235 research outputs found

    Penyelamatan Tanah, Air, dan Lingkungan / Sitanala Arsyad dan Ernan Rustiadi

    No full text
    Berbagai tulisan beberapa ahli di bidang ilmu tanah, air dan lingkungan yang menjadi materi presentasi diberbagai seminar/lokakarya tertuang dalam buku ini. Adapun topik yang dibahas mengenai berbagai aspek tentang kerusakan sumber daya lahan, air dan lingkungan serta tindakan yang diperlukan untuk mengatasi akibat dan dampak kerusakan.Diungkapkan bahwa dalam mengatasi akibat dan dampak kerusakan ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, melainkan juga oleh masyarakat umum, karena masyarakatlah yang secara langsung menanggung akibatnya. Upaya upaya penanggulangan yang dilakukan tidak hanya dari aspek fisiknya saja akan tetapi juga meliputi aspek sosial, ekonomi dan perundang-undangan. Untuk maksud tersebut diperlukan pemahaman mengenai penyebab, aspek-aspek yang mempengaruhi terjadinya kerusakan dan tindakan yang harus diambil untuk menyelamatkan tanah, air dan lingkungan kita.Buku ini terdiri dari 3 (tiga) bagian dimana pada bagian pertama mengetengahkan manajemen sumber daya lahan dalam usaha pertanian berkelanjutan; pentingnya konservasi sumberdaya lahan; pemanfaatan lahan berbasis rencana tata ruang sebagai upaya perwujudan ruang hidup yang nyaman, produktif dan berkelanjutan; aspek keagrariaan dalam pengelolaan tanah; dan urgensi pengembangan lahan pertanian pangan abadi alam perspektif ketahanan pangan.Dibagian kedua membahas beberapa dimensi masalah sumberdaya air kearah pengelolaan optimal; konservasi tanah dan air dalam penyelamatan sumberdaya air; efisiensi pemanfaatan sumberdaya air: suatu tinjauan dari sisi agroklimat dan hidrologi; dan pengelolaan ekosistem mata air, sedangkan dibagian ketiga tentang sumberdaya alam dan lingkungan

    Evaluation of Land Capability to Land Use/Cover and Local Spatial Plan (Case Study Sub-Watershed Upstream Ciliwung).

    No full text
    In Act No. 26 of 2007 on Spatial Planning, allocation of space utilization at regional Provincial and District/City Spatial Plan must consider the supportive and carrying capacity of the environment (Rustiadi et al., 2010). An increasing number of population has implications in the increasing land demand on the Puncak Area, Sub watershed Upstream Ciliwung to accommodate a variety of human activities. Therefore there are many conversion of land into a developed region. This study aims to evaluate the inconsistencies of existing land use against the allotment of land according to Bogor District Spatial Planning (RTRW) Year 2005-2025, to evaluate the incompatibility of existing land use against the land capability, and to evaluate the mismatch of allotment of land according to Bogor District Spatial Plan Year 2005-2025 against the land capability. In this study, the determination of land capability map is conducted using Boolean techniques which later overlayed according to the combination of parameters and analyzed descriptively. Area of land use that is inconsistent with allotment land of 3608.05 ha (24.70% of the total land area). The highest inconsistency on land allotment are in production forest area, while the land use which most inconsistent is shrubs. Area of land use that is not appropriate to land capability are in wide of 4863.18 ha (33.34% of the total land area). The widest incompatibility of land capability are on the land class III, while the use type with highest level of inconsistency to land capability are settlement and grass/bare land. Area of allotment land that is not appropriate to land capability are in wide of 3985 ha (27.32% of the total land area). Land capability class with highest level of inconsistency rate are the land classes II and III, while the allotment of land with highest rate of unsuitability is settlement area.Dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, alokasi pemanfaatan ruang pada rencana tata ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota harus memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan (Rustiadi et al., 2010). Peningkatan jumlah penduduk berimplikasi pada peningkatan kebutuhan lahan pada Kawasan Puncak, Sub DAS Ciliwung Hulu untuk mewadahi berbagai aktivitas manusia dalam melangsungkan kehidupannya. Di sisi lain, ketersediaan lahan relatif terbatas. Sehingga tidak mustahil jika banyak terjadi konversi lahan menjadi kawasan terbangun. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi inkonsistensi penggunaan lahan eksisting terhadap peruntukan lahan RTRW Kabupaten Bogor Tahun 2005-2025, mengevaluasi ketidaksesuaian penggunaan lahan eksisting terhadap kemampuan lahan wilayah, serta mengevaluasi ketidaksesuaian peruntukan lahan RTRW Kabupaten Bogor Tahun 2005-2025 terhadap kemampuan lahan wilayah. Dalam penelitian ini, penentuan peta kemampuan lahan dilakukan menggunakan teknik Boolean yang selanjutnya dioverlay sesuai kombinasi parameter dan dianalisis secara deskriptif. Luas penggunaan lahan yang inkonsisten terhadap peruntukan lahan sebesar 3608,05 Ha (24,70 % dari total luas wilayah). Inkonsistensi peruntukan lahan tertinggi pada hutan produksi, sedangkan penggunaan lahan yang inkonsisten tertinggi adalah semak belukar. Luas penggunaan lahan yang tidak sesuai terhadap kemampuan lahan sebesar 4863,18 Ha (33,34 % dari total luas wilayah). Ketidaksesuaian kemampuan lahan tertinggi pada lahan kelas III, sedangkan penggunaan lahan yang tidak sesuai tertinggi adalah pemukiman dan rumput/tanah kosong. Luas peruntukan lahan yang tidak sesuai terhadap kemampuan lahan sebesar 3985 Ha (27,32 % dari total luas wilayah). Ketidaksesuaian kemampuan lahan tertinggi pada lahan kelas II dan III, sedangkan peruntukan lahan yang tidak sesuai tertinggi terjadi untuk kawasan permukiman

