1,721,008 research outputs found

    UBUNGAN KEBERADAAN LARVA DI KONTAINER SEKITAR RUMAH TANGGA DENGAN KEJADIAN DHF DI RUMAH SAKIT ISLAM SUNAN KUDUS

    Full text link
    Latar belakang: Hampir setiap tahun, di bulan-bulan tertentu, selalu saja ada berita tentang kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Menurut cacatan Departemen Kesehatan RI, pada tahun  2007  telah  terjadi  kasus  DBD  sebanyak  139.695 kasus  dengan  1397  orang  meninggal  di seluruh  Indonesia.  Ini  artinya  kurang  lebih  10%  dari  pasien  DBD  meninggal  dunia.  Banyak wilayah di Indonesia yang merupakan wilayah endemikDBD, di mana terjadi kasus DBD yang berulang-ulang  setiap  tahun.  DBD  merupakan  salah  satu  penyakit  penting  di  Indonesia  dan memerlukan penanganan yang menyeluruh dan integral,agar penyakit ini tidak lagi menimbulkan banyak  korban  jiwa.  Dari  hasil  survey  pendahuluan  yang  dilakukan  di  RSI  Sunan  Kudus  pada bulan April diperoleh hasil 94 penderita, kemudian  diambil sampel dari 10 penderita DHF ada 9 orang yang dirumahnya terdapat Larva Tujuan : tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara keberadaan larva di kontainer sekitar rumah tangga dengan kejadian DHF di RSI Sunan Kudus dan Tujuan khusus dari penelitian  ini  adalah  Mengidentifikasi  Kejadian  penyakit  DHF  di  Rumah  Sakit  Islam  Sunan Kudus, Mengobservasi gambaran Keberadaan Larva di Kontainer Sekitar Rumah Tangga Metode:  Jenis  penelitian  ini  adalah  dekskriptif  analitik  dengan  metode  sampling  adalah accidentalm sampling jenis data yang diolah adalah  jenis data primer. Populasinya 52 orang dan sampelnya adalah 52 orang. langkah-langkahnya adalah membandingkan chi-square hitung dengan chi-square  tabel  dan  probabilitas,  jika  perbandingan  ini  menunjukan  bahwa  chi-square  hitung  chi square tabel, maka Ho ditolak. Sedangkan probabilitas >0,05, maka Ho diterima, begitu sebaliknya Sedangkan probabilitas <0,05 maka Ho ditolak. Hasil:Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa sebagian besar anak mengalami kejadian DHF  yaitu  sebanyak  30  orang  (57,69%),  sedangkan  yang  tidak  sakit  yaitu  sebanyak  22  orang (42,31%) dan  hasil penelitian larva bahwa  sebagianbesar ada larva di  kontainer  sekitar rumah yaitu sebanyak 29 orang (55,77%), sedangkan yang tidak ada larva di konatainer di sekitar rumah tangga  yaitu  sebanyak  23  orang  (44,23%).  Hasil  penelitian  menyatakan  bahwa  ada  hubungan antara  keberadaan  larva  di  kontainer  sekitar  rumah  tangga  dengan  kejadian  DHF  di  RSI  Sunan Kudus adalah dengan uji Chi Square dengan tabel 2 x2 didapatkan hasil x²= 40,563 dengan taraf signifikan  5%  dan  df  (1),  maka  x²  tabel=3,84  dengan ibuktikan  dengan  koefisien  kontingensi yaitu kuat dengan hasil 0 ,662. Kesimpulan Ada  hubungan  antara  keberadaan  larva  di  kontainer  sekitar  rumah  tangga  dengan kejadian DHF di RSI Sunan Kudus adalah kuat dengan hasil 0 ,66

    Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tb Paru Pada Usia Dewasa (Studi kasus di Balai Pencegahan Dan Pengobatan Penyakit Paru Pati)

