1,721,083 research outputs found
Potensi Emisi Gas Rumah Kaca Produk Tapioka dengan Pendekatan Life Cycle Assessment
Karbondioksida merupakan unsur gas rumah kaca (GRK) yang paling berpengaruh. Industri tapioka sebagai industri yang berkembang di Bogor, khususnya di daerah Ciluar menjadi salah satu penyumbang karbondioksida dan berkontribusi dalam peningkatan emisi GRK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya dampak lingkungan yang dinyatakan dalam nilai emisi GRK, menentukan besarnya efisiensi penggunaan energi, dan memberikan alternatif proses pada produksi tapioka sehingga dapat mengurangi potensi dampak lingkungan. Metode yang digunakan untuk menentukan nilai emisi GRK yang dihasilkan dari siklus hidup produk yaitu Life Cycle Assessment (LCA). Metode LCA terdiri dari 4 tahapan, yaitu goal and scoping, inventory analysis, impact assessment, dan interpretation and improvement. Hasil penelitian menunjukkan emisi GRK 1 kg tapioka sebesar 0.32 kg CO2-eq. Efisiensi energi ditunjukkan dengan nilai NER sebesar 3.19 MJ dan NEV sebesar 3.94 MJ/kg tapioka. Emisi GRK dapat dikurangi dengan melakukan beberapa alternatif perbaikan, diantaranya mensubstitusi bahan bakar minyak dengan bahan bakar gas pada proses transportasi dan memanfaatkan limbah cair menjadi sumber energi berupa biogas. Besarnya nilai emisi yang dapat dikurangi yaitu sekitar 36% dari total emisi daur hidup tapioka
Kajian Peluang Penerapan Produksi Bersih Di Industri Tahu (Studi Kasus Di Industri Tahu Bandung Raos Cap Jempol).
Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi proses produksi tahu yang menghasilkan limbah dan potensi efisiensi produksi dengan menganalisa penerapan produksi bersih. Metode yang digunakan yaitu audit produksi bersih dengan dilakukan identifikasi permasalahan, analisis peluang produksi bersih, dan analisis kelayakan kuantitatif dari aspek teknis, lingkungan dan ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian teridentifikasi permasalahan pada berbagai aspek yaitu inefisiensi penggunaan air pada proses pencucian dan perendaman, terbentuknya jelaga akibat pembakaran, kacang kedelai dan air tercecer di lantai produksi, tata laksana pekerja yang kurang baik, belum dilakukan penanganan pada limbah cair industri. Tidak teridentifikasi adanya permasalahan pada bahan baku dan produk. Konsumsi energi pada bagian produksi sebesar 42 MJ/kg kedelai dan bagian non produksi sebesar 0,0056 MJ/kg kedelai. Alternatif produksi bersih yang direkomendasikan yaitu pencucian kedelai secara bertahap, penyaringan kembali sisa air pencucian dan perendaman, penggunaan boiler untuk pemasakan sistem uap, penerapan Good Manufacturing Practices, dan pemanfaatan limbah cair tahu menjadi biogas. Setelah penerapan produksi bersih limbah yang dihasilkan berkurang menjadi 18,13 liter/kg kedelai, produksi tahu meningkat menjadi 1010 kg tahu dengan penggunaan air 19,28 liter/kg kedelai, penggunaan kayu bakar 1,35 kg kayu, penggunaan pompa 10,58 kWh dan energi yang digunakan berkurang menjadi 18 MJ/kg kedelai. Penghematan yang diperoleh yaitu Rp 30 983 000/bulan. Berdasarkan hasil analisa kelayakan kuantitatif, kelima alternatif yang direkomendasikan layak untuk diterapkan pada industri tahu
