182 research outputs found

    IN VITRO PROPAGULE PRODUCTION OF SUPERIOR MANGOSTEEN (Garcinia mangostana L.)

    No full text
    Mangosteen fruit is dubbed as the queen of tropical fruit. This experiment was aimed to produce mangosteen micro shoots in a large number rapidly using Benzyl Amino Purine (BAP) and Gibberellic acid (GA3). This study was conducted at the Agronomy laboratory, Agricultural Faculty, Bengkulu University from March to October 2013. This experiment used a completely randomized design (CRD) with 2 treatment factors. The first factor was BAP concentration, consisting of four levels, namely 0, 5, 10 and 15 mg L-1. The second factor was GA3 concentration, consisting of five levels, namely 0, 2.5, 5, 7.5, and 10 mg L-1. Every combination of treatment was repeated 5 times. One mangosteen seed sliced into four pieces was planted in each experimental unit and then planted at the Murashige and Skoog (MS) medium. The result showed that the highest number of micro shoots (99.33 shoots per explant) and the fastest formation of micro shoot (4 weeks after planting) were obtained at the 15 mg L-1 BAP and 10 mg L-1 GA3 combination

    Enithares atra Brooks

    No full text
    Enithares atra Brooks (Figs. 11, 12, 17, 22) Enithares atra Brooks 1948. J. Kansas Entomol. Soc., 21: 48, fig. 11. Holotype, male, New Guinea, Rigo, Luglio, in SEMC. Material examined. PAPUA NEW GUINEA, Central Prov.: 5 males (holotype and paratypes), 7 females (allotype and paratypes), Rigo, Luglio, 1889, L. Loria (SEMC, USNM ex JTPC); 3 males, 8 females, Owen Stanley Range, trib. to upper Mimani River, 0.8 km. W of Dorobisoro, 500 m., 9°27′39′′S, 147°54′56′′E, water temp. 23.5 °C., 9 October 2003, 08:30–12:30 hrs., CL 7264, D. A. Polhemus (USNM, BPBM); 2 males, 5 females, 2 immatures, Owen Stanley Range, trib. to upper Mimani River, 1.70 km. NE of Dorobisoro, 535 m., 9°27′25′′S, 147°56′15′′E, water temp. 23.5 °C., 7 October 2003, 13:00–15:00 hrs., CL 7260, D. A. Polhemus (USNM, BPBM). Milne Bay Prov.: 1 male, 9 females, headwater reach of Goilayoli River above crossing on road from Watunou to Huhuna, 11.5 mi. ENE of Alotau, 275 m., 10°18′43′′S, 150°37′16′′E, 6 April 2002, 10:00–13:00 hrs., CL 7161, D. A. and J. T. Polhemus (USNM); 7 females, Pini Range, spring and streamlet nr. old Duabo mission station, 300 m., 10°25′05′′S, 150°18′24′′E, water temp. 25° C., 9 April 2002, 14:00–15:00 hrs., CL 7170, D. A. and J. T. Polhemus (USNM, BPBM); 3 females, Sagarai River basin, Bwaona River, E. of Mila village, 90 m., 10°30′14′′S, 150°18′50′′E, water temp. 27–29° C., 7 April 2002, 10:45–12:45 hrs., CL 7165, D. A. and J. T. Polhemus (USNM); 6 males, 2 females, Cloudy Mountains, headwater tributary to upper Watuti River, S. of Gelemalaia village, 715 m. 10°29′50′′S, 150°13′58′′E, water temp. 22° C., 10 April 2002, 16:00–17:30 hrs., CL 7175, D. A. Polhemus (USNM, BPBM); 2 males, Cloudy Mountains, rocky stream 0.6 mi. above Gadowalai village, S. of Gelemalaia, 135 m., 10°28′57′′S, 150°14′27′′E, water temp. 24.5° C., 12 April 2002, 10:00–10:30 hrs., CL 7176, D. A. Polhemus (USNM, BPBM); 9 males, 21 females, Engineer Group, Tubetube Island, small