1,721,012 research outputs found

    Fenomena flora dan fauna dalam perspektif Al-Qur'an

    No full text
    Fenomena flora dan dan fauna dalam buku ini didukung dan terinspirasi oleh kenyataan empiris bahwa paham sekularisme-materialisme dan positivisme merebak ke seluruh disiplin ilmu pengetahuan modern termasuk di dalamnya biologi, zoologi, botani, dan sub-disiplinnya. Paham ini memandang fenomena alam sebagai sebuah realitas independen yang terlepas dari Sang Pencipta dan menolak wahyu sebagai sumber dan inspirasi dalam memahami fenomena flora dan fauna. Konsekuensi logisnya, paham ini banyak menimbulkan goncangan, keraguan, dan dapat menggoyahkan sendi-sendi keimanan. Realitas inilah yang mendorong dan memotivasi penulis untuk melakukan kajian mendalam terhadap sinyal-sinyal yang terkandung dalam al-Qur’an baik secara implisit maupun eksplisit terkait dengan fenomena flora dan fauna dan mencoba untuk memahami dalam konteks biologi, zoologi, botani, dan sub-disiplinnya

    Konsep pendidikan Spiritual menurut Al-Ghazali, Ibnu Qayyim, dan Ibnu Sina perspektif Trilogi Epistemologi Muhammad Abed Al-Jabiri: Implikasinya bagi pembentukan karakter peserta didik di era Society 5.0