    Kesenjangan Persepsi dan Pemahaman Indikator Pembangunan Berkelanjutan dalam Perencanaan Wilayah di Kota Sukabumi

    No full text
    The purpose of the development is to increase the society prosperity can’t be avoided by the nature resources using: however nature resources exploitation which less attention to the capability and environment support make it’s quality decline. Sustainable development must be put as a need and now and future aspiration. Thus, the human right as economy, social and culture right, and development right is able to assist to make the development concept formula orientation continuity clear. The purpose of sustainable development could be achieved if the development planning has been got by the continuity principle of it, beside it should be understood/comprehended by the whole sides because it will participate both in planning and its application. Sukabumi is one of the city which rate growth of population getting increase. The rate of growth population about 1,31% pe annum, so it should be anticipated because the large of Sukabumi is only 4.800,23 Ha. Although Sukabumi is not too large but the population grow fastest. If there is no wise arrangement it will appear the ecological suicide like worried by Simonds (1986). Thus, the generation needed should be anticipated optimally by consideration the future needed. The continuity and balance city planning should be begun from the same perception and stakeholder or society comprehension in Sukabumi. The research purpose are following: 1) identify the perception and the comrehension of sustainable development principle from stakeholder and society in Sukabumi, 2) identify the sustainable development principle in planning document in Sukabumi, 3) analysis the indicator achievement of sustainable development, 4) analysis if there is an imbalance/gaps or not among the research result 1, 2, and 3. The result of research indicated that there is a perception imbalance and comprehension in indicator of sustainable development not only from stakeholder and society but also in planning document in Sukabumi. Imbalance indicated that it should be a performance increased in improving the actual performance, so that it seems like a feedback for getting better on future. The result of research indicated that the sustainable development principle has not become mainstreaming in planning document in sukabumi. However in Sukabumi there was an indicator achievement of sustainable development conspicuous than others city such as in education, health and water resources theme

    Analisis Dampak Otonomi Daerah Terhadap Pembangunan Manusia (Human Capital) Di Provinsi Gorontalo

