1,720,963 research outputs found
PERSPEKTIF TENTANG MAKNA BAIK DAN BURUK
Good and bad are antonyms words, which are used to judge or measure a state or thing and human actions. Values based on these measures are qualitative and global, so that they become areas of ethical study. Likewise in Islam these two terms become one of the central discussions in Islam, so that in the Koran many identical terms are often used, for example khoir and hasan, al-toyyib, while the bad terms use al-qubh and al-syar , al-sa and al-khobits, and among Muslim theologians, the terms good and bad are also one of the topics of his study, such as Mu'tazilah and Ash'ariah.
The concepts of good and bad in Ash'ariah theology, and Mu'tazilah have similarities and differences. The similarity is that the two schools agree that what is said to be good is what gives rise to good in the world, and in the hereafter, while the difference is in terms of the source of goodness. The Ash'ariah School, argues that the source of goodness is revelation from God, because only God is the only one who knows the effect of goodness, whereas according to the Mu'tazilah, the source of goodness is not only revelation, but also reason, because reason is a human resource that very large which gives instructions. Thus, good and bad in Islamic theology are very clear, because they come from revelation, but reason also becomes one of the sources when it does not conflict with revelation
Peranan Akal Terhadap Potensi Beragama
Manusia adalah makhluk yang memiliki berbagai potensi, diantara potensi-potensi tersebut adalah potensi beragama, dan potensi akal. Kedua potensi tersebut memiliki peranan sangat penting bagi kehidupan manusia. Potensi beragama sebagai potensi dasar bagikehidupan beragama, namun potensi beragama menjadi tidak berarti jika tidak ditupang oleh akal. Potensi beragama membutuhkan akal, dengan bimbingan akal potensi beragama berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan psiko fisik manusia. Meski tidak semua orang menggunakan potensi akalnya untuk mengembangkan potensi beragama, namun jika akal digunakan dalam hal hal yang berhubungan dengan agama, maka potensi beragama akan berkembang bahkan mampu menginternalisasikan nilai agama menjadi nilai pribadinya, sehingga nilai-nilai agama terealisasi dalam aktivitas manusia sehari-hari.
Potensi beragama adalah sebuah daya kemampuan manusia untuk hidup beragama, dikatakan sebagai potensi, karena daya tersebut masih tersimpan, belum termanivestasikan dalam sebuah keyakinan dan prilaku beragama. Potensi beragama membutuhkan petunjuk, yakni upaya-upaya pengembangan yang positif, jika tidak, maka potensi beragama akan berkembang secara liar. Perkembangan potensi beragama sangat tergantung kepada upaya pengembangan, Jika dikembangkan secara optimal, maka potensi beragama akan berkembang seiring dengan upaya-upayayang dilakukan dalam pengembangannya.
Pada dasarnya potensi beragama adalah sebuah keyakinan manusia terhadap Tuhannya sebagai pencipta (keyakinan tersebut dikategorikan kepada Tauhid Rububiyah), jika dikembangkan secara optimal akan berkembang pada sebuah system keyakinan yang puncaknya adalah menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya zat yang akan disembah (tauhid Uluhiyyah), namun jika tidak dikembangkan atau proses pengembangannya tidak relevan, maka potensi beragama akan berkembang pada perkembangan yang tidak relevan dengan agama yang sesuai dengan potensi beragama. Diantara unsur yang mampu menunjukkan/mengembangkan potensi beragama adalah akal.
Akal adalah sebuah potensi berfikir manusia yang mampu memikirkan berbagai obyek, baik yang konkrit, maupun abstrak, yang tersurat, maupun yang tersirat, akal tidak hanya mampu menerima dan memahami yang sudah ada, tetapi melalui kemampuan berfikirnya, akal dapat mengkaji dan meneliti hingga terbangunnya ilmu pengetahuan baru yang belum ditemukan sebelumnya. Hubungannya dengan potensi beragama, akal berperan sebagai petunjuk yang mampu mengembangkan potensi beragama yang ada pada dirinya. Dengan petunjuk akal manusia mampu mengetahui Tuhannya.