stream above Samoa, 15– 45 m., 10°35′03′′S, 151°11′36′′E, water temp. 28° C., 19 January 2004, 09:00–10:30 hrs., CL 7299, D. A. and J. T. Polhemus (USNM, BPBM). Discussion. Enithares atra was originally described from a series of 12 specimens taken by Loria at in the Rigo district, along the south coast of New Guinea southeast of Port Moresby. Brooks (1948) stated that the type series of E. atra was in USNM, but Lansbury did not find it there, and Byers later confirmed to him by correspondence that it was in Kansas at SEMC. Thus, when preparing his monograph, Lansbury did not see the actual holotype of this species, but only one male paratype. He instead based his re-description on material from Lae and Finschhaven, localities lying on the north coast of New Guinea far from from the original Rigo type locality. A disjunct distribution of this type is quite atypical for most species of aquatic Heteroptera in New Guinea, which led the author to suspect that Lansbury (1968) may have misinterpreted the species concept for E. atra. A comparison of Brooks’ (1948) Figure 11 to material collected by the author in the vicinity of Dorobisoro in the Rigo District, near to the original type locality, shows that the male genitalic structures match well, particularly in regard to the shape of the slender, tapering LABP, which is partially depicted by Brooks. A more detailed illustration of the male genitalia for one of these more recently collected E. atra specimens is provided in Fig. 17. Lansbury (1968) also did not indicate which specimens he made his illustrations from, although there are three possibilities based on the material he listed: a male paratype from Rigo at BMNH; a male and female from Lae in Oxford; or a series of 5 males and 9 females from Finschhafen in the South Australian Museum. The genitalia of male specimens collected more recently by the author in the vicinity of Madang match Lansbury’s figures, particularly in regard to shape of the LABP, which terminates in a slightly expanded, truncate apex (Fig. 17, compare to Fig. 273 in Lansbury 1968), so it is clear that he illustrated a north coast male, from either the Finschhafen or Lae series. These north coast populations are in fact an undescribed species, treated herein as E. orsaki n. sp. As now understood, E. atra is a lowland species occurring in the southern foothills of the Papuan Peninsula, and ranging eastward through the islands east of Milne Bay as far as Tubetube, in the Engineer Group (Fig. 22). All previous records of this species from the north coast of New Guinea, including those in Lansbury (1968), are referable to E. orsaki n. sp. (see following description and discussion). Based on verified collections, E. atra occupies the South Papuan Peninsula Foreland area of freshwater endemism (Area 30) as defined by D. Polhemus & Allen (2007).Published as part of Polhemus, Dan A., 2020, Nine new species of Enithares (Heteroptera: Notonectidae) from New Guinea, with distributional notes on other species and an updated world checklist, pp. 132-182 in Zootaxa 4772 (1) on pages 137-138, DOI: 10.11646/zootaxa.4772.1.5, http://zenodo.org/record/381407