    No full text
    ABSTRAK Pendidikan modern lebih memberikan aksentuasi pada pengembangan potensi fisik dan kurang memberikan atensi pada potensi spiritual. Padahal kedua ranah tersebut merupakan satu kesatuan bagi manusia yang harus ditumbuh kembangkan secara integral. Ketiadaan salah satu komponen tersebut akan berakibat bagi hilangnya hakikat manusia dan kemanusiaan. Tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk mendeskripsikan konsep pendidikan spiritual menurut Ibnu Qayyim, Al-Ghazali dan Ibnu Sina. 2. Untuk menganalisis konsep pendidikan spiritual menurut Ibnu Qayyim, Al-Ghazali dan Ibnu Sina perspektif trilogi epistemologi Muhammad Abed Al-Jabiri. 3. Untuk mensintesa konsep pendidikan spiritual menurut Ibnu Qayyim, Al-Ghazali dan Ibnu Sina. 4. Untuk menganalisis implikasi-implikasinya bagi pembentukan karakter peserta didik di era modern (Society 5.0). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis library research. Metode pengumpulan data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik analisis komparatif dan analisis konsep disamping analisis isi, analisis linguistik dan analisis historis sebagai penunjangnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep pendidikan spiritual Al-Ghazali, Ibnu Qayyim dan Ibnu Sina dibangun atas pemahaman yang mendalam hakikat manusia (ontologi), epistemologi, aksiologi dalam pandangan dunia Islam (Islamic worldview) yang diderivasi dari wahyu – Al-Qur’an dan as-Sunnah, pengalaman spiritual (intuisi) penalaran rasional (‘aql). Konsep pendidikan spiritual al-Ghazali bersifat intuitif- mistis (kasfiyyah-adz-dzauqiyyah), konsep pendidikan spiritual Ibnu Qayyim bersifat tekstual-normatif, dan konsep pendidikan spiritual Ibnu Sina bersifat rasional- intuitif (al-‘aqliyyah-adzauqiyyah). Sintesisnya adalah konsep pendidikan spiritual dapat dikonstruksi berlandaskan epistemologi bayani (tekstual), irfani (intuitif) dan burhani (rasional) secara integral dan komplementer. Implikasinya adalah pembentukan pendidikan karakter di era Society 5.0 dikonstruksi berdasarkan nilai-nilai spiritual-moral yang terkait dengan relasi Ilahiah dan insaniah disamping nilai-nilai budaya bangsa. Pembentukan karakter peserta didik dilakukan secara berkelanjutan (sustainable), dimulai sejak kecil hingga dewasa agar dapat menghasilkan generasi yang canggih dalam bidang informasi, teknologi dan komunikasi tetapi juga berkarakter unggul. ABSTRACT Modern education emphasizes more on the physical potential development and focuses less on spiritual potential. Nonetheless, these two domains are a unity that must be developed integrally for humans. The absence of one of these components will result in the loss of human essence and humanity. This study aims to: 1. To describe the concept of spiritual education according to Ibn Qayyim, Al-Ghazali and Ibn Sina. 2. To analyze the concept of spiritual education according to Ibn Qayyim, Al-Ghazali and Ibn Sina from the perspective of Muhammad Abed Al-Jabiri's epistemological trilogy. 3. To synthesize the concept of spiritual education according to Ibn Qayyim, Al-Ghazali and Ibn Sina. 4. To analyze the implications for the formation of student character in the modern era (Society 5.0). This study employs a qualitative descriptive approach using library research as the type of study. The data collection method used in this study is the documentation method. It uses comparative analysis and conceptual analysis techniques in addition to content analysis, linguistic analysis and historical analysis. The results of this study indicate that the concept of spiritual education of Al-Ghazali, Ibn Qayyim and Ibn Sina is built on a deep understanding of human nature (ontology), epistemology, and axiology in the Islamic worldview derived from revelation – the Quran and as-Sunnah, spiritual experience (intuition), and rational reasoning ('aql). Al-Ghazali's concept of spiritual education is intuitive-mystical (kasfiyyah-adz-dzauqiyyah). Meanwhile, Ibn Qayyim's concept of spiritual education is textual-normative, and Ibn Sina's concept of spiritual education is rational-intuitive (al-'aqliyyah-adzauqiyyah). The synthesis implies that the concept of spiritual education can be constructed based on bayani (textual), irfani (intuitive) and burhani (rational) epistemology in an integral and complementary way. The implication demonstrates that the formation of character education in the era of Society 5.0 is constructed based on spiritual-moral values related to the Ilahiah (divine) and insaniah (human) relations in addition to the national cultural values. The formation of student character is sustainably implemented, starting from childhood to adulthood in order to produce a generation that is not only skillful in information, technology and communication aspects but also has exceptional character. مستخلص البحث يعطي التعليم الحديث مزيدا من التركيز على تطوير الإمكانات البدنية وأقل اهتماما بالإمكانات الروحية. على الرغم من أن هذين المجالين هما وحدة للبشر يجب تطويرها بشكل متكامل. سيؤدي غياب إحدى المكونتين إلى فقدان الطبيعة البشرية والإنسانية. أهداف هذا البحث هي: ١. وصف مفهوم التربية الروحية عند ابن القيم والغزالي وابن سينا. ٢. تحليل مفهوم التربية الروحية عند ابن القيم والغزالي وابن سينا في ضوء الثلاثية المعرفية لمحمد عبد الجابري. ٣. تجميع مفهوم التربية الروحية عند ابن القيم والغزالي وابن سينا. ٤. تحليل الآثار المترتبة على تكوين شخصية الطلاب في العصر الحديث (المجتمع ٥.٠). استخدم هذا البحث منهجا وصفيا نوعيا مع نوع البحث المكتبي. كانت طريقة جمع البيانات التي استخدمها الباحث فيه هي طريقة الوثائق. استخدم هذا البحث تقنية التحليل المقارن وتحليل المفاهيم بالإضافة إلى تحليل المحتوى والتحليل اللغوي والتحليل التاريخي كدعم. أظهرت نتائج هذا البحث أن مفهوم التربية الروحية عند الغزالي وابن القيم وابن سينا مبني على فهم عميق للحقيقة البشرية (أنطولوجيا)، و أبستمولوجيا، وعلم أكسيولوجيا في نظرة العالم الإسلامي (النظرة الإسلامية للعالم) المستمدة من الوحي - القرآن والسنة - والتجربة الروحية (الحدس) والتفكير العقلاني (العقل). مفهوم التربية الروحية عند الغزالي بديهي - صوفي (الكشفية الذوقية)، ومفهوم التربية الروحية عند ابن القيم نصي معياري، ومفهوم التربية الروحي عند ابن سينا عقلاني - بديهي (العقلية الذوقية). التوليف منها هو أن مفهوم التربية الروحية يمكن بناؤه على أساس أبستمولوجي بياني (نصي) وعرفاني (بديهي) وبرهاني (عقلاني) بطريقة صحيحة ومتكاملة. الآثار المترتبة هي أن تكوين تعليم الشخصية في عصر المجتمع ٥.٠ مبني على القيم الروحية والأخلاقية المتعلقة بالعلاقات الإلهية والإنسانية بالإضافة إلى القيم الثقافية للأمة. يتم بناء شخصية الطلاب بشكل مستدام، بدءا من الطفولة إلى مرحلة البلوغ من أجل إنتاج جيل متطور في مجالات المعلومات والتكنولوجيا والاتصالات ولكن لديه أيضا شخصية متفوقة

