1,721,008 research outputs found
UBUNGAN KEBERADAAN LARVA DI KONTAINER SEKITAR RUMAH TANGGA DENGAN KEJADIAN DHF DI RUMAH SAKIT ISLAM SUNAN KUDUS
Latar belakang: Hampir setiap tahun, di bulan-bulan tertentu, selalu saja ada berita tentang kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Menurut cacatan Departemen Kesehatan RI, pada tahun 2007 telah terjadi kasus DBD sebanyak 139.695 kasus dengan 1397 orang meninggal di seluruh Indonesia. Ini artinya kurang lebih 10% dari pasien DBD meninggal dunia. Banyak wilayah di Indonesia yang merupakan wilayah endemikDBD, di mana terjadi kasus DBD yang berulang-ulang setiap tahun. DBD merupakan salah satu penyakit penting di Indonesia dan memerlukan penanganan yang menyeluruh dan integral,agar penyakit ini tidak lagi menimbulkan banyak korban jiwa. Dari hasil survey pendahuluan yang dilakukan di RSI Sunan Kudus pada bulan April diperoleh hasil 94 penderita, kemudian diambil sampel dari 10 penderita DHF ada 9 orang yang dirumahnya terdapat Larva Tujuan : tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara keberadaan larva di kontainer sekitar rumah tangga dengan kejadian DHF di RSI Sunan Kudus dan Tujuan khusus dari penelitian ini adalah Mengidentifikasi Kejadian penyakit DHF di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus, Mengobservasi gambaran Keberadaan Larva di Kontainer Sekitar Rumah Tangga Metode: Jenis penelitian ini adalah dekskriptif analitik dengan metode sampling adalah accidentalm sampling jenis data yang diolah adalah jenis data primer. Populasinya 52 orang dan sampelnya adalah 52 orang. langkah-langkahnya adalah membandingkan chi-square hitung dengan chi-square tabel dan probabilitas, jika perbandingan ini menunjukan bahwa chi-square hitung chi square tabel, maka Ho ditolak. Sedangkan probabilitas >0,05, maka Ho diterima, begitu sebaliknya Sedangkan probabilitas <0,05 maka Ho ditolak. Hasil:Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa sebagian besar anak mengalami kejadian DHF yaitu sebanyak 30 orang (57,69%), sedangkan yang tidak sakit yaitu sebanyak 22 orang (42,31%) dan hasil penelitian larva bahwa sebagianbesar ada larva di kontainer sekitar rumah yaitu sebanyak 29 orang (55,77%), sedangkan yang tidak ada larva di konatainer di sekitar rumah tangga yaitu sebanyak 23 orang (44,23%). Hasil penelitian menyatakan bahwa ada hubungan antara keberadaan larva di kontainer sekitar rumah tangga dengan kejadian DHF di RSI Sunan Kudus adalah dengan uji Chi Square dengan tabel 2 x2 didapatkan hasil x²= 40,563 dengan taraf signifikan 5% dan df (1), maka x² tabel=3,84 dengan ibuktikan dengan koefisien kontingensi yaitu kuat dengan hasil 0 ,662. Kesimpulan Ada hubungan antara keberadaan larva di kontainer sekitar rumah tangga dengan kejadian DHF di RSI Sunan Kudus adalah kuat dengan hasil 0 ,66
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tb Paru Pada Usia Dewasa (Studi kasus di Balai Pencegahan Dan Pengobatan Penyakit Paru Pati)
1
Artikel Publikasi
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tb Paru Pada Usia Dewasa
(Studi kasus di Balai Pencegahan Dan Pengobatan Penyakit Paru Pati)
Rusnoto1, Pasihan Rahmatullah2, Ari Udiono3
Factors Related To The Incidence Of Pulmonary Tuberculosis In Adult Age
At The Clinic Of Lung Disease (Bp4) Pati.
1 Mahasiswa Magister Epidemiologi UNDIP
2 Fakultas Kedokteran UNDIP Bagian Penyakit Dalam
3 Program Studi Magister Epidemiologi Program Pascasarjana UNDIP
Background : Pulmonary Tuberculosis is caused by Mycobacterium Tuberculosis. Prevalency
of Pulmonary Tuberculosis in Indonesia is 130/100.000 in 2003. Prevalensi Pulmonary
Tuberculosis clinic 0,8% from entire all disease in Indonesia and 75% Pulmonary
Tuberculosis patient is productive age group ( 15 - 50 year) with social storey and level of low
economics. In Indonesia Pulmonary Tuberculosis represent especial death cause third.
Infection risk every year in Indonesia among 1-2 %. New patient of Positive BTA from 2003-
2006 in BP4 Pati was 419 cases. Patient Pulmonary Tuberculosis at productive age will
generate problem early in community and also family especially in attainment of work
productivity.
Obyective. To identify the factors related to the incidence of pulmonary tuberculosis in adult
age at the clinic of lung disease (bp4) pati.
Methods : The design is Case control study. The subyek of this study consisted of 106 adult
age who had been treated at clinic of lung disease (BP4 ) Pati ; consist of 53 cases and 53
control. Pulmonary Tuberculosis is diagnosed with rontgen and positive BTA examination. In
control group was diagnosed with rontgen diagnosis and negative BTA examination too. Data
analysis were done using chi square test, odds ratio and logistic regression test.
Results : Base on multivariate analysis, there are five variables as factors related to the
incidence of pulmonary tuberculosis at adult age that is ; dampness ( OR = 9,299 ; 95% CI :
2,286-37,835; p=0,002), ventilation ( OR = 29,994;; 95% C I : 3,388-265,505; p=0,002), History
contact infection ( OR = 79,781; 95% CI: 6,076-1047,499; p=0,001), BMI ( OR = 5,113; 95% CI :
1,364-19,165; p=0,015) and knowledge storey level ( OR = 23,021; 95% C I : 3,002-33,194;
0,001).
Suggestion: an attensified TBH control program, Tb screening, health education information
communication and healty home should be done.
Keywords : Factors related to, adult age, Pulmonary Tuberculosis.