Pemanfaatan Limbah Padat Nata de Coco untuk Produksi Bioetanol Menggunakan Zymomonas mobilis
Dalam proses hilir produksi nata de coco dihasilkan limbah produk berupa kulit ari, sisa potongan, dan yang tidak lolos sortasi berkisar 10% dari total produksi. Limbah tersebut mengandung selulosa yang dapat dimanfaatkan menjadi bioetanol sebagai energi alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi pemanfaatan limbah nata de coco untuk produksi bioetanol. Praperlakuan bahan dilakukan dengan menghidrolisis nata de coco menggunakan enzim selulase. Proses fermentasi dilakukan dengan menggunakan Zymomonas mobilis pada suhu kamar selama 72 jam. Analisis produk dilakukan setiap 12 jam. Dalam penelitian ini dievaluasi pengaruh tingkat penggunaan konsentrasi inokulum Zymomonas mobilis, yaitu 10% dan 15% (v/v) dan pengaruh penambahan urea sebagai nutrisi. Hidrolisis dengan enzim selulase sebesar 30IU/g serat kasar menghasilkan hidrolisat sebesar 1.77 L/kg bahan dan meningkatkan gula pereduksi 0.08 g/L menjadi 6.8 g/L. Pemakaian 15% inokulum menghasilkan kadar etanol yang lebih tinggi yaitu 0.27% (v/v) dibandingkan dengan 10% inokulum yaitu 0.2% (v/v). Penambahan urea sebesar 2.9 g/L substrat meningkatkan kadar etanol dari 0.2% menjadi 0.25% pada tingkat 10% inokulum dan dari 0.27% menjadi 0.3% pada tingkat 15%. Kadar etanol tertinggi dihasilkan oleh inokulum 15% (v/v) dengan penambahan nutrisi dan yield (p/s) yang dihasilkan adalah 0.49±0.02 (g/g). Waktu optimum fermentasi adalah 48 jam dan kadar gula tersisa 22.4±0.8%. Hasil analisis kelayakan finansial menunjukkan nilai R-C ratio sebesar 0.3
Emisi Gas Rumah Kaca pada Produksi Asap Cair Tempurung Kelapa dengan Pendekatan Life Cycle Assessment
Asap cair tempurung kelapa merupakan co-product yang dihasilkan dari produksi arang tempurung kelapa. Meskipun teknologi pengolahan asap cair dikembangkan untuk mengurangi pencemaran udara dari produksi arang, produksi asap cair juga menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK). Tujuan penelitian ini antara lain untuk menganalisis besarnya dampak lingkungan yang dinyatakan dalam nilai emisi GRK, menganalisis besarnya efisiensi penggunaan energi, dan memberikan alternatif proses pada produksi asap cair untuk menurunkan nilai emisi GRK sehingga siklus hidup produk lebih ramah terhadap lingkungan. Life Cycle Assessment (LCA) merupakan pendekatan yang digunakan dalam menentukan besarnya emisi GRK dari siklus hidup produk yang dihasilkan. Berdasarkan analisis, nilai emisi GRK untuk produk asap cair grade 3, asap cair grade 2, dan asap cair grade 1 berturut-turut yaitu sebesar 0.66 kg CO2-eq/L, 1.11 kg CO2-eq/L, dan 1.57 kg CO2-eq/L. Analisis energi menunjukkan bahwa nilai NEV sebesar 11.4 MJ/kg asap cair grade 1 dan nilai NER sebesar 1.5. Alternatif perbaikan yang dapat dilakukan antara lain mengunakan teknlogi HIDiC (reduksi 42%), mengganti supplier bahan baku yang lebih dekat dari lokasi pabrik (reduksi 9%), subtitusi bahan bakar bensin menjadi BBG (LNG) (reduksi 8%), dan subtitusi jenis kemasan botol gelas menjadi kemasan HDPE (reduksi 20%)
Pemanfaatan Limbah Padat Nata De Coco untuk Produksi Bioetanol oleh Saccharomyces cerevisiae