    EVALUASI KERAGAAN 15 VARIETAS KEDELAI (Glycine max L. Merril) PADA TANAH ULTISOL

    No full text
    Kebutuhan kedelai di masyarakat Indonesia mengalami kenaikan dari tahun ketahun. Upaya untuk peningkatan produksi kedelai dapat dilakukan dengan cara perluasan lahan. lahan Ultisol memiliki memiliki sebaran sebesar 45.794.000 ha atau sekitar 25 % dari total luas daratan di Indonesia. Masalah budidaya tanaman kedelai pada tanah Ultisol adalah pH rendah berkisar antara 3,1-5, kejenuhan basa <35%, kapasitas tukar kation rendah, kandungan unsur hara rendah, serta adanya kejenuhan ion logam seperti Al dan Fe yang tinggi. Maka dari itu diperlukan varietas kedelai yang memiliki daya hasil yang tinggi di lahan Ultisol. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan dan hasil 15 varietas kedelai pada lahan Ultisol. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juni 2021 yang berlokasi di Perumahan Griya Mentari Residence, Pematang Gubernur, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan satu faktor dan tiga ulangan, yang terdiri atas 15 perlakuan yaitu Anjasmoro, Detam 1, Detam 2, Detam 3, Detam 4, Dena 1, Dena 2, Dering 1, Detap 1, Derap 1, Dega 1, Gepak kuning, Grobogan, Devon 1 dan Deja 1. Perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 45 satuan percobaan yang terdiri dari 3 sampel tanaman, sehingga terdapat 135 tanaman. Hasil uji F 1 % menunjukkan bahwa perlakuan varietas berpengaruh sangat nyata terhadap semua variabel pertumbuhan dan hasil. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan varietas kedelai pada tanah Ultisol dari segi pertumbuhan varietas Detam 2 dan Dering 1 memiliki pertumbuhan yang lebih baik. Varietas Detam 2, dengan pertumbuhan tinggi tanaman 88,77 cm, jumlah daun, diameter batang 9,90 mm, jumlah cabang 7,50 cabang total, dan jumlah cabang produktif 6,50 cabang. Pada varietas Dering 1 memiliki pertumbuhan tinggi tanaman 84,53 cm, jumlah daun 54,33, diameter batang 10,88 mm, jumlah cabang total 6,83 cabang, jumlah cabang produktif 6,66 cabang. Namun dari segi komponen hasil varietas Detam 2 memiliki hasil yang lebih baik dengan jumlah polong 189 polong, jumlah polong isi 182 polong dan bobot biji per tanaman 36,68 gram. Pada varietas Dering 1 tidak menunjukkan hasil yang tinggi dikarenakan memiliki bobot biji yang rendah yaitu 12,00 gra

    RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN EDAMAME TERHADAP PEMBERIAN DOLOMIT DAN PUPUK NPK DI TANAH ULTISOL

    No full text
    Tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan salah satu komoditi tanaman pangan yang banyak dimanfaatkan sebagai industri pangan maupun pakan oleh masyarakat Indonesia. Edamame merupakan kedelai putih yang berasal dari Jepang dan mulai dibudidayakan di Indonesia. Edamame biasa dikonsumsi dalam bentuk polong. Edamame banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang menyadari pentingnya makanan sehat yang aman dikonsumsi dan ramah lingkungan. Produksi kedelai di Indonesia masih tergolong rendah. Rendahnya produksi edamame di Indonesia dapat disebabkan oleh pemanfaatan lahan yang sedikit dan produktivitas yang rendah. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi kedelai edamame salah satunya dengan adanya inovasi teknologi budidaya untuk mencapai produktivitas edamame yang menyesuaikan dengan kondisi lahan yang ada salah satunya dengan pemberian dolomit dan pupuk NPK. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendapatkan dosis dolomit terbaik, dosis pupuk NPK terbaik dan dosis kombinasi terbaik pada pertumbuhan dan hasil edamame di tanah ultisol. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama berupa dosis dolomit dengan 4 taraf, yaitu:D0D0 = 0 x Aldd , D1= 0,5 x Aldd, D2= 1 x Aldd, D3= 1,5 x Aldd. Faktor yang kedua Pupuk NPK yaitu dengan dosis rekomendasi ( Urea 100 kg/ha, SP36 150 kg/ha, KCl 150 kg/ha) : P0 = Urea 0 kg/ha, SP36 0 kg/ha, KCl 0 kg/ha (0 g/polybag), P1 = Urea 50 kg/ha, SP36 75 kg/ha, KCl 75 kg/ha, P2 = Urea 100 kg/ha, SP36 150 kg/ha, KCl 150 kg/ha, P3 = Urea 150 kg/ha, SP36 225 kg/ha, KCl 225 kg/ha. Dari penelitian ini belum didapatkan kombinasi antar perlakuan dolomit dan pupuk NPK terbaik pada ultisol. Pemberian dolomit sampai dengan setara 2 x Al-dd belum berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil edamame pada ultisol kecuali jumlah cabang produktif. Pemberian dolomit mampu meningkatkan berat polong bernas pertanaman dan persentase polong bernas sedangkan pupuk NPK mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, umur berbunga, jumlah cabang produktif dan bobot berangkasan segar