 
PERSPEKTIF AL-QUR'AN SURAT 66 AYAT 6 MENGENAI KEWAJIBAN INDIVIDU DALAM PENDIDIKAN
Surat at-Tahrim adalah salah satu surat yang ada dalam al-Qur’’an, yakni surat ke 66, terdiri dari 12 ayat, termasuk salah satu surat Madaniyah, demikian pula ayat ke 6, ia termasuk ayat Madaniyah, yang ditandai dengan khitobnya, yaitu ditujukan kepada orang-orang beriman. Khitob tersebut berisi tentaang perintah agar orang-orang berimaan menjaga/memelihara diri dan keluarganya dari neraka. Kata kerja menjaga dan memelihara termasuk kepada perbuatan mendidik, sehingga diasumsikan bahwa ayat al-Qur’an surat at-Tahrim ayat 6 berisi tentang Pendidikan. Tulisan ini bertujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam tafsir surat at-Tahrim secara khusus pada ayat 6, guna mendapatkan pemahaman pendidikan yang terkandung didalamnya. Pemahaman tersebut sangat penting mengingat al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia, khususnya bagi orang-orang beriman, dengan memahami isi yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an kita akan mendapatkan petunjuk di dalamnya guna diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk bidang Pendidikan. Dalam memahami al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6, penulis menggunakan studi pustaka untuk mengkaji berbagai penafsiran para ulama, sehingga sumber primernya adalah kitab tafsir seperti Ibnu Katsir, Tafsir Jalalain, dan sebagainya. Sedangkan sumber sekundernya adalah buku-buku ilmu pendidikan. Untuk memahami makna yang terkandung dalam al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6, merujuk kepada penjelasan ulama tafsir sebagaimana yang dijadikan sumber primer, sedangkan untuk memahami pendidikannya penulis menganalisisnya, melalui isyarat-isyarat yang terkandung di dalamnya, baik secara deduktif, maupun secara induktif. Hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa surat At-Tahrim ayat 6 berisi tentang perintah Allah SWT untuk menjaga diri/memelihara diri dan keluarga dari neraka. Karena menjaga termasuk pada aktivitas pendidikan, maka kandungan pendidikan yang terdapat dalam surat at-Tahrim ayat 6 berisi tentang perintah Allah SWT agar setiap orang mendidik dirinya dan juga mendidik keluarganya dengan tujuan agar terhindar dari neraka. Mendidik diri sendiri dilakukan dengan cara tha’at kepada Allah SWT dan mendidik keluarga dilakukan dengan cara mengajar dan mendidik mereka, mengingatkan dan wasiat, bahkan dengan cara memaksa mereka agar tha’at kepada Allah SW
KOMERSIALISASI PENDIDIKAN: Analisis Pembiayaan Pendidikan
Pembiayaan dalam konteks pendidikan adalah pembiayaan guna mendanai pengadaan seluruh unsur serta kegiatan yang dilakukan, sehingga seluruh program yang ditawarkan terlaksana dengan baik, terlebih pendidikan yang berkualitas, sebab untuk menghasilkan out put yang berkualitas dibutuhkan sistem dan proses yang berkualitas pula. Demgam demikian, pendidikan adalah aktivitas yang membutuhkan pembiayaan, namun demikian, pembiayaan pendidikan bukan berarti harus mahal, sebab pembiayaan pendidikan yang mahal belum tentu berkualitas. Pendidikan yang semula sebagai proses humanisasi dan transformasi sosial, kini telah mengalami distorsi, menjadi sebuah ladang komersial untuk mendapatkan dan menumpuk kekayaan secara private. Pembiayaan pendidikan memang ada, namun besar kecilnya pembiayaan pendidikan, tergantung kepada program dan kagiatan yang dilaksanakan, sebab hasil pendidikan tergantung pula pada keduanya. Mahalnya pembiayaan pendidikan yang tidak sebanding dengan mutunya, dapat disinyalir sebagai indikator upaya