    Full text link
    1 Artikel Publikasi Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tb Paru Pada Usia Dewasa (Studi kasus di Balai Pencegahan Dan Pengobatan Penyakit Paru Pati) Rusnoto1, Pasihan Rahmatullah2, Ari Udiono3 Factors Related To The Incidence Of Pulmonary Tuberculosis In Adult Age At The Clinic Of Lung Disease (Bp4) Pati. 1 Mahasiswa Magister Epidemiologi UNDIP 2 Fakultas Kedokteran UNDIP Bagian Penyakit Dalam 3 Program Studi Magister Epidemiologi Program Pascasarjana UNDIP Background : Pulmonary Tuberculosis is caused by Mycobacterium Tuberculosis. Prevalency of Pulmonary Tuberculosis in Indonesia is 130/100.000 in 2003. Prevalensi Pulmonary Tuberculosis clinic 0,8% from entire all disease in Indonesia and 75% Pulmonary Tuberculosis patient is productive age group ( 15 - 50 year) with social storey and level of low economics. In Indonesia Pulmonary Tuberculosis represent especial death cause third. Infection risk every year in Indonesia among 1-2 %. New patient of Positive BTA from 2003- 2006 in BP4 Pati was 419 cases. Patient Pulmonary Tuberculosis at productive age will generate problem early in community and also family especially in attainment of work productivity. Obyective. To identify the factors related to the incidence of pulmonary tuberculosis in adult age at the clinic of lung disease (bp4) pati. Methods : The design is Case control study. The subyek of this study consisted of 106 adult age who had been treated at clinic of lung disease (BP4 ) Pati ; consist of 53 cases and 53 control. Pulmonary Tuberculosis is diagnosed with rontgen and positive BTA examination. In control group was diagnosed with rontgen diagnosis and negative BTA examination too. Data analysis were done using chi square test, odds ratio and logistic regression test. Results : Base on multivariate analysis, there are five variables as factors related to the incidence of pulmonary tuberculosis at adult age that is ; dampness ( OR = 9,299 ; 95% CI : 2,286-37,835; p=0,002), ventilation ( OR = 29,994;; 95% C I : 3,388-265,505; p=0,002), History contact infection ( OR = 79,781; 95% CI: 6,076-1047,499; p=0,001), BMI ( OR = 5,113; 95% CI : 1,364-19,165; p=0,015) and knowledge storey level ( OR = 23,021; 95% C I : 3,002-33,194; 0,001). Suggestion: an attensified TBH control program, Tb screening, health education information communication and healty home should be done. Keywords : Factors related to, adult age, Pulmonary Tuberculosis. Bibliography : 23 (1983 – 2006) PENDAHULUAN Penyakit Tuberculosis (TB) paru disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia, sehingga merupakan salah satu masalah dunia. Kejadian TB paru di negara industri 40 tahun terakhir ini menunjukkan angka prevalensi yang sangat kecil. Diperkirakan terdapat 8 juta penduduk terserang TB paru dengan kematian 3 juta per tahun dan 95% penderitanya berada di negara-negara berkembang (WHO, 1993). TB paru di Indonesia menurut WHO (1999 dan 2004) menunjukkan di Indonesia terdapat 583.000 kasus, kematian 140.000 dan 13/100.000 penduduk merupakan penderita baru. Prevalensi TB paru pada tahun 2002 mencapai 555.000 kasus (256 kasus/100.000 penduduk), PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com 2 dan 46% diantaranya merupakan kasus baru atau kasus baru meningkat 104/100.000 penduduk (DEPKES, 2002). Konsekuensi yang dapat terjadi pada penderita TB paru yang tidak melakukan pengobatan, setelah lima tahun menderita diprediksikan 50% dari penderita TB paru akan meninggal. Sedangkan sekitar 25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi dan 25% lainnya sebagai "kasus kronis" yang tetap menular (WHO, 1996). Kekhawatiran menurunnya kualitas kesehatan manusia di dunia, akhirnya WHO tahun 1993 akhirnya mencanangkan kedaruratan global penyakit TB paru. Kekhawatiran dan perhatian dunia semakin kentara saat muncul epidemi HIV/AIDS, sehingga diperkirakan penderita TB paru semakin meningkat. Genderang perang terhadap kuman Mycobacterium tuberculosis akhirnya dilakukan berbagai program penanggulang, termasuk di Indonesia (DEPKES, 2002). Menurut Departemen Kesehatan RI (2001) penderita TB paru 95% berada di negara berkembang dan 75% penderita TB paru adalah kelompok usia produktif (15 – 50 tahun) dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Di Indonesia TB paru erupakan penyebab kematian utama ketiga setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan. Risiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1-2 %. Hal ini berarti pada daerah dengan ARTI sebesar 1 %, setiap tahun diantara 100.000 penduduk, 100 (seratus) orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita TB paru, hanya 10 % dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TB paru. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita TB paru adalah daya tahan tubuh yang rendah; diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS. Di samping itu tercapainya cakupan penemuan penderita TB paru secara bertahap dengan target sebesar 70% akan tercapai pada tahun 2005 (DEPKES, 2002). Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) (1995) TB paru merupakan penyebab kematian nomor satu untuk penyakit infeksi di Indonesia dan SKRT (2001), prevalensi TB paru klinis 0,8% dari seluruh penyakit di Indonesia (DEPKES, 2002). Penemuan penderita TB paru menurut Profil kesehatan Jawa Tengah tahun 2002 sebesar 8.648 penderita dengan angka penemuan penderita (CDR) 22%. Penemuan penderita BTA positif tahun 2003 sebanyak 10.390 penderita yang dilaporkan dari 35 Kabupaten / Kota, 11 BP4 dan 1 Rumah Sakit Paru dengan angka penemuan penderita (CDR) 28,5% dan ditemukan jumlah penderita baru BTA positif 39.061 kasus. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1.742 kasus (Dinkes Propinsi Jateng, 2002). Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Pati tahun 2005 kasus TB paru baru ditemukan 254 kasus dengan (CDR) 26,19 % dan tahun 2006 sampai dengan triwulan ketiga sebanyak 171 kasus dengan (CDR) 13,05 % (DKK Pati, 2006). Penyakit TB paru sebagian besar terjadi pada orang dewasa yang telah mendapatkan infeksi primer pada waktu kecil dan tidak ditangani dengan baik. Morbiditas TB paru terutama akibat keterlambatan pengobatan, tidak terdeteksi secara dini, tidak mendapatkan informasi pencegahan yang tepat dan memadai (Miller, 1982). Faktor-faktor yang erat hubungannya dengan kejadian TB paru adalah adanya sumber penularan, riwayat kontak penderita, tingkat sosial ekonomi, tingkat paparan, virulensi basil, daya tahan tubuh rendah berkaitan dengan genetik, keadaan gizi, faktor faali, usia, nutrisi, imunisasi, keadaan perumahan meliputi (suhu dalam rumah, ventilasi, pencahayaan PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com 3 dalam rumah, kelembaban rumah, kepadatan penghuni dan lingkungan sekitar rumah ) dan pekerjaan (Amir dan Alsegaf, 1989). Lamanya perlindungan akibat vaksin BCG merupakan perdebatan, pengalaman dari suatu pengkajian berpendapat 7-12 tahun hingga 50 tahun setelah pengembangan vaksin ( Nelson, 1992). Hasil penelitian dengan kohort, case control dan meta analisis serta eksperimen yang terseleksi bahwa vaksin BCG mempunyai efektifitas sekitar 50% dalam mencegah TB paru, biasanya tidak menetap lama dan bervariasi dari strain satu kestrain lainnya (Colditz, 1993). Kontak yang berlebihan dengan kuman Mycobacterium tuberculosis adalah kontak yang berlangsung terus menerus selama 3 bulan atau lebih . Masalah kontak ini terutama dilihat dari kebiasaan penderita yang kurang baik dalam pengeloalan ludah / sekret, kepadatan penghuni dan kondisi perumahan rakyat pada umumnya kurang memenuhi syarat (Bloom Barry, 1994), Menurut cakupan Penderita baru BTA positif dari 2003-2006 di BP4 Pati tahun 2003 – 2006 jumlah penderita TB paru 419 kasus baru. Tujuan untuk mengetahui faktor– faktor yang berhubungan dengan kejadian TB paru pada usia dewasa. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan rancangan kasus kontrol. Desain ini dipilih dengan pertimbangan dapat digunakan untuk mencari hubungan seberapa jauh faktor risiko mempengaruhi terjadinya penyakit atau kelainan tertentu. 8 Pada penelitian ini populasi studi adalah semua penderita yang ditemukan di BP 4 Pati yang terpilih untuk masuk ke dalam kelompok kasus atau kelompok kontrol. Subjek penelitian adalah penderita TB Paru yang diambil dari catatan medik rumah sakit. Kasus adalah penderita TB Paru yang didiagnosis secara klinis berdasarkan pemeriksaan BTA dan rontgen positif laboratorik menderita TB paru dan tercatat dalam rekam medis. Kontrol adalah bukan penderita TB Paru yang diambil melalui catatan medik yang ada di BP 4 Pati. Besar sampel yang digunakan sebagai sampel minimal dalam penelitian ini yaitu 106 sampel, dimana 53 sampel kasus dan 53 sampel kontrol Pengolahan data meliputi Cleaning, Editing, Coding, Entry Data. Analisis data hasil penelitian disajikan secara univariat (deskriptif) untuk mengetahui proporsi masing-masing variable. Program SPSS versi 13.0 dipergunakan untuk analisis bivariat dengan uji X2 (Chi Square) yakni menganalisis hubungan masing-masing faktor dengan kejadian TB Paru dan mendapatkan risiko (Odds Ratio), yang bermakna dengan tingkat kepercayaan α = 0,05 dan Confidence Interval (CI) = 95%. Selanjutnya variabel yang mempunyai korelasi cukup kuat dalam hal ini p < 0,05 dan p< 0,25 pada analisis bivariat bermakna dilakukan analisis multivariate. Untuk memperoleh pengaruh variable bebas (faktor risiko) terhadap variabel terikat dilakukan uji Regresi Logistik Ganda dengan metode Forward strepwise conditional PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com 4 Kemungkinan interaksi antara dua variabel atau lebih dilakukan apabila ada kemungkinan hubungan biologis atau statistik dengan memasukkan interaksi ke dalam model Gambaran Karakteristik Subjek Penelitian Dari 106 responden laki-laki 49 orang terdiri dari 22 atau 20,8% kasus dan 27 atau 25,5% kontrol sedangkan responden wanita 57 orang terdiri dari 31 atau 29,2% kasus dan 26 atau 24,5% kontrol. Kabupaten Pati 69 atau 65,1% orang, terdiri dari 33 atau 31,1% kasus dan 36 atau 34% kontrol, Kudus 24 orang atau 22,6% terdiri dari 14 orang atau 13,25 kasus dan 10 orang atau 9,4% kontrol, Rembang 8 orang atau 7,5% terdiri dari 3 orang atau 5,7% kasus dan 5 orang 9,4% kontrol, Jepara 4 orang atau 3,8 % terdiri dari 3 orang atau 2,8% kasus dan 1 orang atau 0,9% kontrol sedangkan paling sedikit adalah demak 1 orang 0,9%. Pendidikan terakhir yang diikuti responden paling banyak tidak tamat SD 33 orang atau 31,1% dimana kelompok kasus lebih banyak yaitu 13 orang atau 12,3 % dan 20 orang atau 18,9% control, tamat SMA 27 orang atau 25,5% terdiri dari 4 orang atau 3,8% kasus dan 23 orang 21,7% control, tamat SD 22 orang atau 