1,720,989 research outputs found
PENGARUH BUDAYA (AGENDA KEGIATAN) MASYARAKAT DALAM PENGUNGKAPAN SISTEM DESA TENGANAN
Tujuan yang ingin diperoleh dari pembahasan masalah kebudayaan (adat) masyarakat desa Tenganan adalah untuk mengetahui dan memahami bagaimana masyarakat setempat menghadapi dan menginterpretasikan masalah kebutuhan hidup yang mendorong terjadinya proses perubahan pada sistem desa dan sistem keindahan.
Berdasarkan analisis kualitatif singkat dapat diajukan beberapa butir kesimpulan sebagai berikut. Sehubungan dengan agenda kegiatan masyarakat desa Tenganan, maka pola pikir yang dapat dibaca adalah masyarakat desa Tenganan lebih mengutamakan kepentingan umum (kegiatan kolektif) dibandingkan kepentingan perseorangan (kegiatan pribadi). Agenda kegiatan masyarakat desa Tenganan dapat terselenggara secara harmonis karena memiliki budaya atau adat cukup tua dan mapan serta didukung oleh kalender kegiatan yang sudah baku. Pengaruh agenda kegiatan masyarakat terhadap sistem desa Tenganan adalah terciptanya kejelasan antara ruang bersama dan ruang pribadi, serta tercipta sistem keindahan yang redup atau feminim karena sebagian besar upacara penting di desa Tenganan berlangsung pada malam hari
KONSERVASI BANGUNAN BERSEJARAH : Studi Kasus Bangunan Peribadatan di Pulau Bali
Pemerintah Indonesia sebenarnya sangat peduli dengan bidang pelestarian. Indonesia juga tidak dapat menghindari proses globalisasi. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah mengadakan perubahan menuju masyarakat baru, tetapi tidak tercerabut dari akar sejarah dan tradisi ?. Diperlukan cara untuk mengelola perubahan melalui konservasi menuju masyarakat baru, tetapi tidak tercerabut dari akar sejarah dan tradisi. Konservasi dapat meliputi seluruh kegiatan pemeliharan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Konservasi dapat dilakukan melalui pendekatan “continuity and change” serta jaminan ekonomi. Berdasarkan perjalanan sejarah leluhur orang Bali dan konsep Tri Hita Karana (Parhyangan / Spiritual – Pawongan / Sosial – Palemahan / Lingkungan) banyak dalam areal pura-pura besar di Bali dan pada tempat-tempat umum lainnya dibangun bangunan peribadatan untuk umat beragama Budha dan agama lainnya menggunakan langgam arsitektur yang selaras dengan arsitektur Bali pada umumnya. Pengalaman konservasi pada konteks tertentu dari aspek sosial budaya di Bali dapat dilepaskan (detachable), yang kemudian diharapkan dapat dipakai pada konteks lain di Medan dengan beberapa penyesuaian sesuai kondisi setempat
PENGARUH AGAMA DAN KEPERCAYAAN (SEKTE) TERHADAP POLA PIKIR MASYARAKAT DALAM PENGUNGKAPAN SISTEM DESA TENGANAN
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui hubungan antara agama dan kepercayaan masyarakat dengan pembentukan sistem desa Tenganan Pagringsingan. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui “perbandingan” antara data sekunder dengan data primer (fisik dan non fisik).