Dalam pengolahan nata de coco dihasilkan limbah padat berupa kulit ari, sisa potongan, dan bagian produk yang ukuran dan bentuknya tidak memenuhi spesifikasi produk yang dapat mencapai 10% dari total produksi. Limbah ini mengandung selulosa yang dapat dikonversi menjadi bioetanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi pemanfaatan limbah padat nata de coco untuk produksi bioetanol sebagai sumber energi alternatif. Hidrolisis nata dilakukan secara enzimatis. Fermentasi dilakukan selama 72 jam dengan analisis produk setiap 12 jam. Dalam penelitian ini dievaluasi pengaruh penggunaan jenis inokulum, yaitu kultur murni Saccharomyces cerevisiae dan ragi komersial dan pengaruh penambahan urea untuk memperbaiki rasio C/N media. Hidrolisis menghasilkan hidrolisat sebesar 1.77 L/kg bahan dan meningkatkan gula pereduksi dari 0.08 g/L menjadi 6.8 g/L. Fermentasi dengan kadar gula pereduksi 6.95 g/L dan inokulum kultur murni Saccharomyces cerevisiae menghasilkan kadar etanol lebih tinggi, yaitu 0.33%(v/v) dengan yield 0.46g/g dibandingkan 0.20%(v/v) dengan yield 0.35g/g pada inokulum ragi komersial. Penambahan urea sebesar 2.9 g/L meningkatkan kadar etanol dari 0.20%(v/v) menjadi 0.25%(v/v) dengan yield 0.40 g/g pada jenis inokulum ragi komersial dan dari 0.33%(v/v) menjadi 0.37%(v/v) dengan yield 0.46g/g pada jenis inokulum kultur murni Saccharomyces cerevisiae. Waktu optimum fermentasi menggunakan kultur murni Saccharomyces cerevisiae adalah 48 jam dengan tingkat penggunaan gula 83% dan 91%. Sedangkan waktu optimum fermentasi menggunakan ragi komersial adalah 60 jam dengan tingkat penggunaan gula 65% dan 68%. Hasil analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa produksi bioetanol mengalami kerugian sebesar Rp. 201 458, sedangkan melalui analisis penerimaan per biaya didapatkan hasil R-C ratio<1 yaitu 0.43 yang berarti produksi tidak menguntungkan
Pembuatan Biopelet Campuran Limbah Jerami Padi dan Serbuk Kayu Sengon.
Jerami padi merupakan salah satu sumber bahan bakar alternatif yang berasal dari biomassa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan formulasi dan kondisi proses terbaik dari biopelet campuran limbah jerami padi dan serbuk kayu sengon, mengukur kualitas biopelet yang dihasilkan berdasarkan parameter kerapatan, kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, kadar karbon terikat dan nilai kalor biopelet, mengukur lama waktu pembakaran biopelet, dan menghitung biaya pokok produksi biopelet. Perbandingan komposisi bahan baku jerami padi dan serbuk kayu sengon adalah 100% : 0% , 75% : 25% , 50% : 50% , 25% : 75% , dan 0% : 100% pada suhu 200oC. Ukuran bahan baku adalah yang lolos ayakan 40 mesh dengan perlakuan waktu pengempaan yaitu 10, 15 dan 20 menit. Perlakuan terbaik biopelet diperoleh pada komposisi jerami padi 25% dan serbuk kayu sengon 75% dengan waktu pengempaan yaitu 20 menit. Berdasarkan nilai kadar abu yang rendah, nilai karbon terikat yang tinggi, nilai kadar air yang rendah. Nilai kalor dari biopelet tersebut yaitu 5564 kkal/kg
Kajian Peluang Penerapan Produksi Bersih Di Industri Pembuatan Minuman Nata De Coco (Studi Kasus Di CV Graha Agri Indonesia).
Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi peluang perbaikan pada proses produksi minuman nata de coco (Brand Tricoco potongan nata kotak) yang mengolah lembaran nata de coco menjadi minuman nata de coco. Metode yang digunakan yaitu audit produksi bersih dengan dilakukan identifikasi permasalahan, analisis peluang produksi bersih, dan analisis kelayakan kuantitatif dari aspek teknis, lingkungan dan ekonomi. Dari hasil audit produksi bersih dapat diketahui berbagai permasalahan pada kegiatan produksi minuman nata de coco di CV Graha Agri Indonesia. Dari bahan baku tidak teridentifikasi adanya permasalahan. Dari segi teknologi adanya kerusakan pipa air, penggunaan lampu neon dan ceceran Air gula pada mesin filler. Pada proses produksi terdapat inefisiensi waktu pemasakan nata. Pada tata laksana terdapat permasalahan berupa lantai produksi basah dan licin, penggunaan lampu masih berjenis neon, nata dan air gula tercecer di lantai produksi, produk pecah saat distribusi, pemborosan energi penerangan, pekerja tidak menggunakan APD serta industri belum menerapkan SOP. Pada aspek limbah terdapat permasalahan berupa limbah padat abu boiler dan sisa serat kayu belum dilakukan penanganan, begitu juga pada limbah cair sisa pengembangan nata. Alternatif produksi bersih yang direkomendasikan yaitu perbaikan kerusakan pipa, penggunaan lampu LED, modifikasi mesin Filler, penetapan standar durasi pemasakan nata, penggunaan kembali sisa air pengempaan untuk perendaman nata, menerapkan Good Manufacturing Practice (GMP), pemanfaatan abu boiler dan serbuk kayu sebagai pupuk kompos, penggunaan sisa air pengembangan nata sebagai pemberat pada proses pengempaan nata. Kinerja sebelum produksi bersih dan setelah produksi bersih yaitu penggunaan air gula berkurang dari 1488 Liter/4 batch menjadi 1449.6 Liter/4 batch, penggunaan air berkurang dari 2985.6 Liter/4 batch menjadi 2544 Liter/4 batch, limbah cair berkurang dari 1305.6 Liter/4 batch menjadi 854.4 Liter/4 batch, limbah padat berkurang dari 0,2 Kg/4 batch menjadi 0,16 Kg/4 batch, energi listrik berkurang dari 23 Mj/4 batch menjadi 22Mj/4 batch dan penggunaan kayu bakar berkurang dari 30Kg/4 batch menjadi 22.5Kg/4 batch. Penghematan penerapan produksi bersih Rp. 6 731 505/bulan
Potensi Penggunaan Kembali Air Limbah: Studi Kasus Industri Polipropilena Pt. Tripolyta Indonesia, Tbk
Plastik merupakan salah satu produk yang penggunaannya cukup besar di Indonesia. Bahan baku pembuat plastik adalah biji plastik. Salah satu jenis biji plastik yang digunakan pada berbagai produk adalah polipropilena. Permintaan polipropilena di Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 1 juta ton. Komponen yang digunakan dalam jumlah besar adalah air. Air yang digunakan sebagian besar merupakan air demineral (air bebas mineral). Menurut BPPT kota - kota besar di Indonesia mulai kekurangan air bersih (BPPT 2008). Apabila kondisi ini terus dibiarkan berlangsung tanpa dilakukannya upaya pengelolaan yang berkelanjutan, dikhawatirkan pada tahun-tahun mendatang pasokan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari tidak terpenuhi. Karena air merupakan sumberdaya alam yang sangat dibutuhkan bukan hanya oleh industri, namun juga oleh masyarakat, oleh sebab itu industri yang menggunakan air dalam jumlah yang cukup besar harus mengambil langkah-langkah penghematan pengunaan air, agar air dapat dimanfaatkan dengan seoptimal dan seminimal mungkin. Permasalahan di atas dapat diatasi salah satunya dengan menggunakan kembali limbah cair pada berbagai industri yang menggunakan air dalam jumlah banyak, seperti industri penghasil polypropylene. Salah satu perusahaan penghasil polypropylene terbesar di Indonesia ialah PT. Tripolyta Indonesia Tbk (TPI). Penghematan penggunaan air dapat dilakukan dengan cara melakukan penggunaan kembali limbah cair
Pengaruh Kadar Fosfor dalam Media Limbah Cair Sintetik terhadap Laju Pertumbuhan Spesifik Sel, Produktivitas Biomassa dan Produksi Minyak dari Konsorsium Mikroalga