20,8% terdiri dari 16 orang atau 15,1% kasus dan 6 orang atau 5,7% control, tamat SLTP 15 orang atau 14,2% semuanya pada kelompok kasus, tidak sekolah 6 orang atau 5,7% sama antara kelompok kasus dan control yaitu 3 orang atau 2,8% sedangkan paling sedikit adalah pendidikan tamat PT 3 orang atau 2,8% terdiri dari 2 orang atai 1,9% kasus dan 1 orang atau 0,9% kontro. Proporsi usia yang paling banyak adalah 46 - 50 tahun 56 orang (52,8 %) terdiri dari kelompok kasus 37 orang (34,9%) dan kelompok kontrol 19 orang (17,9 %) dan terendah pada usia 36 – 40 tahun 4 orang (3,8 %). Rata-rata usia responden 39,8 tahun terbanyak usia 46 dengan standar deviasi 10,489 Pekerjaan responden proporsi terbesar adalah petani sebanyak 43 orang atau 43,6% kemudian buruh pabrik 18 orang atau 17% dan paling kecil adalah buruh tani 1 orang atau 0,9% pada kasus dan PNS sebanyak 1 orang atau 0,9% pada kontrol. Berdasarkan kelompok pekerja dengan penghasilan tetap dan tidak tetap, maka proporsi tidak tetap lebih besar yaitu 76 orang atau 71,7% terdiri dari 43 atau 46,35 pada kasus dan 33 atau 33,1% kontrol dari pendapatan tetap 30 atau 28,3% terdiri dari 10 atau 9,4% pada kasus lebih kecil kontrol20 atau 18,9% Pendapatan terendah Rp 110.000 dan tertinggi Rp 1.425.000,-. Pendapatan terbanyak pada masingmsing keluarga adalah Rp 520.000,- Pengeluaran pada kelompok kasus ratarata Rp 660.284,91 dan pada kelompok kontrol Rp 774.433,-. Kategori pendapatan keluarga dilihat dari pengeluaran bulanan hasil penelitian menunjukkan proporsi pendapatan tertinggi antara Rp 501.000,- - Rp 750.000,- sebesar 46,2% dan paling kecil < Rp 250.000,- sebesar 1,9% Kepadatan rumah yang dihitung berdasarkan luas rumah dengan dibagi jumlah penghuni. Hasil penelitian didapatkan jumlah penghuni rumah antara 1 – 10 orang.. Responden terbanyak adalah sesuai standar yaitu lebih dari 9 m² sebanyak 89 responden (84 %), pada kelompok kasus 39 orang ( 36,8 %) dan pada kelompok kontrol 50 orang (47,2 %) sedangkan yang tidak standar 17 orang (16 %) pada kelompok kasus 14 orang (13,2 %) dan pada kelompok kontrol 3 orang (2,8 %). Jumlah penghuni terbanyak adalah 5 orang sebanyak 40 keluarga (37,7 %) pada kelompok kasus 16 keluarga (15, 1 %) dan pada kelompok kontrol 24 keluarga (22,6 %) HASIL PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com 5 Proporsi adanya riwayat kontak penularan dengan anggota keluarga yang menderita TB paru lebih besar pada kelompok TB paru (34 %) dari kelompok bukan TB (7,5 %). Hasil analisa statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna dengan didapatkan hasil odds ratio (OR) sebesar 6,3 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 1,961 – 20,238, dengan nilai p = 0,001. Proporsi usia responden diatas 45 tahun lebih besar (69,8 %) lebih besar dari usia antara 15 – 45 tahun (37,7 %). Hasil analisa statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna dengan didapatkan hasil odds ratio (OR) sebesar 3,816 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 1,701 – 8,558, dengan nilai p = 0,001. Proporsi kelembaban di dalam kamar tidur 70 % pada kelompok TB paru lebih besar (62,3 %) lebih besar dari kelompok bukan TB (20,8 %). Hasil analisa statistik menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara kelembaban udara dikamar tidur dengan kejadian TB paru dengan nilai p = 0,004, berdasarkan kategorikal memenuhi standar dan tidak sesuai standar didapatkan hasil adanya hubungan yang bermakna dengan didapatkan hasil odds ratio (OR) sebesar 6,3 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 2,651-14,971. Proporsi jenis lantai kamar tidur tidak standar pada kelompok TB paru 81,1 % lebih besar dari kelompok bukan TB paru 37,7%. Hasil analisa statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna dengan didapatkan hasil odds ratio (OR) sebesar 7,095 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 2,930 – 17,179, dengan nilai p = 0,0001. Proporsi Jenis dinding kamat tidur tidak setandar pada kelompok TB paru (62,3 %) lebih besar dari kelompok bukan TB (18,9 %). Hasil analisa statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna dengan didapatkan hasil odds ratio (OR) sebesar 7,095 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 2,930 – 17,179, dengan nilai p = 0,0001. Proporsi Ukuran ventilasi kamar tidur tidak standar (98,1 %) lebih besar dari kelompok bukan TB (75,5 %). Hasil analisa statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna dengan didapatkan hasil odds ratio (OR) sebesar 16,9 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 2,121 – 134,641, dengan nilai p = 0,001. Proporsi pencahayaan kamar tidur pada kelompok TB paru (58,5 %) lebih besar dari kelompok bukan TB (15,1 %). Hasil analisa statistik inferensial menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna dengan nilai p = 0001, setelah dilakukan kategorikal juga ada hubungan yang bermakna dengan nilai odds ratio (OR) sebesar 7,926 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 3,129 – 20,080. Proporsi kepadatan rumah yang tidak standar (26,4 %) pada kelompok TB paru lebih besar dari kelompok bukan TB (5,7 %). Hasil analisa statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna dengan didapatkan hasil odds ratio (OR) sebesar 5,983 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 1,606 – 22,293, dengan nilai p = 0,004. Proporsi suhu dalam kamar tidur tidak standar pada kelompok Tb Paru 52,8 % lebih besar dari kelompok bukan Tb yaitu 13,2 %. Hasil analisa statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dengan nlai p = 0,0001, hasil kategorikal menunjukkan adanya hubungan yang bermakna dengan didapatkan hasil odds ratio (OR) sebesar 7,360 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 2,816 – 19,238. Proporsi tingkat pendapatan £ Rp 650.000,- sebesar 56,6 % lebih besar dari kelompok bukan Tb yaitu 34 %. Hasil analisa statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dengan nilai p = 0,016, hasil kategorikal terbukti ada hubungan yang bermakna dengan didapatkan hasil odds ratio (OR) PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com 6 sebesar 2,536 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 1,155 – 5,568. Proporsi tingkat pengetahuan kurang pada kelompok TB paru 90,6 % lebih besar dari kelompok bukan TB 26,4 %. Hasil analisa statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dengan nilai p = 0,0001, hasil kategorikal terbukti ada hubungan yang bermakna dengan didapatkan hasil odds ratio (OR) sebesar 26,743 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 8,857 – 80,749. Proporsi jenis pekerjaan yang berpenghasilan tidak tetap 81,1 % lebih besar dari kelompok bukan TB yaitu 62,3 %. Hasil analisa statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna dengan didapatkan hasil odds ratio (OR) sebesar 2,606 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 1,076 – 6,310, dengan nilai p = 0,031. Proporsi status gizi (IMT) kurang baik pada kelompok TB paru 64,2 % lebih besar dari kelompok bukan TB 11,3 %. Hasil analisa statistik menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna dengan nilai p = 0,038, hasil kategorikal menunjukkan ada hubungan yang bermakna dengan didapatkan hasil odds ratio (OR) sebesar 3,789 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 1,694 – 8,475. Proporsi mempunyai riwayat kebiasaan merokok pada kelompok TB paru 54,7 % lebih besar dari kelompok bukan TB 32,1 %. Hasil analisa statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna dengan didapatkan hasil odds ratio (OR) sebesar 2,559 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 1,161 – 5,642, dengan nilai p = 0,019. Proporsi yang mempunyai kebiasaan minuman keras pada kelompok Tb 20,8 % lebih besar dari kelompok bukab TB 17 %. Hasil analisa statistik menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna dengan didapatkan hasil odds ratio (OR) sebesar 1,280 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 0,482 – 3,402, dengan nilai p = 0,620. Proporsi adanya riwayat penyakit yang menyertai pada kelompok kasus 32,1 % lebih besar dari kelom[pok bukan TB tidak ada (0 %). Hasil analisa statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna dengan didapatkan hasil odds ratio (OR) sebesar 2,472 dengan 95 % Confidence Interval (CI) 1,921 – 3,181, dengan nilai p = 0,0001. Selengkapnya seperti tertera pada tabel 2. berikut : PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com 7 Tabel 1 Rangkuman dari beberapa variabel terhadap kejadian TB Paru pada usia dewasa di BP4 Pati tahun 2007 Variabel Odds Ratio (OR) 95 % CI Nilai P Kelembaban kamar tidur 6,3. 2,651 – 14,971 0,004 Ventilasi kamar tidur 16,9 2,121 – 134,641 0,001 Pencahayaan kamar tidur 7,926 3,129 – 20,080 0,0001 Suhu Kamar tidur 7,360 2,816 – 19,238 0,0001 Jenis lantai 7,095 2,930 – 17,179 0,001 Jenis dinding kamar tidur 7,095 2,930 – 17,179 0,001 Jumlah penghuni 5,983 1,606 – 22,293 0,004 Riwayat kontak penularan dengan anggota keluarga 6,3 1,961 – 20,238 0,001 Riwayat penyakit penyerta 2,472 1,921 – 3,181 0,001 Umur 3,816 1,701 – 8,558 0,001 Jenis pekerjaan 2,606 1,076 – 6,310 0,031 Tingkat pendapatan 2,536 1,155 – 5,568 0,016 Tingkat pengetahuan 26,743 8,857 – 80,749 0,0001 Kebiasaan merokok 2,559 1,161 – 5,642 0,019 Kebiasaan minuman keras 1,280 0,482 – 3,402 0,620 Status gizi 14,018 5,063 – 38,811 0,038 Tabel 2 Rangkuman Hasil analisa multivariat model akhir regresi logistik No Variabel B Wald OR (eks b) 95% CI Nilai p 1 Kelembaban kamar tidur 2,230 0,716 9,299 2,286-37,835 0,002 2 Ventilasi kamar tidur 3,401 1,113 29,994 3,388-265,505 0,002 3 Riwayat penularan 4,379 1,314 79,781 6,076-1047,499 0,001 4 IMT 1,632 0,674 5,113 1,364-19,165 0,015 5 Tingkat pengetahuan 3,848 1,128 23,021 3,002-33,194 0,001 Constant : - 8,294 PEMBAHASAN Hasil uji analisa regresi terdapat 5 (lima ) variabel yang berhubungan secara bersama-sama terhadap kejadian TB Paru pada usia dewasa yaitu ; kelembaban kamar tidur (OR adjusted = 9,299, ; 95% Confidence Interval : 2,286-37,835, p=0,002), ventilasi kamar tidur (OR adjusted = 29,994, ; 95% Confidence Interval : 3,388- 265,505, p=0,002), Riwayat penularan anggota keluarga (OR adjusted = 79,781, 95% Confidence Interval : 6,076-1047,499, p=0,001), Status gizi (Indeks Massa Tubuh) (OR adjusted = 5,113 ; 95% Confidence Interval : 1,364-19,165, p=0,015) dan tingkat pengetahuan (OR adjusted = 23,021 ; 95% Confidence Interval : 3,002- 33,194, p=0,001). PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com 8 Apabila dimasukkan dalam persamaan regresi logistik ganda, maka diperoleh nilai : 1 r = ------------------------------------ 1 + e –{α + β1x1(lembab) + β2x2 (ventilasi) + β3x3 (rriwayat penularan) + β4x4 (IMT)+ β5x5 (Tingkat pengetahuan) } 1 r = --------------------------