Dibandingkan dengan desa-desa lain, perbedaan yang terdapat pada kehidupan agama Hindu di desa Tenganan meliputi jenis upacara, waktu pelaksanaan upacara, jenis tarian, sistem penguburan mayat dan bentuk bangunan suci. Perbedaan itu dapat terjadi karena adanya berbagai aliran (kepercayaan) yang mempengaruhi pelaksanaan agama Hindu pada desa-desa di Bali. Faktor yang menimbulkan perbedaan adalah adanya kepercayaan kepada Dewa Indra sebagai Dewa perang, Dewa keindahan/tarian, Dewa hujan dan Dewa tertinggi atau terpopuler di antara Dewa-dewa Hindu yang lain
TEKNOLOGI vs IDEOLOGI: MEMBANGUN IDENTITAS KOTA MELALUI IKON ARSITEKTUR DESA
Arsitektur tradisional Bali memiliki
elemen penggubahan sangat beragam yang
berkaitan dengan ruang dan bentuk. Pada beberapa
kasus dapat dikatakan ikon atau identitas kota
mempengaruhi arsitektur perdesaan. Sebaliknya
dalam makalah ini penulis justru ingin
menawarkan ide agar keragaman ikon arsitektur
desa pegunungan dapat memperkaya identitas
kota (desa dataran). Ide ini tentu saja sangat
realistis mengingat antara desa dan kota saling
pengaruh mempengaruhi. Ikon arsitektur desa
dengan beberapa penyesuaian atau perubahan
dapat diterapkan di daerah perkotaan. Misalnya
tata ruang (rumah deret) dan pengawasan ruang
(kelompok otonom) di desa pegunungan dapat
diterapkan di daerah perkotaan. Mengingat
gubahan bentuk dan ruang arsitektur di kota
Denpasar relatif seragam dan kental dengan
elaborasi tinggi atau banyak ornamen seperti
arsitektur kota Denpasar dan kota Gianyar
PENGARUH MAKNA DAN KARAKTER DALAM KAITANNYA DENGAN POLA PIKIR MASYARAKAT DALAM PENGUNGKAPAN SISTEM DESA TENGANAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan naskah ini adalah untuk mengetahui dan menghayati hubungan antara makna dan karakter masyarakat dengan pembentukan sistem desa Tenganan Pagringsingan.
Berdasarkan analisis kualitatif singkat dapat diajukan beberapa butir kesimpulan sebagai berikut. Sistem makna atau nilai filosofis yang dianut masyarakat desa Tenganan adalah menekankan hubungan yang harmonis antara makrokosmos dengan mikrokosmos yang lebih banyak dijiwai aliran Indra. Sebagai komunitas kecil yang sebagian besar hidup dari pertanian (agraris), masyarakat desa Tenganan cenderung memiliki karakter yang komunal, religius, borjuis dan tertutup. Sistem makna dan karakter sangat berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat. Hal ini tercermin pada beberapa aktivitas dan penataan fisik pada ketiga skala spasial yaitu makro, meso, dan mikro. Aktivitas komunal kebanyakan dalam bentuk pelaksanaan upacara desa, gotong royong pembangunan dapur tradisional, tempat suci, mendirikan ayunan, kebersihan lingkungan dan mendapatkan pelayanan optimal dari penggarap tanah. Secara fisik tercermin pada wilayah, blok, dan rumah tinggal yang tertutup, ruang terbuka bersama yang luas dengan deretan fasilitas bersama di tengah-tengah, tempat pemujaan, tempat penyimpanan padi, serta dimensi kapling rumah tinggal relatif kecil
PENGERTIAN DESA (NYATA, FIKTIF) YANG MEMPENGARUHI POLA PIKIR MASYARAKAT DALAM PENGUNGKAPAN SISTEM DESA TENGANAN
Pembahasan masalah pemahaman masyarakat desa Tenganan terhadap desa sebagai wilayah tempat tinggal bertujuan untuk mengetahui dan memahami terbentuknya masyarakat desa Tenganan dalam kaitannya dengan lingkungan sekitar tempat tinggalnya.
Berdasarkan analisis kualitatif pengertian desa menurut asal usul nama (etimologi), morfologi, tipologi, dan topologi desa Tenganan, selanjutnya dapat disimpulkan beberapa hal yaitu : Pemahaman masyarakat desa Tenganan terhadap desa sebagai tempat tinggalnya berkaitan dengan hal-hal yang nyata dan tidak nyata (fiktif). Hal-hal nyata berkaitan dengan morfologi, dan tipologi desa. Hal-hal fiktif berkaitan dengan etimologi, dan topologi desa Tenganan. Pemahaman masyarakat tentang desa berpengaruh terhadap sistem spasial desa Tenganan, hal ini tercermin dalam orientasi desa, penataan fasilitas bersama, kuantitas maupun kualitas prasarana dan sarana, pemilihan serta penataan kapling rumah tinggal
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