semata-mata untuk memperoleh profit, dan pada tataran tertentu dikategorikan kepada komersialisasi pendidikan. Dengan demikian, mahalnya pembiayaan pendidikan dapat disebabkan oleh dua Faktor. Pertama, mahal karena pembiayaan pendidikan, seperti karena pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menjalankan proses pendidikan guna menghasilkan mutu pendidikan berkualitas. Kedua mahalnya pembiayaan pendidikan karena komersialisasi. Komersialisasi pendidikan dapat terjadi karena berbagai paktor, diantaranya adalah akibat dari idiologi kapitalisme liberalisme, mentalitas sumber daya manusia, pemberian otonomi pembiayaan sebahagian atau seluruhnya kepada lembaga pendidikan sehingga memberikan peluang yang lebar untuk menarik pembiayaan pendidikan guna kepentingan mendapat profit semata-mata
POTENSI KEPRIBADIAN (FAKTOR ESSOTERIS PEMBENTUK KEPRIBADIAN)
Kepribadian adalah istilah dalam psikologi, yang digunakan untuk menggambarkan keseluruhan prilaku individu dalaminteraksi sosial, baik dalam bentuk perasaan, berfikir,bersikap, berkehendak, maupun dalam bentuk perbuatan, yang dilakukan secara konsisten dan cenderung menetap, yang menjadi ciri khas individu yang membedakan dengan yang lain. Kepribadian setiap orang antara yang satu dengan yang lainnya berbeda, meski berasal dari lingkungan yang sama, karena adanya faktor defferensiasi secara individualistik, baik secara psiko-fisik, sosial, maupun secara empiris. Tujuan penulisan adalah untuk mengungkap faktor-faktor essoteris yang membentuk kepribadian, dengan berdasarkan pendapat para ahli, sebagaimana yang terdapat dalam buku-buku yang membahas kepribadian serta yang membahas faktor-faktor yang membentuknya. Analisis dilakukan dengan mengumpulkan bahan-bahan dari berbagai sumber baik primer, maupun sekunder, serta menggunakan teknik penalaran induksi dan deduksi. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor essoteris yang membentuk kepribadian mencakup ruh, qolb, akal dan nafs. Keempat unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, bahkan satu sama lain saling mempengaruhi, sehingga dalam mewujudkan prilaku-prilaku yang diinginkan, satu sama lainnya memiliki ketergantungan. Jika prilaku-prilaku tersebut dilakukan secara konsisten, yang seolah-olah menetap, maka terbentuklah suatu kepribadian individu yang berbeda dengan yang lainnya. Kepribadian yang terbentuk sangat tergantung kepada pengalaman hidupnya, baik yang dilihat, didengar, yang dirasakan, maupun yang pernah dilakukannya, semua pengalaman hidup tersebut bukan hanya mewarnai bahkan semuanya ikut membentuk kepribadian. Untuk mewujudkan kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam, individu hendaknya diberikan pengalaman hidup yang sesuai dengan ajaran Islam semenjak dini, sebab kepribadian itu cenderung menetap, kalaupun terjadi perubahan, harus ada faktor yang memberikan pengaruh yang lebih kuat, sehingga individu mampu merubah tradisi prilaku yang sudah terbisa dilakukanny
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM SISTEM PENDIDIKAN ISLAM: Studi Di Pesantren Modern di Banten