    HUBUNGAN POLA ASUH DAN RIWAYAT MEROKOK DENGAN RESIKO ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER (ADHD) PADA ANAK PRA SEKOLAH DI TK KASIAN

    Full text link
    Latar Belakang :Djiwo Tahun 2000-2004 menemukan dari 4015 siswa usia 6-10 tahun di SD wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Barat menunjukkan prevalensi 26,2% anak ADHD berdasarkan kriteria DSM IV. Oleh Balitbang Direktotar Pendidikan Luar Biasa, 26,2% mengalami ADHD karena pola asuh orang tua 33% dan 67% karena pengaruh pencemaran lingkungan seperti asap rokok dan asap kendaraan bermotor,  perjalanan prenatal terhadap alkohol, dan malnutrisi berat pada masa anak-anak (Judarwanto, 2009). Tujuan : Mengetahui hubungan antara Pola Asuh dan Riwayat Merokok dengan Resiko Kejadian ADHD pada Anak Prasekolah Di TK Kasian. Metode :Jenis penelitian korelasi analitik. Menggunakan pendekatan Cross Sectional, sampel 65 responden dengan tekhnik  total sampling. Alat ukur adalah kuesioner dan cek list. Analisa data univariat dan bivariat. Uji hubungan penelitian menggunakan uji Chi Square. Hasil Penelitian : Tidak ada hubungan antara pola asuh dengan Resiko Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak pra sekolah di TK Kasian dengan p value 1,000 > 0,05 dan tidak ada hubungan antara riwayat merokok dengan Resiko Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak pra sekolah di TK Kasian dengan p value 0,543 > 0,05. Kesimpulan : tidak ada hubungan yang signifikan antara pola asuh dan riwayat merokok dengan resiko Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN OSTEO ARTERITIS LUTUT PADA LANSIA DI RSU JEPARA TAHUN 2008