Bibliography : 23 (1983 – 2006)
PENDAHULUAN
Penyakit Tuberculosis (TB) paru
disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis dan telah menginfeksi
sepertiga penduduk dunia, sehingga
merupakan salah satu masalah dunia.
Kejadian TB paru di negara industri 40
tahun terakhir ini menunjukkan angka
prevalensi yang sangat kecil.
Diperkirakan terdapat 8 juta penduduk
terserang TB paru dengan kematian 3
juta per tahun dan 95% penderitanya
berada di negara-negara berkembang
(WHO, 1993). TB paru di Indonesia
menurut WHO (1999 dan 2004)
menunjukkan di Indonesia terdapat
583.000 kasus, kematian 140.000 dan
13/100.000 penduduk merupakan
penderita baru. Prevalensi TB paru
pada tahun 2002 mencapai 555.000
kasus (256 kasus/100.000 penduduk),
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
2
dan 46% diantaranya merupakan kasus
baru atau kasus baru meningkat
104/100.000 penduduk (DEPKES,
2002).
Konsekuensi yang dapat terjadi
pada penderita TB paru yang tidak
melakukan pengobatan, setelah lima
tahun menderita diprediksikan 50% dari
penderita TB paru akan meninggal.
Sedangkan sekitar 25% akan sembuh
sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi
dan 25% lainnya sebagai "kasus kronis"
yang tetap menular (WHO, 1996).
Kekhawatiran menurunnya kualitas
kesehatan manusia di dunia, akhirnya
WHO tahun 1993 akhirnya
mencanangkan kedaruratan global
penyakit TB paru. Kekhawatiran dan
perhatian dunia semakin kentara saat
muncul epidemi HIV/AIDS, sehingga
diperkirakan penderita TB paru semakin
meningkat. Genderang perang terhadap
kuman Mycobacterium tuberculosis
akhirnya dilakukan berbagai program
penanggulang, termasuk di Indonesia
(DEPKES, 2002).
Menurut Departemen Kesehatan
RI (2001) penderita TB paru 95%
berada di negara berkembang dan 75%
penderita TB paru adalah kelompok usia
produktif (15 – 50 tahun) dengan tingkat
sosial ekonomi rendah. Di Indonesia TB
paru erupakan penyebab kematian
utama ketiga setelah penyakit jantung
dan saluran pernafasan. Risiko
penularan setiap tahun (Annual Risk of
Tuberculosis Infection = ARTI) di
Indonesia dianggap cukup tinggi dan
bervariasi antara 1-2 %. Hal ini berarti
pada daerah dengan ARTI sebesar 1 %,
setiap tahun diantara 100.000
penduduk, 100 (seratus) orang akan
terinfeksi. Sebagian besar dari orang
yang terinfeksi tidak akan menjadi
penderita TB paru, hanya 10 % dari
yang terinfeksi yang akan menjadi
penderita TB paru. Faktor yang
mempengaruhi kemungkinan seseorang
menjadi penderita TB paru adalah daya
tahan tubuh yang rendah; diantaranya
karena gizi buruk atau HIV/AIDS. Di
samping itu tercapainya cakupan
penemuan penderita TB paru secara
bertahap dengan target sebesar 70%
akan tercapai pada tahun 2005
(DEPKES, 2002).
Survey Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) (1995) TB paru
merupakan penyebab kematian nomor
satu untuk penyakit infeksi di Indonesia
dan SKRT (2001), prevalensi TB paru
klinis 0,8% dari seluruh penyakit di
Indonesia (DEPKES, 2002). Penemuan
penderita TB paru menurut Profil
kesehatan Jawa Tengah tahun 2002
sebesar 8.648 penderita dengan angka
penemuan penderita (CDR) 22%.
Penemuan penderita BTA positif tahun
2003 sebanyak 10.390 penderita yang
dilaporkan dari 35 Kabupaten / Kota, 11
BP4 dan 1 Rumah Sakit Paru dengan
angka penemuan penderita (CDR)
28,5% dan ditemukan jumlah penderita
baru BTA positif 39.061 kasus. Angka
tersebut meningkat dibandingkan tahun
sebelumnya sebesar 1.742 kasus
(Dinkes Propinsi Jateng, 2002). Menurut
Dinas Kesehatan Kabupaten Pati tahun
2005 kasus TB paru baru ditemukan
254 kasus dengan (CDR) 26,19 % dan
tahun 2006 sampai dengan triwulan
ketiga sebanyak 171 kasus dengan
(CDR) 13,05 % (DKK Pati, 2006).
Penyakit TB paru sebagian besar
terjadi pada orang dewasa yang telah
mendapatkan infeksi primer pada waktu
kecil dan tidak ditangani dengan baik.
Morbiditas TB paru terutama akibat
keterlambatan pengobatan, tidak
terdeteksi secara dini, tidak
mendapatkan informasi pencegahan
yang tepat dan memadai (Miller, 1982).
Faktor-faktor yang erat hubungannya
dengan kejadian TB paru adalah
adanya sumber penularan, riwayat
kontak penderita, tingkat sosial
ekonomi, tingkat paparan, virulensi
basil, daya tahan tubuh rendah
berkaitan dengan genetik, keadaan gizi,
faktor faali, usia, nutrisi, imunisasi,
keadaan perumahan meliputi (suhu
dalam rumah, ventilasi, pencahayaan
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
3
dalam rumah, kelembaban rumah,
kepadatan penghuni dan lingkungan
sekitar rumah ) dan pekerjaan (Amir dan
Alsegaf, 1989).
Lamanya perlindungan akibat
vaksin BCG merupakan perdebatan,
pengalaman dari suatu pengkajian
berpendapat 7-12 tahun hingga 50
tahun setelah pengembangan vaksin (
Nelson, 1992). Hasil penelitian dengan
kohort, case control dan meta analisis
serta eksperimen yang terseleksi bahwa
vaksin BCG mempunyai efektifitas
sekitar 50% dalam mencegah TB paru,
biasanya tidak menetap lama dan
bervariasi dari strain satu kestrain
lainnya (Colditz, 1993).
Kontak yang berlebihan dengan
kuman Mycobacterium tuberculosis
adalah kontak yang berlangsung terus
menerus selama 3 bulan atau lebih .