Pendidikan multikultural di pesantren Al-Manshur Darunnajah sudah dilaksanakan semenjak berdirinyanya pesantren tersebut. Hal ini didasarkan kepada kurikulum pendidikan yang digunakan di pesantren al-Manshur Darunnajah 3 ciomas Serang Banten yang menggunakan dua sistem kurikulum, yakni kurikulum yang ditentukan berdasarkan PERMENDIKNAS dan kurikulum yang dibuat oleh pesantren yang dipergunakan untuk di lingkungan pesantren Darunnajah.Pendidikan multikultural dalam sistem pendidikan Islam dilaksanakan, bukan hanya sekedar kebutuhan peserta didik atau kondisi sosial masyarakat yang multikultural, melainkan lebih karena ajaran Islam yang mengandung ajaran tentang multikultural, sehingga pelaksanaannya lebih disebabkan sebagai upayapengamalan ajaran Islam. Hasil pendidikan multikultural di pesantren al-Manshur Darunnajah, belum maksimal. Hal ini terbukti bahwa peserta didik lebih memahami tentang multikultural antar umat beragama dari pada memahami multikultural interen beragama, padahal memahami multikultural intern beragama harus lebih diutamakan, sebab para santri/peserta didik akan lebih banyak hidup bersama yang seagama dari pada yang berbeda agama, sehingga multikultural interen umat beragama lebih ditemukan daripada multikultural antar umat beragama
METODE MENDIDIK (Analisis Kandungan Al-Qur’an Suroh Al-Nahl Ayat 125)
Al-Qur’an suroh al-Nahl ayat 125 diturunkan di Mekah bersamaan dengan ayat sesudahnya, yaitu setelah terjadi peristiwa Perang Uhud, yang mengakibatkan banyaknya syuhada yang gugur dan salah satunya adalah paman Rasulullah SAW yaitu Hamzah. Ayat al-Qur’an tersebut berisi tentang metode yang harus digunakan dalam berda’wah, agar da’wah dapat berlangsung dengan baik dan tujuan tercapai secara efektif. Menurut al-Qur’an suroh al-Nahl ayat 125, terdapat tiga macam metode yang harus digunakan dalam berda’wah, yaitu bi al-hikmah, mau’izoh al-hasanah, dan wa jadilhum bi al-lati hiya ahsan. Bi al-hikmah adalah cara atau metode yang bijak, lemah lembut, atau tidak secara kasar; mau’izoh al-hasanah berarti pepatah atau nasihat yang baik, menyentuh perasaan, sehingga mampu menyadarkan orang yang mendengarnya; dan jadilhum bi al-lati hiya ahsan yaitu diskusi yang lebih baik, yaitu berlandaskan argumentasi yang kuat, baik secara akli maupun nakli, yang dalam penyampaiannya juga secara santun atau lemah lembut. Metode-metode tersebut tidak hanya digunakan untuk berda’wah secara khusus, tetapi juga dalam proses pendidikan, sebab pada keduanya terdapat konstelasi yang menunjukkan adanya persamaan, yaitu tujuannya, dimaana keduanya dilakukan dalam rangka untuk menyeru dan menyadarkan manusia menuju jalan Allah atau beribadah kepada Allah SWT.
Kata kunci: Metode, Mendidik , al-Quran,
Abstract. Al-Qur'an suroh al-Nahl verse 125 was revealed in Mecca together with the following verse, namely after the Ummud war, which caused many martyrs to be killed at that time and one of them was the uncle of the Prophet Muhammad. namely Hamzah. Ayat al-Qur'an contains methods that must be used in proselytizing, so that the ministry goes well and achieves its objectives effectively. According to the Qur'an, sura al-Nahl verse 125, there are three kinds of methods that must be used in preaching, namely, as understood from the meanings contained in the sentence bi al-hikmah, mau'izoh al-hasanah and from the sentence wa jadilhum bi al lati hiya ahsan. Bi al-hikmah, can be understood as a method or method that is wise, or meek not roughly, mau'izoh al-hasanah means a saying or good advice, which is touching so as to awaken the person who hears it, and so bi bi lati hiya ahsan, which is a better discussion, which is based on strong argumentation, both in accreditation, and nakli, which in its delivery is also polite or gentle These methods are not only used to underlie specifically, but also in the educational process, because in both of them there is a constellation that shows the equality, that is, in its purpose, that is, both are carried out in order to call upon and make people aware of God's way or worship to Allah SWT.