    Analisis konsep pendidikan anak menurut Al-Ghazali

    Full text link
    Konsep pendidikan anak yang selama ini berkembang mayoritas berasal dari barat yang dibangun berlandaskan pandangan dunia yang sekuler-positifistik-materialistik. Padahal jauh sebelumnya, intelektual muslim telah melakukan banyak kajian yang mendalam tentang konsep pendidikan anak. Hanya saja, peneliti mencermati adanya kesenjangan teoritis dalam khazanah intelektual Islam, selama ini, penelitian-penelitian terdahulu hanya mengangkat tema pemikiran pendidikan Al-Ghazali secara generall, dan belum ada yang melakukan studi secara spesifik dan tematik tentang konsep pendidikan anak beserta implikasinya terhadap pendidikan Islam kontemporer. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana konsep pendidikan anak menurut Al-Ghazali. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, jenis kajian pustaka dengan metode dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis isi, linguistik, konsep, dan historis. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa konsep pendidikan anak menurut Al-Ghazali dibangun berdasarkan pemahaman yang mendalam tentang fitrah anak, ilmu, dan nilai-nilai yang diderivasi dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Ditinjau dari model tipologi aliran filsafat pendidikan, maka konsep pendidikan anak menurut Al-Ghazali dipetakan dalam tipologi perenialis-esensialis madzhabi. Konsep pendidikan anak Al-Ghazali termasuk aliran teori konvergensi teosentris

    Analisis konsep pendidikan anak menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: implikasinya terhadap pendidikan agama Islam kontemporer

    Full text link
    Konsep pendidikan anak yang selama ini berkembang mayoritas berasal dari barat yang dibangun berlandaskan pandangan dunia yang sekuler-positifistik-materialistik. Padahal jauh sebelumnya, intelektual muslim telah melakukan banyak kajian yang mendalam tentang konsep pendidikan anak. Hanya saja, peneliti mencermati adanya kesenjangan teoritis dalam khazanah intelektual Islam, selama ini, penelitian-penelitian terdahulu hanya mengangkat tema pemikiran pendidikan Ibnu Qayyim secara parsial, dan belum ada yang melakukan studi komparasi tentang konsep pendidikan anak menurut keduanya beserta implikasinya terhadap pendidikan Islam kontemporer. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana konsep pendidikan anak menurut Ibnu Qayyim dan bagaimana implikasinya terhadap pendidikan agama Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, jenis kajian pustaka dengan metode dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis isi, linguistik, konsep, historis dan komperatif. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa konsep pendidikan anak menurut Ibnu Qayyim dibangun berdasarkan pemahaman yang mendalam tentang fitrah anak, ilmu, dan nilai-nilai yang diderivasi dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Ditinjau dari model tipologi aliran filsafat pendidikan, maka konsep pendidikan anak menurut Ibn Qayyim dipetakan dalam tipologi perenialis-esensialis salafi. Konsep pendidikan anak Ibnu Qayyim termasuk aliran teori konvergensi teosentris. Konsep pendidikan anak menurut Ibnu Qayyim mengandung beberapa implikasi yang perfasif terhadap pendidikan Islam kontemporer. Pertama, desekularisasi makna pendidikan agama kontemporer, Kedua, penegasan dan klarifikasi bahwa konsep fitrah anak dalam perspektif pendidikan Islam tidak identik dengan teori emperisme. Ketiga, reorientasi tujuan pendidikan Islam kontemporer. Keempat, materi pendidikan Islam diberikan disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. Kelima, reformulasi aspek- aspek pendidikan Islam kontemporer secara komprehensif. Keenam, pengembangan kurikulum terpadu. Ketujuh, penggunakan metode pendidikan agama yang lebih variatif