Masalah kontak ini terutama dilihat dari
kebiasaan penderita yang kurang baik
dalam pengeloalan ludah / sekret,
kepadatan penghuni dan kondisi
perumahan rakyat pada umumnya
kurang memenuhi syarat (Bloom Barry,
1994),
Menurut cakupan Penderita baru
BTA positif dari 2003-2006 di BP4 Pati
tahun 2003 – 2006 jumlah penderita TB
paru 419 kasus baru.
Tujuan untuk mengetahui faktor–
faktor yang berhubungan dengan
kejadian TB paru pada usia dewasa.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan
adalah penelitian observasional dengan
rancangan kasus kontrol. Desain ini
dipilih dengan pertimbangan dapat
digunakan untuk mencari hubungan
seberapa jauh faktor risiko
mempengaruhi terjadinya penyakit atau
kelainan tertentu. 8
Pada penelitian ini populasi studi
adalah semua penderita yang
ditemukan di BP 4 Pati yang terpilih
untuk masuk ke dalam kelompok kasus
atau kelompok kontrol.
Subjek penelitian adalah penderita
TB Paru yang diambil dari catatan
medik rumah sakit. Kasus adalah
penderita TB Paru yang didiagnosis
secara klinis berdasarkan pemeriksaan
BTA dan rontgen positif laboratorik
menderita TB paru dan tercatat dalam
rekam medis. Kontrol adalah bukan
penderita TB Paru yang diambil melalui
catatan medik yang ada di BP 4 Pati.
Besar sampel yang digunakan sebagai
sampel minimal dalam penelitian ini
yaitu 106 sampel, dimana 53 sampel
kasus dan 53 sampel kontrol
Pengolahan data meliputi Cleaning,
Editing, Coding, Entry Data. Analisis
data hasil penelitian disajikan secara
univariat (deskriptif) untuk mengetahui
proporsi masing-masing variable.
Program SPSS versi 13.0 dipergunakan
untuk analisis bivariat dengan uji X2 (Chi
Square) yakni menganalisis hubungan
masing-masing faktor dengan kejadian
TB Paru dan mendapatkan risiko (Odds
Ratio), yang bermakna dengan tingkat
kepercayaan α = 0,05 dan Confidence
Interval (CI) = 95%. Selanjutnya variabel
yang mempunyai korelasi cukup kuat
dalam hal ini p < 0,05 dan p< 0,25 pada
analisis bivariat bermakna dilakukan
analisis multivariate. Untuk memperoleh
pengaruh variable bebas (faktor risiko)
terhadap variabel terikat dilakukan uji
Regresi Logistik Ganda dengan metode
Forward strepwise conditional
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
4
Kemungkinan interaksi antara dua
variabel atau lebih dilakukan apabila
ada kemungkinan hubungan biologis
atau statistik dengan memasukkan
interaksi ke dalam model
Gambaran Karakteristik Subjek
Penelitian
Dari 106 responden laki-laki 49
orang terdiri dari 22 atau 20,8% kasus
dan 27 atau 25,5% kontrol sedangkan
responden wanita 57 orang terdiri dari
31 atau 29,2% kasus dan 26 atau
24,5% kontrol. Kabupaten Pati 69 atau
65,1% orang, terdiri dari 33 atau 31,1%
kasus dan 36 atau 34% kontrol, Kudus
24 orang atau 22,6% terdiri dari 14
orang atau 13,25 kasus dan 10 orang
atau 9,4% kontrol, Rembang 8 orang
atau 7,5% terdiri dari 3 orang atau 5,7%
kasus dan 5 orang 9,4% kontrol, Jepara
4 orang atau 3,8 % terdiri dari 3 orang
atau 2,8% kasus dan 1 orang atau
0,9% kontrol sedangkan paling sedikit
adalah demak 1 orang 0,9%.
Pendidikan terakhir yang diikuti
responden paling banyak tidak tamat
SD 33 orang atau 31,1% dimana
kelompok kasus lebih banyak yaitu 13
orang atau 12,3 % dan 20 orang atau
18,9% control, tamat SMA 27 orang
atau 25,5% terdiri dari 4 orang atau
3,8% kasus dan 23 orang 21,7%
control, tamat SD 22 orang atau 20,8%
terdiri dari 16 orang atau 15,1% kasus
dan 6 orang atau 5,7% control, tamat
SLTP 15 orang atau 14,2% semuanya
pada kelompok kasus, tidak sekolah 6
orang atau 5,7% sama antara kelompok
kasus dan control yaitu 3 orang atau
2,8% sedangkan paling sedikit adalah
pendidikan tamat PT 3 orang atau 2,8%
terdiri dari 2 orang atai 1,9% kasus dan
1 orang atau 0,9% kontro.
Proporsi usia yang paling banyak
adalah 46 - 50 tahun 56 orang (52,8 %)
terdiri dari kelompok kasus 37 orang
(34,9%) dan kelompok kontrol 19 orang
(17,9 %) dan terendah pada usia 36 –
40 tahun 4 orang (3,8 %). Rata-rata usia
responden 39,8 tahun terbanyak usia 46
dengan standar deviasi 10,489
Pekerjaan responden proporsi
terbesar adalah petani sebanyak 43
orang atau 43,6% kemudian buruh
pabrik 18 orang atau 17% dan paling
kecil adalah buruh tani 1 orang atau
0,9% pada kasus dan PNS sebanyak 1
orang atau 0,9% pada kontrol.
Berdasarkan kelompok pekerja dengan
penghasilan tetap dan tidak tetap, maka
proporsi tidak tetap lebih besar yaitu 76
orang atau 71,7% terdiri dari 43 atau
46,35 pada kasus dan 33 atau 33,1%
kontrol dari pendapatan tetap 30 atau
28,3% terdiri dari 10 atau 9,4% pada
kasus lebih kecil kontrol20 atau 18,9%
Pendapatan terendah Rp 110.000
dan tertinggi Rp 1.425.000,-.