    Full text link
    Latar Belakang : Osteo Arteritis (OA) merupakan penyakit sendi yg paling banyak  ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini menyebabkan nyeri & disabilitas, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. OA di Indonesia tercatat 81% dari total penduduk,  sebanyak 29% melakukan pemeriksaan dokter & sisanya atau  71% mengonsumsi obat bebas pereda nyeri, di Kab Malang dan Kota Malang : prevalensi OA 10% & 13,5% di Poliklinik Subbagian Rematologi FKUI/RSCM : 43,82% di Jawa Tengah, kejadian penyakit OA sebesar 5,1% dari semua   pendudukTujuan Penelitian : Untuk mengetahui factor-factor yang berhubungan dengan penyakit OA lutut pada lansia di RSU RA Kartini Jepara.Metode Penelitian : Jenis penelitian Descriptive Corelation menggunakan pendekatan Cross Sectional study. Jumlah populasi 93 dan kasus yang diambil 40 orang.Hasil Penelitian : Hasil analisis bivariat  kelompok usia X² =4,471, P value 0,215, jenis kelamin X²= 12,130, P value 0,0001, Pekerjaan X²=2,152, P value 0,341, olah raga X²=  7,059, jumlah konsumsi rokok X²=5,700, status gizi / obesitas X²=2,849, P value 0,091, penyakit sistemik X²= 13,333, P value 0,0001, riwayat cidera X²= 0,404, P value= 0,525Kesimpulan : Faktor yang berhubungan dengan OA adalah  Jenis Kelamin, Olah raga dan penyakit sistemikSaran : memberikan informasi mengenai faktor yang berhubungan osteoartritis lutut, sehingga dapat direncanakan program kesehatan yang dirasa perlu, misalnya upaya promosi kesehatan, tindakan-tindakan pencegahan dan penanganan