    MODEL PENGELOLAAN PENAMBANGAN EMAS SKALA KECIL (PESK) DI DESA SUKA MENANG KECAMATAN KARANG JAYA KABUPATEN MUSI RAWAS UTARA

    No full text
    Emas merupakan potensi tambang di Kabupaten Musi Rawas Utara dan sekarang Penelitian ini dilaksanakan di lokasi pengolahan emas tanpa izin, Desa Sukamenang, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara, Provinsi Sumatera Selatan pada bulan Agustus sampai dengan Desember 2023 . Penelitian ini menggunakan pendekatan survei dengan metode kuantitatif (kuesioner) dan kualitatif (wawancara) untuk mengkaji karakteristik sosial ekonomi, pengetahuan, dan persepsi masyarakat terhadap aktivitas PESK serta dampaknya. Analisis kadar merkuri dilakukan pada sampel air sumur dan rambut responden sesuai standar USEPA dan Peraturan Menteri Kesehatan. Model sistem dinamis digunakan untuk memprediksi dampak berbagai kebijakan PESK terhadap kesehatan dan sosial ekonomi masyarakat, baik saat ini maupun di masa depan. Pemodelan dilakukan melalui identifikasi faktor risiko, mitigasi, serta simulasi keterkaitan antar komponen sistem menggunakan pendekatan system thinking dengan bantuan perangkat lunak Powersim. Model pengelolaan PESK yang adaptif dilakukan dengan pendekatan partisipatif melalui wawancara, FGD, dan survei pada 10 pemangku kepentingan, termasuk perwakilan pemerintah, penambang, masyarakat sipil, dan akademisi,. Analisis dilakukan menggunakan metode PROMETHEE untuk menyusun strategi, program, dan rencana aksi berbasis data multikriteria secara holistik, mencakup aspek lingkungan fisik, sosial, ekonomi, dan kesehatan. ditambang secara ilegal melalui Penambangan Emas Skala Kecil (PESK) yang pengolahannya menggunakan merkuri. Kegiatan ini dilakukan tanpa izin dan membuang limbah ke sungai yang menjadi sumber air masyarakat, sehingga terjadi polusi lingkungan dan mengancam kesehatan masyarakat. Penelitian ini diperlukan untuk mengkaji dampak PESK dan merumuskan kebijakan pengelolaan yang tepat. Tujuan umum penelitian ini adalah membuat model strategi pengelolaan penambangan emas skala kecil (PESK) tanpa izin. Sedangkan tujuan umum tersebut dijabarkan menjadi tiga tujuan khusus yaitu (1) Melakukan analisis dampak tambang emas rakyat skala kecil (PESK) tanpa izin terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, (2) Merancang Model Sistem Dinamik untuk memprediksi berbagai pilihan kebijakan pengelolaan tambang emas rakyat skala kecil (PESK) tanpa izin terhadap tingkat resiko kesehatan masyarakat saat ini dan dimasa yang akan datang, dan (3) Menyusun ranking pilihan kebijakan dalam pengelolaan PESK tanpa izin secara holistik Hasil penelitian menunjukkan bahwa PESK di Desa Sukamenang telah menyebabkan pencemaran merkuri dengan 66,1% rambut responden terdeteksi mengandung Hg di atas ambang batas 1 µg/g, sehingga membahayakan kesehatan pekerja dan masyarakat sekitar. Upaya penanganan dapat dilakukan melalui zonasi pertambangan ramah lingkungan dan pemberdayaan ekonomi alternatif bagi para penambang. Skenario terbaik adalah penerapan skenario 70% alih pekerjaan yang efektif dalam menghilangkan kontaminasi merkuri baik di sumur maupun pada rambut manusia serta menurunkan jumlah pekerja PESK di permukiman. Skenario kebijakan terbaik adalah penutupan penambangan serta pengolahan emas rakyat yang diiringi dengan pengalihan pekerjaan masyarakat dari pengolah emas menjadi petani tanaman kelapa sawit. Skenario ini memperoleh nilai net flow tertinggi sebesar 0,3250. Sebaliknya, skenario pengolahan emas yang tetap dilanjutkan dengan perubahan teknologi dari merkuri ke non-merkuri dan skenario pengolahan emas dengan sistem zonasi di luar Desa Sukamenang memiliki nilai net flow negatif, yang menandakan bahwa keduanya skenario tersebut tidak dapat diaplikasika