    No full text
    Every regional proliferation as an attempt in the implementation of regional autonomy is essentially based on the Regional Autonomy Regulation No.32/2004 with the goal to achieve the social welfare. However, this effort is not without obstacles; various kinds of development problems are faced by all regions in Indonesia. The main indicator in the realization of social welfare can be seen from the extent of the role of local government in improving human development. This was also the case with the experience of Gorontalo Province at the post-regional autonomy period, marked by the proliferationn of Gorontalo from its parent Province of North Sulawesi. The various human development issues as the conclusions of this study are strongly influenced by the following various factors. By using the panel data methods to determine the factors that affect Human Development Index (HDI) before and after the regional autonomy, the study obtained the result that the Human Development Index of Gorontalo Province was affected by the high percentage of poor people, a factor that determined the low level of HDI in the province. In addition, the poor health facilities such as hospitals, maternity hospital, health centers and supporting health center, health care workers such as doctors and medical personnel also influenced the HDI in this "Corn" Province. Further, the educational facilities such as the buildings of elementary schools, junior and senior high schools did not have an effect on HDI in the Province of Gorontalo but other aspects such as the quality of teaching staffs (teachers and lecturers) might well affect the level of HDI, whereas the economic growth rate turned out to affect the HDI of Gorontalo Province. This study also found that the literacy rate and the net participation rate did not affect the level of HDI in the province, but the rough participation rate and the school participation rate did. Then, the educational, health and economic budgets could essential affect HDI, but in this study it was found that only the health budget had a significant impact on the HDI of Gorontalo Province, whereas the educational and economic budgets did not significantly do so

    Analisis Potensi Pengembangan Kawasan Agropolitan Distrik Cilimus Berbasis Agribisnis Komoditas Ubi Jalar di Kabupaten Kuningan

    Full text link
    Masterplan Agropolitan Kabupaten Kuningan Tahun 2005, mengidentifikasi bahwa Distrik Cilimus sebagai distrik prioritas pengembangan dengan salah satu komoditi unggulan utamanya adalah komoditi ubi jalar dengan tingkat produksi mencapai 100 ribu ton/tahun. Distrik adalah istilah dalam agropolitan, yang menunjukkan suatu pengembangan kawasan yang tidak dibatasi oleh batas administrasi. Distrik Cilimus meliputi 9 kecamatan, yaitu Cilimus, Pancalang, Mandirancan, Cigandamekar, Cipicung, Japara, Jalaksana, Cipicung dan Karamatmulya

    Dampak Program Pembangunan Terpadu Desa/Kelurahan Terhadap Perekonomian Nusa Tenggara Timur

    No full text
    Program pembangunan terpadu desa/kelurahan mandiri “anggur merah” (anggaran untuk rakyat menuju sejahtera) merupakan program Gubernur Nusa Tenggara Timur yang memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mengakses faktor produksi yaitu modal finansial dan kebebasan untuk memilih usaha ekonomi sesuai dengan potensi wilayah dan kemampuan masyarakat. Dengan kemudahan tersebut, diharapkan masyarakat miskin mampu untuk keluar dari lingkaran kemiskinan dan dapat meningkatkan ekonomi wilayah. Namun, dalam pelaksanaanya ditemukan adanya kendala yaitu tingkat pengembalian bantuan modal finansial yang rendah. Tujuan penelitian ini menganalisis dampak dari program pembangunan terpadu desa/kelurahan terhadap rumah tangga (pendapatan rumah tangga dan pengeluaran untuk pendidikan) dan dampak terhadap ekonomi wilayah (PDRB dan tingkat kemiskinan). Dampak program pembangunan pada pendapatan rumah tangga dan pendidikan dianalisis dengan uji beda dan regresi logistik sedangkan dampak pada wilayah dianalisis menggunakan model data panel. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan pendapatan antara rumah tangga penerima bantuan dengan rumah tangga bukan penerima. Hal ini disebabkan karena masih minimnya pemahaman penerima bantuan terkait dengan program pembangunan serta ketidakmampuan rumah tangga miskin dalam membayar bunga. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa secara statistik, pendapatan rumah tangga mempengaruhi keputusan dalam menyekolahkan anak. Kenaikan pendapatan rumah tangga sebesar 1 rupiah akan meningkatkan peluang rumah tangga untuk menyekolahkan anak 34,43 kali, citerus paribus. Hasil analisis model data panel menunjukkan bahwa realisasi bantuan modal finansial dari program pembangunan terpadu desa/kelurahan untuk usaha pertanian, simpan pinjam, perdagangan dan jasa, serta jumlah penduduk brepengaruh positif terhadap PDRB Provinsi NTT. Bantuan program untuk simpan pinjam berdampak signifikan terhadap pengurangan kemiskinan di Provinsi ini, sebalikanya bantuan modal untuk ternak berpengaruh negatif terhadap pengurangan kemiskinan