Pendapatan terbanyak pada masingmsing
keluarga adalah Rp 520.000,-
Pengeluaran pada kelompok kasus ratarata
Rp 660.284,91 dan pada kelompok
kontrol Rp 774.433,-. Kategori
pendapatan keluarga dilihat dari
pengeluaran bulanan hasil penelitian
menunjukkan proporsi pendapatan
tertinggi antara Rp 501.000,- - Rp
750.000,- sebesar 46,2% dan paling
kecil < Rp 250.000,- sebesar 1,9%
Kepadatan rumah yang dihitung
berdasarkan luas rumah dengan dibagi
jumlah penghuni. Hasil penelitian
didapatkan jumlah penghuni rumah
antara 1 – 10 orang.. Responden
terbanyak adalah sesuai standar yaitu
lebih dari 9 m² sebanyak 89 responden
(84 %), pada kelompok kasus 39 orang
( 36,8 %) dan pada kelompok kontrol 50
orang (47,2 %) sedangkan yang tidak
standar 17 orang (16 %) pada kelompok
kasus 14 orang (13,2 %) dan pada
kelompok kontrol 3 orang (2,8 %).
Jumlah penghuni terbanyak adalah 5
orang sebanyak 40 keluarga (37,7 %)
pada kelompok kasus 16 keluarga (15,
1 %) dan pada kelompok kontrol 24
keluarga (22,6 %)
HASIL
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
5
Proporsi adanya riwayat kontak
penularan dengan anggota keluarga
yang menderita TB paru lebih besar
pada kelompok TB paru (34 %) dari
kelompok bukan TB (7,5 %). Hasil
analisa statistik menunjukkan adanya
hubungan yang bermakna dengan
didapatkan hasil odds ratio (OR)
sebesar 6,3 dengan 95 % Confidence
Interval (CI) 1,961 – 20,238, dengan
nilai p = 0,001.
Proporsi usia responden diatas 45
tahun lebih besar (69,8 %) lebih besar
dari usia antara 15 – 45 tahun (37,7 %).
Hasil analisa statistik menunjukkan
adanya hubungan yang bermakna
dengan didapatkan hasil odds ratio (OR)
sebesar 3,816 dengan 95 % Confidence
Interval (CI) 1,701 – 8,558, dengan nilai
p = 0,001.
Proporsi kelembaban di dalam
kamar tidur 70 % pada
kelompok TB paru lebih besar (62,3 %)
lebih besar dari kelompok bukan TB
(20,8 %). Hasil analisa statistik
menunjukkan adanya perbedaan yang
bermakna antara kelembaban udara
dikamar tidur dengan kejadian TB paru
dengan nilai p = 0,004, berdasarkan
kategorikal memenuhi standar dan tidak
sesuai standar didapatkan hasil adanya
hubungan yang bermakna dengan
didapatkan hasil odds ratio (OR)
sebesar 6,3 dengan 95 % Confidence
Interval (CI) 2,651-14,971.
Proporsi jenis lantai kamar tidur
tidak standar pada kelompok TB paru
81,1 % lebih besar dari kelompok bukan
TB paru 37,7%. Hasil analisa statistik
menunjukkan adanya hubungan yang
bermakna dengan didapatkan hasil
odds ratio (OR) sebesar 7,095 dengan
95 % Confidence Interval (CI) 2,930 –
17,179, dengan nilai p = 0,0001.
Proporsi Jenis dinding kamat tidur
tidak setandar pada kelompok TB paru
(62,3 %) lebih besar dari kelompok
bukan TB (18,9 %). Hasil analisa
statistik menunjukkan adanya hubungan
yang bermakna dengan didapatkan
hasil odds ratio (OR) sebesar 7,095
dengan 95 % Confidence Interval (CI)
2,930 – 17,179, dengan nilai p = 0,0001.
Proporsi Ukuran ventilasi kamar
tidur tidak standar (98,1 %) lebih besar
dari kelompok bukan TB (75,5 %). Hasil
analisa statistik menunjukkan adanya
hubungan yang bermakna dengan
didapatkan hasil odds ratio (OR)
sebesar 16,9 dengan 95 % Confidence
Interval (CI) 2,121 – 134,641, dengan
nilai p = 0,001.
Proporsi pencahayaan kamar tidur
pada kelompok TB paru (58,5 %) lebih
besar dari kelompok bukan TB (15,1 %).
Hasil analisa statistik inferensial
menunjukkan adanya perbedaan yang
bermakna dengan nilai p = 0001,
setelah dilakukan kategorikal juga ada
hubungan yang bermakna dengan nilai
odds ratio (OR) sebesar 7,926 dengan
95 % Confidence Interval (CI) 3,129 –
20,080.
Proporsi kepadatan rumah yang
tidak standar (26,4 %) pada kelompok
TB paru lebih besar dari kelompok
bukan TB (5,7 %). Hasil analisa statistik
menunjukkan adanya hubungan yang
bermakna dengan didapatkan hasil
odds ratio (OR) sebesar 5,983 dengan
95 % Confidence Interval (CI) 1,606 –
22,293, dengan nilai p = 0,004.
Proporsi suhu dalam kamar tidur
tidak standar pada kelompok Tb Paru
52,8 % lebih besar dari kelompok bukan
Tb yaitu 13,2 %. Hasil analisa statistik
menunjukkan adanya perbedaan yang
signifikan dengan nlai p = 0,0001, hasil
kategorikal menunjukkan adanya
hubungan yang bermakna dengan
didapatkan hasil odds ratio (OR)
sebesar 7,360 dengan 95 % Confidence
Interval (CI) 2,816 – 19,238.
Proporsi tingkat pendapatan £ Rp
650.000,- sebesar 56,6 % lebih besar
dari kelompok bukan Tb yaitu 34 %.
Hasil analisa statistik menunjukkan
adanya perbedaan yang signifikan
dengan nilai p = 0,016, hasil kategorikal
terbukti ada hubungan yang bermakna
dengan didapatkan hasil odds ratio (OR)
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
6
sebesar 2,536 dengan 95 % Confidence
Interval (CI) 1,155 – 5,568.