    PERTUMBUHAN EKSPLAN BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) PADA BEBERAPA KONSENTRASI SUKROSA DAN ARANG AKTIF

    No full text
    Produktivitas bawang putih mengalami penurunan dari tahun ke tahun yang disebabkan bibit yang digunakan berpotensi membawa penyakit. Kultur jaringan diharapkan dapat menyediakan bibit bawang putih yang relatif banyak, waktu yang relatif singkat, unggul, dan bebas patogen. Pada kultur bawang putih terdapat gejala pencoklatan akibat senyawa fenol yang dikeluarkan eksplan bawang putih dan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan eksplan bawang putih. Sukrosa berperan sebagai sumber energi pada media untuk eksplan dapat tumbuh dengan baik. Selain sumber energi sukrosa juga dapat berperan sebagai hardening eksplan. Arang aktif memiliki fungsi sebagai absorban dan diharapkan dapat menyerap senyawa fenol yang dikeluarkan oleh eksplan bawang putih. Selain sebagai absorban arang aktif juga dapat merangsang perakaran eksplan dan membuat media menjadi gelap sama seperti keadaan dilapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi sukrosa dan arang aktif yang optimum sehingga dapat memacu pertumbuhan eksplan bawang putih (Allium sativum L.) secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2013 sampai Maret 2014 di Laboratorium Agronomi Divisi Bioteknologi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi sukrosa yang terdiri atas 4 taraf, yaitu S1 = 30 g/L sukrosa, S2 = 60 g/L sukrosa, S3 = 90 g/L sukrosa, dan S4 = 120 g/L sukrosa. Faktor kedua adalah konsentrasi arang aktif yang terdiri atas 4 taraf, yaitu A0 = 0 g/L, A1 = 1 g/L, A2 = 2 g/L, dan A3 = 3 g/L, dari kedua faktor tersebut diperoleh 16 kombinasi perlakuan. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 48 satuan percobaan dan setiap kombinasi perlakuan terdiri atas 3 sampel penelitian sehingga terdapat 144 botol kultur. Data hasil pengamatan yang diperoleh dianalisis dengan uji F pada taraf 5% dan apabila terdapat berbedanya antar perlakuan dilanjutkan dengan uji lanjut Polinomial Ortogonal untuk mendapatkan konsentasi sukrosa dan arang aktif yang optimum. Variabel pengamatan yang diamati meliputi saat tumbuh tunas, saat tumbuh akar, persentase tumbuh tunas setiap perlakuan, persentase tumbuh akar setiap perlakuan, jumlah tunas, jumlah akar, jumlah daun, berat basah total, berat total kalus, tinggi tunas, dan warna kalus. Hasil penelitian menunjukkan pemberian sukrosa sampai dengan 120 g/L dan arang aktif sampai dengan 3 g/L mampu menginduksi pembentukan akar, tunas, dan kalus bawang putih secara in vitro. Interaksi 90 g/L sukorsa dan 120 g/L sukrosa dengan penambahan arang aktif pada 4 taraf masih menunjukkan peningkatan pada jumlah akar dan tinggi tunas. Konsentrasi 50,25 g/L sukorsa merupakan konsentrasi optimum dalam menghasilkan saat tumbuh tunas tercepat (3,5 hari setelah tanam). Pemberian arang aktif pada taraf 0 - 3 g/L menunjukkan penurunan jumlah daun namun dapat mencegah gejala pencoklatan pada eksplan bawang putih. Konsentrasi 2 g/L arang aktif pada 90 g/L sukrosa menghasilkan kalus terbaik dengan warna putih bening yang dapat diinduksi menjadi embriosomatik