Keywords: method, mendidik, Al-qur,a
FOKUS ORIENTASI PENDIDIKAN ISLAM: Studi Terhadap Potensi Nafs
Nafs berarti jiwa yaitu unsur psikhis manusia yang sangat potensial, menurut fithrohnya, nafs adalah suci, namun memiliki dua kekuatan yang seimbang, yakni yang membawa pada fujur dan yamg membawa kepada perbuatan-perbuatan taqwa, dan perbuatan yang dilakukan oleh manusia akan berdampak pada kondisi nafs, sehingga nafs yang menurut fithrohnya bersih, suci dapat berubah menjadi kotor atau tetap dalam kesuciannya.Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia, serta dinamika kehidupan manusia, nafs juga mengalami dinamika secara labil, terkadang kearah baik, terkadang kearah buruk, terkadang seimbang terkadang salah satunya memiliki kekuatan secara konsisten. Kondisi seperti itu berpengaruh terhadap arah prilaku manusia, sehingga prilaku manusia terkadang baik, terkadang buruk terkadang buruk, bahkan terkadang konsisten pada salah satunya.Kondisi nafs berpengaruh terhadap kepribadian manusia, sehingga kepribadian manusia dapat dikategorikan kepada kepribadian yang zolim li al-nafsih muqtashid serta kepribadian yang fastabiq al-khoirot. Kepribadian yang zolim li al-nafsih didorong oleh nafs sayyi’ah, kepribadian muqtashid didorong oleh nafs lawwamah, sedangkan kepribadian fastabiq al-khoirot didorong oleh nafs muthma’innah dan kepribadian fastabiq al-khoirot adalah kepribadian yang menjadikan nafs eksis dalam kesuciannya sehingga disebut nafs muthmainnah.Pendidian Islam adalah pendidikan yang berupaya Untuk membentuk kepribadian yang baik dan kepribadian yang baik adalah kepribadian yang fastabiq al-khoirot, yakni yang senantiasa melakukan kebajikan-kebajikan. Untuk mencapai kepribadian tersebut, pendidikan harus menguatkan potensi berbuat baik pada nafs, yakni dengan membiasakan melakukan kebaikan-kebaikan dan menghalngi peserta didik dari melakukan perbuatanperbuatan yang buruk, sebab akan menimbulkan kebiasaan dan akan menguatkan potensi berbuata jahat peserta didik, sehingga potensi berbuat jahat memilikidaya yang lebih kuat dan akan mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk
Implikasi Al-Quran Suroh Al-Mu‘minun Ayat 13-14 Terhadap Pendidikan
Dalam perspektif ahli pendidikan, yang paling pertama dan paling utama yang harus dilakukan oleh orang tua terhadap anak adalah pendidikan. Oleh karena itu pendidikan terhadap anak harus diberikankan semenjak dini, namun tidak semua orang memiliki perspektif yang sama, sehingga pendidikan sering terabaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap awal periode pendidikan dan aspek pendidikan yang terkandung dalam al-Qur’an, khususnya dalam suroh al-Mu’minun ayat 13-14. Kajian ini menjadi penting, mengingat al-Qur’an adalah sumber pokok ajaran Islam yang pertama dan utama, dan suroh al-Mu’minun ayat 13-14 adalah diantara ayat-ayat al-Qur’an yang jadi landasan dalam memahami proses penciptaan manusia, sedangkan pendidikan juga harus memperhatikan aspek manusia. Tujuan penulisan adalah untuk mengungkap isi kandungan al-Qur’an suroh al-Mu’minun ayat 13-14, guna keperluan mendapatkan kejelasan teori pendidikan yang dapat dipahami sebagai implikasi dari makna yang terkandung dalam suroh al-Mu’minun ayat 13-14, dengan pertimbangan bahwa suroh al-mu’minun memberikan petunjuk tentang proses penciptaan manusia. Karena pendidikan harus memperhatikan manusia (peserta didik), maka kandungan ayat tersebut dapat dijadikan sebagai acuan dalam proses pendidikan. Hasil kajian terhadap ayat al-Qur’an suruh al-Mu’minun ayat 13-14 dipahami bahwa manusia diciptakan dari dua unsur. Pertama unsur materi, yaitu unsur yang membentuk fisik/jasmaniah manusia. Materi tersebut adalah nuthfah yang berasal dari sari pati tanah (sulalah min thin). Nuthfah