Proporsi tingkat pengetahuan
kurang pada kelompok TB paru 90,6 %
lebih besar dari kelompok bukan TB
26,4 %. Hasil analisa statistik
menunjukkan adanya perbedaan yang
signifikan dengan nilai p = 0,0001, hasil
kategorikal terbukti ada hubungan yang
bermakna dengan didapatkan hasil
odds ratio (OR) sebesar 26,743 dengan
95 % Confidence Interval (CI) 8,857 –
80,749.
Proporsi jenis pekerjaan yang
berpenghasilan tidak tetap 81,1 % lebih
besar dari kelompok bukan TB yaitu
62,3 %. Hasil analisa statistik
menunjukkan adanya hubungan yang
bermakna dengan didapatkan hasil
odds ratio (OR) sebesar 2,606 dengan
95 % Confidence Interval (CI) 1,076 –
6,310, dengan nilai p = 0,031.
Proporsi status gizi (IMT) kurang
baik pada kelompok TB paru 64,2 %
lebih besar dari kelompok bukan TB
11,3 %. Hasil analisa statistik
menunjukkan adanya perbedaan yang
bermakna dengan nilai p = 0,038, hasil
kategorikal menunjukkan ada hubungan
yang bermakna dengan didapatkan
hasil odds ratio (OR) sebesar 3,789
dengan 95 % Confidence Interval (CI)
1,694 – 8,475.
Proporsi mempunyai riwayat
kebiasaan merokok pada kelompok TB
paru 54,7 % lebih besar dari kelompok
bukan TB 32,1 %. Hasil analisa statistik
menunjukkan adanya hubungan yang
bermakna dengan didapatkan hasil
odds ratio (OR) sebesar 2,559 dengan
95 % Confidence Interval (CI) 1,161 –
5,642, dengan nilai p = 0,019.
Proporsi yang mempunyai
kebiasaan minuman keras pada
kelompok Tb 20,8 % lebih besar dari
kelompok bukab TB 17 %. Hasil analisa
statistik menunjukkan tidak adanya
hubungan yang bermakna dengan
didapatkan hasil odds ratio (OR)
sebesar 1,280 dengan 95 % Confidence
Interval (CI) 0,482 – 3,402, dengan nilai
p = 0,620.
Proporsi adanya riwayat penyakit
yang menyertai pada kelompok kasus
32,1 % lebih besar dari kelom[pok
bukan TB tidak ada (0 %). Hasil analisa
statistik menunjukkan adanya hubungan
yang bermakna dengan didapatkan
hasil odds ratio (OR) sebesar 2,472
dengan 95 % Confidence Interval (CI)
1,921 – 3,181, dengan nilai p = 0,0001.
Selengkapnya seperti tertera pada
tabel 2. berikut :
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
7
Tabel 1
Rangkuman dari beberapa variabel terhadap kejadian TB Paru pada usia
dewasa di BP4 Pati tahun 2007
Variabel Odds
Ratio
(OR)
95 % CI Nilai P
Kelembaban kamar tidur 6,3. 2,651 – 14,971 0,004
Ventilasi kamar tidur 16,9 2,121 – 134,641 0,001
Pencahayaan kamar tidur 7,926 3,129 – 20,080 0,0001
Suhu Kamar tidur 7,360 2,816 – 19,238 0,0001
Jenis lantai 7,095 2,930 – 17,179 0,001
Jenis dinding kamar tidur 7,095 2,930 – 17,179 0,001
Jumlah penghuni 5,983 1,606 – 22,293 0,004
Riwayat kontak penularan
dengan anggota keluarga
6,3 1,961 – 20,238 0,001
Riwayat penyakit penyerta 2,472 1,921 – 3,181 0,001
Umur 3,816 1,701 – 8,558 0,001
Jenis pekerjaan 2,606 1,076 – 6,310 0,031
Tingkat pendapatan 2,536 1,155 – 5,568 0,016
Tingkat pengetahuan 26,743 8,857 – 80,749 0,0001
Kebiasaan merokok 2,559 1,161 – 5,642 0,019
Kebiasaan minuman keras 1,280 0,482 – 3,402 0,620
Status gizi 14,018 5,063 – 38,811 0,038
Tabel 2
Rangkuman Hasil analisa multivariat model
akhir regresi logistik
No Variabel B Wald OR
(eks b)
95% CI Nilai p
1 Kelembaban
kamar tidur
2,230 0,716 9,299 2,286-37,835 0,002
2 Ventilasi
kamar tidur
3,401 1,113 29,994 3,388-265,505 0,002
3 Riwayat
penularan
4,379 1,314 79,781 6,076-1047,499 0,001
4 IMT 1,632 0,674 5,113 1,364-19,165 0,015
5 Tingkat
pengetahuan
3,848 1,128 23,021 3,002-33,194 0,001
Constant : - 8,294
PEMBAHASAN
Hasil uji analisa regresi terdapat 5 (lima
) variabel yang berhubungan secara
bersama-sama terhadap kejadian TB
Paru pada usia dewasa yaitu ;
kelembaban kamar tidur (OR adjusted
= 9,299, ; 95% Confidence Interval :
2,286-37,835, p=0,002), ventilasi
kamar tidur (OR adjusted = 29,994, ;
95% Confidence Interval : 3,388-
265,505, p=0,002), Riwayat penularan
anggota keluarga (OR adjusted =
79,781, 95% Confidence Interval :
6,076-1047,499, p=0,001), Status gizi
(Indeks Massa Tubuh) (OR adjusted =
5,113 ; 95% Confidence Interval :
1,364-19,165, p=0,015) dan tingkat
pengetahuan (OR adjusted = 23,021 ;
95% Confidence Interval : 3,002-
33,194, p=0,001).