    KERAGAAN KARAKTER PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT PRE-NURSERY PADA MEDIA TANAM CAMPURAN KOMPOS KULIT KOPI DAN DOSIS PUPUK MAJEMUK

    No full text
    Pembibitan kelapa sawit merupakan salah satu faktor yang menentukan produksi kelapa sawit. Bibit yang berpenampilan prima dan sehat merupakan prasyarat bagi keberhasilan budidaya kelapa sawit. Media yang baik untuk pembibitan kelapa sawit adalah tanah bagian atas (topsoil) yang subur, gembur, dan kaya akan bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi interaksi antara media tanam campuran subsoil dan kompos kulit kopi dengan dosis pupuk majemuk terhadap keragaan pertumbuhan bibit kelapa sawit, menentukan media tanam campuran subsoil dan kompos kulit kopi terbaik terhadap keragaan pertumbuhan bibit kelapa sawit dan menentukan dosis pupuk majemuk terbaik terhadap keragaan pertumbuhan bibit kelapa sawit tahap pre-nursery. Penelitian di laksanakan pada bulan Januari 2023 sampai bulan Mei 2023. Lokasi penelitian di lahan Pre-Nursery Pembibitan Kelapa Sawit, Kelurahan Kandang Limun, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu, dengan ketinggian tempat ± 10 mpdl. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama yakni media tanam campuran subsoil dan kompos kulit kopi yang terdiri atas 4 jenis campuran yaitu C1 (tanah SubSoil 100% kontrol), C2 (subsoil 75% : kulit kopi 25%), C3 (subsoil 50% : kulit kopi 50%) dan C4 (subsoil 25% : kulit kopi 75%). Faktor kedua yakni dosis pupuk majemuk (NPK 17:8:9+3MgO) yang terdiri atas 3 dosis yaitu 1 g / 2 kg media tanam, 2 g/ 2 kg media tanam, dan 3 g / 2 kg media tanam. Data hasil pengamatan dianalisis secara statistik dengan uji F taraf 5%. Hasil analisis varians menunjukkan pengaruh nyata, maka di uji lanjut dengan uji Lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan campuran media 50% Subsoil : 50% kulit kopi dan pemberian dosis pupuk majemuk 2g/2kg media tanam menunjukkan interaksi pada total luas daun. Penggunaan campuran media tanam 50% Subsoil : 50% kompos kulit kopi memberikan pertumbuhan terbaik untuk keragaan tinggi tanaman 31,21 cm, diameter batang 10,99 mm, jumlah daun 4,33 helai, total luas daun 84,36 cm 2 dan tingkat kehijauan daun 52,1 (SPAD meter). Serta Pemberian dosis pupuk majemuk 2g/2kg media tanam memberikan pertumbuhan terbaik untuk keragaan tingkat kehijauan daun

    UJI KONSENTRASI ATONIK DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN STEK CABE JAWA

    No full text
    Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) merupakan salah satu tanaman obat dan rempah yang memiliki nilai ekonomis tinggi karena memiliki banyak manfaat. Oleh karena itu budidaya cabe jawa perlu dikembangakan untuk meningkatkan produktivitas perlu dikembangakannya diantaranya dengan memperbaiki pembibitan tanaman cabe jawa secara vegetatif dengan menggunakan konsentrasi zat pengatur tumbuh dan lama perendaman. Penggunaan konsentrasi zat pengatur tumbuh dan lama perendaman perlu dilakukan untuk meningkatkan persentase tumbuh tanaman cabe jawa. Penelitian ini bertujuan menentukan interaksi pertumbuhan stek cabe jawa dengan pemberian beberapa konsentrasi zat pengatur tumbuh dan lama perendaman, menentukan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang optimum untuk stek cabe jawa dan menentukan lama perendaman yang terbaik untuk stek cabe jawa. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni 2022 hingga September 2022, di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu Medan Baru, Kandang Limun, Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu pada Ketinggian 10 mdpl dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor perlakuan. Factor pertama yaitu Konsentrasi zat pengatur tumbuh terdiri dari 0 mL/L air ( Kontrol), 1 mL/L air, 2 mL/L air, 3 mL/L air dan factor kedua lama perendaman yang terdiri dari tanpa perendaman (dicelupkan saja 5 menit) dicelupkan saja, 30 menit, 60 menit, 90 menit. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat intraksi antara konsenrasi zat pengatur tumbuh dan lama perendaman stek pada variabel tinggi tanaman 2 MST, tinggi tanaman 6 MST, luas daun dan bobot kering aka