yang bakal tumbuh menjadi embrio (janin) adalah yang sudah terjadi integrasi/pembuahan dari sperma dan ovum. Nuthfah tumbuh berkembang dan berubah menjadi alakoh dan kemudian menjadi mudhgoh, kemudian membentuk izom dan kemudian menjadi lahm. Periode tersebut dinamakan sebagai periode ovum (periode nuthfah), sebab pada saat itu sudah mulai terjadinya pertumbuhan dan perkembangan sehingga membutuhkan perawatan. Berdasarkan proses kejadian tersebut, pendidikan fisik (jasmani) harus dimulai semenjak terjadinya pembuahan, Pendidikan yang diberikan adalah pendidikan yang terfokus pada pemeliharaan fisik, dengan tujuan agar janin tetap sehat dan kuat sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara normal. Pendidikan tersebut dinamakan pendidikan tidak langsung (indirect). Unsur kedua adalah unsur immateri, yang membentuk psikhis/ruhiyah manusia. Ruh merupakan ciptaan Alloh sebagai daya hidup manusia, sehingga manusia mampu menggunakan potensinya. Ruh ditiupkan kepada janin ketika berusia 120 hari, sehingga janin menjadi hidup, memiliki pendengaran, penglihatan, serta indera yang menangkap pengertian, gerakan dan sebagainya. Berdasarkan proses kejadian tersebut, pendidikan ruhiyah hendaknya segera dilaksanakan semenjak terintegrasi ruh kepada janin, pendidikan tersebut diberikan dalam rangka mengembangkan potensi ruhani (psikhis) anak, sebab jika ruh sudah diintegrasikan, janin menjadi hidup dan seluruh potensi psikhis (ruhani) manusia mulai berkemban
Relasi Al-Qur’an Suroh Al-’Alaq Dengan Pendidikan
Suroh al-‘Alaq ayat 1-5 adalah wahyu yang pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sejatinya, suroh tersebut syarat dengan pendidikan, mengingat waktu itu Nabi Muhammad SAW. sangan membutuhkan bimbingan, terlebih jika dikaitkan dengan tanggungjawabnya, karena Beliau dipersiapkan untuk menjadi seorang Rosul, terutama dalam-hal-hal yang yang berhubungan dengan kompetensinya sebagai seorang Rosul, Tulisan ini bertujuan untuk memahami kandungan suroh al-‘Alaq khususnya ayat 1-5, untuk memahami pendidikan yang terkandung didalamnya. Pemahaman tersebut menjadi penting guna dijadikan referensi dalam kajian ilmu teoritis, dansebagai Langkah prakttik dalam rangka implementasi pendidikan sesuai al-Qur’an. Dalam memahami al-Qur’an suroh al-‘Alaq ayat 1-5, penulis menggunakan studi dokumentasi, dengan menggunakan metode deduktif dan induktif, yang berusaha memahami Pendidikan yang terkandung dalam al-Quran suroh al-‘Alaq ayat 1-5, melalui literatur yang ada, seperti kitab-kitab tafsir hasil karya para ulama terdahulu, dan buku-buku pendidikan yang merupakan buah karya para ahli pendidikan. Dalam penulisan ini, penulis juga mengumpulkan berbagai pendapat dari para ahli dan kemudian dianalisis serta keterkaitannya dengan Pendidikan, selanjutnya dibuat kesimpulan. Turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. dengan diawali asbab nuzulnya, telah menggambarkan bagaimana proses Pendidikan dan pembelajaran berlangsung, Proses pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa, pada dasarnya proses pembelajaran harus menekankan kepada proses pembelajaran active atau aktiv learning, meski pada akhirnya berakhir pada guru, namun paling tidak telah memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan secara mandiri. Dari sudut kandungannya, suroh al-Alaq ayat 1-5 berisikan tentang jenis dan media pendidikan. Adapun jenis pendidikan yang terkandung di dalamnya mencakup pendidikan intelektual atau pendidikan akal pendidikan akidah, dan pendidikan tauhid, yakni tauhid rububiyah, serta pendidikan keterampilan membaca dan menulis, sedangkan sumber belajarnya adalah mencakup segala yang ada di alam semesta, baik yang tersurat, maupun yang tersirat, termasuk manusia
- …