    Perubahan Penggunaan Lahan dan Pengaruhnya terhadap Kejadian Banjir serta Longsor di Wilayah Mega-Urban Jakarta-Bandung.

    No full text
    Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat khususnya di kawasan perkotaan menyebabkan bertambahnya kebutuhan akan lahan. Pada sisi lain, luas lahan di suatu wilayah relatif tidak akan bertambah. Meningkatnya kebutuhan akan lahan tersebut mendorong terjadinya kegiatan alih fungsi lahan, terutama perubahan dari lahan-lahan bervegetasi ke lahan terbangun. Kegiatan alih fungsi lahan yang tidak terkendali dapat menimbulkan penurunan kualitas lingkungan yang berakibat pada terjadinya masalah-masalah lingkungan bahkan bencana antropogenik seperti banjir dan longsor. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis perubahan-perubahan penggunaan lahan, (2) memetakan sebaran area yang terdapat kejadian banjir serta longsor di wilayah mega-urban Jakarta-Bandung, dan (3) menganalisis pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap meningkatnya kejadian bencana antropogenik di wilayah mega-urban Jakarta-Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis tumpang tindih peta penggunaan lahan tahun 1983, 1996, 2000, 2005, 2010, dan 2015, analisis spasial sebaran area kejadian banjir dan longsor, serta analisis regresi logistik. Perubahan penggunaan lahan yang signifikan terjadi dari tahun 1983 hingga 2015 adalah perubahan penggunaan lahan terbangun, sawah, dan lahan terbuka. Lahan terbangun terus mengalami peningkatan sementara sawah dan lahan terbuka terus mengalami penyusutan luas. Penggunaan lahan-lahan yang bervegetasi seperti sawah dan kebun campuran umumnya dikonversi menjadi lahan terbangun. Jumlah desa yang mengalami kejadian banjir dan longsor cenderung meningkat tiap tahunnya dari tahun 2000 hingga tahun 2013. Setiap penggunaan lahan yang berubah menjadi lahan terbangun secara signifikan mempunyai peluang yang paling besar dalam peningkatan kejadian banjir, sedangkan setiap penggunaan lahan yang berubah menjadi sawah dan badan air secara signifikan mempunyai peluang yang lebih sedikit

    Analisis Spasial Penyebaran Fasilitas-Fasilitas Pelayanan Dan Tingkat Efisiensi Pelayanan Desa (Studi Kasus Kawasan Perencanaan Agropolitan Zona 1 Kabupaten Bogor Bagian Barat)

    No full text
    Keberhasilan pengembangan kawasan agropolitan tidak hanya ditentukan oleh sisi produksi pertanian melainkan juga aspek sosial ekonomi dan tata ruang kawasannya. Secara fisik dan spasial perkembangan agropolitan dapat dilihat dari perkembangan aspek fasilitas pelayanan baik dari segi jumlah, sebaran dan tingkat efisiensi pelayanannya. Penelitian ini bertujuan untuk menduga tingkat efisiensi pelayanan desa yang didasarkan atas parameter tingkat hirarki pelayanan, aksesibilitas internal wilayah, jangkauan pelayanan fasilitas, dan efisiensi sebaran fasilitas. Metode yang digunakan antara lain adalah metode skalogram dan analisis spasial. Metode skalogram digunakan untuk mengetahui tingkat hirarki pelayanan desa. Sedangkan analisis spasial yang digunakan adalah analisis bentuk wilayah (Compactness Index) yang ditujukan untuk mengetahui indikasi potensi aksesibilitas internal wilayah, metode pendugaan pemusatan dan dispersi (Spatial Standard Distance) untuk mengetahui pola sebaran fasilitas dan jangkauan pelayanan, dan analisis pusat sebaran (Mean Center) untuk mengetahui jarak antara sebaran fasilitas dengan sebaran pemukiman untuk menduga efisiensi sebaran fasilitas. Penggabungan dari keempat parameter tersebut akan menunjukan tingkat efisiensi pelayanan desa

    Perubahan Penggunaan Lahan dan Keragaman Spasial Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Perkotaan di Metropolitan Bandung.