    PENGARUH GIZI KURANG TERHADAP PENCAPAIAN PERKEMBANGAN ASPEK MOTORIK KASAR DAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA 0-36 BULAN DI WILAYAH PUSKESMAS JATI KUDUS

    Full text link
    Malnutrisi is circumstance patologis of arising out of effect of is lack of asupan energi protein and  during  a  given  time  period.  If  child  experience of  less  gizi,  clear  hence  will  be  dangerous  to continuity of child life , its problem is child stand in need of kecukupaan gizi to process growth and growth  which  exactly  take  place  fast  very  in  age  batita.  growth  And  growth  represent  health  gizi parameter  which sensitive  enough to assess child health, especially the and batita baby child. This research aim to to know influence  malnutrisi to harsh  growth motorik attainment time accuracy and refine at age child 0-36 month;moon in Puskesmas Jati Kudus.Intake sampel Method in the non random sampling , old fellow bringing his child to posyandu (  specially  the  age  child  0-36  month;moon)  in  Puskesmas  Jati  Kudus  as  sampel  in  this  research. Mount  malnutrisi  measured by using criteria  WHO-NCHS and  mount child  growth attainment time accuracy [in] measure by using kuisioner ( DDST) and KPSP. Research Location [in] Puskesmas Jati Kudus From result of enumeration indicate that value of X calculate 10,97 and assess X table 10,645 [at]  harsh  motorik  and  smooth  motorik, hence  interpretasinya  is  there  influence  of  malnutrisi  to accuracy of time attainment of  harsh  motorik [at] child of age 0-36 month;moon in Puskesmas Jati Kudus.Conclusion from this research expected by energy of health can improve of about gizi of his influence  and child to  growth and  growth especially child of baby and batita. For  the researcher is hereinafter expected more complete relevant research with this research, so that get better result

    HUBUNGAN HIPERKOLESTEROLEMIA, OBESITAS DAN RIWAYAT HIPERTENSI KELUARGA DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DI DESA MEGAWON KUDUS

    Full text link
    Latar Belakang : Tekanan darah pada seseorang tidak selalu dalam keadaan normal. Salah satu gangguan pada tekanan darah adalah hipertensi. Hipertensi merupakan ketidaknormalan tekanan darah pada seseorang berkaitan dengan tingginya tekanan darah yang melebihi batas normal. Faktor-faktor yang mempengaruhi hipertensi antara lain Hiperkolesterolemia, Obesitas, Riayat Hipertensi keluaraga, Usia, Jenis kelamin, Kebiasaan merokok, Konsumsi alkohol, Kurang olahraga, Pola asupan garam tinggi,dan Stress.Tujuan : Mengetahui adanya hubungan Hiperkolesterolemia, Obesitas, Dan Riwayat Hipertensi Keluarga Dengan Kejadian Hipertensi Di Desa Megawon Kudus Tahun 2016.Metode : penelitian ini menggunakan metode Crossectional dengan menggunakan bentuk rancangan pengambilan sampel secara acak. Populasi 91 responden Hipertensi, sampel 48 responden hipertensi. Uji statistic Spearmen.Hasil Penelitian : Didapatkan p value 0.000 (≤0.05),  nilai korelasi spearmen terhadap Hiperkolesterolemia dengan Hipertensi sebesar (0.762), Nilai korelasi spearmen Obesitas dengan Hipertensi sebesar (0.706) dan nilai korelasi spearmen Riwayat hipertensi keluarga dengan Hipertensi sebesar (0.734).Kesimpulan : Maka dapat disimpulkan bahwa HA diterima dan HO ditolak, jadi ada Hubungan Hiperkolesterolemia, Obesitas, Dan Riwayat Hipertensi Keluarga Dengan Kejadian Hipertensi Didesa Megawon Kudus Tahun 2016.</jats:p

    HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN LAMANYA MENSTRUASI PADA MAHASISWA TINGKAT III PRODI DIII KEPERAWATAN YANG SEDANG MENGHADAPI UJIAN AKHIR PROGRAM TAHUN 2010

    Full text link
    Latar belakang : gangguan emosional, ketegangan, tekanan, kegelisahan, semuanya dapat membawa kepada gejalanya haid atau ketidaknormalan pendarahan pada rahim. Ini terjadi karena hypothalamus yang kemudian mempengaruhi siklus pelepasan hormone yang merangsang ovulasi menjadi terhalang, akibatnya mengarah kepada ketidakteraturan haid.  Keadaan mesntruasi yang tidak teratur dan gangguan-gangguan pada saat menstruasi ternyata juga sering dikeluhkan oleh mahasiswa tingkat 3 Prodi D3 Keperawatan STIKES Muhammadiyah.Tujuan penelitian : tujuan umum : Diketahuinya hubungan antara tingkat kecemasan dengan lamanya menstruasi pada mahasiswa tingkat III DIII keperawatan yang sedang mengahadapi ujian UAP di STIKES Muhammadiyah Kudus Tahun 2010. tujuan khusus : di ketahuinya Tingkat Kecemasan Pada Mahasiswa Tingkat III prodi DIII Keperawatan Yang Sedang Menghadapi Uap Di Stikes Muhammadiyah Kudus Tahun 2010, di ketahuinya lamanya Menstruasi Pada Mahasiswa Tingkat III Prodi DIII Keperawatan Yang Sedang Menghadapi Uap Di Stikes Muhammadiyah Kudus Tahun 2010.Metode penelitian : jenis penelitian ini adalah studi korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa D III Keperawatan dengan sampel 36 orang yang diambil dengan tehnik random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner dengan metode pengumpulan data adalah angket. Analisa data untuk menguji hipotesa digunakan uji statistik spearman rank.Hasil penelitian : sebagian besar responden mengalami tingkat kecemasan berat (47,2%) dan mengalami lamanya hari menstruasi tidak normal (75%). Uji hipotesa diperoleh ada hubungan antara tingkat kecemasan dengan lamanya hari menstruasi pada mahasiswa tingkat III prodi D 3 keperawatan yang sedang menghadapi ujian akhir program (Rho : 0,511 dan p value : 0,005).Kesimpulan : Ada hubungan tingkat kecemasan dengan lamanya hari menstruasi pada mahasiswa tingkat III prodi D 3 keperawatan di STIKES Muhammadiyah Kudus tahun 2010. Diharapkan semua pihak berkenan memahami masalah kesehatan reproduksi yang dialami oleh para mahasiswa sehingga proses belajar mengajar dapat lebih efektif lagi dengan metode yang mengarah kepada belajar santai namun dipahami

    HUBUNGAN STRES KERJA DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA PEKERJA PABRIK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KALIWUNGU

    Full text link
    Latar Belakang :Penyakit hipertensi merupakan masalah yang sedang dialami oleh seluruh dunia. Berdasarkan data WHO (2008), sebesar 40% penduduk usiadewasa menderita     hipertensi.  Hipertensi salah satunya disebabkan oleh faktor stres, salah satunya  orang  zaman sekarang sibuk mengutamakan pekerjaan untuk mencapai kesuksesan.  Kesibukan dan kerja keras serta tujuan- tujuan yang berat mengakibatkan timbulnya  rasa  stres  dan  timbulnya  tekanan  yang  tinggi. Tujuan : Diketahuinya hubungan stress kerja dengan kejadian hipertensi pada pekerja pabrik di wilayah kerja Puskesmas Kaliwungu Kudus 2017. Metode : Jenis penelitian Analitik Korelasi. Menggunakan pendekatan Cross Sectional. Sampel 81 responden pasien rawat jalan puskesmas Kaliwungu dengan tekhnik random sampling. Alat ukur yang digunakan ada;ah kuesioner. Analisa data univariat dan bivariate. Uji hubungan penelitian ini menggunakan Spearman rhow. Hasil Penelitian : Penelitian tentang hubungan stress kerja dengan kejadian hipertensi pada buruh pabrik di wilayah kerja puskesmas Kaliwungu Kudus 2017 dengan uji statistic Spearman Rhow di peroleh nilai p (0.000). Kesimpulan : Ada hubungan stress kerja dengan kejadian hipertensi pada pekerja pabrik di wilayah kerja Puskesmas Kaliwungu Kudus 2017. (Ha diterima, Ho ditolak