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
8
Apabila dimasukkan dalam
persamaan regresi logistik ganda,
maka diperoleh nilai :
1
r = ------------------------------------
1 + e –{α + β1x1(lembab) + β2x2 (ventilasi) +
β3x3 (rriwayat penularan) + β4x4 (IMT)+ β5x5 (Tingkat
pengetahuan) }
1
r = --------------------------
HUBUNGAN POLA ASUH DAN RIWAYAT MEROKOK DENGAN RESIKO ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER (ADHD) PADA ANAK PRA SEKOLAH DI TK KASIAN
Latar Belakang :Djiwo Tahun 2000-2004 menemukan dari 4015 siswa usia 6-10 tahun di SD wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Barat menunjukkan prevalensi 26,2% anak ADHD berdasarkan kriteria DSM IV. Oleh Balitbang Direktotar Pendidikan Luar Biasa, 26,2% mengalami ADHD karena pola asuh orang tua 33% dan 67% karena pengaruh pencemaran lingkungan seperti asap rokok dan asap kendaraan bermotor, perjalanan prenatal terhadap alkohol, dan malnutrisi berat pada masa anak-anak (Judarwanto, 2009). Tujuan : Mengetahui hubungan antara Pola Asuh dan Riwayat Merokok dengan Resiko Kejadian ADHD pada Anak Prasekolah Di TK Kasian. Metode :Jenis penelitian korelasi analitik. Menggunakan pendekatan Cross Sectional, sampel 65 responden dengan tekhnik total sampling. Alat ukur adalah kuesioner dan cek list. Analisa data univariat dan bivariat. Uji hubungan penelitian menggunakan uji Chi Square. Hasil Penelitian : Tidak ada hubungan antara pola asuh dengan Resiko Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak pra sekolah di TK Kasian dengan p value 1,000 > 0,05 dan tidak ada hubungan antara riwayat merokok dengan Resiko Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak pra sekolah di TK Kasian dengan p value 0,543 > 0,05. Kesimpulan : tidak ada hubungan yang signifikan antara pola asuh dan riwayat merokok dengan resiko Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN OSTEO ARTERITIS LUTUT PADA LANSIA DI RSU JEPARA TAHUN 2008
Latar Belakang : Osteo Arteritis (OA) merupakan penyakit sendi yg paling banyak ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini menyebabkan nyeri & disabilitas, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. OA di Indonesia tercatat 81% dari total penduduk, sebanyak 29% melakukan pemeriksaan dokter & sisanya atau 71% mengonsumsi obat bebas pereda nyeri, di Kab Malang dan Kota Malang : prevalensi OA 10% & 13,5% di Poliklinik Subbagian Rematologi FKUI/RSCM : 43,82% di Jawa Tengah, kejadian penyakit OA sebesar 5,1% dari semua pendudukTujuan Penelitian : Untuk mengetahui factor-factor yang berhubungan dengan penyakit OA lutut pada lansia di RSU RA Kartini Jepara.Metode Penelitian : Jenis penelitian Descriptive Corelation menggunakan pendekatan Cross Sectional study. Jumlah populasi 93 dan kasus yang diambil 40 orang.Hasil Penelitian : Hasil analisis bivariat kelompok usia X² =4,471, P value 0,215, jenis kelamin X²= 12,130, P value 0,0001, Pekerjaan X²=2,152, P value 0,341, olah raga X²= 7,059, jumlah konsumsi rokok X²=5,700, status gizi / obesitas X²=2,849, P value 0,091, penyakit sistemik X²= 13,333, P value 0,0001, riwayat cidera X²= 0,404, P value= 0,525Kesimpulan : Faktor yang berhubungan dengan OA adalah Jenis Kelamin, Olah raga dan penyakit sistemikSaran : memberikan informasi mengenai faktor yang berhubungan osteoartritis lutut, sehingga dapat direncanakan program kesehatan yang dirasa perlu, misalnya upaya promosi kesehatan, tindakan-tindakan pencegahan dan penanganan
PENGARUH GIZI KURANG TERHADAP PENCAPAIAN PERKEMBANGAN ASPEK MOTORIK KASAR DAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA 0-36 BULAN DI WILAYAH PUSKESMAS JATI KUDUS
Malnutrisi is circumstance patologis of arising out of effect of is lack of asupan energi protein and during a given time period. If child experience of less gizi, clear hence will be dangerous to continuity of child life , its problem is child stand in need of kecukupaan gizi to process growth and growth which exactly take place fast very in age batita. growth And growth represent health gizi parameter which sensitive enough to assess child health, especially the and batita baby child. This research aim to to know influence malnutrisi to harsh growth motorik attainment time accuracy and refine at age child 0-36 month;moon in Puskesmas Jati Kudus.Intake sampel Method in the non random sampling , old fellow bringing his child to posyandu ( specially the age child 0-36 month;moon) in Puskesmas Jati Kudus as sampel in this research. Mount malnutrisi measured by using criteria WHO-NCHS and mount child growth attainment time accuracy [in] measure by using kuisioner ( DDST) and KPSP. Research Location [in] Puskesmas Jati Kudus From result of enumeration indicate that value of X calculate 10,97 and assess X table 10,645 [at] harsh motorik and smooth motorik, hence interpretasinya is there influence of malnutrisi to accuracy of time attainment of harsh motorik [at] child of age 0-36 month;moon in Puskesmas Jati Kudus.Conclusion from this research expected by energy of health can improve of about gizi of his influence and child to growth and growth especially child of baby and batita. For the researcher is hereinafter expected more complete relevant research with this research, so that get better result
HUBUNGAN HIPERKOLESTEROLEMIA, OBESITAS DAN RIWAYAT HIPERTENSI KELUARGA DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DI DESA MEGAWON KUDUS