    APLIKASI 2,4-D (2,4- Dichlorophenoxy acetic acid) DAN BAP (Benzyl amino purine) TERHADAP PERTUMBUHAN EKSPLAN KOTILEDON JERUK GERGA (Citrus reticulata) SECARA IN VITRO

    No full text
    Jeruk merupakan tanaman buah yang mempunyai kandungan vitamin C yang cukup tinggi dan bermanfaat sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi dan interaksi yang optimal pada aplikasi 2,4-D dan BAP terhadap respon pertumbuhan kalus Jeruk Gerga. penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2018 sampai bulan Juli 2019 di Laboratorium Agronomi Divisi Bioteknologi dan Kultur Jaringan Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial, faktor pertama adalah 2,4-D terdiri dari 5 taraf yaitu 0 mg/l 2,4-D, 0.5 mg/l 2,4-D, 1.0 mg/l 2,4-D,1.5 mg/l 2,4- D dan 2.0 mg/l 2,4-D. Faktor kedua adalah BAP terdiri dari 4 taraf yaitu 0 mg/l BAP, 1.0 mg/l BAP, 2.0 mg/l BAP dan 3.0 mg/l BAP. Dari kedua faktor dihasilkan 20 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 60 satuan percobaan setiap masing-masing kombinasi perlakuan berisi 1 eksplan kotiledon Jeruk Gerga yang telah dikecambahkan terlebih dahulu. Data yang di peroleh dianalisis menggunakan Uji Deskriptif dan ditampilkan dalam bentuk histogram dan data kualitatif di tampilkan dalam bentuk foto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tidak terdapat interaksi antara 2,4-D dengan BAP terhadap seluruh variabel eksplan Jeruk Gerga. Kombinasi 2,4-D dan BAP menghasilkan saat muncul tunas 2 HST pada 1 mg/l BAP + 1 mg/l 2,4-D dan persentase pertumbuhan tunas yaitu 85 %, jumlah tunas 2.7 per eksplan dihasilkan pada 3 mg/l BAP + 0 mg/l 2,4-D dan kontrol. Konsentrasi 2 mg/l BAP + 0.5 mg/l 2,4-D menghasilkan tinggi tunas 8,1 cm, konsentrasi 2 mg/l BAP + 0 mg/l 2,4-D menghasilkan saat muncul akar 8,7 HST dengan persentase eksplan tumbuh akar yaitu 65 %.konsentrasi 2 mg/l BAP + 1.0 mg/l 2,4-D menghasilkan jumlah akar 11.3 per eksplan dan panjang akar 3.6 cm pada pemberian 3 mg/l BAP + 0 mg/l 2,4-D. Konsentrasi 2 mg/l BAP + 1.5 mg/l 2,4-D menghasilkan saat muncul kalus yaitu 3.7 HST dengan persentase eksplan terbentuk kalus 35 %, diameter kalus 2.27 cm pada pemberian 3 mg/l BAP + 2 mg/l 2,4-D. Rerata saat muncul daun yaitu 2 HST pada 0 mg/l BAP + 1.5 mg/l 2,4-D, jumlah daun 7.7 helai pada 2 mg/l BAP + 0.5 mg/l 2,4-D. Bobot hasil kultur 1.2 g yaitu pada konsentrai 0 mg/l BAP + 1.5 mg/l dan 3 mg/l BAP + 2 mg/l 2,4-D. Kuantitas kalus dengan skor 4 (kalus sedang) yaitu pada 3 mg/l BAP + 2 mg/l 2,4-D dengan kalus bertekstur remah dengan warna kalus kekuningan
    corecore