2,276 research outputs found

    Krisis Keuangan Indonesia 1997 dan Intervensi IMF suatu Kajian Ekonomi Politik

    No full text
    Thera are many approaches used by analysist to analize the effect of the monetary crisis in Indonesia lately. As shown in this article, Endang Sih Prapti uses a political economic perspective to analize the crisis

    TRADISI NGUNJUNG BUYUT NYI MAS ENDANG GEULIS PENGAMPON DESA DANAWINANGUN KECAMATAN KLANGENAN KABUPATEN CIREBON (KAJIAN LIVING HADIS)

    No full text
    Tradisi Ngunjung buyut Nyi Mas Endang Geulis Pengampon merupakan sebuah upacara adat yang diadakan oleh masyarakat Pengampon Desa Danawinangun Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon. Tradisi ini bertujuan untuk menghormati dan mengenang jasa leluhur, khususnya Nyi Mas Endang Geulis. Nyi Mas Endang Geulis adalah istri dari Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu Cirebon), dan putri dari Sahyang Danuwarsih, yang dianggap sebagai tokoh- tokoh penting dalam sejarah dan kebudayaan lokal. Sementara blok pengampon ialah suatu daerah yang terletak di sebelah Barat Kota Cirebon, yang konon di daerah tersebut merupakan salah satu tempat yang pernah di singgahi oleh Nyi Mas Endang Geulis. Dan masyarakat di daerah tersebut merupakan salah satu masyarakat yang masih kental terhadap pelestarian adat istiadat, sehingga tempat persinggahan tersebut dijadikan sebagai tempat untuk ritual kebudayaan bagi masyarakat setempat yang kini menjadi sebuah tradisi. Berangkat dari latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti lebih dalam mengenai tradisi tersebut. Sebab, di dalam tradisi tersebut terdapat beberapa unsur-unsur keagamaan yang menarik untuk dikaji. Adapun jenis penelitian ini ialah penelitian lapangan ( field research) dengan menggunakan metode kualitatif, dan mengaplikasikannya dengan teori living hadis untuk mengidentifikasi hadis apa saja yang hidup di masyarakat serta menjadi acuan dalam prosesi tradisi ngunjung buyut Nyi Mas Endang Geulis Pengampon. Hasil penelitian menujukkan bahwa terdapat korelasi yang kuat antara agama dan budaya lokal dalam tradisi ngunjung Buyut Nyi Mas Endang Geulis. Hal tersebut terlihat dalam prosesinya, yang melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan bawah, kalangan menengah hingga kalangan atas, baik laki-laki maupun perempuan. Adapun prosesinya, dari awal hingga akhir tidak lepas dari ritual-ritual keagamaan seperti membaca dzikir yang mudah diikuti oleh semua kalangan. Adapun dzikir dan do’a yang dibaca ketika prosesi tersebut ialah Pertama, s}alawa>t Nabi yang merujuk pada hadis Nabi riwayat Imam Nasa’i, nomor 1292 tentang dianjurkannya membaca s}alawa>t Nabi serta hadis riwayat Imam Tirmidzi, nomor 486 dan 484 tentang keutamaan membaca s}alawa>t Nabi. Kedua, melakukan tawassul, tahlilan, dan do’a bersama, merujuk pada hadis Nabi riwayat Muslim, nomor 1631 tentang amalan yang bisa sampai kepada mayit setelah meninggal. Ketiga, mengarak benda pusaka sambil diiring dengan lantunan kalimat la> ila>ha illallah, merujuk pada hadis Nabi riwayat Imam Ibnu Majah, nomor 3800 tentang keutamaan orang yang membaca tahmid

    TRADISI NGUNJUNG BUYUT NYI MAS ENDANG GEULIS PENGAMPON DESA DANAWINANGUN KECAMATAN KLANGENAN KABUPATEN CIREBON (KAJIAN LIVING HADIS)