Latar Belakang : Tekanan darah pada seseorang tidak selalu dalam keadaan normal. Salah satu gangguan pada tekanan darah adalah hipertensi. Hipertensi merupakan ketidaknormalan tekanan darah pada seseorang berkaitan dengan tingginya tekanan darah yang melebihi batas normal. Faktor-faktor yang mempengaruhi hipertensi antara lain Hiperkolesterolemia, Obesitas, Riayat Hipertensi keluaraga, Usia, Jenis kelamin, Kebiasaan merokok, Konsumsi alkohol, Kurang olahraga, Pola asupan garam tinggi,dan Stress.Tujuan : Mengetahui adanya hubungan Hiperkolesterolemia, Obesitas, Dan Riwayat Hipertensi Keluarga Dengan Kejadian Hipertensi Di Desa Megawon Kudus Tahun 2016.Metode : penelitian ini menggunakan metode Crossectional dengan menggunakan bentuk rancangan pengambilan sampel secara acak. Populasi 91 responden Hipertensi, sampel 48 responden hipertensi. Uji statistic Spearmen.Hasil Penelitian : Didapatkan p value 0.000 (≤0.05), nilai korelasi spearmen terhadap Hiperkolesterolemia dengan Hipertensi sebesar (0.762), Nilai korelasi spearmen Obesitas dengan Hipertensi sebesar (0.706) dan nilai korelasi spearmen Riwayat hipertensi keluarga dengan Hipertensi sebesar (0.734).Kesimpulan : Maka dapat disimpulkan bahwa HA diterima dan HO ditolak, jadi ada Hubungan Hiperkolesterolemia, Obesitas, Dan Riwayat Hipertensi Keluarga Dengan Kejadian Hipertensi Didesa Megawon Kudus Tahun 2016.</jats:p
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN LAMANYA MENSTRUASI PADA MAHASISWA TINGKAT III PRODI DIII KEPERAWATAN YANG SEDANG MENGHADAPI UJIAN AKHIR PROGRAM TAHUN 2010
Latar belakang : gangguan emosional, ketegangan, tekanan, kegelisahan, semuanya dapat membawa kepada gejalanya haid atau ketidaknormalan pendarahan pada rahim. Ini terjadi karena hypothalamus yang kemudian mempengaruhi siklus pelepasan hormone yang merangsang ovulasi menjadi terhalang, akibatnya mengarah kepada ketidakteraturan haid. Keadaan mesntruasi yang tidak teratur dan gangguan-gangguan pada saat menstruasi ternyata juga sering dikeluhkan oleh mahasiswa tingkat 3 Prodi D3 Keperawatan STIKES Muhammadiyah.Tujuan penelitian : tujuan umum : Diketahuinya hubungan antara tingkat kecemasan dengan lamanya menstruasi pada mahasiswa tingkat III DIII keperawatan yang sedang mengahadapi ujian UAP di STIKES Muhammadiyah Kudus Tahun 2010. tujuan khusus : di ketahuinya Tingkat Kecemasan Pada Mahasiswa Tingkat III prodi DIII Keperawatan Yang Sedang Menghadapi Uap Di Stikes Muhammadiyah Kudus Tahun 2010, di ketahuinya lamanya Menstruasi Pada Mahasiswa Tingkat III Prodi DIII Keperawatan Yang Sedang Menghadapi Uap Di Stikes Muhammadiyah Kudus Tahun 2010.Metode penelitian : jenis penelitian ini adalah studi korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa D III Keperawatan dengan sampel 36 orang yang diambil dengan tehnik random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner dengan metode pengumpulan data adalah angket. Analisa data untuk menguji hipotesa digunakan uji statistik spearman rank.Hasil penelitian : sebagian besar responden mengalami tingkat kecemasan berat (47,2%) dan mengalami lamanya hari menstruasi tidak normal (75%). Uji hipotesa diperoleh ada hubungan antara tingkat kecemasan dengan lamanya hari menstruasi pada mahasiswa tingkat III prodi D 3 keperawatan yang sedang menghadapi ujian akhir program (Rho : 0,511 dan p value : 0,005).Kesimpulan : Ada hubungan tingkat kecemasan dengan lamanya hari menstruasi pada mahasiswa tingkat III prodi D 3 keperawatan di STIKES Muhammadiyah Kudus tahun 2010. Diharapkan semua pihak berkenan memahami masalah kesehatan reproduksi yang dialami oleh para mahasiswa sehingga proses belajar mengajar dapat lebih efektif lagi dengan metode yang mengarah kepada belajar santai namun dipahami
HUBUNGAN STRES KERJA DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA PEKERJA PABRIK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KALIWUNGU
Latar Belakang :Penyakit hipertensi merupakan masalah yang sedang dialami oleh seluruh dunia. Berdasarkan data WHO (2008), sebesar 40% penduduk usiadewasa menderita hipertensi. Hipertensi salah satunya disebabkan oleh faktor stres, salah satunya orang zaman sekarang sibuk mengutamakan pekerjaan untuk mencapai kesuksesan. Kesibukan dan kerja keras serta tujuan- tujuan yang berat mengakibatkan timbulnya rasa stres dan timbulnya tekanan yang tinggi. Tujuan : Diketahuinya hubungan stress kerja dengan kejadian hipertensi pada pekerja pabrik di wilayah kerja Puskesmas Kaliwungu Kudus 2017. Metode : Jenis penelitian Analitik Korelasi. Menggunakan pendekatan Cross Sectional. Sampel 81 responden pasien rawat jalan puskesmas Kaliwungu dengan tekhnik random sampling. Alat ukur yang digunakan ada;ah kuesioner. Analisa data univariat dan bivariate. Uji hubungan penelitian ini menggunakan Spearman rhow. Hasil Penelitian : Penelitian tentang hubungan stress kerja dengan kejadian hipertensi pada buruh pabrik di wilayah kerja puskesmas Kaliwungu Kudus 2017 dengan uji statistic Spearman Rhow di peroleh nilai p (0.000). Kesimpulan : Ada hubungan stress kerja dengan kejadian hipertensi pada pekerja pabrik di wilayah kerja Puskesmas Kaliwungu Kudus 2017. (Ha diterima, Ho ditolak
HUBUNGAN PELATIHAN BEDAH DASAR I DENGAN IMPLEMENTASI SURGICAL PATIENT SAFETY PADA PERAWAT DI KAMAR BEDAH RSI SUNAN KUDUS
ABSTRAK Latar Belakang. Keselamatan Pasien merupakan isu global dan nasional bagi rumah sakit. Keselamatan pasien di ruang operasi ditingkatkan melalui pelaksanaan surgical safety Checklist. Implementasi surgical safety Checklist dipengaruhi pelatihan bedah dasar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pelatihan bedah dasar I dengan implementasi surgical patient safety pada perawat di kamar bedah RSI Sunan Kudus. Metode. Jenis penelitian ini adalah korelasional analitik dengan desain penelitian cros sectional, teknik pengambilan sampel total sampling. Populasinya adalah perawat di Kamar Bedah RSI Sunan Kudus yang berjumlah sebanyak 30 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS menggunakan uji Chi Square. Hasil. Hasil uji nonparametrik Chi Square didapatkan nilai p 0.000. Simpulan. Terdapat hubungan antara pelatihan bedah dasar I dengan implementasi surgical patient safety pada perawat di kamar bedah RSI Sunan Kudus karena nilai p (0.000) > 0.05 pada taraf signifikansi 5%. Disarankan agar rumah sakit