    HUBUNGAN PELATIHAN BEDAH DASAR I DENGAN IMPLEMENTASI SURGICAL PATIENT SAFETY PADA PERAWAT DI KAMAR BEDAH RSI SUNAN KUDUS

    Full text link
    ABSTRAK Latar Belakang. Keselamatan Pasien merupakan isu global dan nasional bagi rumah sakit. Keselamatan pasien di ruang operasi ditingkatkan melalui pelaksanaan surgical safety Checklist. Implementasi surgical safety Checklist dipengaruhi pelatihan bedah dasar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pelatihan bedah dasar I dengan implementasi surgical patient safety pada perawat di kamar bedah RSI Sunan Kudus. Metode. Jenis penelitian ini adalah korelasional analitik dengan desain penelitian cros sectional, teknik pengambilan sampel total sampling. Populasinya adalah perawat di Kamar Bedah RSI Sunan Kudus yang berjumlah sebanyak 30 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS menggunakan uji Chi Square. Hasil. Hasil uji nonparametrik Chi Square didapatkan nilai p 0.000. Simpulan. Terdapat hubungan antara pelatihan bedah dasar I dengan implementasi surgical patient safety pada perawat di kamar bedah RSI Sunan Kudus karena nilai p (0.000) > 0.05 pada taraf signifikansi 5%. Disarankan agar rumah sakit memberikan program peningkatan pengetahuan dan skill perawat bedah melalui pelatihan bedah dasar serta melengkapi standar operasional prosedur di kamar bedah. Kata kunci : Pelatihan Bedah Dasar, Surgical Safety Checklist.   ABSTRACT  Background. Patient Safety was a global and national issue for hospitals. Patient safety in the operating room was enhanced through the implementation of a surgical safety Checklist. Implementation of surgical safety Checklist was influenced by basic surgical training. The purpose of this research was to know the relationship of basic surgical training I with the implementation of surgical patient safety at nurses in surgery room RSI Sunan Kudus. Method. The research was correlational analytics with cross sectional design. The technique sampling used total sampling. The population was nurses in Surgery Room RSI Sunan Kudus. The total of them were 30 peoples. Data collecting used questionnaire. The data analysis was done with Chi Square test. Results. The result of nonparametric test of Chi Square got value p 0.000. Conclusion. There was a relationship between basic surgical training I and the implementation of surgical patient safety at nurses in surgery room RSI Sunan Kudus because p value (0.000) > 0.05 at 5% significance level. It was suggested that the hospital provide a program of knowledge enhancement and surgical nurse skills through basic surgical training as well as complementing standard operating procedures in the operating room. Keywords: Basic Surgery Training, Surgical Safety Checklist

    HUBUNGAN ANTARA PARITAS, RIWAYAT KEHAMILAN,DAN ASUPAN KALSIUM DENGAN KEJADIAN PRE EKLAMPSIA BERAT

    Full text link
    Latar Belakang: Preeklampsia/eklampsia merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas perinatal di Indonesia. Sampai sekarang penyakit preeklamsia/eklamsia masih merupakan masalah kebidanan yang belum dapat erpecahkan secara tuntas. Preeklampsia merupakan penyakit yang angka kejadiannya di setiap negara berbeda-beda.Tujuan : Mengetahui hubungan paritas, riwayat kehamilan,dan asupan kalsium dengan kejadian pre eklampsia berat di UPT Puskesmas Jepang.Metode: Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua ibu hamil yang melakukan ANC di Puskesmas Jepang Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus pada bulan Agustus 2017 sebanyak 30 ibu hamil.Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC di Puskesmas Jepang Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus  pada bulan Agustus 2017 sebanyak 30 orang. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian Mayoritas responden memiliki paritas multipara sebanyak 18 orang (60%), dan yang primipara sebanyak 12 orang (40%). Mayoritas responden memiliki riwayat tidak pernah pre eklampsia berat sebanyak 16 orang (53,3%) dan yang pernah pre eklampsia berat sebanyak 14 orang (46,7%). Mayoritas responden memiliki asupan kalsium cukup sebanyak 18 orang (60%) dan yang asupan kalsium tidak cukup sebanyak 12 orang (40%). Mayoritas responden tidak pre eklampsia berat sebanyak 18 orang (60%) dan yang pre eklampsia berat sebanyak 12 orang (40%). Ada  hubungan paritas dengan kejadian pre eklampsia berat di upt puskesmas jepang (p value = 0,001). Ada  hubungan riwayat kehamilan dengan kejadian pre eklampsia berat di upt puskesmas jepang (p value = 0,001). Ada  hubungan asupan kalsium dengan kejadian pre eklampsia berat di upt puskesmas jepang (p value = 0,009). Berdasarkan analisis regresi faktor yang paling berpengaruh dengan kejadian pre eklampsia berat adalah asupan kalsium (koefisien = 0,477). Kesimpulan Ada  hubungan paritas, riwayat kehamilan dan asupan kalsium dengan kejadian pre eklampsia berat di UPT Puskesmas Jepang..Kata Kunci      : Preeklampsia berat, paritas, riwayat kehamilan, asupan kalsiu ABSTRACT Background: Preeclampsia / eclampsia is one of the major causes of perinatal morbidity and mortality in Indonesia. Until now the disease of preeclampsia / eclampsia is still a matter of obstetrics that can not be eradicated completely. Preeclampsia is a disease whose number of events in each country is different. Objective: To determine the relationship of parity, pregnancy history, and calcium intake with the incidence of severe pre eclampsia Method: In this study the population is all pregnant women who do the ANC at the Health Center of Jepang District Mejobo Kudus Regency in August 2017 as many as 30 pregnant women. Samples in this study were pregnant women who visited the ANC at the Puskesmas Jepang District Mejobo Kudus District on in August 2017 as many as 30 people. Data analysis used univariate and bivariate analysis. Result of research Majority of respondents have multiparity parity as many as 18 people (60%), and primipara 12 (40%). The majority of respondents have a history of never preeclampsia  as many as 16 people (53.3%) and who ever peb as many as 14 people (46.7%). The majority of respondents have enough intake of calcium as many as 18 people (60%) and who intake of calcium is not enough as many as 12 people (40%). The majority of respondents are not preeclampsia as many as 18 people (60%) and who preeclampsia  as many as 12 people (40%). There is a parity relationship with the incidence of severe eclampsia in Puskesmas Jepang upt (p value = 0.001). There was a correlation of pregnancy history with severe pre eclampsia incidence at upt Puskesmas jepang  (p value = 0,001). There is a correlation of calcium intake with severe pre eclampsia occurrence at UPT Puskesmas jepang  (p value = 0,009). Based on regression analysis the most influential factor with severe pre eclampsia incidence was calcium intake (coefficient = 0.477). Conclusion There was a parity relationship, a history of pregnancy and calcium intake with severe preeclampsia events at the UPT Puskesmas Jepang. . Keywords: severe preeclampsia, parity, pregnancy history, calcium supplements
    corecore