    No full text
    Tradisi Ngunjung buyut Nyi Mas Endang Geulis Pengampon merupakan sebuah upacara adat yang diadakan oleh masyarakat Pengampon Desa Danawinangun Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon. Tradisi ini bertujuan untuk menghormati dan mengenang jasa leluhur, khususnya Nyi Mas Endang Geulis. Nyi Mas Endang Geulis adalah istri dari Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu Cirebon), dan putri dari Sahyang Danuwarsih, yang dianggap sebagai tokoh-tokoh penting dalam sejarah dan kebudayaan lokal. Sementara blok pengampon ialah suatu daerah yang terletak di sebelah Barat Kota Cirebon, yang konon di daerah tersebut merupakan salah satu tempat yang pernah di singgahi oleh Nyi Mas Endang Geulis. Dan masyarakat di daerah tersebut merupakan salah satu masyarakat yang masih kental terhadap pelestarian adat istiadat, sehingga tempat persinggahan tersebut dijadikan sebagai tempat untuk ritual kebudayaan bagi masyarakat setempat yang kini menjadi sebuah tradisi. Berangkat dari latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti lebih dalam mengenai tradisi tersebut. Sebab, di dalam tradisi tersebut terdapat beberapa unsur-unsur keagamaan yang menarik untuk dikaji. Adapun jenis penelitian ini ialah penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode kualitatif, dan mengaplikasikannya dengan teori living hadis untuk mengidentifikasi hadis apa saja yang hidup di masyarakat serta menjadi acuan dalam prosesi tradisi ngunjung buyut Nyi Mas Endang Geulis Pengampon. Hasil penelitian menujukkan bahwa terdapat korelasi yang kuat antara agama dan budaya lokal dalam tradisi ngunjung Buyut Nyi Mas Endang Geulis. Hal tersebut terlihat dalam prosesinya, yang melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan bawah, kalangan menengah hingga kalangan atas, baik laki-laki maupun perempuan. Adapun prosesinya, dari awal hingga akhir tidak lepas dari ritual-ritual keagamaan seperti membaca dzikir yang mudah diikuti oleh semua kalangan. Adapun dzikir dan do’a yang dibaca ketika prosesi tersebut ialah Pertama, s}alawa>t Nabi yang merujuk pada hadis Nabi riwayat Imam Nasa’i, nomor 1292 tentang dianjurkannya membaca s}alawa>t Nabi serta hadis riwayat Imam Tirmidzi, nomor 486 dan 484 tentang keutamaan membaca s}alawa>t Nabi. Kedua, melakukan tawassul, tahlilan, dan do’a bersama, merujuk pada hadis Nabi riwayat Muslim, nomor 1631 tentang amalan yang bisa sampai kepada mayit setelah meninggal. Ketiga, mengarak benda pusaka sambil diiring dengan lantunan kalimat la> ila>ha illallah, merujuk pada hadis Nabi riwayat Imam Ibnu Majah, nomor 3800 tentang keutamaan orang yang membaca tahmid.Tradisi Ngunjung buyut Nyi Mas Endang Geulis Pengampon merupakan sebuah upacara adat yang diadakan oleh masyarakat Pengampon Desa Danawinangun Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon. Tradisi ini bertujuan untuk menghormati dan mengenang jasa leluhur, khususnya Nyi Mas Endang Geulis. Nyi Mas Endang Geulis adalah istri dari Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu Cirebon), dan putri dari Sahyang Danuwarsih, yang dianggap sebagai tokoh-tokoh penting dalam sejarah dan kebudayaan lokal. Sementara blok pengampon ialah suatu daerah yang terletak di sebelah Barat Kota Cirebon, yang konon di daerah tersebut merupakan salah satu tempat yang pernah di singgahi oleh Nyi Mas Endang Geulis. Dan masyarakat di daerah tersebut merupakan salah satu masyarakat yang masih kental terhadap pelestarian adat istiadat, sehingga tempat persinggahan tersebut dijadikan sebagai tempat untuk ritual kebudayaan bagi masyarakat setempat yang kini menjadi sebuah tradisi. Berangkat dari latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti lebih dalam mengenai tradisi tersebut. Sebab, di dalam tradisi tersebut terdapat beberapa unsur-unsur keagamaan yang menarik untuk dikaji. Adapun jenis penelitian ini ialah penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode kualitatif, dan mengaplikasikannya dengan teori living hadis untuk mengidentifikasi hadis apa saja yang hidup di masyarakat serta menjadi acuan dalam prosesi tradisi ngunjung buyut Nyi Mas Endang Geulis Pengampon. Hasil penelitian menujukkan bahwa terdapat korelasi yang kuat antara agama dan budaya lokal dalam tradisi ngunjung Buyut Nyi Mas Endang Geulis. Hal tersebut terlihat dalam prosesinya, yang melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan bawah, kalangan menengah hingga kalangan atas, baik laki-laki maupun perempuan. Adapun prosesinya, dari awal hingga akhir tidak lepas dari ritual-ritual keagamaan seperti membaca dzikir yang mudah diikuti oleh semua kalangan. Adapun dzikir dan do’a yang dibaca ketika prosesi tersebut ialah Pertama, s}alawa>t Nabi yang merujuk pada hadis Nabi riwayat Imam Nasa’i, nomor 1292 tentang dianjurkannya membaca s}alawa>t Nabi serta hadis riwayat Imam Tirmidzi, nomor 486 dan 484 tentang keutamaan membaca s}alawa>t Nabi. Kedua, melakukan tawassul, tahlilan, dan do’a bersama, merujuk pada hadis Nabi riwayat Muslim, nomor 1631 tentang amalan yang bisa sampai kepada mayit setelah meninggal. Ketiga, mengarak benda pusaka sambil diiring dengan lantunan kalimat la> ila>ha illallah, merujuk pada hadis Nabi riwayat Imam Ibnu Majah, nomor 3800 tentang keutamaan orang yang membaca tahmid

    PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN MELALUI PENDEKATAN KEMITRAAN DI SD NEGERI CANDISARI

    No full text
    Endang Titik LestariABSTRAKDalam menjalankan tugas sebagai kepala sekolah di SDN Candisari, penulis menemukan permasalahan pada kemampuan guru dalam menyiapkan dan melaksanakan proses pembelajaran masih rendah. Motivasi guru untuk belajar dan meningkatkan kemampuan profesionalnya juga rendah, hubungan komunikasi dan kerjasama antara kepala sekolah, guru dan masyarakat renggang dan kurang terjalin dengan baik, serta keterlibatan partisipatif dari masyarakat khususnya orang tua siswa dalam pendidikan anak sangat rendah. Untuk mengatasi hal ini penulis memilih pendekatan kemitraanuntuk membuka peluang terciptanya komunikasi dua arah yang saling mengisi. Pendekatan ini direalisasikan ke dalam langkah nyata yang terbagi dua yaitu langkah operasional bagi guru melalui Fogrudismensupak (Foccus Group Discussion, Mentoring, Supervise Akademik) dan langkah operasional bagi orang tua siswa melalui PK Komsek (Paguyuban Kelas, Komite Sekolah). Dalam pengaplikasiannya, semua langkah operasional ini terbukti mampu meningkatkan kompetensi guru dan peran partisipasi orang tua siswa dalam peningkatan kualitas pendidikan anak di sekolah.Kata Kunci: Kemitraan, FGD, Mentoring, Supak, PK, KomsekIn managing duty as a Headmaster in SDN Candisari, the author discovered problems with regard to teachers’ ability in preparing and executing teaching program, which is considered inadequate. In addition, teachers’ motivation to improve their own professionalism is low, communication and cooperative relationship between the school principal, teachers and the society is sparse and less than developed and there is very minimal degree of participation from society as well as parents’ involvement in their children’s education. To handles this issues, the author preferred partnership approach with intention to build bi-directional chance for communication that can complement each other. This approach is put into practice by dividing into two operational steps i.e. Fogrudismensupak (Focus Group Discussion, Mentoring, Supervise Academically) for teachers as well an operatioal step for parents i.e. PK Komsek (Class Community, School Committee/ Paguyuban Kelas, Komite Sekolah). In its application both operational steps are proven capable of improving teachers’ competence and parental involvement in the effort to develop better education at school.Keywords: Partnership, FGD, Mentoring, Supak, PK, Komse