memberikan program peningkatan pengetahuan dan skill perawat bedah melalui pelatihan bedah dasar serta melengkapi standar operasional prosedur di kamar bedah. Kata kunci : Pelatihan Bedah Dasar, Surgical Safety Checklist. ABSTRACT Background. Patient Safety was a global and national issue for hospitals. Patient safety in the operating room was enhanced through the implementation of a surgical safety Checklist. Implementation of surgical safety Checklist was influenced by basic surgical training. The purpose of this research was to know the relationship of basic surgical training I with the implementation of surgical patient safety at nurses in surgery room RSI Sunan Kudus. Method. The research was correlational analytics with cross sectional design. The technique sampling used total sampling. The population was nurses in Surgery Room RSI Sunan Kudus. The total of them were 30 peoples. Data collecting used questionnaire. The data analysis was done with Chi Square test. Results. The result of nonparametric test of Chi Square got value p 0.000. Conclusion. There was a relationship between basic surgical training I and the implementation of surgical patient safety at nurses in surgery room RSI Sunan Kudus because p value (0.000) > 0.05 at 5% significance level. It was suggested that the hospital provide a program of knowledge enhancement and surgical nurse skills through basic surgical training as well as complementing standard operating procedures in the operating room. Keywords: Basic Surgery Training, Surgical Safety Checklist
HUBUNGAN ANTARA PARITAS, RIWAYAT KEHAMILAN,DAN ASUPAN KALSIUM DENGAN KEJADIAN PRE EKLAMPSIA BERAT
Latar Belakang: Preeklampsia/eklampsia merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas perinatal di Indonesia. Sampai sekarang penyakit preeklamsia/eklamsia masih merupakan masalah kebidanan yang belum dapat erpecahkan secara tuntas. Preeklampsia merupakan penyakit yang angka kejadiannya di setiap negara berbeda-beda.Tujuan : Mengetahui hubungan paritas, riwayat kehamilan,dan asupan kalsium dengan kejadian pre eklampsia berat di UPT Puskesmas Jepang.Metode: Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua ibu hamil yang melakukan ANC di Puskesmas Jepang Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus pada bulan Agustus 2017 sebanyak 30 ibu hamil.Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC di Puskesmas Jepang Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus pada bulan Agustus 2017 sebanyak 30 orang. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian Mayoritas responden memiliki paritas multipara sebanyak 18 orang (60%), dan yang primipara sebanyak 12 orang (40%). Mayoritas responden memiliki riwayat tidak pernah pre eklampsia berat sebanyak 16 orang (53,3%) dan yang pernah pre eklampsia berat sebanyak 14 orang (46,7%). Mayoritas responden memiliki asupan kalsium cukup sebanyak 18 orang (60%) dan yang asupan kalsium tidak cukup sebanyak 12 orang (40%). Mayoritas responden tidak pre eklampsia berat sebanyak 18 orang (60%) dan yang pre eklampsia berat sebanyak 12 orang (40%). Ada hubungan paritas dengan kejadian pre eklampsia berat di upt puskesmas jepang (p value = 0,001). Ada hubungan riwayat kehamilan dengan kejadian pre eklampsia berat di upt puskesmas jepang (p value = 0,001). Ada hubungan asupan kalsium dengan kejadian pre eklampsia berat di upt puskesmas jepang (p value = 0,009). Berdasarkan analisis regresi faktor yang paling berpengaruh dengan kejadian pre eklampsia berat adalah asupan kalsium (koefisien = 0,477). Kesimpulan Ada hubungan paritas, riwayat kehamilan dan asupan kalsium dengan kejadian pre eklampsia berat di UPT Puskesmas Jepang..Kata Kunci : Preeklampsia berat, paritas, riwayat kehamilan, asupan kalsiu ABSTRACT Background: Preeclampsia / eclampsia is one of the major causes of perinatal morbidity and mortality in Indonesia. Until now the disease of preeclampsia / eclampsia is still a matter of obstetrics that can not be eradicated completely. Preeclampsia is a disease whose number of events in each country is different. Objective: To determine the relationship of parity, pregnancy history, and calcium intake with the incidence of severe pre eclampsia Method: In this study the population is all pregnant women who do the ANC at the Health Center of Jepang District Mejobo Kudus Regency in August 2017 as many as 30 pregnant women. Samples in this study were pregnant women who visited the ANC at the Puskesmas Jepang District Mejobo Kudus District on in August 2017 as many as 30 people. Data analysis used univariate and bivariate analysis. Result of research Majority of respondents have multiparity parity as many as 18 people (60%), and primipara 12 (40%). The majority of respondents have a history of never preeclampsia as many as 16 people (53.3%) and who ever peb as many as 14 people (46.7%). The majority of respondents have enough intake of calcium as many as 18 people (60%) and who intake of calcium is not enough as many as 12 people (40%). The majority of respondents are not preeclampsia as many as 18 people (60%) and who preeclampsia as many as 12 people (40%). There is a parity relationship with the incidence of severe eclampsia in Puskesmas Jepang upt (p value = 0.001). There was a correlation of pregnancy history with severe pre eclampsia incidence at upt Puskesmas jepang (p value = 0,001). There is a correlation of calcium intake with severe pre eclampsia occurrence at UPT Puskesmas jepang (p value = 0,009). Based on regression analysis the most influential factor with severe pre eclampsia incidence was calcium intake (coefficient = 0.477). Conclusion There was a parity relationship, a history of pregnancy and calcium intake with severe preeclampsia events at the UPT Puskesmas Jepang. . Keywords: severe preeclampsia, parity, pregnancy history, calcium supplements
- …