    Strategi implementasi model pembelajaran integrasi sains dan Islam dalam meningkatkan sikap spiritual di Madrasah Al-Islam Jamsaren Islamic Integrated Boarding School Surakarta

    Full text link
    Pendidikan Agama di sekolah-sekolah formal di Indonesia, dinilai oleh banyak kalangan telah gagal dalam mencapai tujuannya. Fenomena permasalahan diatas merefleksikan rendahnya sikap spiritual di kalangan peserta didik. Hal ini disebabkan lantaran pendidikan agama dewasa ini telah mengalami dualisme atau sekularisasi yaitu memisahkan antara agama dengan sains. Solusinya adalah diperlukan strategi implementasi Model Pembelajaran Integrasi Sains dan Islam Dalam Meningkatkan Sikap Spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan. Metode pengumpulan data menggunakan dokumentasi, observasi dan wawancara. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi, penyajian data, konklusi. Berdasarkan hasil analisis data data di lapangan dapat disimpulkan bahwa strategi implementasi model pembelajaran integrasi sains dan Islam dapat meningkatkan sikap spiritual siswa di MA Al-Islam Jamsaren Integrated Boarding School Surakarta. Indikator peningkatannya yaitu siswa semakin: a) rajin beribadah b) meyakini terjadinya hari kiamat, qada’ dan qadar; c) menghindari perilaku buruk; d) mempercayai keaslihan al-Quran; e) meyakini kekuasaan dan ke-Esa an Allah SWT. Adapun realisasi strategi integrasi sains dan Islam tersebut melalui tahapan perencanaan yang didalamnya memuat penyusunan kurikulum yang mengintegrasikan kurikulum K13, kurikulum tahfidz, dan muatan lokal. Penentuan bahan ajar yang digunakan pada pembelajaran integrasi sains dan Islam dengan cara mengaitkannya dengan dalil-dalil al-Quran, pemilihan metode dan bahan ajar. Kemudian tahapan pelaksanaan pembelajaran integrasi sains dan Islam, sekolah memberikan kebebasan kepada para guru pada setiap mata pelajaran untuk menggunakan metode bahan, dan media yang mengintegrasikan sains dan Islam apapun selama itu dapat menunjang proses pembelajaran. Didukung pula dengan pembiasaan dan program-program integrasi sains dan Islam. Pada tahap evaluasi pembelajaran terintegrasi sains dan Islam, terdiri dari refleksi pembelajaran, penilaian sikap, serta pengkomunikasian hasil evaluasi kepada orang tua. Pada refleksi, guru memiliki cara yang berbeda ada yang menggunakan pemberian soal berbasis tes tulis maupun lisan berupa quiz. Kemudian dalam menyajikan hasil penilaian sikap pembelajaran integrasi sains dan Islam ke orang tua dengan cara menyampaikannya pada saat penerimaan laporan hasil belajar, dan pertemuan kelas dan visit home. Model integrasi yang diimpementasikan di madrasah ini dapat diklasifikasikan sebagai jenis model penggabungan antar model integrasi. Disamping itu juga menerapkan model integrasi bayani dan burhani

    Fenomena flora dan fauna dalam Al-Qur'an

    No full text
    Buku ini ditujukan secara umum kepada pegiat bidang flora & fauna, dan secara khusus kepada mahasiswa dan mahasiswi jurusan biologi, zoologi, botani dan sub-disiplinnya baik yang murni maupun terapan untuk memperluas wawasan dan keislaman terkait dengan bidang-bidang ilmu tersebut. Kajian ini juga dimaksudkan untuk memberikan inspirasi dan motivasi guna dilakukan kajian lebih lanjut secara lebih spesifik dan mendalam oleh para ahli yang menekuni bidang ini
    corecore