    Setopsocus hirsutus New

    No full text
    <i>Setopsocus hirsutus</i> (New) <p> <i>Psocidus hirsutus</i> New, 1975: 255</p> <p> <i>Setopsocus hirsutus</i>, (New), Endang <i>et al.</i> 2002: 129 <b>Material examined</b> (all taken by beating): INDONESIA, SUMATRA, SE, Kayu Agung, rubber plantation, 20m, 1 male, 1 female, 20.I.1996, ESK; Punti Kayu, mixed secondary forest, 20m, 1 female, 25.I.1996. ESK; West, Bukit Barisan Selatan National Park, Palimpangan Liwa, cloves, 520m, 1 male, 1 female, 27.VI.1997, ESK; North, Gunung Leuser National Park, Blankejeren Rerebe, pines, 860m, 1 female, 4.VI.1997, ESK.</p> <p> <b>Remarks.</b> This species, described from Singapore, was found at low to middle elevations in Sumatra, and was previously known from middle elevations in East Java (Endang <i>et al.</i> 2002). The Sumatran specimens are clearly conspecific with those from Java, in having a subgenital plate with a short, rounded posterior lobe on which the sclerotisation differs from that of <i>S. magnus</i> Smithers & Thornton, from New Guinea.</p>Published as part of <i>Kentjonowati, Endang Sri, 2010, The genera Clematoscenea and Setopsocus (Psocoptera: Psocidae) in Sumatra, Indonesia, pp. 43-50 in Zootaxa 2431</i> on pages 46-48, DOI: <a href="http://zenodo.org/record/194707">10.5281/zenodo.194707</a&gt

    Trichadenotecnum rachimi Endang & Thornton 1992

    No full text
    <i>Trichadenotecnum rachimi</i> Endang & Thornton <p>(Figs 1S, 26)</p> <p> <i>Trichadenotecnum rachimi</i> Endang & Thonton, 1992: 363.</p> <p> <i>Trichadenotecnum arciforme</i>: New & Lee, 1992: 155. [Misidentification]</p> <p> [Not <i>Trichadenotecnum arciforme</i> Thornton, 1961: 11; Yoshizawa & Lienhard, 2004: 141. (Hong Kong)]</p> <p> [Not <i>Trichadenotecnum arciforme</i>: Thornton, 1984: 157. (Indonesia)]</p> <p> <b>Specimens examined.</b> [Singapore] 1 female, Botanic Gardens, Rain Forest, beating, 25m, 16.xii.1987, CL (MHNG); 1 female, See Soon, Rifle Range, Swamp Forest, beating, 18.xii.1987, CL (MHNG); 1 female, Botanic Gardens, 20–30m, 5.xii.1988, CL (SEHU).</p> <p> <b>Remarks</b>. Judging from the wing markings and female genitalia, the specimens listed above were identified as <i>T. rachimi</i>. This species was described originally from Lombok, Indonesia, and is here recorded from Peninsular Malaysia for the first time. The females examined here are also undoubtedly conspecific with the females recorded under the name of <i>T. arciforme</i> from Peninsular Malaysia by New & Lee (1992). However, the Malaysian females are clearly different from the female of <i>T. arciforme</i> described from Hong Kong (Yoshizawa & Lienhard, 2004). Female <i>T. arciforme</i> recorded from Bali and Lombok, Indonesia (Thornton, 1984) differs from both Malaysian and Hong Kong species recorded under the name.</p> <p> The short ventral valve of gonapophyses (Fig. 26B) strongly suggests that these females are closely related to <i>T. apertum</i> and its relatives. Among the species examined here, the females of <i>T. anomalum</i> and <i>T. cornutum</i> are unknown to date. <i>T. cornutum</i> is significantly larger than <i>T. rachimi</i> and has different forewing markings (Fig. 1Q and S) so that its conspecificity is less likely. <i>T. anomalum</i> and <i>T. rachimi</i> are significantly different in their forewing markings (Fig. 1R and S), although <i>T. anomalum</i> is known only from a single male and its intraspecific variation cannot be evaluated.</p>Published as part of <i>Yoshizawa, Kazunori, Lienhard, Charles & Abd, Idris, 2014, Trichadenotecnum species from Peninsular Malaysia and Singapore (Insecta: Psocodea: ' Psocoptera': Psocidae), pp. 469-500 in Zootaxa 3835 (4)</i> on page 494, DOI: 10.11646/zootaxa.3835.4.3, <a href="http://zenodo.org/record/4921623">http://zenodo.org/record/4921623</a&gt
    corecore