Indonesia is famous as a rich country in natural resources, particularly which are found in the waters, one of them is microalgae. In nature, microalgae are usually found in microalgal consortium form which is a mixture of various types of microalgae and their contaminations (other microorganisms). Microalgae have an ability to synthesize food reserves such as carbohydrates, proteins and fats. Organic wastewater is generated from agriculture and domestic sources which contain organic matters, nitrogen and phosphorus in high concentrations. Agroindustrial wastewater is one of the organic wastewater and generally rich in nutrients N (nitrogen), P (phosphorus), C (carbon), and S (sulfur) which are the nutrients for microalgal cells growth. Microalgal growth will be optimum if the nutrients are in a certain concentration and a certain ratio. The aims of this research were to know the characteristric of microalgal consortium growth in the organic wastewater media, to know the effect of various phosphorus concentrations of synthetic wastewater media on cell specific growth rate, biomass productivity and oil content of microalgal consortium and also to determine the best phosphorus concentration for microalgal consortium growth. Before the main research, conducted the preliminary research with microalgal consortium cultivation in 4 litres cultures scale. The preliminary research was began by the characreizations of organic wastewater (slaughter house, livestock and sugar factory wastewater). These were showed that the nutrients and COD were relatively high (the highest nutrient content in 1,490 mg/L and the highest COD content in 32,000 mg/L) which might inhibit microalgal consortium growth, so before cultivated microalgal consortium, wastewater media were diluted before so that the highest nutrient concentrations were only in the range of hundreds and the highest COD concentrations were only in the range of thousands. For this preliminary research, the first was prepared the topless and then wastewater and microalgal consortium suspensions entered into the topless. The growth of microalgal consortium was observed until the cultures entered the death phase. Before organic wastewater cultivation stage 1, conducted the characterizations of microalgal consortium before. The composition of organic wastewater media stage 1 were 75% wastewater and 25% inoculums of microalgal consortium with the form of receptacles in fiberglass tanks, the cultures volume were in 180 litres and the cultures height were in 30 cm. Before proceed to organic wastewater cultivation stage 2, conducted the characterizations of organic wastewater 2 (slaughter house and livestock wastewater). In this organic media cultivation stage 2 had composition 75% organic wastewater and 25% inoculums of microalgal consortium with the receptacles in the form of aquariums, the cultures volume were in 20 litres and the cultures height were in around 16.7 cm. After organic wastewater cultivation stage 2, then cultivated in synthetic media with the characterization of fertilizers and synthetic media made before. The synthetic media were made by various phosphorus concentrations, i.e. 11 mg/L, 16.5 mg/L and 22 mg/L. In this synthetic media cultivations, the compositions were 75% synthetic wastewater and 25% inoculums of microalgal consortium with the receptacles of aquarium, the cultures volume in 28 litres and the cultures height in 23.3 cm. The results of the first and second organic wastewater characterizations showed that the livestock wastewater had the highest nutrient concentration in the overall characterizations. The characteriation results of microalgal consortium had cells density in 2.25 x 106 cells/ml and were dominated by groups of Chlorophyceae and Cyanophyceae. The cultures of microalgal consortium in organic wastewater media stage 1 had cultivation periods in 20 days. The complete life cycle phases curve of microlgal growth (from the lag phase up to the death phase) only on the growth curve of slaughter house wastewater culture while the growth curve of livestock and sugar factory wastewater were incleaned toward stationary
- …
