAK Spodoptera litura F. (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE) PADA KUBIS (Brassica oleracea var. capitata L.)

    No full text
    Suhu sebagai faktor penting pertumbuhan dan perkembangan serangga dapat mempercepat pertumbuhan dan perkembangan serangga yang akan berpengaruh pada peningkatan populasi serangga. Peningkatan populasi serangga hama berpengaruh buruk terhadap pertanian karena larva serangga sangat aktif memakan bagian tanaman. Hama ulat grayak Spodoptera litura (S. litura) merupakan hama penting yang dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 80%. Pengendalian S. litura dapat dilakukan melalui Program Pengendalian Hama Terpadu yang memerlukan pengetahuan mengenai waktu-waktu penting dalam siklus hidup serangga yang ditentukan dari physiological time serangga S. litura. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh suhu terhadap pertumbuhan dan perkembangan ulat grayak S. litura serta mengetahui physiological time dari larva S. litura. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal berupa perbedaan suhu pemeliharaan larva. Sampel yang digunakan berupa larva S. litura instar II sebanyak 180 ekor yang dibagi dalam 6 kelompok, yaitu kontrol atau K (27,5°C) dan perlakuan P1 (28°C), P2 (30°C), P3 (32°C), P4 (34°C), dan P5 (36°C). Larva dipelihara dalam inkubator bersuhu konstan dengan deviasi ±0,5°C. Pertumbuhan diukur dari pertambahan panjang (mm) dan berat (mg), sedangkan lama perkembangan dihitung dari waktu (hari) yang dibutuhkan larva untuk berkembang dari instar II sampai instar V. Kecepatan perkembangan larva digunakan untuk menentukan developmental threshold larva S. litura. Analisis data statistik menggunakan ANOVA dan uji lanjut menggunakan Duncan dengan taraf signifikansi 5%. Hasil Anova menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat signifikan (p=0,005; F=3,515) terhadap panjang larva dan juga berpengaruh sangat signifikan (p=0,007; F=3,295) terhadap berat larva S..litura. Berdasarkan hasil uji Duncan, K (27,5°C) berbeda secara signifikan dengan P3 (32°C), P4 (34°C), dan P5 (36°C), namun berbeda secara tidak signifikan dengan P1 (28°C) dan P2 (30°C) dalam mempengaruhi pertumbuhan larva S. litura. Larva dalam K (27,5°C) memiliki rerata panjang (7,27 mm) dan berat (0,06 mg) terbesar, sedangkan larva dalam P5 memiliki rerata panjang (1,70 mm) dan berat (0,01 mg) terkecil. Mortalitas larva tertinggi (100%) terjadi pada K (27,5°C), sedangkan mortalitas terendah (80%) pada P1 (28°C). Selanjutnya, hasil Anova menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat signifikan (p=0,000; F=163,859) terhadap kecepatan perkembangan larva S. litura. Larva dalam P5 (36°C) memiliki waktu tersingkat (2,93 hari) untuk berkembang pada tiap fase instar dari instar II menjadi instar V. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa K (27,5°C) berbeda secara signifikan dengan P1 (28°C), P4 (34°C), dan P5 (36°C), namun berbeda secara tidak signifikan dengan P2 (30°C) dan P3 (32°C) dalam mempengaruhi perkembangan larva. Hasil uji Duncan antar perlakuan menunjukkan bahwa, P1 (28°C) dan P2 (30°C) berbeda secara signifikan dengan P3 (32°C), P4 (34°C), dan P5 (36°C) dalam mempengaruhi perkembangan larva. Waktu perkembangan S. litura yang terlama (40,47 hari) terjadi pada K (27,5°C), sedangan waktu perkembangan tersingkat (23,38 hari) terjadi pada P5 (36°C). Adapun developmental threshold larva S. litura sebesar 8,62°C dengan thermal constant sebesar 71DD. Physiological time larva S. litura yang dihitung berdasarkan suhu harian wilayah Jember pada tanggal 22-25 Februari 2015 adalah sebesar 17,9 DD. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa suhu berpengaruh sangat signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan larva S. litura. Adapun nilai developmental threshold larva S. litura adalah sebesar 8,62°C dengan physiological time larva S. litura yang telah diakumulasi untuk memulai fase instar II-nya adalah sebesar 17,9 DD dari 71 DD

    STATUS RESISTENSI HAMA ULAT GRAYAK (Spodoptera litura F.) ASAL KARANGPLOSO MALANG TERHADAP INSEKTISIDA SINTETIS ABAMEKTIN