    No full text
    Metropolitan Bandung merupakan kawasan metropolitan dengan jumlah populasi terbanyak ketiga di Indonesia setelah Metropolitan Jakarta dan Metropolitan Surabaya dengan jumlah populasi lebih dari 8,5 juta pada tahun 2015. Adapun posisi strategis Metropolitan Bandung yang memiliki koneksi langsung dengan Jakarta serta merupakan pusat kegiatan di Provinsi Jawa Barat berpengaruh terhadap pertumbuhan kota yang ekspansif yang berakibat pada peningkatan tingkat perkembangan wilayah dan perubahan penggunaan lahan. Perubahan penggunaan lahan yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kondisi sprawl dan degradasi lingkungan, yang mengakibatkan bencana antropogenik seperti banjir dan tanah longsor. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) menganalisis perubahan penggunaan lahan khususnya yang terkait dengan fenomena pertumbuhan perkotaan di Metropolitan Bandung; (2) menganalisis tingkat perkembangan wilayah; (3) menganalisis keragaman jenis penggunaan lahan di Metropolitan Bandung; (4) mengidentifikasi keragaman spasial faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan luas lahan terbangun di Metropolitan Bandung. Penggunaan lahan diklasifikasikan secara visual menggunakan software Erdas Imagine dan Arc-GIS. Tingkat perkembangan wilayah dianalisis menggunakan nilai IPK yang diperoleh dengan teknik skalogram. Keragaman jenis penggunaan lahan dianalisis menggunakan analisis entropy, sedangkan keragaman spasial faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan luas lahan terbangun diidentifikasi menggunakan analisis GWR. Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan selama periode tahun 1983-2015 di Kawasan Metropolitan Bandung berupa lahan terbangun dan kebun campuran terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara lahan sawah terus mengalami penurunan. Dalam kurun waktu 2003 – 2014, terdapat peningkatan nilai Indeks Perkembangan Kecamatan yang menunjukkan terjadi peningkatan jumlah jenis fasilitas. Keragaman jenis penggunaan lahan di wilayah administrasi kabupaten cenderung heterogen yang mencerminkan tipe penggunaan lahan campuran, sedangkan keragaman jenis penggunaan lahan di wilayah administrasi perkotaan cenderung homogen. Hasil analisis GWR menunjukkan bahwa masing-masing variabel memberikan pengaruh yang berbeda di masingmasing lokasi. Variabel kepadatan penduduk berbanding lurus terhadap peningkatan persentase luas lahan terbangun, variabel kepadatan penduduk memiliki pengaruh yang besar di Kabupaten Bandung Barat. Variabel jarak ke Kota Bandung, persentase luas sawah, persentase luas hutan, jarak ke jalan tol berbanding terbalik terhadap peningkatan persentase luas lahan terbangun namun memiliki kecederungan sebaran spasial yang berbeda-beda di masing-masing lokasi. Variabel persentase luas lahan sawah dan luas lahan hutan memiliki pengaruh yang tinggi di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung di bagian utara. Variabel jarak ke jalan tol paling berpengaruh di Kabupaten Bandung bagian barat. Sedangkan pengaruh variabel IPK terhadap peningkatan persentase luas lahan terbangun bervariasi di setiap lokasi penelitian. Variabel IPK memiliki pengaruh positif atau berbanding lurus dengan peningkatan luas lahan terbangun di Kabupaten Bandung Barat bagian barat. Sehingga meningkatnya jumlah fasilitas dapat berpotensi untuk meningkatkan luas lahan terbangun di Kabupaten Bandung Barat
    corecore