    No full text
    Ulat grayak adalah salah satu jenis hama penting yang menyerang tanaman palawija dan sayuran di Indonesia. Selain di Indonesia, ulat grayak juga merupakan hama yang banyak ditemukan di India, Jepang, Cina, dan negara-negara lain di Asia Tenggara. Ulat grayak bersifat polifag atau mempunyai kisaran inang yang luas sehingga berpotensi menjadi hama pada berbagai jenis tanaman pangan, sayuran, buah dan perkebunan. Umumnya dalam mengendalikan hama ulat grayak, petani menggunakan insektisida sintetis. Hal yang sama juga dilakukan oleh petani di daerah Karangploso, Malang. Petani di daerah tersebut sebagian besar memilih menggunakan insektisida sintetis untuk mengendalikan hama, khususnya hama ulat grayak yang banyak menyerang sayuran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi abamektin 18 EC terhadap berat larva dan lama perkembangan S. litura F. serta mengetahui status resistensi S. litura F. asal Karangploso, Malang, terhadap insektisida abamektin 18 EC berdasarkan nilai nisbah resistensi (NR). Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi, Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember. Waktu penelitian pada bulan Mei sampai Juni 2015. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 taraf perlakuan, 1 kontrol tetapi setiap perlakuan terdiri dari 4 kali ulangan dengan konsentrasi 0 ml/L (kontrol), 0,05 ml/L, 0,125 ml/L, 0,2 ml/L, 0,275 ml/L, dan 0,35 ml/L. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan insektisida abamektin 18 EC berpengaruh secara signifikan terhadap berat larva S. litura F. dan lama fase perkembangan. Semakin tinggi konsentrasi, berat larva S. litura F. semakin menurun. Berat larva S. litura secara berturut-turut (kontrol, P1, P2, P3, P4, dan P5) yaitu 0,55 ± 0,03 gram; 0,54 ± 0,04 gram; 0,52 ± 0,03 gram; 0,49 ± 0,06 gram; 0,47 ± 0,03 gram; dan 0,46 ± 0,02 gram. Semakin tinggi konsentrasi, lama fase perkembangan larva S. litura F. semakin lama. Lama fase instar 3 secara berturut-turut (kontrol, P1, P2, P3, P4, dan P5) yaitu 3,00 ± 0,00 hari; 3,25 ± 0,44 hari; 3,25 ± 0,44 hari; 3,25 ± 0,44 hari; 3,50 ± 0,51 hari; dan 3,50 ± 0,51 hari. Lama fase instar 4 secara berturut-turut (kontrol, P1, P2, P3, P4, dan P5) yaitu 2,00 ± 0,00 hari; 2,00 ± 0,00 hari; 2,25 ± 0,44 hari; 2,25 ± 0,44 hari; 2,25 ± 0,44 hari, dan 2,50 ± 0,51 hari. Lama fase instar 5 secara berturut-turut (kontrol, P1, P2, P3, P4, dan P5) yaitu 3,25 ± 0,44 hari; 3,25 ± 0,44 hari; 3,25 ± 0,44 hari; 3,25 ± 0,44 hari; 3,50 ± 0,51 hari; dan 3,50 ± 0,51 hari. Lama fase pupa secara berturut-turut (kontrol, P1, P2, P3, P4, dan P5) yaitu 7,50 ± 0,51 hari; 7,75 ± 0,84 hari; 7,75 ± 0,84 hari; 8,25 ± 0,84 hari; 8,25 ± 0,84 hari; dan 8,50 ± 0,51 hari. Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa aplikasi insektisida abamektin 18 EC berpengaruh terhadap berat dan lama perkembangan. Semakin tinggi konsentrasi maka berat larva semakin menurun dan fase perkembangannya semakin lama. S. litura F. yang berasal dari Karangploso, Malang telah resisten terhadap insektisida abamektin 18 EC dengan nilai Nisbah Resistensi 4,02. Hendaknya petani menggunakan insektisida dengan lebih bijak dan dilakukan pergiliran insektisida dengan insektisida lain. Sebaiknya dilakukan pengawasan terhadap resistensi hama yang ada di lapang dan dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai resistensi hama. Petani seharusnya menggunakan insektisida lain yang lebih ramah lingkungan contohnya menggunakan insektisida nabati

    Penerapan Model Predictive Control (MPC) pada Kapal Autopilot dengan Lintasan Tertentu

    Get PDF
    Permasalahan dalam kendali kapal salah satunya adalah path following. Path following bertujuan mengarahkan kapal untuk mengikuti jalur yang ditentukan. Pada penelitian ini dikaji bentuk pengendali untuk memperkuat kendali terhadap masalah path following. Kapal yang menjadi objek pada penelitian ini adalah kapal yang berjenis underactuated. Kapal underactuated merupakan kapal dengan jumlah variabel yang dikontrol lebih banyak dari jumlah aktuator, dimana aktuator adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengontrol sebuah mekanisme atau sistem. Langkah pertama yang dilakukan adalah mentransformasikan model dinamik kapal terhadap lintasan sehingga didapatkan model dinamik kapal yang baru berupa error posisi kapal terhadap lintasan dan error orientasi (error sudut kapal). Selanjutnya digunakan pengendali MPC untuk menstabilkan gerak kapal.. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan pengendali MPC, error dari path following konvergen ke nol dan kapal dapat mengikuti lintasan yang diharapkan

    Computational optimal control of the terminal bunt manoeuvre

    No full text
    EThOS - Electronic Theses Online ServiceGBUnited Kingdo
    corecore